Bab 2: Api di Dalam Kegelapan
Kegaduhan di Desa Batu Hijau perlahan mereda menjadi bisikan-bisikan penuh decak kagum dan ketakjuban. Mayat ketiga Serigala Besi itu dibawa ke pinggir desa untuk dikuliti—bulu metalik dan cakar mereka bernilai lumayan di pasar kota prefektur. Tapi semua mata, bahkan mata Zhang Hu yang masih dipenuhi rasa tidak percaya, tertuju pada Ling Feng yang berdiri di tengah lapangan desa, masih memegang kapak kayunya yang retak.
Chen Bo menepuk bahunya, keras. “Bagus, anak. Bagus!” Suaranya serak, penuh emosi yang jarang ia tunjukkan. Chen Sao hanya terus memeluknya, air mata mengalir di wajahnya yang keriput.
“Elder dari Sekte Bintang Jatuh… dia menyuruhmu ikut ujian,” bisik seorang tetangga, suaranya penuh rasa iri yang tak tersembunyi.
Ling Feng mengangguk, pikirannya masih berputar-putar. Kejadian tadi terasa seperti mimpi. Satu saat ia hampir mati, saat berikutnya ia merasakan kekuatan yang meledak-ledak di tubuhnya, dan seorang Elder sekte menyuruhnya datang ke ujian. Dan cincin ini… ia melirik cincin perunggu kehitaman di jarinya. Ia masih terasa hangat, seperti jantung kecil yang berdenyut pelan.
“Feng.” Zhang Hu mendekat, wajahnya pucat. Ia menatap tanah, seolah sulit mengucapkan kata-katanya. “Terima… terima kasih. Kau menarik perhatian serigala itu. Kalau tidak…” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Harga dirinya yang tinggi sebagai putra kepala desa dan pemuda terkuat di desa tercabik-cabik, tetapi nyawanya diselamatkan oleh orang yang paling ia rendahkan.
“Desa kita,” kata Ling Feng sederhana. Ia tidak ingin pujian atau pengakuan. Yang ia rasakan justru kelelahan yang mendalam, campur aduk dengan kegelisahan. Kekuatan tadi datang tiba-tiba. Apakah akan bertahan? Apa konsekuensinya?
Kepala desa, yang lukanya sudah dibalut, dipapah mendekat. “Ling Feng,” katanya, suaranya lebih hormat dari sebelumnya. “Kau telah berjasa besar hari ini. Bagianmu dari hasil penjualan kulit serigala akan lebih besar.” Ia jeda. “Dan… tentang ujian Sekte Bintang Jatuh. Desa akan membantumu. Kami akan kumpulkan bekal untuk perjalananmu ke kota prefektur.”
Itu adalah pengakuan resmi. Pintu yang sebelumnya tertutup rapat kini terbuka lebar. Tapi di balik semua itu, Ling Feng melihat sesuatu di mata para penduduk desa: rasa takut yang baru. Takut pada perubahan. Takut pada kekuatan yang tidak mereka pahami. Ia bukan lagi Ling Feng si lemah, si sampah. Ia adalah sesuatu yang lain.
Malam harinya, di dalam gubuk yang gelap hanya diterangi oleh satu lilin minyak nabati, Ling Feng duduk bersila di atas tikarnya. Ia mencoba merasakan kembali aliran energi yang tadi meledak di tubuhnya. Menurut cerita-cerita yang ia dengar dari para musafir, kultivasi dimulai dengan merasakan ‘Qi’ alam, menariknya ke dalam tubuh, dan menyimpannya di Dantian. Ia tidak pernah berhasil melakukannya. Qi selalu lolos.
Tapi sekarang… ia memusatkan perhatian. Di keheningan, ia bisa merasakannya. Sebuah titik kehangatan di bawah pusarnya, berdenyut pelan. Dan dari titik itu, aliran-aliran tipis energi yang hangat menyebar ke seluruh tubuhnya, mengalir melalui jalur-jalur yang sebelumnya buntu dan sempit. Meridian-meridiannya!
