Bab 10: Tiga Hari Api

Ukuran:
Tema:

Tiga hari. Tujuh puluh dua jam yang terasa seperti napas terakhir sebelum terjun ke jurang. Setiap detik berharga, setiap napas adalah persiapan.

Ling Feng dan Zhang Hu segera menyusun rencana. Prioritas pertama: menyembuhkan luka mereka secepat mungkin. Prioritas kedua: memanfaatkan Batu Api Matahari untuk meningkatkan kekuatan mereka. Prioritas ketiga: mengumpulkan informasi tentang Tambang Spirit Retak dan mempersiapkan mental untuk neraka yang akan mereka hadapi.

Mereka memutuskan untuk memanfaatkan “sakit” mereka. Mereka melapor kepada Instruktur Bao bahwa mereka mengalami keracunan spiritual dari tugas di Kebun Jamur—sebuah kebohongan yang masuk akal mengingat reputasi trio Ma—dan meminta izin untuk beristirahat di asrama selama tiga hari untuk pemulihan. Instruktur Bao, yang mungkin telah menerima instruksi diam-diam dari Instruktur He, mengangguk dengan acuh tak acuh dan mengizinkan mereka, dengan peringatan bahwa mereka harus siap untuk penugasan baru mereka setelahnya.

Dengan demikian, mereka secara efektif terisolasi dari gangguan luar. Mereka mengunci pintu asrama dari dalam, menggunakan batu besar untuk menahannya, dan menutup jendela dengan kain tebal. Ruangan itu menjadi ruang kultivasi darurat mereka.

Ling Feng mengeluarkan Batu Api Matahari dari persembunyiannya. Cahaya jingga keemasan yang hangat segera memenuhi ruangan, mengusir kegelapan dan kelembapan. Zhang Hu menarik napas tajam, terpesona oleh keindahan dan kekuatannya yang terasa.

“Kita harus berbagi ini,” kata Ling Feng, meskipun hatinya berat. Batu itu adalah kunci bagi kultivasi Matahari Murninya, tetapi Zhang Hu adalah sekutunya, dan dia juga membutuhkan kekuatan.

Zhang Hu menggeleng, wajahnya serius. “Tidak. Itu cocok denganmu. Aku bisa merasakannya—Qi-ku bereaksi terhadapnya dengan tidak nyaman, seperti air yang bertemu minyak. Itu akan lebih berbahaya daripada membantuku. Tapi… mungkin energinya bisa digunakan untuk menyembuhkan.”

Itu adalah pengamatan yang cerdas. Ling Feng mengangguk. Dia duduk bersila di lantai, menempatkan Batu Api Matahari di pangkuannya. Dia kemudian memegang tangan Zhang Hu yang terluka—kaki yang bengkak dan berubah warna. Dia menutup matanya, memasuki kondisi meditasi.

Dia tidak menyerap energi batu itu untuk dirinya sendiri. Sebaliknya, dia bertindak sebagai konduktor. Dia menarik seberkas tipis energi api murni dari batu itu ke dalam tubuhnya, mengedarkannya melalui meridiannya sesuai dengan Naskah Matahari Murni, memurnikannya dan menjinakkannya. Kemudian, dengan konsentrasi yang luar biasa, dia mengalirkan energi yang telah dimurnikan itu ke tangan Zhang Hu, mengarahkannya ke area yang terluka.

Efeknya segera terlihat. Warna ungu kehitaman di kaki Zhang Hu mulai memudar, bengkaknya berkurang. Zhang Hu mengerang, kali ini karena lega. Racun itu tampaknya menguap di bawah panas yang menyembuhkan. Prosesnya lambat dan menguras tenaga bagi Ling Feng, tetapi setelah satu jam, kaki Zhang Hu hampir kembali normal, hanya meninggalkan bekas luka hijau muda.

“Luar biasa,” gumam Zhang Hu, menggerakkan pergelangan kakinya dengan heran. “Rasanya… bersih.”

