Bab 8: Langkah Pertama ke dalam Kegelapan
Malam berikutnya, langit diselimuti selimut awan tebal, menyembunyikan bulan dan bintang-bintang. Kegelapan itu nyaris sempurna, hanya diterangi oleh cahaya samar dari lentera spiritual yang tergantung di jalan-jalan setapak sekte. Suasana itu cocok untuk niat rahasia mereka.
Ling Feng dan Zhang Hu telah melakukan persiapan sepanjang hari. Mereka menggunakan poin kontribusi mereka yang sedikit untuk membeli ransum perjalanan kering—kue beras keras dan daging asap—dan mengisi kantong air kulit mereka dari mata air. Mereka menyembunyikan jimat pelindung kertas di dalam ikat pinggang mereka, dan botol ramuan pemulihan di dalam lipatan jubah mereka. Peta kulit kasar, setelah dipelajari berulang-ulang, telah dihafal dan kemudian dibakar, abunya disebarkan ke angin. Mereka tidak bisa meninggalkan bukti.
Mereka memberitahu Li Wei dan Zhao Feng bahwa mereka akan pergi ke “Ruang Kultivasi Umum” untuk meditasi semalam penuh, sebuah alasan yang masuk akal mengingat tekanan untuk meningkatkan level. Zhao Feng hanya mengangguk, tatapan abu-abunya yang dingin seolah-olah menembus kepalsuan mereka, tetapi dia diam. Li Wei, dengan polosnya, berharap mereka sukses.
Saat lonceng malam kedua berdentang, menandakan pergantian jaga, mereka menyelinap keluar dari asrama. Mereka menghindari jalan setapak utama, menyusuri jalur-jalur kecil di antara bangunan-bangunan, menggunakan bayangan sebagai sekutu. Mereka mencapai bagian belakang dinding batu besar yang mengelilingi kompleks Kebun Jamur. Di sini, di bawah naungan pohon willow raksasa yang daunnya menjuntai seperti tirai, terdapat celah yang mereka temukan beberapa hari sebelumnya—sebuah retakan di fondasi batu, tersembunyi oleh akar dan semak belukar, yang cukup besar untuk dilalui seorang pemuda kurus.
Dengan hati-hati, mereka merangkak melewatinya. Batu yang dingin menggesek punggung mereka. Kemudian, tiba-tiba, mereka berada di luar.
Angin malam bertiup lebih kencang di sini, membawa aroma pinus dan tanah lembab. Di depan mereka membentang lereng bukit yang curam, ditutupi hutan lebat yang membentang hingga ke kaki gunung yang lebih jauh. Di kejauhan, dua puncak bergerigi—Cakar Naga Terbang—tercakup oleh kabut malam, seperti raksasa yang sedang tidur.
“Ini dia,” bisik Zhang Hu, suaranya tegang namun bersemangat.
Mereka tidak membuang waktu. Menggunakan kompas primitif yang mereka dapatkan dari pasar bawah tanah, mereka menuju ke timur laut, mengikuti kontur lereng bukit dan menghindari jalan setapak yang mungkin digunakan patroli sekte. Perjalanan pertama mereka di dunia yang lebih luas ini dilakukan dalam keheningan yang tegang, hanya diselingi oleh suara napas mereka sendiri, derit ranting di bawah kaki, dan teriakan jauh burung hantu atau binatang buas kecil.
Ling Feng memimpin, indra barunya yang diperkuat oleh Titik Gerbang Jiwa yang terbuka terus menerus memindai lingkungan. Dia bisa merasakan aliran Qi di sekitarnya—arus lembut dan tenang dari pohon-pohon dan tanaman, pusaran yang lebih kuat di sekitar batu-batu tertentu, dan sesekali, kilatan energi yang lebih ganas dan liar yang menandakan keberadaan binatang buas spiritual. Mereka menghindari yang terakhir dengan hati-hati.
Setelah berjalan sekitar empat jam, saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur, mereka mencapai sebuah sungai kecil yang berkelok-kelok di dasar lembah. Airnya jernih dan dingin, memancarkan kabut tipis yang berkilauan di cahaya fajar yang pertama. Mereka beristirahat sejenak, minum dan mengisi ulang kantong air mereka.
“Kita sudah setengah jalan menuju perbatasan Taman,” kata Zhang Hu, memeriksa kembali arah mereka dengan kompas. “Tapi bagian tersulit akan dimulai. Menurut peta, area perbatasan dipenuhi dengan jebakan alam—rawa gas beracun, tanah yang tidak stabil, dan… ‘Hutan Berduri Berpikir’.”
