Bab 34: Perbendaharaan Sembilan Langit dan Retaknya Batas Dunia
Istana Kekaisaran Naga Hitam yang sebelumnya menjadi pusat kemegahan dan teror di Benua Cakrawala kini tidak lebih dari sebuah makam batu raksasa yang senyap. Puing-puing emas, pilar naga yang patah, dan debu obsidian berserakan di setiap sudut. Di tengah keheningan yang mencekam itu, suara langkah kaki Lin Tian dan Bai Xue bergema dengan tenang, melintasi lorong-lorong giok yang telah retak menuju bagian terdalam istana.
Lin Tian tidak tertarik pada singgasana, mahkota, atau perhiasan fana yang tergeletak tanpa harga di sekitarnya. Matanya yang keemasan—kini memancarkan ketajaman Alam Bumi Tingkat Menengah yang sangat padat—terus memindai aliran Qi yang tersembunyi. Di dalam Dantiannya, Inti Naga Surgawi berdenyut pelan, bertindak sebagai kompas kosmik yang mengarahkannya ke jantung energi paling masif di tempat ini.
Di ujung koridor bawah tanah terdalam, tersembunyi di balik dinding relief naga hitam raksasa, langkah Lin Tian terhenti.
Dinding batu itu memancarkan fluktuasi formasi spasial tingkat tinggi. Ini bukan sekadar pintu yang dikunci dengan baja, melainkan sebuah ruang yang dilipat ke dalam dimensi kecil.
“Perbendaharaan Sembilan Langit,” bisik Bai Xue, matanya yang sebiru safir memancarkan ketakjuban saat ia mengenali pola rune kuno di dinding tersebut. “Legenda mengatakan bahwa kaisar-kaisar Naga Hitam menyimpan benda-benda yang berasal dari jatuhnya benda langit, serta upeti rahasia yang tidak pernah mereka laporkan kepada siapa pun. Formasi ini mengunci ruang itu sendiri. Dibutuhkan darah kaisar untuk membukanya.”
Lin Tian mendengus pelan, menatap dinding itu dengan seringai meremehkan.
“Darah kaisar sudah habis kuminum, Bai Xue,” kekeh Lin Tian sambil mengangkat tangan kanannya. Sarung Tangan Pembelah Bintang memancarkan pendaran merah darah yang menyilaukan. “Dan aku tidak punya kebiasaan mengetuk pintu.”
Lin Tian tidak membuang waktu memecahkan teka-teki formasi. Ia mengompresi Niat Kehancuran Naga ke dalam kepalan tangannya dan menghantamkan tinjunya lurus ke tengah relief naga tersebut.
CRAAAAK… PRANGGG!
Formasi pelipat ruang yang dirancang untuk bertahan dari gempuran sepuluh ahli Alam Nirvana itu hancur layaknya cermin tipis yang dipukul godam. Ruang di depan mereka robek, memperlihatkan sebuah gerbang perak yang meledak ke dalam. Aroma ramuan spiritual purba yang sangat pekat dan aura senjata kuno seketika menghambur keluar, menghempaskan debu di sekitar mereka.
Mereka berdua melangkah masuk ke dalam ruangan dimensi yang luasnya setara dengan sebuah kota kecil. Rak-rak yang terbuat dari kayu es abadi menjulang tinggi, menampung puluhan ribu harta karun yang bisa membuat sekte mana pun di benua ini saling membunuh: Pil pemurnian tulang tingkat Surga, deretan pedang dan tombak tingkat Surga kelas puncak, serta gunung-gunung batu spiritual yang memancarkan cahaya menyilaukan.
Bahkan Bai Xue, seorang Saintess yang terbiasa dengan kemewahan, terdiam melihat akumulasi kekayaan sepuluh ribu tahun tersebut.
Namun, perhatian Lin Tian langsung tertuju pada sebuah tumpukan kristal bercahaya di sudut ruangan. Itu bukan sekadar batu spiritual tingkat tinggi, melainkan Kristal Roh Esensi, sumber energi murni yang jutaan kali lebih padat daripada batu spiritual biasa. Terdapat puluhan ribu bongkah kristal tersebut yang ditumpuk menyerupai bukit kecil.
“Sempurna,” Lin Tian menjilat bibirnya yang kering.
Ia berjalan mendekati bukit kristal itu dan merentangkan kedua tangannya. Mutiara Naga di dalam Dantiannya langsung terbuka lebar, melepaskan pusaran gravitasi emas yang brutal.
