Bab 3: Batu Ujian dan Mata yang Mengawasi
Lapangan dalam Penginapan Bintang Jatuh dipenuhi oleh keriuhan puluhan suara muda yang penuh harap dan gugup. Udara pagi yang segera diisi oleh aroma keringat, minyak rambut murah, dan ketegangan yang hampir bisa diraba. Ling Feng berdiri di pinggir kerumunan, jubah tambalannya terlihat kontras di antara kain-kain katun halus dan bahkan beberapa sutra sederhana milik peserta lain.
Dia mengamati. Seperti yang diajarkan oleh insting bertahan hidupnya di desa, mengamati sebelum bertindak. Para peserta kebanyakan berusia antara lima belas hingga delapan belas tahun. Beberapa terlihat percaya diri, berdiri tegak dengan senjata di pinggang, mungkin anak-anak keluarga pedagang kaya atau klan kecil yang sudah mendapat pelajaran dasar. Yang lain terlihat gugup, memutar-mutar jari atau terus-menerus mengusap wajah mereka.
Di tengah lapangan, di atas sebuah panggung kayu sederhana, berdiri tiga orang berjubah abu-abu Sekte Bintang Jatuh. Dua di antaranya masih muda, mungkin murid inti yang bertugas mengawasi. Yang ketiga, berdiri sedikit di depan, adalah seorang lelaki berusia tiga puluhan dengan wajah panjang dan ekspresi dingin yang tak berubah. Di dadanya, lambang bintang jatuh memiliki satu garis perak di ekornya—tanda seorang Elder Lapis Bawah atau instruktur senior.
“Tenang!” teriak salah satu murid muda, suaranya memotong keriuhan. Segera, lapangan menjadi hening.
Elder berwajah panjang itu melangkah maju. Matanya, tajam seperti pisau, menyapu kerumunan. “Saya adalah Instruktur He. Selamat datang di Ujian Penerimaan Murid Luar Sekte Bintang Jatuh Tahunan.” Suaranya datar, tanpa emosi, seolah sedang membacakan pengumuman. “Ujian hari ini terdiri dari dua tahap. Tahap pertama: Uji Bakat dan Fondasi. Tahap kedua: Uji Ketahanan dan Kemauan.”
Dia memberi isyarat, dan dua murid itu mendorong sebuah benda besar yang ditutupi kain ke tengah panggung. Saat kain itu disingkap, terlihatlah sebuah batu besar setinggi dada orang dewasa. Batu itu berwarna abu-abu gelap, dengan permukaan yang tampak halus, dan di tengahnya tertanam sebuah lempengan kristal bening sebesar telapak tangan.
“Ini adalah Batu Penguji Akar. Ia akan mengukur kualitas dan kuantitas meridian kalian, serta tingkat konsolidasi Qi dasar kalian,” kata Instruktur He. “Letakkan telapak tangan kalian di lempengan kristal. Batu akan bersinar. Cahaya putih untuk meridian biasa, cahaya hijau untuk meridian baik, cahaya biru untuk meridian langka. Kecerahan cahaya menunjukkan konsolidasi Qi. Yang gagal memancarkan cahaya setidaknya seterang lilin, silakan pulang.”
Desis riuh rendah menyebar. Beberapa peserta yang terlihat kurang percaya diri menjadi pucat.
“Kami akan memanggil nama berdasarkan daftar. Langkah maju saat dipanggil.”
Prosesi dimulai. Nama-nama dipanggil satu per satu. Seorang anak laki-laki gemuk maju dengan gemetar. Tangannya menempel pada kristal. Batu itu menyala dengan cahaya putih redup, nyaris seperti kunang-kunang. Instruktur He mengangguk singkat. “Lulus marginal. Ke samping.”
Anak itu terengah lega dan bergabung dengan sekelompok kecil di sebelah kiri panggung.
Berikutnya adalah seorang gadis dengan kepangan rambut rapi. Cahaya putih yang lebih terang, seukuran bola kepalan tangan. “Lulus. Ke samping.”
