Bab 9: Jejak Darah dan Bayangan Pengintai
Perjalanan kembali terasa jauh lebih berat. Luka-luka mereka, yang sebelumnya diredam oleh adrenalin, sekarang berdenyut dengan nyeri tajam. Luka bakar di lengan Ling Feng terlihat mengerikan—kulitnya melepuh dan menghitam, dengan kilatan kemerahan di tepinya yang memancarkan kehangatan aneh dari Batu Api Matahari. Kaki Zhang Hu, di mana racun tanaman merambat telah menembus, bengkak dan berwarna ungu kehitaman, membuatnya pincang.
Mereka bergerak pelan, menyusuri rute yang sama dengan hati-hati, tetapi kegelapan malam yang pekat dan rasa sakit mereka membuat setiap langkah menjadi siksaan. Mereka menghindari Hutan Berduri Berpikir dengan mengambil rute memutar yang lebih panjang, menyusuri tepi rawa gas beracun yang memancarkan gelembung hijau pucat dan bau telur busuk. Napas mereka tertahan, berusaha untuk tidak menghirup kabut beracun.
Ling Feng terus-menerus memindai lingkungannya dengan indra spiritualnya yang diperluas. Kehadiran binatang buas spiritual terasa lebih dekat, lebih lapar di malam hari. Dia bisa merasakan pasangan mata bersinar mengikuti mereka dari balik semak-semak, tetapi mungkin karena aura liar dan darah mereka, atau mungkin karena sisa-sisa energi api dari pertemuan dengan Kadal Lava, tidak ada yang menyerang.
Mereka berhenti di tepi sungai kecil tempat mereka beristirahat sebelumnya. Airnya terasa seperti surgawi di tenggorokan mereka yang kering. Ling Feng merendam lengan yang terbakar ke dalam air yang dingin, mendesis kesakitan namun lega. Dia kemudian mengeluarkan botol ramuan pemulihan yang hampir habis dan menuangkan setetes terakhir ke luka bakar dan luka Zhang Hu. Ramuan itu bekerja, memperlambat penyebaran racun dan mendinginkan kulit yang terbakar, tetapi jelas tidak cukup.
“Kita tidak akan sampai sebelum fajar,” kata Zhang Hu melalui gigi yang gemeretak, mencoba menahan rasa sakit di kakinya. “Dan jika kita ketahuan tidak ada di asrama saat pemeriksaan pagi…”
“Kita harus sampai,” desis Ling Feng, matanya berbinar dengan tekad yang keras. Dia melihat ke arah Batu Api Matahari yang sekarang dibungkus dengan kain dari jubahnya bagian dalam. Energinya terasa seperti matahari kecil di sampingnya, terus-menerus memancarkan kehangatan yang menembus kain. Sebuah ide muncul. “Batu itu… energinya murni api, matahari. Mungkin bisa membantu.”
Dengan hati-hati, dia membuka bungkusan itu sedikit, membiarkan seberkas cahaya jingga keemasan menerangi wajah mereka yang kotor. Dia mendekatkan lengan yang terbakar ke batu itu, bukan untuk menyentuh, tetapi hanya merasakan energinya. Seperti yang dia duga, Qi Matahari Murni di dalam tubuhnya bereaksi, menarik energi dari batu itu. Gelombang kehangatan yang menenangkan, bukan panas yang merusak, mengalir dari batu ke luka bakarnya. Lepuhan yang hitam perlahan-lahan berhenti membesar, dan rasa sakit yang tajam mereda menjadi denyutan yang tumpul. Kulit yang rusak tampaknya… menyatu sedikit, dengan kecepatan yang hampir terlihat.
“Itu… bekerja,” gumam Ling Feng, terkejut. Dia segera membalut batu itu kembali. “Tapi kita tidak bisa menggunakannya terlalu banyak di sini. Aura energinya terlalu kuat, bisa menarik perhatian.”
Mereka melanjutkan perjalanan, sekarang dengan sedikit lebih banyak harapan. Batu itu bukan hanya harta karun; itu adalah alat penyembuhan, kunci untuk kultivasi masa depannya.
Saat fajar pertama mulai mencerahkan langit di timur, mereka akhirnya mencapai celah di dinding kebun. Mereka merangkak melewatinya dengan tubuh yang pegal, merasakan kelegaan yang luar biasa saat mereka kembali berada di dalam batas sekte yang relatif aman. Namun, kelegaan itu cepat memudar.
