Bab 4: Teratai Es yang Mencair dan Pusaka Inti Ganda

Ukuran:
Tema:

Begitu telapak tangan Lin Tian bersentuhan dengan bahu wanita bergaun putih itu, sebuah sensasi dingin yang sangat ekstrem merambat masuk melalui pori-pori kulitnya. Itu bukanlah sekadar hawa dingin dari salju atau es biasa, melainkan dingin yang membawa niat mematikan yang absolut—sebuah kutukan yang dirancang untuk membekukan fondasi kehidupan, menghancurkan meridian, dan menyegel jiwa. Rantai Es Absolut.

Hanya dalam hitungan detik, lapisan es biru setebal setengah inci mulai menjalar dari bahu wanita itu, merayap naik ke lengan kanan Lin Tian. Darah di dalam pembuluh nadinya terasa seperti berubah menjadi serpihan kaca tajam yang merobek bagian dalam dagingnya. Otot-otot lengannya kaku seketika, dan warna kulitnya yang sebelumnya memancarkan kilau tembaga kini berubah menjadi seputih mayat.

“Ugh… dingin yang tidak masuk akal!” Lin Tian mengertakkan giginya rapat-rapat hingga rahangnya berbunyi gemeretak. Matanya membelalak, menyadari bahwa ia telah meremehkan betapa mengerikannya kutukan yang bersarang di dalam tubuh wanita Alam Langit ini. Jika ia melepaskan tangannya sekarang, hawa dingin yang sudah terlanjur merasuk ke dalam lengannya akan menyebar ke jantungnya dan membunuhnya dalam hitungan menit. Ia tidak memiliki pilihan selain maju.

Di dalam Dantiannya, Mutiara Naga Surgawi seolah merespons ancaman fatal tersebut. Benda pusaka kuno itu berputar dengan kecepatan yang gila, memancarkan dengungan purba yang menggetarkan seluruh tulang rusuk Lin Tian. Qi Naga Surgawi yang berwarna emas murni meledak keluar dari Dantiannya bagaikan gunung berapi yang meletus, mengalir deras melalui meridiannya dan bertabrakan langsung dengan invasi energi es biru di lengan kanannya.

Ssssssss!

Suara desisan keras, seperti baja panas kemerahan yang dicelupkan ke dalam air es, menggema di udara yang sunyi. Asap putih tebal mengepul dari titik pertemuan antara telapak tangan Lin Tian dan bahu wanita tersebut.

Pertempuran dua energi absolut terjadi di dalam tubuh yang fana. Rantai Es Absolut mencoba menelan kehidupan, sementara Qi Naga Surgawi, yang membawa arogansi dan dominasi sang kaisar naga, menolak untuk tunduk. Menariknya, Mutiara Naga Surgawi tidak hanya memukul mundur energi es itu. Sesuai dengan sifat Seni Kaisar Naga Surgawi yang menelan segala sesuatu di bawah langit, Qi emas itu mulai melilit energi Yin yang ekstrem tersebut, merobeknya dari tubuh wanita itu, dan menyedotnya masuk ke dalam meridian Lin Tian.

Lin Tian mengerang tertahan. Menyerap energi es dari kutukan tingkat tinggi ini terasa seperti menelan ribuan jarum es. Namun, saat energi es itu mencapai Mutiara Naga, mutiara tersebut memurnikannya dengan paksa, mengubah kutukan mematikan itu menjadi Qi alam murni berunsur Yin yang sangat padat. Energi murni itu kemudian diserap oleh Tubuh Sisik Naga Tembaga milik Lin Tian, membuat fondasi fisiknya yang sudah kokoh kini semakin mengeras, seolah ditempa oleh es abadi.

Waktu berlalu dengan sangat lambat. Keringat dingin sebesar biji jagung menetes dari dahi Lin Tian, langsung membeku sebelum menyentuh tanah. Setelah hampir setengah jam mempertahankan posisi itu, lapisan es biru yang menyelimuti tubuh wanita bergaun putih tersebut perlahan-lahan mulai surut. Warna kebiruan di bibirnya memudar, digantikan oleh semburat merah muda yang sehat. Napasnya yang sebelumnya sangat dangkal kini berangsur-angsur menjadi teratur dan stabil.

