Bab 35: Gerbang Kenaikan Surgawi dan Pembantaian Para Penjaga Dewa

Ukuran:
Tema:

Transisi melintasi batas dimensi bukanlah sebuah perjalanan yang mulus, melainkan sebuah siksaan kosmik yang dirancang untuk meremukkan jiwa dan raga mereka yang tidak pantas. Di dalam pilar cahaya ungu yang melesat menembus terowongan ruang dan waktu, ruang itu sendiri meliuk-liuk, menciptakan tekanan gravitasi yang jutaan kali lipat lebih berat daripada dasar palung samudra terdalam di Benua Cakrawala. Udara menghilang, digantikan oleh aliran Qi spasial murni yang tajam layaknya silet, menyayat segala sesuatu yang mencoba melewatinya.

Bagi kultivator fana, bahkan mereka yang berada di Alam Nirvana sekalipun, perjalanan ini biasanya membutuhkan perlindungan dari pusaka dimensi tingkat dewa atau formasi pelindung sekte raksasa. Namun, bagi sang Tiran Naga, tekanan ini tidak lebih dari sekadar pijatan kasar yang membangunkan sel-sel tubuhnya.

Lin Tian berdiri tegak di tengah lorong cahaya yang bergemuruh tersebut, satu lengannya melingkar erat di pinggang Bai Xue. Tubuh Sisik Naga Perak miliknya bereaksi secara otomatis terhadap lingkungan ekstrem ini. Sisik-sisik perak metalik yang menutupi kulit tembaganya memancarkan pendaran cahaya keemasan, menahan setiap bilah Qi spasial yang mencoba mengoyaknya.

Di sisinya, Bai Xue memejamkan mata, memusatkan seluruh sisa energi dari Pil Nirvana di dalam tubuhnya. Sang Ratu Es menciptakan sebuah kepompong dari Domain Es Absolut yang melapisi dirinya dan Lin Tian, mendinginkan gesekan dimensi yang bisa membakar mereka menjadi abu. Meskipun wajah Bai Xue sedikit pucat menahan tekanan ruang yang mengerikan, ia tidak mengeluarkan suara keluhan sedikit pun.

“Kita hampir sampai,” bisik Lin Tian, suaranya menembus raungan badai dimensi. Matanya yang berwarna emas murni menatap lurus ke arah sebuah titik cahaya putih yang menyilaukan di ujung terowongan ungu tersebut. “Bersiaplah untuk menghirup udara yang sesungguhnya.”

BOOOOOOM!

Terowongan cahaya ungu itu pecah berkeping-keping. Realitas seolah meledak, memuntahkan kedua sosok itu dari dalam ketiadaan menuju alam eksistensi yang baru.

Lin Tian dan Bai Xue mendarat dengan suara dentuman berat di atas sebuah pelataran raksasa. Hal pertama yang menghantam indra mereka bukanlah serangan musuh, melainkan kepadatan udara itu sendiri.

Qi spiritual di Benua Langit Tinggi (Upper Realm) ini begitu tebal, padat, dan murni hingga hampir membentuk embun cair yang melayang di udara. Setiap kali Lin Tian menarik napas, ia merasa seolah-olah sedang menelan cairan merkuri yang sarat akan energi kosmik. Gravitasi di tempat ini seratus kali lipat lebih menekan daripada di Benua Cakrawala, cukup untuk membuat tulang-tulang ahli Alam Bumi biasa remuk menjadi bubuk hanya dengan berdiri.

Namun, Inti Naga Surgawi di dalam Dantian Lin Tian berputar dengan rakus, seketika beradaptasi dan menyerap Qi tingkat tinggi tersebut dengan kegembiraan seekor predator yang akhirnya menemukan lautan darah yang tak berujung.

Mereka berdiri di atas Gerbang Kenaikan Surgawi (Ascension Gate), sebuah anjungan terapung yang luasnya menyamai sebuah kota metropolitan. Lantainya terbuat dari marmer putih suci yang memancarkan pendaran cahaya suci, dihiasi oleh pilar-pilar batu giok raksasa yang menjulang menembus lautan awan emas di atas mereka. Pemandangan di sekitar mereka begitu megah, indah, dan damai, seolah-olah mereka benar-benar telah melangkah ke dalam surga para dewa.

