Bab 44: Perjalanan ke Negeri Pasir dan Lupa

Ukuran:
Tema:

Perjalanan menuju selatan terasa seperti berpindah dunia. Dalam sepuluh hari, pemandangan berubah drastis dari hutan dan padang rumput menjadi tanah gersang berbatu, lalu bukit-bukit pasir yang mulai terlihat di kejauhan. Udara yang semula segar kini terasa kering dan panas, membawa debu yang menyengat di tenggorokan. Lin Ming dan timnya telah mengganti pakaian tebal pelindung es dengan jubah panjang berwarna terang dari kain khusus yang bisa memantulkan panas dan menjaga kelembapan tubuh.

Borin, ahli lingkungan ekstrem, memimpin dengan keyakinan. “Gurun Pasir Selatan bukan hanya padang pasir biasa. Pasir di sini memiliki sifat unik—dia bisa ‘mengingat’. Jejak yang kita tinggalkan hari ini mungkin masih terlihat puluhan tahun kemudian, atau mungkin hilang dalam sekejap jika pasir memutuskan untuk melupakan.”

Xiao Lan menyentuh pasir di tepi jalan mereka, merasakan energi anehnya. “Ada getaran… seperti bisikan. Tapi bukan suara, lebih seperti gema dari masa lalu.”

Kieran, yang berjalan di sampingnya, mengangguk. “Gurun ini adalah arsip alami. Setiap butir pasir menyimpan fragmen ingatan—dari makhluk yang melintas, dari angin yang membawanya, bahkan dari peristiwa besar yang terjadi di sini. Tapi itu juga yang membuatnya berbahaya. Terlalu lama di sini, ingatanmu sendiri bisa tercampur dengan ingatan pasir.”

Lin Ming merasakan sistemnya bekerja, mencoba menganalisis lingkungan baru ini.

[Sistem Sintesis Semesta: Analisis lingkungan Gurun Pasir Selatan pinggiran…] [Tingkat suhu: 42°C di siang hari, diperkirakan turun drastis di malam hari.] [Komposisi energi: Dominan elemen tanah dengan campuran anomali mental/pengingatan.] [Peringatan: Terdeteksi distorsi persepsi ringan. Rekomendasi: Aktifkan perlindungan mental.]

Mereka telah mempersiapkan jimat pelindung ingatan yang dibuat Kieran—kalung dengan bandul kristal kecil berisi ramuan khusus dan formasi energi. Setiap orang memakainya, merasakan efek pendinginan mental yang halus.

“Berapa lama sampai kita mencapai lokasi segel?” tanya Lin Ming pada Borin.

“Menurut peta dan informasi dari utusan, Sekte Oasis Terkubur seharusnya berada tiga hari perjalanan ke dalam gurun dari sini. Tapi dengan kondisi terkini…” Borin menggeleng. “Mungkin lebih lama. Pasir bisa bergerak, mengubur jalur.”

Mereka melanjutkan, kini benar-benar memasuki wilayah pasir. Bukit-bukit pasir membentang tak berujung, membentuk pola ombak yang terbeku dalam panas. Matahari menyengat tanpa ampun, memantulkan cahaya menyilaukan dari permukaan pasir. Mereka harus berjalan di pagi dan sore hari, beristirahat di tenda selama puncak panas siang.

Di hari kedua di gurun, mereka menemukan tanda pertama kehidupan—sebuah oasis kecil dengan beberapa pohon kurma dan kolam air jernih. Tapi sesuatu tidak beres. Oasis itu sunyi, terlalu sunyi. Tidak ada burung, tidak ada serangga, bahkan angin seolah berhenti di tempat ini.

“Jangan minum airnya dulu,” peringatan Kieran. Dia mendekat, mengamati permukaan air. “Lihat—tidak ada pantulan.”

Memang, air kolam itu jernih tapi seperti mati—tidak memantulkan wajah mereka, tidak beriak meski angin bertiup. Xiao Lan mencelupkan jarinya, dan air terasa dingin aneh, seperti dingin yang menusuk jiwa bukan tubuh.

“Air ini terpengaruh energi gurun,” gumamnya. “Aku bisa merasakan… kesedihan.”

Tiba-tiba, gambar muncul di permukaan air—bukan pantulan, tapi pemandangan dari masa lalu: sekelompok orang dengan pakaian gurun membangun sesuatu, lalu tiba-tiba mereka berteriak dan saling menyerang, seolah lupa siapa teman siapa musuh.

