Bab 4: Bayangan di Balik Cahaya

Ukuran:
Tema:

Ruangan yang dimasuki Ling Feng kecil dan sederhana, hanya berisi sebuah meja kayu, dua bangku, dan sebuah rak berisi gulungan-gulungan naskah. Satu jendela kecil terbuka, memungkinkan angin sore yang sejuk masuk bersama sisa-sisa cahaya jingga. Instruktur He duduk di salah satu bangku, menatap Ling Feng dengan ekspresi yang tak terbaca.

“Duduk,” katanya, suaranya datar.

Ling Feng duduk di bangku di seberangnya, berusaha menjaga napasnya tetap tenang. Tangannya dengan sadar diletakkan di pangkuan, cincin perunggu kusam itu terlihat biasa saja.

“Ling Feng. Desa Batu Hijau.” Instruktur He membuka sebuah buku catatan kulit tipis. “Orang tua angkat, Chen Bo dan Chen Sao, penebang dan penganyam. Tidak ada catatan tentang orang tua kandungmu. Tidak ada latar belakang seni bela diri.” Dia menatap Ling Feng. “Sampai lima hari yang lalu, menurut laporan Zhang Hu—yang juga sekarang murid luar—kau masih seorang pemuda lemah di tingkat Prajurit Besi Lapis 1, target ejekan.”

Ling Feng diam. Tidak ada gunanya menyangkal fakta yang diketahui umum.

“Lalu,” lanjut Instruktur He, menutup buku catatannya, “dalam lima hari, kau tidak hanya melompat beberapa tingkat, tetapi juga menghasilkan cahaya keemasan di Batu Penguji—sesuatu yang belum pernah saya lihat dalam dua puluh tahun menguji murid. Dan kau bertahan dengan baik dalam Formasi Tekanan Spiritual, bahkan mengalahkan beberapa pesaing yang secara teori lebih berpengalaman.” Dia menyandarkan tubuhnya ke belakang. “Jelaskan.”

Tekanan di ruangan itu terasa lebih berat daripada tekanan spiritual di Bukit Bayangan Harimau. Ini adalah tekanan dari seorang Master yang berpengalaman, yang matanya seolah bisa mengupas lapisan terluar kebohongan.

Ling Feng telah mempersiapkan jawaban. Sebagian kebenaran, disamarkan. “Tuan Instruktur, lima hari yang lalu, saat mengumpulkan kayu bakar di hutan, saya diserang oleh Serigala Besi. Dalam keadaan panik dan hampir mati, sesuatu di dalam diri saya… terbuka. Seperti bendungan yang jebol. Qi yang selama ini selalu hilang tiba-tiba membanjiri tubuh saya. Saya tidak mengerti bagaimana atau mengapa. Saya hanya tahu sejak saat itu, saya bisa merasakan dan mengendalikan Qi.”

Itu adalah kebenaran—hanya saja menghilangkan bagian tentang cincin dan kilasan sembilan matahari.

Instruktur He mengamatinya dengan cermat, seolah mencari celah dalam ceritanya. “Pengalaman mendekati kematian terkadang bisa memicu potensi tersembunyi,” gumamnya, seolah setengah mempercayainya. “Tapi cahaya keemasan… itu bukan sekadar potensi tersembunyi biasa. Itu menunjukkan kualitas meridian yang sangat aneh, mungkin bahkan… terlahir kembali.”

Dia berdiri, berjalan mendekati jendela. “Di dunia persilatan, ada legenda tentang ‘Bakat Terkunci’ atau ‘Fisik Istimewa’ yang hanya terbuka dalam kondisi tertentu. Ada yang menyebutnya ‘Darah Naga Tertidur’, ‘Bakat Langit Tertutup’, atau… ‘Warisan Tersegel’.” Dia menoleh, matanya menatap tajam ke arah Ling Feng. “Apakah kamu menemukan sesuatu di hutan? Sebuah benda? Sebuah pusaka?”

