Bab 2: Ujian Balas Dendam Pertama

Ukuran:
Tema:

Langkah kaki semakin dekat, disertai canda kasar dan ledekan yang sudah begitu familiar bagi Alfayd. Ia tetap duduk di atas batu, kepalanya tertunduk, bahunya terlihat gemetar—sebuah akting yang sempurna untuk seseorang yang baru saja selamat dari serangan monster dan masih diliputi ketakutan.

Faris muncul dari belakang belokan, diikuti oleh dua pengikut setianya, Rian dan Gito. Faris, dengan postur tubuh lebih tegap dan wajah yang selalu menyeringai angkuh, mengenakan seragam latihan klan yang masih bersih. Kontras sekali dengan Alfayd yang compang-camping.

“Lihatlah! Si sampah ternyata masih hidup!” seru Faris dengan suara nyaring, matanya menyapu keadaan sekitar. Ia melihat karung pupuk yang terkoyak dan isinya berserakan. “Dasar tidak berguna. Tidak bisa sekadar mengangkat pupuk tanpa membuat kekacauan.”

Rian dan Gito tertawa terkekeh. “Mungkin tangannya terlalu lemah, Faris. Harusnya dia latihan angkat batu, bukan angkat pupuk.”

Alfayd mengangkat wajahnya, memastikan ekspresi ketakutan dan kepasrahan terpampang jelas. “Faris… ada… ada Serigala Batu,” katanya dengan suara gemetar.

“Serigala Batu?” Faris mengerutkan kening, lalu tertawa lebih keras. “Dan kau kabur, meninggalkan tugas klan? Itu bahkan lebih memalukan! Aku harus melaporkan ini pada Pelatih Bor.”

“Tapi… aku melawannya,” bisik Alfayd, terdengar tidak meyakinkan.

“Kau melawannya?” Gito menyeringai. “Dengan apa? Dengan air matamu?”

Faris melangkah mendekat, menatap Alfayd dari atas. “Kau tahu, Alfayd. Karena kau telah mengecewakan klan lagi, aku rasa perlu memberimu pelajaran ekstra. Mungkin dengan sedikit ‘latihan’ tangan, kau akan lebih kuat mengangkat pupuk lain kali.”

Tangan Faris mengepal. Alfayd bisa melihat aliran Qi yang masih lemah namun nyata mengalir di meridian tangan Faris. Faris berada di Tubuh Baja Lapis 5 dan telah membuka 4 meridian. Bagi Alfayd yang lama, satu pukulan dari Faris bisa membuatnya terbaring berhari-hari.

Tapi itu adalah Alfayd yang lama.

[Analisis Target: Faris Al-Farid] suara sistem berbunyi di kepalanya.
[Realm: Tubuh Baja Lapis 5]
[Meridian Terbuka: 4]
[Teknik Andalan: Tendangan Angin Berputar (Tingkat Pemula), Pukulan Besi Dasar (Tingkat Pemula)]
[Status: Sehat, Percaya Diri Berlebihan]
[Rekomendasi Sistem: Target dapat diserap setelah dinetralisir. Energi yang didapat akan lebih murni dibanding monster. Waspadai kemungkinan ketidakcocokan jika teknik bertentangan.]

Alfayd dalam hatinya tersenyum. Sistem ini benar-benar detail. Ia tetap mempertahankan sikap takutnya. “Tolong, Faris… jangan. Lenganku sudah terluka.”

“Luka? Di mana lukanya?” Faris menyambar lengan kiri Alfayd yang sebelumnya digigit. Saat ia melihat hanya ada bekas merah yang sudah menutup, bukan luka menganga berdarah, keraguannya muncul. “Ini? Ini cuma lecet! Kau berbohong untuk mencari simpati!”

Ini saatnya.

Saat Faris sedang sibuk memeriksa “luka” yang tidak sesuai dengan cerita Alfayd, Alfayd bergerak.

Dengan kecepatan yang sama sekali tidak terduga dari seorang “sampah” Lapis 1, tangan kanan Alfayd mencengkeram pergelangan tangan Faris yang memegangi lengannya. Kekuatan dari Tubuh Baja Lapis 3 yang baru saja diperkuat oleh Darah Esensi Serigala Batu mengalir penuh.

Kretak!

Suara tulang yang tertekan terdengar. Faris terkejut, matanya membelalak. “Apa—?!”

