BAB 35: THE FORGOTTEN LIBRARY

Ukuran:
Tema:

The Forgotten Library bukan bangunan biasa. Itu ada di “ruang antara”—bukan sepenuhnya di dunia ini, tapi tidak sepenuhnya di dimensi lain. Untuk mencapainya, butuh portal khusus, dan koordinat yang tepat.

Garrick, yang pernah mempelajari legenda perpustakaan, memimpin persiapan. “Portal akan terbuka hanya pada waktu tertentu: saat bulan purnama, di lokasi dengan energi ley line kuat.”

Lokasi itu: Stonehenge of the Ancients, lingkaran batu kuno di tengah hutan terlarang.

Mereka tiba di Stonehenge malam bulan purnama. Batu-batu bersinar lembut, dan di tengah lingkaran, udara bergetar—portal mulai terbuka.

“Portal hanya terbuka satu jam,” kata Garrick. “Dan kita harus keluar sebelum tutup, atau terperangkap.”

“Berapa lama kita di dalam?” tanya Elara.

“Tidak tahu. Waktu di sana… berbeda.”

Mereka masuk. Sensasi aneh—seperti jatuh tapi tidak, seperti bergerak tapi diam. Lalu mereka tiba.

The Forgotten Library. Ruang tak terbatas, rak-rak setinggi langit-langit yang tidak terlihat, berisi buku, scroll, crystal, artefak. Dan cahaya—cahaya sendiri, tanpa sumber.

Tapi yang paling mencolok: keheningan. Tidak ada suara sama sekali. Bahkan napas mereka terdengar keras.

“Jangan sentuh apapun sebelum kita tahu aturannya,” peringat Garrick.

Mereka berjalan perlahan. Rak-rak diatur oleh kategori yang tidak mereka pahami—simbol aneh, bahasa kuno.

Kaelan merasakan energi dari empat fragmen dalam tasnya. Fragmen bereaksi—bersinar lembut, seperti mengenali tempat ini.

Lalu, suara. Bukan suara biasa—suara dalam pikiran. “Pengunjung. Jarang.”

Mereka berbalik. Sebuah… entitas. Bukan manusia, bukan construct. Seperti awan cahaya dengan banyak mata.

“Kami mencari pengetahuan,” kata Kaelan, berusaha tenang.

“Semua mencari pengetahuan. Tapi sedikit yang layak.”

“Kami mencari fragmen Ancient One kelima. Dan informasi tentang The Reclaimers.”

Entitas mendekat. Mata-mata itu memandangi mereka satu per satu. “Kalian membawa empat fragmen. Dan… void corruption. Menarik.”

“Kau tahu tentang corruption?”

“Tahu segalanya. Itu tugasku: Mengetahui. Tapi tidak mencampuri.”

“Bisakah kau membantu?” tanya Elara.

“Bantu? Mungkin. Tapi ada harga: pengetahuan untuk pengetahuan.”

“Apa maksudmu?”

“Berikan aku satu memori. Satu yang berharga bagimu. Dan aku akan berikan apa yang kau cari.”

Memori? Sebagai harga?

“Memori apa?” tanya Kaelan.

“Pilihanmu. Tapi harus berharga. Semakin berharga, semakin baik jawabanku.”

Kaelan berpikir. Memori berharga? Mungkin memori pertemuan pertama dengan Elara. Atau saat menerima First Seed. Atau… memori Elias mengorbankan diri.

Tapi memberikan memori berarti kehilangan selamanya?

“Kau tidak akan kehilangan,” kata entitas, membaca pikirannya. “Hanya… aku akan memiliki salinannya. Kau masih ingat.”

“Lalu apa gunanya untukmu?”

“Aku mengumpulkan memori. Itu… makananku.”

Entitas memakan memori? Itu mengerikan.

Tapi mereka butuh informasi.

“Baik,” kata Kaelan. “Aku berikan memori… saat aku pertama kali menyadari aku bisa menyerap takdir. Saat di desa, menolong anak dengan Sistem rusak.”

Itu memori berharga—saat dia menemukan tujuan.

