Bab 21: Labirin Gravitasi Nirvana dan Boneka Perunggu Kuno
Begitu kaki Lin Tian dan Bai Xue melewati ambang gerbang perunggu raksasa, dunia di belakang mereka seolah tertutup oleh tirai hitam yang absolut. Suara hiruk-pikuk pembantaian, jeritan para kultivator di luar, dan hembusan angin lembah lenyap seketika, digantikan oleh kesunyian makam yang telah terisolasi dari aliran waktu selama ribuan tahun.
Udara di dalam lorong raksasa ini terasa luar biasa purba, kental, dan berbau logam berkarat bercampur dengan debu batu kapur. Namun, hal pertama yang langsung menghantam fisik mereka bukanlah kegelapan, melainkan perubahan hukum alam yang sangat ekstrem.
BUM!
Sebuah tekanan tak kasatmata yang turun dari langit-langit lorong menghantam tubuh mereka berdua. Gravitasi di dalam makam ini tiba-tiba melonjak hingga sepuluh kali lipat dari gravitasi normal di Benua Cakrawala.
Bai Xue, yang baru saja melangkah masuk, terkejut saat merasakan bahunya seolah dibebani oleh bongkahan batu seberat ribuan jin. Lututnya sedikit menekuk, dan napasnya tertahan sesaat. Ia segera memutar pusaran Qi di Dantiannya. Energi Yin berwarna biru es memancar keluar, membentuk lapisan tipis di sekeliling tubuhnya untuk menahan tekanan gravitasi yang meremukkan tersebut. Meskipun ia telah kembali ke puncak Alam Bumi dan setengah langkah menuju Alam Langit, tekanan konstan ini tetap memaksa dirinya untuk terus-menerus membakar Qi hanya untuk bisa berdiri tegak.
“Formasi Medan Gravitasi Kuno,” bisik Bai Xue, suaranya terdengar sedikit berat. Ia mendongak, menatap ukiran-ukiran rune berwarna kelabu yang berkedip redup di langit-langit lorong yang terbuat dari batu obsidian. “Makam Alam Nirvana ini dirancang untuk menyaring para penyusup. Bagi kultivator di bawah Alam Bumi, tekanan ini akan meremukkan organ dalam mereka dalam waktu kurang dari satu jam. Ini menjelaskan mengapa begitu banyak kultivator lemah di luar sana yang langsung mati saat segelnya terbuka.”
Lin Tian berdiri di sebelah Bai Xue. Berbeda dengan sang Saintess yang harus menggunakan energi untuk bertahan, pemuda itu sama sekali tidak memancarkan Qi pelindung. Ia hanya memutar bahunya pelan, meregangkan lehernya hingga terdengar bunyi ‘krek’ yang nyaring.
Bagi Lin Tian, gravitasi sepuluh kali lipat ini sama sekali bukan ancaman. Sebaliknya, Tubuh Sisik Naga Tembaga miliknya, yang telah ditempa di bawah siksaan neraka es dan api serta memakan esensi Akar Naga Darah, menyambut tekanan eksternal ini dengan kegembiraan. Otot-ototnya yang sekeras baja ilahi merespons tekanan tersebut dengan mengencang secara alami, membuat sirkulasi darah naga di dalam tubuhnya justru mengalir lebih lancar dan bertenaga.
“Hanya sepuluh kali lipat? Pemilik makam ini terlalu meremehkan tamu-tamunya,” Lin Tian mendengus sinis, melangkah maju dengan santai seolah ia sedang berjalan di atas hamparan rumput yang lembut. “Tapi setidaknya ini akan membuat tikus-tikus pengganggu bergerak lebih lambat. Ayo. Kita tidak boleh membiarkan faksi-faksi munafik itu mengambil semua hidangan pembuka.”
