Bab 22: Lorong Angin Pemotong Tulang dan Jejak Darah Sekte Pedang Awan
Suara derit panjang dan berat bergema saat gerbang batu berukir elemen Angin itu tertutup rapat di belakang Lin Tian dan Bai Xue, memutus sama sekali seberkas cahaya kelabu yang tersisa dari aula anjung. Di dalam lorong yang baru saja mereka masuki, kegelapan tidak berlangsung lama. Dinding-dinding yang terbuat dari batu pualam biru perlahan memancarkan pendaran cahaya perak yang dingin, mengungkap sebuah lanskap bawah tanah yang jauh lebih luas dan lebih mematikan daripada yang bisa dibayangkan oleh akal sehat.
Mereka tidak lagi berada di sebuah lorong sempit, melainkan berdiri di tepi sebuah ngarai bawah tanah yang membentang luas. Jembatan-jembatan batu yang telah retak dan rantai-rantai besi raksasa berkarat membentang melintasi jurang tak berdasar, menghubungkan berbagai anjungan yang melayang secara tidak wajar di tengah ngarai.
Namun, yang paling mengerikan dari tempat ini bukanlah jurangnya, melainkan udara itu sendiri.
WUSSSSHHH! SYUUUT!
Suara lengkingan tajam terus-menerus merobek gendang telinga, menyerupai raungan jutaan roh penasaran yang disiksa. Ngarai ini adalah sebuah terowongan angin raksasa. Angin yang berhembus di sini bukanlah angin alam biasa, melainkan Angin Astral—sebuah fenomena energi purba di mana Qi elemen angin telah terkompresi hingga membentuk bilah-bilah pisau tak kasatmata yang melesat secara acak dengan kecepatan kilat. Ditambah dengan gravitasi sepuluh kali lipat yang masih berlaku di tempat ini, lintasan bilah-bilah angin itu menjadi melengkung dan sangat sulit diprediksi.
Satu bilah angin astral seukuran lengan manusia melesat ke arah wajah Lin Tian. Pemuda itu tidak berkedip. Ia bahkan tidak mengangkat tangannya untuk menangkis.
TRANG!
Bilah angin itu menghantam pipi Lin Tian, menciptakan percikan bunga api keemasan sebelum hancur menjadi pusaran udara kosong. Kulit tembaganya, yang telah diperkuat oleh esensi Akar Naga Darah, tidak menyisakan goresan sekecil apa pun. Ia hanya memiringkan lehernya sedikit, merasakan sensasi menggelitik dari benturan tersebut.
Di sebelahnya, Bai Xue tidak memiliki fisik sebuas itu. Ia mengangkat tangan kanannya yang seputih giok. Qi elemen Yin meledak, menciptakan sebuah kubah es berbentuk aerodinamis yang menyelimuti tubuhnya. Saat bilah-bilah angin astral menghantam kubah es tersebut, terdengar suara gesekan yang sangat memekakkan telinga, namun es murni milik Saintess itu cukup kuat untuk menangkis ketajaman udara tersebut, membelah arah angin agar mengalir ke sisi tubuhnya tanpa hambatan.
“Pemilik Makam Nirvana ini memiliki selera humor yang sangat buruk,” Lin Tian mendengus pelan, matanya yang keemasan menyapu ngarai raksasa tersebut. “Angin astral yang mampu memotong baja, dipadukan dengan gravitasi yang menarik segala sesuatu ke bawah. Bagi kultivator yang mengandalkan teknik meringankan tubuh biasa, melompat di tempat ini sama saja dengan terjun ke dalam mesin penggiling daging.”
“Sekte Pedang Awan dikenal karena keahlian mereka memanipulasi elemen angin dan awan,” Bai Xue menganalisis situasi dengan tenang dari balik perisai esnya. “Mereka pasti memilih jalur ini karena merasa elemen angin adalah keuntungan alami mereka. Namun, menghadapi Angin Astral murni peninggalan era Nirvana, bahkan teknik rahasia mereka akan diuji hingga batas maksimal.”
“Mari kita lihat seberapa jauh keuntungan alami mereka bisa membawa mereka,” Lin Tian menyeringai.
