BAB 33: THE PURIFIERS
Pria dengan jubah putih itu memperkenalkan diri sebagai Solarius, pemimpin The Purifiers. Matanya biru terang—bukan warna alami, tapi efek dari Sistem atau sesuatu yang lain.
“Kau membawa tiga fragmen,” katanya, tanpa permusuhan. “Dan aku membawa yang keempat. Kita bisa bekerja sama.”
“Untuk apa?” tanya Kaelan, waspada.
“Untuk tujuan yang sama: memperbaiki dunia. Tapi dengan cara berbeda.”
“Caramu?”
“Menghancurkan semua fragmen. Menghapus jejak Ancient Ones. Dan membiarkan dunia berkembang alami, tanpa Sistem.”
“Tapi Sistem sudah bagian dari dunia. Menghapusnya akan membunuh banyak orang.”
“Transisi akan sulit. Tapi perlu. Seperti operasi—sakit untuk sembuh.”
Elara melangkah maju. “Kau tidak punya hak memutuskan untuk semua orang.”
“Dan Archives punya?” balas Solarius. “Kau memutuskan siapa yang dapat Sistem, siapa yang tidak. Itu juga kontrol.”
“Kami mencoba membuat adil.”
“Tidak mungkin adil selama Sistem ada. Karena Sistem sendiri tidak adil.”
Kaelan memahami logika Solarius. Tapi ekstrem.
“Fragmen bukan hanya jejak,” kata Kaelan. “Mereka memori. Pelajaran. Jika kita menghancurkannya, kita akan mengulang kesalahan Ancient Ones.”
“Atau kita akan belajar dari kesalahan tanpa terikat pada pencipta lama.”
Perdebatan filosofis. Tapi ada masalah praktis: Solarius memegang fragmen keempat. Dan dia tidak akan memberikannya.
“Ada cara lain,” kata Solarius. “Uji. Jika kau bisa meyakinkan aku bahwa pendekatanmu lebih baik, aku akan berikan fragmen.”
“Uji apa?”
“Debat. Di depan pengikutku. Mereka akan memutuskan.”
The Purifiers bukan kelompok kecil. Ratusan orang tinggal di oasis, dalam struktur sederhana. Mereka berasal dari berbagai latar—beberapa mantan pengguna Sistem yang menderita, beberapa yang lahir tanpa Sistem, beberapa yang percaya pada kemurnian alam.
Malam itu, di sekitar api unggun besar, debat diadakan. Kaelan mewakili Archives, Solarius mewakili The Purifiers.
Solarius berbicara pertama: “Sistem adalah belenggu. Dari lahir, kita diberi label—[COMMON], [RARE], [LEGENDARY]. Itu menentukan hidup kita. Itu bukan takdir—itu penjara. Dan penjara itu dibuat oleh Ancient Ones yang sudah pergi, meninggalkan kita dengan warisan rusak.”
Pengikutnya mengangguk, bersorak.
Kaelan menjawab: “Benar, Sistem tidak adil. Tapi itu realitas. Menghancurkan fragmen, menghapus Sistem—itu seperti membakar rumah karena ada retak. Kita bisa memperbaiki. Archives ada untuk itu. Kita sudah membantu orang—memberi Sistem yang lebih baik, memperbaiki yang rusak, bahkan membuat template untuk pendidikan.”
“Tapi tetap dalam kerangka Sistem! Kenapa tidak membebaskan sepenuhnya?”
“Karena Sistem bukan hanya label—itu bagian dari jiwa kita sekarang. Menghapusnya… seperti memotong anggota tubuh. Bisa membunuh.”
“Atau menyembuhkan,” balas Solarius. “Kami punya bukti: beberapa anggota kami, dengan bantuan teknologi kuno, berhasil menghapus Sistem mereka. Dan mereka hidup—lebih bebas, lebih bahagia.”
Itu mengejutkan. The Purifiers berhasil menghapus Sistem tanpa membunuh?
“Bagaimana?” tanya Elara.
“Teknologi Ancient Ones. Mereka meninggalkan alat—bukan untuk kita gunakan, tapi kami temukan cara.”
Alat itu mungkin terkait dengan monolit di oasis.
“Bisa kami lihat?” tanya Kaelan.