Ling Feng merasakan keringat dingin di punggungnya. Instingnya berteriak untuk berhati-hati. “Saya… saya menemukan cincin ini,” katanya, mengangkat tangannya. “Tapi itu hanya cincin tua yang kusam. Saya memakainya karena pas di jari.” Itu juga kebenaran, hanya bukan kebenaran seutuhnya.

Instruktur He mendekat, memeriksa cincin itu dari dekat. Dia bahkan mengulurkan tangan, seolah ingin menyentuhnya, tetapi berhenti. “Biasa saja. Tidak ada aura energi.” Dia menghela napas. “Mungkin memang hanya kebetulan. Atau mungkin, benda itu telah kehilangan kekuatannya setelah mengaktifkan bakatmu.”

Dia kembali ke bangkunya. “Ling Feng, dengarkan baik-baik. Apa pun yang terjadi padamu, itu telah menarik perhatian. Perhatian yang tidak selalu baik. Di Sekte Bintang Jatuh, ada ratusan murid luar, puluhan murid inti, dan belasan elder. Tidak semua dari mereka berhati baik. Beberapa akan melihatmu sebagai ancaman. Yang lain akan melihatmu sebagai… kesempatan.”

Kata terakhir diucapkan dengan penekanan yang membuat bulu kuduk Ling Feng berdiri.

“Kesempatan?” tanyanya, berusaha terdengar polos.

“Untuk mempelajari rahasiamu. Untuk mengambil apa pun yang membuatmu ‘istimewa’. Atau, jika tidak bisa mengambilnya, untuk menghancurkannya sebelum kamu menjadi terlalu kuat.” Instruktur He menatapnya langsung. “Kamu adalah anak desa yang tidak tahu apa-apa tentang dunia persilatan yang sebenarnya. Di sini, hukum rimba sering kali berlaku. Yang kuat memangsa yang lemah. Dan saat ini, terlepas dari keanehanmu, kamu masih sangat lemah.”

Ling Feng menelan ludah. Peringatan itu jelas dan menakutkan.

“Karena itu,” lanjut Instruktur He, “saya akan memberimu dua pilihan. Pertama: kamu bisa mundur. Kembali ke desamu. Hidup dengan tenang. Dengan bakatmu yang baru terbuka, kamu mungkin bisa menjadi penjaga desa yang baik, menikahi gadis lokal, hidup bahagia.”

“Dan pilihan kedua?” tanya Ling Feng, sudah tahu jawabannya.

“Pilihan kedua: kamu tetap menjadi murid luar. Tapi kamu harus menyembunyikan keanehanmu. Jangan pernah menunjukkan cahaya keemasan itu lagi. Jangan menunjukkan kemajuan yang terlalu cepat. Bertingkahlah seperti murid biasa dengan bakat sedikit di atas rata-rata—cahaya hijau muda, misalnya. Latihlah teknik dasar sekte dengan tekun, tapi jangan menonjol. Cari pelindung, atau setidaknya, jangan membuat musuh.” Suara Instruktur He menjadi rendah. “Dan… jangan percaya pada siapa pun. Termasuk saya.

Ling Feng terkejut. Seorang elder sekte memperingatkannya untuk tidak mempercayai dirinya sendiri?

Instruktur He tersenyum tipis, sinis. “Saya adalah Instruktur He. Tugas saya adalah menemukan bakat untuk sekte dan memastikan mereka tidak mati terlalu cepat. Saya memberi nasihat ini karena seorang murid yang mati atau hilang adalah pemborosan sumber daya sekte. Tapi motivasi orang lain… bisa berbeda.”

Dia berdiri lagi, menandakan percakapan hampir berakhir. “Pikirkan baik-baik. Beri tahu saya keputusanmu besok pagi sebelum kita berangkat. Sekarang, pergilah. Bergabunglah dengan yang lain. Tapi ingat, dari sekarang, setiap kata, setiap tindakanmu, diawasi.”