“Efek penghapusan ingatan,” kata Kieran serius. “Ini hanya oasis kecil sudah begini. Di dekat segel utama, efeknya pasti jauh lebih kuat.”

Mereka memutuskan tidak minum dari oasis itu, menggunakan persediaan air mereka sendiri. Tapi malam itu, saat mereka berkemah di dekat oasis, sesuatu terjadi.

Lin Ming terbangun di tengah malam karena suara bisikan. Awalnya dia pikir itu angin, tapi bisikan itu jelas menyebut namanya. “Lin Ming… Lin Ming…”

Dia keluar tenda, dan terkejut melihat sosok samar berdiri di kejauhan—sosok yang sangat dikenalnya: Sesepuh Lan dari Sekte Bulan Sabit. Tapi bagaimana mungkin dia ada di sini?

“Lin Ming, cepat ke sini. Kami butuh bantuanmu,” suara Sesepuh Lan terdengar jelas.

Lin Ming hampir melangkah, tapi sistemnya memberikan peringatan keras.

[Sistem: Peringatan! Ilusi mental terdeteksi. Sosok di depan tidak memiliki tanda kehidupan atau energi yang cocok.] [Rekomendasi: Tetap di tempat, aktifkan perlindungan mental maksimal.]

Lin Ming menguatkan diri, mengaktifkan energi harmonis. Sosok itu berubah, menjadi bentuk tak jelas, lalu menghilang. Tapi bisikan masih terdengar, sekarang dengan suara berbeda—suara orang tuanya yang sudah lama meninggal.

“Gurun sedang mengujimu,” kata suara Kieran dari belakang. Dia juga sudah bangun. “Dia mengambil ingatan terdalammu, mencobamu dengan ilusi. Semakin dekat ke segel, semakin kuat ilusinya.”

Xiao Lan muncul dari tendanya, wajah pucat. “Aku juga mendengar suara… suara orang tuaku.”

Mereka memutuskan untuk berjaga bergantian sepanjang malam, dengan jimat pelindung diperkuat. Tapi pengalaman itu mengingatkan mereka pada betapa berbahayanya gurun ini—musuhnya tidak selalu fisik, bisa jadi adalah pikiran mereka sendiri.

Keesokan harinya, mereka menemukan jejak—bukan jejak kaki, tetapi jejak peradaban. Tiang-tiang batu setengah terkubur pasir, dengan ukiran yang mirip dengan yang mereka lihat di Sekte Awan dan piramida es, tapi dengan variasi.

“Ini simbol elemen tanah dan ingatan,” identifikasi Kieran. “Dan lihat—ukiran ini retak, energinya terputus. Seseorang atau sesuatu telah merusaknya.”

Xiao Lan menyentuh salah satu tiang. Saat tangannya menyentuh batu, kilasan ingatan menyergapnya—bukan ingatannya sendiri, tetapi ingatan dari batu itu. Dia melihat upacara di masa lalu, dengan orang-orang dalam jubah cokelat memanjatkan doa pada segel. Lalu datang orang lain dengan jubah hitam, dan pertempuran terjadi.

“Aliansi Kegelapan,” bisiknya setelah kilasan berlalu. “Mereka menyerang tempat ini puluhan tahun yang lalu. Tapi kenapa baru sekarang segel melemah?”

“Karena efeknya bertahap,” jawab Kieran. “Penghapusan ingatan seperti penyakit yang perlahan-lahan menggerogoti. Butuh waktu lama untuk melemahkan segel yang dijaga oleh ingatan kolektif.”

Mereka terus berjalan, sekarang dengan lebih waspada. Di hari ketiga, mereka melihatnya di kejauhan—sebuah struktur besar setengah terkubur pasir, seperti kuil atau benteng dari batu pasir. Itu pasti Sekte Oasis Terkubur.

Tapi saat mendekat, mereka menyadari sesuatu yang mengerikan: di sekeliling struktur, ada kamp. Dan bendera yang berkibar—bendera hitam dengan simbol mata tertutup.

“Aliansi Kegelapan,” gumam Lin Ming. “Mereka sudah di sini.”

