Bab 5: Terobosan Ekstrem dan Janji di Bawah Bintang

Ukuran:
Tema:

Di dalam gua yang remang-remang itu, pemandangan yang tercipta benar-benar melanggar segala hukum alam dan akal sehat di dunia persilatan. Udara terbelah menjadi dua domain yang saling bertolak belakang dengan sangat ekstrem. Di sisi kiri Lin Tian, hawa dingin yang luar biasa pekat membekukan dinding batu, menciptakan lapisan es biru berduri yang merambat dengan cepat. Sementara di sisi kanannya, gelombang panas yang membakar udara membuat bebatuan memerah, retak, dan memancarkan uap panas yang menyesakkan napas.

Inti Monster Ganda Es dan Api dari Ular Piton Kembar Bermahkota tingkat empat puncak melayang tepat satu jengkal di depan dada Lin Tian. Benda pusaka yang berdenyut itu memancarkan dua aliran energi beringas—satu biru safir dan satu merah delima—yang melesat masuk ke dalam tubuh pemuda itu tanpa henti.

Bai Xue, yang duduk menyandar di dinding gua dengan tubuh yang masih lemah, menatap pemandangan itu dengan mata biru terbelalak lebar. Bibir mungilnya sedikit terbuka, kehilangan kata-kata. Sebagai Saintess dari Sekte Teratai Es, ia telah melihat banyak jenius tak tertandingi, membaca ribuan gulungan kuno, dan menyaksikan berbagai mukjizat kultivasi. Namun, apa yang dilakukan pemuda bernama Lin Tian di depannya ini adalah tindakan bunuh diri yang paling konyol, sekaligus keajaiban paling menakutkan yang pernah matanya saksikan.

“Energi liar dari monster tingkat empat… bahkan seorang kultivator Alam Bumi yang mencoba menyerapnya secara langsung tanpa formasi pelindung dan bantuan alkemis akan meledak menjadi kabut darah dalam sepuluh tarikan napas,” batin Bai Xue, dadanya naik turun karena ketegangan. “Tubuhnya baru berada di Alam Penempaan Tubuh Tingkat Kedelapan. Meridiannya seharusnya sudah hancur lebur di detik pertama energi itu masuk. Tapi… mengapa dia masih bertahan?!”

Apa yang tidak diketahui oleh Bai Xue adalah pertempuran hidup dan mati yang sesungguhnya sedang terjadi di dalam tubuh Lin Tian.

Sensasi yang dirasakan Lin Tian saat ini jauh melampaui deskripsi kata “sakit”. Rasanya seolah-olah separuh tubuhnya dilemparkan ke dalam kuali lava yang mendidih, sementara separuh lainnya dikubur hidup-hidup di dasar gletser abadi berusia puluhan ribu tahun. Energi es dan api itu meronta, mengamuk, dan mencakar dinding meridian emasnya bagaikan dua ekor naga liar yang terperangkap dalam sangkar sempit.

Darah di sisi kiri tubuhnya membeku menjadi serpihan es kristal yang menusuk daging dari dalam, sedangkan darah di sisi kanannya mendidih hingga menguap, membuat kulitnya memerah seperti besi yang baru diangkat dari tungku pandai besi. Urat-urat di leher dan dahi Lin Tian menonjol keluar, berdenyut mengerikan seolah akan pecah kapan saja. Ia menggertakkan giginya begitu kuat hingga darah segar merembes dari sela-sela gusinya, menetes perlahan ke rahangnya yang tegas.

“Hancurkan… Tundukkan semuanya untukku!” raung Lin Tian di dalam ruang kesadarannya.

Di pusat Dantiannya, Mutiara Naga Surgawi bereaksi terhadap kehendak tuannya yang tak tergoyahkan. Pusaka kuno itu berputar dengan kecepatan yang mencapai puncaknya, menciptakan pusaran energi keemasan yang menelan seluruh Dantian. Raungan naga purba yang penuh dengan arogansi dan dominasi absolut menggema di dalam tubuhnya, sebuah suara yang mengklaim kekuasaan atas langit dan bumi.

Qi Naga Surgawi meledak keluar dari mutiara tersebut. Energi emas murni itu membelah diri menjadi ribuan untaian benang energi yang melesat melalui meridian Lin Tian, langsung menyergap energi es dan api yang sedang mengamuk.

