Bab 1: Akar yang Patah dan Sistem yang Bangkit
Kabut pagi masih menyelimuti puncak-puncak gunung Sekte Pedang Awan, membentuk lautan awan putih yang seolah menopang paviliun-paviliun kayu dan batu yang tersebar di lereng curam. Di antara kemegahan itu, tersembunyi sebuah kompleks bangunan sederhana di kaki gunung sebelah barat—tempat tinggal para pelayan dan murid tingkat rendah. Di sinilah Lin Ming, pemuda berusia enam belas tahun dengan tubuh kurus dan mata yang terlalu tajam untuk seorang pelayan, sedang menyapu halaman paviliun pelatihan nomor tiga.
Tangannya yang berkalus mengayunkan sapu lidi dengan ritme yang teratur, namun pikirannya melayang jauh. Setiap hembusan angin pagi yang membawa aroma harum bunga spiritual seakan menusuk hatinya dengan ironi. Di sekelilingnya, para murid luar—yang statusnya hanya satu tingkat di atas pelayan—sedang mempraktikkan jurus dasar Pedang Awan Mengiris Kabut. Sorot mata mereka penuh semangat, penuh harapan akan masa depan di mana mereka bisa menjadi murid inti, dihormati, dan memiliki kekuatan.
Lin Ming menghela napas dalam-dalam. Udara yang masuk ke paru-parunya terasa hambar, tanpa sedikit pun getaran energi spiritual yang seharusnya bisa diserap oleh seorang praktisi bela diri. Itulah kutukannya: Akar Spiritual Patah. Sejak lahir, saluran meridiannya tersumbat dan rapuh seperti kaca retak. Setiap kali ia mencoba menyerap energi langit dan bumi, rasa sakit yang tak tertahankan akan menyiksa seluruh tubuhnya, dan energi itu pun menguap begitu saja.
“Lin Ming! Malas-malasan lagi?” teriak suara kasar dari balik pintu paviliun.
Seorang pemuda berusia sekitar delapan belas tahun, dengan seragam murid luar berwarna biru tua, berdiri di sana dengan tangan disilangkan. Wajahnya memancarkan kesombongan khas orang yang merasa lebih unggul. Ini adalah Zhang Hu, murid luar yang bertugas mengawasi para pelayan di paviliun ini.
“Aku sedang menyelesaikan tugas menyapu, Senior Zhang,” jawab Lin Ming dengan suara datar, tanpa emosi.
Zhang Hu melangkah mendekat, sepatu kulitnya berdecit di atas batu-batu halus. “Lihat sekelilingmu. Semua murid di sini sedang berlatih keras, berusaha meningkatkan diri. Hanya kau yang seperti mayat hidup, tak berguna!” Ia menendang tumpukan daun yang baru disapu Lin Ming, menyebarkannya kembali ke seluruh halaman. “Sapu ulang. Dan kali ini, sampai sebersih cermin!”
Lin Ming mengepalkan tangannya. Kuku-kukunya menusuk telapak tangan hingga nyaris berdarah. Tiga tahun. Sudah tiga tahun ia menjadi pelayan di sini, menelan setiap penghinaan, menahan setiap perlakuan semena-mena. Semua karena ia berharap, suatu saat, ada seorang guru yang berbaik hati memberinya obat atau teknik untuk memperbaiki akar spiritualnya. Namun harapan itu memudar dengan setiap matahari terbenam.
“Baik, Senior Zhang,” gumam Lin Ming, kembali mengambil sapunya.
Tiba-tiba, sorakan riuh terdengar dari lapangan utama. Kerumunan murid luar berhamburan, menyingkir ke pinggir. Dari arah tangga batu utama, turun sekelompok pemuda dan pemudi dengan seragam putih berlapis perak—seragam murid inti Sekte Pedang Awan. Di depan mereka berjalan seorang pemuda tampan dengan tatapan dingin bagai pedang yang diasah. Ini adalah Chen Feng, murid inti level Empat Lapis Qi Gathering, salah satu bintang terkemuka di generasi muda sekte.
