Bab 7: Ujian Sekte dan Mata yang Mengawasi
Suasana di Klan Al-Farid pagi itu berbeda dari biasanya. Ada ketegangan yang terasa, bercampur dengan harap dan kecemasan. Di halaman latihan utama, sebuah panggung kecil telah didirikan. Di atasnya, duduk tiga orang asing dengan jubah berwarna hijau muda dengan hiasan bunga teratai berwarna perak di dada.
Utamanya adalah seorang wanita paruh baya dengan wajah anggun namun mata tajam bagai elang. Rambutnya disanggul rapi, dan aura tenang namun kuat memancar darinya. Di sebelah kirinya, seorang pria muda berwajah dingin dengan pedang di punggung. Di sebelah kanan, seorang wanita yang lebih muda dengan ekspresi ramah namun matanya mengamati sekeliling dengan cermat.
[Analisis Cepat: Utusan Sekte Bunga Teratai Berduri]
[Wanita Paruh Baya: Elder Lin Feng. Realm: Qi Murni Lapis 9 (Puncak). Ancaman: Sangat Tinggi.]
[Pria Muda: Murid Inti Luo Chen. Realm: Qi Murni Lapis 5. Ancaman: Tinggi.]
[Wanita Muda: Murid Inti Mei Xiu. Realm: Qi Murni Lapis 4. Ancaman: Sedang-Tinggi.]
Ketua Klan dan para tetua duduk di samping mereka dengan sikap hormat, bahkan sedikit merendah. Sekte Bunga Teratai Berduri jelas merupakan kekuatan yang jauh melampaui klan kecil mereka.
Semua anggota muda klan di bawah 18 tahun berkumpul, berbaris rapi. Alfayd berdiri di tengah barisan, berusaha tampak biasa. Ia telah menggunakan semua kemampuannya untuk menekan aura energinya, membuatnya terlihat seperti berada di Tubuh Baja Lapis 6 dengan 5 atau 6 meridian—kemajuan yang cepat tapi masih bisa diterima sebagai “bakat yang terbangun terlambat”. Namun, di dalam, tubuhnya bergemuruh dengan kekuatan Lapis 9 dan 8 meridian yang terbuka.
Elder Lin Feng berdiri. Suaranya jernih dan berwibawa, terdengar hingga ke sudut terjauh halaman. “Klan Al-Farid, kami dari Sekte Bunga Teratai Berduri sedang melakukan perjalanan untuk mencari bibit-bibit unggul. Hari ini, kami akan menguji bakat dan potensi kalian. Yang memenuhi standar akan diberi kesempatan untuk bergabung dengan sekte kami sebagai murid luar.”
Sorakan dan bisikan gembira pecah di antara para pemuda. Bergabung dengan sekte berarti akses ke teknik yang lebih tinggi, pil obat, lingkungan persaingan yang lebih ketat, dan jalan menuju kekuatan yang lebih besar.
“Tes akan terdiri dari tiga bagian,” lanjut Elder Lin. “Pertama, Uji Kemurnian Qi dan Kesesuaian Unsur. Kedua, Uji Tekad dan Ketahanan Mental. Ketiga, Pertarungan Demonstrasi.”
Murid Luo Chen mengeluarkan sebuah batu kristal besar yang lebih indah dari Batu Uji klan—Batu Uji Bakat Sekte. Batu itu memancarkan cahaya pelangi yang redup.
“Satu per satu, letakkan tanganmu di batu ini dan keluarkan Qi-mu sepenuhnya,” perintah Luo Chen dengan suara datar.
Giliran dimulai. Kebanyakan anggota klan menunjukkan hasil yang biasa-biasa saja: kemurnian Qi rendah, kesesuaian dengan satu atau dua unsur dasar (kayu, api, tanah, logam, air) yang lemah. Lira, misalnya, menunjukkan kemurnian Qi 45% dan afinitas lemah dengan unsur kayu dan air—cukup baik untuk klan, tapi biasa untuk sekte.
Faris, yang masih terlihat pucat dan tidak bersemangat, menunjukkan kemurnian Qi yang turun drastis menjadi 30% (efek penyerapan Alfayd) dan afinitas yang kacau. Ia mendapat pandangan kecewa dari Elder Lin.
Rayhan maju. Dengan penuh percaya diri, ia meletakkan tangannya. Batu itu bersinar terang, memancarkan cahaya hijau (kayu) dan coklat (tanah) yang kuat.
