Bab 11: Nyanyian di Bawah Tanah

Ukuran:
Tema:

Terowongan itu sempit, lebih sempit dari yang lain, dan langit-langitnya rendah sehingga mereka harus membungkuk. Dindingnya tidak rata, dipenuhi dengan bekas cakaran aneh—bukan dari beliung, tetapi seperti goresan cakar besar atau erosi yang tidak wajar. Udara di sini lebih dingin, menggigit tulang, dan bau manis-busuk itu semakin kuat, membuat mereka sedikit pusing.

Cahaya hijau redup dari lentera kunang-kunang mereka menerangi hanya beberapa kaki ke depan, menciptakan bayangan-bayangan aneh yang menari-nari di dinding yang tidak rata. Suara langkah mereka bergema dengan hampa, seolah-olah diserap oleh kegelapan itu sendiri.

Ling Feng memimpin, indra spiritualnya yang diperluas terus-menerus memindai ke depan. Panggilan samar itu semakin kuat, berdenyut dengan ritme yang aneh, seperti detak jantung raksasa yang tertidur. Itu menariknya, tapi juga memancarkan aura kuno dan berbahaya.

Mereka berjalan selama mungkin sepuluh menit, tetapi terasa seperti satu jam. Terowongan itu menurun dengan tajam, berbelok-belok, dan kadang-kadang bercabang. Ling Feng selalu memilih jalan yang membuat panggilan itu semakin kuat. Suhu turun lebih jauh, dan sekarang mereka bisa melihat napas mereka membentuk kabut di udara dingin.

Tiba-tiba, Zhang Hu meraih lengan Ling Feng. “Dengar.”

Mereka berhenti, menahan napas. Dari kedalaman di depan, terdengar suara. Bukan suara fisik, tetapi suara di dalam pikiran mereka—sebuah bisikan melodi, tanpa kata-kata, hanya nada-nada sedih dan merdu yang bergetar di jiwa mereka. Itu adalah nyanyian yang sama yang dirasakan Ling Feng.

“Apakah itu… Kabut Jiwa?” bisik Zhang Hu, suaranya gemetar.

“Tidak,” jawab Ling Feng, matanya menyipit. “Kabut Jiwa seharusnya menyebabkan kegilaan, rasa sakit. Ini… ini berbeda.” Meskipun sedih, nyanyian itu tidak berbahaya. Malah terasa… memanggil.

Mereka melanjutkan dengan lebih hati-hati. Terowongan itu akhirnya terbuka ke sebuah ruang gua yang luas. Lentera mereka tidak bisa menerangi seluruh ruangan, tetapi mereka bisa melihat bahwa langit-langitnya tinggi, ditopang oleh pilar-pilar batu alami yang terbentuk seperti stalagmit dan stalaktit yang menyatu. Di tengah ruangan, ada sebuah kolam kecil air yang sangat jernih, memancarkan cahaya biru pucatnya sendiri, menerangi sekelilingnya dengan cahaya hantu.

Dan di seberang kolam, tertanam di dinding gua, ada sesuatu.

Itu adalah sebuah panel besar, atau mungkin sebuah pintu, terbuat dari logam yang bukan perunggu atau besi. Warnanya hitam legam, tetapi di permukaannya, tertanam dalam pola yang rumit dan indah, ada garis-garis bahan yang memancarkan cahaya keemasan redup—cahaya yang sama dengan Qi Matahari Murni Ling Feng. Polanya menyerupai matahari yang terbit, dengan sembilan sinar memancar dari pusatnya. Di tengah panel, tepat di lokasi matahari, ada lekukan berbentuk seperti… sebuah cincin.

Jantung Ling Feng berdebar kencang. Dia dengan tidak sadar menggosok cincin perunggu di jarinya. Desainnya… itu cocok. Itu adalah simbol Sembilan Matahari Terbit.

Nyanyian itu berasal dari panel ini. Itu adalah panggilan bagi warisannya.

“Ling Feng…” Zhang Hu menatapnya, matanya penuh ketakutan dan keheranan. “Apa itu?”

“Kunci,” jawab Ling Feng, suaranya hampir seperti bisikan. “Atau sebuah kunci.”

Dia mendekat, melangkah mengelilingi kolam air bercahaya. Saat dia mendekat, panel itu bereaksi. Garis-garis emasnya bersinar lebih terang, dan nyanyian itu menjadi lebih jelas, lebih mendesak. Dia merasakan cincin di jarinya menjadi hangat, hampir panas.

Dia mengulurkan tangannya, berusaha menyentuh panel itu. Saat jarinya berjarak beberapa inci, sebuah kekuatan tak terlihat mendorongnya kembali, lembut namun tak terbantahkan. Sebuah lapisan pertahanan.

