Bab 5: Misi Pengawalan dan Jebakan di Jalan

Ukuran:
Tema:

Fajar menyingsing dengan warna jingga dan merah muda di langit timur ketika Alfayd sudah berdiri di halaman depan kompleks klan, siap untuk misi pertamanya. Di sampingnya, Lira tampak gugup namun bersemangat, memeriksa tas kecil berisi bekal dan obat-obatan dasar berkali-kali. Gadis itu telah mencapai Tubuh Baja Lapis 4 dengan 3 meridian—kemajuan yang stabil dan wajar untuk usianya.

Kereta pedati sederhana yang ditarik dua kuda sudah menunggu. Di atasnya terangkut beberapa peti kayu berisi herba kering hasil panen klan: Akar Baja, Daun Penyejuk, dan beberapa ikat Jamur Bintang Perak yang membuat Alfayd tersenyum dalam hati. Pengemudi pedati adalah Pak Heru, pelayan tua yang setia dan berpengalaman dalam perjalanan ke kota pasar. Pengawal utama adalah Bram, seorang murid senior berusia dua puluh tahun yang telah mencapai Tubuh Baja Lapis 9 dan membuka 7 meridian. Wajahnya keras, penuh bekas luka kecil, dan ia memandang Alfayd dengan sedikit keraguan.

“Kau si sampah beruntung,” sapa Bram tanpa basa-basi. “Jangan jadi beban. Ikuti perintahku, jangan bertindak sendiri. Lira, kau jaga dirimu.”

Alfayd hanya mengangguk, sementara Lira menjawab dengan suara kecil, “Ya, Kak Bram.”

Perjalanan dimulai. Jalan setapak dari kompleks klan menuruni bukit, melewati ladang-ladang pertanian milik keluarga klan, lalu memasuki jalur berliku di antara hutan dan tebing menuju Lembah Hijau, di mana kota pasar terdekat berada. Perjalanan biasa memakan waktu sekitar enam jam.

Selama perjalanan, Alfayd mengamati sekelilingnya dengan cermat. Sistem pemindaian area-nya tetap aktif dalam radius terbatas, memetakan titik-titik energi kehidupan di sepanjang jalan. Sebagian besar adalah hewan kecil dan serangga, tidak bernilai. Sesekali, ia mendeteksi titik merah muda yang lebih besar—monster kelas rendah yang bersembunyi—tetapi tidak ada yang mendekati jalur.

“Kak Alfayd,” bisik Lira setelah beberapa saat berjalan di samping pedati. “Aku… aku agak takut. Kata orang, kadang ada bandit di jalan dekat Tebing Patah nanti.”

“Jangan khawatir,” jawab Alfayd dengan tenang. “Ada Kak Bram dan kita berdua. Dan bandit biasanya hanya menargetkan pedagang kaya, bukan pengiriman herbasi kecil seperti kita.” Ucapannya meyakinkan, meski dalam hati, ia justru berharap ada bandit. Itu akan menjadi sumber poin yang bagus, pikirnya.

Bram, yang mendengar percakapan mereka, mendengus. “Dia benar, Lira. Tapi tetap waspada. Tebing Patah adalah tempat sempit, mudah untuk disergap.”

Sekitar dua jam perjalanan, mereka tiba di Tebing Patah. Sebuah jalan sempit di antara dua tebing curam, dengan jurang di satu sisi. Suasana sunyi, hanya terdengar desir angin dan kicauan burung yang jauh.

[Peringatan: Mendeteksi konsentrasi energi manusia dengan niat bermusuhan. 5 individu. 50 meter di depan, tersembunyi di balik batu besar.] suara sistem tiba-tiba berbunyi di kepala Alfayd.

Jantung Alfayd berdebar, tapi bukan karena takut—karena antisipasi. “Kak Bram,” katanya dengan suara rendah namun tegas, membuat Bram yang sedang waspada menoleh. “Ada sesuatu di depan. Di balik batu besar di tikungan.”

Bram memandangnya skeptis. “Apa? Aku tidak mendengar apa-apa.”

“Insting saja,” kata Alfayd, tidak bisa menjelaskan sistem.

Bram mengerutkan kening, tetapi sebagai pengawal berpengalaman, ia tidak mengabaikan kemungkinan. “Berdiri siap. Pak Heru, perlambat.”

Saat pedati mendekati tikungan, teriakan kasar tiba-tiba memecah kesunyian.