Kutukan Rantai Es Absolut itu tidak hancur—kekuatan Lin Tian saat ini terlalu lemah untuk menghapusnya secara total—namun energi es yang memberontak telah berhasil ditekan dan dikembalikan ke kedalaman meridian wanita itu, menyegel dirinya sendiri untuk sementara waktu.

Lin Tian menarik tangannya yang gemetar. Ia jatuh terduduk di atas salju, terengah-engah dengan dada yang naik-turun dengan cepat. Lengan kanannya mati rasa total, dan ia harus memutar Qi Naga-nya beberapa kali siklus penuh hanya untuk mengembalikan sirkulasi darahnya.

“Gila… Hanya dengan menyerap luapan sisa kutukannya saja, kekuatanku hampir menembus Tingkat Kesembilan. Entitas macam apa sebenarnya wanita ini?” gumam Lin Tian sambil menatap sosok cantik yang kini terlelap damai di depannya. Wajahnya yang damai saat tidur sama sekali tidak mencerminkan dewi perang pembawa kematian yang baru saja membantai ular piton raksasa beberapa saat yang lalu.

Namun, Lin Tian segera menggelengkan kepalanya, menyingkirkan kekaguman sesaatnya. Ini adalah Area Dalam Hutan Kematian. Bau darah dari bangkai Ular Piton Kembar Es-Api Bermahkota pasti akan segera menarik perhatian binatang buas demonic tingkat tinggi lainnya. Ia harus bergerak cepat.

Dengan sisa tenaga yang ada, Lin Tian berjalan menghampiri bangkai raksasa yang tergeletak tak jauh dari mereka. Sisik ular piton itu sangat keras, namun pedang teratai es milik wanita tadi telah menciptakan luka menganga yang cukup besar, dan serangan mematikan Lin Tian telah menghancurkan struktur organ dalamnya. Menggunakan belati berburunya yang mulai tumpul, Lin Tian dengan susah payah membedah dada monster tersebut.

Darah kental berbau amis dan panas membasahi lengannya, namun Lin Tian tidak peduli. Setelah beberapa menit mengobrak-abrik daging yang hancur, tangannya menyentuh sebuah objek yang keras, bulat, dan memancarkan suhu yang saling bertolak belakang.

Ia menariknya keluar. Itu adalah sebuah Inti Monster seukuran kepalan tangan orang dewasa. Berbeda dengan inti monster biasa yang berwarna tunggal, inti monster ini terbagi menjadi dua warna yang berputar saling mengelilingi seperti simbol Yin dan Yang: separuh memancarkan warna biru safir yang membekukan, separuh lagi memancarkan warna merah delima yang membara.

“Inti Monster Tingkat Empat Puncak… Inti Ganda Es dan Api!” Mata Lin Tian berbinar penuh keserakahan yang murni. Nilai dari benda ini di luar nalar. Jika dilelang di Kota Daun Musim Gugur, seluruh kekayaan Klan Lin mungkin tidak akan cukup untuk membelinya. Lebih penting lagi, energi es dan api yang ekstrem di dalamnya adalah suplemen penyempurnaan tubuh yang paling sempurna untuk Seni Kaisar Naga Surgawi. Ini adalah kunci mutlaknya untuk menembus Tingkat Kesembilan sebelum turnamen dimulai.

Lin Tian segera menyimpan inti monster itu ke dalam saku celananya yang robek. Ia juga mengumpulkan sebotol kecil darah esensi dari jantung ular tersebut, yang sangat berharga untuk membuat pil. Setelah memastikan tidak ada barang berharga yang tertinggal, ia segera kembali ke sisi wanita bergaun putih itu.