“Ling Feng, lihat!” Zhang Hu menunjuk ke lantai di depan panel.

Di sana, tertulis dalam bahasa kuno yang terukir di batu, ada beberapa baris tulisan. Bahasa itu bukan bahasa modern, tetapi warisan di dalam cincin Ling Feng memberinya pemahaman samar. Dia membacanya dengan susah payah:

“Di tempat matahari tak pernah bersinar, di kedalaman hati bumi yang dingin,
Sembilan nyala menunggu yang terpilih, untuk membangkitkan cahaya yang terpendam.
Darah penerus akan membuka jalan, tapi hanya dengan hati yang murni dari keserakahan dan ketakutan.
Peringatan bagi yang tidak layak: api abadi akan membakar jiwa hingga hampa.”

Darah penerus. Hati yang murni. Itu jelas merujuk pada dirinya, pewaris Sembilan Matahari Terbit. Tapi bagaimana caranya? Apakah hanya dengan menyentuh panel dengan cincin? Atau… apakah perlu pengorbanan darah?

Saat dia merenung, suara lain memecah keheningan—bukan nyanyian, tetapi suara gesekan di batu, dan desisan rendah.

Mereka berbalik dengan cepat. Dari salah satu terowongan samping yang gelap, sekelompok makhluk merayap keluar. Mereka adalah reptil seukuran kucing, dengan kulit abu-abu berbatu yang menyatu dengan lingkungan, mata merah seperti batu delima, dan mulut penuh gigi jarum. Kadal Batu, binatang buas spiritual yang biasanya hidup di kedalaman tambang, tertarik oleh energi spiritual yang dipancarkan panel itu atau mungkin oleh kehadiran mereka.

Ada sekitar delapan dari mereka. Mereka mendesis, air liur asam menetes dari mulut mereka, mengikis batu di mana ia jatuh.

“Zhang Hu, bersiap!” teriak Ling Feng, menghunus beliung spiritualnya. Itu bukan pedang, tapi itu senjata.

Kadal-kadal itu menyerang dengan kecepatan yang mengejutkan untuk makhluk bertubuh batu. Mereka melompat, gigi dan cakar mereka mengarah ke tenggorokan dan mata. Ling Feng bergerak, beliungnya berputar. Dia tidak menggunakan Pedang Satu Matahari, tetapi prinsip-prinsipnya—ketepatan, efisiensi, dan panas yang membara. Setiap tebasan tepat, menghancurkan tengkorak batu atau memotong leher. Qi Matahari Murninya, meski ditekan oleh jimat, masih mengalir, memberikan kekuatan ekstra pada serangannya. Kadal-kadal itu menjerit kesakitan saat mereka mati, tubuh batu mereka retak dan mengeluarkan asap.

Zhang Hu, bertarung di sampingnya, menggunakan beliungnya dengan gaya yang lebih kasar namun efektif, menangkis dan menyerang balik. Satu kadal menggigit lengannya, tetapi gigi-giginya hanya menggores kulitnya yang sudah mengeras oleh kultivasi. Zhang Hu mengutuk dan menghancurkan kepala makhluk itu dengan hantaman balik.

Pertempuran itu singkat namun sengit. Dalam satu menit, semua Kadal Batu terbaring mati di lantai gua. Tapi kemenangan mereka berumur pendek.

Suara desisan dan gesekan batu datang lagi, kali ini lebih banyak, lebih keras. Dari beberapa terowongan lain, puluhan pasang mata merah muncul, berkedip di kegelapan.

“Mereka memanggil teman-teman mereka!” teriak Zhang Hu.

Ling Feng melihat ke panel, lalu ke kolam air bercahaya, lalu ke kawanan Kadal Batu yang semakin banyak. Mereka tidak bisa bertarung melawan begitu banyak. Mereka harus membuka panel itu, atau melarikan diri.

“Darah penerus…” gumam Ling Feng. Dia tidak punya waktu untuk berpikir panjang. Dengan cepat, dia menggesekkan mata beliung yang tajam di telapak tangannya, membuat sayatan yang dalam. Darah mengalir, merah dan cerah. Dia mengepalkan tangan dan mengulurkannya ke arah panel, membiarkan darahnya menetes ke lekukan berbentuk matahari di tengah.

Saat tetesan darah pertama menyentuh logam hitam, sesuatu terjadi.