Kemudian datang seorang pemuda tinggi dengan pedang di punggungnya. Saat tangannya menyentuh kristal, batu itu berpendar dengan cahaya hijau muda, seukuran buah jeruk. Kerumunan mendesah. Instruktur He untuk pertama kalinya menunjukkan sedikit ekspresi—sebuah anggukan yang agak lebih dalam. “Bakat baik. Catat namanya.”
Pemuda itu tersenyum sombong dan berjalan dengan angkuh ke kelompok di sebelah kanan, kelompok untuk mereka yang menunjukkan bakat di atas rata-rata.
Ling Feng memperhatikan dengan cermat. Polanya mulai jelas. Mayoritas memancarkan cahaya putih dengan tingkat kecerahan berbeda. Hanya segelintir yang menghasilkan cahaya hijau, dan itu langsung menarik perhatian. Dia mulai bertanya-tanya tentang dirinya sendiri. Naskah Matahari Murni telah membuka meridiannya, tetapi seberapa baik kualitasnya? Dan cincin ini… apakah akan mempengaruhi hasil?
“Zhang Hu!” panggil salah satu murid.
Ling Feng menoleh. Dari kerumunan, Zhang Hu melangkah maju. Wajahnya tegang, penuh tekad. Dia menatap batu itu, menghela napas, lalu menempelkan tangannya.
Whoosh!
Cahaya putih yang terang dan padat menyala, hampir menyilaukan, sebesar kepala bayi. Itu adalah cahaya putih terterang sejauh ini. Beberapa peserta berdecak kagum.
Instruktur He mengangkat alisnya. “Konsolidasi Qi yang kuat untuk levelmu. Fondasi kokoh. Bakat biasa, tetapi kemauan keras. Lulus baik. Ke kelompok kanan.”
Zhang Hu mengembuskan napas lega, dadanya membusung dengan bangga. Saat dia berbalik untuk bergabung dengan kelompok kanan, matanya secara tidak sengaja bertemu dengan Ling Feng. Ada kilatan kejutan, lalu perlombaan. Dia mengangguk singkat, lalu berjalan pergi.
Proses berlanjut. Beberapa gagal, wajah mereka hancur saat batu hanya memancarkan cahaya redup atau sama sekali tidak bereaksi. Mereka disuruh pergi dengan kepala tertunduk.
Akhirnya, setelah sekitar tiga puluh nama, suara itu memanggil: “Ling Feng!”
Terdengar beberapa cibir dari mereka yang memperhatikan penampilannya yang lusuh. Ling Feng mengabaikannya. Dia melangkah tenang menuju panggung, merasakan detak jantungnya yang stabil. Dia naik ke panggung, berdiri di depan Batu Penguji. Instruktur He memandangnya dengan ekspresi datar, tetapi Ling Feng merasakan sorotan mata itu mencatat setiap detail—jubahnya, posturnya, ketenangannya.
“Letakkan tanganmu,” kata Instruktur He.
Ling Feng mengulurkan tangan kanannya. Cincin perunggu kusam di jari manisnya terlihat biasa saja. Dia menempelkan telapak tangannya yang kasar dan kapalan pada permukaan kristal yang dingin.
Untuk sesaat, tidak ada apa-apa. Lalu, sebuah kehangatan dari cincinnya, seolah merespons. Dan dari Dantian-nya, aliran Matahari Murni Qi yang hangat dan keemasan mengalir dengan sendirinya, meresap ke dalam batu melalui tangannya.
Batu itu bereaksi.
Bukan cahaya putih. Bukan hijau. Bukan biru.
Sebuah cahaya keemasan yang hangat dan dalam, seperti madu yang diterangi matahari, memancar dari inti batu. Cahayanya tidak terlalu terang—hanya seukuran buah apel—tetapi warnanya begitu murni, begitu berbeda dari yang lain sehingga seketika menarik semua perhatian. Suasana hening sepenuhnya. Bahkan Instruktur He terdiam, matanya membelalak sedikit.