“Berduri Berpikir?” tanya Ling Feng.
“Tanaman predator. Mereka bereaksi terhadap getaran Qi. Jika kita melewatinya dengan mengeluarkan terlalu banyak Qi, mereka akan menyerang.”
Ling Feng mengangguk. Itu akan menjadi ujian pertama bagi kemampuannya untuk mengendalikan dan menyembunyikan aura Qi-nya sepenuhnya. Dia menutup matanya, menarik napas, dan secara internal mengunci lautan Qi Emas di dalam dantiannya, membungkusnya dengan lapisan isolasi yang dia pelajari dari Naskah Matahari Murni. Aura eksternalnya memudar hingga hampir tidak terdeteksi, membuatnya terlihat seperti orang biasa yang lemah.
Zhang Hu, yang tidak memiliki metode penyembunyian seperti itu, hanya bisa berharap bahwa aura Qi tahap awalnya yang lemah tidak akan memicu reaksi.
Mereka melanjutkan perjalanan, sekarang lebih berhati-hati. Udara di sekitar mereka berubah, menjadi lebih berat, lebih lembab, dan berbau seperti bunga busuk dan tanah basah. Pepohonan menjadi lebih aneh, dengan batang bengkok dan daun berwarna ungu tua. Di tanah, tumbuhan merambat berduri dengan duri sepanjang jari merayap di antara lumut.
Inilah Hutan Berduri Berpikir.
Mereka melangkah perlahan, menghindari menyentuh tanaman merambat. Ling Feng memimpin, setiap langkahnya diukur dan ringan. Tiba-tiba, Zhang Hu menginjak ranting kering. Suara retaknya, meski kecil, bergema di keheningan yang menyesakkan.
Tanaman merambat di sekitar mereka bergerak.
Bukan gerakan lambat dari tanaman, tetapi sentakan cepat seperti ular yang disambar. Beberapa sulur berduri melesat ke arah Zhang Hu, mengeluarkan suara mendesis yang aneh. Zhang Hu mengutuk, melompat mundur, dan menghunus pedang kayu latihannya. Dia menebas, memotong satu sulur, tetapi dua lainnya membelit pergelangan kakinya. Duri-duri itu menusuk kulitnya, dan dia menjerit kesakitan.
Ling Feng bergerak. Tanpa mengeluarkan Qi-nya, dia mengandalkan kecepatan dan ketepatan fisik murni yang telah ditempa oleh kultivasinya. Pedang kayunya berdesing, membentuk jejak cahaya tipis di udara yang redup. Dia memotong sulur-sulur yang membelit Zhang Hu dengan sekali tebasan, lalu dengan gerakan berputar, dia memotong beberapa sulur lain yang mendekat.
“Jangan keluarkan Qi!” desisnya keras.
Tanaman merambat, kehilangan mangsanya, menggeliat-geliatal di tanah untuk sesaat sebelum perlahan-lahan menarik diri, seolah-olah kecewa. Zhang Hu, wajahnya pucat, merobek potongan tanaman merambat yang masih menempel di kulitnya. Bekas tusukan duri berwarna hitam dan berdenyut nyeri.
“Racun,” gerutnya, menggigit bibirnya.
Ling Feng dengan cepat mengeluarkan botol ramuan pemulihan. Dia menuangkan setetes ke atas luka Zhang Hu. Cairan bening itu berdesis saat menyentuh kulit yang terluka, mengeluarkan asap hitam tipis. Warna hitam di sekitar luka memudar, dan Zhang Hu menghela napas lega.
“Terima kasih,” katanya, suaranya serak.
“Kita harus terus bergerak. Racunnya mungkin hanya dinetralisir sebagian.”
Mereka mempercepat langkah mereka, sekarang hampir berlari melalui sisa hutan aneh itu. Tanaman merambat terus menggeliat di sekitar mereka, tetapi tanpa ledakan Qi yang kuat sebagai pemicu, mereka tampak bingung, hanya melakukan serangan acak yang mudah dihindari.
Akhirnya, mereka keluar dari hutan. Di depan mereka terbentang pemandangan yang menakjubkan dan menakutkan.
Taman Spirit Terlarang.
Itu adalah cekungan luas yang diapit oleh dua puncak curam Cakar Naga Terbang. Namun, lanskap di dalamnya tampak seperti dunia lain. Area-area dengan vegetasi subur dan warna-warna cerah bersebelahan dengan zona-zona gersang di mana batu-batu memancarkan cahaya redup yang tidak wajar. Kabut berwarna—hijau, ungu, kuning—melayang di atas bagian-bagian tertentu, bergerak dengan kemauannya sendiri. Di kejauhan, mereka bisa melihat air terjun yang memancarkan cahaya pelangi, dan di sisi lain, bukit tandus dengan bebatuan merah seperti darah.
