Bab 3: Berburu di Hutan Gelap

Ukuran:
Tema:

Fajar belum sepenuhnya merekah ketika Alfayd sudah meninggalkan gubuknya. Udara pagi yang dingin menusuk, tetapi tubuhnya yang kini berada di Tubuh Baja Lapis 4 dengan dua meridian terbuka hanya merasakannya sebagai sentuhan segar. Ia mengenakan pakaian berwarna gelap yang sudah lusuh, membawa sebuah kantong kain kosong dan pisau berburu tua peninggalan ayahnya—sebuah pisau dengan gagang kayu yang sudah halus karena sering dipegang, meski mata pisaunya sudah tumpul.

Ia harus berhati-hati. Aktivitasnya tidak boleh mencolok. Jika ada yang bertanya, alasannya sudah disiapkan: mencari jamur atau herba liar untuk dijual ke pasar demi mendapatkan uang tambahan. Sebuah alasan yang masuk akal bagi seorang buangan yang miskin.

Melewati pintu gerbang klan, penjaga malam yang mengantuk hanya meliriknya sekilas dan mengangguk. Alfayd si sampah yang rajin? Tidak ada yang aneh.

Tujuannya adalah Hutan Bayangan, sebuah hutan lebat di kaki bukit di sebelah timur wilayah klan. Hutan ini dikenal sebagai tempat monster kelas rendah berkeliaran dan kadang-kadang tumbuh herba berkhasiat. Bagi kebanyakan anggota klan muda, ini adalah tempat berbahaya. Bagi Alfayd sekarang, ini adalah ladang perburuan.

Saat matahari mulai memancarkan sinar keemasan pertama, Alfayd sudah berada di tepi hutan. Pepohonan tinggi menutupi cahaya, menciptakan suasana remang-remang bahkan di siang hari. Suara dedaunan bergesekan dan kicauan burung yang aneh memenuhi udara.

[Mendeteksi konsentrasi energi kehidupan yang beragam. Sistem Pemindaian Area Dasar diaktifkan.] suara sistem berbunyi. Di sudut pandang Alfayd, sebuah mini-map kecil berwarna biru muda muncul, menunjukkan area sekitar 50 meter di sekitarnya. Beberapa titik berwarna merah muda samar terlihat bergerak perlahan di antara pepohonan—monster kelas rendah.

“Bagus,” gumam Alfayd. Ia meraih pisau berburunya dan menyusup masuk ke dalam hutan.

Pertama yang ia temui adalah sekelompok Kelinci Berduri, makhluk sebesar kucing dengan bulu berduri tajam. Mereka adalah monster paling lemah, setara Tubuh Baja Lapis 1-2.

[Target: Kelinci Berduri (3 ekor)]
[Realm: Tubuh Baja Lapis 1-2]
[Rekomendasi: Sumber energi minimal. Bisa digunakan untuk latihan teknik dasar.]

Alfayd mengendap-endap. Ia memusatkan perhatian pada seekor kelinci yang sedang mengunyah akar. Mengingat penyerapan terhadap Faris, ia memutuskan untuk mencoba teknik barunya. Ia mengalirkan Qi melalui meridian kakinya, merasakan pola “Tendangan Angin Berputar”. Dengan lompatan cepat, ia mendekat dan menendang.

Swish!

Tendangannya tidak sempurna. Putarannya kurang kuat, dan kelinci itu sempat melompat menghindar. Namun, kecepatan dan kekuatan tendangannya jelas di atas standar Lapis 4. Ujung kakinya menyentuh tubuh kelinci.

Pyok!

Kelinci itu terlempar, menggelepar di tanah. Dua lainnya kabur. Alfayd segera menghampiri dan, tanpa banyak berpikir, menusukkan pisau berburunya. Ia lalu mengaktifkan penyerapan.

[+1 Poin Energi Langit.]
[Energi yang diserap minimal. Efek pada tubuh hampir tidak terasa.]

Hanya satu poin. Tapi ini konfirmasi bahwa bahkan makhluk lemah pun bernilai. Ia berlatih lagi, mengejar dan menangani dua kelinci berduri lainnya dengan kombinasi tendangan dan serangan pisau yang lebih terarah. Ia mendapatkan total 3 Poin Energi Langit.

Tidak banyak, tapi ini awal. Ia juga merasakan kemahiran tendangannya meningkat sedikit melalui praktik nyata.

Ia menyusuri hutan lebih dalam. Mini-map sistem terus memperbarui. Titik merah muda yang lebih besar dan terang mulai muncul.

