BAB 38: ANCIENT ONE BANGUN

Ukuran:
Tema:

Sosok itu—Ancient One—tidak tinggi, tidak mengintimidasi. Seperti manusia tua yang bijak, dengan mata yang melihat terlalu banyak. Tapi energinya… itu yang membuat semua terdiam. Energi itu kuno, dalam, seperti dasar samudra.

Dia melihat sekeliling, lalu pada Kaelan. “Kau… yang membangunkan kami.”

“Ya,” jawab Kaelan, berusaha tenang. “Aku Kaelan. Primordial Archivist.”

“Kami tahu. Kami merasakanmu. Melalui fragmen.”

“Dan aku tahu tentang kalian. Melalui memori.”

Ancient One mengangguk. “Memori kegagalan. Itu yang kami tinggalkan. Agar tidak terulang.”

“Tapi hampir terulang. The Reclaimers hampir menghancurkan segalanya.”

“Karena The Architects tidak pernah memahami: kegagalan adalah bagian dari penciptaan.”

Kaelan merasa lega. Ancient One ini… masuk akal. Tidak marah, tidak ingin menghancurkan.

“Kami ingin memperbaiki,” kata Ancient One. “Tapi… kami tidak bisa sendirian. Kami butuh bantuan kalian—ciptaan kami.”

“Kami siap membantu,” kata Archmage Lyra, maju. “Tapi bagaimana?”

“Pertama, kami harus memahami dunia sekarang. Sudah berubah banyak.”

Ancient One menyentuh tanah, dan energi menyebar—seperti scan. Dia menutup mata, memproses informasi.

Setelah beberapa saat, dia membuka mata lagi. “Sistem… masih tidak adil. Tapi ada upaya memperbaiki. Archives… ide bagus.”

“Terima kasih,” kata Kaelan.

“Tapi corruption dalam dirimu… void prime. Itu energi The Architects. Bagaimana kau mendapatkannya?”

Kaelan menceritakan tentang Elias, gateway, pengorbanan.

Ancient One terdiam. “Pengorbanan… itu yang tidak pernah kami pahami sepenuhnya. Kami menciptakan, tapi tidak pernah mengorbankan diri untuk ciptaan.”

“Karena kalian pencipta. Kami ciptaan. Mungkin itu bedanya.”

“Mungkin.” Ancient One melihat ke langit. “The Architects akan kembali. Mereka tidak akan berhenti. Dan kami… tidak cukup kuat untuk melawan mereka sendirian.”

“Kami akan membantu,” kata Kaelan.

“Tapi kalian lemah. Dibandingkan dengan mereka.”

“Tapi kami banyak. Dan kami punya… sesuatu yang mereka tidak punya.”

“Apa?”

“Pilihan untuk peduli.”

Ancient One tersenyum—ekspresi pertama yang benar-benar manusiawi. “Benar. Itu kekuatan terbesar.”

Dia duduk di batu, mengundang yang lain duduk juga. “Kita harus merencanakan. The Architects punya satu kelemahan: mereka bergantung pada ‘Source Prime’—sumber energi pertama. Jika kita bisa mencapainya, kita bisa… bernegosiasi.”

“Di mana Source Prime?” tanya Thorne.

“Di Beyond. Tapi untuk mencapainya, butuh gateway khusus. Dan itu dijaga.”

“Kita sudah menutup satu gateway,” kata Elara.

“Bukan gateway itu. Gateway ke Source Prime berbeda—hanya bisa dibuka dengan… pengorbanan murni.”

“Seperti Elias?”

“Tapi lebih besar. Pengorbanan tanpa pamrih, tanpa harapan kembali.”

Semua terdiam. Itu berarti seseorang harus… mati.

“Ada cara lain?” tanya Kaelan.

“Tidak tahu. Tapi kita bisa mencari.”

Ancient One berdiri. “Pertama, aku akan membantu memperbaiki Sistem. Memberi kalian alat untuk membuatnya lebih adil.”

Dia mengangkat tangan, dan energi keluar, membentuk crystal-crystal kecil. “Ini ‘System Balancers’. Tempatkan di pusat Archives. Mereka akan secara bertahap menyesuaikan tier Sistem, membuat naik tier lebih mudah bagi yang berusaha.”