WUSSSSHHH!
Puluhan ribu Kristal Roh Esensi itu hancur menjadi debu bercahaya secara serentak. Aliran energi murni yang menyerupai sungai cahaya tersedot ke dalam hidung dan mulut Lin Tian. Kapasitas Dantiannya mengembang secara eksponensial. Inti Naga Surgawi-nya melahap energi itu dengan rakus, memadat, dan berubah warna dari emas gelap menjadi emas murni yang memancarkan kilau perak.
KRETAK! KRETAK!
Suara ledakan energi dari dalam tubuh Lin Tian bergema di seluruh ruangan perbendaharaan. Aura abu-abu keemasan meledak dari pori-porinya, menyapu rak-rak di sekitarnya.
Alam Bumi Tingkat Puncak!
Hanya butuh beberapa menit mengonsumsi kekayaan kaisar, Lin Tian telah mencapai batas akhir dari Alam Bumi. Fisiknya kini begitu kuat hingga ia merasa mampu merobek langit hanya dengan tangan kosong. Tubuh Sisik Naga Tembaga-nya secara resmi telah bertransformasi menjadi Tubuh Sisik Naga Perak tingkat awal. Kulitnya kini memancarkan kilau perak metalik yang mustahil ditembus oleh senjata fana tingkat apa pun.
“Luar biasa,” Lin Tian mengepalkan tangannya, merasakan otot-ototnya yang dipenuhi oleh tenaga kosmik. Ia menoleh ke arah Bai Xue yang sedang berdiri di tengah ruangan, terpaku menatap sebuah mezanin kecil yang melayang di atas kolam perak.
“Ada apa, Bai Xue? Kau menemukan mainan yang menarik?” Lin Tian melangkah menghampirinya.
Di atas mezanin itu, tidak ada senjata atau pil. Hanya ada sebuah kompas kuno raksasa yang terbuat dari perunggu hitam. Di sekeliling kompas itu, mengambang tiga buah Batu Roh Ungu yang memancarkan kilatan petir dimensi. Benda itu memancarkan aura yang sama sekali berbeda dengan semua artefak di Benua Cakrawala.
“Batu Roh Ungu… dan Kompas Penembus Batas,” Bai Xue bergumam, suaranya dipenuhi oleh campuran antara ketakjuban dan kewaspadaan. “Benda-benda ini tidak berasal dari benua kita, Lin Tian. Ini adalah artefak dimensi. Ini adalah kunci yang digunakan kaisar untuk berkomunikasi dan membuka jalan menuju Benua Langit Tinggi (Higher Realm).”
Lin Tian menyipitkan matanya. Ia melangkah naik ke atas mezanin dan meraih kompas perunggu tersebut.
Begitu kulit Lin Tian yang berlapis sisik naga perak bersentuhan dengan kompas kuno itu, ketiga Batu Roh Ungu di sekitarnya tiba-tiba menyala terang. Sebuah fluktuasi jiwa yang luar biasa arogan dan agung meledak dari dalam kompas, memproyeksikan sosok hologram seorang pria raksasa yang mengenakan zirah emas murni.
Aura dari proyeksi itu saja sudah melampaui Kaisar Hei Long. Wajah pria berzirah emas itu memandang rendah ke arah Lin Tian dan Bai Xue.
“Hei Long, pelayan rendahan. Mengapa kau mengaktifkan kompas ini sebelum waktunya upeti?” Suara pria itu menggema, membawa tekanan jiwa yang membuat lantai perbendaharaan retak. Namun, saat pria itu menyadari bahwa yang berdiri di depannya bukanlah Hei Long, matanya menyipit marah. “Siapa kau, semut fana? Di mana anjing penjagaku?!”
Lin Tian tidak mundur selangkah pun. Ia justru tertawa lepas, sebuah tawa yang merobek tekanan jiwa dari proyeksi tersebut.
“Anjing penjagamu sedang dicerna di dalam Dantianku, dewa palsu,” Lin Tian mengangkat wajahnya, mata emasnya menatap tajam ke arah proyeksi raksasa itu dengan arogansi yang melampaui langit. “Dan jika kau adalah majikannya, maka kau telah mengirim peliharaan yang sangat tidak bergizi.”
Proyeksi pria berzirah emas itu membelalakkan matanya, wajahnya memerah karena amarah yang luar biasa.