Ia memfokuskan pikirannya. Di dalam Dantiannya, pusaran naga keemasan berputar memompa Qi Pembentukan tingkat menengah ke seluruh jaringan meridiannya. Lin Tian mulai mengaktifkan Seni Langkah Bayangan Awan yang baru saja ia pelajari dari gulungan giok milik Penatua Yun Jian beberapa saat yang lalu.
Alih-alih melangkah dengan hati-hati, Lin Tian menghentakkan kakinya kuat-kuat ke tepi tebing batu pualam biru tersebut dan melompat langsung ke tengah ngarai yang dipenuhi oleh badai bilah angin.
“Lin Tian!” Bai Xue berseru tertahan, terkejut oleh tindakan gegabah pemuda itu.
Namun, Lin Tian tidak jatuh ke dasar jurang. Di udara terbuka, kakinya menginjak sebuah bilah angin astral yang melesat ke arahnya. Berbeda dengan kultivator Sekte Pedang Awan yang mencoba menyelaraskan diri atau menghindar dari angin, Lin Tian menaklukkan angin itu secara paksa. Ia mengalirkan Qi Naga Surgawi ke telapak sepatunya, menciptakan riak emas yang menekan bilah angin liar tersebut, mengubah bilah pisau pembunuh itu menjadi pijakan sesaat yang sekeras batu.
BUM! BUM! BUM!
Lin Tian melompat dari satu bilah angin ke bilah angin lainnya, menggunakan kekuatan fisik murni dan ledakan Qi naga untuk menentang gravitasi sepuluh kali lipat. Ia bergerak menembus badai dengan lintasan zigzag yang liar, beringas, dan tidak masuk akal. Teknik Langkah Bayangan Awan yang seharusnya elegan dan halus telah ia mutasikan menjadi teknik pergerakan tiran yang menginjak-injak elemen alam itu sendiri.
Melihat pemuda itu menari di tengah badai dengan arogansi mutlak, Bai Xue hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Ia merentangkan kedua tangannya, membiarkan energi esnya membentuk sepasang sayap tipis di punggungnya, lalu meluncur mengikuti jalur udara yang telah dikacaukan oleh pijakan Lin Tian, bergerak dengan keanggunan seorang dewi yang turun dari kahyangan.
Mereka menyusuri ngarai bawah tanah itu selama hampir satu jam. Semakin dalam mereka masuk, intensitas Angin Astral semakin mengerikan. Warna angin berubah dari perak transparan menjadi hijau pekat, menandakan tingkat kepadatan elemen angin yang sangat beracun dan memotong.
Di sebuah anjungan batu melayang yang berukuran sebesar lapangan panggung turnamen, Lin Tian mendarat dengan suara dentuman berat. Ia menghentikan langkahnya, matanya menyipit menatap pemandangan di depannya. Bai Xue mendarat dengan mulus di sebelahnya sedetik kemudian, perisai esnya sedikit menipis akibat gesekan angin hijau secara terus-menerus.
Anjungan batu itu dipenuhi oleh darah. Bau anyir yang sangat pekat mengalahkan bau logam berkarat di udara.
Lebih dari dua puluh mayat tergeletak berserakan dalam kondisi yang tidak bisa lagi dikenali. Mereka mengenakan sisa-sisa jubah putih perak bersulam awan—seragam murid Sekte Pedang Awan. Kematian mereka sangat tragis; tidak ada satu pun tubuh yang utuh. Beberapa terpotong secara diagonal dari bahu hingga pinggang, yang lain kehilangan kepala atau anggota tubuh, dan isi perut mereka berceceran mewarnai lantai batu pualam biru menjadi merah gelap.
“Jejak mereka,” Lin Tian berjongkok di dekat salah satu potongan lengan yang masih menggenggam erat sebuah pedang baja. Ia menyentuh darah yang menggenang; darah itu masih hangat. “Mereka belum lama mati. Kurang dari setengah jam.”
“Luka-luka ini sangat halus,” Bai Xue mengamati pola potongan pada mayat-mayat tersebut. “Ini bukan murni ulah Angin Astral alami. Ada formasi pembunuhan tersembunyi di atas anjungan ini yang memicu angin menjadi jaring laser tak kasatmata. Mereka pasti masuk tanpa menyadari jebakan tersebut, dan barisan belakang mereka menjadi korban pembantaian.”