Cahaya keemasan itu berdenyut pelan, selaras dengan detak jantung Ling Feng. Kemudian, sesuatu yang aneh terjadi. Di permukaan batu abu-abu, di sekitar lempengan kristal, muncul retakan-retakan rambut halus yang juga memancarkan cahaya keemasan samar, seperti akar cahaya yang menyebar.
“Batu itu… retak?” bisik salah satu murid muda, tidak percaya.
Instruktur He dengan cepat menepuk bahu Ling Feng. “Cukup! Lepaskan!”
Ling Feng menarik tangannya kembali. Saat kontak terputus, cahaya keemasan itu memudar, dan retakan-retakan halus di batu berhenti bersinar, meski bekasnya masih terlihat. Batu Penguji yang sebelumnya tak tergoyahkan kini tampak sedikit… terkikis.
Semua mata tertuju pada Ling Feng, dengan berbagai ekspresi: syok, ketidakpercayaan, kecemburuan, dan ketakutan. Cahaya keemasan? Itu tidak ada dalam kategori yang diumumkan. Apa artinya?
Instruktur He menatap Ling Feng dengan pandangan yang sama sekali baru—penuh kecurigaan, keingintahuan, dan kewaspadaan yang mendalam. “Namamu Ling Feng? Dari mana asalmu?”
“Desa Batu Hijau, di kaki Pegunungan Awan Berarak, Tuan Instruktur,” jawab Ling Feng, berusaha tenang.
“Desa terpencil,” gumam Instruktur He, seolah berbicara pada dirinya sendiri. Matanya tertuju pada cincin di jari Ling Feng, lalu pada bekas retakan di batu. “Cahaya… keemasan. Tidak biasa. Sangat tidak biasa.” Dia terdiam sejenak, seolah mempertimbangkan sesuatu. “Kualitas meridian… aneh. Tidak bisa dikategorikan. Tapi konsolidasi Qi-nya padat, sangat padat untuk levelnya.” Akhirnya, dia mengangguk, keputusannya dibuat. “Ling Feng, lulus. Bergabunglah dengan kelompok kanan. Tapi… tetap di dekatku setelah ujian.”
“Ya, Tuan Instruktur.”
Ling Feng turun dari panggung, merasakan tatapan membakar di punggungnya. Dia berjalan menuju kelompok kanan, di mana Zhang Hu dan lainnya menatapnya seperti melihat hantu. Zhang Hu sendiri tampak tercengang, ekspresi kompleks antara rasa terkejut, bingung, dan mungkin sedikit kepahitan. Bakatnya yang ‘kokoh’ tiba-tiba terasa sangat biasa dibandingkan dengan keanehan yang baru saja terjadi.
Ujian tahap pertama berlanjut, tetapi suasana telah berubah. Bisikan-bisikan tentang “cahaya emas” dan “anak desa aneh” menyebar seperti api. Beberapa peserta lain yang menghasilkan cahaya hijau atau biru (ada satu yang menghasilkan cahaya biru muda) sekarang tidak lagi menjadi pusat perhatian.
Ling Feng berdiri di kelompok kanan, berusaha terlihat biasa saja. Di dalam, pikirannya bergejolak. Cahaya keemasan. Warisan Sembilan Matahari. Ini pasti ada hubungannya. Apakah ini hal yang baik? Instruktur He tampak… waspada, bukan terkesan. Itu bisa berarti masalah.
Setelah semua peserta diuji, sekitar sepertiga dari mereka gagal dan disuruh pergi. Yang tersisa mungkin empat puluh orang. Instruktur He maju lagi.
“Tahap kedua. Uji Ketahanan dan Kemauan.” Dia menunjuk ke arah gerbang belakang penginapan yang terbuka, menuju lereng bukit curam di belakang kota. “Di puncak Bukit Bayangan Harimau, ada sebuah kuil kecil. Di sana, bendera dengan lambang sekte kami ditancapkan. Tugas kalian sederhana: ambil satu bendera, dan bawa kembali ke sini sebelum matahari terbenam.”
