BAB 9: PERTEMPURAN OAKHAVEN
Kaelan berlari menuruni bukit, jantung berdebar kencang. Asap membakar paru-parunya, tapi dia tidak peduli. Dia harus mencapai desa. Harus menemukan ayahnya.
Di belakangnya, dia mendengar teriakan Elara dan derap kuda yang mengikutinya. Tapi dia tidak berhenti.
Pintu gerbang desa—atau yang tersisa darinya—terbuka lebar, daun kayu besar terbelah dua. Kaelan melompati puing, masuk ke jalan utama.
Pemandangan yang menyambutnya seperti mimpi buruk.
Rumah-rumah yang dia kenal sejak kecil sekarang terbakar atau runtuh. Toko Elder Marin hancur. Rumah pertemuan desa—tempat dia diusir—sekarang hanya tiang hangus. Dan di mana-mana, tubuh.
Beberapa masih bergerak. Kebanyakan tidak.
Dan di tengah alun-alun desa, berdiri Golem.
Tingginya tiga meter, terbuat dari batu dan tanah, tapi dengan retakan ungu bersinar di seluruh tubuhnya. Mata merahnya memindai area, dan setiap kali melihat gerakan, tangannya—besar seperti batu nisan—menghantam.
[CORRUPTED GUARDIAN GOLEM – LEVEL 15]
[HEALTH: 850/1000]
[STATUS: VOID-ENHANCED, MINION CONTROL]
Minion control? Kaelan melihat sekeliling. Di balik Golem, beberapa Voidlings—tapi bukan yang biasa. Mereka lebih kecil, seperti versi mini, dan mereka… mengikat orang.
Warga desa yang masih hidup, diikat, ditarik ke arah Golem.
Salah satu Voidlings melihat Kaelan, mendesis, lalu melemparkan energi gelap. Kaelan menyelam ke samping, energi menghantam dinding di belakangnya.
“Kaelan, formasi!” teriak Garrick, yang baru saja tiba dengan yang lain. “Jangan sendirian!”
Tapi Kaelan sudah bergerak. Dia melihat seseorang yang dikenalnya—Gareth, pandai besi, terluka tapi masih hidup, diikat oleh Voidlings.
Dia berlari ke arah mereka, pedang terhunus. Voidlings kecil itu mendesis lagi, melemparkan lebih banyak energi. Kaelan menghindar, menebas satu. Pedangnya memotong energi, dan Voidling itu menjerit lalu menghilang.
[VOIDLING MINION DEFEATED]
[EXP GAINED: 20]
Tapi ada lima lagi. Dan Golem sekarang memperhatikannya.
“Kaelan, mundur!” teriak Elara, tapi terlambat.
Golem mengangkat tangan, menghantam tanah. Gelombang kejut menyebar, melemparkan Kaelan ke belakang. Dia mendarat keras, kehilangan napas.
[DAMAGE TAKEN: 25% INTEGRITY]
[STATUS: STUNNED 3 SECONDS]
Tiga detik. Tapi itu cukup lama.
Golem mendekat, kaki batu menginjak tanah dengan dentuman. Tangannya mengangkat, siap menghancurkan.
Lalu sesuatu menghantam Golem dari samping—bola api biru. Lyra Junior.
“Jangan sentuh temanku!” teriaknya, melemparkan lebih banyak api.
Golem berbalik, mengabaikan Kaelan. Itu kesempatan.
Kaelan berdiri, masih pusing. Dia melihat sekeliling. Timnya sekarang bertarung: Garrick menghadapi sekelompok Voidlings dengan pedang besar, Thorne menghilang dan muncul di belakang musuh, Elara… dia tidak bertarung. Dia berlari ke warga desa yang terluka, membantu mereka.
Prioritas yang benar. Selamatkan orang dulu, lalu lawan monster.
Kaelan bergabung dengan Elara. “Ayahku—”
“Belum kulihat,” kata Elara, membantu seorang wanita tua berdiri. “Cari di rumah sakit desa. Aku urus yang di sini.”
Kaelan mengangguk, berlari ke arah rumah sakit—bangunan batu kecil di ujung desa. Pintunya terbuka, dan dari dalam… suara.
Suara pertarungan.
Dia masuk, dan melihat sesuatu yang tidak terduga.
Ayahnya, Eldric, berdiri dengan tongkat di tangan, melawan… Voidlings? Tidak. Bukan Voidlings.
Warga desa.
Tapi bukan warga desa biasa. Mata mereka kosong, simbol Blank di dahi mereka. Mereka telah dikonversi.
“Kaelan!” teriak Eldric, melihatnya. “Keluar!”
Tapi Kaelan sudah masuk. Ada sekitar enam Blank, semuanya warga desa yang dia kenal: Elder Marin, Baker Jorin, bahkan… Liana? Tidak, bukan adiknya. Tapi seseorang yang mirip.
