BAB 16: TEROWONGAN TAMBANG
Kegelapan di terowongan tambang bukan seperti kegelapan biasa. Ini tebal, hampir padat, dan sepertinya menyerap cahaya. Bola cahaya Lyra Junior hanya menerangi beberapa meter di depan mereka, membuat bayangan bergerak aneh di dinding.
Bau semakin kuat saat mereka masuk lebih dalam: campuran logam berkarat, tanah basah, dan sesuatu yang manis-busuk yang membuat Kaelan ingin muntah.
“Tetap dekat,” bisik Thorne, suaranya bergema aneh di terowongan sempit.
Lantai terowongan tidak rata—rel kereta tambang tua berkarat, kayu penopang lapuk, dan genangan air keruh. Mereka harus berhati-hati dengan setiap langkah.
Setelah sekitar seratus meter, terowongan bercabang. Kiri atau kanan.
“Peta tidak menunjukkan ini,” kata Thorne, memeriksa naskahnya. “Tambang diperluas sejak peta dibuat.”
“Kita butuh penanda,” kata Elara. “Atau kita akan tersesat.”
Garrick mengambil palu dari tasnya, memukul paku ke dinding di cabang mereka datang. “Tanda panah. Jika kita harus mundur, kita tahu jalan.”
Mereka memilih kiri, berdasarkan firasat Thorne bahwa itu menuju ke atas.
Terowongan semakin sempit, langit-langit semakin rendah. Garrick dengan baju besinya harus membungkuk.
Lalu mereka mendengar suara lagi. Jeritan. Tapi kali ini lebih dekat, lebih jelas. Dan ada kata-kata.
“…tolong… hentikan… sakit…”
Manusia. Masih hidup.
Mereka mempercepat, mengikuti suara. Terowongan terbuka ke ruang yang lebih besar—ruang penambangan tua, dengan mesin berkarat dan gerobak terbalik.
Dan di tengah ruangan… sangkar.
Sangkar besi, beberapa orang di dalamnya. Semua dalam kondisi mengerikan: pakaian compang-camping, luka, dan beberapa memiliki… modifikasi. Tangan crystal, mata bersinar ungu, kulit seperti es.
Eksperimen Malakar. Tapi belum selesai.
Salah satu tahanan melihat mereka. Matanya—satu normal, satu crystal—melebar. “Kau… bukan mereka.”
“Kami di sini untuk membantu,” kata Elara, mendekat.
“Tidak! Pergi! Dia akan tahu!”
“Dia siapa?” tanya Kaelan.
“Pengawas. Dia datang setiap jam untuk… mengambil satu.”
Mengambil untuk apa? Untuk eksperimen lebih lanjut? Untuk ritual?
“Berapa banyak pengawas?” tanya Garrick.
“Satu. Tapi… dia kuat. [CRYSTAL FORGER – RARE]. Bisa buat senjata dari crystal, armor…”
Lalu mereka mendengar langkah kaki. Berat, berirama. Dari terowongan di seberang ruangan.
“Kembali!” bisik tahanan. “Sembunyi!”
Mereka bersembunyi di balik mesin berkarat, tepat saat pengawas masuk.
Dia besar—lebih dari dua meter, dengan armor crystal ungu yang tampaknya tumbuh dari kulitnya. Di tangannya, tongkat crystal dengan ujung runcing. Dan wajahnya… setengah crystal, setengah manusia. Seperti tahanan, tapi lebih “berhasil”.
Pengawas berjalan ke sangkar, matanya—dua crystal ungu—memindai tahanan. “Siapa hari ini?” suaranya seperti kaca pecah.
Tahanan gemetar, tidak ada yang menjawab.
“Kau,” kata pengawas, menunjuk seorang wanita muda. “Master butuh… bahan segar.”
Dia membuka sangkar, meraih wanita itu. Dia berteriak, berjuang.
Kaelan tidak bisa hanya menonton. Dia melompat keluar. “Hentikan!”
Pengawas berbalik, terkejut. Lalu tertawa. “Pengunjung? Master tidak bilang akan ada pengunjung.”
“Lepaskan dia,” kata Kaelan, pedang terhunus.
“Atau apa?” Pengawas melemparkan wanita itu ke lantai, fokus pada Kaelan. “[DESTINY ABSORBER]. Master bilang kau mungkin datang.”
Jadi Malakar memang mengharapkan mereka.
“Kami di sini untuk menghentikan Malakar,” kata Elara, keluar dari persembunyian dengan yang lain.
“Kau tidak bisa menghentikan Master. Dia hampir selesai. Dan kalian… akan jadi bahan bagus.”
Pengawas mengangkat tongkatnya, dan crystal di ujungnya bersinar. Dari dinding, crystal tumbuh—cepat, seperti tanaman—membentuk duri tajam yang menyerang.
Garrick melompat ke depan, perisainya menghalangi duri. “Aku tangani dia. Kalian bebaskan tahanan!”
“Tidak sendirian,” kata Kaelan, bergabung dengannya.
Pertarungan dimulai. Pengawas kuat—setiap pukulan tongkatnya memiliki kekuatan yang bisa mematahkan tulang. Tapi dia lambat, tidak lincah.