Dari kamp, sosok-sosok bergerak. Tidak banyak, mungkin dua puluh orang. Tapi yang mengkhawatirkan, mereka bergerak dengan koordinasi sempurna meski tampaknya tidak berkomunikasi satu sama lain.

“Mereka mungkin berbagi kesadaran melalui efek gurun,” tebak Kieran. “Atau pemimpin mereka mengendalikan mereka seperti pion.”

Mereka bersembunyi di balik bukit pasir, mengamati. Lin Ming menggunakan penglihatan energinya. Dari dalam struktur utama, dia bisa merasakan energi aneh—seperti kekosongan yang menarik segala sesuatu ke dalamnya.

“Segel di dalam sudah sangat lemah,” lapor Lin Ming. “Dan ada… ruang hampa di sana. Seperti sesuatu yang menghisap ingatan dan identitas.”

“Kita harus masuk,” kata Xiao Lan. “Tapi bagaimana melewati penjaga?”

Borin mempelajari pola pergerakan penjaga. “Mereka memiliki rute patroli tetap. Ada celah setiap lima belas menit di sisi timur. Tapi itu hanya memberi kita waktu singkat.”

“Kita akan menggunakan itu,” putus Lin Ming. “Tapi hanya beberapa dari kita yang masuk. Yang lain membuat gangguan.”

Rencana dibuat: Borin dan Kieran akan membuat gangguan di sisi barat kamp, menarik perhatian. Lin Ming dan Xiao Lan akan menyusup dari timur saat celah terbuka, masuk ke struktur untuk memperbaiki segel atau setidaknya menilai kerusakan.

“Berhati-hatilah,” pesan Kieran. “Di dalam, efek penghapusan ingatan akan paling kuat. Jimat mungkin tidak cukup.”

“Kita akan bergantung satu sama lain,” jawab Xiao Lan. “Jika salah satu dari kita mulai lupa, yang lain mengingatkan.”

Mereka menunggu sampai senja, saat matahari terbenam dan suhu mulai turun. Langit berubah warna menjadi oranye dan ungu, bayangan memanjang di atas pasir.

Saat waktunya tiba, Borin dan Kieran bergerak. Borin menggunakan teknik tanah untuk membuat suara gemuruh seolah-olah bukit pasir longsor di barat. Kieran menggunakan sedikit manipulasi waktu untuk membuat ilusi bayangan bergerak. Itu berhasil—sebagian besar penjaga bergegas ke barat.

Lin Ming dan Xiao Lan bergerak cepat, menyusup melalui celah di timur. Mereka mencapai dinding struktur—batu pasir kuning yang diukir dengan indah tapi sekarang retak dan aus. Ada pintu masuk setinggi dua meter, tertutup tirai kain yang sudah compang-camping.

Mereka masuk. Di dalam, gelap dan sejuk, kontras dengan panas di luar. Tapi yang lebih mencolok adalah sensasi di dalam kepala—seperti kabut yang mencoba menyelimuti pikiran.

“Namaku Lin Ming,” bisik Lin Ming pada dirinya sendiri, sebuah mantra yang disarankan Kieran. “Aku dari Sekte Awan. Aku di sini untuk memperbaiki segel.”

Xiao Lan melakukan hal sama. “Namaku Xiao Lan. Aku Pembawa Darah Abadi. Aku di sini bersama Lin Ming.”

Koridor dalam gelap, tapi dindingnya memancarkan cahaya keemasan lembut—fosfor alami atau mungkin energi tersisa. Mereka mengikuti koridor yang menurun, menuju pusat struktur.

Di sepanjang jalan, mereka melihat ruangan-ruangan dengan tempat tidur batu, meja, peralatan—tanda-tanda kehidupan yang tiba-tiba terhenti. Di satu ruangan, ada tulisan di dinding dalam bahasa kuno, tapi sebagian sudah terhapus seolah-olah seseorang sengaja menghapusnya.

“System, terjemahkan yang masih terbaca,” perintah Lin Ming.

[Sistem: Menerjemahkan fragmen… “Hari ke-47. Beberapa mulai lupa nama mereka. Kita harus pergi sebelum…” (terputus). “Hari ke-… aku tidak ingat berapa. Suara bisikan di kepalaku…” (terputus).] “Para penjaga di sini menjadi korban efek segel yang melemah,” gumam Xiao Lan.