Sifat dasar dari Seni Kaisar Naga Surgawi adalah menelan dan mendominasi. Qi Naga itu tidak mencoba menenangkan energi liar tersebut; sebaliknya, ia menghantamnya secara brutal, merobek-robek struktur energi beringas sang ular piton, melucuti niat membunuh binatang buas di dalamnya, dan memaksanya untuk tunduk.

Setiap kali untaian energi es dan api berhasil ditaklukkan, Qi Naga Surgawi akan menggabungkannya, menciptakan keseimbangan Yin dan Yang yang luar biasa murni, sebelum mengirimkannya kembali ke otot, tulang, dan sumsum Lin Tian.

Proses ini adalah inti dari Tubuh Sisik Naga Tembaga. Tubuh Lin Tian sedang ditempa secara brutal. Suhu ekstrem yang bergantian membakar dan membekukan sel-sel tubuhnya secara paksa menghancurkan kelemahan fana di dalam dagingnya, menggantikannya dengan struktur fisik yang menyamai daya tahan naga purba.

KRETAK! KRETAK!

Suara tulang-belulang yang patah dan tersambung kembali bergema dari dalam tubuh Lin Tian. Kulitnya yang dipenuhi bekas luka tiba-tiba mulai mengelupas, digantikan oleh lapisan kulit baru yang memancarkan pendaran tembaga gelap yang jauh lebih solid dari sebelumnya. Bekas-bekas luka mematikan yang ia dapatkan selama bertarung di Hutan Kematian menutup dan menghilang tanpa jejak, meninggalkan kulit yang halus namun sekeras pelat baja ilahi.

Di sudut gua, Bai Xue bisa merasakan fluktuasi aura Lin Tian melonjak secara gila-gilaan.

“Tingkat Kedelapan puncak… ini tidak mungkin… dia akan segera menembus batas!” Mata Bai Xue memancarkan ketidakpercayaan yang absolut. Ia tanpa sadar menahan napasnya.

Tepat pada saat Inti Monster Ganda di depan dada Lin Tian kehilangan seluruh cahayanya dan hancur menjadi debu putih halus, sebuah ledakan energi yang sangat dahsyat meletus dari tubuh pemuda itu.

BUMMM!

Gelombang kejut melingkar menyapu seluruh isi gua. Api unggun seketika padam, dedaunan kering beterbangan, dan dinding gua retak-retak seolah baru saja dihantam palu raksasa. Angin kencang yang dihasilkan dari ledakan Qi itu membuat rambut panjang Bai Xue berkibar hebat, dan ia harus mengangkat lengannya untuk menutupi wajahnya dari terpaan debu.

Ketika badai debu mereda, keheningan mutlak kembali menyelimuti gua tersebut.

Lin Tian perlahan membuka kedua matanya. Dalam kegelapan gua yang hanya diterangi cahaya bulan dari luar, sepasang mata pemuda itu menyala dengan kilatan emas murni yang menyerupai sepasang matahari mini. Kilatan itu memancarkan aura seorang raja tiran yang memandang rendah segala bentuk kehidupan fana. Siapa pun yang menatap mata itu akan merasakan dorongan instingtual untuk berlutut dan bersujud.

Bahkan Bai Xue, seorang Saintess yang telah mencapai Alam Langit, merasakan jantungnya berdegup kencang sedetik saat bertatapan dengan mata emas tersebut. Aura itu… terlalu kuno, terlalu agung, dan terlalu kejam.

Lin Tian menghembuskan napas panjang. Udara yang keluar dari mulutnya berupa uap putih pekat yang melesat bagaikan anak panah, menabrak dinding batu di depannya dan meninggalkan lubang sedalam dua inci. Ia mengepalkan tinjunya perlahan, merasakan kekuatan yang mengalir deras bagaikan sungai besar di dalam setiap helai serat ototnya.

“Alam Penempaan Tubuh Tingkat Kesembilan. Puncak absolut,” gumam Lin Tian, suaranya sedikit lebih berat dan menggemakan ketegasan yang mutlak.