Kaelan menggunakan kecepatan dari [BLADE DANCER] yang dia serap selama pelatihan, bergerak cepat, menebas. Tapi armor crystal keras—pedangnya hanya meninggalkan goresan.
“Kau butuh sesuatu yang lebih kuat,” teriak Lyra Junior, melemparkan bola api. Api mengenai crystal, tapi tidak banyak efek.
“Crystal lemah terhadap… tekanan tiba-tiba?” tebak Elara. “Atau getaran?”
Getaran. Kaelan ingat [EARTH SHAPER] dari Borin. Jika dia bisa menciptakan getaran…
Dia beralih Sistem, mengaktifkan [EARTH SHAPER] yang dia serap sebagian. Dia merasakan energi bumi, stabil, kuat. Dia menempelkan tangan ke lantai, mengirim gelombang getaran.
Lantai bergetar, dan crystal di armor pengawas retak. Tidak banyak, tapi cukup.
“Bagus!” teriak Garrick, memanfaatkan celah. Dia menghantam dengan pedang besar, mematahkan sepotong armor.
Pengawas menjerit—suara crystal pecah—dan mundur. Tapi dia tidak menyerah. Dia mengangkat tongkat lagi, dan kali ini, crystal dari seluruh ruangan mulai bergerak, membentuk… golem kecil.
Tiga golem crystal, masing-masing setinggi manusia.
“Kita kewalahan,” kata Thorne, muncul di belakang pengawas dan menikam dengan belati. Tapi armor crystal terlalu tebal.
Kaelan melihat tahanan. Mereka masih di sangkar. Dan wanita yang hampir diambil… dia memiliki sesuatu di tangannya. Sebuah batu, seperti yang diberikan ice weasels, tapi lebih besar.
“Esensi!” teriak wanita itu, melemparkan batu ke Kaelan.
Kaelan menangkapnya. [PURE ICE ESSENCE – LARGE]. Lebih kuat.
Dia menghancurkannya, menyerap energinya. Dingin murni membanjiri dirinya, membersihkan corruption lebih lanjut.
[VOID CORRUPTION: 4.4% → 3.8%]
[ICE ASPECT ENHANCED: +30%]
Dan dengan ice aspect yang ditingkatkan, dia punya ide. Crystal adalah es, dalam bentuk lain. Mungkin dia bisa… mengontrolnya?
Dia fokus pada crystal di armor pengawas, membayangkannya sebagai es, bukan crystal. Dan dengan ice aspect-nya, dia mencoba memanipulasi.
[ICE CONTROL ATTEMPT…]
[TARGET: VOID CRYSTAL]
[SUCCESS: 40%]
Crystal di armor pengawas bergetar, lalu mulai… mencair? Tidak, bukan mencair. Menjadi lunak, seperti lilin.
Pengawas terkejut, melihat armornya berubah. “Apa—”
Garrick tidak melewatkan kesempatan. Dia menghantam dengan semua kekuatannya, dan kali ini, pedangnya menembus armor yang melunak, masuk ke daging di bawahnya.
Pengawas menjerit, jatuh. Golem crystal berhenti, lalu runtuh menjadi tumpukan crystal biasa.
[CRYSTAL FORGER DEFEATED]
[EXP GAINED: 200]
[LOOT: VOID CRYSTAL SHARD x3]
Kaelan berlari ke sangkar, membuka kuncinya dengan pedang. Tahanan keluar, gemetar, bersyukur.
“Terima kasih,” kata wanita yang melempar esensi. “Aku… Aria. Pemburu dari desa.”
“Kau punya lebih banyak esensi?” tanya Kaelan.
“Ya. Di desa kami, kami kumpulkan. Tapi Malakar mengambil semuanya. Ini yang tersembunyi.”
“Bisa kau beri kami?”
Aria mengangguk, mengambil tas kecil dari balik batu. “Ini. Tapi hati-hati—terlalu banyak esensi murni bisa… membekukan jiwa.”
Kaelan menerima tas. Enam batu esensi. Cukup untuk mengurangi corruption lebih jauh, atau untuk senjata.
“Kalian harus pergi,” kata Aria. “Malakar akan tahu pengawasnya mati.”
“Kau ikut kami?” tanya Elara.
“Tidak. Kami terlalu lemah. Tapi kami akan coba keluar lewat jalan lain. Doakan kami.”
Mereka mengangguk, lalu melanjutkan. Terowongan dari ruang penambangan ini menuju ke atas—menuju citadel.
Di perjalanan, Kaelan menggunakan satu esensi. Corruption turun ke 3.2%.
“Kau baik-baik saja?” tanya Elara, khawatir.
“Lebih baik,” jawab Kaelan. “Tapi kita harus cepat. Malakar tahu kita di sini.”
Mereka mempercepat, naik melalui terowongan yang semakin curam. Dan akhirnya, mereka melihat cahaya di ujungnya.
Cahaya ungu.
Dan suara chanting semakin keras.
Mereka hampir sampai. Tapi apa yang menunggu di atas?
[END OF CHAPTER 16]
[WORD COUNT: 1,910]
[NEXT: BAB 17 – MASUK KE CITADEL]