“Kemurnian Qi 68%. Afinitas ganda: Kayu dan Tanah, keduanya di tingkat menengah. Bagus,” komentar Elder Lin dengan sedikit anggukan. Itu adalah hasil terbaik sejauh ini.
Kemudian, giliran Alfayd. Ia berjalan maju dengan tenang. Ia bisa merasakan tatapan Elder Lin yang menusuk, seolah bisa melihat langsung ke dalam dirinya. Ia berusaha tetap rileks, hanya mengeluarkan sebagian kecil Qi-nya, dengan sengaja membuatnya terlihat agak kasar dan tidak murni.
Saat tangannya menyentuh batu, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Batu itu tidak hanya menyala. Ia bernyanyi. Cahaya yang keluar bukan satu atau dua warna, tetapi lima warna pelangi yang redup namun seimbang, berputar dengan harmonis. Kemudian, dari pusatnya, memancar cahaya putih keperakan yang sangat murni dan terang, menenggelamkan warna-warna lain sejenak sebelum mereda.
Seluruh halaman sunyi sepi. Bahkan Elder Lin Feng terlihat terkejut, matanya membelalak.
“Lima… lima unsur dasar seimbang? Dan… itu tadi… kemurnian Qi ekstrem?” gumam Mei Xiu, murid wanita itu, tidak percaya.
Luo Chen dengan cepat memeriksa batu. “Kemurnian Qi… 92%? Itu… hampir sempurna untuk realmnya! Dan afinitas seimbang dengan semua unsur dasar. Ini… ini sangat langka.”
92%? Alfayd sendiri terkejut. Itu pasti efek dari Energi Bumi Murni yang ia serap dan pembersihan ketidakmurnian oleh sistem. Ia berusaha menekan, tapi rupanya kualitas dasar Qi-nya sendiri telah berubah drastis.
Elder Lin Feng berdiri dan mendekat. Matanya menatap Alfayd dengan intensitas yang membuatnya sedikit tidak nyaman. “Siapa namamu, anak muda?”
“Alfayd Al-Farid, Elder,” jawab Alfayd dengan rendah hati.
“Alfayd… kau telah menyembunyikan bakatmu?” tanya Elder Lin, suaranya halus namun penuh tekanan.
“Tidak sengaja, Elder. Saya… baru-baru ini mengalami terobosan setelah menemukan herba langka,” jawab Alfayd, tetap pada ceritanya.
Elder Lin mengamatinya sejenak, lalu angguk pelan. “Terkadang, bakat tidur baru terbangun dengan stimulan yang tepat. Baik. Lanjutkan tes.”
Bagian kedua, Uji Tekad dan Ketahanan Mental. Luo Chen mengeluarkan sebuah lonceng perunggu kecil. “Ini adalah Lonceng Gema Jiwa. Saya akan membunyikannya dengan kekuatan berbeda. Tahanlah tekanan mentalnya. Yang bertahan paling lama, menang.”
Dibunyikan pertama kali, gelombang suara tak terdengar namun terasa seperti pukulan ke pikiran. Beberapa murid langsung berjongkok, memegangi kepala mereka. Alfayd merasakan tekanan itu, tapi itu seperti angin sepoi-sepoi bagi jiwanya yang telah diperkuat oleh sistem dan energi murni. Ia berdiri tegak, bahkan tidak berkedip.
Lonceng dibunyikan lagi, lebih keras. Lebih banyak murid yang jatuh. Rayhan terlihat mengernyit, tapi bertahan. Faris sudah pingsan.
Bunyi ketiga, keempat… Pada bunyi kelima, hanya tersisa tiga orang: Rayhan, seorang gadis dari cabang keluarga lain, dan Alfayd. Rayhan sudah berkeringat dingin, napasnya berat. Alfayd masih terlihat tenang.
Luo Chen dan Mei Xiu saling memandang, terkesan. Elder Lin hanya mengamati, terutama Alfayd.
Bunyi keenam. Rayhan dan gadis itu akhirnya terjatuh, tidak sadarkan diri. Alfayd masih berdiri, meski kini ia berpura-pura sedikit gemetar dan napasnya agak berat—ia tidak ingin terlihat terlalu monster.
“Berhenti,” kata Elder Lin. “Cukup. Hasilnya jelas.”
Bagian ketiga, Pertarungan Demonstrasi. Karena hanya sedikit yang bertahan dari tes mental dengan baik, mereka memutuskan untuk mengadakan pertarungan bebas antara yang tersisa.