“Lihat, itu Senior Chen Feng! Kabarnya ia baru saja berhasil menembus ke Lapis Keempat!” “Aura energinya sangat kuat! Bahkan dari sini aku bisa merasakannya!” “Suatu hari, aku pasti akan seperti dia!”
Lin Ming memandang Chen Feng dengan perasaan campur aduk: iri, kagum, dan kepahitan. Dua tahun lalu, Chen Feng masih sama seperti dirinya—seorang murid luar dengan bakat biasa. Namun suatu hari, ia secara tidak sengaja menemukan akar spiritual langka “Bunga Es di Tebing Terjal” saat menjalani tugas di hutan belakang. Sejak itu, jalan kultivasinya melesat. Kini, Chen Feng adalah orang yang dihormati, sementara Lin Ming tetap menjadi sampah yang diinjak-injak.
Chen Feng melemparkan pandangan sekilas ke arah paviliun pelatihan. Matanya, seolah tanpa sengaja, bertemu dengan Lin Ming. Sebuah senyuman tipis yang penuh dengan kesombongan dan sedikit belas kasihan yang menyakitkan muncul di sudut bibirnya sebelum ia berpaling dan terus berjalan, dikelilingi oleh para pengikutnya.
“Kau lihat itu, Lin Ming?” desis Zhang Hu di sampingnya. “Senior Chen Feng dulu adalah murid luar. Tapi karena tekad dan keberuntungan, kini ia melambung. Sedangkan kau? Kau hanya bisa menyapu daun dan menatap kosong. Mungkin lebih baik kau bunuh diri saja, hemat makanan sekte.”
Kata-kata itu seperti pisau yang memutar-mutar di dalam dada Lin Ming. Ia menunduk, rambutnya yang panjang sebagian menutupi mata yang mulai berkaca-kaca. Bukan karena sedih, tapi karena kemarahan yang tertahan. Kemarahan terhadap takdir, terhadap kelemahannya sendiri, terhadap ketidakadilan dunia ini.
Sepanjang hari itu, Lin Ming menjalani rutinitasnya dengan pikiran yang gelap. Setelah menyapu, ia harus membersihkan kamar mandi umum, mengangkut air dari sungai di kaki gunung, dan menata kembali peralatan latihan di paviliun. Setiap tugas disertai cercaan dan terkadang bahkan pukulan ringan dari para murid luar yang ingin melampiaskan frustrasi mereka.
Malam tiba. Lin Ming kembali ke gubuk kayu reyanya di perkampungan pelayan. Ruangan itu hanya berukuran tiga kali tiga meter, berbagi dengan tiga pelayan lainnya. Namun malam ini, ketiganya tidak ada—mungkin sedang bermain dadu atau minum di warung di kaki gunung.
Lin Ming duduk di atas tempat tidur papan yang keras, memandang telapak tangannya yang kapalan. Di dalam kegelapan, hanya suara jangkrik yang terdengar. Ia mencoba lagi, seperti yang telah ia lakukan ribuan kali sebelumnya, untuk merasakan energi spiritual. Ia duduk bersila, mengatur napas, mencoba menarik sedikit energi langit dan bumi ke dalam tubuhnya.
Sakit. Selalu sakit. Seperti ratusan jarum menusuk-nusuk meridiannya dari dalam. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia bertahan, berusaha memaksa energi itu mengalir melalui saluran yang tersumbat. Namun seperti biasa, energi itu hanya bergolak sebentar sebelum menghilang tanpa bekas, meninggalkan rasa hampa dan kelelahan yang mendalam.
“Mengapa?” gumam Lin Ming, suaranya parau. “Aku rela berlatih sepuluh kali, seratus kali lebih keras dari siapa pun. Aku rela menahan sakit yang tak tertahankan. Tapi mengapa… mengapa takdir begitu kejam?”
Tiba-tiba, pintu gubuk terbuka dengan hentakan keras. Tiga siluet berdiri di ambang pintu, diterangi cahaya bulan purnama yang keperakan. Lin Ming langsung mengenali mereka: Zhang Hu dan dua kaki tangannya, Wang Li dan Zhao Gang.
