Bab 13: Tempaan dalam Kegelapan
Minggu-minggu berlalu di Tambang Spirit Retak, masing-masing menyatu menjadi siklus monoton yang kejam: bangun dalam kegelapan, menerima jatah air dan roti yang menyedihkan, dikirim ke terowongan yang semakin dalam dan berbahaya untuk bekerja, kembali dengan tubuh lelah dan keranjang berisi pecahan kristal, lalu menghabiskan malam dalam kultivasi diam-diam.
Tapi bagi Ling Feng, setiap siklus bukanlah pengulangan. Itu adalah tempaan.
Kembalinya utuh dari Terowongan Barat yang mematikan telah mengubah persepsi para penjaga dan tahanan lain terhadapnya. Dia tidak lagi dilihat sebagai bocah lemah yang akan segera mati, tetapi sebagai orang yang keras kepala, mungkin sedikit beruntung, yang tahu cara bertahan. Itu memberinya ruang napas kecil, meski juga menarik perhatian yang tidak diinginkan.
Penjaga tua bekas luka, yang namanya diketahui Ling Feng sebagai Lao Kui, mulai memberinya tugas yang sedikit lebih “menantang” tetapi juga lebih berpotensi menghasilkan. Bukan lagi sekadar mengikis dinding di terowongan runtuh, tetapi menjelajahi cabang-cabang baru yang belum dipetakan, atau mengumpulkan jenis kristal tertentu yang lebih berharga meski lebih berbahaya untuk didapat.
Ling Feng menerimanya tanpa keluhan. Setiap tugas adalah kesempatan. Setiap terowongan baru adalah labirin yang penuh dengan bahaya dan… kemungkinan.
Warisan Sembilan Matahari Terbit terus membuktikan nilainya. Di lingkungan yang miskin energi ini, Naskah Matahari Murni beroperasi seperti penyaring dan generator yang efisien. Setiap pecahan kristal yang masih mengandung energi, setiap makhluk Penghuni Kegelapan yang dia bunuh dan darahnya diserap, setiap napas udara tercemar – semuanya diubah menjadi bahan bakar untuk matahari kecil di dantiannya.
Dia juga mulai bereksperimen. Pengetahuan dari warisan tidak hanya tentang kultivasi; itu mencakup dasar-dasar formasi, alkimia primitif, dan bahkan pemahaman tentang sifat energi. Di selnya yang gelap, dengan menggunakan pecahan kristal mati dan debu spirit, dia mencoba membuat formasi penyembunyian energi sederhana. Formasi itu kasar dan tidak stabil, tetapi cukup untuk menyamarkan sebagian kecil pancaran qi-nya saat dia berkultivasi, membuatnya tampak seperti fluktuasi energi alami tambang.
Suatu hari, saat dia ditugaskan mengumpulkan “Kristal Embun Batu” – kristal kecil berwarna biru pucat yang terbentuk di stalaktit dan mengandung energi air yang dingin – di sebuah gua bawah tanah yang basah, dia menemukan sesuatu yang tidak biasa.
Gua itu dihuni oleh koloni “Kecebong Spirit”, makhluk amfibi kecil bercahaya yang memancarkan energi air murni. Biasanya tidak berbahaya, mereka akan melarikan diri saat didekati. Tapi di pusat koloni mereka, di sebuah kolam air jernih yang langka di tambang, Ling Feng melihat sebuah batu datar. Di atas batu itu, tumbuh sekuntum bunga kecil berwarna perak, kelopaknya memancarkan cahaya lembut seperti bulan.
“Bunga Rembulan Terpendam”, kenalnya dari fragmen pengetahuan warisan. Tanaman spiritual langka yang hanya tumbuh di tempat dengan konsentrasi energi yin murni yang tinggi, biasanya di kedalaman bumi yang gelap total selama ratusan tahun. Bunga ini adalah bahan utama untuk pil yang bisa membersihkan racun dari meridian dan menenangkan pikiran, sangat berharga.