Dan Qi… Qi di sini sangat padat, liar, dan kacau. Itu berputar-putar di udara seperti arus yang tak terlihat, terkadang terasa manis dan memabukkan, terkadang tajam dan mengancam. Menghirupnya terasa seperti menghirup cairan kehidupan yang belum diolah.
“Surga… dan neraka,” gumam Zhang Hu, terpesona.
Ling Feng merasakan Qi Matahari Murni di dalam dirinya bergolak dengan penuh semangat, seolah-olah merespons lingkungan yang kaya energi ini. Dia menarik napas dalam-dalam, dan meskipun kekacauannya, dia bisa merasakan berkas-berkas energi Matahari yang hangat dan murni yang berasal dari arah Bukit Matahari Terbenam di sebelah barat.
“Kita tidak punya waktu untuk takjub,” kata Ling Feng, memaksakan dirinya untuk fokus. “Kita menuju Bukit Matahari Terbenam. Berhati-hatilah dengan binatang buas.”
Mereka turun ke cekungan, berjalan di sepanjang tepi hutan aneh untuk menghindari area terbuka. Mereka tidak perlu menunggu lama untuk menemui penghuni Taman.
Sekelompok makhluk seukuran anjing, dengan tubuh berbulu abu-abu dan mata merah menyala, muncul dari semak-semak. Mereka memiliki taring panjang dan cakar yang bercahaya samar dengan energi. Serigala Kabut, binatang buas spiritual tahap awal yang dikenal akan kecepatan dan kekuatan gigitannya yang mampu merobek batu.
Ada enam dari mereka. Mereka mengelilingi kedua pemuda itu, menggeram rendah, air liur menetes dari moncong mereka.
Ling Feng dan Zhang Hu saling membelakangi. “Jangan gunakan teknik sekte,” instruksikan Ling Feng. “Gunakan dasar-dasarnya saja. Dan jimat… siapkan.”
Serigala-serigala itu menyerang sekaligus, melompat dengan kecepatan yang mengaburkan pandangan. Zhang Hu meneriakkan pekikan perang dan menebas, menangkis satu serigala dengan getaran keras. Yang lain menerjangnya, dan dia menggunakan Jimat Bumi Kokoh-nya. Sebuah perisai cahaya kuning muda muncul di sekelilingnya sesaat sebelum cakar menyentuh, menahan serangan itu dengan suara gemeretak. Jimat itu retak dan menjadi gelap—sudah habis.
Ling Feng bergerak berbeda. Dia tidak menggunakan jimatnya. Saat dua serigala menerjangnya, dia meluncur di antara mereka dengan kelincahan yang tidak manusiawi, pedang kayunya berputar. Dia tidak menebas dengan kekuatan kasar, tetapi dengan ketepatan yang mematikan, menebas tendon belakang satu serigala dan menusuk mata yang lain. Serigala pertama terhuyung-huyung dengan kaki belakang yang tidak berfungsi, sementara yang lain menjerit kesakitan dan mundur.
Dia merasakan panas di dadanya. Pertempuran, bahaya, memicu sesuatu di dalam Naskah Matahari Murni. Qi-nya ingin meledak keluar, ingin membakar musuh-musuhnya menjadi abu. Tapi dia menahannya. Kontrol. Penyamaran.
Dia terus bergerak, menjadi badai ketenangan yang mematikan. Setiap gerakannya efisien, setiap serangan tepat sasaran. Dalam satu menit, tiga serigala terbaring di tanah, terluka atau sekarat, sementara tiga lainnya, termasuk yang terluka, melarikan diri dengan ekor di antara kaki mereka, geram ketakutan.
Ling Feng berdiri di tengah kekacauan, napasnya sedikit berat. Pedang kayunya retak dan hampir patah. Zhang Hu menatapnya, terkesima dan sedikit ngeri.
“Kau… kau bahkan tidak menggunakan Qi,” desis Zhang Hu.
“Tidak perlu,” jawab Ling Feng singkat. Dia berlutut di samping salah satu serigala yang sekarat. Di dalam dada binatang itu, dia bisa merasakan inti kecil energi—Spirit Beast Core grade rendah. Dengan pisau kecil, dia mengeluarkannya. Batu kerikil berwarna abu-abu keruh yang memancarkan kehangatan. Nilainya mungkin setara dengan beberapa Spirit Stones. Dia mengumpulkan dua lainnya.