Tanpa banyak basa-basi atau keraguan, Lin Tian membungkuk, menyelipkan satu lengannya di bawah lutut wanita itu, dan lengan lainnya di punggungnya, lalu mengangkatnya ala bridal style. Meskipun wanita itu memiliki tinggi semampai, berat tubuhnya sangat ringan, seringan bulu angsa di pelukan lengan Lin Tian yang kini sekuat beruang. Aroma tubuh yang sangat wangi, perpaduan antara bunga teratai musim dingin dan udara pegunungan yang segar, samar-samar tercium oleh Lin Tian, membuat jantung pemuda itu berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

Mengabaikan sensasi asing itu, Lin Tian memfokuskan pandangannya ke depan. Ia mengerahkan teknik pergerakannya, melesat menembus pepohonan yang setengah membeku, mencari tempat berlindung. Sekitar dua mil dari kawah pertempuran, ia menemukan sebuah gua tersembunyi di balik akar pohon beringin raksasa yang menjorok ke sisi tebing. Gua itu cukup kering, tertutup dari angin, dan memiliki ruang yang cukup luas.

Lin Tian membaringkan wanita itu dengan hati-hati di atas hamparan daun kering yang ia kumpulkan. Ia kemudian keluar sejenak untuk menutupi jejak masuk mereka dengan semak berduri, menaburkan sedikit bubuk pengusir binatang buas di mulut gua, lalu kembali ke dalam dan menyalakan api unggun kecil untuk mengusir hawa dingin malam yang mulai merayap turun.

Duduk di seberang api unggun, Lin Tian tidak membuang waktu. Ia menyilangkan kakinya, meletakkan Inti Monster Es-Api di pangkuannya, dan mulai bermeditasi. Ia perlu menyesuaikan kondisi fisiknya ke puncak sebelum berani menyerap energi beringas dari inti tingkat empat ini. Cahaya api unggun yang menari-nari memantulkan bayangan di wajahnya yang tegas, di mana bekas-bekas luka cakaran tampak menonjol, memberikan kesan liar dan berbahaya.

Beberapa jam berlalu dalam keheningan yang hanya dipecahkan oleh suara gemeretak kayu bakar.

Tiba-tiba, suara erangan pelan yang merdu terdengar dari tumpukan daun kering. Bulu mata wanita bergaun putih itu bergetar lentik, perlahan terbuka, memperlihatkan sepasang mata berwarna biru sejernih langit musim dingin.

Bai Xue—Saintess dari Sekte Teratai Es—merasakan kepalanya sedikit pusing. Ingatan terakhirnya adalah rasa sakit yang mencabik-cabik saat Rantai Es Absolut meledak di dalam meridiannya, dan bayangan taring beracun ular raksasa yang hendak menelannya bulat-bulat. Ia mengira dirinya telah mati. Namun, hawa hangat dari api unggun dan aroma kayu yang terbakar membawanya kembali pada kenyataan bahwa ia masih bernapas di alam fana.

Ia segera memeriksa kondisi tubuhnya secara refleks. Mata birunya seketika membelalak lebar. Kutukan es yang seharusnya telah menghancurkan meridiannya kini telah surut sepenuhnya, tersegel dengan rapi di sudut terdalam Dantiannya. Lebih mengejutkan lagi, ia menemukan ada jejak untaian energi asing berwarna emas murni di dalam jalur meridiannya. Energi emas itu memancarkan aura dominasi purba, luar biasa angkuh, namun anehnya, energi itulah yang menekan sisa-sisa kutukan esnya agar tidak memberontak.

“Siapa yang…”

Bai Xue tiba-tiba bangkit duduk. Gerakan itu membuat selimut daun kering yang menutupi tubuhnya tersingkap. Ia menyadari bahwa posisinya telah berpindah, dan seseorang telah menyentuhnya untuk menyalurkan energi aneh tersebut. Sebagai seorang Saintess yang kesuciannya dijaga ketat oleh aturan sekte, fakta bahwa tubuhnya telah disentuh oleh orang tak dikenal memicu insting pertahanan mutlaknya.

Matanya langsung tertuju pada sosok pria yang duduk bersila di seberang api unggun.

Itu adalah seorang pemuda dengan rambut hitam yang diikat sembarangan. Tubuh bagian atasnya sama sekali tidak mengenakan pakaian, memamerkan otot-otot yang terbentuk sempurna namun dipenuhi oleh bekas luka mengerikan yang masih baru. Darah kering menutupi sebagian besar kulitnya, membuatnya tampak seperti seorang barbar yang baru saja keluar dari lautan darah.