Kompleks asrama sudah mulai hidup. Beberapa murid luar yang rajin sudah keluar, melakukan latihan pagi atau pergi ke tugas awal. Mereka harus bergerak cepat.
Mereka menyelinap ke Asrama Nomor Tujuh, berharap Li Wei dan Zhao Feng masih tidur. Untungnya, ruangan itu sepi dan gelap. Mereka dengan cepat berganti pakaian, menyembunyikan jubah yang robek dan kotor di bawah tempat tidur mereka. Ling Feng dengan hati-hati membungkus Batu Api Matahari dengan beberapa lapis kain dan menyembunyikannya di dalam rongga di dinding batu di belakang tempat tidurnya, yang sebelumnya dia kosongkan untuk penyimpanan rahasia.
Baru saja mereka selesai, pintu terbuka. Zhao Feng masuk, membawa dua ember air. Dia berhenti, mata abu-abunya yang tajam menyapu mereka, mencatat pucatnya wajah mereka, lengan Ling Feng yang dibalut kasar, dan pincangnya Zhang Hu.
“Ruang Kultivasi sangat melelahkan malam ini,” kata Zhao Feng dengan suara datar, tanpa bertanya.
“Meditasi yang… intens,” balas Ling Feng, berusaha membuat suaranya terdengar normal.
Zhao Feng mengangguk, seolah-olah menerima penjelasan itu. “Instruktur He mencari kalian berdua kemarin sore. Dia bilang ada sesuatu tentang ‘penugasan ulang sektor’.”
Jantung Ling Feng berdebar kencang. Instruktur He mencari mereka? Itu bisa berarti apa saja—kepedulian, kecurigaan, atau sesuatu yang lebih buruk.
“Terima kasih,” kata Ling Feng. “Kami akan mencarinya setelah pelatihan pagi.”
Zhao Feng hanya menatap mereka sekali lagi sebelum pergi, meninggalkan ember air. Saat dia pergi, dia berkata tanpa menoleh, “Tiga serangkai itu juga mencari kalian. Mereka terlihat… bersemangat.”
Itu adalah peringatan. Sebuah peringatan yang jelas.
Pelatihan pagi di Lapangan Utama adalah cobaan. Setiap tendangan, setiap pukulan, mengirim gelombang rasa sakit melalui tubuh mereka yang terluka. Ling Feng berkeringat dingin, memaksakan dirinya untuk mengikuti gerakan dengan sempurna, menyembunyikan pincangnya Zhang Hu sebisa mungkin. Instruktur Bao, yang berjalan di antara barisan murid, mengerutkan kening saat melewati mereka tetapi tidak mengatakan apa-apa.
Saat sesi berakhir, Ling Feng dan Zhang Hu bergegas pergi, berniat menemui Instruktur He. Tapi sebelum mereka bisa pergi jauh, tiga sosok menghalangi jalan mereka di lorong antara balai pelatihan dan kompleks asrama.
Ma, Zhu, dan Jin. Wajah mereka penuh dengan senyuman puas yang tidak menyenangkan.
“Murid-murid junior,” sapa Senior Brother Ma, suaranya manis seperti madu racun. “Kami mencari kalian kemarin. Kalian sepertinya… sulit ditemukan.”
“Kami sedang bermeditasi, Senior Brother,” jawab Ling Feng, menundukkan kepalanya.
“Bermeditasi? Sepanjang malam?” Jin menyeringai. “Sangat rajin. Atau mungkin… kalian sedang melakukan hal lain?” Matanya yang seperti musang menyapu tubuh mereka, seolah-olah mencari sesuatu—debu perjalanan, robekan, tanda-tanda pertempuran.
Ling Feng menjaga ekspresinya tetap netral. “Kami hanya berusaha keras, Senior Brother.”
“Tentu saja,” kata Zhu, yang bertubuh besar, dengan suara rendah. “Tapi kerja keras saja tidak cukup. Kalian juga harus… hadir. Instruktur He tidak senang kalian menghilang. Dia memberi kami wewenang untuk memastikan kalian memahami pentingnya… ketepatan waktu.”
Dia melangkah maju, aura tahap keempat Qi Refinement-nya—satu tingkat di atas mereka—mendesak ke depan, mencoba menekan mereka. Ling Feng merasakannya, tapi tubuhnya yang diperkuat oleh Qi Matahari Murni hampir tidak bergeming. Zhang Hu, bagaimanapun, mengerang sedikit, kakinya yang terluka gemetar.