Lin Tian berdiri. Alih-alih merasa simpati, matanya justru berbinar melihat sisa-sisa Qi elemen angin yang mulai menguap dari tubuh para murid Alam Pembentukan Qi tingkat akhir tersebut. Di dunia kultivasi, saat seorang praktisi mati terbunuh, Qi yang telah mereka kumpulkan dengan susah payah selama puluhan tahun akan terlepas kembali ke alam dalam waktu singkat. Bagi Lin Tian, membiarkan energi itu menguap adalah sebuah pemborosan yang tak terampuni.
Mutiara Naga Surgawi di Dantiannya berputar. Daya hisap yang lembut namun absolut memancar dari telapak tangan Lin Tian. Kabut tipis berwarna perak dan hijau—esensi Qi angin dan darah yang tersisa—terangkat dari lautan mayat tersebut, mengalir masuk ke dalam tubuh Lin Tian. Pusaran naganya mencerna energi itu dengan cepat, memberikan sensasi dingin dan tajam yang menyegarkan ke seluruh meridiannya. Energi angin ini tidak hanya memperkuat kapasitas Qi-nya, tetapi secara perlahan mulai menanamkan afinitas elemen angin ke dalam Seni Langkah Bayangan Awan yang baru saja ia pelajari, membuat tubuhnya terasa sedikit lebih ringan di bawah tekanan gravitasi.
“Mereka yang lemah selalu menjadi karpet berdarah bagi yang kuat untuk melangkah maju,” ucap Lin Tian datar, menyapu bersih energi dari dua puluh mayat tersebut dalam hitungan menit. “Ayo. Jika murid-murid rendahan ini mati di sini, maka para tetua dan Jenius Nomor Satu mereka pasti sedang tertahan oleh rintangan yang lebih besar di depan.”
Mereka kembali melanjutkan perjalanan, melompati jembatan rantai berkarat yang bergoyang hebat diterpa badai.
Setelah melewati tikungan tajam di ujung ngarai, suara lengkingan angin astral tiba-tiba bercampur dengan suara kepakan sayap raksasa yang tidak terhitung jumlahnya, diiringi oleh jeritan panik manusia, suara ledakan Qi pedang, dan kutukan kemarahan.
Lin Tian dan Bai Xue melompat ke atas sebuah stalagmit raksasa yang menonjol dari dinding tebing, menyembunyikan hawa keberadaan mereka. Dari titik pengintaian tersebut, mereka melihat sebuah pemandangan pertempuran yang kacau dan berdarah.
Di bawah mereka, terdapat sebuah jembatan rantai besi ganda yang sangat panjang, membentang melintasi jurang terdalam di ngarai ini menuju sebuah gerbang batu bercahaya hijau di seberang sana. Di atas jembatan yang sempit dan bergoyang liar itu, sekitar tiga puluh murid elit Sekte Pedang Awan dan tiga Tetua Alam Bumi terjebak dalam posisi hidup dan mati.
Mereka tidak hanya diserang oleh bilah-bilah Angin Astral hijau yang mematikan, tetapi juga dikepung oleh ribuan bayangan hitam yang beterbangan liar.
“Kelelawar Angin Astral,” Bai Xue mengidentifikasi kawanan monster tersebut dengan cepat. “Binatang buas spiritual tingkat tiga. Bulu mereka sekeras baja, dan mereka mampu memadatkan bilah angin dari kepakan sayap mereka. Hidup dalam koloni raksasa. Seekor kelelawar bukanlah ancaman, tapi ribuan dari mereka di tempat dengan gravitasi sepuluh kali lipat dan pijakan yang terbatas… ini adalah mimpi buruk bagi siapa pun di bawah Alam Langit.”
Di atas jembatan, pertumpahan darah sedang berlangsung. Para murid elit Sekte Pedang Awan, yang biasanya angkuh dan sombong di dunia luar, kini berteriak ketakutan. Formasi pedang mereka telah hancur. Kelelawar-kelelawar raksasa seukuran anjing dewasa itu menukik turun dengan kecepatan angin, cakar dan taring mereka merobek pertahanan Qi para murid.