Lorong makam itu lebarnya mencapai tiga puluh meter, diterangi secara remang-remang oleh lumut fosfor berwarna hijau pucat yang tumbuh di sela-sela dinding batu hitam. Di sepanjang lantai lorong, pemandangan mengerikan tersaji sebagai bukti dari keserakahan manusia.
Jejak pertempuran dan pembantaian terlihat di mana-mana. Mayat-mayat kultivator independen dan murid sekte kelas dua bergelimpangan dalam kondisi yang mengenaskan. Beberapa tubuh mereka hangus terbakar hingga menjadi arang oleh formasi api tersembunyi, yang lain tertusuk oleh ribuan anak panah beracun yang melesat dari dinding, dan ada pula yang meleleh menjadi genangan darah hitam akibat jebakan asam korosif.
Faksi-faksi besar yang masuk lebih dulu tampaknya tidak repot-repot mematikan jebakan tersebut. Sebaliknya, mereka dengan kejam menggunakan para kultivator lemah yang mengikuti di belakang mereka sebagai umpan meriam (cannon fodder) untuk memicu dan menguras energi dari formasi-formasi mematikan itu, menciptakan jalur aman di atas tumpukan mayat.
“Sekte ortodoks selalu mengklaim bahwa mereka menjunjung tinggi nilai kehidupan, namun lihatlah ini,” Bai Xue menghela napas panjang saat ia melangkah menghindari sebuah genangan darah yang masih berbuih. “Mereka sengaja membiarkan jebakan ini tetap aktif untuk menghabisi para pesaing kecil di belakang mereka. Mereka membiarkan orang-orang ini mati sebagai batu loncatan.”
“Kau terkejut?” Lin Tian menjawab tanpa menoleh, matanya yang keemasan menyapu dinding lorong, melihat sisa-sisa aliran Qi dari formasi yang telah rusak. “Di dunia ini, tidak ada yang namanya sekte lurus atau aliran sesat. Yang ada hanyalah mereka yang memiliki kekuatan untuk menulis aturan, dan mereka yang terlalu lemah sehingga harus mematuhi aturan tersebut. Jika orang-orang bodoh ini tidak bisa mengukur kekuatan mereka sendiri dan mati karena keserakahan, itu adalah kesalahan mereka sendiri.”
Lin Tian menggunakan Seni Langkah Bayangan Awan yang baru saja ia pelajari. Meskipun ia berada di bawah tekanan gravitasi berat, riak-riak emas kecil terus bermunculan di bawah telapak kakinya setiap kali ia melangkah. Teknik pergerakan dari Sekte Pedang Awan itu, ketika digabungkan dengan ledakan fisik Mutiara Naga, membuatnya mampu bergerak meluncur beberapa inci di atas lantai batu, sepenuhnya menghindari pelat-pelat pemicu jebakan yang tersisa.
Setelah menyusuri lorong yang dipenuhi mayat itu selama hampir setengah jam, kegelapan di depan mereka perlahan mulai terbuka. Mereka tiba di sebuah aula anjung (antechamber) yang luar biasa luas, berbentuk lingkaran dengan diameter mencapai seratus meter. Atap aula ini ditopang oleh delapan pilar raksasa yang diukir dengan relief binatang buas mitologi.
Di tengah aula tersebut, terdapat empat buah pintu batu raksasa yang mengarah ke empat jalur yang berbeda. Masing-masing pintu ditandai dengan ukiran elemen yang berbeda: Angin, Api, Air, dan Tanah.
Jejak kaki dan sisa-sisa aura dari faksi-faksi utama terlihat menyebar ke berbagai pintu tersebut. Tampaknya, aliansi sementara yang dibentuk di luar makam telah resmi bubar di titik ini. Sekte Pedang Awan, Kuil Bodhi, Sekte Gunung Emas, dan Sekte Teratai Es telah memilih jalur mereka masing-masing, berpencar untuk memonopoli harta karun di bagian-bagian berbeda dari makam raksasa ini.