“Kami meminta maaf, Senior Brother,” kata Ling Feng lagi, berusaha menenangkan situasi. “Kami akan segera menemui Instruktur He.”
“Tidak perlu buru-buru,” kata Ma, mengangkat tangannya. “Dia sibuk pagi ini. Sebagai gantinya, kalian akan membantu kami dengan… inventarisasi. Gudang alat kebun perlu diperiksa. Setiap sekop, setiap penyiram, setiap pot. Kalian akan menghitungnya. Dua kali. Dan laporkan kepada kami sebelum matahari terbenam. Jika ada yang tidak sesuai…” Dia tidak menyelesaikan kalimatnya, tetapi ancamannya jelas. Itu adalah tugas yang melelahkan dan memakan waktu yang akan membuat mereka terkunci sepanjang hari, mungkin bahkan hingga malam, tanpa waktu untuk istirahat, mengobati luka, atau mengunjungi Instruktur He.
Itu adalah pelecehan yang sempurna, sah, dan kejam.
Ling Feng menggigit bibirnya sampai berdarah. Kemarahan, panas dan emas, menggelegak di dadanya. Dia ingin menghancurkan mereka, membakar senyuman puas itu dari wajah mereka. Tapi dia ingat nasihat Instruktur He. Dia ingat tatapan pengintai di hutan. Dia ingat Senior Sister Lan dan “perlindungan” bersyaratnya.
“Seperti yang Senior Brother perintahkan,” kata Ling Feng akhirnya, suaranya datar dan tanpa emosi.
Wajah Ma sedikit kecewa, seolah-olah mengharapkan perlawanan. Tapi dia mengangguk, puas. “Bagus. Gudang di belakang Kebun Jamur. Mulai sekarang.”
Sepanjang hari yang melelahkan, Ling Feng dan Zhang Hu menghitung perkakas di gudang yang berdebu dan berantakan. Setiap gerakan terasa menyakitkan. Mereka tidak diberi makanan atau air. Saat sore hari, mereka hampir pingsan karena kelelahan dan rasa sakit.
Saat mereka akhirnya menyelesaikan penghitungan kedua, matahari sudah rendah di langit. Mereka menyerahkan laporan—yang dengan sengaja mereka buat sedikit tidak akurat, mengetahui bahwa itu akan menjadi alasan untuk hukuman lebih lanjut—kepada Jin, yang menunggu di luar dengan senyuman sinis.
“Lambat dan ceroboh,” komentar Jin, melihat sekilas laporan itu. “Kalian berdua benar-benar tidak berguna. Kembali besok untuk koreksi.”
Mereka berbalik untuk pergi, tubuh dan jiwa mereka lelah. Saat itulah Jin berbicara lagi, suaranya rendah sehingga hanya mereka yang mendengar. “Oh, dan selamat datang kembali dari perjalanan kalian. Taman itu indah saat fajar, bukan?”
Ling Feng membeku. Darahnya berhenti mengalir.
Jin tertawa kecil, suara yang penuh kemenangan, sebelum berbalik dan pergi.
Mereka telah dilihat. Atau setidaknya, kepergian mereka diketahui. Apakah mereka diikuti? Atau apakah ada informan?
Dengan langkah berat dan hati yang lebih berat, mereka kembali ke asrama. Li Wei tidak ada di sana—mungkin di ruang kultivasi. Zhao Feng duduk di tempat tidurnya, bermeditasi. Dia membuka matanya saat mereka masuk.
“Instruktur He meninggalkan pesan,” kata Zhao Feng tanpa basa-basi. “Dia ingin melihat Ling Feng. Sendirian. Sekarang. Di pavilionnya di Tebing Bambu Menangis.”
Ling Feng dan Zhang Hu bertukar pandangan cemas. Ini tidak biasa. Instruktur He biasanya menerima murid di kantornya di Balai Instruktur.
“Pergilah,” desis Zhang Hu. “Aku akan… mengurus segalanya di sini.” Maksudnya jelas: menyembunyikan Batu Api Matahari dengan lebih baik, mengobati luka mereka jika memungkinkan.
Ling Feng mengangguk. Dia dengan cepat membasuh wajahnya, berusaha terlihat sedikit lebih rapi, lalu pergi.
Tebing Bambu Menangis terletak di sisi timur laut wilayah sekte, area yang tenang dan sepi yang biasanya dihuni oleh para tetua dan instruktur yang lebih senior. Udara di sini lebih dingin, dan suara gemerisik daun bambu yang tak terhitung jumlahnya terdengar seperti bisikan yang sedih—karenanya namanya. Paviliun Instruktur He adalah struktur kayu sederhana yang dibangun di atas batu yang menjorok, menghadap ke lembah yang diselimuti kabut.