Blank mendekat, tangan terulur. Bukan untuk menyerang—untuk menyentuh. Untuk mengambil.
“Jangan biarkan mereka sentuh!” peringatkan Eldric, memukul satu dengan tongkat. “Mereka ingin Sistemmu!”
Kaelan mengerti. Blank ini seperti Rylan—korban Voidlings yang sekarang mencoba mengambil Sistem orang lain untuk mengisi kekosongan mereka.
Tapi ini orang yang dia kenal. Bagaimana dia bisa melawan mereka?
Salah satu Blank—Elder Marin—mendekat. Matanya kosong, tapi ada sisa-sisa orang yang dia kenal di sana. “Kaelan… berikan… rasakan bebas…”
“Tidak,” kata Kaelan, mundur.
“Kau tidak mengerti… tanpa Sistem… damai…”
Tapi itu bohong. Kaelan telah melihat Rylan. Itu bukan kedamaian—itu penderitaan.
Dia mengangkat pedang. “Ayah, keluar. Aku urus ini.”
“Tidak, kita bersama—”
“Keluar!” Kaelan mendorong ayahnya ke pintu belakang. “Aku punya kemampuan untuk ini.”
Eldric ragu, lalu mengangguk. “Hati-hati.”
Dia pergi, dan Kaelan sendirian dengan enam Blank.
Dia mengambil napas dalam-dalam. Purification. Itu yang dia butuhkan. Tapi dia harus menyentuh mereka, dan mereka akan mencoba menyentuhnya juga.
Blank pertama menyerang. Kaelan menghindar, menangkap pergelangan tangannya. Sentuhan.
[CONTACT ESTABLISHED]
[TARGET: ELDER MARIN – BLANK]
[CORRUPTION LEVEL: 70%]
[PURIFICATION POSSIBLE]
Kaelan mengaktifkan Purification. Cahaya putih memancar dari tangannya, masuk ke Elder Marin.
Blank itu menjerit—suara penuh rasa sakit, tapi juga… kelegaan? Seperti seseorang bangun dari mimpi buruk.
Corruption level turun: 70%… 60%… 50%…
Tapi Blank lain menyerang. Kaelan harus melepaskan, menghindar.
Elder Marin terjatuh, terengah-engah. Matanya… lebih fokus. “Kaelan? Apa… apa yang terjadi?”
“Later!” Kaelan menghadapi Blank berikutnya.
Ini lebih sulit. Mereka belajar. Mereka menyerang bersamaan. Kaelan harus menggunakan telekinesis kecil—mendorong satu, menarik yang lain. Tapi itu menghabiskan MP-nya.
[MP: 45/100]
Dia harus hemat.
Blank ketiga dan keempat menyerang dari dua sisi. Kaelan melompat, mendarat di meja. Tapi meja itu rapuh, patah.
Dia jatuh, dan mereka menyerbu.
Lalu sesuatu yang aneh terjadi. Salah satu Blank—Baker Jorin—berhenti. Matanya berkedip. “Kaelan… tolong… aku di sini…”
Ada kesadaran di sana. Orang asli, terjebak.
Kaelan meraih tangan Jorin, mengaktifkan Purification lagi. Kali ini lebih cepat—dia belajar.
[PURIFICATION SUCCESS: BAKER JORIN]
[CORRUPTION REMOVED: 85%]
[REWARD: 50 EXP]
Jorin terjatuh, menangis. “Aku… aku ingat. Voidlings… mereka membuatku…”
“Tidak sekarang,” kata Kaelan, berdiri. Tiga Blank tersisa.
Tapi dia lelah. MP hampir habis. Dan dari luar, dia mendengar dentuman—Golem masih bertarung.
Harus cepat.
Dia menggunakan strategi baru. Daripada purification satu per satu, dia mencoba… area effect? Mungkin jika dia menyentuh tanah, menggunakan energi purification melalui tanah…
Tidak ada waktu untuk tes. Dia menempelkan tangan ke lantai, berkonsentrasi pada purification, membayangkan energi menyebar seperti riak.
[SKILL ADAPTATION: PURIFICATION → AREA PURGE]
[EFFECT: PURIFY ALL TARGETS IN 3M RADIUS]
[MP COST: 30]
[SUCCESS CHANCE: 40%]
Dia mencoba. MP-nya turun drastis.
Cahaya putih menyebar dari tangannya, melalui lantai, menyentuh kaki ketiga Blank.
Mereka semua menjerit, lalu terdiam. Corruption level mereka turun cepat.
40%… 20%… 5%…
Dan kemudian, mereka terjatuh, sadar.