Ling Feng berdiri, memberi hormat singkat. “Terima kasih atas nasihatnya, Tuan Instruktur.”

Dia meninggalkan ruangan, pikirannya bergejolak. Peringatan Instruktur He mengkonfirmasi ketakutannya yang paling dalam. Dunia ini berbahaya. Cincin dan warisannya adalah pedang bermata dua—memberi kekuatan, tetapi juga menarik bahaya.

Di ruang utama penginapan, dua puluh murid luar yang berhasil berkumpul. Mereka diberi makan malam sederhana—nasi, sayuran, dan sepotong kecil daging—dan tempat tidur di ruang besar beralas jerami. Suasana tegang. Persaingan dari ujian masih terasa. Kelompok-kelompok kecil sudah terbentuk berdasarkan asal daerah atau kesamaan selama ujian.

Zhang Hu duduk sendirian di sudut, memeriksa memar di lengannya. Dia melihat Ling Feng masuk dan mengangguk singkat. Ling Feng membalas anggukan, lalu mengambil piringnya dan duduk di tempat yang agak terpisah.

“Dia itu yang cahaya emas, kan?” bisik seseorang.
“Dengar-dengar dia curang.”
“Atau mungkin dia makan pil terlarang…”
Bisikan-bisikan itu sampai ke telinga Ling Feng. Dia mengabaikannya, fokus pada makanannya. Tapi di dalam, api kecil kemarahan menyala. Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka hanya iri.

Tapi kemudian, dia ingat nasihat Instruktur He. Jangan menonjol. Kemarahan itu padam, digantikan oleh kewaspadaan dingin. Dari sekarang, dia harus berakting. Menjadi biasa saja.

Malam itu, saat yang lain tidur, Ling Feng duduk bersila di atas alas jeraminya, berlatih peredaran Qi dengan metode Naskah Matahari Murni. Tapi kali ini, dia mencoba sesuatu yang baru. Dia mencoba menyembunyikan aura Qi-nya, membuatnya terasa lebih redup, lebih biasa. Seperti menutupi api unggun yang terang dengan selimut tebal. Itu sulit. Matahari Murni Qi secara alami bersifat terang dan perkasa. Tapi dengan konsentrasi penuh, dia bisa meredamnya, membuatnya terasa seperti Qi biasa yang hangat.

Dia juga berlatih jurus tusukan dasar dari “Pedang Satu Matahari”, tetapi hanya dalam pikirannya, tanpa gerakan fisik. Dia harus berhati-hati. Tidak bisa berlatih secara terbuka.

Saat fajar menyingsing, Ling Feng telah membuat keputusannya. Dia akan tetap. Kembali ke desa berarti menyerah. Berarti hidup dalam ketakutan akan rahasianya sendiri. Di sekte, setidaknya ada struktur, ada kesempatan untuk belajar, untuk menjadi kuat dengan benar. Dan dengan kekuatan yang cukup, barulah dia bisa melindungi dirinya sendiri dan orang yang dia sayangi.

Dia menemui Instruktur He sebelum berkumpul untuk berangkat. “Saya memilih untuk tetap, Tuan Instruktur. Dan saya akan mengikuti nasihat Anda.”

Instruktur He mengamatinya sejenak, lalu mengangguk. “Pilihan yang berani. Atau bodoh. Waktu yang akan membuktikan.” Dia memberikan sebuah jubah abu-abu sederhana—jubah murid luar Sekte Bintang Jatuh—dan sebuah token kayu dengan ukiran bintang jatuh. “Ini identitasmu. Jaga baik-baik. Kita berangkat sekarang.”