Tanpa berpikir panjang, Bai Xue mengangkat tangan kanannya. Meskipun energi Yin-nya belum pulih sepenuhnya, sebagai ahli bela diri Alam Langit, ia hanya butuh satu pikiran untuk memanipulasi elemen. Udara dingin di dalam gua seketika berkumpul di telapak tangannya, mengkristal menjadi sebilah belati es yang sangat tajam. Dengan jentikan jarinya, belati es itu melesat ke depan, berhenti tepat satu milimeter di depan leher Lin Tian, memancarkan hawa dingin yang mengancam akan memotong urat nadinya.

“Siapa kau? Dan apa yang telah kau lakukan padaku?” Suara Bai Xue terdengar sangat merdu, namun nadanya sedingin bongkahan es di kutub utara. Niat membunuh yang murni memancar dari sepasang matanya.

Lin Tian perlahan membuka matanya. Tidak ada kepanikan, tidak ada keterkejutan di wajahnya saat melihat ujung belati es yang mengancam nyawanya. Ia menatap lurus ke dalam mata biru Bai Xue dengan pandangan yang sama dinginnya, sebuah tatapan yang tidak memancarkan ketakutan sedikit pun terhadap ahli bela diri Alam Langit.

“Jika aku ingin membunuhmu, mencurimu, atau menodaimu, kau sudah menjadi mayat beku atau lebih buruk sejak tiga jam yang lalu,” suara Lin Tian terdengar datar dan parau. Ia bahkan tidak berkedip. “Tarik kembali mainan esmu itu. Kutukan di tubuhmu baru saja ditekan. Jika kau menggunakan Qi secara paksa sekarang, es itu akan kembali meledak, dan kali ini aku tidak akan membuang tenagaku untuk menyelamatkan nyawamu yang tidak tahu berterima kasih itu.”

Kata-kata kasar dan tanpa kompromi itu membuat Bai Xue tertegun sejenak. Di Sekte Teratai Es, tidak ada seorang pun, bahkan para tetua, yang berani berbicara padanya dengan nada sekasar itu. Semua orang menunduk, menghormati, atau memuja kecantikannya. Namun pemuda berpenampilan liar di depannya ini menatapnya seolah-olah ia hanyalah beban yang merepotkan.

Namun, logika Bai Xue dengan cepat mengambil alih. Ia adalah seorang wanita cerdas yang telah melewati banyak intrik. Ia merasakan bahwa pemuda ini berbicara kebenaran. Pakaiannya masih utuh, tidak ada barang bawaannya—termasuk cincin penyimpanannya—yang hilang. Lebih dari itu, mengingat kembali ingatan yang kabur sebelum ia pingsan, ia samar-samar mengingat sesosok bayangan yang melesat menembus udara dan menghancurkan ular piton raksasa itu tepat sebelum rahangnya tertutup.

Sosok itu… adalah pemuda berlumuran darah ini?

Bai Xue menurunkan tangannya secara perlahan. Belati es di leher Lin Tian hancur menjadi serbuk salju yang berkilauan dan menghilang di udara.

“Kau… kultivasimu bahkan belum menembus Alam Pembentukan Qi. Kau hanya seorang kultivator Alam Penempaan Tubuh Tingkat Kedelapan,” Bai Xue menyipitkan matanya, memindai fluktuasi energi Lin Tian dengan ketelitian seorang pakar Alam Langit. “Bagaimana mungkin kau bisa membunuh Ular Piton Kembar Es-Api? Dan yang lebih tidak masuk akal, bagaimana caramu menekan Rantai Es Absolut di dalam tubuhku? Bahkan Tetua Tertinggi di sekteku tidak mampu melakukannya.”

“Dunia ini luas, dan ketidaktahuanmu bukanlah urusanku,” jawab Lin Tian dingin. Ia sama sekali tidak berniat menjelaskan tentang Mutiara Naga Surgawi. Rahasia itu adalah kartu as terbesarnya; membocorkannya sama saja dengan mengundang kematian dari seluruh ahli bela diri di benua ini. “Aku kebetulan lewat, melihat inti monster yang bagus, dan membunuh ular yang sekarat itu. Aku menyelamatkanmu karena energi kutukanmu kebetulan selaras dengan teknik kultivasiku dan memberiku sedikit keuntungan. Kita impas. Jangan berpikir aku menolongmu karena wajah cantikmu.”