Mereka mencapai ruang pusat. Dan di sana, segelnya—sebuah mosaik raksasa di lantai, menggambarkan pola spiral dengan simbol-simbol kompleks di setiap lingkaran. Tapi mosaik itu retak di beberapa tempat, dan di tengahnya, ada lubang hitam seperti portal ke kekosongan.

Dari lubang itu, bisikan terdengar—bukan dalam bahasa, tetapi langsung sebagai konsep di pikiran: “Lupakan… lepaskan… istirahat…”

Lin Ming merasa pikirannya berkabut. Siapa dia lagi? Oh ya, Lin Ming. Tapi dari mana? Dia…

“Lin Ming!” Xiao Lan menggenggam tangannya, darah keemasannya mengalir ke dalamnya, memberikan kehangatan dan kejelasan. “Jangan dengarkan. Ingat kita.”

Lin Ming menganggak, berterima kasih. “Kita harus memperbaikinya. Tapi bagaimana?”

Xiao Lan mendekati mosaik, berlutut di tepi lubang hitam. “Aku bisa merasakan… ini bukan lubang fisik. Ini kekosongan ingatan. Segel ini dijaga oleh ingatan kolektif penjaga. Tapi mereka sudah lupa, atau meninggalkan tempat ini. Jadi segel kehilangan ‘bahan bakar’nya.”

“Artinya kita harus memberikan ingatan?” tanya Lin Ming khawatir.

“Bukan ingatan pribadi. Tapi… prinsip. Kebenaran yang tidak bisa dilupakan.” Xiao Lan menatap lubang itu. “Setiap segel memiliki tema. Es adalah waktu. Gurun adalah ingatan. Kita harus memberikan sesuatu yang mewakili esensi ingatan yang tidak bisa terhapus.”

Lin Ming berpikir. Apa yang tidak bisa terhapus oleh waktu atau kelupaan? Lalu dia teringat kata-kata Xiao Lan di Hutan Terlarang: “Koneksi. Hubungan antara orang. Itulah yang bertahan bahkan ketika ingatan memudar.”

Dia mengambil langkah maju, menempatkan tangannya di tepi lubang. “Aku memberikan ingatan tentang janji. Janji untuk melindungi. Janji untuk tidak meninggalkan.”

Dari tangannya, cahaya keemasan mengalir—bukan energi fisik, tetapi esensi dari janjinya pada Xiao Lan, pada An kecil, pada semua yang dia lindungi. Lubang hitam menyusut sedikit.

Xiao Lan mengerti. Dia menempatkan tangannya di samping Lin Ming. “Aku memberikan ingatan tentang pengorbanan. Pengorbanan untuk orang yang dicintai. Pengorbanan untuk kebaikan besar.”

Cahaya keemasan dengan semburat merah mengalir, dan lubang menyusut lagi. Tapi tidak cukup. Segel masih retak, dan bisikan masih terdengar.

Tiba-tiba, suara dari belakang. “Kalian membutuhkan lebih.”

Mereka berbalik. Kieran berdiri di pintu masuk, Borin di belakangnya. “Kami berhasil mengacaukan mereka sebentar. Tapi mereka akan segera kembali.”

“Kieran, kau bisa membantu?” tanya Lin Ming.

Kieran mendekat, memandang lubang. “Aku memberikan ingatan tentang penyesalan. Dan tekad untuk menebus. Itulah yang tidak bisa kulupakan, bahkan jika aku ingin.” Tangannya mengeluarkan cahaya keperakan, dan lubang menyusut lebih banyak.

Borin menambahkan, “Aku memberikan ingatan tentang rumah. Tempat yang selalu kita kenang, tidak peduli sejauh apa kita pergi.”

Lubang sekarang seukuran kepalan tangan, tapi masih ada. Dan dari luar, suara langkah kaki mendekat—penjaga Aliansi Kegelapan kembali.

“Kita butuh lebih!” desis Xiao Lan.

Lin Ming teringat sesuatu. “Segel dipertahankan oleh ingatan kolektif. Mungkin… kita perlu mengingatkan segel itu sendiri tentang tujuannya.”

Dia menyentuh mosaik, menyalurkan energi harmonisnya sambil berkonsentrasi pada konsep “perlindungan” dan “penjagaan”. “Ingatlah mengapa kau dibuat. Untuk melindungi. Untuk menjaga.”

Mosaik bersinar, pola spiral mulai berputar lambat. Lubang hitam sekarang seukuran koin.

