BAB 39: DI BAWAH ES

Ukuran:
Tema:

Frozen North lebih dingin dari yang Kaelan ingat. Atau mungkin karena kali ini, ketegangan membuat segalanya terasa lebih ekstrem.

Tim kali ini besar: Kaelan, Elara, Thorne, Vex, Garrick, Archmage Lyra, Aeon, dan sepuluh battle mages terbaik. Mereka terbang dengan kapal khusus yang tahan cuaca ekstrem.

Icepeak Citadel masih berdiri, tapi sekarang dikelola oleh Archives sebagai pusat penelitian. Tapi target mereka bukan citadel—itu yang di bawah.

Menurut echo Kaelan, ada struktur kuno terkubur di bawah es, sedalam kilometer. The Reclaimers sedang menggali menuju sana.

“Kita harus masuk sebelum mereka,” kata Thorne.

“Tapi bagaimana?” tanya Vex. “Menggali butuh waktu.”

“Tidak jika kita punya bantuan,” kata Aeon. Dia menyentuh es, dan energi menyebar. Es mulai… mencair, tapi terkontrol, membentuk terowongan.

“Kami dulu ahli manipulasi elemen,” kata Aeon. “Sebelum fokus pada energi murni.”

Terowongan terbentuk dengan cepat. Mereka turun, semakin dalam. Suhu turun drastis, tapi equipment mereka cukup.

Setelah beberapa jam, mereka mencapai sesuatu: dinding logam. Bukan es—teknologi.

“Pintu,” kata Garrick, memeriksa. “Tapi terkunci. Dengan mekanisme kuno.”

Aeon mendekat. “Ini buatan The Architects. Untuk menjaga Source Prime.”

“Bisa kau buka?” tanya Kaelan.

“Mungkin. Tapi butuh… kunci.”

“Kunci apa?”

“Energi pencipta. Yang aku punya, tapi tidak cukup sendiri. Butuh… energi dari ciptaan juga. Perpaduan.”

Kaelan mengerti. “Corruption-ku. 1% void prime.”

“Ya. Bersama, kita bisa buka.”

Mereka bekerja: Aeon memberikan energi Ancient One, Kaelan memberikan corruption. Pintu bereaksi—cahaya putih dan ungu bercampur, lalu terbuka.

Di dalam… bukan ruang kecil. Ini ruang raksasa, seperti katedral bawah tanah. Dan di tengah, sebuah struktur: seperti pohon, tapi terbuat dari cahaya. Itu Source Prime? Tidak—itu hanya “terminal”. Source Prime sendiri ada di dimensi lain.

Dan di sekitar terminal, The Reclaimers. Puluhan. Dan di depan mereka, komandan yang sama dari oasis.

“Kalian terlambat,” kata komandan. “Gateway hampir terbuka.”

“Kami tidak akan biarkan,” kata Kaelan.

“Kau tidak bisa menghentikan. Ini takdir.”

“Kami membuat takdir sendiri.”

Pertempuran dimulai. Battle mages Archives vs construct The Reclaimers. Tapi kali ini, ada Aeon. Dengan kekuatan Ancient One, dia bisa menghancurkan construct dengan mudah.

Tapi jumlah terlalu banyak. Dan komandan itu… punya senjata baru: device yang bisa menyalin kemampuan lawan.

Dia menyalin kemampuan Aeon, menjadi hampir sekuat.

Aeon terkejut. “Itu teknologi terlarang! Bahkan The Architects tidak boleh menggunakannya!”

“Aturan berubah,” kata komandan. “Untuk kemenangan.”

Kaelan tahu mereka kalah jika terus begini. Dia harus lakukan sesuatu.

Dia ingat apa yang Aeon katakan: gateway butuh pengorbanan untuk dibuka. Tapi juga… butuh pengorbanan untuk ditutup.

Mungkin itu jawaban.

Dia mendekati terminal. Device untuk membuka gateway ada di sana—sebuah crystal besar, dengan slot untuk “kunci pengorbanan”.

“Elara,” panggilnya.

Elara datang, tahu dari ekspresinya. “Jangan.”

“Harus.”

“Ada cara lain.”

“Tidak ada waktu.”