Namun, yang membuat langkah Lin Tian terhenti bukanlah pintu-pintu tersebut, melainkan apa yang berserakan di sekitar aula.
Ratusan potongan logam perunggu, roda gigi kuno, dan serpihan kristal energi berserakan di lantai. Di antara puing-puing logam tersebut, terdapat belasan mayat prajurit dari Kekaisaran Awan Biru dan beberapa murid Sekte Gunung Emas yang tubuhnya hancur dihantam benda tumpul yang sangat masif.
“Boneka Penjaga Formasi,” Bai Xue menyipitkan matanya, mengenali puing-puing logam tersebut. “Ini adalah teknologi kuno dari era Nirvana. Boneka-boneka ini terbuat dari Besi Bintang Perunggu yang kekerasannya setara dengan senjata tingkat Bumi kelas atas. Mereka tidak memiliki rasa sakit, tidak memiliki nyawa, dan tidak bisa diintimidasi oleh niat membunuh. Faksi-faksi di depan pasti harus membayar harga yang cukup mahal berupa nyawa murid mereka untuk menghancurkan barikade boneka ini.”
Lin Tian berjalan mendekati salah satu kepala boneka perunggu yang terpenggal. Kepala itu berbentuk seperti helm kesatria tanpa wajah, dengan sebuah lubang kristal di bagian dahinya yang kini telah hancur dan kehabisan energi.
Tepat ketika Lin Tian hendak menyentuh kepala perunggu tersebut, indra naga surgawinya menangkap sebuah anomali. Fluktuasi energi yang sangat halus, namun luar biasa padat, mulai beresonansi dari bawah lantai batu giok di tempat mereka berdiri.
“Mundur, Bai Xue,” perintah Lin Tian dengan suara rendah dan tajam.
Bai Xue segera melesat mundur sejauh dua puluh meter, pedang es kristal seketika terbentuk di tangan kanannya.
KRAAAAK! BUMMM!
Lantai batu giok di empat sudut aula tiba-tiba meledak. Empat pilar batu tebal mencuat dari dalam tanah, dan dari dalam pilar-pilar tersebut, melangkah keluar empat sosok raksasa yang tingginya mencapai tiga meter.
Mereka adalah Boneka Penjaga Perunggu yang masih utuh. Zirah mereka memancarkan kilau logam yang sangat berat dan mematikan. Di tangan kanan mereka masing-masing tergenggam sebuah tombak raksasa bergerigi (halberd) yang beratnya pasti melebihi lima ribu jin. Di bagian dahi mereka, sebuah kristal merah darah menyala terang, menandakan bahwa mereka baru saja diaktifkan oleh sistem pertahanan makam yang mendeteksi penyusup baru.
Setiap boneka itu melangkah maju. Suara dentuman logam yang menghantam lantai batu membuat aula tersebut bergetar hebat. Gravitasi yang sepuluh kali lipat tampaknya sama sekali tidak mempengaruhi pergerakan mekanis mereka.
“Empat Boneka Penjaga tingkat komandan,” Bai Xue mengidentifikasi ancaman tersebut dengan cepat, wajahnya di balik cadar menjadi tegang. “Berdasarkan fluktuasi kristal energi di dahi mereka, kekuatan fisik dan daya hancur masing-masing boneka ini setara dengan kultivator puncak Alam Bumi! Dan karena tubuh mereka terbuat dari Besi Bintang Perunggu, serangan Qi biasa tidak akan mampu menggores mereka.”
“Sempurna,” Lin Tian sama sekali tidak menunjukkan kepanikan. Sebaliknya, senyum buas yang penuh dengan antisipasi mekar di wajahnya. Ia mengepalkan kedua tinjunya, merenggangkan lehernya, dan menatap keempat raksasa perunggu itu dengan mata emas yang berkobar. “Aku sedang mencari batu asahan yang bagus untuk menguji seberapa keras Tubuh Sisik Naga Tembaga milikku setelah menyerap esensi naga. Boneka-boneka rongsokan ini datang di waktu yang sangat tepat.”