Jantungnya berdebar kencang. Ia mencoba mengarahkan salah satu aliran itu ke tangannya. Perlahan, sangat perlahan, kehangatan terkumpul di telapak tangannya. Ia membuka mata, menatap tangannya di bawah cahaya lilin. Tidak ada cahaya, tidak ada keajaiban yang terlihat. Tapi ia bisa merasakan kekuatan di sana. Ia mencoba meremas batu kecil di lantai. Dengan sedikit usaha, batu itu remuk menjadi debu.
Ini nyata.
Lalu, pikirannya beralih ke cincin. Ia melepasnya, menempatkannya di telapak tangannya. Cincin itu terlihat biasa saja, kusam, tua. Tapi saat ia fokus, mencoba ‘menyentuh’ titik kehangatan di Dantian-nya dan mengarahkannya ke cincin…
Bzzzt!
Guncangan kecil, seperti sengatan listrik halus. Sebuah gambar kilat di benaknya: sebuah ruang kosong, gelap, tak berujung. Dan di tengah ruang itu, terbaring sebuah gulungan naskah kuno dari bahan yang bukan kulit maupun kertas, bersinar dengan cahaya keemasan samar. Di atasnya, tertulis aksara kuno yang berapi-api: “Naskah Matahari Murni – Lapisan Pertama: Pembangkit Api Dasar.”
Ling Feng terkesiap, cincin itu hampir terjatuh. Gambar itu hilang. Jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang. Warisan. Kata itu muncul di kepalanya. Warisan yang disegel. Cincin ini adalah kuncinya. Dan ia baru saja membuka lapisan pertama.
Dengan gemetar, ia mencoba lagi. Kali ini, ia lebih fokus. Ia mengalirkan sedikit energi dari Dantian-nya ke cincin. Lagi-lagi, sengatan, dan ‘ruang’ itu muncul di persepsinya. Ia ‘meraih’ ke arah gulungan naskah itu. Secara fisik, tangannya tidak bergerak, tetapi di dalam kesadarannya, ia menyentuh naskah itu.
Boom.
Pengetahuan membanjiri pikirannya. Bukan dalam bentuk kata-kata, tetapi lebih seperti pemahaman intuitif yang langsung tertanam. Ia memahami metode pernapasan dasar untuk menarik energi matahari (Yang Qi) ke dalam tubuh. Ia memahami cara mengedarkannya melalui dua belas meridian utama secara berurutan. Ia memahami sebuah postur tunggal, sebuah jurus dasar: “Sikap Matahari Terbit”—bukan untuk menyerang, tetapi untuk memurnikan Qi dan memperkuat fondasi tubuh.
Ini adalah metode kultivasi! Sebuah metode yang lengkap, sistematis, dan terasa… sangat tinggi. Dibandingkan dengan cerita-cerita tentang metode dasar sekte-sekte kecil, ini seperti membandingkan samudera dengan genangan air.
Ling Feng menghabiskan sisa malam itu dengan duduk bersila, mencoba metode pernapasan dari Naskah Matahari Murni. Ia tidak berani keluar, takut menarik perhatian. Ia hanya duduk menghadap ke arah timur, menunggu matahari terbit. Saat cahaya pertama menyentuh ufuk, ia menarik napas panjang, membayangkan setiap hela napas menarik partikel-partikel keemasan dari cahaya pagi.
Dan itu bekerja.
Seperti magnet, ia bisa merasakan energi hangat yang lebih murni, lebih perkasa dari energi alam biasa, meresap ke dalam pori-porinya, mengalir melalui meridian sesuai jalur yang diajarkan naskah, dan akhirnya menyatu ke dalam titik kehangatan di Dantian-nya. Prosesnya lambat, tetesan demi tetesan, tetapi setiap tetes membuat Dantian-nya terasa lebih padat, lebih hidup.
Saat matahari sepenuhnya terbit, Ling Feng membuka mata. Ia tidak merasa lelah, justru segar bugar. Matanya lebih jernih. Panca inderanya masih lebih tajam dari kemarin. Ia melihat ke tangannya. Kulitnya tampak lebih sehat, bekas luka goresan dari mengumpulkan kayu bakar tampak memudar.
“Ini baru permulaan,” bisiknya pada diri sendiri, genggamannya mengepal. Api ambisi, yang sebelumnya hanya berupa bara kecil, kini mulai menyala.
