Bab 12: Hutan Purba dan Rahasia Jiwa Primordial

Ukuran:
Tema:

Lin Feng tersadar dengan rasa sakit yang menusuk di seluruh tubuhnya. Setiap otot, setiap tulang, setiap sel seolah-olah baru saja dilempar ke dalam mesin cuci dimensi dan diputar dengan kecepatan maksimum. Dia berusaha duduk, tetapi rasa pusing yang hebat memaksanya untuk tetap berbaring.

Pandangannya perlahan-lahan mulai fokus. Langit di atasnya bukan langit biru yang biasa dia lihat, melainkan warna kehijauan yang aneh, seperti dilihat melalui kaca berwarna. Pepohonan di sekitarnya raksasa – tinggi menjulang ratusan meter, batangnya begitu lebar hingga puluhan orang mungkin perlu bergandengan tangan untuk melingkarinya.

“Ugh…” Erangan lembut dari sampingnya menarik perhatian Lin Feng.

Xue Ling mulai bergerak, mata setengah terbuka. “Di… di mana kita?”

“Entahlah,” jawab Lin Feng, perlahan-lahan mendorong tubuhnya untuk duduk. “Tapi pasti jauh dari Sect Pedang Naga.”

Dia mengaktifkan Mata Elang-nya, memindai lingkungan sekitarnya. Apa yang dia lihat membuatnya tercengang.

Hutan ini penuh dengan makhluk-makhluk aneh yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Burung-burung dengan tiga pasang sayap, serangga sebesar kucing rumah, dan tanaman yang tampaknya bergerak sendiri. Energi spiritual di sini begitu pekat hingga terlihat seperti kabut keperakan yang melayang di antara pepohonan.

Sistem Duplikasi Jiwa v2.0
Pengguna: Lin Feng
Tingkat Kultivasi: Qi Condensation Peak Stage (12%)
Kekuatan Jiwa: 43/150 (Kritis)
Slot Duplikasi Tersedia: 4/5
Peringatan: Energi jiwa di bawah ambang batas aman. Istirahat disarankan.

Qi Condensation Peak Stage? Jadi tekanan dari teleportasi itu memaksanya untuk melakukan breakthrough? Itu berita baik. Tapi kondisi jiwa yang kritis adalah masalah serius.

“Xue Ling, bagaimana kondisi jiwamu?” tanya Lin Feng dengan khawatir.

Xue Ling duduk dengan susah payah. “Kritis. Teleportasi itu… lebih berat dari yang kuduga. Tapi setidaknya kita selamat.”

Lin Feng mengangguk, lalu mulai memeriksa dirinya sendiri. Pakaiannya robek di beberapa tempat, tapi tidak ada luka serius. Tas penyimpanan dimensinya masih tergantung di pinggang, berisi persediaan dan catatan-catatan penting.

“Kita perlu tempat untuk beristirahat dan memulihkan diri,” kata Lin Feng, berdiri dengan goyah. “Dan kita perlu mencari tahu di mana kita berada.”

Mereka mulai berjalan perlahan melalui hutan, dengan Lin Feng memimpin dengan menggunakan kemampuan Mata Elang-nya untuk menghindari makhluk-makhluk yang tampaknya berbahaya. Suasana di hutan ini aneh – sunyi namun penuh kehidupan, damai namun berbahaya.

Setelah berjalan sekitar satu jam, mereka menemukan sebuah gua di balik air terjun kecil. Airnya jernih dan memancarkan energi spiritual yang lembut.

“Ini tempat yang bagus,” kata Xue Ling. “Air terjun akan menyamarkan aura kita.”

Mereka masuk ke dalam gua. Ruangannya cukup luas, dengan langit-langit tinggi yang dipenuhi kristal bercahaya yang memberikan penerangan alami. Di satu sudut, ada kolam kecil berisi air yang sama dengan air terjun di luar.

Lin Feng segera duduk bersila, mulai mengatur pernapasannya untuk memulihkan energi. Tapi dia menyadari sesuatu yang aneh – energi spiritual di sini berbeda dengan yang biasa dia serap. Lebih murni, lebih kuno, dan… lebih selaras dengan jiwanya.