Saat Ling Feng mendekat, dia melihat Instruktur He sedang duduk di balkon paviliun, menghadap ke lembah, secangkir teh di tangannya. Sang tua itu tidak menoleh saat Ling Feng membungkuk di pintu.
“Masuk, anak laki-laki. Duduk.”
Ling Feng masuk dan duduk di atas bantal di seberang meja rendah. Instruktur He akhirnya menoleh kepadanya. Mata tua itu, biasanya keruh, sekarang tajam dan menusuk seperti belati.
“Kau terlihat seperti bertarung dengan iblis api dan berjalan melalui hutan duri,” kata Instruktur He dengan suara datar.
“Latihan… yang keras, Guru,” jawab Ling Feng, menundukkan kepalanya.
“Jangan membohongiku, anak laki-laki.” Suara Instruktur He tiba-tiba keras, membuat Ling Feng terkejut. “Aku bukan Ma atau Jin yang bodoh. Aku bisa merasakannya. Aura api murni yang kuat melekat padamu seperti parfum. Dan luka di lenganmu—itu bukan luka bakar biasa. Itu bekas gigitan energi api tingkat tinggi, energi yang seharusnya tidak ada di wilayah sekte manapun kecuali di Forge Peak atau… tempat terlarang.”
Ling Feng diam, pikirannya berputar cepat. Menyangkal lebih lanjut tidak ada gunanya.
Instruktur He menghela napas, kerutan di wajahnya tampak lebih dalam. “Kau pergi ke Taman Spirit Terlarang. Dengan Zhang Hu. Dan kau kembali dengan sesuatu. Sesuatu yang berharga.”
Ling Feng mengangkat kepalanya, bertemu tatapan Instruktur He. “Guru… kami tidak punya pilihan.”
“Pilihan?” Instruktur He mendengus. “Kau selalu punya pilihan. Pilihan untuk bersabar. Pilihan untuk menderita. Pilihan untuk tumbuh perlahan dan aman. Tapi kau memilih jalan berbahaya. Seperti yang lain.” Ada kilatan kesedihan yang dalam di mata tua itu.
“Yang lain?” tanya Ling Feng.
Instruktur He mengabaikan pertanyaannya. “Kau menarik perhatian, Ling Feng. Bukan hanya dari sampah seperti Ma. Tatapan yang kau rasakan di hutan malam itu—itu adalah murid dalam, mata-mata dari Menara Hukum. Mereka melaporkan aktivitas mencurigakan. Dan sekarang, setelah perjalanan kalian, mereka akan semakin penasaran.”
Ling Feng merasa dingin menjalar di tulang belakangnya. “Menara Hukum…”
“Faksi paling kejam dan ambisius di sekte kita,” kata Instruktur He dengan suara rendah. “Mereka mengawasi, mereka menilai, dan mereka… mengumpulkan. Bakat, rahasia, sumber daya. Mereka seperti laba-laba di jaring yang sangat besar. Dan kau, dengan cahaya keemasanmu yang kau coba sembunyikan, adalah lalat yang menarik perhatian.”
“Tapi Senior Sister Lan—”
“Senior Sister Lan adalah bintang yang bersinar terang, tetapi bahkan bintang-bintang memiliki orbit dan musuh mereka sendiri,” potong Instruktur He. “Perlindungannya adalah perisai terhadap serangan langsung, bukan terhadap investigasi diam-diam atau jerat hukum. Jika Menara Hukum memutuskan untuk ‘menginvestigasi’ kalian, bahkan dia tidak bisa menghentikannya tanpa membayar harga politik yang besar.”
Instruktur He menatap Ling Feng. “Kau harus lebih berhati-hati. Jauh lebih berhati-hati. Dan kau harus menjadi kuat. Cepat. Karena badai akan datang, anak laki-laki. Aku bisa merasakannya di udara. Dan ketika badai itu datang, semua permainan kecil dan perseteruan ini akan tampak seperti pertengkaran anak-anak.”
Dia berdiri, berjalan ke tepi balkon, memandang ke lembah yang diselimuti kabut. “Kau punya tiga hari. Tiga hari untuk memulihkan diri dan menggunakan apa pun yang kau dapatkan di Taman itu. Setelah itu, tugas sektormu akan diubah. Kau akan ditugaskan ke ‘Tambang Spirit Retak’.”
