Bab 44: Tarian Singularitas dan Teror di Mata Para Kaisar Dewa
Melesatnya Lin Tian melintasi langit yang terkoyak bukanlah sekadar pergerakan fisik; itu adalah sebuah fenomena di mana ruang itu sendiri secara sukarela melipat dirinya untuk memberi jalan bagi sang Tiran. Jejak abu-abu keemasan dari Singularity Kehancuran tertinggal di udara, menciptakan distorsi visual yang membuat realitas tampak seperti lukisan yang luntur tersiram air.
Kelima Dewa Kematian Bintang yang tersisa, mesin-mesin eksekusi tanpa emosi dari Tiga Kaisar Dewa, akhirnya menunjukkan reaksi yang belum pernah terprogram dalam eksistensi mereka: kewaspadaan absolut. Titik cahaya merah di balik tudung kekosongan mereka berkedip liar, memproses triliunan probabilitas pertempuran dalam milidetik. Semuanya berujung pada satu kesimpulan: konfrontasi fisik langsung berarti pemusnahan.
“Protokol Ekstrem: Formasi Segel Bintang Mati. Kunci anomali ke dalam dimensi ketiadaan abadi!”
Salah satu Dewa Kematian, yang memegang sebuah Jam Pasir Debu Jiwa, membalikkan artefak kosmik tersebut. Waktu di sekitar Lin Tian seketika melambat hingga hampir terhenti. Butiran pasir di dalam jam itu bukanlah pasir biasa, melainkan abu dari miliaran jiwa fana yang telah dihancurkan, dirancang untuk memberatkan karma dan menghentikan laju waktu targetnya.
Pada saat yang bersamaan, empat Dewa Kematian lainnya melemparkan pusaka mereka—Rantai Nebula, Perisai Materi Gelap, dan Tombak Supernova—untuk membentuk sebuah pentagram kosmik berwarna hitam legam yang mengurung Lin Tian dari segala arah. Formasi ini tidak bertujuan untuk membunuh, melainkan untuk melempar Lin Tian ke dalam celah dimensi mati di mana tidak ada energi, tidak ada waktu, dan tidak ada jalan keluar.
“Menghentikan waktuku?”
Suara Lin Tian terdengar berat dan lambat di dalam domain waktu yang terdistorsi tersebut, namun seringainya tidak memudar sedikit pun.
Di dalam Dantiannya, Singularity Kehancuran berputar dengan intensitas yang menggila. Lin Tian tidak mencoba melepaskan diri dengan sihir. Ia menggunakan prinsip paling dasar dari alam semesta yang telah ia taklukkan: gravitasi singularitas yang tak terbatas mampu melengkungkan ruang, dan dengan sendirinya, melengkungkan waktu!
BLAAAAAAAAAAAAARRRR!
Aura hitam-emas meledak dari pori-pori Tubuh Sisik Naga Perak-nya. Lin Tian hanya menggerakkan bahunya, namun gerakan kecil itu merobek kurungan waktu dari Jam Pasir Debu Jiwa. Suara retakan kaca kosmik bergema hebat saat jam pasir raksasa di tangan Dewa Kematian itu pecah berkeping-keping akibat tekanan paradoks dari tubuh Lin Tian.
Lin Tian kembali ke kecepatan aslinya, atau lebih tepatnya, kecepatan yang melampaui kilatan cahaya.
“Kalian terlalu bergantung pada mainan usang!”
Sang Tiran Naga muncul tepat di hadapan Dewa Kematian pemegang Jam Pasir. Tangan kanannya yang berlapis Sarung Tangan Pembelah Bintang menembus langsung ke dalam tudung kekosongan entitas tersebut, mencengkeram titik energi merah yang berfungsi sebagai “kepala” sang dewa.
“Seni Kehancuran: Ledakan Horizon Peristiwa!”
CRAAAAK!
Titik energi itu diremukkan menjadi debu. Niat Kehancuran Naga melahap seluruh struktur tubuh Dewa Kematian itu, menghisap debu bintang dan esensi kosmiknya langsung ke dalam telapak tangan Lin Tian. Dua Dewa Kematian telah musnah tanpa sisa.
Melihat rekan mereka ditelan mentah-mentah, tiga Dewa Kematian yang tersisa tidak melarikan diri. Program mereka menolak opsi mundur. Entitas pemegang Tombak Supernova mengorbankan lengan dan separuh tubuh bayangannya untuk memadatkan seluruh energinya ke ujung tombaknya, menciptakan titik panas yang setara dengan ledakan seratus matahari raksasa.
“Eksekusi Pamungkas: Kiamat Bintang Runtuh!”
Dewa Kematian itu menerjang maju, menusukkan tombak yang membara itu tepat ke dada Lin Tian. Kecepatan dan daya hancurnya begitu absolut hingga ruang di Benua Langit Tinggi mulai mencair di jalurnya.