Merasakan aura makhluk hidup di tengah aula, keempat Boneka Perunggu itu serentak menolehkan kepala tanpa wajah mereka ke arah Lin Tian. Kristal merah di dahi mereka berkedip cepat.
WUUUSSSHH!
Meskipun tubuh mereka terbuat dari logam raksasa, kecepatan mereka sangat mengerikan. Boneka pertama menerjang ke depan, mengayunkan tombak bergeriginya secara horizontal, berniat membelah pinggang Lin Tian menjadi dua bagian. Udara menjerit saat ditebas oleh senjata berat tersebut, menciptakan gelombang angin tajam yang memotong pilar-pilar batu di dekatnya.
Lin Tian tidak mundur. Ia memusatkan pandangannya pada ujung tombak yang datang menyapu.
“Seni Langkah Bayangan Awan!”
Lin Tian menghentakkan kakinya. Alih-alih melompat tinggi atau menghindar ke belakang, sebuah riak energi emas tercipta di bawah telapak sepatunya. Meminjam tolakan dari pijakan udara tersebut, tubuh Lin Tian meliuk dengan sudut kemiringan yang hampir sejajar dengan lantai, membiarkan mata tombak raksasa itu menyapu udara kosong hanya satu milimeter di atas ujung hidungnya.
Kecepatan dan kelincahan yang biasanya menjadi kelemahan petarung fisik kini telah sepenuhnya diatasi oleh teknik pergerakan Sekte Pedang Awan yang dimodifikasi tersebut.
Sebelum boneka itu bisa menarik kembali senjatanya yang meleset, Lin Tian menghentakkan tangannya ke lantai, menggunakan gaya tolak untuk melentingkan tubuhnya kembali ke posisi berdiri tepat di depan dada raksasa perunggu tersebut.
“Mari kita lihat siapa yang memiliki logam lebih keras!” raung Lin Tian.
Pusaran naga di Dantiannya meledakkan Qi emas murni ke tangan kanannya. Cahaya tembaga gelap yang menyelimuti tinjunya berubah menjadi emas menyilaukan. Ia melontarkan pukulan lurus ke arah pelat dada boneka perunggu yang diklaim tak bisa dihancurkan oleh senjata tingkat Bumi itu.
BLAAAAARRRRGGGHHH!
Suara benturan yang terjadi bukan seperti daging memukul logam, melainkan seperti dua meteor logam surgawi yang saling menghantam. Gelombang kejut sonik meledak di tengah aula, menerbangkan debu dan puing-puing sisa pertempuran sebelumnya ke dinding melingkar.
Mata Bai Xue membelalak tak percaya.
Di bawah tinju Lin Tian, pelat dada Besi Bintang Perunggu yang setebal setengah kaki itu melesak ke dalam secara mengerikan. Jaring-jaring retakan menyebar dari titik benturan, dan suara decitan logam yang robek terdengar memilukan. Boneka raksasa seberat puluhan ribu jin itu terangkat dari lantai dan terlempar ke belakang, menghantam salah satu pilar raksasa hingga pilar itu retak parah.
Boneka pertama itu merosot ke lantai, kristal merah di dahinya berkedip tidak beraturan. Pukulan fisik Lin Tian tidak hanya menghancurkan pelat pelindungnya, tetapi gelombang kejut murni dari tenaganya telah merambat ke dalam dan mengacaukan susunan formasi energi mekanis di dalam tubuh boneka tersebut.
“Kekuatan fisik yang bisa meremukkan Besi Bintang Perunggu…” Bai Xue menelan ludah. “Bahkan ahli Alam Langit tingkat menengah yang ahli dalam pertarungan jarak jauh akan berpikir dua kali sebelum membiarkan Lin Tian mendekati mereka.”
