Bab 9: Teknik Pernapasan dan Arena Pertarungan

Ukuran:
Tema:

Hari-hari pertama di Sekte Bunga Teratai Berduri berlalu dengan ritme yang teratur namun intens. Alfayd dan Rayhan, seperti murid luar lainnya, mengikuti jadwal yang ketat: meditasi fajar, latihan fisik dan jurus pagi, studi teori di perpustakaan dasar, latihan mandiri di siang hari, dan meditasi malam.

Alfayd dengan cepat menyesuaikan diri. Ia mempelajari “Teknik Pernapasan Dasar Sekte Teratai” dari buku panduan. Teknik ini jauh lebih halus dan efisien dibanding cara bernapas alaminya. Ia mengajari cara menarik energi alam (Qi langit dan bumi) melalui napas, memurnikannya di dalam tubuh, dan mengedarkannya melalui meridian untuk memperkuat mereka dan mengisi Lautan Qi—titik pusat energi di perut bagian bawah yang akan terbentuk sepenuhnya saat mencapai Realm Qi Murni.

Dengan delapan meridian terbuka dan fondasi tubuh yang diperkuat oleh Energi Bumi Murni, prosesnya berjalan sangat lancar bagi Alfayd. Dalam tiga hari, ia sudah menguasai dasar teknik pernapasan itu dan merasakan Lautan Qi-nya mulai terbentuk, seperti sebuah kolam kecil yang perlahan terisi.

Rayhan, dengan bakatnya yang solid dan sudah berada di Qi Murni Lapis 2, lebih fokus pada memperdalam teknik jurus sekte dan mengkonsumsi Pil Qi Pemula-nya untuk memperkuat realmnya.

Sumber daya untuk murid luar terbatas. Sepuluh pil sebulan, akses ke area energi rendah untuk meditasi, dan makanan biasa yang mengandung sedikit energi. Bagi Alfayd, yang terbiasa dengan “makanan” berupa poin energi dari penyerapan, ini terasa sangat lambat. Ia butuh lebih.

Kesempatan datang pada hari kelima. Di papan pengumuman kompleks Bambu Barat, sebuah misi baru dipasang:

“Misi Berburu: Serigala Bayangan di Rimba Berduri.
Kebutuhan: 3 murid luar (Realm Tubuh Baja 7+ atau Qi Murni 1+).
Tugas: Bantu membersihkan ancaman di jalur pasokan herbasi.
Reward: 20 Poin Sekte per orang, hak untuk menyimpan 30% dari bagian inti monster yang dibunuh.”

Poin Sekte adalah mata uang internal untuk menukar sumber daya lebih baik: pil kualitas lebih tinggi, teknik tingkat menengah, waktu di ruang meditasi berenergi tinggi. Dan “bagian inti monster”—itu berarti energi yang bisa diserap!

Alfayd segera mendaftar. Dua murid luar lain juga mendaftar: seorang pria tegap bernama Gao, yang berada di Tubuh Baja Lapis 8, dan seorang wanita pendiam bernama Xiao Lan, di Qi Murni Lapis 1.

Mereka bertemu di gerbang sekte pagi berikutnya, dipimpin oleh seorang murid dalam bernama Senior Liang (Qi Murni Lapis 4) yang bertugas mengawasi. Senior Liang terlihat tidak terlalu antusias, hanya memberikan instruksi singkat. “Jangan jadi beban. Ikuti perintahku. Bagian inti yang kalian dapat harus diserahkan dulu untuk dinilai, baru kalian dapat bagian 30%-nya.”

Perjalanan ke Rimba Berduri memakan waktu setengah hari dengan kecepatan praktisi. Saat tiba, Senior Liang langsung memberi tugas. “Kalian bertiga, jelajahi sektor timur. Aku akan ambil sektor barat. Jika menemui kawanan besar atau monster di atas Qi Murni Lapis 3, kabari dengan sinyal. Bertemu lagi di sini saat matahari mulai turun.”

Mereka berpisah. Gao, yang tampak percaya diri, langsung mengambil inisiatif. “Aku yang memimpin. Xiao Lan, kau jaga belakang. Alfayd, kau di tengah dan waspada.”

Alfayd mengangguk, tidak mempermasalahkan hierarki. Ia lebih tertarik pada monster.