Tapi yang lebih menarik perhatian Ling Feng bukan hanya bunganya. Di sekitar batu tempat bunga itu tumbuh, dia merasakan pola energi yang teratur, hampir seperti… formasi alami. Formasi itu lemah, mungkin sisa-sisa dari vein spirit yang telah lama mati, tetapi masih berfungsi, mengumpulkan dan memurnikan energi yin untuk bunga itu.
Dia mendekat dengan hati-hati, menghormati koloni Kecebong Spirit yang mengawasinya dengan mata bulat penuh curiga. Saat dia berada dalam jarak tiga langkah dari bunga, sebuah suara lembut, seperti gemerisik daun, terdengar di pikirannya.
“Penjaga… penjaga kegelapan… datang…”
Ling Feng membeku. Itu bukan suara dari warisannya. Itu berasal dari bunga itu sendiri, atau lebih tepatnya, dari kesadaran spiritual samar yang terkandung di dalamnya. Tanaman spiritual tingkat tinggi bisa mengembangkan kecerdasan dasar.
Dia menarik diri dengan cepat, bersembunyi di balik formasi batu. Tidak lama kemudian, dari sebuah celah di dinding gua, seekor makhluk merayap keluar. Ini bukan Penghuni Kegelapan. Makhluk ini lebih besar, seukuran anjing, dengan tubuh seperti ular tetapi dengan enam kaki pendek dan kepala pipih dengan mata putih susu tanpa pupil. Kulitnya berwarna abu-abu pucat, nyaris tembus pandang, dan memancarkan aura dingin yang membuat udara di sekitarnya berembun.
“Penyusup Bayangan”, pengetahuan dasar sekte tentang makhluk tambang muncul di benaknya. Makhluk yang hidup di zona energi yin murni, memakan tanaman spiritual dan makhluk kecil bercahaya. Kekuatannya setara dengan Qi Refining tingkat lima atau enam, dan kulitnya kebal terhadap sebagian besar serangan fisik.
Penyusup Bayangan itu mendekati kolam, lidah bercabangnya menjulur keluar, merasakan udara. Matanya yang buta tampaknya bisa merasakan energi. Itu mengarah langsung ke Bunga Rembulan Terpendam.
Ling Feng berada dalam dilema. Bunga itu sangat berharga. Tapi melawan Penyusup Bayangan sendirian, di sini, sangat berisiko. Tapi jika dia pergi, bunga itu akan dimakan, dan kesempatan langka ini hilang.
Saat makhluk itu membuka mulutnya, siap melahap bunga, naluri mengambil alih. Ling Feng tidak menyerang langsung. Sebaliknya, dia mengambil segenggam pecahan kristal kecil dari sakunya – kristal biasa yang sudah mati – dan melemparkannya ke arah dinding gua di seberang kolam.
Denting!
Suara kristal menghantam batu menggema di gua yang sunyi.
Penyusup Bayangan berputar dengan cepat, mengarah ke sumber suara. Pada saat itu, Ling Feng bergerak. Dia tidak menuju bunga, tapi ke arah formasi batu alami di sekitarnya. Dengan persepsi qinya yang tajam, dia bisa melihat titik-titik nodal di mana energi terkonsentrasi. Menggunakan jarinya yang dibebani qi Matahari Murni, dia dengan cepat menggoreskan beberapa simbol sederhana di batu – simbol penyegel dan pengalihan energi dari pengetahuannya tentang formasi.
Itu bukan formasi sejati; itu terlalu terburu-buru dan bahan-bahannya tidak memadai. Tapi itu cukup untuk mengganggu aliran energi formasi alami yang sudah ada selama sesaat.
Energi yin yang mengalir ke bunga tiba-tiba berbelok, menciptakan pusaran kecil yang menarik perhatian Penyusup Bayangan. Makhluk itu mendesis, bingung dengan perubahan energi yang tiba-tiba.
Ling Feng memanfaatkan kebingungan itu. Dia melompat, bukan ke bunga, tapi ke kolam. Airnya dingin menusuk, tapi dia mengabaikannya. Di dasar kolam yang dangkal, di bawah batu tempat bunga tumbuh, dia merasakan sumber energi formasi alami itu – sebuah kristal inti kecil berwarna biru tua, hampir hitam, tertanam di batu.