“Berhenti! Tinggalkan pedati dan barang-barangmu jika kalian ingin hidup!”

Lima pria berpakaian compang-camping dengan senjata sederhana—tombak kayu, golok berkarat, dan satu busur panah—keluar dari persembunyian. Mereka terlihat kurus dan liar, mata mereka penuh keliaran dan keputusasaan. Bandit kelas rendah.

[Analisis Grup Bandit:]
[Pemimpin (pria berjanggut): Tubuh Baja Lapis 5, 4 Meridian. Senjata: Golok.]
[Anggota 1 & 2: Tubuh Baja Lapis 4, 3 Meridian. Tombak.]
[Anggota 3: Tubuh Baja Lapis 3, 2 Meridian. Busur.]
[Anggota 4: Tubuh Baja Lapis 4, 3 Meridian. Pentung.]

Bram menghela napas, lebih karena kesal daripada takut. “Bajingan laparan. Alfayd, kau jaga Lira dan pedati. Aku urus mereka.”

Tapi Alfayd melihat peluang. “Kak Bram, biarkan saya tangani dua yang paling lemah. Sebagai latihan.” Ia tidak ingin Bram mengambil semua poin.

Bram terkejut, lalu menyeringai sinis. “Berkelahi sungguhan berbeda dengan ujian di klan, bocah. Tapi baiklah, jika kau ingin mati cepat. Aku tangani si janggut dan dua lainnya. Kau hadapi si pentung dan si panah. Jangan sampai mati.”

Bandit itu, marah karena diabaikan, menerjang. Pemimpinnya langsung menuju Bram, goloknya berkilat. Dua anggota dengan tombak mengikuti. Bram mengeluarkan pedang pendeknya dan melangkah maju, pertempuran segera pecah.

Anggota dengan pentung dan si pemanah menuju Alfayd dan Lira. Si pemanah membidik dari jarak, sementara si pentung berlari sambil mengayunkan senjatanya.

“Lira, hindari panah!” teriak Alfayd. Ia melompat ke depan, menghadang si pentung.

[Target: Bandit Pentung. Realm: Tubuh Baja Lapis 4. Kelemahan: Serangan ceroboh, pertahanan sisi kiri lemah.]

Alfayd memanfaatkan kecepatan dan kelincahannya yang lebih tinggi (Lapis 7 vs Lapis 4). Saat pentung diayunkan, ia menggunakan Langkah Bayangan untuk membelok ke kiri, menghindari pukulan, lalu menyodok perut bandit itu dengan siku. Dor! Bandit itu terhuyung. Alfayd tidak memberinya waktu. Tendangan cepat ke lutut. Krak! Suara tulang retak. Bandit itu menjerit dan jatuh.

Swish! Sebuah panah meluncur dari samping. Alfayd, dengan persepsi yang meningkat, berhasil membungkuk tepat waktu. Panah itu meleset.

Si pemanah, ketakutan melihat rekannya jatuh, berusaha memasang anak panah lain. Tapi Alfayd sudah bergerak. Dengan kecepatan penuh, ia menutup jarak dalam beberapa lompatan. Si pemanah menjatuhkan busurnya dan mencabut pisau belati.

“Jangan… jangan dekati!” teriaknya.

Alfayd tidak berkata-kata. Sebuah tendangan rendah menjatuhkan pisau itu, lalu sebuah pukulan telapak tangan ke dagu membuat bandit itu tak sadarkan diri.

Di sisi lain, Bram sudah hampir selesai. Ia telah melukai pemimpin bandit di bahu dan mengalahkan satu anggota. Anggota terakhir dengan tombak masih bertahan, tapi jelas ketakutan.

Alfayd melihat pemimpin bandit yang terluka mencoba merangkak kabur. Jangan sampai Bram membunuhnya, pikir Alfayd. Ia perlu menyerap.

“Kak Bram, biarkan saya!” teriak Alfayd, berpura-pura ingin membuktikan diri. Ia berlari ke arah pemimpin bandit.

Bram, yang sedang sibuk dengan lawan terakhir, hanya melirik. “Hati-hati!”

Pemimpin bandit itu, melihat Alfayd mendekat, mata penuh keputusasaan berubah menjadi kebencian. “Bocah sialan!” Ia mencoba mengayunkan goloknya dengan tangan yang terluka.