Mereka segera menemui sekelompok tiga Serigala Bayangan (setara Qi Murni Lapis 1). Gao maju dengan tombaknya, bertarung dengan kasar tapi efektif. Xiao Lan menggunakan pedang tipis dengan gerakan anggun namun mematikan. Alfayd sengaja bertindak sebagai pendukung, menggunakan tendangan dan pukulannya untuk mengalihkan perhatian dan memberi kesempatan pada yang lain untuk menyerang. Ia tidak ingin menunjukkan kekuatan penuhnya.

Setelah ketiga serigala itu tumbang, Gao dengan bangga mengambil bagian inti—sebuah batu kecil berwarna hitam berasap dari dahi setiap monster. “Lihat? Mudah. Nanti kita bagi rata.”

Tapi Alfayd memperhatikan sesuatu. Saat monster mati, ada energi yang tersisa di tubuh mereka yang perlahan menghilang ke alam. Energi itu bisa diserap! Tapi dengan Gao dan Xiao Lan di sini, ia tidak bisa melakukannya secara terbuka.

[Saran: Host dapat menyentuh tubuh monster seolah-olah memeriksa atau mengambil bagian lain (kulit, taring). Sistem dapat melakukan penyerapan diam-diam dengan efisiensi 40% dari penyerapan normal.]

Ide bagus. Saat Gao sibuk mengumpulkan inti, Alfayd mendekati salah satu bangkai, berpura-pura memeriksa taringnya. “Taringnya cukup tajam, bisa dijual,” gumamnya. Saat tangannya menyentuh kulit serigala, ia memberi perintah dalam hati. “Serap diam-diam.”

[Penyerapan diam-diam dari bangkai Serigala Bayangan (Qi Murni Lapis 1)… Efisiensi 40%…]
[+3 Poin Energi Langit.]

Hanya 3 poin, tapi itu gratis dan tanpa curiga. Ia melakukan hal yang sama pada dua bangkai lainnya, mendapatkan total 9 Poin.

Sepanjang hari, mereka bertemu beberapa kelompok monster lagi. Alfayd terus menggunakan taktik yang sama: bertarung dengan cukup baik untuk tidak mencurigai, tetapi tidak menonjol, dan diam-diam menyerap sisa energi dari setiap bangkai yang disentuhnya. Gao dan Xiao Lan, sibuk dengan pertarungan dan mengumpulkan inti, tidak memperhatikan.

Di satu pertempuran melawan seekor Macan Tutul Bayangan Besar (setara Qi Murni Lapis 2), situasi menjadi sedikit kritis. Gao terluka di lengan, dan Xiao Lan kewalahan. Alfayd, melihat kesempatan untuk “bersinar” sedikit tanpa berlebihan, menggunakan “Langkah Bayangan” tingkat Mahir-nya untuk tiba-tiba muncul di samping monster itu dan melancarkan “Tendangan Angin Berputar” yang diperkuat oleh aliran Qi internalnya (meski masih disamarkan sebagai kekuatan Tubuh Baja). Tendangan itu menghantam titik lemah di leher macan tutul, membuatnya pusing sejenak—cukup bagi Xiao Lan untuk menusuk jantungnya.

“Hebat, Alfayd!” puji Xiao Lan, napasnya terengah. Gao, meski cemberut karena terluka, menganggak setuju.

Alfayd hanya tersenyum. Saat ia “memeriksa” bangkai macan tutul itu, ia menyerap diam-diam, mendapatkan 12 Poin Energi Langit.

Menjelang sore, mereka kembali ke titik temu dengan membawa 15 inti monster (5 di antaranya dari macan tutul). Senior Liang sudah menunggu dengan hasil buruannya yang lebih banyak. Ia memeriksa inti-inti mereka, menghitung nilai poin sekte, lalu mengambil 70% dari setiap inti (dengan alat khusus yang menyedot sebagian energinya), dan mengembalikan 30% yang sudah “dikurangi” kepada mereka.

Alfayd menerima bagiannya: beberapa batu inti yang sudah redup, masing-masing mungkin bernilai 5-10 Poin Energi Langit jika diserap sepenuhnya. Ditambah poin dari penyerapan diam-diam sepanjang hari, totalnya hari ini ia mendapatkan sekitar 80 Poin Energi Langit dan beberapa inti sisa. Lumayan.

Kembali ke sekte, mereka menukarkan Poin Sekte. Alfayd mendapatkan 20 poin, yang ia simpan untuk ditukar nanti. Gao dan Xiao Lan langsung menukarkannya dengan pil tambahan.

Malam itu, di kamarnya, Alfayd memeriksa statistiknya.