Alfayd dihadapkan dengan Rayhan di final kecil. Rayhan, yang bangun dengan sakit kepala namun penuh tekad, menatapnya dengan kompleks—keheranan, kecemburuan, dan tekad untuk membuktikan diri.
“Alfayd, sepertinya kau benar-benar menyimpan banyak hal,” geram Rayhan. “Tapi pertarungan nyata bukan hanya soal bakat dan ketahanan mental.”
“Kakak Rayhan selalu benar,” jawab Alfayd sopan, tapi matanya tenang.
Pertarungan dimulai. Rayhan langsung mengeluarkan kekuatan penuh Qi Murni Lapis 2-nya. Qi berwarna hijau-coklat mengelilingi tangannya. “Jurus Akar Membelit!” Ia menampar tanah, dan akar-akar ilusi terbuat dari Qi muncul dari tanah, mencoba membelit kaki Alfayd.
Ini adalah jurus sekte tingkat dasar, jauh lebih tinggi dari teknik klan. Alfayd, dengan kecepatan dan kelincahan Lapis 9, melompat tinggi, menghindari belitan. Tapi Rayhan sudah menunggu. “Tumbuh Menusuk!” Beberapa pucuk runcing Qi melesat dari tangannya ke arah Alfayd yang masih di udara.
Alfayd, dalam posisi sulit, memutar tubuhnya di udara. Dengan menggunakan “Langkah Bayangan” yang telah ia asah, ia menendang salah satu pucuk Qi itu untuk mengubah arah, lalu mendarat dengan anggun. Tampaknya ia menghindar dengan susah payah, padahal ia bisa dengan mudah menepisnya.
Ia memutuskan untuk tidak menggunakan kekuatan penuhnya. Tapi ia perlu menunjukkan sesuatu. Saat Rayhan mengira ia punya keunggulan dan menerjang dengan jurus berikutnya, Alfayd menggunakan prediksi sistem yang telah ditingkatkan.
[Pola serangan Rayhan: Jurus Akar Membelit varian, diikuti dengan Tendangan Kayu Berat. Celah: Transisi antara jurus membutuhkan 0,3 detik, pertahanan dada terbuka.]
Alfayd berpura-pura terjebak oleh akar ilusi yang melambat (padahal ia bisa merobeknya). Saat Rayhan melompat untuk memberikan tendangan finisher, Alfayd, pada detik terakhir, membungkuk rendah sekali, menghindari tendangan itu, dan pada saat yang sama, tangannya yang terkepal menyodok lembut (tapi tepat) ke ulu hati Rayhan.
Tok!
Rayhan terengah, kehilangan momentum, dan jatuh terduduk. Ia tidak terluka parah, tapi jelas kalah.
Arena sunyi. Mengalahkan Rayhan, genius klan, dengan satu gerakan? Itu di luar dugaan semua orang.
Elder Lin Feng bertepuk tangan pelan. “Bagus. Penggunaan gerakan sederhana dengan timing sempurna. Efisiensi atas kekuatan mentah. Alfayd, kau memiliki naluri bertarung yang tajam.”
Alfayd menunduk. “Terima kasih, Elder. Saya hanya beruntung.”
“Jangan merendahkan dirimu,” kata Elder Lin. Matanya berbinar dengan kepentingan. “Bakatmu, kemurnian Qi-mu, ketahanan mentalmu, dan nalurimu… semuanya luar biasa. Klan Al-Farid telah menyimpan mutiara yang terpendam.”
Ketua Klan dan para tetua terlihat antara bangga dan cemas. Bangga karena klan mereka menghasilkan bakat, cemas karena mereka hampir mengabaikannya—dan sekarang sekte yang lebih besar akan mengambilnya.
“Keputusan kami,” lanjut Elder Lin, suaranya menggema. “Kami menerima Alfayd Al-Farid sebagai murid luar Sekte Bunga Teratai Berduri. Rayhan Al-Farid juga kami terima, mengingat bakatnya yang solid. Kalian berdua akan kembali bersama kami besok.”
Sorakan dan ucapan selamat memenuhi udara. Rayhan, meski kalah, terlihat lega dan bersemangat karena diterima. Tapi tatapannya pada Alfayd kini penuh dengan rasa hormat yang dipaksakan dan tekad yang membara untuk mengejar.
Alfayd sendiri merasakan campuran perasaan. Ini adalah kesempatan besar. Tapi juga berarti meninggalkan zona nyamannya, memasuki lingkungan dengan pengawasan yang lebih ketat, dan bertemu dengan orang-orang yang jauh lebih kuat yang mungkin bisa mengintip rahasianya.