Kejujuran yang brutal dan pragmatis itu membuat Bai Xue terdiam. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, kecantikannya tidak dipedulikan, dan identitasnya sebagai ahli bela diri tingkat tinggi tidak ditakuti. Pemuda ini menatapnya murni dengan kalkulasi keuntungan dan kerugian.

“Kau pemuda yang sangat angkuh untuk ukuran seseorang yang berada di dasar rantai makanan dunia bela diri,” kata Bai Xue, nada suaranya sedikit melunak, meski masih mempertahankan keanggunan yang dingin. “Siapa namamu?”

“Lin Tian.”

“Aku Bai Xue,” ia membalas, matanya tak lepas dari sosok Lin Tian. Ia menyadari ada sesuatu yang sangat aneh pada pemuda ini. Kultivasinya memang rendah, tetapi fondasi fisiknya, kepadatan ototnya, dan pendaran samar yang sesekali muncul di kulitnya, memancarkan aura yang membuatnya, seorang ahli Alam Langit, merasakan sedikit tekanan instingtual. Terlebih lagi, energi emas murni yang kini menenangkan meridiannya… itu adalah energi yang sangat purba dan mendominasi.

“Lin Tian,” ulang Bai Xue pelan. “Kau mengatakan kutukan di tubuhku ditekan oleh teknik kultivasimu. Artinya, kau menyerap sebagian dari energi es absolut itu?”

“Sebagian kecil. Jika aku menyerap semuanya dalam kondisiku saat ini, tubuhku akan hancur menjadi debu es,” jawab Lin Tian sambil mengambil sepotong kayu dan mengaduk api unggun. Bunga api berhamburan ke udara.

Mata Bai Xue memancarkan secercah cahaya harapan yang telah lama mati. Kutukan Rantai Es Absolut ini telah menyiksanya sejak ia lahir. Ia divonis tidak akan hidup melewati usia dua puluh lima tahun. Sekte Teratai Es telah mengerahkan seluruh sumber daya, namun hanya bisa memperlambat kematiannya. Kini, di tengah hutan terpencil, seorang pemuda dari tingkat terendah justru memiliki energi yang mampu menaklukkan es absolut tersebut.

“Jika kultivasimu meningkat…” Bai Xue ragu-ragu sejenak, sesuatu yang jarang ia lakukan. “Apakah kau mampu menyerap dan menghancurkan seluruh kutukan ini dari tubuhku?”

Lin Tian menghentikan gerakannya. Ia menatap wajah Bai Xue melalui nyala api. Ia melihat kerentanan yang berusaha disembunyikan di balik topeng es yang dingin itu. Ia tahu betul apa artinya menggantungkan harapan pada seutas benang tipis; ia pernah berada di posisi itu ketika ia merangkak dengan Dantian yang hancur.

“Mungkin,” jawab Lin Tian singkat. “Jika kekuatanku cukup, menelan kutukanmu bukanlah hal yang mustahil.”

“Kalau begitu, ikutlah denganku ke Sekte Teratai Es,” kata Bai Xue dengan nada memerintah, insting posisinya sebagai Saintess kembali mengambil alih. “Sekteku akan memberikanmu sumber daya yang tak terbatas. Pil suci, teknik bela diri tingkat bumi, senjata pusaka. Apapun yang kau butuhkan untuk meningkatkan kultivasimu dengan cepat, aku akan menyediakannya. Sebagai gantinya, kau harus menyembuhkanku sepenuhnya.”

Mendengar tawaran yang bisa membuat pangeran kerajaan manapun bertekuk lutut itu, Lin Tian justru tertawa. Tawa yang sangat pelan, sinis, dan penuh dengan ejekan.

“Sekte Teratai Es? Salah satu dari Empat Sekte Lurus yang agung?” Lin Tian mendengus, matanya memancarkan permusuhan yang dingin. Ingatannya kembali pada Zhao Meng’er dan Sekte Pedang Awan. “Aku tidak tertarik menjadi anjing peliharaan di dalam sangkar emas sekte mana pun. Aku memiliki jalanku sendiri. Sumber daya? Aku akan merebutnya dengan kedua tanganku ini. Aku tidak butuh belas kasihan darimu atau sektemu.”