Panel itu bergemuruh, suara rendah yang mengguncang seluruh gua. Garis-garis emas menyala terang, memancarkan cahaya yang mengusir kegelapan dan membuat Kadal Batu yang mendekat mendesis dan mundur, tidak nyaman dengan cahaya itu. Cincin di jari Ling Feng terbakar panas, dan sebuah sinar emas tipis memancar darinya, menyambung dengan panel.

Lekukan di tengah panel berputar, bergeser, dan dengan suara gemeretak batu yang bergeser, panel itu terbelah menjadi dua, terbuka ke dalam seperti pintu.

Dari dalam, hembusan udara hangat yang kering keluar, membawa aroma debu kuno, logam, dan… sesuatu yang manis dan kuat seperti madu yang dipanaskan oleh matahari. Cahaya keemasan yang hangat dan stabil memancar dari dalam, jauh lebih terang daripada cahaya biru kolam atau lentera mereka.

“Masuk!” teriak Ling Feng, menarik Zhang Hu yang terpana.

Mereka melompat melewati ambang pintu yang terbuka. Saat mereka melakukannya, panel di belakang mereka mulai menutup dengan cepat. Beberapa Kadal Batu yang paling berani mencoba menerobos, tetapi saat mereka menyentuh bidang cahaya emas, mereka menjerit dan menyusut, tubuh batu mereka retak dan menjadi abu. Panel itu menutup dengan bunyi klik yang final, mengurung mereka di dalam.

Mereko berdiri di sana, terengah-engah, disinari oleh cahaya keemasan. Mereka berada di sebuah ruangan kecil yang terbuat dari batu halus yang sama. Tidak ada perabotan. Hanya, di tengah ruangan, di atas sebuah alas batu sederhana, terdapat sebuah benda.

Itu adalah sebuah tombak.

Tombak itu memiliki panjang sekitar tujuh kaki. Tangkainya terbuat dari kayu gelap yang tampak seperti besi yang diasapi, dihiasi dengan ukiran spiral yang rumit yang memancarkan cahaya emas samar. Mata tombaknya bukan dari logam biasa, tetapi dari kristal bening berwarna jingga keemasan, seperti matahari yang membeku. Dari mata tombak itu memancarkan panas dan cahaya yang nyata, dan energi yang dipancarkannya sangat padat sehingga terasa seperti berdiri di dekat tungku pembakaran.

Di dasar mata tombak, di mana ia menyatu dengan tangkai, terukir dua karakter kuno: “Fajar Pertama”.

Ini adalah senjata. Sebuah senjata spiritual tingkat tinggi, mungkin bahkan senjata warisan yang terkait dengan Sembilan Matahari Terbit.

Ling Feng mendekat, terpesona. Dia merasakan resonansi yang dalam antara tombak ini dan Qi-nya sendiri. Saat dia mengulurkan tangannya, tombak itu bergetar, dan sebuah nada tunggal yang jernih, seperti dentangan bel kristal, bergema di ruangan kecil itu. Saat jarinya menyentuh tangkai kayu gelap, gelombang informasi mengalir ke pikirannya.

Gambar-gambar kilat: seorang prajurit kuno yang mengenakan zirah emas, mengayunkan tombak ini melawan pasukan bayangan. Sembilan matahari terbit di langit di belakangnya. Suara, gema perintah dan teriakan pertempuran. Dan sebuah nama: “Tombak Surya, Fajar Pertama”. Ini adalah senjata pendamping bagi kultivator Naskah Matahari Murni, senjata yang tumbuh bersama pemiliknya, yang kekuatannya terbuka seiring dengan pembukaan warisan.

Tapi ada juga peringatan: senjata ini haus akan Qi Matahari Murni. Menggunakannya tanpa persiapan yang cukup akan menguras nyawa penggunanya hingga kering.

Ling Feng menggenggam tangkai tombak. Terasa sempurna di tangannya, seimbang, seolah-olah dibuat khusus untuknya. Dia mengangkatnya, dan mata tombak kristal itu bersinar lebih terang, memancarkan kehangatan yang menenangkan. Dia bisa merasakan aliran Qi-nya yang terhubung dengan senjata itu, membentuk sebuah sirkuit.

“Ling Feng…” Zhang Hu menatap tombak itu dengan takjub dan sedikit takut. “Apa itu?”

“Kekuatan kita,” jawab Ling Feng, matanya berbinar dengan cahaya emas yang dipantulkan dari mata tombak. “Dan mungkin, kutukan kita juga.”

Dia memutar tombak itu dengan percobaan, melakukan gerakan dasar. Udara berdesis, dan jejak cahaya emas tertinggal di udara. Bahkan tanpa mengaktifkannya sepenuhnya, dia bisa merasakan kekuatan yang luar biasa di dalamnya.

