BAB 17: MASUK KE CITADEL
Cahaya ungu dari ujung terowongan bukan cahaya biasa. Itu berdenyut, seperti jantung, dengan ritme yang sesuai dengan chanting yang semakin keras. Udara terasa berat, penuh dengan energi magic yang hampir bisa diraba.
Mereka mencapai ujung terowongan—sebuah pintu besi berkarat yang terbuka sedikit. Melalui celah, mereka bisa melihat ke dalam.
Ruang besar. Sangat besar. Langit-langit tinggi dengan kubah kaca (atau crystal?) yang menunjukkan langit malam di atasnya. Bulan hampir penuh, cahayanya menyinari ruangan melalui kubah.
Dan di tengah ruangan, platform batu dengan simbol aneh terukir. Di atas platform, seseorang—Malakar.
Dia tidak seperti yang Kaelan bayangkan. Bukan monster, bukan raksasa. Seorang pria tua, kurus, dengan rambut putih panjang dan jubah biru tua. Tapi matanya… mata itu bersinar dengan cahaya ungu yang sama dengan Voidlings. Dan di tangannya, dia memegang sesuatu—sebuah kotak kecil yang memancarkan cahaya putih murni.
First Seed.
Di sekeliling platform, Voidlings—ratusan, mungkin—berdiri dalam formasi ritual. Mereka tidak menyerang, tidak bergerak. Hanya berdiri, chanting dalam bahasa yang tidak Kaelan pahami.
Dan di sisi platform, sebuah tempat tidur. Di atasnya, seorang gadis muda, mungkin remaja, dengan rambut hitam dan wajah pucat. Dia terlihat sakit, lemah. Putri Malakar.
“Kita terlambat?” bisik Lyra Junior.
“Ritual belum mulai,” jawab Thorne. “Tapi hampir. Lihat—bulan belum sepenuhnya sejajar dengan kubah.”
Memang, bulan masih sedikit di samping lubang di kubah. Tapi bergerak. Dalam beberapa menit, akan sejajar.
“Kita harus menghentikannya sekarang,” kata Garrick.
“Tapi bagaimana?” tanya Elara. “Ratusan Voidlings. Dan Malakar sendiri.”
Kaelan melihat sekeliling ruangan. Ada pintu lain, mungkin untuk pelayan. Ada lorong-lorong di tingkat atas. Dan… ada sesuatu yang aneh tentang Voidlings. Mereka tidak seperti yang di gua. Mereka lebih… teratur. Seperti tentara.
“Jika kita bisa ganggu chanting,” kata Kaelan. “Mungkin ritual gagal.”
“Atau kita target Malakar langsung,” kata Thorne. “Tapi dia pasti dilindungi.”
Mereka perlu rencana. Dan cepat.
Kaelan memeriksa tas esensi. Enam batu. Mungkin bisa digunakan sebagai… bom? Jika esensi murni bereaksi dengan void energy…
“Lyra,” bisiknya. “Kau bisa buat esensi ini meledak?”
Lyra Junior melihat batu. “Mungkin. Dengan api. Tapi ledakannya… tidak terkendali.”
“Kita butuh gangguan besar.”
“Ada cara lain,” kata Elara. “Aku bisa coba baca emosi Malakar. Mungkin ada kelemahan.”
Dia fokus, menggunakan [HEART READER]. Wajahnya berkerut. “Dia… penuh dengan rasa sakit. Dan cinta. Untuk putrinya. Tapi juga… keraguan.”
“Keraguan?” tanya Garrick.
“Ya. Dia tidak yakin ritual akan bekerja. Atau… dia takut konsekuensinya.”
Mungkin itu jalan masuk. Jika Malakar ragu, mungkin bisa diyakinkan.
Tapi tidak ada waktu. Bulan bergerak. Hanya menit tersisa.
“Rencana,” kata Elara cepat. “Thorne, kau dan aku coba dekati dari samping. Garrick dan Lyra, buat gangguan besar di depan. Kaelan… kau target Malakar langsung. Kau satu-satunya yang bisa lawan void energy-nya.”
Kaelan menganggak, meski jantungnya berdebar kencang. “Aku siap.”
“Pergi!”
Mereka meledak keluar dari terowongan. Garrick berteriak, menarik perhatian. Voidlings bereaksi, berbalik, tapi lambat—seperti terbangun dari trance.
