Bab 1: Kebangkitan di Tubuh Baru
Hawa dingin menusuk tulang menyergap kesadarannya. Lin Feng membuka mata dengan susah payah, tubuhnya terasa seperti baru dihancurkan oleh truk—yang memang benar-benar terjadi. Tapi ini… ini bukan rumah sakit.
Langit-langit jerami yang rapuh, dinding tanah liat yang retak, dan bau apek campuran jerami basah serta keringat memenuhi indranya. Dia berbaring di atas tikar jerami tipis di lantai tanah, hanya beralaskan kain kasar yang gatal di kulit.
“Di mana… aku?” suaranya serak, hampir tak terdengar.
Memori berkelebat seperti film rusak. Kecelakaan mobil. Lampu merah. Truk kontainer yang melaju terlalu cepat. Rasa sakit yang menyayat. Lalu… kegelapan.
Tapi sekarang dia di sini, di tubuh yang bukan miliknya. Tangannya—tangan yang lebih muda, lebih kurus, dengan kulit yang kasar dan penuh luka—terangkat di depan wajahnya. Ini bukan tangan Lin Feng si programmer berusia 28 tahun.
“Xiao Feng! Kau sudah bangun?” Seorang wanita paruh baya dengan pakaian lusuh bergegas masuk, wajahnya penuh kelegaan. “Syukur dewa-dewa, kau selamat!”
Lin Feng mencoba duduk, tapi rasa pusing dan lemah membuatnya terjatuh kembali. Wanita itu dengan sigap menyangga punggungnya.
“Jangan terburu-buru, Nak. Demammu baru saja turun.” Dia menyodorkan mangkuk kayu berisi air keruh. “Minumlah.”
Sambil meneguk air yang terasa sedikit payau itu, Lin Feng menyadari sesuatu yang aneh. Pengetahuannya sebagai programmer—algoritma, kode, sistem—masih utuh di kepalanya. Tapi ada memori lain yang mengambang, seperti file korup yang sedang di-recover.
Nama tubuh ini juga Lin Feng. Usia lima belas tahun. Yatim piatu. Tinggal di Desa Batu Hijau yang terpencil. Baru saja sembuh dari demam tinggi yang hampir merenggut nyawanya.
“Terima kasih, Bibi Wang,” kata Lin Feng secara otomatis, memori baru itu membimbingnya.
Bibi Wang tersenyum lembut. “Istirahatlah dulu. Nanti sore aku akan membawakanmu bubur.”
Setelah wanita itu pergi, Lin Feng mencoba berdiri, bergantung pada dinding untuk menopang tubuhnya yang lemah. Pondok ini kecil dan miskin—hanya satu ruangan dengan perapian sederhana dan beberapa perkakas kayu usang.
Dia melangkah keluar, disambut pemandangan desa kecil dengan rumah-rumah tanah liat beratap jerami. Pegunungan hijau mengelilingi lembah, dan udara segar yang sama sekali berbeda dengan polusi kota tempatnya dulu tinggal.
“Lin Feng! Kau sudah bisa jalan?” teriak seorang remaja seusianya dari seberang jalan. “Kemarin kau seperti mayat hidup!”
Itu Zhang Wei, teman sekaligus rivalnya di desa. Memori baru itu memberikan informasi: mereka sering berlatih martial arts dasar bersama.
“Aku baik-baik saja,” jawab Lin Feng sambil mencoba tersenyum.
Tapi sesuatu yang aneh terjadi. Saat matanya menatap Zhang Wei, sebuah “window” transparan seperti interface komputer muncul di pandangannya.
[Target: Zhang Wei – Human]
[Status: Unable to duplicate]
[Reason: Target is human species]
Lin Feng mengedipkan mata beberapa kali. Interface itu masih ada, bergaya seperti sistem operasi yang dia kenal.
“Apa yang kau lihat?” tanya Zhang Wei dengan bingung.
“Tidak… tidak ada,” kata Lin Feng cepat. “Masih sedikit pusing.”
Dia memalingkan muka, dan interface itu menghilang. Apa itu halusinasi karena demam?
“Kau harus cepat sembuh,” kata Zhang Wei. “Besok ada seleksi murid dari Sekte Pedang Naga. Mereka hanya datang sekali setiap tiga tahun!”
Sekte Pedang Naga. Memori baru itu mengenali nama itu—sekte martial arts terkemuka di wilayah ini. Bergabung dengan mereka adalah impian setiap pemuda di desa.
“Ya, aku akan berusaha,” jawab Lin Feng absen.
Sepanjang siang, Lin Feng menguji “kemampuan” barunya. Setiap kali dia memusatkan perhatian pada hewan—ayam yang berkeliaran, anjing desa, bahkan serangga—interface yang sama muncul dengan informasi berbeda.
[Target: Village Chicken – Animal]
[Duplication Available: Yes]
[Required Qi: 10 units]
[Current Qi: 5/100]
Qi? Itu energi dalam dunia martial arts. Tampaknya tubuh barunya memiliki sistem cultivation yang sangat dasar, tapi Qi-nya hampir habis karena sakit.