Tiba-tiba, dari balik semak belukar, seekor makhlut melompat keluar. Macan Tutul Bayangan, panjang sekitar dua meter, tubuhnya ramping dan penuh otot, dengan bulu hitam bermotif tutul samar. Matanya hijau menyala.

[Target: Macan Tutul Bayangan Muda]
[Realm: Tubuh Baja Lapis 5]
[Teknik Andalan: Kecepatan Luar Biasa, Cakar Pembunuh Senyap]
[Status: Waspada, Sedang Berburu]
[Rekomendasi: Target seimbang. Hati-hati dengan kecepatannya.]

Macan Tutul itu mendesis, melihat Alfayd sebagai mangsa. Alfayd menegakkan tubuhnya, memegang pisau erat-erat. Ini akan menjadi ujian sesungguhnya.

Dengan kecepatan yang membuat mata sulit mengikuti, Macan Tutul itu menerjang. Alfayd hampir tidak bisa bereaksi. Ia hanya bisa membuang diri ke samping secara insting. Cakar tajam menyambar, merobek lengan bajunya dan meninggalkan goresan merah di kulitnya. Rasa sakit menyengat.

“Kecepatannya gila!” pikir Alfayd. Ia harus memaksa sistem membantunya. “Sistem, bisakah kamu memprediksi pergerakannya?”

[Menganalisis pola pergerakan target… Memanfaatkan data kecepatan dan postur…]
[Prediksi: Target akan menyerang dari sisi kiri dalam 0,8 detik. Rekomendasi: Hindar ke kanan, serang balik dengan tendangan ke rusuk.]

Informasi itu muncul di benaknya seperti firasat. Alfayd mempercayainya. Saat Macan Tutul itu, seperti yang diprediksi, melompat dari kiri, Alfayd sudah bergerak ke kanan. Pada saat yang sama, kakinya yang telah dialiri Qi menendang ke arah rusuk binatang itu yang terbuka.

Tok!

Tendangannya mendarat. Macan Tutul itu mengeluarkan suara mendengus kesakitan, terpelanting beberapa langkah. Tapi itu tidak melumpuhkannya. Malah membuatnya semakin ganas.

Pertarungan berlanjut. Alfayd bergantung pada prediksi sistem dan tubuhnya yang terus beradaptasi. Ia terkena cakar dua kali lagi, lukanya dangkal tapi berdarah. Sebaliknya, ia berhasil mendaratkan beberapa pukulan dan tendangan. Ia menyadari sesuatu: setiap kali ia berhasil mengenai binatang itu, sistem seolah “mencatat” pola energinya. Dan setiap kali ia terluka, energi dari luka itu seolah diserap kembali secara pasif oleh tubuhnya, memperlambat pendarahan dan mengurangi rasa sakit. Itu adalah efek samping dari kemampuan penyerapannya!

Setelah pertukaran sengit selama beberapa menit, Alfayd melihat kesempatan. Macan Tutul itu melompat tinggi, membiarkan perutnya terbuka. Dengan semua kekuatan yang tersisa, Alfayd menusukkan pisau berburunya ke atas, menancap tepat di bawah dada binatang itu.

Krrch!

Macan Tutul itu mengeluarkan erangan terakhir dan jatuh, tak bergerak.

Alfayd terengah-engah, tubuhnya penuh keringat dan darah—sebagian miliknya, sebagian milik monster. Tapi ia merasa… hidup. Sangat hidup.

[Penyerapan dimulai…]

Energi yang mengalir kali ini jauh lebih kuat dan gelap dibanding dari Faris atau Kelinci Berduri. Ia merasakan kecepatan, kelincahan, dan naluri berburu yang tajam memasuki dirinya. Luka-lukanya terasa gatal dan mulai menutup dengan kecepatan yang membuatnya takjub.

[+18 Poin Energi Langit.]
[Berhasil menyerap: Darah Esensi Macan Tutul Bayangan, Fragmen Naluri Berburu, Energi Kecepatan.]
[Efek: Kecepatan dan kelincahan meningkat. Regenerasi luka dipercepat. Persepsi dalam kondisi gelap sedikit meningkat.]
[Energi dimurnikan… Memperkuat meridian…]
[Meridian Terbuka: 2 → 3! (Meridian Kaki Yangming Lambung)]
[Realm: Tubuh Baja Lapis 4 → Mendekati puncak Lapis 4. Membutuhkan 5 Poin Energi Langit lagi untuk mencapai Lapis 5.]