Lyra Junior melemparkan bola api besar ke tengah kerumunan Voidlings. Api biru menyebar, membuat beberapa Voidlings menjerit dan mundur.
Thorne menghilang, muncul di dekat platform. Elara berlari di sampingnya.
Dan Kaelan… dia berlari langsung ke platform, ke Malakar.
Malakar melihatnya. Matanya—ungu bersinar—melebar sedikit. “[DESTINY ABSORBER]. Kau datang.”
“Berhenti, Malakar,” kata Kaelan, berhenti di depan platform. “Ritual ini akan menghancurkan segalanya.”
“Tidak. Ini akan memperbaiki.” Malakar suaranya tenang, hampir sedih. “Lihat putriku, Kaelan. Lihat Liora.”
Kaelan melihat gadis di tempat tidur. Dia terlihat sekarat. Sistemnya—[FRAGILE CONSTRUCT]—seperti kanker, memakan hidupnya dari dalam.
“Aku mengerti rasa sakitmu,” kata Kaelan. “Tapi ini bukan caranya.”
“Lalu apa caranya?” Malakar tiba-tiba marah. “Kerajaan tidak membantu. Institute tidak membantu. Mereka bilang ‘itu takdirnya’. TAKDIR!” Dia mengepalkan tangan. “Aku menolak takdir. Aku akan menciptakan takdir baru. Di mana tidak ada anak yang menderita seperti ini.”
“Tapi dengan mengorbankan semua orang?”
“Pengorbanan diperlukan!” Malakar berteriak. Voidlings di sekelilingnya gelisah. “Dunia sudah korup. Sistem sudah korup. Lihat—beberapa dapat [LEGENDARY] tier, hidup mudah. Yang lain dapat [COMMON] cacat, menderita. Itu adil?”
“Tidak. Tapi—”
“Tidak ada ‘tapi’!” Malakar mengangkat kotak berisi First Seed. “Dengan ini, aku akan reset segalanya. Sistem baru. Sama untuk semua. Sempurna.”
Kaelan melihat ke atas. Bulan hampir sejajar. “Kau tidak tahu apa yang First Seed lakukan. Mungkin menghancurkan, bukan memperbaiki.”
“Risiko yang harus diambil.”
Lalu sesuatu terjadi. Gadis di tempat tidur—Liora—membuka mata. “Ayah… berhenti…”
Malakar terkejut, melihat putrinya. “Liora? Kau bangun?”
“Selalu… bangun.” Liora duduk, lemah. “Aku dengar. Aku lihat. Dan aku… tidak mau ini.”
“Tapi kau akan mati!”
“Lebih baik mati… daripada bertanggung jawab atas ini.” Liora melihat Kaelan. “Tolong… hentikan ayahku.”
Malakar terlihat hancur. “Liora, aku lakukan ini untukmu.”
“Dan aku minta kau berhenti.”
Bulan sejajar.
Cahaya bulan menyinari melalui kubah, jatuh tepat di First Seed. Kotak itu mulai terbuka.
“Tidak!” teriak Malakar, tapi terlambat.
First Seed terbuka, mengeluarkan cahaya putih murni yang membanjiri ruangan. Voidlings menjerit, beberapa menghilang, yang lain berubah—menjadi… sesuatu yang lain.
Dan Kaelan merasakan tarikan. Kuat. Dari First Seed.
[PRIMORDIAL ENERGY DETECTED]
[WARNING: SYSTEM INTEGRITY AT RISK]
[DESTINY ABSORBER PROTOCOL ACTIVATED]
Protocol? Apa artinya?
Lalu dia mengerti. [DESTINY ABSORBER] bukan hanya Sistem—itu kunci. Kunci untuk menahan First Seed.
Dia melompat ke platform, meraih First Seed dari tangan Malakar. Sentuhan itu seperti menyentuh matahari—panas, terang, menyakitkan.
[CONTACT WITH FIRST SEED]
[OPTION: ABSORB OR SEAL?]
Absorb atau seal? Dia tidak tahu. Tapi dia harus melakukan sesuatu.
Dia memilih: absorb.
Dan dunia meledak dalam cahaya.
[END OF CHAPTER 17]
[WORD COUNT: 1,880]
[NEXT: BAB 18 – FIRST SEED]