Bab 1: Bangkit dari Debu
Hawa dingin pagi hari menyelinap masuk melalui celah-celah dinding gubuk kayu yang reyot, membangunkan Ling Feng dari tidurnya yang gelisah. Ia menggeliat, tulang-tulangnya berderak seperti kayu kering. Bau tanah lembap dan jerami busuk memenuhi hidungnya, bau yang telah ia hirup selama enam belas tahun terakhir. Matahari belum sepenuhnya terbit, hanya cahaya keabu-abuan yang menyapu Desa Batu Hijau yang terpencil di kaki Pegunungan Awan Berarak.
Ling Feng duduk di atas tikar jeraminya yang tipis, mengusap sisa mimpi buruk dari matanya. Dalam mimpinya, seperti biasa, ada teriakan, semburan api, dan bayangan-bayangan tinggi yang bergerak cepat di antara pepohonan. Ia tidak pernah bisa melihat wajah mereka dengan jelas, hanya merasakan ketakutan yang membeku di sumsum tulangnya. Ia adalah anak yatim yang ditemukan oleh pasangan tua, Chen Bo dan Chen Sao, di pinggir hutan enam belas tahun lalu. Mereka memberinya nama ‘Feng’ yang berarti ‘angin’, karena ia datang bagai angin yang tak terduga.
“Feng’er! Bangun! Air sumur tidak akan mengisi sendiri!” teriak suara kasar dari luar. Itu suara Chen Bo, ayah angkatnya. Suaranya selalu bernada kesal, tetapi Ling Feng tahu, di balik kekasaran itu ada secarik kepedulian. Keluarga Chen miskin. Chen Bo hanya seorang penebang kayu, dan Chen Sao menganyam keranjang untuk dijual ke pasar kota prefektur seminggu sekali. Kehadiran Ling Feng adalah satu mulut tambahan yang harus diberi makan.
“Iya, Ayah!” sahut Ling Feng, segera melompat dari tikarnya. Ia mengenakan baju tambalan yang sudah lusuh, lalu mengambil dua ember kayu besar di sudut gubuk.
Udara di luar lebih dingin dari yang ia kira. Kabut pagi masih menyelimuti desa kecil yang terdiri dari sekitar tiga puluh rumah ini. Asap mengepul dari beberapa cerobong, menandakan kehidupan yang sederhana. Ling Feng berjalan menuju sumur di pusat desa. Kakinya yang telanjang merasakan dinginnya tanah beku.
“Lihat, si sampah bangun juga.”
“Hei, Feng Si Lemah! Apa kau tidak takat kedinginan sampai mati?”
Tawa mengejek datang dari sekelompok pemuda seusianya yang sedang berkumpul di dekat pohon beringin besar. Mereka adalah anak-anak penebang atau petani yang lebih kuat. Di antara mereka, yang paling menonjol adalah Zhang Hu, putra kepala desa. Badannya kekar, sudah membantu ayahnya mengurus urusan desa sejak kecil, dan kultivasinya sudah mencapai Prajurit Besi Lapis 3, sesuatu yang sangat dihormati di desa terpencil seperti ini.
Ling Feng hanya menundukkan kepala, mempercepat langkahnya. Ia sudah terlalu sering mendengar ejekan seperti itu. Tubuhnya memang lemah. Tidak seperti anak-anak lain yang bisa membuka meridian dan mulai mengumpulkan Qi pada usia sepuluh tahun, tubuh Ling Feng seperti bejana bocor. Qi apa pun yang ia coba kumpulkan akan menghilang begitu saja, seolah diserap oleh sesuatu di dalam dirinya. Ia tetap berada di tingkat Prajurit Besi Lapis 1, tingkat paling dasar yang bahkan seorang anak berusia delapan tahun bisa mencapainya.
“Jangan cepat-cepat, Feng! Aku sedang bicara padamu!” Zhang Hu melangkah menghalangi jalan Ling Feng, senyum sombong terukir di wajahnya yang kekar. “Kau dengar tentang ‘Ujian Penerimaan Sekte Bintang Jatuh’ bulan depan? Mereka akan mengirim seorang elder ke kota prefektur untuk menguji bakat anak-anak muda. Aku pasti akan diterima. Bagaimana denganmu? Mau kubawakan oleh-oleh dari dunia persilatan?” Ejekan itu disertai gelak tawa dari teman-temannya.
Sekte Bintang Jatuh adalah sekte kecil yang berkuasa di wilayah ini, bermarkas di Gunung Bintang Jatuh beberapa ratus li dari sini. Bagi anak desa, diterima sebagai murid luar sekte adalah jalan menuju kehidupan yang lebih baik.
Ling Feng menggigit bibirnya, tangannya mengepal erat di gagang ember. “Lepaskan, Zhang Hu. Aku harus mengambil air.”