Setiap kali seorang murid kehilangan keseimbangan atau perisainya hancur, belasan kelelawar akan mengerubunginya. Jeritan menyayat hati terdengar saat darah dan daging mereka dicabik-cabik, sebelum tubuh mereka yang hancur jatuh ke dalam jurang gelap di bawah sana.
Di bagian depan kelompok yang terjebak itu, seorang pria paruh baya dengan jubah putih perak yang dipenuhi noda darah sedang mengamuk. Ia adalah Tetua Feng, seorang ahli Alam Bumi tingkat akhir dari Sekte Pedang Awan. Pedangnya memancarkan cahaya putih kebiruan, menciptakan badai pedang mini yang mencabik ratusan kelelawar menjadi hujan darah hitam.
“Pertahankan posisi kalian, dasar sampah! Lindungi punggungku sementara aku memecahkan formasi angin di ujung jembatan ini!” raung Tetua Feng dengan mata memerah.
Namun, kenyataan di lapangan sangat berbeda dengan perintahnya. Tetua Feng sama sekali tidak berusaha melindungi murid-muridnya. Sebaliknya, setiap kali sekawanan kelelawar mencoba menyerangnya, ia dengan kejam meraih kerah baju murid di dekatnya dan melemparkannya ke arah kawanan monster tersebut sebagai tameng daging. Ia mengorbankan nyawa generasi muda sektenya sendiri murni untuk membeli waktu dan menghemat Qi-nya agar bisa meretas jalan ke depan.
“Tolong! Tetua Feng, tolong aku—” jerit seorang murid muda saat bahunya dicengkeram oleh pria tua itu.
“Nyawamu adalah milik sekte! Matilah dengan bangga!” Tetua Feng melempar murid itu ke udara. Ratusan kelelawar langsung merobek pemuda itu di udara, memberinya celah selama tiga detik bagi Tetua Feng untuk menebas tiga kelelawar pemimpin yang menghalangi jalannya.
Melihat kemunafikan dan kekejaman absolut yang dipertontonkan oleh sekte ortodoks, Lin Tian tersenyum sinis. Senyumannya begitu dingin hingga bisa membekukan lahar.
“Sekte lurus,” Lin Tian mendengus penuh ejekan. “Mengkhotbahkan moralitas di siang hari, dan melempar murid mereka sendiri ke mulut monster di tempat gelap. Menjijikkan. Kelompok elit yang rapuh ini sangat membutuhkan pelajaran tentang apa arti keputusasaan yang sesungguhnya.”
“Kau akan turun ke sana?” tanya Bai Xue, tangannya sudah memegang pedang esnya, bersiap memberikan dukungan jarak jauh. “Jumlah kelelawar itu terlalu banyak, dan Tetua Feng adalah ahli Alam Bumi tingkat akhir yang menguasai elemen angin. Di habitat ini, kecepatannya akan berlipat ganda.”
“Banyaknya semut tidak akan pernah bisa membunuh seekor naga, Bai Xue. Dan elemen angin miliknya?” Lin Tian memutar lehernya, mata emasnya menyala terang. “Akan kutunjukkan padanya, siapa penguasa bayangan awan yang sebenarnya.”
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Lin Tian melompat dari atas stalagmit. Ia tidak mendarat secara perlahan. Dengan bantuan Mutiara Naga, ia meningkatkan bobot tubuhnya dan membiarkan gravitasi sepuluh kali lipat menariknya turun seperti meteor hitam yang jatuh dari langit malam.
BUMMM!
Lin Tian mendarat tepat di tengah-tengah jembatan rantai besi raksasa tersebut, mendarat di antara barisan murid Sekte Pedang Awan dan kelompok Kelelawar Angin Astral yang sedang menyerang. Benturan pendaratannya begitu brutal hingga jembatan seberat ribuan ton itu bergoyang hebat seolah akan putus. Gelombang kejut fisik yang meledak dari pijakannya menghempaskan puluhan murid dan ratusan kelelawar secara bersamaan ke udara.
Keheningan sesaat melanda kekacauan di atas jembatan. Debu berkarat membumbung tinggi.
Ketika debu memudar, sosok pemuda berjubah hitam bertelanjang dada, memancarkan pendaran tembaga gelap yang dihiasi ilusi sisik naga, berdiri tegak tak tergoyahkan di tengah badai angin. Mata emasnya yang memancarkan niat membunuh purba menyapu kerumunan manusia dan monster di sekitarnya.