Perjalanan ke Gunung Bintang Jatuh memakan waktu dua hari dengan berjalan kaki. Dua puluh murid luar baru, ditemani oleh Instruktur He dan dua murid inti sebagai pengawal, berjalan dalam formasi longgar. Pemandangan berubah dari dataran rendah sekitar kota prefektur menjadi perbukitan, lalu pegunungan.

Ling Feng berjalan di tengah kelompok, tidak di depan juga tidak di belakang. Dia berbicara sedikit, hanya menjawab jika ditanya. Dia mengamati rekan-rekannya. Beberapa masih sombong, beberapa masih takut, beberapa sudah mulai membentuk ikatan. Zhang Hu berjalan di depan, terkadang melirik ke belakang ke arah Ling Feng dengan ekspresi yang masih sulit dibaca.

Pada hari kedua, mereka akhirnya tiba di tujuan. Gunung Bintang Jatuh tidak terlalu tinggi, tetapi curam dan dipenuhi hutan lebat. Di lerengnya, terlihat kumpulan bangunan-bangunan atap genting yang tersebar: asrama, aula latihan, paviliun, dan di puncaknya, sebuah kompleks bangunan yang lebih megah—tempat para elder dan murid inti tinggal.

“Mari kita naik,” kata Instruktur He. “Kompleks Murid Luar ada di bagian tengah lereng.”

Mereka mulai mendaki tangga batu yang sudah aus. Ling Feng merasakan perbedaan konsentrasi Qi di sini. Lebih kaya, lebih murni daripada di desa atau bahkan di kota. Tempat yang bagus untuk kultivasi.

Sesampainya di kompleks Murid Luar, mereka disambut oleh seorang murid inti yang lebih tua, yang memperkenalkan diri sebagai Senior Brother Wang. Dia membawa mereka berkeliling: asrama pria dan wanita yang terpisah (ada enam murid perempuan di antara mereka), balai makan, perpustakaan dasar, dan yang paling penting, Lapangan Latihan Pusat dan Aula Teknik Dasar.

“Sebagai murid luar, tugas kalian sederhana,” kata Senior Brother Wang dengan suara bosan, seolah telah mengucapkan ini ribuan kali. “Pagi: latihan fisik dan dasar seni bela diri di Lapangan Pusat. Siang: mengerjakan tugas yang diberikan—bisa berkebun obat, membersihkan, membantu di dapur, atau menjaga hewan. Sore: waktu belajar pribadi—kultivasi atau mempelajari teori di perpustakaan. Kalian akan mendapat jatah 3 butir Pil Qi Rendah per bulan, dan akses ke Ruang Kultivasi Umum di mana konsentrasi Qi sedikit lebih tinggi.”

Dia berhenti, memandangi mereka dengan tatapan tidak ramah. “Ingat. Kalian adalah yang terbawah. Murid inti adalah atasan kalian. Elder adalah dewa. Jangan melanggar aturan. Jangan membuat masalah. Kemajuan kalian tergantung pada usaha dan bakat kalian sendiri. Sekte tidak akan menyia-nyiakan sumber daya pada yang tidak berbakat.”

Setelah pengarahan, mereka dibagi ke dalam asrama. Ling Feng sekamar dengan tiga orang lain: seorang pemuda kurus bernama Li Wei yang berasal dari keluarga pedagang, seorang pemuda pendiam bernama Zhao Feng dengan tatapan tajam, dan… Zhang Hu.

Zhang Hu memasuki kamar, melemparkan bungkusan kecilnya ke tempat tidur yang dipilihnya, lalu menatap Ling Feng. “Tampaknya kita ditakdirkan untuk bersama, Ling Feng.”

Ling Feng hanya mengangguk, mulai membereskan tempat tidurnya yang di sudut.

“Mengapa kau memilih tempat yang paling jauh dari pintu?” tanya Li Wei, yang cerewet. “Kalau ada yang mau keluar malam, kau akan terganggu.”

“Lebih tenang,” jawab Ling Feng singkat.