“Lin Ming! Keluar!” perintah Zhang Hu.
Lin Ming bangkit perlahan. “Ada apa, Senior?”
Zhang Hu masuk ke dalam gubuk, diikuti oleh kedua pengikutnya. Wang Li langsung menutup pintu. Ruangan sempit itu menjadi pengap.
“Kami kehilangan sebuah botol Spirit Gathering Pill dari gudang paviliun,” kata Zhang Hu dengan nada menuduh. “Kau yang bertugas membersihkan gudang hari ini. Di mana pilnya?”
Lin Ming mengerutkan kening. “Aku tidak mengambilnya. Setelah membersihkan, aku langsung mengunci gudang dan menyerahkan kuncinya kepada penjaga.”
“Penjaga bilang kau yang terakhir keluar. Dan ada jejak tanah di dekat rak pil.” Zhang Hu melangkah lebih dekat, hingga napasnya yang bau alkohol menyengat hidung Lin Ming. “Kau pikir kami bodoh? Dengan akar spiritual patahmu, kau pasti putus asa butuh pil untuk mencoba memperbaiki diri. Mencuri adalah satu-satunya caramu!”
“Aku tidak mencuri,” bantah Lin Ming dengan suara tegas, meski jantungnya berdebar kencang. Ia tahu arah pembicaraan ini.
“Berani membantah senior?” Wang Li, yang bertubuh kekar, langsung menampar Lin Ming. Tamparan itu keras, membuat kepalanya terpental ke samping dan telinganya berdenging.
“Serahkan pilnya, atau kami akan menghajarmu sampai kau mengaku!” geram Zhao Gang.
Mereka tidak memberi Lin Ming kesempatan untuk membela diri lagi. Ketiganya langsung menyerang. Lin Ming mencoba melawan, tetapi apa artinya seorang yang tidak memiliki energi melawan tiga murid luar yang meski lemah, telah melatih dasar-dasar bela diri?
Tinju dan tendangan menghujani tubuhnya. Ia jatuh ke lantai, mencoba melindungi kepala dengan kedua lengan. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya. Dengungan tawa dan umpatan memenuhi telinganya.
“Sampah! Tidak berguna!” “Lama-lama kau akan mati sendiri juga, lebih baik kami percepat!” “Sekte ini tidak butuh sampah seperti kau!”
Lin Ming menggigit bibirnya hingga berdarah. Di balik pelindung lengannya, matanya terbuka lebar. Bukan lagi air mata yang ada di sana, tapi api kemarahan yang membara. Kebencian yang terpendam selama bertahun-tahun mendidih, mendekati titik didih.
“Cukup!” teriak Zhang Hu tiba-tiba. “Kita bawa dia ke tebing belakang. Biar alam yang menghukumnya.”
Mereka menarik Lin Ming yang sudah lemah, menyeretnya keluar dari gubuk, menaiki jalan setapak sempit di belakang perkampungan pelayan. Jalan itu menuju ke sebuah tebing terpencil yang dikenal sebagai “Tebing Keputusasaan”—tempat di mana banyak pelayan atau murid yang putus asa memilih untuk mengakhiri hidup mereka.
Angin malam berhembus dingin. Bulan purnama tergantung di langit, memancarkan cahaya dingin yang sinis. Di tepi tebing, dengan jurang dalam di bawahnya yang gelap gulita, Zhang Hu dan kawan-kawannya melemparkan Lin Ming ke tanah.
“Pilihan terakhir, Lin Ming. Mengakulah bahwa kau mencuri pil itu, dan kami hanya akan memukulmu sedikit. Atau…” Zhang Hu menunjuk ke jurang di belakang Lin Ming. “Terjunlah sendiri. Mati dengan sedikit harga diri.”
Lin Ming berdiri dengan susah payah, tubuhnya penuh luka dan memar. Darah mengalir dari sudut bibir dan keningnya. Ia memandang ketiga orang itu, lalu menoleh ke jurang di belakangnya. Kematian? Selama ini, ia selalu takut mati. Tapi malam ini, setelah bertahun-tahun menderita, setelah penghinaan terakhir ini, ketakutan itu memudar.
