BAB 15: PERJALANAN KE FROZEN NORTH

Ukuran:
Tema:

Fajar di Frozen North bukanlah matahari terbit yang indah. Itu adalah cahaya abu-abu pucat yang perlahan menyapu kegelapan, mengungkapkan lanskap es dan batu yang tampaknya tidak berujung. Suhu turun lebih rendah lagi, membuat napas mereka membeku di udara.

Kaelan bangun dengan tubuh kaku dan pikiran berat. Void corruption masih ada, seperti noda dingin di jiwanya. Tapi setidaknya tidak tumbuh—self-purification semalam menahannya.

“Semua hidup?” tanya Garrick, sudah berdiri dengan baju besi lengkap.

“Barely,” jawab Lyra Junior, menggigil meski dengan mantel termal.

Mereka sarapan cepat—rations yang dipanaskan dengan api kecil Lyra Junior—lalu berkemas. Hari ini mereka akan meninggalkan kereta luncur dan mulai pendakian sebenarnya.

Pengemudi kereta luncur, seorang pria tua bernama Harkon, melihat mereka dengan mata khawatir. “Aku tidak bisa ikut lebih jauh. Snowrunners tidak bisa naik lereng itu.”

“Kami mengerti,” kata Elara. “Kembalilah ke pos. Beri tahu mereka jika kami tidak kembali dalam seminggu…”

Harkon mengangguk. “Semoga Ancient Ones melindungimu.”

Mereka meninggalkan kereta luncur, mulai mendaki. Lereng pertama tidak terlalu curam, tapi licin dengan es. Mereka memakai crampon—sepatu dengan paku—dan menggunakan tongkat es.

Thorne memimpin, menggunakan [SHADOW STEP] untuk menguji stabilitas es di depan. “[SHADOW STEP] memberiku sense untuk rongga dan retakan,” katanya. “Ikuti jejakku persis.”

Mereka mengikuti, langkah demi langkah. Angin meraung, membawa serpihan es yang terasa seperti jarum di kulit.

Setelah dua jam, mereka mencapai ketinggian di mana pepohonan—atau apa pun yang menyerupai pohon—berhenti. Hanya batu dan es dari sini.

“Lapisan pertama: cuaca,” kata Garrick, melihat ke atas. “Dan itu semakin buruk.”

Memang. Di atas, awan gelap berkumpul. Badai salju mendekat.

“Kita butuh tempat berlindung sebelum badai datang,” kata Elara.

Thorne mengangguk, memindai area. “Ada gua di sebelah kiri. Tapi… ada sesuatu di dalamnya.”

“Monster?” tanya Lyra Junior.

“Mungkin. Atau… yang lain.”

Mereka mendekati gua. Mulutnya lebar, dengan stalaktit es menggantung seperti gigi. Dari dalam, suara gemerisik.

Kaelan mengaktifkan Energy Sense, tapi dengan gelang Echo Stabilizer, jangkauannya terbatas. Dia masih bisa merasakan sesuatu—beberapa sesuatu. Energi kecil, gelisah.

“Bukan Voidlings,” katanya. “Tapi… hidup.”

Mereka memasuki gua dengan hati-hati. Di dalam, lebih hangat—sedikit. Dan ada… makhluk.

Seperti tikus, tapi sebesar kucing, dengan bulu putih tebal dan mata biru besar. Mereka berkumpul di sudut, menggigil.

“Ice weasels,” kata Lyra Junior. “Tidak berbahaya. Tapi biasanya tidak di ketinggian ini.”

Salah satu weasel mendekat, mengendus Kaelan. Lalu mendesis dan mundur.

“Mereka takut padaku,” kata Kaelan. “Karena corruption.”

“Atau karena kau [DESTINY ABSORBER],” kata Thorne. “Hewan sering merasakan hal seperti itu.”

Mereka memutuskan untuk berbagi gua dengan weasels. Setidaknya makhluk kecil itu tidak menyerang.

Badai salju melanda tak lama kemudian. Angin meraung di luar, memenuhi mulut gua dengan salju. Mereka harus mundur lebih dalam.

“Kita terjebak di sini sampai badai reda,” kata Garrick. “Bisa berjam-jam. Atau berhari-hari.”

“Kita tidak punya hari,” kata Elara. “Bulan purnama besok malam.”

“Kita akan terus maju setelah badai,” kata Thorne. “Apapun yang terjadi.”

Mereka duduk, berusaha tetap hangat. Lyra Junior membuat api kecil dengan [ELEMENTAL APPRENTICE], tapi api itu biru dan dingin—hanya memberikan cahaya, bukan kehangatan.

Kaelan duduk sendirian, memeriksa corruption-nya. Masih 4.9%. Tapi dia merasakan sesuatu yang aneh—corruption itu… berkomunikasi? Tidak dengan kata-kata, tapi dengan perasaan. Rasa dingin. Isolasi. Dan… pengertian.

Pengertian tentang apa? Tentang Malakar? Tentang rencananya?

Dia mencoba fokus pada perasaan itu, tanpa membiarkannya mempengaruhinya.

[CORRUPTION ANALYSIS…]
[CONTENT: MALAKAR’S FRUSTRATION, DESPERATION, DETERMINATION]
[MESSAGE: “THEY DON’T UNDERSTAND. THEY NEVER WILL.”]

Itu… echo dari Malakar sendiri. Melalui corruption, Kaelan bisa merasakan sedikit dari pikiran Malakar.

Dia membuka mata. “Aku… bisa merasakan Malakar.”

Semua menoleh. “Apa?” tanya Elara.

“Melalui corruption. Aku bisa merasakan echo-nya. Frustrasinya. Keputusasaannya.”