Ia tidak hanya menembus Tingkat Kesembilan. Dengan penyerapan Inti Ganda tingkat empat puncak tersebut, Tubuh Sisik Naga Tembaga-nya telah mencapai tahap penguasaan awal. Kepadatan Qi di dalam Dantiannya dan kekuatan murni dari fisiknya saat ini telah jauh melampaui batas yang bisa dipahami oleh logika Benua Cakrawala. Meskipun secara teknis ia masih berada di Alam Penempaan Tubuh, Lin Tian yakin bahwa kekuatannya saat ini bisa dengan mudah menghancurkan kultivator Alam Pembentukan Qi tingkat menengah sekalipun.

Jika ia berhadapan dengan Lin Feng yang hanya mengandalkan sumber daya klan dan pil tingkat rendah untuk mencapai Tingkat Kesembilan, Lin Tian hanya membutuhkan satu jentikan jari untuk mematahkan leher sepupunya itu.

Tiba-tiba, Lin Tian mengerutkan keningnya. Ia mencium bau busuk yang sangat menyengat, aroma yang mirip dengan bangkai tikus yang dibiarkan membusuk selama berhari-hari. Ia menunduk menatap tubuhnya sendiri. Akibat proses penyucian tubuh yang ekstrem, sejumlah besar kotoran hitam pekat berbau busuk merembes keluar dari seluruh pori-pori kulitnya. Ini adalah kotoran bawaan (impurities) dari tubuh manusianya; dengan membuang kotoran ini, tubuhnya kini menjadi semurni batu giok tanpa cacat, sangat reseptif terhadap Qi alam.

“Tunggu di sini,” kata Lin Tian singkat kepada Bai Xue tanpa menoleh. Ia segera bangkit berdiri dan melangkah keluar dari gua menuju malam yang dingin.

Sekitar setengah mil dari gua, terdapat sebuah aliran sungai kecil yang tidak sepenuhnya membeku akibat efek pertarungan sebelumnya. Lin Tian melompat masuk ke dalam air sedingin es tersebut tanpa ragu. Ia menggosok tubuhnya kuat-kuat, membersihkan seluruh kotoran hitam, lumpur, dan sisa-sisa darah yang menempel di kulitnya selama satu bulan terakhir.

Saat ia keluar dari sungai, bulan purnama bersinar terang, menyinari sosoknya dengan cahaya keperakan. Penampilan Lin Tian telah berubah drastis dibandingkan saat ia pertama kali dibuang ke hutan ini. Rambut hitam panjangnya yang basah menempel di leher dan bahunya. Wajahnya yang sebelumnya tampak sedikit kekanak-kanakan kini terbentuk menjadi fitur pria dewasa yang sangat tegas, tampan, namun memancarkan aura ketajaman bagaikan pedang yang baru ditarik dari sarungnya. Otot-otot di tubuh bagian atasnya proporsional dan sempurna, memancarkan kilau kulit yang sehat dan kuat.

Tidak ada lagi sisa-sisa Tuan Muda jenius yang naif dari Kota Daun Musim Gugur. Yang berdiri di bawah sinar rembulan saat ini adalah seorang pemangsa puncak yang siap turun gunung.

Ia berjalan kembali ke gua dengan tenang. Saat ia melangkah masuk, Bai Xue telah memantik kembali api unggun kecil menggunakan sisa energinya. Saintess itu duduk dengan anggun, menatap Lin Tian yang masuk tanpa mengenakan atasan dengan pandangan yang sulit diartikan. Di bawah cahaya api yang menari-nari, Bai Xue harus mengakui secara objektif bahwa pemuda di depannya ini memiliki pesona liar dan berbahaya yang tidak dimiliki oleh tuan-tuan muda sekte besar yang selalu berpenampilan rapi dengan jubah mewah mereka.

“Kau berhasil,” kata Bai Xue memecah kesunyian. Nada suaranya tidak lagi meremehkan; sebaliknya, ada nada penghormatan yang tersembunyi. Di dunia persilatan, kekuatan adalah satu-satunya bahasa yang diakui secara universal. Dan Lin Tian baru saja membuktikan bahwa potensinya tidak memiliki batas. “Menyerap inti monster tingkat empat dan bertahan hidup… di usiamu dan tingkat kultivasimu. Jika berita ini menyebar ke pusat Benua Cakrawala, Empat Sekte Lurus akan saling membunuh demi mendapatkanmu sebagai murid.”