Tapi penjaga sudah masuk ke ruangan. Sepuluh orang dengan jubah hitam, mata kosong, maju dengan tangan terangkat. Dari tangan mereka, energi hitam menyebar—energi penghapusan.

Xiao Lan berdiri, menghadang mereka. “Kalian tidak akan menghentikan kita!”

Darah keemasannya membentuk perisai, menahan energi hitam. Tapi dia terdesak, satu lawan sepuluh.

Kieran membantu, menggunakan manipulasi waktu untuk memperlambat penjaga. Borin menggunakan teknik tanah untuk membuat getaran yang mengacaukan keseimbangan mereka.

Lin Ming fokus pada segel. Hanya sedikit lagi. Tapi apa yang kurang?

Lalu dia mendengar suara—bukan bisikan gurun, tetapi suara dari ingatannya sendiri. Suara Sesepuh Wang: “Kadang, untuk mengingat, kita harus rela melupakan.”

Dia mengerti. Segel ini bukan tentang mempertahankan semua ingatan. Tapi tentang memilih ingatan yang penting dan melepaskan yang tidak. Itulah esensi kebijaksanaan.

“Aku memberikan… kemampuan untuk melupakan yang tidak penting,” bisik Lin Ming. “Dan mengingat yang berharga.”

Cahaya terang memancar dari tangannya, dan lubang hitam menutup sepenuhnya. Mosaik bersinar terang, retakan-retakan mulai menutup. Segel diperbaiki!

Tapi penjaga Aliansi Kegelapan tidak berhenti. Mereka maju, dan sekarang dari antara mereka, sosok baru muncul—seorang perempuan dengan jubah hitam bermahkota duri, mata tertutup kain tapi seolah bisa melihat segalanya.

“Penjaga baru,” katanya dengan suara berlapis, seperti banyak suara sekaligus. “Kalian hanya menunda yang tak terhindarkan. Segel akan runtuh. Semua akan terlupakan. Dan dalam kekosongan itu, kebenaran sejati akan terungkap.”

Xiao Lan berdiri tegak. “Kami tidak akan membiarkannya.”

Perempuan itu tersenyum, senyuman tanpa kebahagiaan. “Kita akan bertemu lagi. Di segel berikutnya. Dan yang berikutnya. Sampai kalian memahami bahwa melupakan… adalah berkah.”

Dia memberi isyarat, dan semua penjaga mundur, menghilang ke dalam bayangan seperti tidak pernah ada. Hanya meninggalkan keheningan dan segel yang sekarang bersinar stabil.

Lin Ming berdiri, lelah tetapi lega. “Kita berhasil. Tapi dia benar. Ini hanya satu dari tujuh. Dan mereka akan terus menyerang.”

Kieran memandang ke arah penjaga yang menghilang. “Aliansi Kegelapan… mereka lebih terorganisir dari yang kukira. Dan pemimpin mereka… itu tadi adalah ‘Ratu Kelupaan’. Salah satu dari Tujuh Rasul Kegelapan.”

“Masih ada enam lainnya,” gumam Borin.

Xiao Lan menatap segel yang sekarang utuh. “Kita akan siap. Tapi pertama, kita harus kembali, memberi tahu yang lain. Dan mempersiapkan untuk segel berikutnya.”

Mereka keluar dari struktur, menemukan kamp Aliansi Kegelapan sudah kosong, ditinggalkan seolah-olah mereka tidak pernah ada. Hanya bendera hitam yang tertinggal, terkibar dalam angin gurun.

Perjalanan pulang dimulai. Tapi di benak Lin Ming, pertanyaan bergema: Apa kebenaran sejati yang dikatakan Ratu Kelupaan? Dan apakah memperbaiki semua segel benar-benar solusi, atau hanya menunda sesuatu yang lebih besar?

Dia melihat Xiao Lan yang berjalan di sampingnya, lalu Kieran dan Borin. Apapun kebenarannya, dia tidak akan berjuang sendirian. Dan selama mereka ingat satu sama lain, selama mereka memegang janji dan prinsip mereka, mereka punya harapan.

Gurun mungkin mencoba membuat mereka lupa. Tapi beberapa hal terlalu berharga untuk dilupakan. Dan itulah yang akan mereka pegang, menuju pertempuran berikutnya dalam perjalanan panjang mereka sebagai Penjaga.