“Bahaya,” kata Thorne. “Jika kau bisa merasakannya, mungkin dia bisa merasakanmu juga.”

Itu pemikiran yang menakutkan. Jika Malakar tahu mereka datang…

“Tapi juga kesempatan,” kata Kaelan. “Jika aku bisa memahami pikirannya, mungkin aku bisa memprediksi gerakannya.”

“Atau dia bisa memanipulasimu,” kata Garrick. “Corruption bukan jalan satu arah.”

Benar. Tapi Kaelan merasa dia harus mengambil risiko. Informasi terlalu berharga.

Dia berkonsentrasi lagi, mencoba merasakan lebih banyak. Tapi corruption kecil, jadi echo terbatas. Dia hanya mendapatkan potongan: “ritual”, “First Seed”, “kesempurnaan”, “pengorbanan”.

Dan satu kata berulang: “putri”.

Putri Malakar. Yang sakit. Yang memulai segalanya.

“Ritualnya bukan hanya untuk menghapus Sistem,” kata Kaelan, membuka mata. “Itu untuk menyembuhkan putrinya.”

Thorne mengangguk. “Aku duga begitu. Tapi bagaimana menghapus semua Sistem bisa menyembuhkan satu orang?”

“Mungkin dengan First Seed. Dia ingin menanam ulang dunia, membuat Sistem baru. Dan dalam Sistem baru itu, putrinya akan sempurna.”

“Tapi dengan mengorbankan semua orang lain,” kata Elara, marah. “Itu egois.”

“Tapi bagi dia, perlu,” kata Thorne. “Dia melihatnya sebagai trade-off: jutaan orang kehilangan Sistem vs satu anak disembuhkan. Dan bagi seorang ayah…”

Itu tidak benar, tapi bisa dimengerti. Dalam cara yang menyimpang.

Badai berlanjut selama berjam-jam. Mereka makan, beristirahat, memeriksa equipment. Ice weasels tetap di sudut mereka, mengamati dengan mata biru besar.

Kemudian, sesuatu terjadi. Salah satu weasels mendekati Kaelan lagi, tapi kali ini tidak mendesis. Itu… menaruh sesuatu di depannya.

Sebuah batu kecil, biru pucat, bersinar lemah.

“Esensi es murni,” kata Lyra Junior, terkesan. “Mereka memberikannya padamu.”

“Kenapa?” tanya Kaelan.

“Mungkin mereka merasakan corruption-mu. Dan esensi es bisa… menyeimbangkannya. Es murni, tidak seperti void-ice hybrid.”

Kaelan mengambil batu itu. Dingin, tapi nyaman. Dia merasakan energi murni darinya—dingin tapi hidup, bukan dingin mati seperti corruption.

[ITEM: PURE ICE ESSENCE]
[EFFECT: REDUCE VOID CORRUPTION 10%]
[USE: CRUSH AND ABSORB]

Dia menghancurkan batu itu di tangannya, dan energi biru masuk ke kulitnya. Dingin yang menyegarkan, membersihkan.

[VOID CORRUPTION: 4.9% → 4.4%]

Sedikit, tapi membantu. Dan weasels tampak puas.

“Makhluk Frozen North lebih bijaksana dari yang kita kira,” kata Elara. “Mereka tahu kau berjuang melawan kegelapan.”

Mungkin. Atau mereka hanya tidak ingin corruption menyebar di rumah mereka.

Akhirnya, setelah enam jam, badai mereda. Salju berhenti, angin tenang.

“Waktunya bergerak,” kata Thorne, berdiri.

Mereka berkemas, meninggalkan gua. Ice weasels mengawasi mereka pergi, lalu kembali ke sudut mereka.

Pendakian dilanjutkan. Sekarang lebih sulit—salju baru membuat licin, dan mereka harus berhati-hati dengan avalanche.

Setelah tiga jam lagi, mereka mencapai ketinggian di mana udara begitu tipis sehingga mereka harus menggunakan potion pernapasan. Dan di depan… puncak.

Icepeak Citadel.

Dari kejauhan, itu seperti mahkota es di puncak gunung. Tapi saat mendekat, Kaelan melihat detail: menara runcing, dinding tinggi, dan… cahaya ungu bersinar dari jendela.

Dan sesuatu yang lain: suara. Bukan angin. Suara seperti… nyanyian. Chanting ritual.

“Kita terlambat?” tanya Garrick.

“Tidak,” kata Thorne. “Ritual belum mulai. Tapi persiapannya sudah.”

“Bagaimana kita masuk?” tanya Lyra Junior.

Thorne menunjuk ke sisi gunung. “Terowongan tambang. Di sana.”

Sebuah lubang gelap di sisi gunung, sebagian tertutup salju. Jalur pintas. Atau jebakan.

“Kita punya pilihan,” kata Elara. “Jalur utama—dijaga ketat, tapi mungkin lebih bisa diprediksi. Atau terowongan—tidak diketahui, tapi mungkin lebih cepat.”

“Terowongan,” kata Kaelan. “Kita butuh kejutan.”

Yang lain setuju. Mereka mendekati lubang.

Dari dalam, bau aneh—campuran logam, ozone, dan… daging busuk.

Dan suara. Jeritan. Seperti yang dilaporkan.

“Apapun yang di dalam,” kata Garrick, memegang pedang besar, “siap untuk bertarung.”

Mereka masuk ke kegelapan. Dan perjalanan ke jantung citadel dimulai.


[END OF CHAPTER 15]
[WORD COUNT: 1,870]
[NEXT: BAB 16 – TEROWONGAN TAMBANG]