Bai Xue mengerutkan keningnya. Penolakan mentah-mentah ini benar-benar di luar dugaannya. “Kau bodoh atau terlalu sombong? Dengan tingkat kultivasimu, berjalan sendirian di dunia persilatan ini sama saja dengan mencari mati. Terlebih lagi, energi emas di tubuhmu itu sangat tidak wajar. Jika ahli bela diri yang kuat menyadarinya, mereka akan membedahmu hidup-hidup untuk mencuri rahasiamu.”

“Biarkan mereka mencoba,” Lin Tian mencondongkan tubuhnya ke depan, aura buas yang mematikan tiba-tiba meledak dari tubuhnya, membuat api unggun bergoyang tertiup tekanan tak kasatmata. “Mereka yang mencoba membunuhku, hanya akan menjadi tumpukan tulang yang kupijak untuk mendaki ke puncak.”

Bai Xue terdiam. Ia melihat tekad absolut di mata pemuda itu—sebuah tekad yang lahir dari penderitaan mendalam dan ambisi yang menelan langit. Ini bukan sekadar kesombongan anak muda yang naif; ini adalah sumpah darah yang tak tergoyahkan. Entah mengapa, jantung Bai Xue berdetak lebih cepat. Pria-pria jenius yang pernah ia temui di sektenya selalu menyanjungnya dengan kepalsuan, namun pria di depannya ini berdiri di atas prinsipnya sendiri, liar dan tak tertundukkan.

“Baiklah,” kata Bai Xue, nada suaranya kembali tenang. “Aku tidak akan memaksamu. Tapi aku masih berhutang nyawa padamu. Selain itu, aku butuh bantuanmu untuk menstabilkan kutukanku sesekali hingga aku kembali ke sekteku. Sebagai gantinya, selama kita bersama, aku akan melindungimu dari bahaya yang melebihi batas kemampuanmu.”

“Tidak perlu,” tolak Lin Tian sambil mengambil Inti Monster Es-Api dari pangkuannya. Cahaya merah dan biru dari inti tersebut menerangi wajahnya. “Jika kau ingin membalas budi, cukup duduk diam dan jangan menggangguku. Aku akan menembus penghalang malam ini.”

Melihat Inti Monster tingkat empat puncak di tangan Lin Tian, Bai Xue hampir melompat dari tempat duduknya.

“Kau gila?!” serunya, kehilangan ketenangannya. “Itu inti monster tingkat empat! Energi di dalamnya sangat liar dan mematikan. Menyerapnya secara langsung tanpa dimurnikan oleh alkemis… tubuh Tingkat Kedelapanmu akan meledak menjadi serpihan darah seketika!”

Lin Tian tidak menjawab. Ia hanya menyeringai tipis, sebuah seringai yang meremehkan batasan dunia ini. Dengan pandangan yang terkunci pada Bai Xue, Lin Tian menutup matanya dan langsung memicu Seni Kaisar Naga Surgawi.

Seketika, daya hisap mengerikan yang pernah dirasakan Bai Xue sebelumnya meledak kembali. Inti ganda di tangan Lin Tian bersinar terang benderang. Energi es yang membekukan tulang dan energi api yang melelehkan logam melesat keluar secara bersamaan, membentuk pusaran ganas yang menabrak langsung ke dalam dada Lin Tian.

Udara di dalam gua seketika terbelah menjadi dua; sisi kiri diselimuti kabut es yang membeku, sementara sisi kanan membara oleh suhu yang luar biasa panas. Di tengah benturan dua elemen ekstrem tersebut, tubuh Lin Tian tetap duduk bergeming bagaikan sebuah patung dewa perang kuno, siap menelan badai dan menantang kehendak langit.

Bai Xue hanya bisa menatap pemandangan itu dengan napas tertahan, keterkejutan mutlak tergambar jelas di wajah cantiknya. Malam itu, pandangan dunia sang Saintess yang angkuh mulai dihancurkan sedikit demi sedikit oleh pemuda bernama Lin Tian.