Lin Tian tidak menangkis. Ia membusungkan dadanya yang dilapisi oleh sisik naga perak yang kini memancarkan urat-urat emas singularitas.
TRANGGGGGGGGG!
Tombak yang membawa panas ledakan supernova itu menghantam tepat di jantung Lin Tian. Gelombang kejutnya menyapu ke bawah, namun terhenti oleh kubah es absolut yang telah dipersiapkan Bai Xue di atas Kota Awan Mengambang.
Di titik benturan, Dewa Kematian itu membeku. Tombak Supernova-nya, senjata pusaka yang ditakuti oleh para Raja Dewa, tidak mampu menembus satu inci pun dari kulit Lin Tian. Ujung tombak itu justru mulai meleleh, bukan karena panasnya sendiri, melainkan karena ia bersentuhan dengan energi peniadaan dari Singularity Kehancuran.
“Tombak yang bagus,” Lin Tian menyeringai buas, menatap entitas raksasa di depannya. “Tapi kau mengarahkannya pada dewa yang salah.”
Lin Tian mengangkat tangan kirinya dan menebas lurus ke bawah. Lengannya berubah menjadi bilah kapak singularitas yang memotong tubuh Dewa Kematian itu menjadi dua bagian yang simetris, dari kepala hingga ke selangkangan. Sebelum kedua potongan tubuh bayangan itu sempat memudar, Mutiara Naga di dalam perut Lin Tian terbuka dan menyedot sisa-sisa energinya hingga bersih.
Tiga eksekutor musnah. Tersisa dua.
Dewa Kematian pemegang Perisai Materi Gelap dan Rantai Nebula menyadari bahwa target ini tidak bisa dihancurkan. Mereka mengambil keputusan radikal. Kedua entitas raksasa itu saling berbenturan satu sama lain, memicu fusi inti kosmik mereka sendiri untuk menciptakan ledakan bunuh diri yang skalanya dirancang untuk menghapus seluruh Domain Angin Suci.
Tubuh mereka membengkak, memancarkan cahaya putih yang membutakan dan melahap segala warna di sekitarnya.
“Mereka berniat meledakkan diri!” Bai Xue berteriak dari bawah, merasakan fluktuasi energi yang melampaui kapasitas pertahanan es ilahinya. Ledakan dua Raja Dewa Puncak secara bersamaan akan menguapkan benua ini.
Namun, di udara, Lin Tian hanya merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Mulutnya terbuka, memperlihatkan deretan gigi putihnya dalam tawa kegembiraan yang luar biasa gila.
“Ledakan bunuh diri? Kalian pikir aku akan membiarkan kalian membuang-buang makanan lezat ini?!”
Lin Tian melesat maju, membuang dirinya langsung ke tengah-tengah kedua Dewa Kematian yang sedang berada di detik terakhir detonasi mereka.
“Seni Pamungkas Kaisar Naga: Pusaran Penelan Kosmos!”
Lin Tian tidak memukul atau menendang. Ia membuka rahangnya, dan pusaran lubang hitam bermanifestasi tepat di depannya. Saat ledakan raksasa itu meletus, alih-alih menyebar ke segala penjuru dan meratakan benua, energi apokaliptik yang tak terhingga itu terjebak.
Gaya tarik dari Singularitas Lin Tian menyedot seluruh ledakan tersebut, memaksanya masuk ke dalam mulut dan Dantian sang Tiran Naga. Lin Tian secara harfiah meminum ledakan bunuh diri dari dua eksistensi setingkat Raja Dewa Puncak!
GULP!
Suara tegukan itu terdengar begitu absurd di tengah kesunyian langit yang tiba-tiba kembali damai.
Lin Tian menutup mulutnya, mengusap bibirnya dengan ibu jari. Uap berwarna putih bercampur abu-abu mengepul dari sela-sela giginya. Otot-ototnya membengkak sesaat, menahan tekanan ledakan di dalam sistem pencernaan kosmiknya, sebelum akhirnya lautan bintang di dalam Dantiannya berhasil menggiling energi tersebut hingga jinak.
“Cukup pedas,” komentar Lin Tian santai, mematahkan lehernya ke kiri dan ke kanan hingga berbunyi gemeretak keras. “Tapi setidaknya itu mengisi sedikit ruang kosong di perutku.”
Pertempuran telah usai. Langit yang tadinya dikoyak oleh celah dimensi dan dipenuhi oleh aura kematian, kini sunyi senyap. Enam Dewa Kematian Bintang, algojo tak terkalahkan dari Tiga Kaisar Dewa, telah dimusnahkan. Tidak ada darah yang tumpah, karena Lin Tian tidak menyisakan setetes pun energi mereka untuk terbuang percuma.
Di bawah, Kota Awan Mengambang masih utuh berkat kubah es Bai Xue, namun penduduknya tidak ada yang berani bersorak. Mereka baru saja menyaksikan sesosok makhluk menelan kiamat mentah-mentah.