Dia berhenti, membiarkan kata-katanya meresap. “Tapi ingat. Ini bukan jalan biasa. Kami telah menempatkan beberapa Formasi Tekanan Spiritual dasar di sepanjang jalan. Formasi ini akan menekan jiwa dan tubuh kalian, memperberat langkah, mengaburkan pikiran. Hanya mereka dengan kemauan baja dan ketahanan fisik yang memadai yang bisa mencapai puncak. Dan…” senyum tipis yang dingin muncul di wajahnya untuk pertama kalinya, “…jumlah bendera terbatas. Hanya ada dua puluh bendera.”
Gasps terdengar. Empat puluh orang, hanya dua puluh bendera. Itu berarti setengah dari mereka akan gagal, bahkan jika mereka mencapai puncak.
“Peraturan terakhir: tidak ada pembunuhan. Cedera parah yang disengaja akan mengakibatkan diskualifikasi. Selain itu… silakan gunakan cara apa pun yang kalian anggap perlu.” Mata Instruktur He yang dingin menyapu mereka. “Dunia persilatan bukan tempat untuk orang yang baik hati. Mulai sekarang!”
Teriakan itu adalah tanda mulai. Empat puluh anak muda itu berhamburan seperti burung yang dilepaskan dari sangkar, menuju gerbang belakang. Beberapa langsung melesat dengan kecepatan penuh, berharap mendapatkan keunggulan awal. Yang lain lebih berhati-hati, menghemat tenaga.
Ling Feng tidak terburu-buru. Dia mengambil posisi di tengah-tengah kelompok, mengamati. Zhang Hu melesat dengan cepat, menggunakan kekuatan fisiknya yang baik untuk memimpin di depan. Beberapa peserta dengan cahaya hijau dan biru juga bergerak cepat, tampaknya percaya diri dengan kemampuan mereka.
Saat Ling Feng melewati gerbang dan mulai mendaki jalan setapak berbatu, dia segera merasakannya. Sebuah tekanan tak terlihat turun di pundaknya, seperti memakai jubah basah yang berat. Itu adalah tekanan spiritual. Itu tidak hanya memperberat tubuhnya, tetapi juga mencoba menyusup ke pikirannya, menanamkan rasa lelah, keraguan, dan keinginan untuk berbalik.
Dia mengerahkan Matahari Murni Qi-nya. Kehangatan yang familiar mengalir melalui meridiannya, menghalau sebagian tekanan dingin itu. Napasnya tetap stabil. Dia terus mendaki dengan langkah mantap, tidak cepat tetapi juga tidak lambat.
Jalan semakin curam. Tekanan semakin kuat. Di sekelilingnya, beberapa peserta mulai melambat, terengah-engah. Yang lain duduk, wajah mereka pucat, berjuang melawan beban di pikiran mereka.
Ling Feng terus berjalan. Metode pernapasan dari Naskah Matahari Murni ternyata sangat efektif. Setiap tarikan napas seolah membersihkan kabut dari pikirannya. Dia fokus pada langkahnya, pada kehangatan Qi-nya, pada tujuan di puncak.
Tiba-tiba, dia mendengar teriakan di depan. Sebuah belokan tajam di jalan. Di sana, tiga peserta—dua laki-laki dan satu perempuan—telah menghadang jalan, memblokirnya. Mereka adalah peserta dengan penampilan lebih baik, mungkin dari keluarga yang sama.
“Sini, anak desa,” kata salah satunya, seorang pemuda dengan hidung bengkok. “Kami lihat tadi kau istimewa. Tapi di sini, kecepatan dan kekuatan yang penting. Serahkan jubahmu dan isi kantongmu, kami biarkan kau lewat. Kalau tidak…” Dia mengangkat tongkat pendek di tangannya.
Perampokan. Tepat seperti yang diperingatkan Instruktur He. Ling Feng menghela napas. Dia tidak punya waktu untuk ini.
“Maaf, tidak ada yang bisa kuserahkan,” kata Ling Feng, terus berjalan.