Ling Feng membeku. Tambang Spirit Retak adalah tempat yang terkenal kejam. Itu adalah tambang di mana Spirit Stones grade rendah ditambang, sebuah tempat kerja paksa yang berbahaya penuh dengan runtuhan batu, aliran gas beracun, dan binatang buas bawah tanah. Itu adalah tempat di mana murid luar yang dihukum atau yang tidak disukai dikirim, dan banyak yang tidak kembali.
“Itu adalah perintah dari Menara Hukum?” tanya Ling Feng, suaranya serak.
“Perintah dari administrasi murid luar, ‘disarankan’ oleh Menara Hukum,” koreksi Instruktur He. “Itu legal. Dan itu akan memisahkanmu dari Zhang Hu, dari asramamu, dari sedikit perlindungan yang kau miliki. Di sana, kecelakaan sering terjadi.”
Ini adalah pemindahan. Sebuah hukuman yang disamarkan sebagai penugasan.
“Lalu apa yang harus kulakukan?” tanya Ling Feng, keputusasaan mulai merayap ke dalam suaranya.
Instruktur He berbalik, dan untuk pertama kalinya, Ling Feng melihat sesuatu selain kewaspadaan atau kesedihan di mata tua itu—sebuah percikan api yang keras, tak terduga. “Kau akan pergi ke Tambang. Dan kau akan bertahan. Kau akan menggunakan bahaya itu sebagai landasan untuk menempa dirimu. Dan kau akan mencari sesuatu di sana.”
“Mencari sesuatu?”
“Tambang Spirit Retak dulunya bukan tambang. Itu adalah situs pertempuran kuno, ribuan tahun yang lalu. Legenda mengatakan sesuatu dikubur di sana. Sesuatu yang berhubungan dengan api dan cahaya.” Instruktur He menatap langsung ke mata Ling Feng. “Jika warisanmu benar-benar sekuat yang kau kira, mungkin itu akan membantumu menemukannya. Atau mungkin itu akan membunuhmu. Tapi itu adalah satu-satunya kesempatanmu. Menjadi kuat dengan cepat, atau mati.”
Dia mengulurkan tangannya. Di telapannya terdapat sebuah jimat perak kecil, berbentuk seperti kepingan salju. “Ini adalah Jimat Penyamar Aura. Ini akan membantumu menyembunyikan aura barang berharganya dan sebagian dari kekuatanmu sendiri. Ini hanya bisa digunakan sekali dan akan bertahan selama sebulan. Gunakan dengan bijak.”
Ling Feng menerima jimat itu, merasakan energi dingin dan halus di tangannya. “Mengapa… mengapa Guru membantu saya?”
Instruktur He memandangnya untuk waktu yang lama. “Karena sekali, lama sekali, ada murid lain seperti kamu. Seorang murid dengan cahaya keemasan dan takdir yang berat. Dan aku gagal melindunginya.” Suara tua itu terdengar tiba-tiba sangat lelah. “Pergilah sekarang. Sembuhkan lukamu. Persiapkan dirimu. Dan ingat—percayalah pada tidak seorang pun. Bahkan padaku.”
Ling Feng membungkuk dalam-dalam, perasaan campur aduk antara rasa terima kasih, ketakutan, dan tekad yang membara di dalam hatinya. Dia meninggalkan paviliun, jimat peram tersembunyi di sakunya, dan beban yang jauh lebih berat di pundaknya.
Perjalanan pulang ke asrama terasa seperti berjalan menuju penjara sendiri. Dia sekarang memahami sepenuhnya: sekte ini bukanlah tempat perlindungan, tetapi medan perang berlapis. Dan dia baru saja dipindahkan ke garis depan yang paling berbahaya.
Saat dia membuka pintu asrama, dia melihat Zhang Hu sedang duduk di tempat tidurnya, wajahnya pucat. Di tangannya, dia memegang sepotong perkamen yang digulung dengan segel lilin hitam—warna Menara Hukum.
“Kita dikirim,” kata Zhang Hu, suaranya hampa. “Ke Tambang.”
Ling Feng mengangguk, mengunci pintu di belakangnya. Dia melihat ke arah tempat persembunyian di dinding, di mana Batu Api Matahari bersembunyi. Tiga hari. Mereka hanya punya tiga hari.
Perlombaan melawan waktu, dan melawan bayangan yang mengintai, baru saja dimulai.