“Xue Ling,” kata Lin Feng tanpa membuka mata. “Apakah kamu merasakan sesuatu yang aneh dengan energi di sini?”

Xue Ling yang sedang memeriksa gua berhenti. “Ya. Ini… ini seperti energi dari zaman kuno. Zaman sebelum sistem kultivasi modern ditemukan.”

Itu masuk akal. Jika mereka benar-benar terlempar jauh melalui ruang dan waktu, mungkin mereka berada di tempat yang belum tersentuh peradaban modern.

Setelah beberapa jam meditasi, kondisi Lin Feng membaik sedikit. Kekuatan jiwanya naik menjadi 67/150 – masih rendah, tapi setidaknya sudah keluar dari zona kritis.

Dia membuka mata dan melihat Xue Ling sedang memeriksa dinding gua. “Menemukan sesuatu?”

“Ada ukiran di sini,” jawab Xue Ling dengan suara tertahan. “Tapi bukan dalam bahasa apa pun yang aku kenal.”

Lin Feng bergabung dengannya. Di dinding gua, ada serangkaian simbol yang diukir dengan halus. Bentuknya tidak seperti karakter bahasa mana pun yang pernah dia lihat – lebih seperti diagram alir atau kode pemrograman.

“System,” perintah Lin Feng dalam pikirannya. “Analisis simbol-simbol ini.”

[Menganalisis…]
[Polanya cocok dengan Sistem Tulisan Jiwa Purba. Ditemukan dalam catatan Sage Ming Yue. Tingkat pemahaman: 23%.]

Sistem Tulisan Jiwa Purba? Itu baru.

“System, terjemahkan apa yang bisa diterjemahkan.”

[Terjemahan Parsial: ‘Tempat Pertemuan Jiwa’… ‘Pintu Gerbang ke Sumber’… ‘Hanya yang Terselarasi yang Bisa Melintas’…]

Lin Feng membacakan terjemahan itu kepada Xue Ling. Mata wanita itu melebar.

“Tempat Pertemuan Jiwa,” gumam Xue Ling. “Guruku pernah menyinggung tentang tempat seperti ini. Di sini lah jiwa-jiwa dari berbagai dimensi bertemu dan berinteraksi.”

Itu terdengar seperti… server pusat untuk jiwa, pikir Lin Feng. Sebagai programmer, analoginya langsung terlintas di pikirannya.

“Apakah ini ada hubungannya dengan Sumber Jiwa Primordial yang kamu bicarakan?” tanya Lin Feng.

“Kemungkinan besar,” jawab Xue Ling. “Tapi kita perlu memecahkan kode ini sepenuhnya untuk mengetahui lebih banyak.”

Mereka menghabiskan sisa hari itu mempelajari ukiran-ukiran di dinding gua. Sebagai programmer yang terbiasa dengan bahasa pemrograman yang kompleks, Lin Feng menemukan bahwa simbol-simbol ini mengikuti logika tertentu. Ada pola pengulangan, struktur hirarkis, dan bahkan sesuatu yang mirip dengan “fungsi” dalam pemrograman.

“Melihat ini,” kata Lin Feng, menunjuk ke sekelompok simbol. “Ini seperti deklarasi variabel. Dan ini…” dia menunjuk ke tempat lain, “…seperti fungsi yang memanggil variabel itu.”

Xue Ling memandangnya dengan bingung. “Variabel? Fungsi?”

“Ah, maaf. Maksudku, simbol-simbol ini membentuk sistem logika. Mereka tidak hanya menceritakan sesuatu – mereka melakukan sesuatu.”

“Itu masuk akal,” kata Xue Ling. “Guruku pernah berkata bahwa bahasa jiwa kuno bukan hanya untuk komunikasi, tapi juga untuk manipulasi realitas.”

Seiring berjalannya malam, mereka berhasil memecahkan sebagian besar kode. Pesan utuh yang terkandung dalam ukiran itu adalah:

“Selamat Datang di Tempat Pertemuan Jiwa. Di sini, jiwa-jiwa dari segala waktu dan ruang bertemu. Untuk mencapai Sumber Jiwa Primordial, jiwa harus diselaraskan dengan frekuensi alam semesta. Proses penyelarasan membutuhkan pengorbanan dan pemahaman.”