[Poin Energi Langit: 353]
[Realm: Tubuh Baja Lapis 9 (Puncak, Lautan Qi 40% terisi)]
[Meridian Terbuka: 8]
[Teknik Pernapasan Dasar Sekte Teratai: Tingkat Mahir (berkat bimbingan sistem)]

Dengan 353 poin, ia bisa mencoba terobosan. Tapi ia memutuskan untuk menunggu sedikit lagi. Ia ingin Lautan Qi-nya terisi setidaknya 70% secara alami dulu, dan mempelajari lebih banyak tentang proses terobosan dari buku atau senior.

Keesokan harinya, setelah latihan pagi, seorang murid luar senior mendekatinya di lapangan. “Kau Alfayd? Yang baru, dengan kemurnian Qi tinggi?”

“Iya, Senior,” jawab Alfayd waspada.

“Ada yang ingin bertemu denganmu. Di Arena Latihan Utara. Sekarang.”

Alfayd mengikuti pria itu. Arena Latihan Utara adalah area di mana murid diizinkan bertarung satu sama lain untuk latihan, dengan pengawasan. Di sana, sekelompok murid luar—sekitar lima atau enam orang—sedang berkumpul. Di tengah mereka, berdiri seorang pria muda dengan jubah yang sedikit lebih bagus, rambut diikat rapi, dan ekspresi arogan. Aura-nya kuat: Qi Murni Lapis 3.

[Target: Murid Luar Senior, kemungkinan pemimpin kelompok. Realm: Qi Murni Lapis 3. Ancaman: Sedang-Tinggi.]

“Jadi kau Alfayd,” kata pria itu, matanya menyapu Alfayd dari ujung kepala ke ujung kaki. “Namaku Duan Feng. Aku dengar kau punya bakat bagus. Dan kau dapat banyak inti dari misi kemarin.”

“Ini berkat kerja sama tim, Senior Duan,” jawab Alfayd sopan, sudah menebak arah pembicaraan ini.

“Tentu, tentu.” Duan Feng tersenyum, tapi tidak sampai ke matanya. “Lihat, sebagai murid baru, kadang sulit memahami peraturan tidak tertulis di sini. Murid senior seperti kami… membantu melindungi murid junior. Sebagai balasannya, junior sering membagikan sebagian sumber daya mereka. Sebagai tanda hormat.”

Ini pemerasan terbuka.

“Berapa yang Senior harapkan?” tanya Alfayd langsung.

Duan Feng terlihat senang karena tidak berbelit-belit. “50% dari poin sekte dan sumber daya yang kau dapatkan dari misi. Dan… jika kau menemukan herba atau benda bagus, laporkan padaku dulu.”

Itu terlalu banyak. Alfayd menggeleng pelan. “Maaf, Senior. Saya butuh sumber daya itu untuk latihan.”

Ekspresi Duan Feng berubah dingin. “Kau menolak?”

Sekelilingnya, anggota kelompok Duan Feng melangkah mendekat, membentuk lingkaran.

“Tidak menolak. Hanya menegosiasikan,” kata Alfayd, tetap tenang. “Bagaimana kalau kita selesaikan dengan cara praktisi? Pertarungan di arena. Jika saya kalah, saya berikan 50% dari misi berikutnya. Jika saya menang, Senior dan teman-teman meninggalkan saya sendiri.”

Duan Feng tertawa terbahak-bahak. “Kau? Tubuh Baja Lapis 9? Melawanku, Qi Murni Lapis 3? Kau gila atau berani?”

“Mungkin sedikit keduanya,” jawab Alfayd. “Tapi itulah tawaran saya. Atau, Senior bisa mencoba mengambil paksa di sini, dan riskan melanggar peraturan sekte tentang perkelahian di luar arena.”

Duan Feng mendengus. Peraturan itu nyata, dan meski ia bisa mengakalinya, lebih mudah bertarung di arena. Dan ia yakin menang mutlak. “Baik. Aku terima. Sekarang juga. Ayo ke platform.”

Mereka naik ke sebuah platform batu persegi di tengah arena. Beberapa murid lain berhenti latihan dan mulai menonton. Taruhan kecil mulai berlangsung. Tidak ada yang memihak Alfayd.

Wasit, seorang murid dalam yang bertugas menjaga arena, mendekat. “Pertarungan latihan. Tidak boleh berniat membunuh. Menyerah atau terlempar dari platform berarti kalah. Siap?”

Keduanya mengangguk.

“Mulai!”

