BAB 1: HARI TAKDIR
Kaelan berdiri di tengah lingkaran batu, tangan gemetar mengepal di samping tubuhnya. Dingin pagi menusuk melalui kain tipis jubahnya, tapi itu bukan yang membuatnya menggigil. Di sekelilingnya, seluruh desa Oakhaven berkumpul—wajah-wajah yang biasanya ramah sekarang tegang, penuh harapan dan ketakutan.
“Tenang, Nak,” bisik ayahnya, Eldric, dari luar lingkaran. Suaranya serak, tapi matanya penuh keyakinan. “Apa pun yang terjadi, kau tetap anakku.”
Kaelan mengangguk, lidah terasa kering. Dia berusia dua belas tahun hari ini—hari Ritual Pencerahan. Hari di mana Takdir Sistemnya akan terungkap, menentukan jalan hidupnya seperti halnya setiap warga Aethelgard. Petani seperti ayahnya? Pengrajin? Mungkin, dengan keberuntungan, sesuatu yang lebih.
Dia melirik ke arah Master Arlan, tetua desa yang memimpin ritual. Pria tua itu berdiri di tepi lingkaran, tangan terangkat, mata tertutup, bibir bergerak dalam mantra kuno. Batu-batu di tanah mulai bersinar, cahaya biru lembut merambat dari satu ke lainnya seperti aliran air.
“Pusatkan pikiranmu, Kaelan,” suara Arlan bergema. “Biarkan jiwamu terbuka. Sistem akan menemukanmu.”
Kaelan menutup mata, mencoba mengikuti instruksi. Dia mengingat kata-kata ibunya, Mara, sebelum meninggal saat melahirkan adiknya: “Takdir bukan beban, Nak. Itu alat. Seperti palu bagi pandai besi, cangkul bagi petani.” Liana, adiknya, hanya hidup tiga tahun sebelum demam misterius merenggutnya. Kini hanya dia dan ayahnya yang tersisa.
Cahaya semakin terang, bahkan melalui kelopak matanya yang tertutup. Suara desiran angin, gemerisik daun, kicau burung—semua menghilang, digantikan oleh kesunyian yang berat. Lalu datanglah sensasi aneh: seperti sesuatu yang besar dan kuno sedang bangun di dalam dirinya.
[SYSTEM INITIALIZATION…]
Kata-kata itu muncul di penglihatannya, tertulis dalam cahaya biru pucat. Kaelan terkesiap, mata terbuka lebar. Tulisan itu melayang di udara, tepat di depan wajahnya, jelas seperti tulisan di batu nisan.
[SCANNING HOST…]
[IDENTITY CONFIRMED: KAELAN OF OAKHAVEN]
[AGE: 12]
[BLOODLINE: HUMAN – PURE]
Desaannya berdesis. Beberapa orang bersorak lemah, yang lain berbisik khawatir. Master Arlan mengerutkan kening, ritual belum selesai tapi interface sudah muncul—itu tidak normal.
[ANALYZING POTENTIAL…]
[DESTINY PATTERN DETECTED]
[ASSIGNING SYSTEM…]
Kaelan menahan napas. Di sinilah saatnya. Apakah dia akan dapat Sistem pertanian seperti ayahnya? Atau mungkin sesuatu yang lebih baik? Impian diam-diamnya adalah menjadi pengembara, melihat dunia di luar Oakhaven.
Tulisan biru berkedip, lalu berubah.
[SYSTEM ASSIGNED: DESTINY ABSORBER]
[TIER: LEGENDARY]
[DESCRIPTION: CAN ABSORB AND UTILIZE THE DESTINY SYSTEMS OF OTHER BEINGS]
[WARNING: SYSTEM UNIQUE – NO PRECEDENT RECORDS]
Diam.
Lalu suara pertama: “Apa… apa artinya itu?”
Kaelan memutar, mencari sumber suara. Itu Bran, teman sekelasnya, wajah pucat. “Dia bisa… mencuri Sistem kita?”
Kata itu menggantung di udara seperti bau busuk. Mencuri.
Master Arlan mendekat, wajahnya keriput dalam ekspresi yang tidak bisa Kaelan baca. “Destiny Absorber,” gumamnya. “Aku pernah baca tentang itu. Dalam naskah kuno. Itu…”
“Kutukan!” teriak seseorang dari kerumunan.
Ibu Bran, Mistress Alia, maju ke depan. “Dia bisa mengambil Sistem anakku! Sistem suamiku! Kita tidak akan aman selama dia ada di sini!”
Protes lain menyusul, suara semakin keras, semakin panik.
“Tenang!” teriak Eldric, melangkah ke depan. “Dia anakku! Dia tidak akan menyakiti siapa pun!”
Tapi kerumunan tidak mendengarkan. Ketakutan lebih kuat dari logika. Kaelan melihat wajah-wajah yang dulu tersenyum padanya—tetangga yang memberinya kue, teman yang bermain dengannya—sekarang berubah menjadi topeng kebencian dan ketakutan.
[SYSTEM NOTIFICATION: HOSTILE INTENT DETECTED]
[ADVICE: RETREAT RECOMMENDED]
“Tolong,” bisik Kaelan, tapi suaranya hilang dalam keriuhan.
Master Arlan mengangkat tangan, meminta keheningan. Ketika desa akhirnya tenang, dia berkata dengan suara berat, “Hukum desa jelas. Sistem yang mengancam komunitas… pemiliknya harus pergi.”
“Tidak!” Eldric berseru. “Dia baru berusia dua belas tahun! Di mana dia akan pergi?”
“Ke Wildlands,” jawab Arlan tanpa emosi. “Seperti yang lain sebelum dia.”
