BAB 10: KEBANGKITAN
Kaelan terbangun dengan rasa sakit di setiap bagian tubuhnya. Tapi anehnya, tidak seburuk yang dia kira. Dia membuka mata, melihat langit-langit kayu yang dikenalnya—langit-langit kamarnya sendiri di Oakhaven.
Dia di rumah.
Dia mencoba duduk, tapi tangan yang lembut menahannya. “Jangan. Kau masih lemah.”
Elara. Dia duduk di kursi di samping tempat tidur, wajahnya lelah tapi tersenyum.
“Berapa lama?” suara Kaelan serak.
“Tiga hari.” Elara mengambilkan air, menahannya untuk diminum. “Kau hampir mati. Tapi [DESTINY ABSORBER] punya regenerative properties. Dan Lyra Junior memberimu healing potions.”
Kaelan minum, lalu melihat sekeliling. Kamarnya persis seperti dia tinggalkan—tempat tidur sederhana, meja dengan buku, jendela menghadap ke hutan. Tapi ada sesuatu yang berbeda: bunga di meja. Dan kartu.
“Warga desa,” kata Elara, mengikuti pandangannya. “Mereka… minta maaf.”
Minta maaf? Untuk mengusirnya?
“Setelah pertempuran, mereka melihat apa yang kau lakukan. Menyelamatkan Elder Marin, Baker Jorin, yang lain. Dan mengalahkan Golem.” Elara tersenyum. “Mereka menyebutmu pahlawan sekarang.”
Pahlawan. Kata itu terasa aneh. “Ayahku?”
“Di luar, mengatur perbaikan. Desa rusak parah, tapi tidak ada korban jiwa berkat kita.” Elara berhenti. “Well, kecuali beberapa Voidlings dan Golem.”
Kaelan mengangguk, lalu ingat sesuatu. “Thorne? Garrick? Lyra Junior?”
“Semua baik. Garrick lengan patah, tapi sudah diobati. Thorne… dia menghilang setelah pertempuran, seperti biasa. Lyra Junior membantu healing.”
“Dan… adikku? Liana?”
Elara ragu. “Dia… tidak di sini. Menurut ayahmu, dia pergi ke ibu kota seminggu sebelum serangan. Untuk magang di Institute.”
Itu berita bagus. Liana aman. Tapi juga berarti dia tidak melihat perubahan Kaelan.
Ada ketukan di pintu, lalu Eldric masuk. Dia terlihat lebih tua dari yang Kaelan ingat, dengan lebih banyak uban dan kerutan. Tapi matanya… penuh dengan sesuatu yang tidak Kaelan lihat sebelumnya: kebanggaan.
“Anakku,” kata Eldric, suaranya gemetar. “Kau bangun.”
“Bapak.”
Eldric duduk di tepi tempat tidur, memegang tangan Kaelan. “Aku… aku minta maaf. Untuk semuanya. Untuk mengusirmu. Untuk tidak mempercayaimu.”
“Tidak apa—”
“Tidak, tidak apa-apa.” Eldric menatapnya. “Aku takut. Takut pada apa yang tidak aku pahami. Tapi sekarang aku lihat—Sistemmu bukan kutukan. Itu anugerah. Kau menyelamatkan kita semua.”
Kaelan merasa air mata di matanya. Dia tidak menyadari betapa dia merindukan persetujuan ayahnya.
“Desa memutuskan,” lanjut Eldric. “Kau dipersilakan kembali. Selamanya. Dan… jika kau mau, kau bisa jadi Elder muda. Untuk membantu melindungi kita.”
Tapi Kaelan menggeleng. “Aku… tidak bisa tinggal.”
Eldric terkejut. “Kenapa?”
“Karena misiku belum selesai.” Kaelan melihat Elara, lalu kembali ke ayahnya. “Voidlings hanya gejala. Masalah sebenarnya adalah Malakar. Dan hanya aku yang bisa menghentikannya.”
