BAB 8: AUDIENCE DENGAN RAJA

Ukuran:
Tema:

Kaelan berdiri di depan pintu besar berukir emas, tangan berkeringat. Dia mengenakan pakaian terbaik yang disediakan Institute—tunik biru dengan pinggiran perak, celana hitam, sepatu boots sederhana. Tapi dia tetap merasa seperti anak desa yang tersesat di istana.

Elara berdiri di sampingnya, mengenakan gaun biru yang cocok dengan tuniknya. “Tenang. Ayahku tidak menggigit.”

“Kau yakin?” Kaelan mencoba bercanda, tapi suaranya pecah.

Elara tersenyum. “Cukup yakin.”

Pintu terbuka, dan seorang pelayan dengan jubah merah mengumumkan: “Putri Elara dan Tamu.”

Mereka masuk.

Ruang tahta tidak seperti yang dibayangkan Kaelan. Dia mengharapkan sesuatu yang megah, berlebihan. Tapi ruangan ini… sederhana. Relatif. Masih besar, dengan langit-langit tinggi dan jendela kaca patri, tapi perabotannya minimalis. Di ujung, di atas platform rendah, duduk seorang pria di kursi kayu sederhana, bukan takhta emas.

Raja Aldric.

Dia tidak terlihat seperti raja dalam cerita. Usia lima puluhan, rambut hitam dengan uban di pelipis, wajah keriput tapi mata tajam. Dia mengenakan tunik hijau sederhana, tanpa mahkota. Tapi ada sesuatu tentangnya—kehadiran. Saat Kaelan mendekat, dia merasa seperti sedang diperiksa oleh sesuatu yang lebih besar dari manusia.

“Bapak,” kata Elara, membungkuk. “Ini Kaelan dari Oakhaven.”

Kaelan membungkuk juga, tidak yakin seberapa dalam. “Yang Mulia.”

“Bangun,” kata raja, suaranya dalam tapi tidak keras. “Dekat.”

Kaelan mendekat, berhenti beberapa langkah dari platform.

Raja memandangnya, dan Kaelan melihat interface biru di mata raja: [STRATEGIC MIND – UNCOMMON TIER]. Sistem yang cocok untuk penguasa.

“Putriku bercerita banyak tentangmu,” kata raja. “Kau menyelamatkan nyawanya. Dan nyawa scout lainnya.”

“Kebetulan, Yang Mulia.”

“Kebetulan?” Raja mengangkat alis. “Menurut laporan, kau menghancurkan Void Crystal, memurnikan Overseer, dan bertarung melawan sekawanan Voidlings sendirian. Itu bukan kebetulan.”

Kaelan tidak tahu harus berkata apa. “Aku… hanya bertahan hidup.”

“Dan sekarang kau bertahan hidup di Institute. Archmage Lyra melaporkan kemajuanmu.” Raja bersandar. “Kau tahu mengapa aku memanggilmu?”

“Tidak, Yang Mulia.”

“Karena kau unik. Dan di dunia yang semakin berbahaya, yang unik adalah berharga.” Raja berdiri, turun dari platform. Dia lebih pendek dari yang Kaelan kira, tapi kehadirannya mengisi ruangan. “Voidlings bukan ancaman biasa. Mereka gejala. Gejala penyakit pada Sistem Primordial.”

Kaelan mengingat apa yang dikatakan Lyra. “Malakar.”

“Ya. Mantan Archmage, mantan teman.” Wajah raja berkerut. “Dia percaya dia melakukan yang benar. Menghapus Sistem untuk kesetaraan. Tapi yang dia ciptakan… itu monster.”

“Kita harus menghentikannya.”

“Kita akan.” Raja berjalan mondar-mandir. “Tapi pertama, kita harus memahami sepenuhnya ancamannya. Dan di sinilah kau masuk.”

Kaelan menunggu.

“[DESTINY ABSORBER] bukan sekadar Sistem,” kata raja. “Itu kunci. Menurut naskah kuno, hanya Absorber yang bisa memperbaiki Sistem Primordial. Hanya kau yang bisa membalikkan korupsi.”

Itu… terlalu besar. “Aku baru Level 3. Aku bahkan tidak bisa mengontrol echo dengan baik.”

“Tapi kau akan belajar.” Raja berhenti, menatapnya. “Aku menawarkan posisi resmi: Royal System Specialist. Anggota Primordial Task Force.”

Elara tersenyum, seperti sudah tahu.

“Tugas Force?” tanya Kaelan.

“Tim khusus untuk tangani ancaman Voidling dan Malakar.” Raja menunjuk Elara. “Putriku akan jadi pemimpin. Garrick sebagai kepala keamanan. Lyra Junior untuk magic support. Thorne untuk intel. Dan kau… sebagai senjata utama.”

Senjata. Kata itu terasa berat. “Apa… tanggung jawabku?”

