Bab 4: Ujian Klan dan Rencana Tersembunyi

Ukuran:
Tema:

Tujuh hari telah berlalu sejak Alfayd pertama kali mengaktifkan Sistem Penyerap Langit. Tujuh hari yang penuh dengan perburuan diam-diam di Hutan Bayangan, asimilasi energi, dan latihan intensif di malam hari di dalam gubuknya yang gelap.

Statistiknya sekarang telah berubah drastis.

[Host: Alfayd]
[Usia: 15 Tahun]
[Realm: Tubuh Baja Lapis 7]
[Meridian Terbuka: 5]
[Teknik: Tendangan Angin Berputar (Tingkat Mahir), Pukulan Besi Dasar (Tingkat Pemula – dipelajari dari memori serapan), Langkah Bayangan (Tingkat Pemula – dikembangkan dari naluri Macan Tutul)]
[Poin Energi Langit: 42]
[Level Sistem: 1]

Lompatan dari Lapis 5 ke Lapis 7 membutuhkan banyak usaha. Setelah peningkatan awal yang cepat, ia menemui hambatan. Monster-monster di Hutan Bayangan mulai memberikan poin yang semakin sedikit seiring tubuhnya beradaptasi dan realmnya meningkat. Ia butuh mangsa yang lebih kuat, atau sumber energi yang lebih padat.

Hari ini adalah hari yang berbeda. Hari Ujian Bulanan Klan Al-Farid untuk murid-murid muda di bawah 20 tahun. Semua anggota muda wajib mengikuti, tidak terkecuali Alfayd, si “sampah”.

Di halaman latihan utama, puluhan pemuda dan pemudi berkumpul. Suasana tegang dan kompetitif terasa di udara. Di podium, duduk para tetua klan, termasuk Ketua Klan (paman Alfayd) dan Pelatih Bor, pria berotot dengan kumis tebal yang terkenal keras.

Alfayd berdiri di pinggir, mencoba tidak mencolok. Ia memakai pakaian latihan yang paling bersih yang ia miliki, meski masih terlihat lusuh dibandingkan pakaian bersih dan rapi sepupu-sepupunya. Namun, ada sesuatu yang berbeda tentang dirinya. Posturnya lebih tegap, tatapannya lebih mantap, dan aura kelemahannya telah memudar, digantikan oleh ketenangan yang dalam.

Dari kejauhan, ia melihat Faris. Sepupunya itu terlihat pucat dan agak kurus. Sejak insiden di bukit, Faris menghindarinya seperti setan. Kabar burung mengatakan Faris “sakit” dan kekuatannya stagnan di Lapis 5, bahkan sedikit menurun. Rian dan Gito, dua pengikutnya, juga terlihat tidak bersemangat. Alfayd tersenyum dalam hati. Efek penyerapan memang meninggalkan bekas.

“Perhatian!” teriak Pelatih Bor, suaranya menggelegar. “Ujian bulan ini akan menguji kemajuan kalian dalam dasar-dasar! Sama seperti biasa: Uji Kekuatan dengan Batu Uji, Uji Kecepatan di Lintas Rintangan, dan Pertarungan Bebas!”

Murid-murid mulai berbaris. Alfayd mengambil tempat di barisan belakang, seperti biasa.

Uji Kekuatan pertama. Sebuah batu kristal hitam sebesar dada manusia—Batu Uji Qi—ditempatkan di tengah. Murid-murid secara bergiliran menyalurkan Qi mereka ke batu itu, dan garis-garis cahaya akan menyala menunjukkan kekuatan dan kemurnian Qi mereka.

Satu per satu, murid-murid maju.
“Lira Al-Farid: Tubuh Baja Lapis 3, 2 Meridian. Lumayan!”
“Gito Al-Farid: Tubuh Baja Lapis 4, 3 Meridian. Standar.”
“Rian Al-Farid: Tubuh Baja Lapis 4, 3 Meridian. Sama.”
“Faris Al-Farid: Tubuh Baja Lapis 5, 4 Meridian.” Suara Pelatih Bor terdengar datar. “Tidak ada kemajuan sejak bulan lalu. Kecewa.”

Faris menunduk, malu. Ia melirik ke arah Alfayd dengan sekilas kebencian dan ketakutan.

Giliran para bintang klan. “Rayhan Al-Farid: Qi Murni Lapis 2, 8 Meridian!” sorak penonton. Batu itu bersinar terang, garis cahaya memancar kuat. Rayhan tersenyum tipis, penuh percaya diri.