“Bodoh!” Pemuda dengan hidung bengkok itu menyapu tongkatnya ke arah kepala Ling Feng.
Ling Feng tidak menghindar. Dia mengulurkan tangannya, menangkap tongkat itu tepat di tengah ayunannya. Gerakannya cepat dan tepat, didukung oleh Qi. Krak! Tongkat kayu itu patah di tangannya.
Pemuda itu terkesiap, matanya membelalak. Dua temannya juga terkejut, tetapi segera menyerang bersama.
Ling Feng bergerak. Dia menggunakan gerakan sederhana yang dia latih—tangkisan, pukulan, tendangan. Tanpa jurus yang rumit, hanya efisiensi murni yang didukung oleh Matahari Murni Qi. Dalam tiga gerakan, ketiganya terbaring di tanah, mengerang kesakitan, terkilir atau memar.
“Tekanan spiritual sudah cukup berat tanpa harus berkelahi sia-sia,” kata Ling Feng, lalu melanjutkan mendaki, meninggalkan mereka yang terkapar.
Kejadian itu dilihat oleh beberapa peserta di belakangnya, yang menjadi lebih waspada terhadapnya. Kabar tentang “anak desa kuat” mulai menyebar.
Pendakian berlanjut. Tekanan kini terasa seperti beban batu di setiap langkah. Beberapa peserta menyerah, duduk dan menangis. Yang lain merangkak. Ling Feng berkeringat, napasnya mulai berat, tetapi tekadnya tidak goyah. Dia memvisualisasikan sembilan matahari di langit, memberi kekuatan.
Saat dia mendekati puncak, dia melihat sekelompok lima orang berkelahi di depan pintu masuk kuil kecil yang bobrok. Mereka memperebutkan bendera yang terlihat di dalam. Zhang Hu ada di sana, berhadapan dengan dua orang sekaligus, wajahnya merah karena tekanan dan amarah.
Ling Feng memperlambat langkah. Hanya ada dua puluh bendera. Dan dari keributan, sepertinya sudah hampir habis. Dia perlu strategi.
Dia melihat ke sekeliling. Kuil itu di tepi tebing. Ada jalan lain, lebih curam dan berbahaya, yang mengitari tebing dan mungkin masuk dari belakang. Risiko besar, tetapi mungkin juga kurang diawasi.
Sambil memastikan tidak ada yang memperhatikan, Ling Feng menyelinap keluar dari jalan utama, merangkak di sepanjang tepi tebing yang sempit. Batu-batu longgar, angin kencang. Satu langkah salah dan dia akan jatuh. Tekanan spiritual di sini bahkan lebih kuat, seolah mencoba mendorongnya ke jurang.
Dia bergerak pelan, mantap, memusatkan pikirannya. Akhirnya, dia mencapai jendela belakang kuil yang pecah. Dari dalam, dia mendengar suara perebutan dan teriakan. Dengan hati-hati, dia mengintip.
Di dalam ruangan utama yang kecil, sekitar lima belas orang sedang berkelahi, memperebutkan bendera-bendera terakhir yang tersisa di lantai. Zhang Hu berhasil merebut satu, tetapi segera diserang oleh tiga orang. Dia bertahan dengan gigih.
Ling Feng melihat ke sudut. Di sana, di balik patung dewa yang rusak, ada sebuah bendera yang terjatuh, tidak terlihat oleh yang lain. Itu adalah kesempatannya.
Dia meluncur melalui jendela, berguling di lantai berdebu, dan meraih bendera itu. Saat tangannya menyentuh kain, sebuah suara keras terdengar.
“Hei! Satu lagi di sini!”
“Dia dapat bendera!”
Tiga peserta, yang tampaknya telah bersekutu, berbalik ke arahnya. Mereka lelah dan babak belur, tetapi masih berbahaya. Mereka mengepungnya.
“Serahkan bendera, anak desa. Kau tidak akan bisa keluar dari sini,” geram salah satunya.