“Lepaskan?” Zhang Hu mendorong bahu Ling Feng dengan keras, membuatnya nyaris terjatuh. Ember kayu berdentangan. “Dengan kekuatanmu? Kau bahkan tidak bisa melindungi embermu sendiri. Lebih baik kau tetap di sini, jadi budak di desa seumur hidupmu. Dunia Jianghu bukan untuk sampah sepertimu.”
Rasa malu dan kemarahan membakar dada Ling Feng, tetapi ia menelannya. Berkelahi hanya akan berakhir dengan dirinya babak belur. Ia membungkuk, mengambil embernya lagi, dan berjalan meninggalkan tawa ejekan yang terus mengikutinya.
Di sumur, ia menurunkan ember dengan tali, pikirannya bergejolak. Ujian Sekte Bintang Jatuh. Itu adalah kesempatan. Satu-satunya kesempatan untuk mengubah nasibnya. Tapi bagaimana? Dengan tubuhnya yang seperti ini? Keputusasaan mulai merayap, tetapi segera ia mengusirnya. Ia ingat wajah keriput Chen Bo dan Chen Sao, yang meski sering mengomel, tidak pernah benar-benar mengusirnya. Ia berhutang nyawa pada mereka. Ia harus menjadi lebih kuat, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk membalas kebaikan mereka.
Setelah mengisi dua ember penuh air yang hampir terlalu berat untuknya, Ling Feng berjalan tertatih-tatih kembali ke gubuknya. Di depan gubuk, Chen Sao sudah menyiapkan sarapan sederhana: bubur nasi encer dengan sedikit sayuran liar.
“Lama sekali,” gerutu Chen Bo tanpa menoleh, sedang meraut kayu untuk membuat gagang kapak baru.
“Maaf, Ayah,” kata Ling Feng meletakkan ember.
Chen Sao melihatnya, matanya yang sudah keriput penuh dengan keprihatinan. “Mereka mengganggumu lagi, ya, Feng’er?”
“Tidak, Ibu. Semuanya baik-baik saja.”
Chen Bo akhirnya menoleh, pandangannya tajam. “Dengarkan, anak. Dunia ini kejam. Kalau kau lemah, kau akan selalu diinjak. Kau sudah enam belas. Waktunya kau memikirkan masa depanmu. Aku dengar tentang ujian sekte itu. Kau harus coba.”
Ling Feng terkejut. “Tapi… kekuatanku…”
“Aku tahu kau lemah,” potong Chen Bo, suaranya keras. “Tapi kekuatan bukan segalanya. Kau punya otak. Kau cepat belajar. Mungkin mereka butuh orang yang bisa mencatat atau mengurus kebun obat. Apa pun itu, lebih baik daripada mati kelaparan di sini.” Ucapan itu kasar, tetapi maksudnya jelas. Chen Bo memberinya dukungan.
Air mata berkaca-kaca di mata Ling Feng. Ia mengangguk kuat. “Aku akan coba, Ayah.”
Setelah sarapan, seperti biasa, Ling Feng pergi ke pinggir hutan untuk mengumpulkan kayu bakar dan jamur yang bisa dimakan. Ini adalah kontribusinya untuk keluarga. Hutan di kaki Pegunungan Awan Berarak dikenal berbahaya. Ada binatang buas, bahkan kabarnya ada ‘Binatang Setan’ kelas rendah yang berkeliaran. Tapi daerah pinggiran masih relatif aman.
Ling Feng menyusuri jalur yang sudah ia hafal. Tangannya yang kurus memunguti ranting-ranting kering. Pikirannya masih tertuju pada ujian sekte. Bagaimana caranya? Ia duduk di atas sebuah batu besar yang licin, menatap telapak tangannya yang kapalan. Tiba-tiba, sinar matahari pagi menembus kanopi pohon, menyinari sesuatu yang berkilauan di tanah berlumpur di dekat akar pohon besar.
Rasa penasaran membuatnya mendekat. Ia mengais lumpur dengan tongkatnya. Yang tersembul adalah sebuah cincin. Cincin itu terbuat dari logam kusam berwarna perunggu kehitaman, dengan ukiran samar yang hampir terkikis. Bentuknya sederhana, tidak berharga. Mungkin jatuh dari seorang musafir. Tapi sesuatu tentang cincin itu menarik perhatian Ling Feng. Seolah ada denyut halus, sebuah getaran yang hanya bisa ia rasakan, bukan dengar.
Ia memungutnya, menggosoknya dengan ujung bajunya. Cincin itu terasa hangat, bertolak belakang dengan hawa dingin pagi. Tanpa berpikir panjang, ia mencoba memakainya di jari manisnya. Pas.
Pada saat cincin itu melingkari jarinya, sesuatu yang aneh terjadi.