Di bagian bawah ukiran, ada diagram yang menunjukkan seseorang duduk di tengah lingkaran konsentris, dengan panah-panah mengarah ke dalam dari berbagai arah.

“Ini seperti diagram proses sinkronisasi,” analisis Lin Feng. “Jiwa individu di tengah, dan frekuensi dari berbagai sumber menyatu ke dalamnya.”

“Proses penyelarasan,” ulang Xue Ling. “Itulah yang diinginkan guruku – menyelaraskan jiwanya dengan Sumber Jiwa Primordial. Tapi dia tidak pernah berhasil.”

“Karena dia tidak punya Sistem Duplikasi Jiwa seperti yang aku miliki,” tebak Lin Feng. “Aku sudah secara alami menyelaraskan jiwaku dengan berbagai makhluk. Mungkin itulah kuncinya.”

Xue Lang memandangnya dengan penuh harapan. “Apakah kamu berpikir kamu bisa melakukan penyelarasan ini?”

“Harus dicoba,” jawab Lin Feng. “Tapi pertama, kita perlu memastikan ini aman. Dan kita butuh energi yang cukup.”

Malam itu, mereka beristirahat di gua. Lin Feng bermimpi aneh – dia berdiri di tengah ruangan besar tanpa batas, dikelilingi oleh jutaan titik cahaya yang masing-masing berdenyut dengan irama yang berbeda. Beberapa titik itu terasa familiar, seperti template-template yang pernah dia duplikasi.

Ketika dia bangun pagi hari, dia merasa ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Kekuatan jiwanya sudah pulih sepenuhnya, bahkan meningkat sedikit.

Kekuatan Jiwa: 152/150 (Kelebihan sementara)

“Xue Ling,” panggil Lin Feng. “Aku bermimpi tentang Tempat Pertemuan Jiwa.”

Xue Ling yang sedang mengumpulkan air dari kolam berbalik. “Bermimpi? Atau… mengalami?”

“Setelah mempelajari simbol-simbol itu, mungkin pikiranku mencoba memproses informasinya,” tebak Lin Feng. “Tapi itu terasa nyata.”

Setelah sarapan sederhana dengan persediaan yang mereka bawa, Lin Feng memutuskan untuk mencoba proses penyelarasan. Dia duduk di tengah gua, tepat di bawah diagram di langit-langit.

“Apakah kamu yakin tentang ini?” tanya Xue Ling dengan khawatir.

“Tidak,” jawab Lin Feng jujur. “Tapi sebagai programmer, aku tahu bahwa terkadang kamu harus menjalankan kode untuk melihat apakah berfungsi atau tidak.”

Xue Ling mengangguk, meski tidak sepenuhnya memahami analoginya. “Aku akan berjaga-jaga.”

Lin Feng menutup matanya, mengatur pernapasannya. Dia mengaktifkan semua template-nya sekaligus, menciptakan resonansi jiwa multi-frekuensi. Kemudian, dia mencoba menyelaraskan resonansi itu dengan pola yang dia lihat dalam diagram.

Awalnya tidak terjadi apa-apa. Lalu…

Suara lembut seperti lonceng kristal terdengar di kepalanya. Pikiran Lin Feng tiba-tiba terbawa, seperti ditarik ke dalam pusaran. Dia tidak lagi berada di gua – dia berada di ruang tak terbatas dari mimpinya, dikelilingi oleh titik-titik cahaya.

Tapi kali ini lebih jelas. Dia bisa “merasakan” setiap titik cahaya – ada yang hangat seperti matahari, ada yang dingin seperti es, ada yang berdenyut cepat, ada yang lambat.

Salah satu titik cahaya mendekat. Itu berwarna keemasan dan terasa… familiar. Sangat familiar.

“Sage Ming Yue?” bisik Lin Feng.