Setelah upacara selesai, Elder Lin memanggilnya secara pribadi ke sebuah ruangan di balai utama.
“Alfayd,” kata Elder Lin, kini tanpa orang lain. “Qi-mu… sangat murni untuk seseorang dari klan kecil. Dan ada sesuatu yang lain tentangmu. Sebuah ‘rasa’ yang unik.”
Alfayd berusaha tetap tenang. “Saya tidak mengerti, Elder.”
“Jangan khawatir. Setiap orang memiliki rahasianya,” ujar Elder Lin, tersenyum tipis. “Di sekte, kami menghargai bakat dan potensi. Asalkan kau setia pada sekte dan tidak mempelajari teknik sesat, kami akan membimbingmu. Tapi ingat, lingkungan sekte lebih kompetitif. Bakat sepertimu akan menarik perhatian, baik yang baik maupun yang buruk.”
“Saya mengerti, Elder. Saya akan berhati-hati dan belajar dengan sungguh-sungguh.”
“Bagus. Besok pagi, bersiaplah untuk berangkat. Bawa barang-barang pribadimu yang penting.” Elder Lin memberinya sebuah jimat kecil berbentuk kelopak teratai. “Ini tanda murid luar. Pakai selalu.”
Alfayd menerimanya. Jimat itu terasa hangat dan memancarkan energi halus yang menenangkan.
Malam itu, di gubuknya untuk terakhir kalinya, Alfayd merapikan sedikit barang yang ia miliki: pakaian, sedikit uang, pisau berburu, Jimat Penstabil Energi, dan sisa Jamur Bintang Perak. Pikirannya berputar cepat.
Sekte. Tempat dengan lebih banyak sumber daya, lebih banyak teknik, lebih banyak musuh yang kuat… dan lebih banyak peluang untuk menyerap.
“Sistem, tampilkan statistik penuh.”
[Host: Alfayd]
[Usia: 15 Tahun]
[Realm: Tubuh Baja Lapis 9 (Puncak, Terkonsolidasi)]
[Meridian Terbuka: 8]
[Teknik: Tendangan Angin Berputar (Tingkat Mahir), Pukulan Besi Dasar (Tingkat Pemula), Langkah Bayangan (Tingkat Mahir – ditingkatkan dengan poin), Dasar Pengendalian Qi (Tingkat Pemula)]
[Poin Energi Langit: 273]
[Level Sistem: 1]
[Item: Jimat Penstabil Energi (Tingkat Rendah), Lencana Murid Luar Sekte Bunga Teratai Berduri.]
Dengan 273 poin, ia bisa mencoba untuk memecahkan bottleneck menuju Qi Murni. Tapi Elder Lin memperingatkan tentang fondasi. Dan sistem juga menyarankan konsolidasi. Mungkin lebih baik ia menunggu sampai di sekte, di mana ia bisa mempelajari metode terobosan yang benar dan mungkin mendapatkan pil atau sumber daya pendukung.
Tapi ada godaan. Jika ia bisa mencapai Qi Murni sebelum tiba di sekte, posisinya akan lebih kuat. Tapi risikonya besar—jika terlihat mencurigakan.
Sementara ia berpikir, ada ketukan di jendela. Lira, dengan mata berkaca-kaca. “Kak Alfayd… kau akan pergi.”
“Ya, Lira. Tapi ini kesempatan baik.”
“Aku tahu… aku hanya… aku akan merindukanmu. Hanya kakak yang baik padaku di sini.” Lira mengusap air matanya. “Tolong… jadilah kuat di sana. Dan berhati-hatilah. Aku dengar kehidupan di sekte… keras.”
Alfayd tersentuh. Ia memberikan Lira sisa Jamur Bintang Perak-nya. “Simpan ini. Gunakan dengan bijak. Dan latihlah dirimu dengan giat. Suatu hari, mungkin kau juga bisa masuk sekte.”
Lira mengangguk, memeluknya cepat lalu pergi.
Alfayd memandang bulan di luar jendela. Perjalanan dari buangan tak berarti menjadi murid sekte telah dimulai dengan cepat. Tapi ini baru awal. Di Sekte Bunga Teratai Berduri, lautan yang lebih besar dan lebih dalam menunggu, dengan monster-monster yang lebih kuat, persaingan yang lebih sengit, dan rahasia-rahasia yang mungkin mengancam keberadaan sistemnya.
Dia mengepalkan tangan. Energi berdenyut di dalamnya.
Siap atau tidak, dunia yang lebih luas… Sang Penyerap Langit datang.