Ling Feng berdiri, bendera di satu tangan, tangan lainnya kosong. Dia menarik napas dalam-dalam. Ini bukan saatnya untuk ragu. Dia mengingat jurus dari cincinnya: “Pedang Satu Matahari – Tusukan Matahari Pagi.” Dia tidak punya pedang, tapi prinsipnya sama.
Dia mengalirkan Matahari Murni Qi-nya, memusatkannya di ujung jari telunjuknya. Seluruh kesadarannya fokus pada satu titik: jalan keluar melalui kerumunan di depan pintu.
Dia bergerak. Bukan menyerang ketiganya, tetapi maju lurus, jari telunjuknya terulur seperti mata pedang. Aura-nya berubah—dari tenang menjadi tajam, menusuk, seperti sinar matahari pertama yang membelah kegelapan.
Ketiga peserta itu terkejut oleh intensitasnya, secara refleks melompat ke samping, membuka jalan. Ling Feng melesat melewati mereka, keluar dari pintu kuil, dan langsung menuruni jalan setapak.
Dia tidak berhenti. Dia berlari menuruni bukit, tekanan spiritual kini membantunya, mendorongnya turun lebih cepat. Di belakangnya, teriakan kemarahan dan langkah-langkah pengejaran, tetapi dia telah mendapatkan keunggulan.
Perjalanan turun lebih cepat tetapi juga lebih berbahaya. Dia hampir terjatuh beberapa kali. Tapi dia terus berlari, bendera terkepal erat di tangannya.
Saat matahari mulai condong ke barat, menyinari kota Baihe dengan cahaya jingga, Ling Feng akhirnya melompati gerbang belakang penginapan, terengah-engah, berkeringat, tetapi dengan bendera masih di tangannya.
Di lapangan, Instruktur He dan murid-muridnya sudah menunggu. Beberapa peserta sudah kembali, duduk atau berbaring di tanah, kelelahan. Zhang Hu ada di sana, wajahnya babak belur tetapi juga memegang bendera. Dia melihat Ling Feng, dan ekspresinya rumit—kekaguman yang tidak diakui, persaingan, dan mungkin sedikit rasa terima kasih karena Ling Feng telah mengalihkan perhatian beberapa lawan di kuil.
Ling Feng menyerahkan benderanya kepada salah satu murid. Instruktur He menatapnya lama, lalu melihat bendera itu. “Ling Feng. Bendera ketiga belas.” Dia mencatat sesuatu di buku catatannya.
Satu per satu, peserta lain kembali. Beberapa dengan bendera, wajah penuh kemenangan. Banyak yang tanpa bendera, wajah hancur. Tepat saat matahari terbenam, gerbang ditutup. Dua puluh orang dengan bendera berdiri di satu sisi. Dua puluh orang tanpa bendera di sisi lain, beberapa menangis.
“Selamat,” kata Instruktur He kepada yang memegang bendera. “Kalian dua puluh orang sekarang adalah Murid Luar Sekte Bintang Jatuh. Besok, kalian akan berangkat ke Gunung Bintang Jatuh untuk memulai pelatihan.”
Kepada yang gagal, dia hanya berkata, “Pulang. Mungkin lain kali.”
Kerumunan bubar. Yang berhasil dihibur oleh keluarga atau teman. Yang gagal pergi dengan sedih.
Ling Feng berdiri sendirian, memandangi langit jingga. Dia berhasil. Tapi ini hanya awal. Di sekte, dia akan menjadi ikan kecil di kolam yang penuh dengan ikan besar dan hiu. Dan ada rahasianya, cincinnya, cahaya keemasan itu…
Saat dia berbalik untuk menuju penginapan yang disediakan untuk murid baru, dia melihat Instruktur He memberinya isyarat. “Ling Feng. Ikut aku. Kita perlu bicara.”
Jantung Ling Feng berdebar kencang. Saatnya menghadapi konsekuensi dari keanehannya. Dia mengangguk, mengikuti Elder itu ke dalam ruangan yang sepi, tidak tahu apa yang menunggunya di balik pintu itu.