Titik cahaya itu berdenyut lebih kuat, seperti mengiyakan. Lalu sebuah aliran informasi mengalir ke dalam kesadaran Lin Feng – bukan kata-kata, tapi pemahaman langsung.

Dia memahami bahwa titik-titik cahaya ini adalah “jejak jiwa” – sisa-sisa kesadaran makhluk yang pernah mencapai tingkat pemahaman jiwa tertentu. Sage Ming Yue meninggalkan jejaknya di sini, seperti bookmark dalam buku alam semesta.

Informasi lain mengalir: untuk mencapai Sumber Jiwa Primordial, dia harus “menyatukan frekuensi” – menemukan harmoni antara semua template dalam jiwanya dan frekuensi alam semesta itu sendiri.

Titik cahaya Sage Ming Yue mulai berubah bentuk, menjadi diagram tiga dimensi yang menunjukkan proses penyatuan frekuensi. Lin Feng mempelajarinya dengan cepat – sebagai programmer, diagram logika adalah bahasa alamiahnya.

Prosesnya rumit tetapi logis. Pertama, dia harus mengidentifikasi “frekuensi dasar” dari setiap template. Kedua, menemukan “frekuensi harmonik” yang menyatukan mereka. Ketiga, menyelaraskan frekuensi harmonik itu dengan “frekuensi alam semesta” yang bisa dirasakan di tempat ini.

Lin Feng membuka mata (atau setidaknya, kesadaran mata di ruang ini). Dia mulai mengikuti proses yang ditunjukkan diagram.

Pertama, dia fokus pada template Kelelawar Bayangan. Frekuensinya rendah dan stabil, seperti dentuman drum yang dalam. Dia mencatat “pola gelombang” mentalnya.

Kedua, template Mata Elang – frekuensi tinggi dan tajam, seperti siulan.

Ketiga, Cakar Serigala – frekuensi sedang dengan pola agresif, seperti gitar listrik.

Keempat, Kulit Badak – frekuensi sangat rendah dan kokoh, seperti gema di gua.

Setelah mengidentifikasi keempatnya, dia mulai mencoba menemukan harmoni. Ini seperti menyetel instrumen dalam band – masing-masing harus selaras satu sama lain.

Percobaan pertama gagal. Frekuensi bertabrakan, menciptakan disonansi yang menyakitkan.

Percobaan kedua, sedikit lebih baik.

Percobaan ketiga…

Pada percobaan kedelapan, dia menemukannya. Kombinasi tertentu dari empat frekuensi itu menciptakan akord yang indah, harmonis sempurna.

Sekarang langkah terakhir – menyelaraskan dengan frekuensi alam semesta. Dia merentangkan kesadarannya, mencoba merasakan “denyut” tempat ini.

Pada awalnya tidak ada. Lalu, sangat lembut, dia merasakannya – seperti detak jantung raksasa yang sangat pelan, sekali setiap beberapa menit. Tapi setiap detak itu penuh kekuatan, getarannya mengguncang setiap partikel alam semesta.

Lin Feng mencoba menyelaraskan harmoni template-nya dengan detak itu. Tidak mudah – ritmenya tidak teratur, polanya kompleks.

Tapi dia bertahan. Sebagai programmer yang pernah mengerjakan sistem sinkronisasi data real-time, dia memahami prinsip sinkronisasi fase dan frekuensi.

Lama kelamaan, dia mulai menemukan pola dalam ketidakteraturan itu. Detak jantung alam semesta ini mengikuti urutan Fibonacci, rasio emas, pola matematika ilahi yang juga ditemukan dalam pemrograman komputer.

Ketika harmoni template-nya akhirnya selaras sepenuhnya dengan detak alam semesta…

BRUUUUM!

Suara yang tidak berasal dari telinga fisik tapi langsung di jiwa. Seluruh keberadaan Lin Feng bergetar dengan frekuensi baru. Dia merasakan sesuatu terbuka di dalam dirinya – seperti pintu yang selama ini tertutup akhirnya terungkap.

Aliran pengetahuan murni mengalir masuk. Bukan pengetahuan tentang hal-hal spesifik, tapi pemahaman tentang prinsip dasar jiwa itu sendiri. Dia memahami mengapa jiwa bisa diduplikasi, bagaimana mereka terhubung, apa yang membedakan satu jiwa dengan yang lain.