Dug… dug… dug…
Seperti detak jantung raksasa yang tiba-tiba berdenyut di dalam kepalanya, bukan di telinganya. Ling Feng terhuyung, dunia di sekelilingnya berputar. Ia melihat kilasan cahaya: sembilan bola api raksasa bersinar di langit gelap, seorang lelaki bertubuh tinggi dengan pedang yang menyala seperti matahari menghadapi lautan iblis, lalu ledakan dahsyat yang menyilaukan…
“AAARGH!” Ling Feng menjerit kesakitan, rasa panas yang tak tertahankan membakar dari cincin itu, menyebar ke seluruh lengannya, menyerang jantungnya. Ia jatuh berlutut, tubuhnya menggigil hebat. Rasanya seperti aliran lava mengalir di meridian-meridiannya yang sempit dan tersumbat.
Brak!
Suara pecah dari dalam dirinya. Seolah ada bendungan yang jebol. Qi yang selama ini ia kumpulkan dengan susah payah dan selalu menghilang, tiba-tiba membanjiri tubuhnya. Namun, kali ini tidak menghilang. Qi itu berpusat di bawah pusarnya, di titik Dantian-nya, dan mulai berputar dengan sendirinya, membentuk pusaran kecil yang panas.
Rasa sakitnya perlahan mereda, digantikan oleh kehangatan yang nyaman dan kekuatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ling Feng terengah-engah, berkeringat dingin. Ia melihat ke tangannya. Cincin itu kini bersinar redup dengan cahaya keemasan samar, sebelum padam kembali menjadi kusam. Tapi perbedaannya terasa.
Dunia di sekelilingnya terlihat lebih tajam. Suara daun bergesekan, kicauan burung yang jauh, bahkan denyut kehidupan kecil di dalam tanah—semuanya terasa jelas. Ia mencoba mengepalkan tangan. Otot-ototnya yang biasanya lemas terasa padat. Energi mengalir di setiap uratnya.
Ini… apa yang terjadi?
Sebelum ia bisa memikirkannya lebih jauh, teriakan panik memecah keheningan hutan. Teriakan itu berasal dari arah desa.
“TOLONG! BINATANG BUAS! SERIGALA BESI MENYERANG DESA!”
Suara itu adalah suara Zhang Hu, tetapi penuh ketakutan yang meluluhlantakkan kesombongannya.
Ling Feng bangkit dengan cepat, rasa takut untuk desa dan keluarganya mengalahkan segala kebingungannya. Ia mengambil kapak kayu kecil yang selalu ia bawa, dan berlari sekuat tenaga menuju desa. Kaki-kakinya melesat lebih cepat dari sebelumnya, napasnya lebih teratur. Kekuatan baru itu, entah dari mana asalnya, mendorongnya maju.
Saat ia tiba di pinggir desa, pemandangan mengerikan menyambutnya.
Tiga ekor Serigala Besi—binatang buas setinggi pinggang orang dewasa dengan bulu abu-abu metalik dan cakar sepanjang pisau—sedang meneror desa. Satu sudah menggigit lengan seorang penebang, yang lain menggeram ke arah sekelompok wanita dan anak-anak yang bersembunyi di balik rumah. Yang ketiga, yang terbesar, sedang berhadapan dengan Zhang Hu dan beberapa pemuda lainnya. Zhang Hu memegang tongkat besi, wajahnya pucat, tangannya gemetar. Prajurit Besi Lapis 3-nya tidak ada artinya di depan binatang setara Prajurit Besi Lapis 5 ini.
Kepala desa, ayah Zhang Hu, sudah terluka di tanah. Chen Bo berdiri di depan pintu gubuknya dengan kapak penebang, melindungi Chen Sao yang ketakutan di belakangnya.
“Feng’er! Jangan mendekat!” teriak Chen Bo saat melihatnya.
Tapi sudah terlambat. Serigala Besi yang mengganggu wanita dan anak-anak mencium kehadiran baru. Matanya yang kuning menyala berputar, menatap Ling Feng yang sendirian di pintu masuk desa. Ia menggeram, air liur menetes dari mulutnya yang penuh gigi tajam.
Ling Feng membeku. Ketakutan purba membekukan darahnya. Di depannya adalah maut yang berbulu. Di belakangnya adalah keluarganya, desanya.
Lari, bisik sebuah suara di kepalanya. Kau lemah. Kau akan mati.
Tapi kemudian, ia merasakan kehangatan dari cincin di jarinya. Denyut halus itu lagi, seolah mendorongnya. Ia melihat wajah ketakutan Chen Sao. Ia mendengar tangis anak-anak.
Tidak.
Bukan untuk balas dendam. Bukan untuk menjadi kuat. Tapi untuk melindungi.