Malam pertama di sekte berlalu dengan tenang. Keesokan harinya, pelatihan dimulai.

Lapangan Latihan Pusat luas, diisi oleh puluhan murid luar lainnya—yang baru dan yang sudah setahun atau dua tahun lebih senior. Seorang Instruktur lain, yang dikenal sebagai Instruktur Gao—seorang wanita berusia empat puluhan dengan wajah keras—memimpin latihan.

“Semua, berdiri dalam formasi! Hari ini kita akan melatih Jurus Dasar Bintang Jatuh: Pukulan Bintang Turun!” teriaknya.

Ling Feng mengikuti instruksi. Jurusnya sederhana: sebuah pukulan lurus ke depan dengan putaran pergelangan tangan di akhir untuk menambah kekuatan. Tapi detailnya rumit: posisi kaki, pernapasan, aliran Qi melalui meridian lengan tertentu.

Dia berlatih dengan tekun, tetapi dengan sengaja membuat gerakannya sedikit kaku, kekuatannya sedikit kurang. Dia ingin terlihat seperti seorang pemula yang berbakat rata-rata, persis seperti yang disarankan Instruktur He. Di sekelilingnya, beberapa murid baru lain berjuang. Zhang Hu, dengan fondasi fisiknya yang kuat, cepat menguasai gerakan dasarnya, meski aliran Qi-nya masih kasar.

Saat istirahat, Instruktur Gao berjalan di antara barisan, mengoreksi postur. Saat dia sampai di depan Ling Feng, dia mengamatinya sejenak. “Kakimu terlalu lebar. Pinggangmu kaku. Kendurkan. Rasakan Qi-mu, alirkan ke lenganmu.”

Ling Feng mengoreksi dirinya, dengan sengaja membuat aliran Qi-nya terasa lemah dan tidak teratur. Instruktur Gao mengangguk, tidak terkesan, lalu berjalan terus.

Latihan berlanjut selama dua jam. Setelah itu, mereka diberi tugas. Ling Feng mendapat tugas berkebun di Kebun Obat Murid Luar, sebuah area kecil di belakang kompleks yang ditanami tanaman obat dasar. Tugasnya sederhana: menyiangi, menyiram, dan memastikan tidak ada hama.

Saat dia bekerja, sendirian di antara bedengan tanaman, dia merasakan sesuatu. Sebuah tatapan. Dia berpura-pura membungkuk untuk menyiangi, lalu melirik sekeliling. Di balik pohon di pinggir kebun, berdiri seorang murid luar yang lebih senior. Pria itu berusia sekitar delapan belas atau sembilan belas tahun, dengan wajah kurus dan mata yang licik. Dia menatap Ling Feng dengan minat yang tidak menyenangkan, seperti pedagang yang menilai ternak.

Ling Feng ingat kata-kata Instruktur He. Beberapa akan melihatmu sebagai kesempatan.

Dia terus bekerja, berpura-pura tidak menyadari. Tapi di dalam, kewaspadaannya mencapai puncak. Orang itu akhirnya pergi, tetapi Ling Feng tahu: itu bukan yang terakhir kali dia melihatnya.

Sore hari, dia pergi ke Perpustakaan Dasar. Ruangannya kecil, berisi rak-rak dengan gulungan-gulungan tentang teori Qi dasar, pengenalan tanaman obat, sejarah sekte, dan beberapa teknik seni bela diri tingkat paling dasar. Murid luar hanya diizinkan meminjam satu gulungan per minggu.

Ling Feng memilih sebuah gulungan berjudul “Dasar-Dasar Sirkulasi Qi dan 12 Meridian Utama”. Meskipun Naskah Matahari Murni-nya jauh lebih tinggi, dia butuh pengetahuan dasar yang ‘resmi’ untuk menyamarkan kemampuannya.