Hari-hari berikutnya berlalu dengan cepat. Ling Feng menjalani rutinitasnya seperti biasa—mengambil air, mengumpulkan kayu bakar—tetapi di setiap kesempatan, ia berlatih. Ia melatih “Sikap Matahari Terbit” di balik gubuknya saat tidak ada orang yang melihat. Ia melatih peredaran Qi-nya saat berjalan. Hasilnya nyata. Dalam lima hari, ia merasa dirinya telah stabil di Prajurit Besi Lapis 3. Lompatan dua tingkat dalam waktu singkat adalah hal yang mustahil, tapi cincin dan naskah itu membuatnya mungkin.
Perubahan fisiknya halus, tetapi terlihat. Badannya yang kurus mulai diisi otot yang padat. Pandangannya lebih mantap. Ia tidak lagi menunduk saat berjalan. Orang-orang desa memperlakukannya dengan hormat yang canggung, tetapi juga menjaga jarak. Hanya Chen Bo dan Chen Sao yang tetap sama, meski kebanggaan jelas terpancar dari mata mereka.
Zhang Hu pernah mendekatinya sekali lagi. “Aku akan berlatih lebih keras,” katanya, tanpa pandangan menantang. “Aku juga akan ikut ujian. Kita akan bertemu di kota prefektur.” Ada semacam pengakuan dalam ucapannya. Persaingan yang sehat, mungkin.
Malam sebelum kepergiannya, Chen Bo memanggilnya ke samping perapian. “Dengarkan, Feng’er. Dunia di luar sana… lebih besar, lebih kejam dari serigala besi mana pun.” Ia menyerahkan sebuah bungkusan kecil berisi koin perunggu yang dikumpulkan desa dan bekal kering. “Jangan percaya pada siapa pun terlalu mudah. Tapi juga, jangan menutup dirimu. Kekuatan itu penting, tapi karakter lebih penting. Ingat siapa dirimu.”
Chen Sao memberinya jubah tambalan yang telah ia perbaiki dan diperkuat. “Jagalah dirimu, anakku. Pulanglah suatu saat nanti.”
Ling Feng merasakan dadanya sesak. Ia berlutut, memberi hormat kepada mereka berdua. “Terima kasih atas segalanya. Aku tidak akan mengecewakan kalian.”
Perjalanan ke kota prefektur memakan waktu tiga hari berjalan kaki. Ling Feng berangkat sebelum fajar, sendirian. Ia memilih jalur melalui jalan setapak di pinggir hutan, berhati-hati namun percaya diri dengan kemampuan barunya. Sepanjang jalan, ia terus berlatih. Saat beristirahat, ia duduk bersila, menarik energi matahari. Saat berjalan, ia melatih peredaran Qi-nya.
Pada hari kedua, ia diuji.
Sekelompok tiga bandit—prajurit besi lapis 2 atau 3—menghadangnya di sebuah belokan sempit. Mereka kurus dan lusuh, tetapi mata mereka tajam dan penuh keputusasaan.
“Anak muda, serahkan semua yang kau punya. Kami butuh uang untuk makan,” ujar pemimpinnya, mengacungkan pisau berkarat.
Ling Feng menghela napas. Dulu, ia pasti akan ketakutan. Sekarang, ia hanya merasa sedih. Ia bisa merasakan aura mereka, lemah dan tidak teratur. “Aku tidak punya banyak. Cukup untuk bekalku sendiri.”
“Kami akan ambil semuanya!” geram bandit itu, menyerang.
Ling Feng tidak menarik kapak kayunya. Ia menggunakan jurus yang paling dasar dari pemahaman tubuh barunya. Saat pisau itu mendekat, ia bergerak—bukan mundur, tetapi ke samping, tangannya menepis pergelangan tangan bandit dengan tepat. Krak! Tulang pergelangan itu retak. Bandit itu menjerit, pisau jatuh.
Dua bandit lainnya terkejut, lalu menyerang bersama. Ling Feng bergerak di antara mereka. Satu pukulan ke ulu hati, satu tendangan ke lutut. Gerakannya sederhana, langsung, tetapi didukung oleh aliran Qi yang mulus dari Dantian-nya. Dua bandit itu terpelanting, terengah-engah di tanah.