Namun, kemegahan surga itu telah dikotori oleh sambutan yang dipenuhi niat membunuh absolut.

Di sekeliling pelataran marmer suci tersebut, tidak kurang dari sepuluh ribu prajurit telah berbaris rapat, mengepung titik pendaratan dimensi. Mereka tidak mengenakan zirah besi hitam seperti pasukan kaisar fana, melainkan Zirah Cahaya Bintang—zirah perak menyilaukan yang memancarkan hukum elemen cahaya murni. Setiap prajurit yang memegang tombak perak itu memancarkan fluktuasi aura yang membuat udara di sekitar mereka bergetar.

Alam Nirvana Tingkat Awal. Sepuluh ribu prajurit, dan tidak ada satu pun dari mereka yang berada di bawah Alam Nirvana! Pasukan yang jika diturunkan ke Benua Cakrawala akan meratakan seluruh dunia fana dalam hitungan menit, kini hanya bertindak sebagai penjaga gerbang di Benua Langit Tinggi.

Di barisan paling depan, berdiri tiga sosok raksasa setinggi tiga meter. Mereka mengenakan zirah emas murni yang dihiasi ukiran naga langit. Aura mereka menekan ruang di sekitar mereka hingga membentuk distorsi visual yang permanen. Mereka adalah Jenderal Penjaga Gerbang, dan ketiganya berada di Alam Nirvana Tingkat Puncak, hanya selangkah lagi menuju alam keilahian yang lebih tinggi.

Salah satu dari jenderal itu, pria berwajah keras dengan luka codet berbentuk kilat di mata kirinya, melangkah maju. Sepatu bot emasnya menghantam lantai marmer, menciptakan gema yang meredam semua suara angin. Ia adalah Jenderal Shen Feng, pria yang proyeksinya telah dihancurkan oleh Lin Tian melalui Kompas Penembus Batas di istana Hei Long.

“Jadi, semut pembangkang dari kandang bawah benar-benar memiliki nyali untuk merangkak naik ke hadapan para dewa,” suara Jenderal Shen Feng menggelegar, membawa Hukum Penindasan Jiwa yang dirancang untuk memaksa siapa pun yang mendengarnya untuk berlutut. Matanya yang memancarkan kilatan petir menatap Lin Tian dengan penghinaan mutlak. “Kau membunuh anjing peliharaan kami, menghancurkan ladang panen energi kami, dan menodai kompas dimensi. Untuk dosa-dosa itu, kematian adalah sebuah kemewahan yang tidak akan kau dapatkan.”

Shen Feng mengalihkan pandangannya ke arah Bai Xue yang berdiri dengan tenang di samping Lin Tian. Senyum menjijikkan muncul di wajah jenderal tersebut.

“Wanita itu… dia memiliki fondasi Yin murni yang lumayan. Tangkap dia hidup-hidup. Aku akan menjadikannya tungku kultivasi (cultivation cauldron) di istanaku. Sedangkan untuk bocah sombong ini, potong keempat anggota tubuhnya, cabut tulang punggungnya, dan lemparkan jiwanya ke dalam Api Penyucian Langit agar ia dibakar selama sepuluh ribu tahun!”

Mendengar vonis yang dijatuhkan dengan kesombongan tingkat dewa tersebut, Bai Xue hanya mengeratkan genggamannya pada pedang esnya. Udara di sekitarnya mulai membeku, memadatkan Qi suci Benua Atas menjadi butiran-butiran kristal es berbentuk teratai tajam.

Namun, sebelum Bai Xue sempat bergerak, Lin Tian melangkah maju.

Pemuda berjubah hitam itu tidak memancarkan tekanan aura yang meledak-ledak. Ia berjalan dengan sangat santai, menundukkan kepalanya sejenak sambil memutar pergelangan tangannya. Sarung Tangan Pembelah Bintang bermanifestasi di kedua tangannya, logam merah darah itu seketika bereaksi terhadap Qi murni Benua Atas, apinya berkobar sepuluh kali lebih terang dari sebelumnya.