Lin Tian duduk di seberangnya, mengambil secarik kain kering untuk mengikat rambutnya ke belakang. Ia menatap Bai Xue dengan dingin. “Sudah kukatakan, aku tidak akan menjadi anjing peliharaan sekte mana pun. Dan jika kau berani membocorkan apa yang kau lihat malam ini, aku akan memburumu sampai ke ujung benua, tak peduli kau seorang Saintess atau apa pun.”

Ancaman pembunuhan yang diucapkan dengan sangat santai itu membuat Bai Xue tertegun, lalu ia justru tersenyum tipis. Senyuman itu bagaikan teratai es yang mekar di tengah badai salju, begitu memukau hingga mampu meruntuhkan pertahanan hati pria mana pun. Sayangnya, hati Lin Tian saat ini telah terlapisi oleh baja kebencian.

“Kau sangat protektif terhadap rahasiamu, Lin Tian. Aku mengerti,” Bai Xue memperbaiki posisi duduknya. “Tapi kau juga harus menyadari situasiku. Saat ini, karena serangan balik dari Rantai Es Absolut, meridianku rusak parah dan budidayaku turun drastis hingga ke Alam Pembentukan Qi tingkat awal. Terlebih lagi, aku tidak bisa menggunakan energi Yin-ku secara sembarangan jika tidak ingin kutukan itu kembali membekukanku.”

Bai Xue menatap mata Lin Tian, tatapannya beralih menjadi serius dan memohon. “Sekte Teratai Es sangat jauh dari sini. Jika aku berjalan sendirian dengan kondisiku saat ini, binatang buas tingkat tiga atau bandit sungai liar sekalipun bisa membunuhku. Aku butuh tempat yang aman untuk memulihkan diri, dan… aku butuh energi emas murnimu untuk menstabilkan kutukanku secara berkala.”

“Apa untungnya bagiku?” balas Lin Tian tanpa sedikit pun rasa empati. “Membawa seorang wanita berpenampilan mencolok sepertimu hanya akan menarik perhatian dan masalah yang tidak perlu. Aku akan segera kembali ke kotaku besok pagi untuk menyelesaikan hutang darah. Aku tidak punya waktu untuk menjadi pengasuh seorang putri sekte.”

Bai Xue sedikit menggigit bibir bawahnya, menahan harga dirinya yang terluka oleh penolakan mentah-mentah itu. Ia tidak pernah memohon pada seorang pria seumur hidupnya. “Aku mungkin kehilangan sebagian besar kekuatanku untuk sementara waktu, tapi pengetahuanku, wawasanku tentang teknik kultivasi tingkat tinggi, dan kemampuanku meracik obat tidak menghilang. Kau mungkin memiliki teknik tubuh yang hebat, tapi fondasi bela dirimu masih kasar dan liar. Aku bisa membimbingmu. Selain itu, saat aku pulih sepenuhnya dan kembali ke Alam Langit, aku berjanji akan membantumu menghancurkan musuh mana pun yang menghalangi jalanmu.”

Lin Tian terdiam, jarinya mengetuk perlahan lututnya. Kalkulasi cepat berputar di otaknya. Apa yang dikatakan Bai Xue ada benarnya. Seni Kaisar Naga Surgawi memang tak tertandingi, namun Lin Tian sangat miskin dalam hal teknik serangan, gerak kaki, dan pengetahuan tentang formasi atau alkimia. Memiliki ensiklopedia berjalan dari sekte raksasa di sisinya bisa mempercepat pertumbuhannya. Lebih jauh lagi, janji perlindungan dari ahli bela diri Alam Langit di masa depan bukanlah sesuatu yang bisa ditolak dengan mudah, terutama karena musuh-musuhnya di masa depan pasti akan semakin kuat.

“Bimbingan dan perlindungan,” gumam Lin Tian. Matanya menajam menatap Bai Xue. “Baiklah. Kau boleh mengikutiku ke Kota Daun Musim Gugur. Tapi kita buat aturan yang jelas sejak awal.”

Bai Xue mengangguk pelan, bersiap mendengarkan syarat dari pemuda arogan tersebut.