Sekarang giliran Ling Feng. Dia fokus pada luka bakar di lengannya. Kali ini, dia menyerap energi batu itu secara langsung. Saat energi api murni yang panas dan liar memasuki tubuhnya, dia merasakan gelombang kenikmatan yang hampir menyakitkan. Qi Matahari Murninya bangkit dengan gembira, menyambut saudaranya yang kembali. Dia mengarahkan energi itu ke luka bakar.

Kulit yang hangus dan melepuh tampaknya hidup kembali. Jaringan baru terbentuk dengan kecepatan yang terlihat, menggantikan kulit yang mati. Dalam waktu setengah jam, luka bakar yang mengerikan itu telah sembuh, hanya meninggalkan bekas merah muda yang halus yang akan memudar dalam beberapa hari. Bahkan lebih dari itu, Ling Feng merasa meridiannya menguat, dan dantiannya mengembang sedikit. Dia hampir mencapai puncak Tahap Ketiga Qi Refinement.

Mereka menghabiskan sisa hari pertama untuk memulihkan energi mereka, makan ransum mereka yang sedikit, dan merencanakan. Zhang Hu, yang sekarang bisa berjalan dengan normal, bertugas mengumpulkan informasi. Dia pergi ke perpustakaan tingkat rendah, berpura-pura mencari informasi tentang keracunan spiritual, dan secara diam-diam mencatat setiap gulungan atau buku yang menyebutkan Tambang Spirit Retak. Dia juga menyebarkan koin Spirit Stones mereka yang tersisa di pasar bawah tanah untuk membeli informasi dari murid luar yang pernah bertugas di sana atau mendengar desas-desus.

Yang dia pelajari mengerikan.

Tambang Spirit Retak terletak di perut Gunung Naga Tidur, sehari perjalanan dari wilayah sekte utama. Itu adalah labirin gelap dari terowongan yang runtuh, dihuni oleh “Kelelawar Bayangan Berbisa” yang bisa melucuti daging dari tulang dalam hitungan detik, “Cacing Batu Pemakan Spirit” yang menggerogoti Qi dan bijih, dan yang paling ditakuti, “Kabut Jiwa yang Terkutuk”—fenomena spiritual yang muncul secara acak yang bisa mengacaukan pikiran, menyebabkan kegilaan, atau menghisap jiwa seseorang. Kecelakaan bukan hanya sering terjadi; itu diharapkan. Tingkat kematian untuk murid luar yang ditugaskan di sana mencapai empat dari sepuluh.

Selain bahaya alam, ada juga bahaya dari manusia. Tambang itu dikelola oleh “Mandor” dari Menara Hukum—biasanya murid dalam yang kejam dan tanpa ampun yang melihat para pekerja hanya sebagai alat yang dapat diganti. Perkelahian atas Spirit Stones yang ditemukan adalah hal biasa, dan pembunuhan sering disamarkan sebagai kecelakaan tambang. Itu adalah dunia tanpa hukum, di mana yang kuat memangsa yang lemah.

Saat Zhang Hu melaporkan temuannya malam itu, wajah mereka suram.

“Kita tidak akan bertahan sebulan di sana,” kata Zhang Hu putus asa.

“Kita harus,” balas Ling Feng, matanya tertuju pada Batu Api Matahari. “Kita akan menggunakan tiga hari ini untuk menjadi cukup kuat untuk setidaknya memiliki kesempatan.”

Hari kedua dan ketiga dihabiskan untuk kultivasi intensif. Ling Feng menggunakan Batu Api Matahari tanpa henti. Dia tidak hanya menyerap energinya untuk memperluas dantian dan meridiannya, tetapi juga mempraktikkan teknik pedangnya, Pedang Satu Matahari, dengan energi batu itu sebagai sumber daya. Di ruangan tertutup, dia tidak bisa melakukan gerakan lengkap, tetapi dia berlatih aliran Qi, membayangkan setiap tebasan, setiap parry, setiap langkah. Pikirannya menjadi tajam, dan hubungannya dengan pedang menguat.