Lin Tian mengangkat wajahnya. Seringai iblis yang sangat lebar, buas, dan dipenuhi oleh arogansi yang melampaui seluruh langit di atasnya terukir di wajahnya. Matanya yang keemasan menyala bagaikan dua matahari primordial.

“Kalian menyebut diri kalian dewa?” Tawa rendah Lin Tian bergema, perlahan membesar hingga berubah menjadi raungan yang menggetarkan lautan awan emas di sekitar anjungan tersebut. “Kalian hanyalah sekumpulan anjing penjaga gerbang dengan zirah mengkilap! Kandang yang kalian bicarakan telah aku hancurkan, dan sekarang, naga yang kalian kurung datang untuk menagih daging majikannya!”

Kata-kata itu adalah penghinaan tertinggi yang belum pernah didengar oleh para penjaga surgawi ini selama jutaan tahun.

“LANCANG! BUNUH DIA!” raung Jenderal Shen Feng, wajahnya merah padam karena amarah.

Sepuluh ribu prajurit Alam Nirvana menerjang serentak. Mereka tidak menyerang secara acak. Formasi militer surgawi mereka menyatukan Qi dari sepuluh ribu orang menjadi satu kesatuan. Ribuan tombak perak dilemparkan ke udara, berubah menjadi pilar-pilar cahaya suci raksasa yang mengunci setiap jengkal ruang pelarian Lin Tian dan Bai Xue. Serangan gabungan ini memiliki daya hancur yang cukup untuk membelah sebuah benua kecil.

Menghadapi hujan cahaya penghakiman dewa tersebut, Lin Tian tidak mundur. Ia merendahkan kuda-kudanya, menyalurkan seluruh sisa energi fana di dalam Inti Naga Surgawinya, dan melepaskan Niat Kehancuran Naga secara maksimal.

Aura kelabu keemasan yang sangat pekat meledak dari tubuhnya, membentuk proyeksi Kaisar Naga Surgawi yang mengaum menantang langit.

“Biar kutunjukkan kepada kalian, bagaimana langit seharusnya runtuh!”

Lin Tian tidak menghindar. Ia melompat lurus ke atas, menyongsong ribuan pilar cahaya suci itu dengan tinju kosongnya.

BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHH!

Saat tinju Lin Tian yang berlapis Sarung Tangan Pembelah Bintang dan Niat Kehancuran menghantam jaring cahaya para penjaga langit, ledakan yang dihasilkan tidak memiliki suara, karena ia merobek hukum ruang di sekitarnya.

Hukum Cahaya tingkat Nirvana yang dibanggakan oleh para prajurit itu hancur.

Niat Kehancuran Lin Tian, yang kini diberi makan oleh Qi Benua Atas yang luar biasa padat, bekerja dengan efisiensi yang mengerikan. Pilar-pilar cahaya suci itu memudar menjadi abu kosmik dalam hitungan detik. Momentum Lin Tian tidak berhenti di udara; ia membalikkan tubuhnya dan menukik turun layaknya meteor pemusnah, menghantam tepat di tengah-tengah formasi sepuluh ribu prajurit Nirvana tersebut.

BUMMMMMMM!

Lantai marmer suci Gerbang Ascension yang diklaim tak bisa dihancurkan itu meledak, menciptakan kawah raksasa. Gelombang kejut spasial yang membawa elemen kehancuran menyapu ke segala arah.

Lebih dari seribu prajurit Nirvana di titik pendaratan langsung menguap. Zirah Cahaya Bintang mereka yang diklaim kebal senjata fana hancur menjadi serpihan debu sebelum darah mereka sempat memercik ke udara. Mereka bahkan tidak memiliki kesempatan untuk menjerit.

“T-TIDAK MUNGKIN! BAGAIMANA ALAM BUMI BISA MENGHANCURKAN NIRVANA?!” jerit salah seorang jenderal emas yang berdiri di belakang Shen Feng, matanya melotot ngeri melihat pasukannya diuapkan begitu saja.

“Karena Alam Bumiku jauh lebih berat dari surga palsumu!”

Suara Lin Tian terdengar tepat di sebelah telinga jenderal tersebut. Pemuda itu telah menggunakan Seni Langkah Bayangan Awan yang dikombinasikan dengan distorsi ruang Niat Kehancuran, melakukan teleportasi jarak dekat yang mustahil dilacak oleh mata Nirvana.