Tapi kegembiraan mereka terganggu oleh getaran tiba-tiba di lantai. Dari dinding ruangan, retakan-retakan kecil muncul, dan debu berjatuhan dari langit-langit.

“Tempat ini… runtuh?” teriak Zhang Hu.

“Tidak,” kata Ling Feng, merasakan perubahan energi. “Ini… ini seperti ruangan ini hanya ada untuk menampung tombak ini. Sekarang tombak ini diambil, ruangannya tidak stabil.”

Dengan tombak di tangan, dia mencari jalan keluar. Tidak ada pintu selain yang mereka masuki, yang sekarang tertutup rapat. Tapi di dinding belakang, dia melihat pola cahaya emas yang samar—pola yang mirip dengan simbol sembilan matahari.

Dia mendekat, dan dengan naluri, mengarahkan mata tombak Fajar Pertama ke arah pola itu. Seberkas cahaya emas tipis memancar dari mata tombak, menyentuh simbol. Dinding itu bergetar, lalu larut seperti kabut, membuka sebuah lorong pendek yang menanjak, diterangi oleh cahaya keemasan yang sama.

“Jalan keluar! Cepat!”

Mereka berlari melewati lorong itu. Lorong itu pendek, dan mereka segera muncul di sebuah terowongan tambang yang familiar—bukan di Sektor Delta, tetapi di dekatnya, di sebuah cabang yang sepi. Di belakang mereka, dinding batu menutup kembali tanpa jejak, menyembunyikan rahasianya selamanya.

Mereko berdiri di terowongan yang gelap, hanya diterangi oleh cahaya redup dari tombak yang sekarang ditutupi Ling Feng dengan kain dari jubahnya. Suara pekerjaan yang jauh dan gema tambang kembali terdengar.

Mereko saling memandang, napas mereka masih terengah-engah, tetapi mata mereka bersinar dengan pencapaian dan kelegaan. Mereka telah menemukannya. Mereka memiliki senjata legendaris.

Tapi kemudian, realitas kembali menyerang. Mereka masih di Tambang Spirit Retak. Mereka masih pekerja budak. Dan mereka sekarang memiliki harta yang, jika ditemukan, akan membuat mereka diburu oleh setiap orang di tambang ini, mungkin bahkan oleh seluruh sekte.

“Kita harus menyembunyikannya,” bisik Zhang Hu. “Kita tidak bisa membawanya keluar begitu saja.”

Ling Feng mengangguk. Dia melihat sekeliling. Mereka berada di terowongan yang tampaknya tidak digunakan, penuh dengan puing-puing. Dia menemukan celah sempit di dinding, di belakang tumpukan batu yang runtuh. Dengan menggunakan beliungnya, dia memperlebar celah itu cukup untuk menyelipkan tombak yang dibungkus ke dalamnya, lalu menutupinya kembali dengan batu dan puing.

“Kita akan meninggalkannya di sini untuk sementara,” kata Ling Feng. “Kita akan kembali saat kita perlu, atau saat kita menemukan cara untuk membawanya keluar dengan aman.”

Mereka kemudian berusaha mencari jalan kembali ke Sektor Delta tanpa menarik perhatian. Saat mereka mendekat, mereka mendengar suara keributan—teriakan, kutukan, dan suara pukulan.

Dengan hati-hati, mereka mengintip dari balik tikungan. Di Sektor Delta, sebuah adegan kekacauan sedang berlangsung. Seorang pekerja besar dengan wajah bengis—mungkin pemimpin geng—sedang memukuli seorang pekerja yang lebih tua dan kurus. Pekerja tua itu adalah orang yang memberi mereka nasihat sebelumnya.

“Di mana bijihmu, tua bangka?” geram si besar, menendang pria tua itu di rusuk. “Kau pikir kau bisa menyembunyikan Spirit Stone untuk dirimu sendiri?”

“Aku… aku tidak…” sang tua terbatuk-batuk, darah mengotori bibirnya.

Ling Feng melihat sekeliling. Beberapa pekerja lain hanya menonton dengan ekspresi takut atau acuh tak acuh. Tidak ada yang akan mencampuri. Di tambang ini, hukum rimba berlaku.

Ling Feng merasa kemarahan berkobar di dadanya. Pria tua itu telah menolong mereka, meski hanya dengan sebuah peringatan. Dan pemandangan ketidakadilan ini… itu mengingatkannya pada dirinya sendiri, dihina oleh Ma, Zhu, dan Jin.

Dia melangkah maju.

“Ling Feng, jangan!” desis Zhang Hu, menarik lengannya. “Kita tidak bisa menarik perhatian!”