“Ini sudah sepadan dengan perjalanan kita,” kata Zhang Hu, sedikit terhibur.
“Belum,” balas Ling Feng, matanya tertuju pada Bukit Matahari Terbenam di kejauhan. “Ayo.”
Mereka melanjutkan perjalanan, sekarang lebih waspada. Mereka menghindari kabut berwarna, menyadari bahwa menghirupnya menyebabkan pusing dan halusinasi ringan. Mereka menyebrangi sungai kecil yang airnya berkilauan seperti cairan perak, merasakan energi Yin yang menusuk tulang. Akhirnya, saat matahari mulai turun di langit barat, memberikan pemandangan Taman dengan cahaya keemasan yang dramatis, mereka mencapai kaki Bukit Matahari Terbenam.
Bukit itu sendiri adalah formasi aneh. Tanahnya berwarna kemerahan, dan bebatuan yang tersebar memancarkan kehangatan yang nyata bahkan dari kejauhan. Vegetasi jarang, hanya terdiri dari semak-semak berduri yang tampak seperti karang dan bunga-bunga kecil berwarna oranye menyala yang mekar hanya di bawah sinar matahari langsung.
Dan di sana, tertanam di sisi bukit, mereka melihatnya. Sebuah bongkahan batu sebesar kepalan tangan, berwarna jingga tua dengan urat-urat emas, memancarkan panas dan cahaya yang terang seperti bara api kecil. Batu Api Matahari.
Tapi di antara mereka dan batu itu, berbaring di atas batu datar yang menghadap ke barat, ada seekor makhluk.
Itu adalah kadal besar, panjangnya sekitar dua meter, dengan sisik berwarna merah tembaga yang memantulkan cahaya matahari terbenam seperti logam. Sebuah jambul berdiri di sepanjang punggungnya, dan matanya, setengah terbuka, berwarna kuning seperti cairan emas. Dari tubuhnya memancarkan aura panas yang terasa bahkan dari jarak tiga puluh langkah—panas yang kering, menggigit, penuh dengan energi api murni. Kadal Lava, binatang buas spiritual yang mendekati tahap tengah Qi Refinement. Jauh lebih kuat daripada Serigala Kabut.
Makhluk itu tampaknya sedang berjemur, menyerap energi matahari terbenam. Tapi saat bayangan Ling Feng dan Zhang Hu jatuh ke arahnya, mata kuningnya terbuka sepenuhnya, memusatkan perhatian pada mereka dengan kecerdasan yang mengganggu.
Ling Feng merasakan Qi Matahari Murninya di dalam dirinya bergetar keras, hampir seperti resonansi. Batu Api Matahari itu memanggilnya. Tapi penjaganya adalah rintangan yang hampir mustahil.
Zhang Hu melihat ekspresi Ling Feng. “Kita tidak bisa melawan itu. Itu akan membunuh kita.”
Ling Feng mengamati sekeliling. Matahari hampir terbenam. Saat matahari terbenam, energi matahari di bukit ini akan memudar. Mungkin… mungkin itu akan mempengaruhi makhluk itu.
“Kita menunggu,” bisiknya. “Kita bersembunyi. Saat matahari terbenam, saat energinya paling lemah, kita bergerak. Kau mengalihkan perhatiannya. Aku akan mengambil batu itu.”
“Bagaimana cara mengalihkan perhatiannya? Dengan melemparkan batu?”
“Gunakan ini.” Ling Feng mengeluarkan Spirit Beast Core abu-abu yang mereka dapatkan. “Energi spiritual murni. Itu mungkin menarik perhatiannya, bahkan jika hanya untuk sesaat.”
Rencana itu gila. Tapi mereka sudah sampai sejauh ini. Zhang Hu mengangguk, wajahnya penuh ketegangan.
Mereka bersembunyi di balik bongkahan batu besar, menunggu dengan napas tertahan. Ling Feng memusatkan perhatian, mengumpulkan Qi-nya, mempersiapkan untuk ledakan kecepatan tertinggi. Dia juga mengeluarkan Jimat Bumi Kokoh-nya, bersiap untuk kemungkinan serangan balik.
Matahari perlahan-lahan menyentuh puncak gunung di barat. Cahaya keemasan berubah menjadi jingga, lalu merah tua. Bayangan memanjang, menyelimuti separuh bukit dalam kegelapan. Kadal Lava itu menggerakkan kepalanya, seolah-olah tidak nyaman, dan napas berasapnya menjadi lebih jarang.
Sekarang!