“Belajar. Berlatih. Dan ketika waktunya tiba, menghadapi Malakar.” Raja mendekat. “Sebagai gantinya, kau dapat perlindungan kerajaan, sumber daya Institute, dan… pengampunan.”

“Pengampunan?”

“Untuk desamu. Hukum kerajaan membatalkan pengusiranmu. Kau bisa kembali ke Oakhaven sebagai pahlawan, bukan outcast.”

Itu yang diinginkan Kaelan. Tapi… “Apa yang harus kulakukan?”

“Terima posisi. Ikuti pelatihan. Dan ketika kami memanggil, kau menjawab.”

Kaelan melihat Elara, yang menganggak hampir tidak terlihat. Lalu dia melihat raja. “Dan jika aku menolak?”

“Kau bebas pergi. Tapi tanpa perlindungan, tanpa pelatihan. Dan desamu… tetap mengusirmu.”

Bukan pilihan. Atau lebih tepatnya, hanya satu pilihan yang masuk akal.

“Aku terima,” kata Kaelan.

Raja menganggak, puas. “Bagus. Elara akan beri detail. Sekarang, pergilah. Kau punya persiapan.”

Mereka membungkuk, lalu keluar. Di lorong, Kaelan bersandar ke dinding, menarik napas dalam-dalam.

“Kau baik-baik saja?” tanya Elara.

“Ya. Hanya… banyak.”

“Kau akan terbiasa.” Elara tersenyum. “Sekarang, kita punya misi pertama.”

“Oakhaven?”

“Ya. Tapi bukan hanya kita. Garrick, Lyra Junior, dan Thorne akan ikut. Misi resmi: memperingatkan desa perbatasan tentang Voidlings. Misi tidak resmi: menunjukkan pada desamu bahwa kau pahlawan.”

Kaelan menganggak. “Kapan kita berangkat?”

“Besok pagi. Hari ini, kau siapkan perlengkapan.” Elara menepuk bahunya. “Aku akan atur semuanya. Temui aku di gerbang timur jam 6 pagi.”

Dia pergi, meninggalkan Kaelan sendirian di lorong istana.

Kaelan kembali ke Institute, pikirannya penuh. Royal System Specialist. Primordial Task Force. Kembali ke Oakhaven.

Di kamarnya, dia duduk, memeriksa interface:

[TITLE ACQUIRED: ROYAL SYSTEM SPECIALIST]
[EFFECT: +10% RESPECT FROM ROYAL PERSONNEL]
[NEW QUEST: MISSION TO OAKHAVEN]
[OBJECTIVE: WARN VILLAGE, REUNITE WITH FAMILY]
[PARTY: ELARA, GARRICK, LYRA JUNIOR, THORNE]

Party. Tim. Dia tidak sendirian lagi.

Ada ketukan di pintu. “Masuk.”

Lyra Junior masuk, membawa tas kecil. “Aku dengar kita pergi bersama. Aku bawa beberapa supplies.” Dia meletakkan tas di meja. “Potion penyembuhan minor, crystal light, ransum.”

“Terima kasih.”

Lyra Junior duduk. “Aku… senang kau di tim. Sistemmu fascinates me.”

“Echo-ku masih sulit.”

“Itu akan membaik.” Lyra Junior tersenyum. “Aku punya teori. Echo bukan hanya memori—itu koneksi. Setiap kali kau menyerap, kau terhubung dengan pemilik Sistem, bahkan jika mereka sudah mati.”

“Terhubung?”

“Seperti… jejak di dunia. Mungkin suatu hari kau bisa menggunakan echo untuk komunikasi. Atau tracking.”

Itu ide menarik. Tapi untuk sekarang, echo hanya gangguan.

“Besok pagi,” kata Lyra Junior. “Aku tunggu di gerbang.”

Dia pergi. Tak lama kemudian, ketukan lain. Thorne.

“Kita perlu bicara,” kata Thorne, masuk tanpa diundang. “Tentang Oakhaven.”

“Ya?”

“Desa perbatasan. Terisolasi. Jika Voidlings sudah sampai sana…” Thorne berhenti. “Kita harus siap untuk yang terburuk.”

“Seperti apa?”

“Desa kosong. Atau penuh Blank. Atau… dikonversi.”

“Dikonversi?”

“Malakar tidak hanya menghancurkan. Dia merekrut. Beberapa desa, dia janjikan ‘pembebasan’ dari Sistem. Beberapa mungkin menerima.”

Kaelan tidak bisa membayangkan itu. Orang Oakhaven bangga dengan Sistem mereka. Tapi… ketakutan bisa membuat orang melakukan hal aneh.

“Kita akan lihat besok,” kata Thorne. “Tapi siapkan dirimu. Secara mental.”

Dia pergi, menghilang seperti biasa.