Sore hari, saat matahari mulai terbenam, Lin Feng duduk di tepi sungai kecil di pinggir desa. Pikirannya berputar-putar. Reinkarnasi? Sistem duplikasi? Ini seperti plot novel web yang biasa dia baca di dunia sebelumnya.
Dia memusatkan perhatian pada seekor ikan yang berenang di sungai.
[Target: River Fish – Animal]
[Duplication Available: Yes]
[Required Qi: 8 units]
[Abilities: Underwater breathing, basic swimming]
“Duplikasi,” bisiknya dalam hati, mencoba mengaktifkan sistem.
Tapi tidak terjadi apa-apa. Qi-nya terlalu rendah.
[Insufficient Qi. Duplication failed.]
Frustasi, Lin Feng memutuskan untuk mencoba meditasi dasar yang diingat dari memori barunya. Duduk bersila, mengatur napas, mencoba merasakan aliran Qi dalam tubuh.
Lima menit… sepuluh menit… lalu sesuatu yang ajaib terjadi.
Seperti komputer yang booting, sebuah sistem yang lebih kompleks muncul di pandangannya.
[Soul Duplication System v1.0 Activated]
[User: Lin Feng]
[Cultivation: Mortal Realm (Initial Stage)]
[Qi: 7/100]
[Duplication Slots: 1/1]
[Available Templates: 0]
Soul Duplication System! Jadi ini bukan halusinasi. Ini nyata.
“Analisis diri,” perintahnya dalam hati.
[Self Analysis:]
[Physical Condition: Weak (Recovering from illness)]
[Mental Condition: Stable (Dual consciousness integrated)]
[Notable Traits: Knowledge from previous world, Soul Duplication ability]
[Compatibility: 98% (Optimal synchronization)]
Dual consciousness? Jadi kesadarannya sebagai programmer dan remaja desa ini telah menyatu?
Saat matahari hampir tenggelam, seekor burung elang terbang rendah di atas sungai, mungkin mencari ikan. Lin Feng secara refleks memusatkan perhatian padanya.
[Target: Mountain Eagle – Animal]
[Duplication Available: Yes]
[Required Qi: 25 units]
[Abilities: Keen eyesight, flight, predator instincts]
[Warning: Qi insufficient!]
25 unit Qi. Dia masih jauh dari cukup.
Tapi kemudian sesuatu yang tak terduga terjadi. Elang itu tiba-tiba menukik ke air, mencakar seekor ikan, lalu terbang kembali. Dalam prosesnya, sehelai bulu elang jatuh dan terbang tertiup angin tepat ke arah Lin Feng, mendarat di tangannya.
Saat jarinya menyentuh bulu itu, sistem bereaksi keras.
[Contact with biological sample detected!]
[Template Acquisition available!]
[Mountain Eagle template can be stored for future duplication]
[Store template? Y/N]
“Ya!” jawab Lin Feng dalam hati, hampir tidak percaya.
Bulu itu seakan menyatu dengan tangannya, menghilang dalam cahaya redup.
[Template stored successfully!]
[Mountain Eagle template available for duplication]
[Qi requirement reduced to 20 units for stored templates]
Lin Feng menarik napas dalam. Jadi dia bisa menyimpan template dengan menyentuh bagian tubuh makhluk tersebut? Itu akan sangat memudahkan!
Dengan semangat baru, dia kembali ke pondoknya. Bibi Wang sudah menunggu dengan mangkuk bubur hangat.
“Makanlah, Nak. Besok kau harus fit untuk seleksi.”
Malam itu, sambil berbaring di tikar jerami, Lin Feng merencanakan masa depannya. Dunia modern dengan teknologi dan kenyamanannya sudah hilang. Tapi di dunia ini, dia memiliki kemampuan yang bisa membuatnya menjadi seseorang yang berarti.
Dengan sistem duplikasi ini, mungkin suatu hari nanti dia bisa menyalin kemampuan makhluk legendaris—naga yang terbang di awan, phoenix yang bangkit dari abu, atau qilin pembawa keberuntungan.
Tapi untuk sekarang, tujuan pertamanya sederhana: pulih sepenuhnya, tingkatkan Qi, dan lolos seleksi Sekte Pedang Naga besok.
Dia menutup mata, mencoba meditasi lagi. Kali ini, dia merasakan aliran energi halus mengalir melalui meridiannya. Perlahan tapi pasti, angka Qi di interface-nya naik: 8… 9… 10…
Dunia baru. Kehidupan baru. Kemampuan baru. Lin Feng tersenyum dalam kegelapan. Mungkin kecelakaan yang mematikannya bukan akhir, tapi awal dari petualangan yang jauh lebih besar.
Dan besok… besok akan menjadi hari pertama dalam perjalanan panjangnya menjadi yang terkuat.