Zhang Hu melompat keluar dari persembunyiannya, berteriak, dan melemparkan Spirit Beast Core ke arah jauh di sebelah kiri kadal. Batu kerikil itu bersinar dengan cahaya redup saat melayang di udara.
Mata kuning kadal itu mengikuti benda yang bergerak itu, tertarik oleh konsentrasi energi spiritual. Untuk sesaat, perhatiannya teralihkan.
Ling Feng meledak dari persembunyiannya. Dia tidak berlari; dia meluncur, mengeluarkan sedikit Qi Matahari Murni ke kaki-kakinya. Dia melintasi tanah berbatu seperti panah yang dilepaskan dari busur, meninggalkan jejak udara yang bergetar panas di belakangnya. Dalam tiga detik, dia sudah sampai di sisi bukit tempat Batu Api Matahari itu tertanam.
Dia meraihnya. Saat jarinya menyentuh batu, gelombang panas yang luar biasa menyambar lengannya, seolah-olah memegang inti matahari kecil. Kulitnya melepuh seketika, tetapi Qi Matahari Murni di dalam tubuhnya bereaksi dengan liar, menyerap sebagian panas itu, mengurangi rasa sakit. Dengan tarikan keras, dia mencabut batu itu dari tanah.
Suara geraman yang dalam, penuh kemarahan, mengguncang udara.
Kadal Lava itu telah menyadari tipuannya. Ia berbalik, mata kuningnya sekarang menyala dengan kemarahan berapi-api. Ia membuka mulutnya, dan bukan hanya geraman, tetapi semburan bola api merah-oranye—sebesar kepala manusia—meluncur langsung ke arah Ling Feng.
Tidak ada waktu untuk menghindar. Ling Feng mengangkat tangannya yang memegang jimat pelindung dan mengaktifkannya.
Jimat Bumi Kokoh menyala, membentuk perisai cahaya kuning padat di depannya. Bola api menghantam perisai itu dengan ledakan yang memekakkan telinga dan cahaya yang menyilaukan. Perisai itu bertahan hanya sepersekian detik sebelum retak dan pecah berkeping-keping seperti kaca, tetapi itu cukup untuk menahan kekuatan utama serangan itu. Gelombang panas dan puing-puing yang tersisa menghantam Ling Feng, melemparkannya ke belakang beberapa meter. Dia mendarat dengan kasar, dadanya terasa seperti ditinju oleh raksasa, dan lengannya yang memegang batu itu terbakar parah.
Tapi dia masih memegang Batu Api Matahari.
“LARI!” teriak Zhang Hu, yang sudah mulai berlari menuruni bukit.
Ling Feng berjuang untuk berdiri, kepalanya berkunang-kunang. Kadal Lava itu mendesis, mengumpulkan energi untuk serangan lain. Ling Feng tidak punya pilihan. Dia memutar tubuhnya dan berlari sekuat tenaga, mengikuti Zhang Hu, sambil memeluk erat batu yang membara itu ke dadanya.
Mereka melarikan diri dari Bukit Matahari Terbenam, diikuti oleh geraman marah kadal itu. Tapi makhluk itu, mungkin terikat dengan wilayahnya atau terlalu malas untuk mengejar jauh, akhirnya berhenti di tepi bukit, mengirimkan semburan api marah terakhir ke langit senja yang memerah sebelum akhirnya mundur.
Ling Feng dan Zhang Hu tidak berhenti berlari sampai mereka mencapai tepi Hutan Berduri Berpikir, tubuh mereka penuh dengan lecet, luka bakar, dan kelelahan yang mendalam. Mereka bersembunyi di balik batu besar, napas mereka terengah-engah.
Di tangan Ling Feng, Batu Api Matahari masih memancarkan kehangatan yang kuat, tetapi sekarang terasa nyaman, seperti menghangatkan es di dalam tubuhnya. Dia melihatnya. Di dalam batu jingga tua itu, urat-urat emas berdenyut dengan ritme yang selaras dengan detak jantungnya sendiri.
Mereka berhasil. Mereka selamat. Dan mereka membawa pulang harta yang bisa mengubah segalanya.
Tapi saat mereka duduk di sana, dalam kegelapan yang semakin dalam, mendengar suara-suara aneh Taman di sekitar mereka, Ling Feng menyadari satu hal: petualangan ini hanyalah awal. Mereka telah melanggar peraturan, mencuri dari wilayah terlarang, dan melukai binatang buas spiritual yang kuat. Dan mereka harus melakukan perjalanan pulang yang berbahaya, dengan tubuh yang terluka dan harta yang menarik perhatian.
Dan di suatu tempat di luar sana, di sekte, mungkin ada orang yang sudah menunggu mereka kembali.