[AREA PURGE SUCCESSFUL]
[THREE BLANKS PURIFIED]
[REWARD: 150 EXP, PURIFICATION LEVEL 2]
[MP: 15/100]
Kaelan berdiri, goyah. Dia hampir habis. Tapi setidaknya, orang-orang ini selamat.
Dari luar, teriakan. “KAELAN! GOLEM!”
Dia berlari keluar. Di alun-alun, pertempuran masih berkecamuk. Golem sekarang rusak parah—satu lengan patah, retakan di seluruh tubuh. Tapi timnya juga terluka: Garrick berdarah dari lengan, Lyra Junior terengah-engah, Thorne… tidak terlihat.
Elara masih membantu warga desa, sekarang dengan beberapa orang yang dia selamatkan membantunya.
Golem melihat Kaelan, dan mata merahnya bersinar lebih terang. Sepertinya… mengenalinya?
“[DESTINY ABSORBER],” gumam Golem, suaranya seperti batu bergesekan. “Master… ingin… kau.”
Malakar. Dia mengirim Golem ini khusus untuk menangkap Kaelan.
“Kau tidak akan mendapatkanku,” kata Kaelan, meski dia hampir tidak bisa berdiri.
Golem mendekat, mengabaikan yang lain. “Kau… kunci. Tanpamu… Master tidak bisa… selesaikan.”
Selesaikan apa? Rencana Malakar?
Tidak ada waktu untuk bertanya. Golem menyerang.
Kaelan mencoba menghindar, tapi terlalu lambat. Tangan batu menghantamnya, melemparkannya ke dinding.
[DAMAGE TAKEN: 40% INTEGRITY]
[HEALTH: 35/100]
[STATUS: CRITICAL]
Dia tidak bisa bergerak. Patah tulang? Mungkin. Rasa sakitnya tajam.
Golem mendekat lagi. “Tidur… saja…”
Lalu sesuatu menghantam Golem dari belakang—pedang besar Garrick, menancap di punggungnya.
“JAUHI DIA!” teriak Garrick.
Golem berbalik, mengayun. Garrick terlempar.
Lyra Junior melemparkan api, tapi Golem mengabaikannya. Fokusnya hanya pada Kaelan.
Kaelan melihat sekeliling. Tidak ada yang bisa membantu. Dia sendirian.
Tapi… tidak sepenuhnya.
Dia ingat sesuatu. Energy Sense-nya mendeteksi sesuatu di dalam Golem—inti energi. Void energy yang menggerakkannya.
Dan dia… bisa menyerap energi.
Tapi bukan dengan sentuhan. Dengan pikirannya? Dengan keinginan?
Dia tidak punya pilihan. Dia fokus pada inti energi di dalam Golem, membayangkan menariknya keluar.
[ATTEMPTING REMOTE ABSORPTION…]
[TARGET: VOID CORE (GOLEM)]
[DISTANCE: 5M]
[SUCCESS CHANCE: 15%]
Peluang kecil. Tapi dia harus mencoba.
Dia berkonsentrasi, mengabaikan rasa sakit. Membayangkan tangan tak terlihat meraih inti, menarik…
Golem berhenti, seperti bingung. Retakan ungunya berkedip.
Kaelan menarik lebih kuat. MP-nya habis, tapi dia menggunakan sesuatu yang lain—HP? Ya, dia merasa hidupnya terkuras.
[REMOTE ABSORPTION SUCCESS!]
[VOID CORE ABSORBED]
[HEALTH COST: 20]
[HEALTH: 15/100]
[CRITICAL WARNING]
Golem bergetar, lalu… berhenti. Mata merahnya padam. Retakan ungu memudar. Lalu, perlahan, tubuh batu itu runtuh, menjadi tumpukan batu biasa.
[CORRUPTED GUARDIAN GOLEM DEFEATED]
[EXP GAINED: 300]
[LEVEL UP!]
[DESTINY ABSORBER: LEVEL 3 → LEVEL 4]
[NEW CAPABILITY: REMOTE ABSORPTION RANGE +5M]
[NEW SKILL: VOID ENERGY RESISTANCE (PASSIVE)]
Tapi Kaelan tidak peduli dengan level up. Dia terlalu sakit. Dunia berputar.
Dia melihat Elara berlari ke arahnya, wajah khawatir. “Kaelan! Jangan tutup mata!”
Tapi dia tidak bisa menahannya. Kegelapan menyelimutinya.
Dia pingsan, dengan suara Elara memanggil namanya, dan suara ayahnya di kejauhan, dan suara warga desa yang selamat.
Oakhaven selamat. Tapi dengan harga yang mahal.
Dan dia… dia masih hidup. Untuk sekarang.
[END OF CHAPTER 9]
[WORD COUNT: 1,920]
[NEXT: BAB 10 – KEBANGKITAN]