Dia juga mempelajari Jimat Penyamar Aura yang diberikan Instruktur He. Itu adalah perangkat yang rumit. Dengan menyuntikkan sedikit Qi ke dalamnya, dia bisa merasakan jaring energi halus yang keluar darinya, membungkus dirinya dan barang-barang di sekitarnya—terutama Batu Api Matahari. Jimat itu secara efektif menyamarkan aura api murni yang kuat menjadi sekadar sisa-sisa hangat dari kultivasi api tingkat rendah, sesuatu yang biasa di antara murid luar. Dia memutuskan untuk tidak mengaktifkannya sampai mereka berangkat ke tambang.

Zhang Hu, tanpa sumber daya khusus, fokus pada dasar-dasarnya. Dia berlatih kuda-kuda, pukulan, dan teknik bertahan hingga tubuhnya bergetar karena kelelahan. Dia juga mempelajari peta kasar tambang yang berhasil dia dapatkan, mengingat setiap jalur yang dilaporkan aman (atau setidaknya, kurang berbahaya) dan area yang harus dihindari.

Mereka juga membicarakan strategi. Mereka akan tetap bersama-sama setiap saat. Mereka akan menghindari konflik dengan pekerja lain kecuali jika terpaksa. Tujuan utama mereka adalah bertahan dan, jika memungkinkan, mencari “sesuatu” yang disebutkan Instruktur He. Mereka tidak tahu apa itu, tetapi Instruktur He menyebutkannya berhubungan dengan “api dan cahaya”. Itu mungkin satu-satunya keuntungan mereka.

Pada malam ketiga, tepat sebelum fajar, Ling Feng merasakan gelombang energi yang kuat bergolak di dalam dantiannya. Meridiannya bergetar, dan seluruh tubuhnya terasa seperti dibakar dari dalam. Dia tahu ini saatnya.

Dia duduk bersila, Batu Api Matahari diletakkan di atas kepalanya seperti mahkota. Dia menarik napas dalam-dalam, menarik sisa-sisa energi murni dari batu itu. Batu yang sebelumnya bersinar terang itu sekarang redup, energinya hampir habis terserap.

Di dalam tubuhnya, lautan Qi Emas mencapai puncaknya. Dengan dorongan kehendak, dia mengarahkan semua energinya untuk menyerang penghalang tak terlihat antara Tahap Ketiga dan Keempat Qi Refinement.

Brak!

Suara yang hanya bisa didengar di dalam pikirannya bergema. Sebuah gerbang terbuka. Qi-nya meledak dalam volume dan kualitas. Alirannya menjadi lebih halus, lebih kuat, lebih terkendali. Otot-ototnya berdenyut, tulang-tulangnya berderak, dan kulitnya mengeluarkan kotoran hitam tipis—kotoran dari tubuhnya yang dimurnikan sekali lagi.

Dia membuka matanya. Pandangannya lebih tajam, pendengarannya lebih jelas, dan indra spiritualnya meluas hingga bisa merasakan setiap detail di ruangan kecil itu—detak jantung Zhang Hu, pergerakan serangga kecil di balik dinding, bahkan aliran udara yang hampir tak terlihat. Dia telah memasuki Tahap Keempat Qi Refinement.

Tapi lebih dari itu, dia merasakan perubahan dalam hubungannya dengan Qi Matahari Murni. Itu sekarang terasa seperti bagian tak terpisahkan darinya, seperti napasnya sendiri. Dia juga merasakan gema samar dari sesuatu yang lain—sebuah prinsip yang lebih dalam, lebih tinggi, yang tertanam dalam warisan Sembilan Matahari Terbit. Itu masih jauh dan kabur, seperti matahari yang terbit di balik kabut tebal, tetapi itu ada.

Dia melihat Batu Api Matahari. Sekarang hanya menjadi batu biasa berwarna jingga kusam, semua energinya terkuras. Tapi itu telah melakukan tugasnya.

Zhang Hu, yang telah berjaga, menatapnya dengan kagum. “Kau… aura-mu…”

Ling Feng segera mengaktifkan Jimat Penyamar Aura. Gelombang energi dingin menyelimutinya, menekan aura barunya yang kuat kembali ke level yang tampaknya seperti Tahap Ketiga yang baru ditingkatkan—masih mengesankan untuk murid luar baru, tetapi tidak terlalu mencolok.