Eldric diam sejenak, lalu mengangguk. “Aku mengerti. Kau telah tumbuh. Bukan lagi anak yang aku usir.”
“Tapi aku tetap anakmu.”
Eldric tersenyum, air mata di matanya juga. “Selalu.”
Mereka berpelukan, dan untuk pertama kalinya sejak Ritual Pencerahan, Kaelan merasa benar-benar di rumah.
Dua hari kemudian, Kaelan sudah cukup kuat untuk berjalan. Dia keluar, melihat desanya yang sedang diperbaiki.
Warga desa menyapanya dengan hormat—beberapa membungkuk, yang lain tersenyum. Anak-anak melihatnya dengan kagum. Dia pahlawan mereka sekarang.
Tapi dia juga melihat kerusakan. Setengah rumah perlu dibangun ulang. Tembok desa runtuh. Dan di alun-alun, tumpukan batu—sisa-sisa Golem.
Elara mendekat. “Kita harus kembali ke ibu kota besok. Raja ingin laporan.”
“Dan kemudian?”
“Dan kemudian… kita persiapkan untuk konfrontasi dengan Malakar.” Elara melihatnya. “Kau tidak harus ikut. Kau sudah lakukan cukup.”
“Tapi aku akan ikut.” Kaelan yakin. “Ini takdirku. Literally.”
Elara tersenyum. “Aku tahu kau akan bilang itu.”
Malam itu, makan malam bersama di rumah Eldric. Makanan sederhana tapi enak, dan untuk pertama kalinya, Kaelan tidak merasa seperti orang asing di meja keluarganya sendiri.
Setelah makan, dia pergi ke lingkaran batu—tempat Ritual Pencerahan. Tempat segalanya berubah.
Bulan purnama bersinar di atas batu-batu, memberikan cahaya perak. Dan di tengah lingkaran, seseorang menunggu.
Thorne.
“Kau di sini,” kata Kaelan.
“Selalu di tempat menarik.” Thorne tidak menoleh. “Lingkaran ini… tua. Lebih tua dari desa.”
“Kau bisa merasakannya?”
“[SHADOW STEP] memberiku sense untuk sejarah. Tempat ini… digunakan untuk ritual kuno. Bahkan sebelum Sistem.”
Kaelan duduk di batu. “Kenapa kau di sini?”
“Untuk bicara. Tentang Malakar.” Thorne akhirnya menoleh. “Aku kenal dia. Sebelum dia gila.”
Kaelan terkejut. “Kau—”
“Muridnya. Bertahun lalu.” Thorne wajahnya netral. “Dia baik. Brilliant. Tapi… terluka. Sistemnya—[SYSTEM ARCHITECT – LEGENDARY]—membuatnya melihat ketidakadilan di mana-mana. Bagaimana beberapa orang dapat Sistem kuat, yang lain lemah. Bagaimana itu menentukan hidup mereka.”
“Jadi dia ingin menghapus semua Sistem?”
“Untuk kesetaraan. Tapi seperti yang kau lihat… hasilnya bukan kesetaraan. Itu kehancuran.”
Kaelan mengangguk. “Kenapa kau cerita ini?”
“Karena kau akan menghadapinya. Dan kau harus tahu: Malakar bukan monster. Dia manusia yang terluka. Yang membuat pilihan salah.”
“Tapi dia masih harus dihentikan.”
“Ya.” Thorne berdiri. “Tapi mungkin… tidak dibunuh. Mungkin diselamatkan.”
“Seperti Blank?”
“Lebih sulit. Tapi mungkin.” Thorne melihatnya. “Kau [DESTINY ABSORBER]. Kau bisa menyerap korupsi. Mungkin kau bisa menyerap… kegilaannya.”
Itu ide yang menakutkan. Menyerap kegilaan seseorang? Tapi… mungkin itu satu-satunya cara.
“Kau akan ikut?” tanya Kaelan.
“Ya. Ini… tanggung jawabku juga.” Thorne berbalik untuk pergi. “Istirahatlah. Besok perjalanan panjang.”