“Aku tidak mencuri pil itu,” kata Lin Ming dengan suara tenang yang mengejutkan bahkan dirinya sendiri. “Dan kalian tahu itu. Kalian hanya butuh kambing hitam karena kalian sendiri yang mengambil pil itu untuk dijual ke kota.”
Wajah Zhang Hu berubah merah. “Berani menuduh!”
“Aku melihat Wang Li menyembunyikan sesuatu di jubahnya saat keluar dari gudang siang tadi,” lanjut Lin Ming, matanya tajam. “Dan bau alkohol pada kalian? Itu dari minuman mahal di kota, bukan arak murahan di kaki gunung. Uang dari penjualan pil, bukan?”
Diam sejenak. Lalu, Zhang Hu tertawa—tawa dingin yang penuh dengan niat jahat. “Bagus. Kau ternyata tidak sebodoh yang kukira. Tapi sayang, tidak ada yang akan mempercayai kata-kata seorang sampah berakar patah. Dan kau tidak akan punya kesempatan untuk bercerita kepada siapa pun.”
Ketiganya maju serempak, niat membunuh jelas terpancar dari mata mereka. Lin Ming mundur selangkah, tumitnya sudah di tepi jurang. Batu-batu kecil tergelincir dan jatuh ke kegelapan tanpa suara.
Inilah akhirnya, pikir Lin Ming. Hidup yang sia-sia. Mati tanpa pernah merasakan apa artinya menjadi kuat, tanpa pernah membalas semua penghinaan, tanpa pernah menemukan jawaban mengapa ia terlahir dengan kutukan seperti ini.
Tapi di saat keputusasaan itu mencapai puncaknya, sesuatu dalam dirinya memberontak. Sebuah tekad liar, keras kepala, yang tidak mau menyerah meski tubuhnya sudah hancur. Tidak! Aku tidak akan mati seperti ini! Aku tidak akan membiarkan mereka menang! Jika aku harus mati, aku akan membawa setidaknya satu dari mereka bersamaku!
Dengan teriakan yang keluar dari dasar jiwa, Lin Ming melompat—bukan ke belakang menuju jurang, tapi ke depan, menuju Zhang Hu. Gerakannya tiba-tiba dan tak terduga. Tangannya yang berdarah mencoba mencekik leher Zhang Hu.
Zhang Hu, yang terkejut, hanya sempat mengangkat tangan untuk menangkis. Tapi Lin Ming sudah tidak mempedulikan pertahanan. Ia menerjang seperti binatang terluka. Mereka terjatuh berpelukan, berguling-guling di tanah berbatuan di tepi jurang.
Wang Li dan Zhao Gang berusaha memisahkan mereka, tetapi amukan Lin Ming yang putus asa memberi kekuatan sementara. Ia menggigit, mencakar, melakukan apa saja untuk melukai.
“Gila! Dia sudah gila!” teriak Zhao Gang.
Zhang Hu akhirnya berhasil melepaskan diri, wajahnya tercakar. Marah besar, ia mengumpulkan energi di telapak tangannya—teknik dasar sekte, “Telapak Awan Mendorong”. Energi tingkat Lapis Satu Qi Gathering terkumpul, lalu ia dorong ke dada Lin Ming.
“Terjunlah ke neraka, sampah!”
Dampaknya menghempaskan Lin Ming ke udara. Tubuhnya melayang di atas tepi jurang, seolah melayang di bawah cahaya bulan purnama yang keperakan. Waktu seakan melambat. Lin Ming melihat ketiga wajah itu—Zhang Hu yang penuh kebencian, Wang Li dan Zhao Gang yang lega. Ia melihat langit malam bertabur bintang. Ia melihat bulan, bulat sempurna, seperti mata raksasa yang menyaksikan akhir hidupnya.
Lalu ia jatuh.