Namun, boneka tidak memiliki rasa takut. Melihat rekan mereka tumbang, tiga boneka perunggu lainnya langsung mengepung Lin Tian dari tiga arah yang berbeda. Mereka menyerang dengan sinkronisasi mutlak yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia. Tiga buah tombak raksasa ditusukkan dari sudut buta yang saling menutupi, mengunci semua rute pelarian Lin Tian.
Lin Tian menyeringai lebar. Ia tidak mencoba melarikan diri dari kepungan maut tersebut. Ia mengalirkan Qi Naganya ke kedua kakinya, mengaktifkan Langkah Bayangan Awan hingga ke batas maksimal.
Ia melesat ke udara, menciptakan undakan-undakan pijakan emas kasat mata di udara terbuka. Ia bergerak bagaikan kilatan petir emas yang memantul secara acak di dalam kepungan tiga tombak tersebut. Tiga senjata raksasa itu hanya mampu menusuk bayangan ilusi yang ditinggalkan oleh kecepatan Lin Tian.
BUM! KRAAAK!
Lin Tian muncul tepat di atas kepala boneka kedua. Ia mengayunkan kaki kanannya dari atas ke bawah, melakukan tendangan kapak yang dilapisi oleh kekuatan kompresi pusaran naga. Tumit Lin Tian menghantam tepat di atas ubun-ubun helm perunggu boneka tersebut.
Daya hancur dari atas yang ditambah dengan gravitasi makam yang sepuluh kali lipat menciptakan dampak yang menghancurkan nalar. Helm perunggu itu penyok seketika, dan tekanan brutalnya memaksa leher boneka itu melesak masuk ke dalam rongga dadanya sendiri. Seluruh struktur tulang mekanis dari boneka tersebut hancur berantakan karena tekanan vertikal, mengubahnya menjadi tumpukan besi rongsokan yang langsung mati seketika.
Melihat kecepatan pemusnahan itu, dua boneka terakhir mengarahkan serangan mereka secara membabi buta ke arah udara. Lin Tian tidak memberikan mereka ruang untuk bernapas. Ia mendarat di atas gagang tombak boneka ketiga, berlari menyusuri senjata raksasa itu seolah sedang berlari di atas jembatan datar.
Ketika boneka itu mencoba mengibaskan tombaknya untuk menjatuhkan Lin Tian, pemuda itu melompat maju, mendarat tepat di pelindung bahu sang raksasa.
Lin Tian mengulurkan tangan kirinya, mencengkeram kristal merah darah yang tertanam di dahi boneka tersebut. Kristal itu adalah Inti Formasi, jantung yang memberikan tenaga pada monster mekanis ini.
“Kau tidak butuh ini lagi,” bisik Lin Tian dingin.
Dengan tarikan kasar yang brutal, Lin Tian mencabut kristal tersebut. Percikan api magis dan kabel-kabel Qi terputus. Tanpa sumber tenaganya, boneka ketiga langsung membeku di tempat, matinya cahaya di wajah mekanisnya menandakan kehancuran total.
Boneka keempat, yang terakhir tersisa, menyadari ancaman mutlak di depannya. Formasi pertahanan primitifnya mengambil keputusan ekstrem. Alih-alih menggunakan senjata, kristal di dahinya mulai menyala dengan warna merah yang sangat terang dan tidak stabil. Ia membuang tombaknya dan berlari menerjang Lin Tian, merentangkan kedua lengan besinya untuk memeluk pemuda itu dalam pelukan bunuh diri, berniat meledakkan inti formasinya.
Ledakan bunuh diri dari inti formasi tingkat puncak Alam Bumi setara dengan serangan skala penuh dari ahli Alam Langit tingkat awal.
“Dia akan meledakkan dirinya! Lin Tian, menghindar!” teriak Bai Xue, segera membentuk dinding es berlapis lima di depannya.