Alfayd berdiri, merasakan perubahan pada tubuhnya. Gerakannya terasa lebih ringan, lebih luwes. Ia mencoba melompat, dan bisa mencapai cabang pohon yang lebih tinggi dari sebelumnya. Matanya menyesuaikan diri dengan cahaya remang-remang hutan lebih baik.

“Total poinku sekarang… 3 dari kelinci, 18 dari macan tutul, ditambah sisa 23 dari kemarin. Jadi 44 Poin Energi Langit.” pikirnya. “Dan aku hanya butuh 5 lagi untuk naik ke Lapis 5.”

Dia memutuskan untuk terus berburu. Dengan kemampuan barunya, ia mencari mangsa yang lebih sesuai. Ia menghindari kelompok monster dan memilih target tunggal. Seekor Ular Besi (Lapis 4) memberinya 10 poin. Dua Tikus Tanah Berkuku Tajam (Lapis 3) memberinya 6 poin.

Saat matahari hampir tepat di atas kepala, statistiknya telah berubah.

[Poin Energi Langit: 60]
[Realm: Tubuh Baja Lapis 4 (Puncak)]
[Meridian Terbuka: 3]

“Ini saatnya,” gumam Alfayd. Ia menemukan sebuah ceruk kecil di balik batu besar, tersembunyi dari pandangan. Ia duduk bersila. “Sistem, tingkatkan realmku ke Tubuh Baja Lapis 5.”

[Mengonfirmasi perintah. Mengkonsumsi 30 Poin Energi Langit untuk meningkatkan realm…]

Seketika, Alfayd merasakan gelombang panas yang luar biasa mengalir dari pusat tubuhnya—dari sebuah titik yang samar-samar ia rasakan, mungkin calon “Lautan Qi” di masa depan. Energi itu membanjiri setiap otot, tulang, dan selnya. Ia mendengar suara letupan-letupan kecil di dalam tubuhnya saat kotoran dan sumbatan tersingkir. Otot-ototnya mengencang dan membesar secara halus, tulang-tulangnya berderak dan menjadi lebih padat. Kulitnya terasa lebih kencang, seperti kulit drum.

Prosesnya intens tetapi tidak menyakitkan. Malah, terasa seperti penyempurnaan.

[Peningkatan selesai.]
[Host: Alfayd]
[Realm: Tubuh Baja Lapis 5]
[Meridian Terbuka: 3]
[Poin Energi Langit: 30]
[Kekuatan fisik meningkat 40%. Ketahanan meningkat 35%. Kecepatan meningkat 25%.]

Alfayd membuka mata. Dunia terlihat lebih jelas, suara-suara lebih tajam. Ia mengepalkan tangan, merasakan kekuatan yang berlipat ganda dibanding pagi tadi. Dalam dua hari, ia telah melompat dari Lapis 1 ke Lapis 5—sebuah pencapaian yang biasanya membutuhkan tahunan bagi orang biasa, bahkan bagi genius sekalipun butuh berbulan-bulan.

Tapi ia tidak bisa puas. Lapis 5 masih sangat rendah di dunia ini. Faris saja Lapis 5, dan ia hanya ikan kecil di kolam Klan Al-Farid.

Dia melihat sisa 30 poinnya. “Sistem, bisakah aku meningkatkan teknik ‘Tendangan Angin Berputar’?”

[Menganalisis teknik ‘Tendangan Angin Berputar’ (Tingkat Pemula). Biaya peningkatan ke Tingkat Mahir: 20 Poin Energi Langit.]

“Lakukan.”

[Mengkonsumsi 20 Poin… Memulai simulasi dan asimilasi pengetahuan mendalam…]

Kali ini, yang masuk ke kepalanya bukan sekadar fragmen memori, tetapi pemahaman mendalam tentang teknik tersebut. Ia mengerti setiap detail pergerakan otot, aliran Qi yang optimal, sudut tendangan yang paling efektif, bahkan variasi-variasinya. Seolah-olah ia telah melatih teknik ini ribuan kali.

[Peningkatan selesai.]
[Teknik: Tendangan Angin Berputar (Tingkat Mahir)]
[Poin Energi Langit: 10]

Alfayd berdiri dan mencoba tendangannya. Whoosh! Kakinya berputar dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi, menghasilkan suara mendesis di udara. Gerakannya lancar, kuat, dan presisi. Jika Faris melihat ini, ia akan ternganga—mencapai tingkat Mahir butuh latihan bertahun-tahun bagi kebanyakan orang.