Saat dia hendak keluar, dia bertemu dengan Zhang Hu di pintu.
“Belajar keras, ya?” kata Zhang Hu, suaranya datar.
“Seperti kita semua,” jawab Ling Feng.
Zhang Hu mengangguk. “Aku dengar… ada beberapa senior yang suka ‘menguji’ murid baru. Terutama yang menonjol.” Dia menatap Ling Feng. “Kau sudah menarik perhatian. Hati-hati.”

Itu adalah peringatan. Tidak ramah, tetapi juga tidak bermusuhan. Mungkin Zhang Hu merasa berhutang budi, atau mungkin dia hanya tidak ingin melihat sesama orang dari wilayahnya dipermalukan.

“Terima kasih,” kata Ling Feng. Zhang Hu mengangguk lagi, lalu pergi.

Malam itu, di kamarnya saat yang lain tidur, Ling Feng akhirnya punya waktu untuk dirinya sendiri. Dia duduk bersila, masuk ke dalam kesadarannya, dan ‘membuka’ ruang di dalam cincin.

Naskah Matahari Murni masih ada. Tapi kali ini, ada lebih banyak. Sebuah gambar baru muncul: diagram tubuh manusia dengan jalur meridian yang bersinar, berbeda dari 12 meridian utama yang standar. Ini adalah 8 Meridian Ajaib tambahan yang dibuka oleh metode Matahari Murni. Membukanya akan meningkatkan kapasitas Qi dan kontrol secara drastis.

Dan ada lagi. Sebuah latihan fisik statis: “Postur Matahari Tengah Hari”. Lebih sulit dari “Sikap Matahari Terbit”, bertujuan untuk memadatkan Qi di Dantian dan memperkuat tulang serta otot.

Ling Feng mulai berlatih, perlahan, diam-diam, di atas tempat tidurnya. Kehangatan mengalir, membuka jalur-jalur baru yang sempit. Rasanya seperti memperluas rumah yang sempit menjadi istana.

Tiba-tiba, dia mendengar suara langkah kaki pelan di luar kamar. Lalu, sesuatu meluncur di bawah pintu—sebuah potongan kertas kecil.

Dengan hati-hati, Ling Feng mengambilnya. Di atasnya, tertulis coretan kasar:

“Anak baru. Kau yang cahaya emas, kan? Aku ingin bertemu. Besok malam, setelah jam malam, di belakang Gudang Peralatan Lama. Datang sendirian. Ada hal yang ingin kita bicarakan… tentang masa depanmu di sini.”

Tidak ada tanda tangan. Hanya ancaman terselubung dan janji samar.

Ling Feng meremas kertas itu, hatinya berdebar. Ini datang lebih cepat dari yang dia kira. Dia melihat ke arah tempat tidur Zhang Hu. Apakah ini terkait dengan peringatannya?

Dia memutuskan. Dia akan pergi. Tapi tidak sendirian, dan tidak tanpa persiapan. Instruktur He berkata jangan percaya siapa pun. Tapi dia juga berkata, cari pelindung atau jangan buat musuh. Mungkin ada cara lain.

Dia merencanakan. Besok, dia akan mengamati Gudang Peralatan Lama di siang hari. Dia akan mencari jalan keluar alternatif. Dan dia akan… membawa ‘teman’.

Dia melihat ke arah Li Wei yang sedang mendengkur dan Zhao Feng yang tidur tenang. Bukan mereka. Lalu, matanya tertuju pada Zhang Hu. Zhang Hu kuat, punya alasan untuk tidak menyukai intimidasi senior, dan meski hubungan mereka rumit, setidaknya mereka punya ikatan asal daerah.

Besok, dia akan mendekati Zhang Hu. Tapi untuk sekarang, dia perlu berlatih. Dia perlu menjadi lebih kuat. Dengan tekad baru, dia kembali ke latihan Postur Matahari Tengah Hari, kehangatan Qi-nya bersinar seperti bara di kegelapan, siap menghadapi badai yang akan datang.