Tapi Ling Feng sudah melepaskan diri. Dia berjalan ke ruang terbuka, wajahnya netral. “Apa yang terjadi di sini?”

Si besar berbalik, matanya menyempit. “Siapa kau? Pekerja baru? Jauhkan dirimu dari urusan ini, anak kecil, sebelum kau mendapatkan bagianmu.”

“Orang ini terluka. Dia tidak mengancammu,” kata Ling Feng, suaranya tenang namun tegas.

Si besar tertawa kasar. “Oh, jadi kau ingin bermain pahlawan? Baiklah.” Dia melepaskan pria tua itu, yang terjatuh ke lantai dengan erangan, dan menghadap Ling Feng. Aura Tahap Kelima Qi Refinement-nya memancar—lebih tinggi dari aura yang ditampilkan Ling Feng. “Aku akan mengajarimu pelajaran tentang bagaimana segala sesuatu bekerja di sini.”

Dia melangkah maju, meninjunya dengan tinju sebesar palu. Itu bukan teknik yang elegan, tapi kuat dan cepat, ditujukan untuk menghancurkan.

Ling Feng tidak menghindar. Dia mengangkat tangannya, menangkis pukulan itu dengan lengan bawahnya. Bam! Suara keras bergema. Si besar terkejut saat tinjunya terhenti seolah-olah menghantam batu. Ling Feng bahkan tidak bergerak.

Sebelum si besar bisa bereaksi, Ling Feng bergerak. Dia tidak menggunakan teknik yang mencolok, hanya kecepatan dan kekuatan murni yang dia dapatkan dari kultivasi dan pemurnian tubuhnya. Dia menangkap pergelangan tangan si besar, memutarnya dengan cepat, dan menggunakan momentum lawannya untuk melemparkannya ke dinding batu di dekatnya. Dentuman! Si besar mendarat dengan kasar, terengah-engah, kebingungan dan rasa sakit terpancar di wajahnya.

Ling Feng berdiri di atasnya, menatapnya dengan dingin. “Pelajaran sudah cukup. Pergi.”

Si besar, menyadari perbedaan kekuatan yang nyata, mengangguk dengan cepat, wajahnya pucat, sebelum beringsut pergi, diikuti oleh beberapa pengikutnya yang terkejut.

Ling Feng kemudian membantu pria tua itu berdiri. “Apakah kau baik-baik saja?”

Pria tua itu menatapnya dengan mata yang penuh keheranan dan rasa terima kasih yang dalam. “Kau… kau seharusnya tidak melakukannya. Sekarang kau telah membuat musuh.”

“Musuh sudah ada di mana-mana,” jawab Ling Feng. “Satu lagi tidak akan membuat perbedaan.”

Pria tua itu mengangguk perlahan. “Namaku adalah Lao Chen. Aku berhutang nyawa padamu.”

“Tidak perlu. Kau memberi kami nasihat. Itu sudah cukup.”

Lao Chen memandangnya dengan tajam, seolah-olah melihat sesuatu yang lebih dalam. “Kau berbeda. Aku bisa merasakannya. Ada api di dalam dirimu… api yang seharusnya tidak ada di tempat gelap seperti ini. Hati-hatilah, anak muda. Api menarik ngengat, tapi juga menarik pemadam api.”

Itu adalah peringatan lain, lebih dalam dari yang pertama. Lao Chen kemudian pergi, pincang, menghilang ke dalam terowongan.

Ling Feng dan Zhang Hu kembali ke pekerjaan mereka, tetapi suasana telah berubah. Berita tentang konfrontasi itu menyebar dengan cepat melalui grapevine bawah tanah tambang. Tatapan yang mereka terima sekarang berbeda—beberapa penuh dengan rasa takut, beberapa dengan rasa hormat, dan beberapa dengan kebencian dan kecemburuan yang lebih dalam.

Mereko telah mengambil langkah pertama untuk mengubah dinamika di tambang. Tapi mereka juga telah menandai diri mereka sendiri. Dan di tempat seperti ini, menjadi menonjol adalah hal yang paling berbahaya.

Saat shift berakhir dan mereka kembali ke barak dengan tubuh yang lelah namun jiwa yang gelisah, Ling Feng memikirkan tombak yang tersembunyi, Fajar Pertama. Itu adalah kekuatan besar, tapi juga beban besar. Dan dia memikirkan peringatan Lao Chen.

Api menarik pemadam api.

Di kedalaman Tambang Spirit Retak, dia telah menyalakan api kecil. Sekarang, dia harus memastikan bahwa api itu tidak membakar dirinya sendiri sebelum memiliki kesempatan untuk membakar jalan keluar dari neraka ini.