Itu adalah “Mata Yin”, kristal yang terbentuk dari pemadatan energi yin murni selama ribuan tahun. Nilainya jauh melebihi bunga itu sendiri.
Dengan sekali gerakan cepat, dia mencungkil kristal itu dengan beliungnya. Saat kristal itu terlepas, seluruh formasi alami di gua itu bergetar. Energi yin yang terkumpul tiba-tiba meledak keluar dalam gelombang dingin.
Penyusup Bayangan melolong, bukan karena sakit, tapi karena marah. Sumber makanannya yang stabil hilang. Sekarang, dia mengalihkan seluruh perhatiannya ke Ling Feng, merasakan energi matahari yang hangat dan asing dari tubuhnya – sesuatu yang sangat dibencinya.
Makhluk itu menerjang, cepat seperti bayangan. Ling Feng sudah siap. Dia mengaktifkan “Kulit Batu Matahari”, mengeraskan kulitnya. Tapi dia tahu itu tidak akan cukup. Penyusup Bayangan bisa meresap melalui pertahanan fisik dengan energi yin-nya yang korosif.
Dia tidak mencoba menahan serangan. Sebaliknya, dia melompat ke samping, membiarkan cakar makhluk itu menyambar bahunya. Rasa sakit menusuk, dingin yang membekukan merambat dari luka. Tapi pada saat yang sama, dia mengarahkan aliran qi Matahari Murni ke titik kontak.
Desis!
Suara seperti air yang dituangkan ke atas bara panas. Energi yin dari cakar makhluk itu dan qi Matahari Murni-nya bertemu, menciptakan reaksi hebat. Penyusup Bayangan mendesis kesakitan, menarik cakarnya yang sekarang mengeluarkan asap tipis.
Ling Feng tidak memberi waktu. Dia tahu dia tidak bisa menang dalam pertarungan panjang. Dia harus menggunakan keunggulan satu-satunya: sifat qi Matahari Murni-nya yang memurnikan dan menghancurkan energi yin.
Dia mengumpulkan hampir semua qi-nya di tangan kanannya, membuatnya bersinar keemasan samar bahkan di cahaya redup gua. Lalu, dia menerjang, bukan dengan teknik, tapi dengan tusukan langsung dan sederhana ke arah mata putih makhluk itu – satu-satunya titik yang tampaknya tidak terlindungi oleh kulit kebalnya.
Penyusup Bayangan, terpana oleh rasa sakit sebelumnya dan sifat qi yang asing, bereaksi terlambat. Tangan Ling Feng, seperti tombak berujung matahari, menusuk tepat ke salah satu matanya.
Jeritan!
Suara yang memekakkan telinga, penuh penderitaan dan kemarahan, memenuhi gua. Makhluk itu menggelepar liar, energi yin-nya meledak tak terkendali. Ling Feng menarik tangannya yang berlumuran cairan kehijauan dingin dan mundur cepat, mengambil Bunga Rembulan Terpendam yang sekarang layu sedikit karena kehilangan sumber energinya.
Dia tidak menunggu untuk melihat akhir makhluk itu. Dia berlari keluar dari gua, menyusuri terowongan gelap, hanya berhenti saat sudah jauh dan yakin tidak diikuti.
Di sebuah ceruk batu yang tersembunyi, dia berhenti, terengah-engah. Luka di bahunya berdenyut sakit, dan tubuhnya terasa dingin dari dalam. Energi yin dari serangan makhluk itu telah masuk ke meridiannya. Tapi qi Matahari Murni-nya sudah bekerja, secara perlahan membakar dan memurnikan intrusi asing itu.
Dia memeriksa jarahan: Mata Yin yang berdenyut dingin di satu tangan, dan Bunga Rembulan Terpendam yang layu di tangan lainnya. Nilai dari dua item ini, di dunia luar, bisa setara dengan beberapa bulan sumber daya murid luar. Di sini, di neraka ini, itu adalah harta yang tak ternilai.