Alfayd dengan mudah menangkisnya, lalu meninju pelipis bandit itu. Pemimpin bandit itu terhuyung, pingsan.

Sekarang, ada lima bandit yang dinetralisir: dua pingsan (pemimpin dan pemanah), satu dengan lutut hancur (pentung), dan dua yang dikalahkan Bram (tombak 1 dan 2, yang satu terluka parah).

Bram, setelah mengikat lawan terakhirnya, mendekat. “Bagus, untuk seorang pemula. Tapi kau masih terlalu lambat. Sekarang, kita harus memutuskan apa yang harus dilakukan dengan sampah-sampah ini.”

Biasanya, klan akan menyerahkan bandit kepada otoritas kota atau membiarkan mereka pergi setelah dirampok. Tapi Alfayd punya ide lain.

“Kak Bram,” katanya, mencoba terdengar tidak bersalah. “Mereka terluka. Jika kita biarkan di sini, mereka bisa mati atau membalas dendam. Bagaimana jika… kita bawa mereka ke kota untuk diserahkan? Tapi kita butuh waktu. Mungkin… saya bisa mengawasi mereka sebentar sementara Kak Bram dan Pak Heru membawa pedati ke tempat yang aman dulu? Lira bisa bantu saya.”

Bram memandangnya aneh. “Mengawasi lima bandit sendirian? Kau gila?”

“Tidak sendirian, dengan Lira. Dan mereka terluka parah. Saya hanya perlu mengikat mereka lebih kuat. Ini bisa jadi latihan tanggung jawab,” bujuk Alfayd, memanfaatkan keinginan Bram untuk “melatih”nya.

Bram berpikir sejenak. Mereka memang perlu memastikan keamanan pedati terlebih dahulu. “Baik. Tapi hati-hati. Aku akan kembali dalam setengah jam. Jika ada masalah, teriak atau nyalakan sinyal asap ini.” Ia memberikan sebuah tabung kecil pada Alfayd. “Lira, kau bantu dia. Jangan lepaskan ikatan.”

Setelah Bram dan Pak Heru membawa pedati menjauh ke tikungan berikutnya, Alfayd berpaling pada Lira yang ketakutan. “Lira, tolong jaga di sana, lihat apakah ada orang datang. Aku akan mengikat mereka lebih kuat.”

Lira mengangguk, meski ragu, dan berjalan beberapa langkah menjauh, menjaga pandangan ke arah jalan.

Ini kesempatannya. Alfayd mendekati pemimpin bandit yang masih pingsan. Ia meletakkan tangannya di dada bandit itu. “Sistem, serap.”

[Memulai penyerapan dari target manusia yang tidak sadar… Efisiensi berkurang 20% karena kurangnya perlawanan aktif.]
[+12 Poin Energi Langit.]
[Energi yang diserap: Qi kacau dan kasar, fragmen memori ketakutan dan kemiskinan, sedikit keterampilan menggunakan golok.]
[Peringatan: Energi mengandung banyak ketidakmurnian. Menyebabkan sedikit pusing.]

Alfayd mengabaikan pusingnya. Ia beralih ke bandit dengan lutut hancur yang setengah sadar dan ketakutan. “Tolong… jangan bunuh aku…”

Alfayd merasa sedikit iba, tapi ini adalah dunia yang kejam. Dan bandit ini pasti telah menyakiti orang lain. “Tidurlah,” katanya, lalu menyerap.

[+8 Poin Energi Langit.]
[Energi lebih lemah, ketidakmurnian tinggi.]

Ia melanjutkan ke tiga bandit lainnya yang dikalahkan Bram, menyerap mereka satu per satu. Total dari kelima bandit, ia mendapatkan 48 Poin Energi Langit. Ditambah sisa 42 poin, totalnya sekarang 90 Poin.

Tubuhnya terasa penuh dengan energi liar yang perlu disaring. Kepalanya sedikit pening, dan ia merasakan emosi asing—ketakutan, kemarahan, keputusasaan—bergejolak. Ini efek dari menyerap manusia dengan jiwa yang kacau.

“Sistem, bisa membersihkan ketidakmurnian ini?”

[Menyaring ketidakmurnian jiwa… Mengkonsumsi 5 Poin Energi Langit.]
[Penyaringan selesai. Kondisi host stabil.]

Baik. Sekarang ia punya 85 poin bersih.

Lira, yang merasa waktu sudah lama, menengok. “Kak Alfayd? Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat.”