Dengan teriakan yang keluar dari dasar jiwanya, Ling Feng bukan lari menjauh, tetapi maju. Kapak kayunya terangkat. Serigala Besi itu terkejut sejenak oleh tindakan nekat ini, lalu menerjang dengan kecepatan yang mematikan.
Segalanya melambat bagi Ling Feng. Ia melihat cakar besi itu mengayun ke arah lehernya. Insting dasar menyelamatkan nyawa—ia membungkuk, bukan mundur, tetapi maju lagi, menyelipkan tubuhnya di bawah lompatan serigala. Kapak kayunya, yang dipenuhi dengan energi asing yang mengalir dari Dantian-nya yang baru aktif, menghantam sisi tubuh serigala itu.
KRAAK!
Suara yang tidak seharusnya dihasilkan oleh kapak kayu terhadap bulu besi. Tulang rusuk serigala itu retak. Binatang itu melolong kesakitan, terpelanting. Ling Feng berdiri, napasnya tersengal, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Tangannya bergetar, tetapi bukan karena takut. Karena kekuatan. Kekuatan nyata yang untuk pertama kalinya ada dalam genggamannya.
Dua serigala lainnya menoleh. Zhang Hu dan yang lain tertegun.
Serigala Besi yang terluka bangkit, matanya merah marah. Tapi sebelum ia bisa menyerang lagi, sebuah bayangan meluncur dari atap rumah terdekat. Sebuah pedang berkilat di udara, dan kepala serigala itu terpisah dari tubuhnya dalam satu gerakan bersih.
Seorang lelaki berjubah abu-abu mendarat dengan anggun di antara mereka. Ia berusia sekitar empat puluh tahun, wajahnya biasa saja, tetapi matanya tajam seperti elang. Di dada jubahnya, terdapat lambang sulaman: sebuah bintang jatuh dengan ekor cahaya.
“Binatang kotor,” ucap lelaki itu suara datar. Ia melirik ke arah dua serigala Besi yang tersisa, yang kini mundur ketakutan merasakan aura kuat darinya. Dengan dua gerakan pedang yang hampir tak terlihat, kedua serigala itu tumbang.
Keheningan menyergap desa. Lalu, teriakan lega dan tangis pecah.
Lelaki berjubah abu-abu itu membersihkan darah di pedangnya, lalu menoleh ke arah Ling Feng. Pandangannya mengamati dari ujung kepala sampai kaki, berhenti sejenak pada cincin kusam di jari Ling Feng, lalu pada kapak kayu yang retak di tangannya.
“Menarik,” ucap lelaki itu, suaranya rendah. “Gerakanmu tadi… ceroboh, tetapi ada ‘niat’ di dalamnya. Dan kekuatanmu… Prajurit Besi Lapis 1? Tidak mungkin.” Ia mendekat. “Namamu?”
“L-Ling Feng, Tuan,” jawab Ling Feng, masih terengah-engah.
“Ling Feng,” lelaki itu mengulang. “Aku adalah Elder Hong, dari Sekte Bintang Jatuh. Kebetulan sedang melintas.” Matanya menyipit. “Bulan depan ada ujian penerimaan murid di kota prefektur. Kau seharusnya datang.”
Ling Feng terkesiap. “Tapi… syaratnya…”
“Syariatnya adalah bagi mereka yang berusia di bawah delapan belas dan memiliki bakat,” kata Elder Hong. “Bakat bisa bermacam-macam. Kadang, bukan hanya tentang tingkat kultivasi.” Ia memandang cincin itu sekali lagi, seolah mengetahui sesuatu. “Kau membuat pilihan hari ini. Pilihan untuk tidak lari. Di dunia persilatan, itu kadang lebih penting daripada sepuluh tingkat kultivasi.”
Dengan itu, Elder Hong memberi isyarat, dan tubuhnya melayang ringan, menghilang ke arah hutan secepat ia datang.
Ling Feng berdiri di tengah desa yang kacau, dikelilingi pandangan takjub, takut, dan heran dari penduduk desa. Zhang Hu menatapnya dengan ekspresi campur aduk antara rasa terima kasih, malu, dan kecemburuan yang dalam.
Chen Bo dan Chen Sao berlari mendekat, memeluknya erat. “Feng’er! Anakku!” tangis Chen Sao.
Ling Feng memandangi cincin di jarinya. Kehangatan itu masih ada. Kekuatan baru di Dantian-nya masih berdenyut. Mimpi buruknya, ejekan, keputusasaan—semuanya terasa jauh.
Jalan telah terbuka. Jalan yang berbahaya, penuh darah dan rahasia. Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ling Feng tidak merasa takut.
Ia mengepalkan tangan, merasakan aliran energi di dalamnya. Sembilan Matahari Terbit. Kata-kata itu tiba-tiba muncul di benaknya, seolah selalu ada di sana.
Babak pertama dari hidupnya yang panjang dan berliku baru saja dimulai.