Angin mendesing di telinganya. Kegelapan di bawah menelan tubuhnya. Batu-batu tajam, akar-akar pohon tua, tebing curam—semuanya menerimanya dengan benturan yang menghancurkan tulang. Rasa sakit yang tak terkira menyebar ke setiap sel tubuhnya. Ia mendengar suara retakan tulangnya sendiri. Darah membanjiri mulutnya.
Dalam kesadarannya yang memudar, Lin Ming masih memikirkan satu hal: Aku benci… aku benci semua ini… aku benci kelemahanku… jika ada kehidupan berikutnya… jika ada dewa yang mendengar… beri aku kekuatan… beri aku kesempatan untuk membalaskan semuanya…
Kegelapan total menyelimutinya.
Namun, di saat nyawanya hampir melayang, di kedalaman kesadarannya yang paling dalam, sesuatu bangkit. Sebuah suara mekanis, dingin, namun penuh dengan otoritas mutlak, bergema di dalam kepalanya.
[Deteksi nyawa host dalam kondisi kritis…] [Akar Spiritual: Patah. Kondisi tubuh: Hancur 87%. Kemungkinan bertahan: 0.03%.] [Memenuhi syarat aktivasi darurat…] [Membangun koneksi dengan hukum semesta…] [Sistem Replikasi Absolut diaktifkan.]
[Selamat datang, Host. Sistem ini akan membantu Anda mencapai puncak kekuatan dengan mereplikasi segala kemampuan dari makhluk lain di alam semesta.]
[Memindai kondisi host…] [Memperbaiki kerusakan tubuh prioritas utama…]
Sebuah kehangatan aneh tiba-tiba memancar dari dalam diri Lin Ming, dari suatu tempat di antara kedua alisnya. Kehangatan itu menyebar seperti mata air di padang gurun, mengalir melalui setiap meridian yang rusak, setiap tulang yang retak, setiap organ yang sobek. Rasa sakit yang tak tertahankan perlahan mereda, digantikan oleh sensasi gatal yang aneh saat tubuhnya memperbaiki diri dengan kecepatan yang tidak alami.
[Perbaikan dasar selesai. Kondisi tubuh: Stabil 41%.] [Memindai lingkungan sekitar untuk sumber daya replikasi pertama…]
Pikiran Lin Ming yang hampir hilang tiba-tiba ditarik kembali ke realitas. Ia masih terbaring di dasar jurang, dikelilingi kegelapan dan batu-batu tajam. Tapi ia hidup. Dan di depan matanya, mengambang di udara, terpampang sebuah antarmuka transparan berwarna biru kehijauan, seperti yang sering ia bayangkan tentang antarmuka dewa-dewa dalam legenda.
Di bagian atas tertulis: [Sistem Replikasi Absolut – Host: Lin Ming]. Di bawahnya, beberapa panel informasi: [Status Host] [Pemindai Replikasi] [Gudang Kemampuan] [Log Sistem]
Dengan pikiran yang masih bingung, Lin Ming fokus pada [Status Host].
[Lin Ming] Umur: 16 Tahun Tingkat Kultivasi: Tidak Ada (Akar Spiritual Patah) Kesehatan: 41/100 Energi: 0/0 Kemampuan yang Disalin: 0 Poin Replikasi: 10 (Bonus awal)
Lalu, secara insting, ia mencoba membuka [Pemindai Replikasi]. Pandangannya tiba-tiba berubah. Dunia di sekelilingnya tampak melalui lapisan filter biru. Dan di atas setiap benda hidup—tumbuhan, serangga, bahkan mikroorganisme di tanah—terapung tulisan kecil dengan informasi.
[Lumut Tebing Kuno] – [Bakat: Ketahanan Ekstrem] – [Tingkat: F] – [Biaya Replikasi: 1 Poin] [Cacing Bumi Nokturnal] – [Bakat: Regenerasi Cepat] – [Tingkat: F] – [Biaya Replikasi: 1 Poin] [Tikus Gua Buta] – [Bakat: Navigasi dalam Gelap] – [Tingkat: F] – [Biaya Replikasi: 2 Poin]
Lin Ming terengah-engah, bukan karena sakit, tapi karena keheranan yang mendalam. Apakah ini… apakah ini nyata? Atau ini hanya halusinasi sebelum kematian?