Duan Feng langsung menyerang, tidak mau buang waktu. Tangannya terbuka, dan sebuah bola Qi berwarna coklat-kekuningan (tanah/logam) terbentuk dan meluncur ke arah Alfayd. “Peluru Qi Dasar!”

Alfayd tidak menghindar. Sebaliknya, ia maju, menggunakan Langkah Bayangan untuk bergerak zig-zag, mengurangi dampak. Bola Qi itu menyentuh bahunya, terasa seperti pukulan batu, tapi tidak melukai serius. Ia terus mendekat.

Duan Feng terkejut dengan kecepatan dan ketahanan Alfayd. Ia mengeluarkan jurus fisik, “Pukulan Gunung Runtuh”, tinjunya dibalut Qi padat.

Alfayd, menggunakan prediksi sistem, melihat celah. Duan Feng terlalu mengandalkan realmnya dan meremehkan lawan. Saat pukulan datang, Alfayd membelokkan tubuhnya, membiarkan pukulan itu melintas dekat dadanya. Pada saat yang sama, tangannya mencengkeram pergelangan tangan Duan Feng, menggunakan momentum lawan sendiri, dan menariknya sambil menyodok dengan siku ke sisi tubuhnya.

Tok!

Duan Feng terhuyung, terkejut. Qi-nya bergolak sejenak. “Kau…!”

Tapi Alfayd tidak memberi waktu. Ia melanjutkan serangan, kombinasi tendangan dan pukulan yang cepat dan tepat, selalu menyerang titik-titik di mana aliran Qi Duan Feng sedang tidak stabil. Ia tidak menggunakan kekuatan mentah, tapi presisi dan timing.

Duan Feng, semakin frustrasi, mencoba mengeluarkan jurus yang lebih kuat, tapi Alfayd selalu terlalu dekat, mengganggu konsentrasinya. Ini adalah strategi yang dipelajari Alfayd dari mengamati pertarungan monster: ganggu, desak, jangan beri ruang.

Penonton mulai bersorak, terkejut melihat murid baru di Tubuh Baja bisa mendesak senior Qi Murni.

Setelah dua menit pertukaran serangan, Duan Feng mulai kelelahan karena emosi dan penggunaan Qi yang boros. Alfayd, dengan stamina Tubuh Baja Lapis 9 dan pernapasan efisien, masih segar.

Ini saatnya. Alfayd berpura-pura terjatuh setelah menahan tendangan lemah. Duan Feng, melihat kesempatan, melompat untuk memberikan pukulan finisher. Tapi itu jebakan.

Alfayd, dari posisi rendah, mengeluarkan tendangan putar yang sangat cepat—versi “Tendangan Angin Berputar” tingkat Mahir yang diperkuat oleh aliran Qi internal penuh (meski masih disamarkan). Tendangan itu menghantam betis Duan Feng yang sedang melayang.

Krak!

Suara tulang retak. Duan Feng menjerit, kehilangan keseimbangan, dan terlempar dari platform.

Arena sunyi sejenak, lalu keributan pecah.

“Dia menang? Bagaimana mungkin?”
“Tubuh Baja mengalahkan Qi Murni Lapis 3?”
“Itu… itu teknik dan timing yang sempurna!”

Wasit mengangkat tangan Alfayd. “Pemenang: Alfayd!”

Duan Feng dibantu berdiri oleh teman-temannya, wajahnya memerah karena malu dan marah. Ia menatap Alfayd dengan kebencian. “Ini belum selesai.”

“Perjanjian kita, Senior,” ingatkan Alfayd dengan tenang. “Anda meninggalkan saya sendiri.”

Duan Feng mendengus keras, lalu pergi dengan pincang, diikuti kelompoknya.

Alfayd turun dari platform. Beberapa murid lain memandangnya dengan rasa hormat baru. Yang lain dengan kehati-hatian. Ia telah membuat pernyataan: ia bukan mangsa mudah.

Saat ia berjalan kembali ke kompleksnya, sistem berbunyi.

[Host telah mengalahkan lawan dengan realm lebih tinggi dalam pertarungan adil. Menganalisis pertarungan…]
[Mendapatkan data pola bertarung praktisi Qi Murni tingkat rendah. Memperbarui database pertempuran.]
[Saran: Host dapat menggunakan Poin Energi Langit untuk mensimulasikan pertarungan melawan lawan dengan realm berbeda untuk meningkatkan pengalaman.]

Fitur baru! Itu sangat berguna.