“Kita siap,” kata Ling Feng, suaranya tenang namun penuh keyakinan baja.

Fajar pada hari keempat menyambut mereka dengan langit kelabu dan gerimis dingin. Saat mereka keluar dari asrama dengan kantong sederhana berisi perlengkapan, mereka menemukan seorang murid dalam berjubah perak dengan lambang palu dan timbangan—lambang Menara Hukum—menunggu di luar. Dia adalah pria berwajah panjang dengan ekspresi acuh tak acuh.

“Ling Feng? Zhang Hu?” tanyanya tanpa basa-basi.

Mereka mengangguk.

“Saya Senior Brother Kuo. Saya akan mengawal kalian ke Tambang Spirit Retak. Ikuti saya.”

Perjalanan keluar dari wilayah sekte utama dilakukan dalam keheningan. Senior Brother Kuo tidak berbicara, dan mereka tidak berani memulai percakapan. Mereka melewati gerbang barat, dijaga oleh dua murid dalam dengan ekspresi tanpa emosi, dan turun ke jalan setapak berliku yang mengarah ke kaki gunung.

Sepanjang jalan, Ling Feng merasakan tatapan. Bukan dari Senior Brother Kuo, tetapi dari sekelilingnya. Dari balik pepohonan, dari atas batu, mata-mata tak terlihat mengawasi kepergian mereka. Dia bisa merasakan aura yang berbeda—beberapa dingin dan menghakimi (Menara Hukum), beberapa penasaran (murid lain), dan satu… satu aura yang familiar dan seperti pedang. Dia menoleh sekilas dan melihat, jauh di atas di tebing, seorang wanita berjubah biru muda dengan rambut panjang terbang tertiup angin. Senior Sister Lan. Dia berdiri di sana, menatap kepergian mereka, wajahnya tidak terbaca. Dia tidak melakukan gerakan untuk menghentikan mereka atau berbicara. Dia hanya menonton.

Perlindungannya berakhir di sini, di perbatasan. Dari sini, mereka sendirian.

Setelah berjalan seharian penuh, melewati hutan dan menyebrangi sungai deras dengan jembatan tali yang reyot, mereka mencapai kaki Gunung Naga Tidur. Di sini, pemandangan berubah menjadi suram. Vegetasi menjadi jarang, digantikan oleh batu-batu vulkanik hitam dan tanah retak. Udara berbau belerang dan debu. Sebuah lubang besar seperti luka terbuka di sisi gunung menandai pintu masuk ke tambang. Di depannya berdiri beberapa bangunan kayu kasar—barak, sebuah kantor, dan sebuah gudang. Beberapa sosok bergerak di sekitar, semuanya mengenakan pakaian kasar dan penuh debu, wajah mereka kosong atau penuh kesusahan.

Senior Brother Kuo membawa mereka ke kantor. Di dalam, di belakang meja kayu yang penuh coretan, duduk seorang pria. Dia bukan murid dalam, tapi seorang pria paruh baya dengan tubuh kekar, wajah yang pernah tampan sekarang rusak oleh bekas luka bakar di satu sisi, dan mata hitam kecil yang tajam seperti bor. Aura-nya kuat—setidaknya Tahap Ketujuh atau Kedelapan Qi Refinement.

“Mandor Gu,” kata Senior Brother Kuo dengan nada hormat. “Dua pekerja baru. Ling Feng dan Zhang Hu. Dikirim dari administrasi murid luar.”

Mandor Gu mengangkat matanya, menyapu mereka dengan pandangan yang membuat mereka merasa seperti daging yang akan dijual. “Ling Feng? Kau yang menyebabkan keributan di Kebun Jamur?”

Ling Feng menundukkan kepalanya. “Insiden yang disesalkan, Mandor.”

“Hmph.” Mandor Gu mendengus. “Di sini, tidak ada senior atau junior. Hanya pekerja dan yang bukan pekerja. Kalian bekerja, kalian makan. Kalian malas, kalian dihukum. Kalian mati, kalian diganti. Paham?”