Kaelan bersiap untuk tidur, tapi tidak bisa. Dia terlalu gugup. Besok, dia kembali ke rumah. Setelah berminggu-minggu. Setelah segalanya berubah.

Dia akhirnya tertidur, bermimpi aneh. Mimpi tentang desa, tapi dengan interface biru di mata semua orang. Mimpi tentang ayahnya, tapi dengan simbol Blank di dahinya. Mimpi tentang lingkaran batu, tapi sekarang dengan Voidlings, bukan warga desa.

Dia terbangun sebelum fajar, berkeringat. Tapi dia siap.

Dia mengemas sedikit barang: pakaian, makanan, pedang pendek dari gua. Lalu dia pergi ke gerbang timur.

Elara sudah ada di sana, mengenakan pakaian perjalanan praktis—tunik hijau, celana, mantel. Di sampingnya, Garrick dengan baju besi lengkap, Lyra Junior dengan jubah dan tas penuh, Thorne dengan pakaian gelap dan banyak kantong.

Dan lima kuda.

“Kita naik kuda,” kata Elara. “Perjalanan dua hari dengan kuda, empat hari jalan kaki.”

Kaelan tidak pernah naik kuda. Tapi dia belajar cepat—dengan bantuan Garrick, dia naik ke pelana, memegang erat.

“Jangan khawatir,” kata Garrick. “Kuda ini terlatih. Ikuti saja kami.”

Mereka berangkat saat matahari terbit, meninggalkan ibu kota di belakang. Perjalanan melalui pedesaan Aethelgard indah—ladang hijau, hutan kecil, desa-desa damai. Tapi Kaelan tidak bisa menikmatinya. Dia terlalu gugup.

Hari pertama berlalu dengan tenang. Mereka berkemah di malam hari, jaga bergiliran. Kaelan berjaga dengan Thorne.

“Kau tidak tidur?” tanya Kaelan.

“Tidur sedikit,” jawab Thorne. “[SHADOW STEP] butuh kurang tidur. Side effect.”

“Semua Sistem punya side effect?”

“Kebanyakan. [LIVING FORTRESS] Garrick—dia kurang sensitif sentuhan. [ELEMENTAL APPRENTICE] Lyra—dia terkadang merasakan emosi elemen. [HEART READER] Elara—dia terkadang kewalahan dengan perasaan orang.”

“Dan [DESTINY ABSORBER]?”

“Echo. Dan… isolasi.” Thorne melihatnya. “Kau tidak bisa dekat dengan orang tanpa risiko menyerap mereka. Itu menyendirikan.”

Benar. Kaelan belum memikirkannya. Tapi dia sudah merasakannya—jarak antara dia dan yang lain, karena mereka takut disentuhnya.

“Tapi kau belajar kontrol,” kata Thorne. “Itu yang penting.”

Mereka diam beberapa saat. Lalu Thorne berkata, “Oakhaven. Jika ada masalah… jangan ragu. Gunakan kemampuanmu.”

“Apa maksudmu?”

“Jika ada Voidlings, atau Blank, atau pengikut Malakar… kau harus bertindak. Bahkan jika itu orang yang kau kenal.”

Kaelan membeku. Itu… itu kemungkinan yang mengerikan. Tapi Thorne benar.

“Kau siap?” tanya Thorne.

Kaelan tidak yakin. Tapi dia mengangguk. “Aku harus.”

Fajar hari kedua, mereka melanjutkan. Semakin dekat ke Oakhaven, semakin tegang Kaelan. Dia mengenali pohon, batu, aliran sungai.

Dan kemudian, di kejauhan, asap.

Bukan asap perapian. Asap hitam, tebal. Dari banyak api.

Kaelan mengetuk kudanya, berlari lebih cepat. Yang lain mengikutinya.

Mereka mencapai bukit terakhir, dan di bawahnya… Oakhaven.

Tapi bukan Oakhaven yang Kaelan ingat.

Setengah rumah terbakar. Tembok desa runtuh di beberapa tempat. Dan di jalan… tubuh.

Banyak tubuh.

Dan di tengah desa, berdiri sesuatu yang besar, gelap, dengan mata merah.

Bukan Voidling.

Lebih buruk.

[SCANNING…]
[TARGET: CORRUPTED GUARDIAN GOLEM]
[STATUS: UNDER VOIDLING CONTROL]
[THREAT LEVEL: EXTREME]

Desa Kaelan diserang.

Dan orang-orangnya… dimana?

Kaelan melompat dari kuda, mulai berlari menuruni bukit.

“Kaelan, tunggu!” teriak Elara.

Tapi dia tidak mendengarkan. Dia harus menemukan ayahnya. Harus menyelamatkan desanya.

Pertempuran untuk Oakhaven baru saja dimulai.


[END OF CHAPTER 8]
[WORD COUNT: 1,840]
[NEXT: BAB 9 – PERTEMPURAN OAKHAVEN]