Lin Tian yang baru saja mendarat dari bahu boneka ketiga melihat raksasa besi yang menyala itu berlari ke arahnya. Ia tidak panik, ia juga tidak mundur. Sebaliknya, mata emasnya menyala dengan api keserakahan yang familiar. Ledakan inti energi? Bagi orang lain itu adalah bencana, namun bagi Seni Kaisar Naga Surgawi, energi yang sangat padat dan tidak stabil adalah hidangan penutup yang paling lezat.
“Meledakkan energi purba di hadapanku? Kau menghina pusaran nagaku!” raung Lin Tian.
Alih-alih lari, Lin Tian justru melesat maju menyongsong boneka yang hendak meledak tersebut. Ia merendahkan tubuhnya, dan dengan kekuatan yang mencabut gunung, ia meninju tepat di bagian perut perunggu sang boneka, menembus pelat tebalnya hingga lengan kanannya masuk sepenuhnya ke dalam rongga mekanis yang berisi inti energi yang hampir meledak itu.
Mutiara Naga Surgawi di dalam Dantian Lin Tian berputar dengan tingkat kebrutalan maksimum. Daya hisap lubang hitam emas meledak dari telapak tangannya tepat di detik sebelum inti itu meledak.
WUUUSSSHHH!
Ledakan energi merah yang seharusnya menghancurkan seluruh aula anjung itu tiba-tiba tertahan. Alih-alih meledak ke luar, energi destruktif yang masif itu disedot ke dalam secara paksa. Kabut energi merah darah mengalir deras seperti pusaran air pusaran air langsung ke dalam lengan Lin Tian.
Lin Tian mengertakkan giginya, otot-otot di lengannya membengkak menahan aliran energi purba yang sangat padat dan kasar itu. Namun, pusaran emas di Dantiannya adalah wadah yang jauh lebih tangguh dari formasi apa pun. Pusaran itu menelan ledakan yang digagalkan tersebut, memurnikannya dalam hitungan detik, dan mengubahnya menjadi untaian Qi naga yang mempertebal kultivasi Lin Tian.
Ketika Lin Tian akhirnya menarik tangannya keluar dari perut boneka itu, tubuh perunggu raksasa tersebut tidak lebih dari cangkang kosong yang berderak pelan sebelum akhirnya hancur menjadi tumpukan besi berkarat di lantai.
Pertarungan melawan empat Boneka Penjaga yang seharusnya membutuhkan pengorbanan darah dari puluhan elit sekte, diselesaikan oleh Lin Tian sendirian dalam waktu kurang dari satu menit.
Lin Tian berdiri di tengah tumpukan besi rongsokan tersebut. Ia mengangkat tangan kanannya, memandangi kristal merah yang ia cabut dari boneka ketiga. Kristal itu seukuran kepalan tangan, memancarkan energi Qi purba yang sangat murni. Di dalam sisa-sisa boneka pertama dan kedua, ia juga menemukan kristal yang serupa.
“Inti Formasi Kuno,” Lin Tian melemparkan ketiga kristal itu ke udara dan menangkapnya. Ia tidak repot-repot menyimpannya ke dalam cincin spasial. Dengan Seni Kaisar Naga Surgawi, cara terbaik untuk menyimpan harta energi adalah dengan memasukkannya ke dalam perut.
Tanpa mempedulikan debu dan sisa-sisa karat yang menempel, Lin Tian menggunakan Qi naganya untuk menghancurkan ketiga kristal keras tersebut menjadi bubuk bercahaya merah di telapak tangannya. Ia kemudian menghirup bubuk energi itu secara langsung melalui hidung dan mulutnya, menelannya bulat-bulat.
Bai Xue berjalan perlahan mendekati Lin Tian, menurunkan pedang esnya. Ia telah melihat pemuda ini menelan esensi monster, menyerap kutukan es, mengisap energi manusia, dan kini ia menelan inti formasi mekanis kuno. Seni Kaisar Naga Surgawi tampaknya tidak memiliki batasan atas apa yang bisa ia asimilasi.