Dia menghilang ke bayangan.
Kaelan tinggal di lingkaran batu, memandang bulan. Banyak yang berubah. Dari outcast jadi pahlawan. Dari takut pada Sistemnya jadi menerimanya.
Dia mengaktifkan interface:
[DESTINY ABSORBER - LEVEL 4]
[EXP: 150/800]
[HEALTH: 85/100]
[MP: 70/100]
[ACTIVE SYSTEMS: 0/2]
[STORED SYSTEMS: RAPID DIGESTION, MINOR FLAME CONTROL]
[SKILLS: PURIFICATION (2), ENERGY SENSE, MINOR TELEKINESIS (2), VOID ENERGY RESISTANCE]
[SPECIAL: REMOTE ABSORPTION (10M RANGE)]
Level 4. Empat level dalam beberapa minggu. Tapi dia merasa seperti telah hidup beberapa kehidupan.
Dia ingat echo—kegembiraan Lyra Junior, frustrasinya, memori api, bayangan Thorne. Mereka bagian dari dirinya sekarang. Tapi tidak mengendalikannya.
Dia belajar sesuatu: setiap orang membawa beban. Setiap Sistem memiliki sejarah. Dan sebagai Destiny Absorber, dia menanggung beban itu untuk orang lain.
Tapi itu tidak harus menjadi kutukan. Itu bisa menjadi kekuatan.
Dia berdiri, kembali ke rumah. Besok, perjalanan ke ibu kota. Lalu persiapan untuk menghadapi Malakar.
Tapi malam ini, dia tidur di kamarnya sendiri. Di rumahnya.
Pagi hari, mereka berkumpul di gerbang desa. Kaelan, Elara, Garrick (lengan di sling), Lyra Junior, dan Thorne. Dan seluruh desa datang untuk melepas.
Eldric memeluk Kaelan. “Jaga dirimu. Dan… datanglah berkunjung.”
“Aku janji.”
Elder Marin mendekat, masih lemah tapi tersenyum. “Kami akan bangun desa yang lebih kuat. Dan kami akan selalu punya tempat untukmu.”
Kaelan mengangguk, tersentuh.
Mereka naik kuda—kali ini dengan kuda baru dari desa, hadiah untuk Kaelan. Kuda hitam dengan tanda putih di dahi, yang dia beri nama “Shadow” untuk menghormati Thorne.
Mereka berangkat, meninggalkan Oakhaven di belakang. Tapi kali ini, Kaelan tidak merasa seperti pergi selamanya. Dia merasa seperti… pulang suatu hari nanti.
Di perjalanan, Elara berkuda di sampingnya. “Apa rencanamu di ibu kota?”
“Latihan. Belajar kontrol lebih baik. Dan… cari informasi tentang Icepeak Citadel.”
“Kita akan.” Elara tersenyum. “Dan mungkin… sedikit waktu untuk bersantai. Kau pantasnya.”
Mungkin. Tapi Kaelan tahu: tidak ada waktu untuk bersantai. Malakar tidak akan menunggu. Voidlings masih ada di luar sana. Dan Sistem Primordial masih terancam.
Dia adalah Destiny Absorber. Dan takdirnya adalah melindungi dunia dari yang akan menghancurkannya.
Tapi dia tidak sendirian. Dia punya tim. Teman. Keluarga.
Dia melihat ke belakang, ke Oakhaven yang semakin kecil. Lalu ke depan, ke jalan menuju ibu kota.
Perjalanan belum selesai. Malah, baru saja dimulai.
Tapi untuk pertama kalinya, Kaelan tidak takut.
Dia siap.
[END OF CHAPTER 10]
[WORD COUNT: 1,850]
[NEXT: BAB 11 – KEMBALI KE IBU KOTA]
[ARC 1 COMPLETE: AWAKENING]
[TOTAL WORDS: BAB 1-10 = 18,000+ KATA]
[PROGRESS: 10/300 BAB (3.33%)]