“Aku baik-baik saja. Hanya… tegang,” jawab Alfayd, berdiri. Bandit-bandit itu masih hidup, tapi mereka akan bangun dengan tubuh yang sangat lemah, mungkin kehilangan sebagian besar kemampuan bertarung mereka. Itu hukuman yang sesuai.

Tak lama kemudian, Bram kembali. Ia melihat bandit-bandit itu masih terikat dan Alfayd tampak baik-baik saja. “Bagus. Kota sudah dekat. Petugas keamanan akan mengambil mereka nanti. Aku sudah memberi tanda. Ayo kita lanjutkan.”

Perjalanan sisanya berjalan lancar. Mereka tiba di Kota Pasar Lembah Hijau saat matahari mulai condong. Kota itu ramai dengan pedagang, praktisi keliling, dan penduduk setempat. Bau rempah-rempah, keringat, dan kotoran hewan bercampur di udara.

Mereka menyerahkan herbasi kepada pedagang mitra klan, menerima sekantong koin perak sebagai pembayaran. Bram memberikan sebagian kecil pada Alfayd dan Lira sebagai “upah”. Alfayd menyimpannya—uang bisa berguna.

Saat Bram dan Pak Heru mengurus urusan lain, Alfayd membawa Lira berkeliling pasar sebentar. Matanya mengamati sekeliling, sistem pemindaiannya aktif.

[Mendeteksi berbagai sumber energi: Herba tingkat rendah, mineral mengandung energi lemah, praktisi dengan level berbeda…]
[Peringatan: Mendeteksi tatapan bermusuhan. Satu individu, Realm: Qi Murni Lapis 1, mengamati host dari jarak 30 meter.]

Alfayd berbalik dengan halus. Di balik sebuah kedai minuman, seorang pria bertopi rendah dengan jubah abu-abu sedang memandangnya. Saat tatapan mereka bertemu, pria itu cepat-cepat menunduk dan menghilang di kerumunan.

“Siapa itu?” pikir Alfayd dengan waspada. Apakah dari klan? Atau… seseorang yang merasakan “keanehan” pada dirinya? Sistem Penyerap Langit mungkin memiliki energi tersendiri yang bisa dirasakan oleh praktisi yang sangat sensitif.

“Kak Alfayd, lihat! Baju bagus!” seru Lira, menarik lengannya ke sebuah kios pakaian, memutuskan konsentrasinya.

Alfayd memutuskan untuk tidak mengejar. Tapi insiden itu mengingatkannya: dunia ini penuh dengan mata dan bahaya. Ia harus lebih berhati-hati.

Perjalanan pulang di malam hari berjalan tenang. Bandit-bandit sudah hilang dari Tebing Patah (mungkin sudah diambil petugas). Saat mereka tiba di kompleks klan, bulan sudah tinggi.

Bram melaporkan penyelesaian misi kepada Pelatih Bor, menyebutkan “insiden kecil dengan bandit” dan “Alfayd menunjukkan keberanian yang cukup”. Itu adalah pujian tinggi dari Bram yang keras.

Alfayd kembali ke gubuknya. Di bawah cahaya lilin redup, ia memeriksa statistiknya.

[Poin Energi Langit: 85]
[Realm: Tubuh Baja Lapis 7]
[Meridian Terbuka: 5]

Dengan 85 poin, ia bisa meningkatkan realm lagi, atau meningkatkan teknik. Tapi ia memutuskan untuk menahan diri. Peningkatan yang terlalu cepat sejak ujian akan mencurigakan. Lebih baik ia konsolidasi dulu, berlatih mengendalikan kekuatannya yang sekarang, dan mencari cara untuk membuka lebih banyak meridian secara alami.

Misi ini telah memberikannya lebih dari sekadar poin. Ia mendapatkan pengalaman bertarung sungguhan, melihat dunia luar, dan merasakan ancaman tersembunyi. Dan yang terpenting, ia telah membuktikan pada dirinya sendiri bahwa sistemnya berfungsi sempurna di luar lingkungan klan.

Dia memejamkan mata, merencanakan langkah selanjutnya. Mungkin ia bisa “mengambil” misi lain yang melibatkan perburuan monster atau penjelajahan. Atau… mungkin waktunya untuk “mengunjungi” beberapa lokasi di sekitar klan yang dikenal angker, di mana monster yang lebih kuat mungkin bersembunyi.

Seny