Ling Feng berdiri di tengah mereka, tidak terluka. “Pergilah. Cari pekerjaan yang jujur.” Ia melemparkan beberapa koin perunggu ke tanah—bukan semua yang ia punya, tetapi cukup untuk mereka makan beberapa hari. Bukan karena ia naif, tetapi karena ia ingat kata-kata Chen Bo: karakter lebih penting.
Bandit-bandit itu memungut koin dengan malu, lalu kabur.
Pertarungan singkat itu mengajarkan Ling Feng banyak hal. Kekuatannya nyata. Ia bisa membela diri. Tapi juga, kekuatan harus diimbangi dengan kebijaksanaan. Ia tidak membunuh mereka karena tidak perlu.
Malam hari kedua, saat ia berkemah di bawah pohon besar, ia mencoba kembali menyelidiki cincinnya. Dengan konsentrasi penuh, ia ‘masuk’ ke dalam ruang itu lagi. Naskah “Matahari Murni” masih ada. Tapi kali ini, ia merasakan sesuatu yang lain. Di samping naskah, seolah terbentuk dari bayangan dan cahaya, muncul sebuah gambar pedang. Sebuah pedang lurus sederhana, tanpa sarung, mengambang. Dan dari gambar pedang itu, mengalir satu aliran pengetahuan: satu jurus pedang.
“Pedang Satu Matahari – Tusukan Matahari Pagi.”
Bukan gerakan yang rumit. Hanya satu tusukan lurus ke depan. Tapi di dalamnya terkandung prinsip konsentrasi seluruh kekuatan, seluruh niat, seluruh Qi ke dalam satu titik. Sebuah serangan yang mengorbankan segalanya untuk satu tusukan yang sempurna.
Ling Feng tidak punya pedang. Ia mengambil sebatang kayu yang kuat dan lurus. Sepanjang malam, di bawah cahaya bulan, ia berlatih jurus itu. Tusukan, lagi dan lagi. Bukan tentang kecepatan atau kekuatan kasar, tetapi tentang ketepatan, tentang pengaliran Qi yang mulus dari kaki, melalui pinggang, ke lengan, ke ujung kayu. Saat fajar menyingsing, kayu di tangannya retak, tetapi ia telah melakukan tusukan yang sempurna ribuan kali. Otot-ototnya mengingat gerakannya.
Hari ketiga, kota prefektur “Baihe” akhirnya terlihat di kejauhan. Tembok kota batu yang tinggi, menara pengawas, dan lalu lintas manusia yang ramai di gerbangnya. Suasana hiruk-pikuk, bau, dan suara yang sama sekali berbeda dari kesunyian Desa Batu Hijau.
Ling Feng merasa jantungnya berdebar, kali ini karena antisipasi, bukan ketakutan. Di sinilah nasibnya akan ditentukan. Ujian Sekte Bintang Jatuh.
Saat ia mendekati gerbang kota, ia melihat sekelompok anak muda seusianya, berpakaian lebih bagus, dengan pedang atau senjata lain di pinggang. Mereka adalah calon-calon peserta ujian dari keluarga kaya atau sekte-sekte kecil lainnya. Mereka meliriknya, melihat jubahnya yang lusuh, dan mencibir.
Ling Feng mengabaikan mereka. Matanya mencari tanda Sekte Bintang Jatuh. Dan ia menemukannya. Sebuah penginapan besar di dekat gerbang kota, dengan bendera bergambar bintang jatuh berkibar di depannya. Di halamannya, sudah berkumpul puluhan anak muda, dengan beberapa orang berjubah abu-abu—murid-murid sekte—yang mengawasi mereka.
Ling Feng menarik napas dalam-dalam, merasakan kehangatan cincin di jarinya, dan kekuatan yang tenang di Dantian-nya. Ia mengingat kilasan sembilan matahari di mimpinya, dan bayangan Elder Hong.
Ia melangkah maju, meninggalkan kehidupan lamanya sebagai pengumpul kayu bakar di belakang, dan memasuki keramaian calon-calon pendekar.
Perjalanan panjangnya, baru saja dimulai.