Itu hadiah besar.

“Dan untukmu, Kaelan,” Ancient One melihatnya. “Corruption-mu hampir hilang. Tapi jangan hilangkan sepenuhnya. Simpan sedikit—sebagai koneksi ke The Architects. Mungkin berguna.”

Corruption Kaelan sekarang 1%. Hampir hilang.

“Terima kasih,” kata Kaelan.

“Tapi ada harga: dengan corruption hampir hilang, kemampuanmu dari void prime akan melemah. Reality editing, energy absorption—semua berkurang.”

“Tidak apa. Aku punya kemampuan lain.”

“Ya. [PRIMORDIAL ARCHIVIST] akan berkembang. Sekarang kau bisa tidak hanya membaca echo—kau bisa… membuat echo. Meninggalkan pelajaran untuk generasi berikut.”

Kemampuan baru: membuat memori abadi.

Mereka menghabiskan hari itu dengan Ancient One, belajar, merencanakan. Ancient One—yang memperkenalkan nama aslinya: Aeon—ternyata hanya satu dari banyak Ancient Ones. Yang lain masih tidur, dalam fragmen yang lebih kecil yang tersebar.

“Kami terfragmentasi karena penyesalan,” kata Aeon. “Setiap fragmen adalah bagian dari kami yang tidak bisa menerima kegagalan. Aku yang pertama bangun karena… aku yang paling menerima.”

“Dan yang lain?” tanya Elara.

“Mereka akan bangun perlahan. Tapi butuh waktu. Dan mungkin… tidak semua akan sebijak aku. Beberapa mungkin marah, ingin menghancurkan.”

Jadi masih ada risiko.

Malam itu, di perkemahan, Kaelan dan Aeon berbicara sendirian.

“Kau takut?” tanya Aeon.

“Ya. Tapi itu membuatku berhati-hati.”

“Bagus. Ketakutan adalah guru terbaik—jika tidak mengendalikan.”

“Kau pernah takut?”

“Saat menciptakan void prime. Saat menyadari kami membuat senjata pemusnah. Tapi ketakutan datang terlambat.”

“Seperti manusia.”

“Kalian belajar lebih cepat. Mungkin karena hidup lebih pendek.”

Keesokan harinya, mereka kembali ke Archives dengan Aeon. Kehadirannya menciptakan kehebohan—tapi juga harapan.

System Balancers dipasang. Efek langsung: beberapa orang dengan Sistem [COMMON] merasakan “dorongan”, kemampuan mereka sedikit meningkat. Itu awal.

Tapi kemudian, laporan datang: aktivitas The Reclaimers meningkat lagi. Mereka tidak menyerang—tapi mengumpulkan sesuatu. Artefak.

Aeon khawatir. “Mereka menyiapkan sesuatu. Mungkin… gateway ke Source Prime.”

“Kita harus menghentikan mereka,” kata Kaelan.

“Tapi kita tidak tahu di mana.”

“Kita bisa cari. Dengan kemampuan baruku—membuat echo—aku bisa kirim ‘pengintai’ energi.”

Itu ide. Kaelan membuat echo kecil—potongan kesadarannya—dan mengirimnya untuk mencari konsentrasi energi The Architects.

Echo kembali dengan informasi: mereka berkumpul di Frozen North, dekat Icepeak Citadel. Tapi bukan di citadel—di bawahnya.

Ada sesuatu di bawah es.

Lebih dalam dari yang pernah mereka jelajahi.

Perjalanan baru harus dimulai. Dan kali ini, dengan Ancient One di sisi mereka.

Tapi juga dengan pengetahuan: ini mungkin pertempuran terakhir.

Karena jika The Architects membuka gateway ke Source Prime, mereka bisa menghapus dunia ini dengan satu perintah.

Dan tidak ada yang bisa menghentikan mereka.

Kecuali… pengorbanan.

Dan Kaelan tahu: dia mungkin yang harus berkorban.


[END OF CHAPTER 38]
[WORD COUNT: 1,880]
[NEXT: BAB 39 – DI BAWAH ES]