Sisa 10 poin ia simpan untuk keadaan darurat.

Saat ia bersiap untuk meninggalkan hutan, sistem berbunyi lagi.

[Peringatan: Mendeteksi konsentrasi energi alam yang lebih tinggi di arah 200 meter barat laut. Kemungkinan herba berkhasiat atau mineral langka.]

“Tunjukkan jalannya.”

Mini-map menampilkan sebuah jalur dan sebuah ikon kuning berkedip. Alfayd mengikutinya. Ia tiba di sebuah tebing kecil yang ditutupi lumut. Di celah batu, tumbuh sekumpulan jamur aneh berwarna keperakan dengan bintik-bintik biru.

[Target: Jamur Bintang Perak]
[Kelas: Herba Rendah (Tingkat 1)]
[Efek: Dapat menyembuhkan luka internal ringan, sedikit memperkuat Qi.]
[Nilai Penyerapan: 5-8 Poin Energi Langit per jamur.]

Ada lima jamur. Alfayd memungutnya dengan hati-hati. Ia memutuskan untuk tidak menyerapnya langsung—herba seperti ini mungkin lebih berguna jika ditukar dengan sesuatu di klan, atau dijual. Tapi satu jamur bisa ia coba.

“Serap satu jamur ini.”

[Menyerap energi alam dari Jamur Bintang Perak…]
[+6 Poin Energi Langit.]
[Efek: Membersihkan racun minor dalam tubuh, sedikit menyegarkan pikiran.]

Alfayd mengangguk puas. Empat jamur sisanya ia simpan di kantong. Total poinnya sekarang 16.

Perjalanan pulang terasa berbeda. Tubuhnya ringan, penuh energi. Pikirannya jernih. Ia telah berubah.

Saat ia mendekati kompleks klan, ia melihat kerumunan orang di halaman latihan utama. Terdengar suara tepuk tangan dan sorak-sorai. Rupanya ada demonstrasi dari para murid senior yang baru kembali dari perjalanan latihan.

Alfayd berusaha menyelinap lewat pinggir, tetapi pandangannya tertangkap oleh seorang pemuda tinggi berambut panjang yang sedang berdiri di tengah arena. Itu adalah Rayhan Al-Farid, putra pertama Ketua Klan, genius sejati klan yang berusia 18 tahun. Rayhan baru saja dengan elegan mengalahkan tiga murid senior sekaligus hanya dengan menggunakan satu jari.

[Analisis Cepat: Rayhan Al-Farid]
[Realm: Qi Murni Lapis 2!]
[Meridian Terbuka: 7+]
[Tingkat Ancaman: Sangat Tinggi]

Qi Murni Lapis 2! Itu adalah realm di atas Alfayd saat ini. Sebuah jurang yang besar.

Rayhan, seolah merasakan pandangan itu, menoleh ke arah Alfayd. Matanya yang tajam menyapu tubuh Alfayd yang compang-camping dan masih ada bekas darah monster. Sebuah alisnya terangkat, sedikit terkejut melihat kondisi Alfayd, tetapi kemudian ekspresinya kembali dingin dan acuh tak acuh. Ia memalingkan muka, tidak menganggap Alfayd layak diperhatikan lebih dari satu detik.

Tapi bagi Alfayd, pandangan sekilas itu seperti cambuk. Ia mengepalkan tangan di dalam kantong.

Rayhan… suatu hari nanti, aku akan berdiri sejajar denganmu. Bahkan lebih tinggi.

Ia kembali ke gubuknya. Malam itu, saat ia membersihkan lukanya yang sudah hampir sembuh total dan menyimpan Jamur Bintang Perak, sebuah rencana mulai terbentuk.

Berburu monster sendirian memiliki batas. Ia butuh teknik yang lebih baik, butuh sumber energi yang lebih konsisten. Mungkin… ia perlu “mengunjungi” beberapa bandit atau pelaku kejahatan di wilayah sekitar. Atau, jika ada kesempatan, mengikuti misi klan tingkat rendah untuk mendapatkan akses ke sumber daya dan… target yang lebih beragam.

Dengan senyum tipis di bibir, Alfayd memejamkan mata. Mimpi buruknya sebagai sampah telah berakhir. Mimpi indahnya sebagai Sang Penyerap Langit, baru saja dimulai. Dan esok hari, akan ada lebih banyak kekuatan yang menunggu untuk diserap.