Lin Tian melayang pelan, tidak turun ke bawah, melainkan melesat naik mendekati sisa celah dimensi raksasa yang belum sepenuhnya tertutup. Celah itu adalah lorong yang digunakan oleh para Dewa Kematian untuk turun dari Inti Kosmik.
Sang Tiran Naga mencengkeram tepi celah dimensi itu dengan kedua tangannya, menahan ruang agar tidak menyatu kembali. Ia menancapkan pandangannya ke dalam kegelapan lorong spasial tersebut, mengirimkan kesadarannya, suaranya, dan dominasi Niat Kehancuran Naga-nya melintasi ruang dan waktu, menembus langsung menuju ke kuil abadi tempat Tiga Kaisar Dewa bersemayam.
“Hei, kaisar-kaisar pengecut,” suara Lin Tian bergema di seluruh lorong dimensi, membawa frekuensi yang membuat bintang-bintang mati di sekitarnya bergetar hancur. “Aku sudah menerima paket makanan yang kalian kirimkan. Rasanya lumayan, tapi porsinya terlalu sedikit untuk naga sepertiku.”
Seringai Lin Tian melebar, memperlihatkan taring predatornya.
“Aku tahu kalian sedang mendengarkan. Hangatkan singgasana kalian. Karena setelah aku selesai mengonsolidasikan energi dari anjing-anjing kalian ini, aku sendiri yang akan mendaki ke Inti Kosmik. Aku akan mematahkan mahkota kalian, merebut takhta kalian, dan menjadikan wilayah kalian sebagai taman bermainku.”
Tanpa menunggu balasan dari sisi lain, Lin Tian melepaskan cengkeramannya dan membiarkan Singularity Kehancuran menghancurkan ujung lorong dimensi tersebut. Celah raksasa di langit itu meledak dalam kilatan cahaya perak, lalu tertutup rapat, mengembalikan langit Benua Langit Tinggi ke warna alaminya.
Di Inti Kosmik yang tak terhingga jauhnya, di dalam kuil abadi yang sunyi.
Tiga pasang mata kuno yang tadinya memancarkan keagungan mutlak kini terbuka lebar, dipenuhi oleh emosi yang telah jutaan tahun tidak pernah mereka rasakan: Kemarahan yang bercampur dengan sepercik ketakutan.
“Enam Dewa Kematian musnah. Energi mereka ditelan sepenuhnya.” Suara yang membawa elemen api matahari terdengar serak.
“Dia bukan anomali biasa. Dia adalah inkarnasi dari Kehancuran Primordial. Jika dia berhasil mencerna energi itu dan menstabilkan singularitas di dalam tubuhnya, bahkan hukum kita tidak akan bisa menundukkannya.”
“Kita tidak bisa membiarkannya datang kemari. Kumpulkan Sembilan Penguasa Domain. Bangkitkan seluruh dewa sejati di benua ini. Kita akan meluncurkan Perang Suci Kosmik. Tiran ini harus dihentikan sebelum ia menginjakkan kaki di anak tangga Inti Kosmik.”
Kembali ke Kota Awan Mengambang.
Lin Tian melayang turun dan mendarat kembali di atas balkon benteng tulang naganya. Jubah kosmiknya berkibar pelan. Auranya kini telah kembali tenang, tersimpan rapi di dalam pusaran singularitas di Dantiannya. Namun, ketenangan itu jauh lebih menakutkan daripada ledakan badai mana pun.
Bai Xue membatalkan kubah es raksasanya. Ia menatap Lin Tian yang kini berdiri di depannya. Tidak ada lagi keraguan. Pria di hadapannya bukan lagi sekadar buronan dari Benua Bawah, melainkan entitas yang telah mengibarkan bendera perang melawan seluruh semesta.
“Kau baru saja mengancam penguasa tertinggi alam semesta ini secara langsung, Lin Tian,” Bai Xue tersenyum tipis, menyimpan pedangnya. “Sembilan Domain Surgawi tidak akan tinggal diam. Mereka akan menyatukan kekuatan untuk menghancurkan satu kota ini.”
“Sembilan Domain? Pasukan gabungan dewa sejati?” Lin Tian duduk kembali di atas singgasana tulang kosmiknya, menyilangkan kakinya dengan santai. Ia menopang dagunya, menatap jauh ke depan.
“Bagus,” jawab sang Tiran Naga dengan mata yang memancarkan gairah perang absolut. “Semakin banyak semut yang berkumpul, semakin mudah bagiku untuk menginjak mereka dalam satu pijakan. Bersiaplah, Ratu Es. Kita akan mengubah Kota Awan Mengambang ini menjadi ibukota kerajaan baruku. Dan mereka semua akan datang ke sini untuk memberikan upeti berupa nyawa mereka.”
Apakah Anda ingin saya melanjutkan ke Bab 45 untuk melihat bagaimana Lin Tian membangun kerajaannya di Kota Awan Mengambang dan reaksi Sembilan Domain Surgawi yang mulai membentuk Aliansi Perang Suci?