Wildlands. Nama itu saja membuat Kaelan menggigil. Hutan lebat di luar desa, penuh binatang buas, bandit, dan—menurut cerita—makhluk aneh. Tidak ada yang pergi ke sana dan kembali.
“Kau tidak bisa!” Eldric maju, tapi dua pria desa menahannya.
“Bapak, tolong,” isak Kaelan, air mata mulai mengalir.
Eldric berjuang, matanya juga basah. “Aku akan ikut denganmu! Kita akan pergi bersama!”
Tapi Arlan menggeleng. “Kau Sistem petani, Eldric. Desa butuh kau. Dan kau tahu hukum: yang terkutuk pergi sendiri. Itu harga yang harus dibayar untuk keselamatan semua.”
[EMOTIONAL OVERLOAD DETECTED]
[RECOMMENDATION: DEEP BREATHING]
Rekomendasi sistem itu terasa seperti lelucon kejam. Kaelan melihat sekeliling—wajah-wajah yang memintanya pergi, ayahnya yang ditahan, Master Arlan yang tidak bergerak. Dia masih berdiri di lingkaran batu, yang sekarang cahayanya memudar, meninggalkan hanya batu dingin dan takdir yang lebih dingin.
“Persiapan,” perintah Arlan. “Berikan dia makanan untuk tiga hari. Dan… maafkan kami, Kaelan.”
Tiga hari. Seolah-olah itu cukup untuk bertahan hidup di Wildlands.
Proses berikutnya berjalan seperti mimpi buruk. Beberapa wanita, dengan wajah bersalah, memberinya kantong kain berisi roti keras, keju, dan daging kering. Seorang pria memberinya selimut tipis. Lainnya hanya memalingkan muka.
Eldric akhirnya dibebaskan, dan dia merangkul Kaelan erat-erat. “Dengarkan aku,” bisiknya, suara bergetar. “Gunakan Sistemmu. Pelajari itu. Dan… bertahan hidup. Aku akan mencarimu. Aku berjanji.”
“Tapi bagaimana, Bapak?”
“Aku akan menemukan cara.” Eldric menaruh sesuatu di tangan Kaelan—pisau kecil dengan gagal kayu. “Ini milik ibumu. Dia ingin kau memilikinya.”
Kaelan memegang pisau itu, beratnya tidak seberapa dibandingkan beban di hatinya.
“Waktunya,” kata Arlan.
Desa membentuk lorong, mengarah ke gerbang desa dan hutan di baliknya. Kaelan berjalan, langkahnya seperti orang di pengadilan menuju eksekusi. Setiap langkah menjauh dari rumah, dari ayahnya, dari kehidupan yang dia kenal.
Di gerbang, dia berbalik sekali lagi. Eldric berdiri di depan, tangan terangkat seperti berkat atau perpisahan—Kaelan tidak bisa membedakan. Di belakangnya, desa Oakhaven dengan rumah-rumah jeraminya, ladang-ladang hijau, kehidupan yang akan terus berjalan tanpanya.
[QUEST UPDATED: SURVIVE THE WILDLANDS]
[OBJECTIVE: REACH SAFETY]
[REWARD: UNKNOWN]
[FAILURE: DEATH]
Kaelan menarik napas dalam-dalam, memutar, dan melangkah ke dalam hutan.
Kegelapan menyambutnya. Sinar matahari tersaring melalui kanopi daun, menciptakan pola cahaya dan bayangan yang berkedip-kedip. Suara desa menghilang, digantikan oleh gemerisik daun, kicau burung asing, dan desau angin yang terdengar seperti bisikan.
Dia berjalan selama mungkin, sampai kakinya sakit dan matahari mulai tenggelam. Ketika akhirnya berhenti, duduk di bawah pohon besar, barulah realitas menimpanya.
Dia sendirian.
Dua belas tahun.
Dengan Sistem yang membuatnya menjadi monster.
Dengan makanan untuk tiga hari.
Dan seluruh dunia tampaknya ingin dia mati.
[SYSTEM NOTIFICATION: NIGHTFALL APPROACHING]
[ADVICE: SEEK SHELTER]
[TEMPERATURE: DROPPING]
Kaelan melihat sekeliling. Tidak ada tempat berlindung. Tidak ada api. Tidak ada yang akan datang mencarinya.
Dia memegang pisau pemberian ayahnya, merasakan beratnya di telapak tangan. Lalu dia melihat interface biru masih melayang di penglihatannya, konstan, mengingatkannya pada kutukannya.
“Baiklah,” bisiknya pada dirinya sendiri, suaranya terdengar asing di keheningan hutan. “Kau ingin aku bertahan hidup? Tunjukkan caranya.”
[QUERY RECEIVED]
[SCANNING ENVIRONMENT…]
[DETECTED: SMALL MAMMAL – 20 METERS NORTH]
[SPECIES: FOREST HARE]
[SYSTEM: RAPID DIGESTION (COMMON)]
[SUGGESTION: ABSORB FOR SURVIVAL KNOWLEDGE]
Kaelan membeku. Menyerap? Sistemnya… ingin dia menyerap kelinci?
Tapi dia lapar. Dan dingin. Dan takut.
Dan tidak ada pilihan lain.
Dia berdiri, meraih pisau, dan mulai merayap ke arah yang ditunjukkan sistemnya.
Hari pertama sebagai yang terkutuk telah berakhir.
Malam pertama sebagai pemburu baru saja dimulai.
[END OF CHAPTER 1]
[WORD COUNT: 1,850]
[NEXT: BAB 2 – MALAM PERTAMA]