Dan di balik semua itu, dia merasakan “sumber” – sesuatu yang begitu besar, begitu fundamental, sehingga membuat segala sesuatu lain tampak kecil.

Itu adalah Sumber Jiwa Primordial.

Lin Feng tidak bisa mencapainya – belum. Tapi sekarang dia tahu jalannya. Dia tahu apa yang harus dilakukan.

Dia menarik kesadarannya kembali, perlahan-lahan kembali ke tubuh fisiknya. Ketika dia membuka mata, dia menemukan dirinya masih duduk di gua, dengan Xue Ling memandangnya dengan cemas.

“Lin Feng?” tanya Xue Ling pelan. “Kamu… kamu bersinar.”

Lin Feng melihat tangannya. Memang, tubuhnya memancarkan cahaya keperakan lembut. Tapi bukan cahaya fisik – itu adalah cahaya jiwa, terlihat hanya bagi mereka yang memiliki kemampuan persepsi jiwa.

“Prosesnya berhasil,” kata Lin Feng, suaranya terdengar berbeda bahkan bagi dirinya sendiri – lebih dalam, lebih beresonansi. “Aku… aku mengerti sekarang.”

“Memahami apa?” tanya Xue Ling.

“Segalanya,” jawab Lin Feng sederhana. “Aku memahami prinsip dasar Seni Duplikasi Jiwa. Ini bukan tentang mencuri kemampuan makhluk lain. Ini tentang… memahami bahasa universal jiwa.”

Dia berdiri, merasakan kekuatan baru dalam dirinya. System mengkonfirmasi perubahan:

Sistem Duplikasi Jiwa v3.0 (Beta)
Pengguna: Lin Feng
Tingkat Kultivasi: Foundation Establishment Early Stage (1%)
Kekuatan Jiwa: 300/300
Slot Duplikasi Tersedia: 5/7
Kemampuan Baru: Jiwa Harmonization, Frekuensi Analisis, Dimensional Resonance Sensing

Foundation Establishment! Dan sistem telah berkembang ke versi 3.0!

“Kamu mencapai Foundation Establishment?” tanya Xue Ling dengan tak percaya.

“Sepertinya iya,” jawab Lin Feng. “Tapi ini berbeda. Foundation Establishment-ku tidak berdasarkan pada akumulasi energi, tapi pada pemahaman jiwa.”

Itu adalah terobosan yang tidak biasa. Biasanya, cultivator mencapai Foundation Establishment dengan mengompresi energi qi mereka menjadi “fondasi” di dantian mereka. Tapi Lin Feng mencapai Foundation Establishment dengan membangun “fondasi pemahaman” dalam jiwanya.

Xue Ling memandangnya dengan ekspresi campuran antara kagum dan sedih. “Guruku menghabiskan seumur hidupnya mencoba mencapai apa yang baru saja kamu capai dalam satu malam.”

“Tapi dia meletakkan fondasinya,” kata Lin Feng dengan sopan. “Aku hanya membangun di atas apa yang sudah dia mulai.”

Dia merasakan perubahan lain dalam dirinya. Kemampuan duplikasinya sekarang lebih halus, lebih intuitif. Dia bisa “merasakan” jiwa makhluk di sekitarnya tanpa perlu mengaktifkan sistem.

“Coba lihat ini,” kata Lin Feng. Dia mengulurkan tangannya ke arah serangga kecil yang merayap di dinding gua. Tanpa proses duplikasi formal, dia bisa merasakan “pola jiwa” serangga itu, memahami esensinya.

“Kamu bisa… merasakan jiwa secara langsung sekarang?” tanya Xue Ling.

Lin Feng mengangguk. “Seperti melihat warna yang selama ini tidak terlihat. Setiap jiwa memiliki ‘warna’ dan ‘tekstur’ yang unik.”

Kemampuan baru ini adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, itu memberi dia pemahaman yang lebih dalam tentang dunia di sekitarnya. Di sisi lain, dia sekarang lebih sadar akan “jejak jiwanya” sendiri – dan betapa mencoloknya bagi siapa pun yang bisa merasakan hal serupa.