Kaelan melihat terminal. Instruksi dalam bahasa kuno, tapi dia bisa membaca melalui [PRIMORDIAL ARCHIVIST]. Untuk menutup gateway secara permanen, butuh: “Jiwa yang memilih kegelapan untuk memberi terang pada yang lain.”

Pengorbanan jiwa. Tapi bukan sembarang jiwa—jiwa yang punya koneksi ke kedua belah pihak: Ancient Ones dan The Architects.

Itu dia. Dengan corruption 1% dan warisan Ancient Ones.

“Kaelan, tunggu!” teriak Aeon, sedang bertarung.

Tapi Kaelan sudah memutuskan. Dia menyentuh terminal, mengaktifkan prosedur penutupan.

Crystal bersinar. Suara: “Konfirmasi pengorbanan: jiwa hybrid. Konfirmasi?”

“Konfirmasi,” jawab Kaelan.

“Proses irreversible. Jiwa akan terdispersi ke energi murni, tidak bisa dikembalikan. Konfirmasi akhir?”

Kaelan melihat Elara, yang menangis. Thorne, Vex, Garrick, Lyra—semua temannya. Lalu Aeon, yang melihat dengan sedih.

Dia tersenyum. “Konfirmasi.”

Cahaya putih menyelimutinya. Rasa… damai. Lalu…

Tapi sesuatu terjadi. Elara lari ke terminal, menyentuhnya juga.

“Elara, tidak!” teriak Kaelan.

“Bersama,” katanya. “Seperti janji.”

Terminal menerima—dua jiwa hybrid? Elara punya [HEART READER], koneksi ke jiwa, mungkin itu cukup.

Proses berubah. Bukan dispersi—tapi… transformasi.

Cahaya membungkus mereka berdua. Gateway yang mulai terbuka tertutup. The Reclaimers, kehilangan sumber energi, melemah, lalu hancur.

Komandan melihat, lalu… tersenyum? Seperti lega. “Mungkin… ini lebih baik.”

Dia juga hancur.

Pertempuran berakhir. Gateway tertutup selamanya. Source Prime aman.

Tapi Kaelan dan Elara… tidak ada.

Mereka menghilang dalam cahaya.

Thorne jatuh ke lututnya. Vex menangis. Garrick diam, syok.

Aeon mendekati terminal. Crystal sekarang berisi… dua cahaya kecil, berputar bersama.

“Mereka… tidak mati,” katanya. “Tapi tidak hidup juga. Terjebak di antara.”

“Bisa kita selamatkan?” tanya Archmage Lyra, suara bergetar.

“Mungkin. Tapi butuh waktu. Dan… butuh sesuatu yang setara dengan pengorbanan mereka.”

“Apa?”

“Cinta yang sama besarnya.”

Semua terdiam. Cinta? Itu abstrak.

Tapi kemudian, sesuatu terjadi: cahaya dari crystal menyebar, membentuk gambar—Kaelan dan Elara, bersama, tersenyum. Lalu suara Kaelan: “Kami baik-baik saja. Tapi… butuh waktu untuk kembali. Jaga dunia untuk kami.”

Dan gambar menghilang.

Mereka masih ada. Di suatu tempat.

Aeon mengambil crystal. “Aku akan jaga ini. Dan mencari cara mengembalikan mereka.”

Mereka kembali ke Archives dengan berat hati. Kemenangan, tapi dengan harga terbesar.

Dunia aman dari The Architects. The Reclaimers hancur. Sistem mulai menjadi lebih adil berkat System Balancers.

Tapi tanpa Kaelan dan Elara, terasa hampa.

Minggu berlalu. Bulan. Archives terus bekerja, dipimpin oleh Archmage Lyra dan Aeon. Thorne menjadi kepala keamanan. Vex kepala penelitian. Garrick penasihat.

Dan mereka tidak pernah berhenti mencari cara.

Sampai suatu hari, crystal bersinar lagi.

Dan dari dalam, suara Elara: “Kami menemukan jalan pulang. Tapi… butuh bantuan.”

Harapan kembali.

Mungkin, setelah semua, ada akhir bahagia.

Tapi pertama, mereka harus melalui satu tantangan terakhir.


[END OF CHAPTER 39]
[WORD COUNT: 1,860]
[NEXT: BAB 40 – JALAN PULANG]