Beberapa nama lain menyusul, semuanya di realm Qi Murni Lapis 1 atau Tubuh Baja Lapis tinggi.

Kemudian, giliran yang hampir semua orang anggap sebagai formalitas. “Alfayd Al-Farid.”

Desahan dan cibiran samar terdengar. Alfayd berjalan tenang ke depan. Ia meletakkan tangannya di atas Batu Uji yang dingin.

“Keluarkan Qi-mu, anakku. Cepat, kita tidak punya seharian,” gerutu Pelatih Bor, sudah memalingkan muka.

Alfayd menarik napas. Ia tidak akan memamerkan semuanya. Tapi ia juga tidak bisa menunjukkan diri masih di Lapis 1. Ia memutuskan untuk menunjukkan kekuatan setara Tubuh Baja Lapis 5—cukup untuk mengejutkan, tapi tidak terlalu mencolok. Ia mengalirkan sebagian kecil Qi melalui kelima meridiannya, dengan sengaja membuatnya terasa kasar dan tidak murni, seolah-olah baru saja membuka meridian.

Batu Uji itu bereaksi. Garis-garis cahaya putih menyala, naik perlahan.
Lapis 1… Lapis 2… Lapis 3… Lapis 4… Berhenti di perbatasan Lapis 5.

Suara cibiran berhenti. Keheningan yang terkejut menyelimuti halaman.

Pelatih Bor memutar kepalanya, mata membelalak. “Apa? Tubuh Baja Lapis 4 puncak, hampir 5? Dan… 5 Meridian terbuka?!”

Bisikan-bisikan pecah.
“Alfayd? Si sampah?”
“5 Meridian? Itu mustahil! Bulan lalu dia nol!”
“Dia pasti memakai trik! Atau Batu Ujinya rusak!”

Ketua Klan, yang duduk di podium, mencondongkan tubuh ke depan, matanya menyipit memeriksa Alfayd. “Coba lagi,” perintahnya, suaranya berat.

Alfayd berpura-pura gugup, lalu menempatkan tangannya lagi. Kali ini, ia membiarkan sedikit lebih banyak Qi mengalir, membuat garis cahaya dengan jelas melewati batas Lapis 5 dan stabil di sana.

“Tubuh Baja Lapis 5. 5 Meridian,” gumam Pelatih Bor, masih tidak percaya. “Bagaimana…?”

“Latihan… keras, Pelatih,” jawab Alfayd dengan suara rendah, berpura-pura tidak yakin. “Dan… dan saya menemukan beberapa Jamur Bintang Perak di hutan, memakannya…”

“Jamur Bintang Perak?” seorang tetua yang mengurus herbasi berseru. “Itu herba Tingkat 1! Itu bisa membantu membuka meridian jika dikonsumsi dengan benar! Tapi efeknya tidak secepat ini…”

“Keberuntungan buta,” gerutu seseorang dari kerumunan, suara penuh iri.

Rayhan, yang tadinya acuh, kini menatap Alfayd dengan sedikit lebih perhatian, meski masih penuh superioritas. Sebuah batu kecil yang tiba-tiba bergerak, tapi masih terlalu kecil untuk diperhatikan.

“Lanjutkan ujian!” ketus Ketua Klan, meski matanya masih meneliti Alfayd.

Uji Kecepatan di Lintas Rintangan. Alfayd sengaja membuat beberapa kesalahan kecil, tersandung sedikit, tetapi masih mencatat waktu yang jauh lebih baik daripada sebelumnya, menempatkannya di peringkat tengah—tidak buruk, tapi juga tidak luar biasa. Ia tidak ingin menarik perhatian lebih dari yang diperlukan.

Lalu, bagian yang paling ditunggu: Pertarungan Bebas. Para murid akan diadu secara acak.

Alfayd berharap bisa menghindari pertarungan, atau setidaknya melawan seseorang yang lemah. Tapi nasib—atau mungkin campur tangan—berkata lain.

Pasangan pertarungan diumumkan. “Pertandingan ke-8: Alfayd Al-Farid melawan Hakim Al-Farid!”

Desah keras terdengar. Hakim adalah anak dari salah satu tetua, dikenal sombong dan kejam, berada di Tubuh Baja Lapis 6 dengan 5 Meridian. Dia juga adalah salah satu pengikut Rayhan.