“Si… siapa kau?!” teriak seorang murid elit yang wajahnya pucat pasi, pedangnya bergetar menunjuk ke arah Lin Tian.
Kelelawar Angin Astral, yang tidak memiliki akal sehat manusia, melihat Lin Tian sebagai mangsa baru yang penuh dengan energi segar. Ratusan dari mereka menukik secara bersamaan, membentuk sebuah tornado hitam bertaring tajam yang mengarah tepat untuk mencabik-cabik tubuh Lin Tian.
Para murid Sekte Pedang Awan menahan napas, mengira pemuda gila yang tiba-tiba melompat ke tengah jembatan itu akan langsung dicabik menjadi kerangka dalam sekejap.
Namun, Lin Tian bahkan tidak menghunus senjata. Ia menyilangkan kedua lengannya di depan dada, lalu menghentakkannya ke samping dengan kekuatan penuh, bersamaan dengan putaran ekstrem pusaran naga di Dantiannya.
“ROAAAAARRRRRRR!”
Bukan teriakan manusia yang keluar dari mulut Lin Tian, melainkan sebuah gelombang suara berbentuk naga emas ilusi yang mengembang dan meledak ke segala arah. Itu adalah Raungan Penindasan Naga Surgawi yang telah ia sempurnakan di Alam Pembentukan Qi.
Gelombang suara itu menghantam tornado kelelawar secara telak.
BAM! BAM! BAM! BAM! BAM!
Suara letupan beruntun terdengar memekakkan telinga. Tubuh ratusan Kelelawar Angin Astral tingkat tiga itu, yang sekeras baja, meledak menjadi kabut darah hitam secara serentak di udara, organ dalam mereka hancur berkeping-keping oleh penindasan garis keturunan dan gelombang suara absolut tersebut. Hujan darah dan serpihan daging monster mengguyur jembatan rantai, mewarnai jubah para murid Sekte Pedang Awan menjadi hitam pekat.
Satu raungan, dan ratusan binatang buas mematikan lenyap tanpa sisa.
Sisa ribuan kelelawar yang masih melayang di udara langsung menghentikan serangan mereka. Insting bertahan hidup tingkat rendah mereka menjeritkan teror. Mereka berputar balik dengan panik, terbang menjauh ke kegelapan jurang, menolak untuk mendekati entitas yang memancarkan aura predator puncak tersebut.
Dalam hitungan detik, ancaman monster yang hampir menyapu bersih kelompok elit sekte itu disingkirkan dengan cara yang paling brutal dan mendominasi.
Di ujung jembatan, Tetua Feng menyingkirkan mayat murid yang baru saja ia korbankan. Mata lamanya yang tajam menyipit, menatap punggung pemuda berjubah hitam itu. Jantungnya berdegup kencang. Ia belum pernah melihat teknik gelombang suara sekuat itu seumur hidupnya.
Saat Lin Tian memutar tubuhnya perlahan dan mata emasnya bertatapan langsung dengan Tetua Feng, pria paruh baya itu akhirnya mengenali raut wajah yang telah disebarkan ke seluruh pos Sekte Pedang Awan.
“K-Kau… KAU!” Tetua Feng menunjuk Lin Tian dengan pedangnya yang bergetar. Kengerian dan amarah bercampur menjadi satu di wajahnya. “Kau adalah Iblis Kota Baja Merah! Lin Tian! Anjing pembangkang yang membunuh Penatua Yun Jian!”
Pernyataan itu seolah menjatuhkan bom petir di atas jembatan rantai. Para murid elit yang tersisa, yang berjumlah sekitar dua belas orang, serentak melangkah mundur dengan wajah penuh horor. Mereka telah mendengar rumor tentang pemuda yang menghancurkan Diaken Ku Feng dan Penatua Yun Jian. Menghadapi dewa kematian itu secara langsung di tempat di mana mereka bahkan kesulitan untuk sekadar berjalan, adalah mimpi buruk yang menjadi kenyataan.