“Penjaga Keseimbangan pasti bisa merasakan ini,” gumam Lin Feng. “Jika mereka memiliki sensor jiwa, aku sekarang seperti mercusuar di malam hari.”

“Tapi kita jauh dari mereka,” kata Xue Ling. “Teleportasi itu pasti membawa kita sangat jauh.”

“Kita tidak bisa berasumsi begitu,” balas Lin Feng. “Kita perlu mengetahui di mana kita berada, dan bagaimana kembali ke Sect Pedang Naga.”

Setelah memulihkan diri sepenuhnya, mereka meninggalkan gua dan melanjutkan eksplorasi. Hutan purba ini luas sekali, dan mereka berjalan berhari-hari tanpa menemukan tanda-tanda peradaban.

Pada hari kelima, mereka menemukan sesuatu yang menarik – reruntuhan bangunan kuno, hampir sepenuhnya ditelan oleh hutan. Strukturnya terbuat dari batu yang tidak dikenal, diukir dengan simbol-simbol yang mirip dengan yang ada di gua.

“Ini adalah… kuil?” tebak Xue Ling.

“Atau fasilitas penelitian,” tambah Lin Feng. “Lihat pola simetrisnya. Ini dirancang dengan presisi matematis.”

Mereka memasuki reruntuhan dengan hati-hati. Di dalam, mereka menemukan ruangan melingkar dengan meja batu di tengahnya. Di atas meja itu, ada objek yang membuat kedua mata mereka terbuka lebar.

Sebuah kristal berukuran kepalan tangan, memancarkan cahaya lembut berwarna pelangi. Tapi yang lebih menarik adalah apa yang ada di dalam kristal – sebuah “pola jiwa” yang kompleks, terjebak dan terawetkan sempurna.

“Jiwa Primordial,” bisik Xue Ling dengan penuh hormat. “Ini adalah jiwa dari makhluk zaman purba.”

Lin Feng mendekat, merentangkan persepsi jiwanya. Pola di dalam kristal itu… indah. Kompleks seperti simfoni, harmonis seperti alam semesta itu sendiri. Dan itu masih hidup, masih berdenyut dengan kesadaran samar.

“Apa yang harus kita lakukan dengan ini?” tanya Xue Ling.

Lin Feng tahu jawabannya segera. Sebagai pewaris Seni Duplikasi Jiwa, sebagai seseorang yang kini memahami bahasa jiwa, dia memiliki tanggung jawab.

“Aku harus membebaskannya,” kata Lin Feng. “Tapi bukan dengan menghancurkannya. Aku harus… memahaminya.”

Dia mengulurkan tangannya, menyentuh kristal. Saat jarinya menyentuh permukaan yang dingin, sesuatu yang luar biasa terjadi.

Jiwa di dalam kristal itu merespons. Bukan dengan kata-kata, tapi dengan aliran pemahaman langsung – sejarahnya, pengetahuannya, esensinya.

Dan dalam aliran itu, Lin Feng menemukan jawaban tentang di mana mereka berada, dan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Mereka tidak hanya terlempar jauh dalam ruang. Mereka juga terlempar ke masa lalu – atau mungkin ke dimensi paralel di mana waktu mengalir berbeda.

Dan Sumber Jiwa Primordial? Itu ada di sini, di tempat ini. Mereka sudah sampai di tempat tujuan tanpa menyadarinya.

Pertempuran untuk menyelamatkan Sect Pedang Naga belum berakhir. Itu baru saja memasuki babak baru – babak di mana Lin Feng harus menguasai kekuatan yang bahkan Sage Ming Yue tidak pernah berani impikan.

Dan yang paling menakutkan: Penjaga Keseimbangan mungkin sudah mengetahui lokasi mereka. Dalam jaringan jiwa universal, cahaya baru Lin Feng sekarang bersinar terang, menarik perhatian siapa pun yang tahu cara melihatnya.

Perang untuk jiwa alam semesta baru saja dimulai. Dan Lin Feng berada di garis depannya.