“Paham, Mandor,” jawab mereka serempak.

“Dia akan memberi kalian peralatan dan menugaskan kalian ke terowongan.” Mandor Gu mengangguk ke arah Senior Brother Kuo, yang kemudian membawa mereka keluar.

Peralatan mereka terdiri dari sebuah beliung spiritual (benda berat seperti kapak dengan mata batu yang bisa memotong bijih spiritual), sebuah lentera kunang-kunang (tabung kristal yang diisi serangga spiritual yang memancarkan cahaya hijau redup), seutas tali rami yang kuat, dan sebuah kantong kain kasar untuk mengumpulkan bijih. Mereka juga diberi dua token kayu—”token makan” yang harus ditukarkan dengan jatah harian mereka: semangkuk bubur encer dan sepotong roti keras.

“Kalian di Terowongan 7, Sektor Delta,” kata Senior Brother Kuo, menunjuk ke peta kasar yang digantung di dinding gudang. “Kedalaman menengah. Produksi bijih rata-rata. Jangan coba-coba menyelundupkan Spirit Stones. Semua kantong akan diperiksa sebelum keluar. Upah kalian adalah poin kontribusi yang akan dikreditkan ke akun kalian—jika kalian hidup cukup lama untuk menggunakannya.”

Dia kemudian meninggalkan mereka, kembali ke jalan setapak menuju sekte tanpa kata-kata perpisahan.

Ling Feng dan Zhang Hu saling memandang, lalu menatap lubang masuk tambang yang gelap seperti mulut monster. Dari dalam, terdengar gema pukulan beliung, suara reruntuhan, dan sesekali teriakan atau erangan yang teredam. Bau debu, keringat, dan sesuatu yang manis dan busuk—mungkin daging yang membusuk atau jamur aneh—memenuhi udara.

Inilah kehidupan baru mereka. Neraka di bawah tanah.

Mereka mengambil lentera mereka dan melangkah masuk.

Kegelapan menyergap mereka, hanya diusir oleh cahaya hijau redup dari lentera mereka yang menerangi beberapa langkah ke depan. Terowongan itu rendah dan sempit, dindingnya dipenuhi bekas pukulan beliung. Udara terasa berat dan pengap. Mereka berjalan selama sepuluh menit, melewati persimpangan demi persimpangan, mengikuti tanda-tanda kasar yang dicat di dinding.

Suasana di dalamnya menindas. Mereka melewati kelompok-kelompok pekerja lain—pria dan wanita dengan mata kosong, tubuh kurus, pakaian compang-camping. Beberapa mengangkat kepala sesaat, mata mereka bersinar dengan keinginan atau kebencian di cahaya lentera yang redup, sebelum kembali bekerja. Tidak ada yang berbicara. Hanya suara pekerjaan yang konstan.

Akhirnya, mereka mencapai Sektor Delta. Itu adalah ruang gua yang lebih luas, dengan beberapa terowongan bercabang darinya. Di tengah ruangan, sebuah tiang batu kasar menopang langit-langit. Beberapa pekerja sudah ada di sana, memukul dinding dengan beliung mereka. Suara clang… clang… clang bergema dengan suram.

Ling Feng dan Zhang Hu memilih dinding yang tampaknya belum tersentuh dan mulai bekerja. Beliung spiritual itu berat, dan setiap ayunan menguras tenaga fisik dan sedikit Qi. Tujuannya adalah untuk mendeteksi dan melepaskan bijih spiritual yang tertanam di batu—bongkahan kecil batu yang memancarkan energi. Setelah satu jam kerja keras, tangan mereka melepuh dan punggung mereka berdenyut nyeri, mereka hanya mengumpulkan segenggam kecil pecahan bijih, tidak ada yang cukup besar untuk dianggap sebagai Spirit Stone utuh.

Ini adalah pekerjaan budak, dirancang untuk menghancurkan tubuh dan jiwa.