“Bagaimana rasanya?” tanya Bai Xue, separuh takjub, separuh ngeri.
“Sedikit kering, dan rasa logamnya terlalu kuat,” Lin Tian menjawab dengan nada serius yang nyaris jenaka, membersihkan debu perunggu dari bibirnya. Ia memutar lehernya, merasakan Qi di dalam Dantiannya kembali melonjak. Meskipun tidak cukup untuk mendorongnya ke tingkat akhir Pembentukan Qi, asupan energi ini semakin memantapkan fondasinya, membuat pusaran naganya semakin padat dan berat.
Lin Tian mengalihkan pandangannya dari sisa-sisa pertarungan, kembali menatap empat pintu batu raksasa yang berdiri di hadapan mereka. Pintu berukir elemen Angin, Api, Air, dan Tanah. Masing-masing memancarkan fluktuasi aura purba yang menggoda namun mematikan.
“Makam ini jelas dirancang seperti labirin,” Lin Tian menganalisis situasi dengan tajam. “Keempat pintu ini mungkin mengarah ke zona cobaan yang berbeda sebelum akhirnya bermuara di balai utama tempat warisan Nirvana berada. Faksi-faksi besar telah berpencar untuk memaksimalkan peluang mereka mendapatkan harta karun elementer sebelum menuju ke pusat.”
“Sekte Teratai Es pasti akan memilih pintu Air, karena di sanalah lingkungan paling menguntungkan bagi seni kultivasi Yin mereka,” Bai Xue menatap pintu batu berukir gelombang laut yang memancarkan hawa dingin samar. “Sekte Gunung Emas pasti menuju pintu Tanah, dan Kuil Bodhi kemungkinan memilih pintu Api karena seni penyucian mereka selaras dengan Yang.”
“Itu menyisakan Sekte Pedang Awan dan si merak sombong Jian Wushuang di pintu Angin,” Lin Tian tersenyum buas. Matanya yang gelap memancarkan niat membunuh yang belum padam sejak pertarungannya dengan Yun Jian. “Kebetulan sekali. Aku baru saja mempelajari teknik Langkah Bayangan Awan mereka, dan aku butuh banyak praktisi elemen angin untuk menguji kelincahanku. Plus, dendamku dengan mereka masih jauh dari kata lunas.”
Bai Xue mengangguk setuju. “Jian Wushuang bukanlah lawan yang bisa dianggap remeh. Ia adalah inkarnasi pedang yang sesungguhnya. Jika kita bertemu dengannya, kau tidak bisa bertarung hanya mengandalkan benturan fisik frontal seperti sebelumnya. Pedangnya bisa memotong sesuatu yang tidak berwujud.”
“Itulah sebabnya aku akan memastikan aku lebih kuat darinya sebelum kita bertemu di balai utama,” Lin Tian melangkah mantap menuju pintu batu raksasa berukir elemen Angin. “Ayo kita telusuri jalan ini. Aku yakin Sekte Pedang Awan telah meninggalkan banyak jejak ‘petunjuk’ berupa mayat dan jebakan untuk kita nikmati.”
Dengan satu dorongan ringan yang dilapisi Qi Naga Surgawi, Lin Tian membuka pintu batu seberat puluhan ton itu. Hembusan angin kencang yang membawa bau karat dan darah kering langsung menyapu wajah mereka, mengundang sang Tiran Naga untuk melangkah lebih dalam ke jantung labirin Makam Nirvana.
Di balik pintu itu, bukan sekadar harta karun yang menanti, melainkan pertemuan tak terhindarkan dengan para jenius puncak Benua Cakrawala, di mana hanya yang terkuat, terkejam, dan paling mendominasi yang akan keluar hidup-hidup. Lin Tian melangkah masuk ke dalam bayangan angin, siap untuk mengubah labirin tersebut menjadi sungai darah bagi musuh-musuhnya.