“Iblis?” Lin Tian memiringkan kepalanya, menyeringai dengan sangat kejam, memperlihatkan gigi-giginya yang putih berkilau di tengah hujan darah kelelawar. “Jika aku iblis, lalu apa sebutan untuk seorang tetua ortodoks yang menggunakan murid-muridnya sendiri sebagai perisai daging? Kau membuatku merasa kehilangan gelar kejamku, Tetua Feng.”
Tetua Feng mengertakkan giginya hingga hampir retak. Ia tahu ia tidak bisa mundur. Di belakangnya adalah formasi Angin Astral yang belum berhasil ia tembus, dan di depannya adalah monster berwujud manusia. Namun, kesombongannya sebagai ahli Alam Bumi tingkat akhir, ditambah dengan pengetahuannya bahwa Lin Tian pasti terluka parah setelah melawan Yun Jian, memberinya keberanian semu.
“Jangan takut, kalian semua!” raung Tetua Feng kepada murid-muridnya, mencoba membangkitkan moral mereka. “Dia hanya berada di Alam Pembentukan Qi! Dia pasti menggunakan artefak sihir sekali pakai untuk membunuh Penatua Yun Jian! Energi dan staminanya pasti sudah terkuras habis! Dia sedang menggertak! Kepalanya bernilai satu juta batu spiritual dan posisi Penatua Inti di sekte! Bunuh dia bersama-sama! Gunakan Formasi Badai Awan!”
Keserakahan memang racun yang paling ampuh. Mendengar kata satu juta batu spiritual dan janji posisi tinggi, rasa takut di mata belasan murid elit itu perlahan digantikan oleh kegilaan. Mereka menghunus pedang mereka, memadatkan Qi elemen angin, dan menerjang ke arah Lin Tian secara serentak, pedang-pedang mereka membentuk jaring badai yang mematikan.
Lin Tian tidak menghindar. Ia tidak memanggil senjata Qi. Ia hanya menatap mereka dengan tatapan yang dialamatkan kepada sekumpulan serangga yang melompat ke dalam kobaran api.
“Kalian bangga dengan elemen angin kalian?” Lin Tian bergumam rendah. Pusaran naganya berputar, dan Qi angin murni yang baru saja ia serap dari dua puluh mayat murid di anjungan sebelumnya dialirkan ke kedua kakinya. “Biar kutunjukkan kepada kalian, bagaimana angin seharusnya digunakan untuk membantai.”
Lin Tian menghentakkan kakinya.
“Seni Langkah Bayangan Awan.”
WUUUSSSHHH!
Sosok Lin Tian menghilang sepenuhnya. Bukan sekadar bergerak cepat, ia benar-benar lenyap dari pandangan, seolah tubuhnya telah berubah menjadi udara itu sendiri. Ini bukan lagi sekadar Langkah Bayangan Awan ortodoks; ini adalah versi mutasi yang digerakkan oleh kompresi Qi Naga Surgawi yang beringas.
“Di mana dia?!” jerit seorang murid yang pedangnya menebas udara kosong.
“Di atasmu,” sebuah bisikan dingin sedingin es mengalun di telinga murid tersebut.
Murid itu mendongak, hanya untuk melihat sol sepatu bot Lin Tian yang dilapisi pendaran emas turun menghantam wajahnya.
CRAT! Kepala murid itu hancur hingga ke lehernya, tubuhnya ambruk ke lantai rantai.
Dalam waktu kurang dari setengah detik, Lin Tian kembali menghilang, meninggalkan jejak bayangan emas (afterimage) yang tertinggal di udara. Ia bergerak melintasi formasi murid-murid Sekte Pedang Awan dengan kebebasan mutlak, seolah gravitasi makam tidak memiliki efek padanya. Kecepatannya menciptakan beberapa lusin ilusi bayangan Lin Tian yang mengepung para murid tersebut.
KRAAAK! SRAAAT! BUMMM!
Tarian kematian dimulai. Lin Tian tidak menggunakan teknik tinju yang rumit. Ia murni merobek dada mereka dengan tangannya yang sekuat cakar naga, mematahkan lengan yang memegang pedang, dan menendang tubuh mereka hingga tulang rusuk mereka menembus paru-paru. Darah, jeritan, dan ratapan keputusasaan memenuhi jembatan rantai. Pedang baja pusaka yang mencoba menangkis pukulannya patah berkeping-keping.