Alfayd mengerutkan kening. Ini sengaja. Ia bisa merasakan pandangan beberapa tetua, mungkin ayah Hakim, menatapnya. Mereka ingin menguji sejauh mana “keberuntungan”-nya.

Hakim melompat ke arena dengan senyum mengancam. “Wah, si sampah beruntung. Ayo kita lihat apakah jamur ajaibmu bisa menyelamatkanmu dari pukulanku.”

Alfayd memasuki arena dengan tenang. Di pikirannya, ia berkomunikasi dengan sistem. “Analisis.”

[Target: Hakim Al-Farid]
[Realm: Tubuh Baja Lapis 6]
[Meridian Terbuka: 5]
[Teknik Andalan: Tendangan Angin Berputar (Tingkat Pemula), Pukulan Besi Dasar (Tingkat Mahir), Jurus Cakar Elang (Tingkat Pemula – teknik keluarga)]
[Kelemahan: Sombong, sering mengabaikan pertahanan untuk serangan berlebihan, keseimbangan kurang baik saat beralih jurus.]

“Mulai!” seru wasit.

Hakim langsung menyerang, tanpa basa-basi. Pukulannya cepat dan berat, mengarah ke kepala Alfayd. “Pukulan Besi Dasar!” teriaknya.

Alfayd, menggunakan “Langkah Bayangan” yang masih dasar, meluncur ke samping. Pukulan itu meleset tipis. Ia membalas dengan tendangan cepat ke sisi Hakim, tetapi Hakim menangkisnya dengan lengan.

Tok! Tok! Tok!

Pertukaran serangan berlangsung cepat. Alfayd sengaja menahan diri, hanya menggunakan kekuatan setara Lapis 5 dan teknik yang terlihat kaku. Ia membiarkan dirinya terdesak, terlihat seperti bertahan dengan susah payah.

Penonton mulai bersorak mendukung Hakim. “Hajar dia, Hakim!” “Tunjukkan pada si sampah tempatnya!”

Hakim, semakin percaya diri, mengeluarkan jurus yang lebih kuat. “Cakar Elang Menerkam!” Tangannya mencengkeram seperti cakar, mengarah ke bahu Alfayd dengan maksud merobek otot.

Ini kesempatan. Prediksi sistem menunjukkan celah di pertahanan Hakim saat ia mengeluarkan jurus itu—rusuk kirinya terbuka.

Alfayd, seolah-olah tersandung, tiba-tiba membungkuk rendah. Cakar Elang itu melayang di atas kepalanya. Pada saat yang sama, dari posisi membungkuk, Alfayd mengeluarkan “Tendangan Angin Berputar” tingkat Mahir-nya—tapi ia menyamarkannya, membuatnya terlihat seperti tendangan putar biasa yang beruntung mengenai sasaran.

Dorr!

Tendangan itu menghantam tepat di rusuk kiri Hakim. Terdengar suara tulang iga yang retak. Hakim terhuyung, wajahnya mendadak pucat, napasnya tersendat.

Alfayd tidak memberi waktu. Ia melompat, berpura-pura ingin menendang lagi. Hakim, dalam panik dan kesakitan, mengangkat kedua tangannya untuk melindungi wajah—meninggalkan perutnya terbuka.

Dengan gerakan sederhana yang cepat, Alfayd mengubah tendangan menjadi dorongan telapak tangan ke perut Hakim.

Pyok!

Hakim terlempar ke belakang, jatuh duduk di tanah, terbatuk-batuk dan tidak bisa bangun.

Arena sunyi sejenak. Lalu, keributan pecah.

“Dia menang? Alfayd menang?”
“Itu… itu keberuntungan lagi! Hakim ceroboh!”
“Tapi tendangannya… agak cepat ya?”

Wasit mendekati Hakim, lalu mengangkat tangan Alfayd. “Pemenang: Alfayd Al-Farid!”

Alfayd berpura-pura terengah-engah dan bersyukur, menunduk cepat lalu bergegas keluar arena sebelum ada yang bertanya lebih lanjut. Tapi ia menangkap pandangan beberapa orang: Rayhan yang kini tampak agak tertarik, Ketua Klan yang berpikir dalam, dan ayah Hakim yang wajahnya gelap.

Pertarungan berikutnya berlangsung tanpa kejutan. Rayhan, tentu saja, dengan mudah mengalahkan lawannya tanpa berkeringat.