Sebelum jenderal emas itu bisa merapal sihir pelindungnya, tangan kiri Lin Tian melesat dan menembus dada sang jenderal. Zirah emas murni itu robek seperti kertas basah. Lin Tian mencengkeram jantung Nirvana milik jenderal tersebut dan meremasnya hingga hancur.

CRAAAAK!

Sang jenderal emas mati seketika, matanya membelalak dalam ketidakpercayaan mutlak. Lin Tian menendang mayat itu hingga terlempar ke arah kerumunan prajurit, menciptakan efek bola boling berdarah yang menewaskan ratusan prajurit lainnya.

Melihat rekan setingkatnya dibunuh dalam satu gerakan, Jenderal Shen Feng kehilangan seluruh kesombongannya. Teror absolut mencengkeram jiwanya. Ia menyadari bahwa pemuda ini bukan manusia; ini adalah monster primordial yang lolos dari dasar neraka.

“M-Mundur! Bentuk Formasi Pemusnah Surga Absolut! Kunci dia—”

Namun, sebelum Shen Feng bisa menyelesaikan perintahnya, suhu udara di anjungan tersebut merosot hingga mencapai titik nol kosmik.

Bai Xue, yang melayang di udara dengan sayap esnya yang berkilauan, tidak berniat menjadi penonton. Menghirup Qi Benua Langit Tinggi telah membuat kutukan Rantai Es Absolut di dalam meridiannya berevolusi menjadi sebuah hukum alam yang baru. Matanya memancarkan cahaya biru yang membutakan.

“Domain Es Ilahi: Kematian Musim Dingin Surgawi!”

Sang Ratu Es menebaskan pedangnya. Sebuah gelombang badai salju biru yang sangat pekat, dipenuhi oleh rune-rune es tingkat dewa, meledak dan menyapu setengah dari sisa pasukan penjaga gerbang.

Prajurit Alam Nirvana yang memiliki pertahanan spiritual luar biasa sekalipun tidak mampu menahan hawa dingin ini. Ribuan prajurit membeku di tempat, menjadi patung-patung es perak yang berkilauan di bawah cahaya awan emas. Bahkan ruang di sekitar mereka ikut membeku, menghentikan waktu dan molekul udara secara absolut.

Dengan separuh pasukan dibekukan oleh Bai Xue, panggung pembantaian sepenuhnya diserahkan kepada Lin Tian.

Sang Tiran Naga mengamuk tanpa ampun. Ia bergerak bagaikan kilatan petir gelap yang memancarkan aura kematian. Setiap tinju yang ia ayunkan membawa Niat Kehancuran yang menghapus eksistensi musuh. Mayat-mayat tanpa kepala, potongan zirah, dan lautan darah perak menutupi lantai suci Gerbang Ascension.

Shen Feng mencoba menyerang dari belakang dengan tombak emasnya, namun Lin Tian menangkap mata tombak itu dengan tangan kosong. Sarung Tangan Pembelah Bintang menghanguskan tombak tingkat dewa itu menjadi karat dalam sedetik. Lin Tian menarik gagangnya, menarik tubuh Shen Feng ke arahnya, dan menghantamkan lutut kanannya ke wajah sang jenderal.

KRAAAAK!

Tengkorak Shen Feng hancur, wajahnya rata dengan tanah. Lin Tian memegang leher jenderal yang sekarat itu, mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara agar semua prajurit yang tersisa bisa melihat nasib komandan mereka.

“Di mana kesombongan dewamu sekarang?!” raung Lin Tian, sebelum akhirnya merobek kepala Shen Feng dari tubuhnya dan melemparkannya ke lautan awan di bawah.

Kurang dari sepuluh menit sejak mereka tiba, sepuluh ribu pasukan elit Alam Nirvana dan tiga Jenderal Puncak Nirvana telah musnah. Gerbang Ascension yang suci kini tampak seperti rumah jagal para iblis.

Lin Tian berdiri di tengah lautan mayat dan patung es. Ia bernapas dengan berat, otot-ototnya memancarkan uap panas yang membakar sisa-sisa darah di kulitnya.