“Sistem?” ia mencoba berbicara dalam hati.
[Ya, Host. Sistem Replikasi Absolut siap melayani.]
“Apa… apa yang bisa kau lakukan?”
[Sistem ini memungkinkan Host memindai semua makhluk hidup, melihat status, bakat, teknik, dan garis keturunan mereka. Host dapat menggunakan Poin Replikasi untuk menyalin kemampuan-kemampuan tersebut dan mengintegrasikannya ke dalam diri Host.]
Lin Ming diam sejenak, mencerna informasi itu. Jantungnya berdebar kencang, kali ini karena harapan—sebuah harapan yang sekecil debu, tapi nyata.
“Tunjukkan cara kerjanya.”
[Instruksi diterima. Memindai target latihan: Lumut Tebing Kuno.] [Target memiliki bakat [Ketahanan Ekstrem] tingkat F. Bakat ini memungkinkan target bertahan hidup di lingkungan ekstrem dengan nutrisi minimal.] [Biaya replikasi: 1 Poin Replikasi.] [Apakah Host ingin mereplikasi bakat ini?]
Lin Ming menarik napas dalam-dalam. Ini adalah kesempatan. Kesempatan satu-satunya yang mungkin ia dapatkan dalam hidup. “Ya. Lakukan.”
[Melakukan replikasi…] [1 Poin Replikasi dikonsumsi.] [Menyalin data bakat [Ketahanan Ekstrem]…] [Mengintegrasikan ke tubuh host…]
Sensasi aneh kembali muncul. Kali ini, bukan kehangatan, tapi perasaan kokoh, seperti akar yang menancap dalam di tanah. Lin Ming bisa merasakan sesuatu berubah di dalam sel-sel tubuhnya. Metabolisme tubuhnya menyesuaikan, menjadi lebih efisien dalam menggunakan sedikit nutrisi yang tersisa.
[Bakat berhasil direplikasi. Integrasi selesai.] [Kesehatan Host meningkat: 41 -> 50/100.]
Lin Ming membuka mata lebar-lebar. Ini nyata. Sungguh-sungguh nyata! Sistem ini bukan khayalan! Ia mencoba duduk, dan kali ini tubuhnya merespons lebih baik. Rasa sakit masih ada, tapi sudah berkurang drastis.
“Bagaimana cara mendapatkan lebih banyak Poin Replikasi?” tanyanya.
[Poin Replikasi dapat diperoleh dengan: 1) Meningkatkan tingkat kultivasi Host; 2) Menyelesaikan pencapaian atau misi; 3) Mengalahkan atau membunuh makhluk hidup lain (jumlah poin tergantung kekuatan target).]
Lin Ming mengangguk perlahan. Pikirannya yang tadinya dipenuhi keputusasaan, kini mulai bekerja dengan cepat, penuh perhitungan. Ia melihat ke atas, ke bibir tebing yang jauh di atas. Zhang Hu, Wang Li, Zhao Gang. Mereka pasti mengira dirinya sudah mati. Mereka akan kembali ke sekte, mungkin melaporkan bahwa ia mencuri pil lalu kabur, atau bunuh diri karena merasa bersalah.
Api balas dendam mulai menyala di dalam dadanya. Tapi kali ini, api itu disertai dengan keyakinan—keyakinan bahwa suatu hari, ia akan kembali. Dan ketika itu terjadi, semua orang yang pernah merendahkannya akan membayar mahal.
Namun sebelum itu, ia harus bertahan hidup dulu. Harus menjadi kuat.
Dengan bantuan sistem, dengan kemampuan untuk menyalin bakat dan teknik orang lain… jalan yang mustahil tiba-tiba terbuka.
Lin Ming berdiri dengan goyah, menopang diri pada dinding tebing. Di kegelapan jurang, matanya bersinar dengan tekad baru.
“Sistem,” katanya dalam hati, suaranya penuh dengan ketegangan yang lama terpendam. “Mari kita mulai.”