“Pertama, di depan umum, kau harus menyembunyikan identitasmu. Tutupi wajahmu. Aku tidak ingin berurusan dengan lalat-lalat hidung belang yang mengejarmu. Kedua, kau hanya mengikuti arahanku. Ketiga, dan yang paling penting…” Aura Lin Tian tiba-tiba merosot menjadi sangat dingin, lebih mematikan dari es milik Bai Xue. “…jangan pernah ikut campur dalam urusan balas dendam pribadiku. Klan Lin, Zhao Meng’er… nyawa mereka adalah milikku. Jika kau mencoba ikut campur atau menunjukkan belas kasihan pada mereka dengan alasan keadilan ala sekte lurusmu, perjanjian kita batal, dan aku akan meninggalkanmu saat itu juga.”

Merasakan niat membunuh yang begitu kental dan murni dari pemuda di depannya, Bai Xue sedikit bergidik. Pengkhianatan macam apa yang dialami pemuda ini hingga hatinya berubah menjadi lubang hitam yang dipenuhi kebencian?

“Aku setuju,” jawab Bai Xue mantap. Di dunia Jianghu, mencampuri urusan dendam darah orang lain adalah hal yang tabu. “Aku hanya akan menjadi bayanganmu, memberimu saran saat kau butuhkan, dan menahan diri. Aku bersumpah atas nama Teratai Es.”

“Bagus,” Lin Tian berdiri, meraih pedang tulang beruang baru yang telah ia ukir di sela-sela kultivasinya dan menyarungkannya di pinggang dengan sabuk dari kulit serigala. “Tidurlah beberapa jam lagi. Besok saat fajar menyingsing, kita akan keluar dari Area Dalam Hutan Kematian. Sudah waktunya aku pulang.”

Malam berlanjut dalam keheningan yang tenang. Bai Xue tertidur dengan napas yang stabil, kutukan esnya tak berani memberontak berkat sisa Qi Naga yang disalurkan Lin Tian sebelumnya. Di sisi lain, Lin Tian tidak tidur sama sekali. Ia duduk bersila di mulut gua, memusatkan pikirannya untuk mengonsolidasikan kekuatannya di Tingkat Kesembilan. Pikirannya melayang jauh melintasi pepohonan lebat, terbang menuju tembok tinggi Kota Daun Musim Gugur.

“Turnamen Bela Diri Antar Klan,” senyum sinis dan kejam terukir di wajah Lin Tian. “Lin Feng… Zhao Meng’er… kuharap kalian menikmati satu bulan masa kejayaan kalian. Karena mulai besok, mimpi buruk kalian yang sesungguhnya akan dimulai.”

Keesokan paginya, matahari memancarkan sinar keemasan yang menembus kabut tebal Hutan Kematian. Dua sosok berjalan beriringan keluar dari kedalaman Area Dalam. Binatang buas demonic tingkat rendah dan menengah yang biasanya agresif kini berlarian menjauh, ekor mereka terselip di antara kedua kaki belakang. Mereka merasakan fluktuasi aura pemangsa tertinggi dari pemuda bertelanjang dada tersebut, sebuah teror instingtual yang memperingatkan mereka untuk menyingkir atau mati.

Perjalanan keluar yang seharusnya memakan waktu berhari-hari dan penuh pertarungan berdarah kini terasa seperti berjalan-jalan di taman belakang bagi Lin Tian. Kekuatannya di Tingkat Kesembilan memungkinkannya bergerak melintasi rintangan alam dengan kecepatan angin. Bai Xue, yang meskipun kultivasinya merosot tajam, tetap menguasai teknik meringankan tubuh tingkat tinggi, melayang dengan anggun di belakang Lin Tian bagaikan peri yang menari di atas dedaunan. Ia mengenakan cadar putih tipis yang menutupi separuh wajahnya, menutupi kecantikan mutlaknya, namun tetap tidak bisa menyembunyikan aura kebangsawanannya yang kental.

Sepanjang perjalanan, Bai Xue terus mengamati pemuda di depannya. Gerakan Lin Tian sangat efisien, tanpa gerakan sia-sia. Setiap langkahnya memancarkan kewaspadaan seorang veteran perang. Sang Saintess mulai menyadari bahwa berlindung di balik bayangan pemuda ini mungkin adalah keputusan paling tepat yang pernah ia buat.

Setelah setengah hari perjalanan cepat tanpa hambatan, rimbunnya Hutan Kematian perlahan mulai menipis. Cahaya matahari menjadi lebih terang, dan suara gemuruh air terjun kecil yang menandakan perbatasan hutan mulai terdengar.