“Ini bukan angin! Angin tidak memotong seperti ini! Angin ini menghancurkan!” ratap seorang murid yang kedua lengannya telah dirobek dari bahunya oleh Lin Tian, sebelum ia ditendang jatuh ke dalam jurang tanpa dasar.
Hanya butuh sepuluh tarikan napas. Dua belas murid elit Alam Pembentukan Qi tingkat puncak yang dibanggakan oleh Sekte Pedang Awan telah berubah menjadi tumpukan daging cincang tak bernyawa di atas rantai berkarat.
Di ujung jembatan, Tetua Feng mundur beberapa langkah, kakinya gemetar hebat hingga lututnya hampir menyentuh lantai. Keringat dingin sebesar biji jagung membanjiri wajahnya. Ia adalah ahli elemen angin, namun mata tuanya bahkan tidak bisa melacak bayangan pemuda itu dengan jelas. Teknik pergerakan yang digunakan pemuda itu… itu sangat mirip dengan Seni Langkah Bayangan Awan rahasia sektenya, namun dengan tingkat kekerasan dan ledakan yang tidak bisa dipahami.
Lin Tian berhenti bergerak. Ia berdiri di tengah tumpukan mayat, membiarkan darah musuhnya menetes dari jari-jarinya. Ia menatap Tetua Feng dengan tatapan predator yang sedang bermain dengan mangsanya.
“Sekarang, tinggal kau dan aku, tetua yang berbakti,” Lin Tian melangkah maju perlahan. “Kudengar keahlian utamamu adalah mengorbankan orang lain untuk memperpanjang nyawamu yang tidak berharga. Coba gunakan trik itu padaku.”
Tetua Feng menjerit gila. Kesombongannya telah hancur total, digantikan oleh insting bertahan hidup hewani. Ia tahu ia tidak bisa mengalahkan pemuda ini dalam pertarungan jarak dekat. Ia menggigit lidahnya, membakar esensi darahnya secara maksimal, memadatkan seluruh Qi Alam Bumi tingkat akhirnya ke dalam pedang putih kebiruannya.
“Mati kau bersamaku! Tebasan Pusaran Angin Pembelah Jiwa!”
Tetua Feng menebas ke depan dengan putus asa. Sebuah pedang tornado raksasa setinggi dua puluh meter terbentuk dari bilah-bilah Angin Astral yang sangat padat. Tornado itu melesat melintasi jembatan rantai, menghancurkan besi berkarat di jalurnya, mengincar untuk menggiling tubuh Lin Tian menjadi debu.
Serangan ini cukup kuat untuk melukai ahli Alam Langit yang lengah.
Lin Tian tidak menghindar. Matanya menyipit, menganalisis struktur energi dari tornado tersebut. Ia mengulurkan kedua tangannya ke depan, membiarkan cahaya emas dan merah darah dari pusaran naganya meledak.
BUMMM!
Tubuh Lin Tian ditelan oleh tornado pedang tersebut. Bunyi gesekan ribuan bilah angin yang mencabik-cabik sesuatu terdengar mengerikan.
“Hahahaha! Kena kau! Sekeras apa pun fisikmu, kau akan mati digiling oleh—” tawa gila Tetua Feng terputus secara brutal.
Dari dalam pusat tornado mematikan itu, dua tangan yang bersinar keemasan mencuat keluar, mencengkeram dinding energi angin raksasa tersebut seolah-olah itu adalah benda padat.
“Anginmu terlalu lemah, anjing tua,” raung Lin Tian dari dalam badai.
Dengan kekuatan tarikan yang membelah logika, Lin Tian secara harfiah merobek tornado energi raksasa itu menjadi dua bagian dengan kedua tangan kosongnya!
PRANGGG!
Tornado pembunuh itu hancur berkeping-keping, menciptakan ledakan angin yang menerbangkan sisa-sisa mayat di jembatan. Dari balik pusaran yang hancur, Lin Tian melesat ke depan. Tubuhnya dipenuhi beberapa luka goresan panjang yang merembeskan darah emas kemerahan, namun matanya tidak menunjukkan rasa sakit, hanya kebrutalan absolut.
Ia mengaktifkan Langkah Bayangan Awan di udara, menginjak sisa-sisa bilah pedang angin milik Tetua Feng untuk mempercepat lajunya, berlari di atas jalur serangan musuhnya sendiri.