Solarius ragu, lalu mengangguk. “Baik. Tapi hati-hati.”
Mereka dibawa ke monolit. Di dasarnya, sebuah ruang tersembunyi. Di dalam, mesin kuno—mirip dengan yang di gateway, tapi lebih kecil.
“System Eraser,” kata Solarius. “Tapi kami sebut ‘Liberator’.”
Kaelan memeriksanya dengan [PRIMORDIAL ARCHIVIST]. Mesin itu memang bisa menghapus Sistem—tapi dengan cara kasar: memutus koneksi ke Source. Itu berbahaya—bisa meninggalkan jiwa terluka.
“Dan korban?” tanya Kaelan.
“Beberapa… tidak selamat. Tapi yang selamat, bebas.”
“Jadi kau mengorbankan beberapa untuk kebebasan lainnya?”
“Untuk kemajuan. Seperti selalu.”
Kaelan tidak setuju. Tapi dia melihat pengikut Solarius—mereka percaya. Benar-benar percaya.
Debat berlanjut hingga larut malam. Tidak ada pemenang jelas. Tapi ada kesepahaman: kedua belah pihak ingin dunia lebih baik. Hanya caranya berbeda.
Solarius akhirnya mengusulkan kompromi: “Berikan aku satu bulan. Aku akan tunjukkan bahwa metode kami bekerja. Jika berhasil, kau harus mempertimbangkan kembali. Jika gagal, aku akan berikan fragmen.”
“Dan selama itu, fragmen keempat?” tanya Kaelan.
“Tetap padaku. Sebagai jaminan.”
Risiko. Tapi mungkin perlu.
Kaelan berdiskusi dengan tim. “Apa pendapat kalian?”
“Berbahaya,” kata Thorne. “Dia bisa menghancurkan fragmen kapan saja.”
“Tapi dia belum melakukannya,” kata Elara. “Mungkin dia benar-benar percaya pada caranya.”
“Kita bisa tinggal di sini,” usul Rylan. “Mengawasi.”
Akhirnya, mereka setuju: tinggal satu bulan di oasis, mengamati, belajar. Dan mencoba meyakinkan The Purifiers dengan cara damai.
Minggu pertama, Kaelan belajar tentang kehidupan di oasis. The Purifiers hidup sederhana, tanpa teknologi Sistem. Mereka menggunakan teknologi kuno yang ditemukan di monolit—energi matahari, pengolahan air, bahkan pertanian hidroponik.
Dan beberapa mantan pengguna Sistem memang tampak… bahagia. Tapi Kaelan, dengan [HEART READER] dari Elara, merasakan sesuatu yang lain: kekosongan. Seperti bagian dari diri mereka hilang.
Sistem bukan hanya kekuatan—itu identitas. Menghapusnya meninggalkan luka.
Di minggu kedua, terjadi kecelakaan. Seorang anggota mencoba “Liberator” dan… meninggal. Jiwa terpisah tidak sempurna.
Solarius sedih, tapi berkata: “Pengorbanan diperlukan.”
Kaelan tidak terima. “Tidak ada yang harus dikorbankan.”
“Kau naif. Perubahan besar selalu butuh pengorbanan.”
“Tapi harus sukarela. Dan dengan pemahaman penuh.”
Perdebatan lagi. Tapi kali ini, beberapa pengikut Solarius mulai ragu. Mereka melihat kematian, dan bertanya: apakah ini benar?
Di minggu ketiga, sesuatu yang tidak terduga: monolit aktif sendiri. Bukan karena The Purifiers—karena sesuatu dari luar.
Dan dari monolit, suara: “Fragmen… dalam bahaya… musuh mendekat…”
Musuh? Siapa?
Lalu mereka melihat: di cakrawala, pasukan. Bukan manusia biasa. Makhluk dengan armor hitam, bergerak cepat.
The Purifiers panik. Solarius mengambil fragmen keempat, bersiap melawan.
Tapi Kaelan tahu: ini bukan musuh biasa. Ini sesuatu yang lain.
Sesuatu yang menginginkan fragmen.
Dan siap membunuh untuk mendapatkannya.
[END OF CHAPTER 33]
[WORD COUNT: 1,870]
[NEXT: BAB 34 – INVASI]