Di akhir ujian, saat pengumuman peringkat, nama Alfayd tidak masuk sepuluh besar—karena performanya di uji kecepatan sengaja dibuat biasa saja. Tapi kemenangannya atas Hakim telah mencatatkan namanya di benak banyak orang. Ia bukan lagi sampah yang tak terlihat. Ia sekarang adalah “si sampah beruntung” atau “si lemah yang tiba-tiba dapat kekuatan”.

Saat kerumunan bubar, Pelatih Bor memanggilnya. “Alfayd. Ketua Klan ingin bicara denganmu.”

Jantung Alfayd berdebar, tetapi ia tetap tenang. Ia mengikuti Pelatih Bor ke balai utama klan, sebuah ruangan besar dengan kursi kayu ukir dan aroma dupa.

Ketua Klan, pria berusia lima puluhan dengan janggut pendek dan mata tajam, duduk di kursi utamanya. Beberapa tetua, termasuk ayah Hakim yang bermuka masam, juga hadir.

“Alfayd,” kata Ketua Klan, suaranya datar. “Kemajuanmu… tidak biasa. Lima meridian dalam sebulan. Menjelaskan.”

Alfayd menunduk. “Saya menemukan sepetak Jamur Bintang Perak di Hutan Bayangan, Paman. Saya memakannya karena sangat lapar. Lalu… tubuh saya terasa panas, dan meridian saya seperti terbuka sendiri. Saya juga berlatih lebih keras setelah… setelah dipermalukan di ujian terakhir.” Ia menyelipkan sedikit “motivasi” yang bisa dimengerti.

“Jamur Bintang Perak tidak memiliki efek sehebat itu,” sela ayah Hakim, suaranya dingin. “Kecuali… kau menemukan sesuatu yang lain? Atau mempelajari teknik terlarang?”

Alfayd pura-pura ketakutan. “Tidak, Paman! Saya hanya beruntung! Mungkin… mungkin karena tubuh saya selama ini seperti tanah kering, jadi herba itu bekerja lebih baik?” Ia menggunakan logika yang sering dipakai dalam cerita-cerita tentang orang lemah yang tiba-tiu mendapatkan obat langka.

Ketua Klan mengamatinya lama. Akhirnya, ia menghela napas. “Keberuntungan memang adalah bagian dari jalan praktisi. Tapi ingat, Alfayd, kekuatan yang datang terlalu cepat bisa tidak stabil. Kau bisa membahayakan dirimu sendiri.”

“Ini peringatan atau ancaman?” pikir Alfayd. Tapi ia hanya mengangguk patuh. “Saya mengerti, Paman. Saya akan berhati-hati.”

“Karena kau telah menunjukkan kemajuan,” lanjut Ketua Klan, “mulai besok, kau diizinkan untuk mengambil jatah pelatihan dasar pagi bersama yang lain. Dan… ada sebuah misi kecil klan. Mengawal pengiriman herbasi ke kota pasar di lembah. Butuh dua orang muda sebagai tambahan pengawal. Pelatih Bor merekomendasikanmu dan Lira. Anggap ini sebagai ujian lebih lanjut.”

Misi! Ini kesempatan yang tidak terduga. Keluar dari kompleks klan, melihat dunia luar, dan mungkin… menemukan sumber energi baru.

“Terima kasih, Paman. Saya tidak akan mengecewakan,” kata Alfayd dengan rendah hati.

“Kau boleh pergi.”

Alfayd keluar dari balai, hatinya berdebar-debar karena kegembiraan. Misi pengawalan! Itu berarti perjalanan, kemungkinan bertemu dengan bandit atau monster di jalan, dan kesempatan untuk menyerap tanpa pengawasan ketat dari klan.

Saat ia berjalan menyusuri koridor, seseorang menghalangi jalannya. Rayhan.

“Alfayd,” kata Rayhan, suaranya halus tapi berisi sesuatu yang membuat waspada. “Selamat atas kemajuanmu. ‘Keberuntungan’ yang menarik.”

“Terima kasih, Kak Rayhan,” jawab Alfayd, tetap menunduk.

“Jagalah ‘keberuntungan’-mu itu,” lanjut Rayhan, matanya menyipit. “Kadang, orang yang tidak terbiasa dengan kekuatan bisa tersandung olehnya. Dan di dunia luar… ‘keberuntungan’ bisa habis dengan cepat.”

Itu jelas ancaman. Rayhan mungkin merasa sedikit terganggu dengan kehadiran baru, atau mungkin hanya ingin menegaskan dominasinya.

“Saya akan ingat itu, Kak,” balas Alfayd dengan sopan