Entitas menyetujui. “Berikan.”

Kaelan fokus pada memori itu, dan entitas menyentuh dahinya. Sensasi dingin, lalu… selesai.

“Terima kasih,” kata entitas. “Sekarang, jawaban.”

“Fragmen kelima ada di Chamber of Echoes, ruang di antara mimpi dan realitas. Untuk mencapainya, kau harus tidur di sini, di perpustakaan. Dan bermimpi jalan ke sana.”

“Dan The Reclaimers?”

“Mereka pelayan The Architects, pencipta sebelum Ancient Ones. The Architects ingin menghapus semua ‘eksperimen gagal’—termasuk dunia ini. The Reclaimers adalah alat mereka.”

“Kenapa sekarang baru bertindak?”

“Karena Ancient Ones hampir bangun. Dan jika bangun, mereka bisa memperbaiki kesalahan. The Architects tidak mau itu—mereka ingin menghapus bukti kegagalan sepenuhnya.”

Jadi The Reclaimers bukan musuh pribadi. Mereka hanya alat dari kekuatan lebih besar.

“Bagaimana menghentikan mereka?”

“Dengan menyatukan semua fragmen. Ancient Ones bangun akan punya kekuatan melawan The Architects. Tapi… ada risiko.”

“Risiko apa?”

“Ancient Ones bangun mungkin… tidak seperti yang kau harapkan. Mereka penuh penyesalan, kemarahan. Mungkin mereka akan menghancurkan dunia sendiri, daripada memperbaikinya.”

Pilihan sulit: biarkan The Architects menghancurkan dunia, atau bangunkan Ancient Ones yang mungkin juga menghancurkan dunia.

“Ada pilihan ketiga?” tanya Elara.

“Selalu ada. Tapi lebih sulit.”

“Apa?”

“Kau menjadi penengah. Dengan kekuatan Primordial Archivist, dan dengan fragmen, kau bisa… berkomunikasi dengan kedua belah pihak. Mencari kompromi.”

“Tapi aku hanya manusia.”

“Dengan warisan Ancient Ones. Dan dengan corruption void prime—yang adalah energi The Architects. Kau perpaduan unik. Mungkin satu-satunya yang bisa.”

Jadi peran Kaelan lebih besar dari yang dia kira: bukan hanya penjaga Sistem, tapi mungkin penengah antara pencipta lama dan baru.

“Chamber of Echoes,” ulang Kaelan. “Bagaimana masuk ke mimpi?”

“Tidur di sini. Aku akan jaga. Tapi peringatan: di Chamber, kau akan menghadapi echo dirimu sendiri. Semua keraguan, ketakutan. Jika kau kalah, terjebak selamanya.”

Risiko besar. Tapi harus.

Mereka menyiapkan area tidur. Kaelan akan tidur, yang lain jaga.

Sebelum tidur, Elara memegang tangannya. “Kau yakin?”

“Tidak. Tapi harus.”

“Kau tidak sendirian. Aku akan… mencoba masuk ke mimpimu. Dengan [HEART READER], mungkin bisa.”

“Berbahaya untukmu juga.”

“Tapi kita bersama.”

Kaelan tidur. Dan mimpi datang.

Tapi bukan mimpi biasa. Dia berada di koridor tak berujung, dengan cermin di setiap sisi. Dan di setiap cermin, versi berbeda dari dirinya.

Satu cermin: Kaelan yang tidak pernah dapat First Seed, hidup biasa di desa.

Lain: Kaelan yang korup sepenuhnya oleh void, menjadi monster.

Lain: Kaelan yang menjadi penguasa, menggunakan kekuatannya untuk kontrol.

Dan di ujung koridor, sebuah pintu. Chamber of Echoes.

Tapi untuk mencapainya, dia harus melewati cermin-cermin itu. Dan setiap cermin mencoba menariknya masuk, membuatnya percaya itu realitas.

Ujian terberat: menghadapi diri sendiri.


[END OF CHAPTER 35]
[WORD COUNT: 1,860]
[NEXT: BAB 36 – CHAMBER OF ECHOES]