Saat mereka beristirahat sejenak, minum sedikit air dari kantong mereka, seorang pekerja dari sudut lain mendekat. Dia adalah pria tua yang kurus, rambutnya putih dan kusut, wajahnya keriput seperti kulit kayu. Matanya, bagaimanapun, masih tajam.

“Baru?” gumamnya, suaranya serak karena debu.

Ling Feng mengangguk hati-hati.

“Bertahanlah sebulan, dan kalian akan terbiasa. Bertahanlah dua, dan kalian akan mati di dalam.” Pria tua itu mengeluarkan suara seperti tawa. “Nasihat untuk kalian: jangan pergi ke terowongan yang ditandai dengan tanda ‘X’ merah. Itu adalah tempat Kabut Jiwa muncul. Dan jangan percaya pada siapa pun yang menawarkan kemitraan. Di sini, satu-satunya mitra adalah beliung dan lentera kalian.”

Dia kemudian pergi, kembali ke pekerjaannya.

Ling Feng dan Zhang Hu bertukar pandangan. Nasihat itu datang dari kebaikan hati atau jebakan? Sulit untuk mengatakan.

Mereka kembali bekerja. Sepanjang hari, mereka memukul batu. Saat “lonceng” (sebenarnya adalah pukulan pada lempengan besi yang digantung di pintu masuk) berbunyi menandakan akhir shift, mereka telah mengumpulkan setengah kantong bijih berkualitas rendah. Mereka membawanya ke pos pemeriksaan di pintu keluar, di mana seorang pengawas dengan wajah masam dengan cepat memeriksa kantong mereka, menyita dua pecahan yang sedikit lebih besar (“pajak”), dan memberi mereka token kayu kedua untuk makan malam.

Makanan itu lebih buruk dari yang mereka bayangkan—bubur yang hampir hanya air dengan beberapa butir beras, dan roti yang begitu keras sehingga harus direndam dalam bubur agar bisa digigit. Mereka memakannya di barak yang ramai, bau, dan berisik—sebuah ruangan panjang dengan ranjang papan bertingkat tanpa kasur atau selimut. Mereka mengklaim dua ranjang di sudut yang agak terpencil.

Malam itu, saat para pekerja lain tidur lelap karena kelelahan atau bergumam dalam mimpi buruk mereka, Ling Feng dan Zhang Hu berbisik.

“Kita tidak bisa bertahan seperti ini,” desis Zhang Hu. “Kita akan mati lelah dalam sebulan.”

“Kita tidak akan bertahan seperti ini,” balas Ling Feng, matanya berbinar dengan tekad di kegelapan. “Kita akan mencari apa yang dikatakan Instruktur He. Malam ini, setelah semua orang tertidur, kita akan menjelajah.”

“Tapi terowongan yang ditandai—”

“—adalah tempat yang paling mungkin untuk menemukan sesuatu yang berhubungan dengan ‘api dan cahaya’ di tempat gelap seperti ini,” selesaikan Ling Feng. “Kita akan berhati-hati.”

Mereka menunggu hingga napas berat dan dengkuran memenuhi barak. Kemudian, dengan hati-hati, mereka menyelinap keluar, membawa lentera mereka yang ditutupi sebagian untuk mengurangi cahayanya.

Mereka kembali ke Sektor Delta. Di sana, di dinding paling belakang, tersembunyi di balik tumpukan puing, ada sebuah terowongan sempit yang ditutupi oleh tanda ‘X’ merah yang sudah pudar. Bau aneh—manis, busuk, dan logam—keluar dari dalamnya.

Ling Feng merasakan sesuatu. Bukan bahaya, tetapi… panggilan. Samar, seperti nyanyian yang hampir tak terdengar. Itu berasal dari dalam terowongan itu.

Dia melihat Zhang Hu, yang mengangguk dengan wajah pucat namun tegas.

Dengan hati-hati, mereka mendorong puing-puing dan memasuki terowongan yang terlarang, melangkah ke dalam kegelapan yang lebih pekat, menuju misteri dan bahaya yang mungkin menjadi kunci keselamatan mereka—atau kematian mereka.