Dalam hitungan milidetik, ia telah berada di depan wajah Tetua Feng yang mematung.
Lin Tian mengulurkan tangan kanannya, mencengkeram wajah Tetua Feng dengan telapak tangannya, kelima jarinya mengunci rahang dan tengkorak pria paruh baya itu.
“Kau mengorbankan masa depan sektemu demi dirimu sendiri,” bisik Lin Tian dingin. “Biar kutunjukkan akhir dari keserakahanmu.”
Tanpa menghentikan momentum lajunya, Lin Tian menyeret wajah Tetua Feng ke bawah, menekan kepala pria itu ke atas salah satu rantai besi raksasa di jembatan. Ia terus berlari maju, menggunakan wajah Tetua Feng seperti batu asahan di atas rantai karatan tersebut.
SREEEET… CRATTT!
Jeritan Tetua Feng tidak terdengar karena tenggorokannya hancur dihantam rantai. Darah, gigi, kulit, dan pecahan tengkorak berhamburan saat wajah dan separuh kepalanya digiling habis sepanjang sepuluh meter gesekan di atas besi tua tersebut. Ketika Lin Tian akhirnya berhenti dan mengangkat tangannya, wajah Tetua Feng sudah tidak ada lagi, rata hingga ke lehernya.
Pakar Alam Bumi tingkat akhir itu mati dengan cara yang paling terhina dan menyakitkan, tepat sebelum mereka mencapai ujung jembatan.
Lin Tian berdiri di ujung jembatan, melemparkan sisa mayat tanpa wajah itu ke lantai batu pualam hijau di depan pintu masuk zona berikutnya. Dadanya naik turun, memompa Qi Naga Surgawi untuk menyembuhkan luka-luka di tubuhnya.
Ia mengangkat tangan kanannya yang berlumuran darah, mengarahkannya ke mayat Tetua Feng. Daya hisap Mutiara Naga kembali aktif. Esensi darah dan sisa Qi Alam Bumi elemen angin disedot habis ke dalam Dantiannya, menambah kepadatan pusaran naganya dan membuat pemahamannya terhadap elemen angin semakin tajam.
Setelah menyerap seluruh energi yang tersisa di jembatan itu, Lin Tian menunduk dan memungut cincin spasial dari mayat Tetua Feng. Saat ia membongkar isi cincin tersebut dengan Qi naganya, sebuah pelat giok kecil berwarna hijau zamrud jatuh ke telapak tangannya. Pelat itu memancarkan peta tiga dimensi miniatur yang berkedip-kedip, dengan sebuah titik merah berdenyut di tengahnya.
“Peta Altar Angin,” Bai Xue melayang turun dan mendarat dengan anggun di sebelah Lin Tian, mengamati pelat giok tersebut. Ia benar-benar tidak membantu dalam pertarungan tadi, murni bertindak sebagai saksi atas kebrutalan tanpa batas pemuda itu. “Ini pasti rute yang diberikan kepada para tetua tingkat tinggi. Titik merah itu pasti menunjukkan pusat dari area ini, tempat harta karun elemen angin tersimpan.”
“Atau tempat si merak sombong Jian Wushuang sedang bersiap untuk mencuri harta tersebut,” Lin Tian meremas pelat giok itu hingga sedikit retak, senyum predatornya kembali. “Sempurna. Kita tidak perlu lagi bermain petak umpet dengan perangkap rendahan di tempat ini.”
Lin Tian menoleh ke arah lorong hijau berukir badai yang terbuka lebar di hadapan mereka, menuju kedalaman makam yang belum tersentuh.
“Jian Wushuang memadatkan niat pedangnya di usia lima belas tahun? Mari kita lihat apakah niat pedangnya cukup tajam untuk memotong sisik naga yang sedang marah,” ucap Lin Tian. Ia melangkah maju menembus lorong yang gelap, meninggalkan jembatan berdarah dan mayat-mayat tanpa nama di belakangnya. Sang algojo telah membersihkan pelataran, dan kini tiba waktunya untuk menyapa jenius nomor satu dari Sekte Pedang Awan. Panggung pembantaian utama di zona angin baru saja dimulai.