Tapi dia tidak bisa menyimpannya begitu saja. Penjaga akan memeriksa keranjangnya, dan mungkin bahkan menggeledahnya jika curiga. Dia harus menyembunyikannya dengan baik.
Dia memikirkan formasi penyembunyian energinya yang kasar. Mungkin, dengan menggunakan sedikit energi dari Mata Yin sebagai sumber daya, dia bisa membuat formasi penyegel sederhana yang bisa menyembunyikan kedua item ini di selnya.
Saat dia kembali ke area penjagaan, Lao Kui menatapnya dengan mata tajam. “Kau terluka.”
“Penyusup Bayangan, di gua Kristal Embun Batu,” jawab Ling Feng singkat, menyerahkan keranjang berisi kristal biru pucat. “Aku berhasil kabur.”
Lao Kui memeriksa lukanya, lalu keranjangnya. “Kau beruntung. Kebanyakan yang bertemu makhluk itu tidak kembali.” Dia mendekat, suaranya rendah. “Tapi kau membawa sesuatu yang lain, kan? Aku bisa merasakan… sisa energi yin yang kuat padamu.”
Ling Feng menegang. Tapi sebelum dia bisa menjawab, Lao Kui melanjutkan. “Tenang. Aku tidak akan merampasmu. Di tambang ini, setiap orang punya rahasia. Tapi ingat, jika kau menemukan sesuatu yang benar-benar berharga… kadang lebih baik membaginya dengan orang yang bisa melindungimu dari perhatian yang tidak diinginkan.” Dia memberi isyarat dengan kepalanya ke arah terowongan utama, tempat para penjaga senior dan mungkin murid dalam yang bertugas berjaga.
Pesan itu jelas. Lao Kui menawarkan perlindungan, dengan harga. Ling Feng mengangguk perlahan. “Aku mengerti, Senior Brother Lao. Aku akan… mengingatnya.”
Malam itu, di selnya, dengan formasi penyegel baru yang ditenagai oleh sepercik kecil energi Mata Yin, Ling Feng menyembunyikan hartanya dengan aman. Lalu, dia duduk bersila, memulai kultivasi. Kali ini, selain menyerap energi kotor dari sekitar, dia juga menyerap sejumlah kecil energi yin murni dari Mata Yin. Qi Matahari Murni-nya, dengan sifatnya yang memurnikan, mengubah energi yin yang bertentangan itu menjadi keseimbangan yin-yang yang harmonis di dalam dantiannya.
Prosesnya lambat dan berhati-hati, tapi hasilnya luar biasa. Fondasinya, yang telah kokoh, menjadi semakin padat. Dia merasakan batas Qi Refining tingkat ketiga, dan melihat jalan menuju tingkat keempat.
Dia membuka mata, melihat kegelapan di sekelilingnya. Tambang ini adalah neraka, tapi juga gudang harta terpendam dan tempat latihan yang kejam. Setiap hari adalah pertarungan untuk bertahan hidup, setiap malam adalah kesempatan untuk tumbuh lebih kuat.
Dia mengeluarkan Bunga Rembulan Terpendam yang sudah diawetkan dengan qi-nya. Dalam cahaya samar dari kristal langit-langit, bunga perak itu bersinar lembut. Itu adalah pengingat bahwa bahkan di tempat paling gelap sekalipun, ada keindahan dan kemurnian yang bisa ditemukan, jika seseorang cukup kuat dan cukup berani untuk mencarinya.
Api kecilnya tidak hanya bertahan. Itu mulai tumbuh, disuplai oleh bahan bakar dari kegelapan itu sendiri. Dan saat apinya tumbuh, bayangan yang dilemparkannya menjadi lebih panjang, lebih dalam, mulai menjangkau sudut-sudut neraka ini yang bahkan para penjaga takuti.
Waktunya akan tiba ketika api itu tidak lagi hanya menjadi sumber cahaya, tetapi menjadi kebakaran yang akan membakar habis semua jeruji yang mengurungnya.