Namun, pertunjukan belum berakhir. Ini adalah perjamuan utama.

Lin Tian mengangkat kedua tangannya ke udara. Mutiara Naga di dalam Dantiannya yang sedari tadi menahan rasa lapar yang luar biasa, kini terbuka sepenuhnya.

“Telan,” bisik Lin Tian.

Sebuah pusaran lubang hitam bermanifestasi di atas anjungan tersebut. Esensi kehidupan, Qi suci Benua Atas, dan Hukum Nirvana dari sepuluh ribu ahli serta tiga jenderal puncak ditarik secara paksa dari mayat-mayat mereka. Asap energi berwarna perak, emas, dan ungu mengalir deras bagaikan sungai kosmik, menukik lurus masuk ke dalam tubuh Lin Tian.

Jumlah energi ini melampaui segala sesuatu yang pernah dikonsumsi oleh Lin Tian sepanjang hidupnya. Inti Naga Surgawi-nya yang berada di Puncak Alam Bumi tidak mampu menampung volume energi yang begitu tak terbatas.

KRETAK… KRETAK… BAAAM!

Suara retakan terdengar dari dalam Dantian Lin Tian. Inti Bumi-nya yang berwarna emas perak hancur berkeping-keping!

Namun, ini bukanlah sebuah kegagalan kultivasi. Ini adalah metamorfosis.

Energi dari jutaan ton Qi suci itu tidak menyebar hilang. Ia memadat kembali, menciptakan sebuah hamparan lautan energi yang luas dan tak bertepi di dalam Dantiannya. Di atas lautan energi itu, sebuah proyeksi langit berbintang mulai terbentuk, dihiasi oleh rasi bintang berbentuk naga yang memancarkan cahaya primordial.

Memecahkan Inti, Menciptakan Langit!

BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHH!

Sebuah pilar cahaya emas yang sangat tebal meledak dari tubuh Lin Tian, menembus lautan awan emas, dan menembak lurus ke langit Benua Langit Tinggi. Gelombang kejut dari terobosannya menyapu radius ribuan mil, mengubah warna langit di wilayah tersebut menjadi abu-abu keemasan.

Alam Langit (Sky Realm) Tingkat Awal!

Lin Tian melayang di udara tanpa perlu menggunakan Qi untuk berpijak. Ia kini telah menyatu dengan hukum ruang itu sendiri. Tubuh Sisik Naga Perak miliknya mencapai tahap Kesempurnaan Besar, kulitnya kini memancarkan aura dewa perang yang tak tertandingi.

Ia membuka matanya. Sepasang pupil emas murni itu kini memutar pusaran galaksi kecil di dalamnya. Kepadatan kekuatannya di Alam Langit tidak bisa diukur dengan standar apa pun di dunia ini. Ia baru saja tiba, namun kekuatan murninya telah melampaui mayoritas dewa sejati yang telah hidup jutaan tahun.

Bai Xue melayang di sampingnya, sayap esnya terlipat anggun. Ia menatap Lin Tian, lalu menatap gerbang raksasa di ujung anjungan yang mengarah ke daratan utama Benua Langit Tinggi.

“Pilar cahayamu baru saja memberi tahu seluruh faksi di benua ini bahwa kita telah tiba,” ucap Bai Xue tenang, pedang esnya berdenting pelan. “Mereka akan datang memburu kita, Lin Tian.”

Sang Tiran Naga memutar lehernya, membunyikan buku-buku jarinya yang memancarkan kilatan petir kehancuran. Ia menatap jalan setapak di balik gerbang surgawi tersebut dengan seringai predator yang kelaparan.

“Biar mereka datang,” tawa Lin Tian menggema, dipenuhi oleh arogansi yang kini memiliki kekuatan untuk menghancurkan surga. “Aku akan membunuh setiap jenderal, membakar setiap istana, dan merobek sayap setiap dewa yang berani berdiri di depanku. Surga ini milikku sekarang!”

Dengan langkah yang menggetarkan bumi suci, Lin Tian dan Bai Xue melangkah melewati Gerbang Ascension, membawa badai darah dan teror abadi yang akan mengubah sejarah Benua Langit Tinggi untuk selamanya.