Lin Tian melompat ringan dan mendarat di atas sebuah batu karang besar yang menonjol di tepi tebing curam. Dari ketinggian tebing tersebut, pemandangan luar biasa terhampar luas di bawah kakinya.

Di kejauhan, dikelilingi oleh lautan sawah keemasan dan hutan pinus, berdirilah Kota Daun Musim Gugur. Tembok kota yang terbuat dari batu bata abu-abu menjulang kokoh melindungi ribuan bangunan di dalamnya. Dari tempatnya berdiri, Lin Tian bisa melihat dengan jelas umbul-umbul dan bendera warna-warni yang berkibar dari berbagai sudut kota, menandakan sebuah perayaan besar sedang berlangsung. Di pusat kota, di atas alun-alun utama yang luas, sebuah arena pertarungan batu giok raksasa telah dibangun. Kerumunan orang terlihat seperti semut yang berkerumun mengelilingi arena tersebut.

Turnamen Bela Diri Antar Klan, ajang paling bergengsi yang diadakan setiap tiga tahun sekali, baru saja dimulai hari ini. Turnamen ini akan menentukan alokasi sumber daya pertambangan kota dan, yang paling penting, memberikan hak istimewa bagi para pemenang untuk direkrut menjadi murid oleh perwakilan sekte-sekte besar yang datang sebagai tamu kehormatan.

Angin kencang meniup rambut hitam Lin Tian, membuat kain pengikatnya berkibar. Mata emasnya memindai arena raksasa tersebut dengan ketajaman seekor elang yang mengintai mangsanya dari langit.

Bai Xue mendarat dengan lembut di sebelahnya. Ia mengikuti arah pandangan Lin Tian dan melihat bendera-bendera berkibar di kota.

“Kotamu cukup ramai hari ini,” komentar Bai Xue pelan. “Fluktuasi energi dari tengah kota… sepertinya ada banyak ahli bela diri berkumpul di sana. Aku bisa merasakan beberapa aura kultivator Alam Bumi yang cukup kuat duduk di tribun kehormatan. Mereka pasti utusan dari sekte-sekte besar.”

“Mereka memang datang untuk mencari bibit unggul,” jawab Lin Tian datar. Suaranya dipenuhi oleh ejekan yang sangat dingin. “Tetua dari Sekte Pedang Awan pasti ada di sana, duduk dengan angkuh, menunggu untuk meresmikan pengkhianat itu sebagai murid kebanggaan mereka.”

Tangan kanan Lin Tian perlahan mengepal, sendi-sendinya berbunyi gemeretak, menahan kekuatan brutal yang meronta-ronta minta dilepaskan. Ingatan tentang malam di pelataran batu, rasa sakit dari meridian yang diputus, dan tatapan jijik Zhao Meng’er serta tawa merendahkan Lin Feng kembali berputar di otaknya bagaikan kaset rusak yang memutar memori paling berdarah.

Satu bulan yang lalu, ia diseret keluar dari gerbang kota itu sebagai seonggok daging tak berguna, dibuang untuk menjadi santapan anjing liar. Mereka mengira telah memotong sayap naga sebelum naga itu bisa terbang. Mereka tertawa dan merayakan kejatuhannya di atas singgasana yang diwarnai oleh darahnya.

Hari ini, ia telah kembali. Bukan lagi sebagai Lin Tian sang jenius klan yang naif, melainkan sebagai sang tiran yang ditempa oleh neraka.

“Klan Lin… Zhao Meng’er…” bisik Lin Tian, suaranya dibawa oleh angin menyusuri tebing, terdengar bagaikan dekrit kematian dari dewa pencabut nyawa. “Siapkan leher kalian. Algojo kalian telah tiba.”

Tanpa menoleh lagi, Lin Tian melompat turun dari tebing setinggi ratusan kaki tersebut, tubuhnya melesat jatuh bagaikan sebuah meteor yang bersiap menghantam dan menghancurkan seluruh tatanan Kota Daun Musim Gugur hingga berkeping-keping. Di belakangnya, Bai Xue segera menyusul, mengikuti langkah sang iblis pendendam menuju panggung pertunjukan darah yang sesungguhnya.