“Lancang! Makhluk dari Benua Rendah berani membunuh utusan Benua Langit Tinggi?! Kau telah menghancurkan ladang energi kami! Ketahuilah, Benua Cakrawala hanyalah sebuah kandang tempat kami memelihara dan memanen energi kultivasi kalian. Dengan menyentuh kompas itu, kau telah menandai dirimu sendiri. Jika kau berani melangkah melampaui batas dimensi, kau akan diburu oleh ribuan dewa sejati dan jiwamu akan disiksa di dalam Api Penyucian Langit selama jutaan tahun!”
Mendengar ancaman absolut itu, Bai Xue tanpa sadar menggenggam pedang esnya semakin erat. Menantang seluruh faksi di Benua Langit Tinggi adalah konsep bunuh diri yang bahkan tidak pernah tercatat dalam sejarah fana.
Namun bagi sang Tiran Naga, ancaman itu terdengar seperti undangan perjamuan yang paling manis.
“Kandang?” raung Lin Tian, Niat Kehancuran Naga meledak dari tubuhnya, menghancurkan tekanan aura proyeksi tersebut hingga berkedip-kedip. “Jika dunia ini adalah kandang, maka aku adalah naga yang baru saja merobek jerujinya! Simpan ancamanmu untuk pengecut yang menyembah kalian. Bersihkan leher kalian, dewa-dewa arogan. Aku akan segera datang ke atas sana, dan aku akan memastikan Benua Langit Tinggi kalian hancur dan gemetar di bawah telapak kakiku!”
Tanpa menunggu balasan dari proyeksi yang mengamuk itu, Lin Tian mengalirkan Qi Alam Bumi Tingkat Puncak-nya secara brutal ke dalam Kompas Penembus Batas.
BZZZZZT! BLAAAAAR!
Ketiga Batu Roh Ungu itu hancur, melepaskan energi dimensi murni yang tak terbatas. Sebuah pilar cahaya ungu raksasa meledak dari kompas tersebut, menembus atap gudang rahasia, menembus istana, dan menembak lurus ke arah langit sore Benua Cakrawala.
Langit terbelah. Awan-awan tersapu bersih, menciptakan sebuah pusaran lubang cacing raksasa yang memancarkan kilatan petir ungu di atas Ibukota Kekaisaran. Tangga cahaya yang terbentuk dari energi dimensi menjulur ke bawah, mengundang mereka yang berani untuk melangkah keluar dari dunia fana.
Lin Tian menoleh ke arah Bai Xue yang berdiri di tengah badai energi dimensi tersebut. Rambut hitam Lin Tian berkibar liar, dan senyumnya memancarkan gairah petarung sejati.
“Dunia ini sudah kehabisan mangsa untukku, Bai Xue,” ucap Lin Tian, mengulurkan tangannya ke arah sang Ratu Es. “Kau ikut denganku untuk membekukan surga, atau kau ingin tetap menjadi ratu di kolam kecil ini?”
Bai Xue menatap pusaran langit yang mengerikan itu, menatap jalan menuju dunia di mana dewa-dewa sejati berkuasa. Ia kemudian menatap Lin Tian, dan senyuman tipis yang sangat menawan namun mematikan mekar di wajahnya. Ia meraih tangan Lin Tian dengan mantap.
“Aku sudah bosan dengan es yang tidak pernah mencair di benua ini,” jawab Bai Xue dingin. “Mari kita lihat apakah darah dewa-dewa di atas sana bisa membekukan pedangku.”
Lin Tian tertawa keras. Ia menarik pinggang Bai Xue mendekat, lalu dengan satu hentakan kaki yang menghancurkan seluruh sisa perbendaharaan Istana Kekaisaran menjadi kawah debu, keduanya melesat ke udara, masuk ke dalam pilar cahaya ungu tersebut.
Dalam kilatan cahaya kosmik yang membutakan seluruh mata di Benua Cakrawala, sosok sang Tiran Naga dan Ratu Es menghilang, tertelan oleh pusaran dimensi. Perjalanan mereka di Benua Rendah telah berakhir, namun sebuah badai darah yang seribu kali lebih mengerikan baru saja bersiap untuk menerjang Benua Langit Tinggi.
Apakah Anda ingin saya melanjutkan ke Bab 35 untuk menceritakan momen kedatangan Lin Tian di Benua Langit Tinggi dan sambutan berdarah dari para penjaga dimensi yang telah menunggunya?