Alfayd tidak memberinya waktu. Dengan tarikan kuat, ia membuat Faris kehilangan keseimbangan. Pada saat yang sama, kaki kirinya menyapu kaki Faris dengan teknik dasar sapuan kaki yang pernah ia lihat ratusan kali tapi tidak pernah bisa ia praktikkan dengan baik karena kurangnya kekuatan dan Qi.

Byur!

Faris terjatuh telentang di tanah berlumpur, terhempas dengan keras. Udara di paru-parunya keluar dengan desis.

Rian dan Gito membeku, tidak percaya dengan apa yang baru mereka saksikan. Alfayd, si sampah, baru saja menjatuhkan Faris?

“Kau… kau berani?!” teriak Rian, akhirnya sadar dan maju dengan mengepal.

Alfayd berputar. Pukulan Rian yang ceroboh melesat. Dengan meridian pertamanya yang terbuka, Alfayd merasakan persepsinya sedikit lebih tajam. Ia membungkuk, menghindari pukulan, lalu menyodok perut Rian dengan siku. Dor! Rian melengkung, meringis kesakitan.

Gito, yang paling lemah di antara mereka, hanya bisa berdiri terpana.

Faris bangkit, wajahnya merah padam karena kemarahan dan malu. “Kau… bagaimana mungkin?! Kau menyembunyikan kekuatanmu?!” amuknya. Qi-nya mengalir deras. Ia melompat, mengeluarkan jurus andalannya, “Tendangan Angin Berputar!” Kakinya berputar seperti baling-baling, menuju dada Alfayd.

Ini adalah jurus yang mengalahkannya kemarin. Tapi kemarin, Alfayd tidak punya Qi untuk merasakan alur energinya. Sekarang, dengan satu meridian terbuka dan penguatan sistem, ia bisa merasakan pola pergerakan Qi di kaki Faris. Itu tidak sempurna. Ada titik lemah di perubahan arah putaran.

Alfayd tidak menghindar. Sebaliknya, ia maju. Risiko besar, tetapi ia percaya pada insting barunya. Saat tendangan itu hampir mengenai, ia memutar tubuhnya, membiarkan tendangan itu menyambar lengan kirinya (yang sudah diperkuat). Rasa sakit tajam menyebar, tapi tidak separah yang dibayangkan. Pada saat yang sama, tangan kanannya yang terkepal melesat seperti ular, menuju titik tepat di pangkal paha tempat putaran Faris akan berbalik arah.

Tebok!

Kepalan Alfayd mendarat tepat di sasaran. Faris mengeluarkan suara seperti tercekik. Tendangannya patah di tengah jalan. Ia terjatuh lagi, kali ini sambil memegangi selangkangannya, wajahnya pucat kesakitan.

[Target dinetralisir. Aktifkan Penyerapan?] tanya sistem.

“Tunggu,” pikir Alfayd. Ia menoleh ke Rian dan Gito yang ketakutan. “Pergi,” katanya dengan suara datar, berbeda sama sekali dengan nada gemetarnya tadi. “Atau kalian akan berakhir seperti dia.”

Rian dan Gito tidak perlu disuruh dua kali. Mereka melarikan diri menuruni bukit, meninggalkan Faris yang masih mengerang kesakitan.

Alfayd berjalan mendekati Faris. Matanya dingin. “Kau suka menghinaku, Faris. Kau suka mempermalukanku. Kau pikir itu akan selamanya?”

“Kau… monster… bagaimana kau bisa…” Faris menjerit kesakitan dan ketakutan.

“Tanya saja pada langit,” gumam Alfayd. Di dalam pikirannya, ia memberi perintah. “Aktifkan Penyerapan.”

[Memerintahkan Penyerapan…]

Sekali lagi, akar-akar energi tak kasat mata menjulur dari tubuh Alfayd, menancap ke tubuh Faris. Faris berteriak, kali ini bukan karena sakit fisik, tapi karena rasa aneh yang mengerikan—seolah esensi hidupnya disedot keluar. Cahaya putih kekuningan, lebih terang dan bersih dibanding energi Serigala Batu, mengalir masuk ke Alfayd.

Alfayd merasakan perbedaan yang mencolok. Energi dari Faris lebih halus, lebih mudah berasimilasi. Ia merasakan aliran Qi yang familiar—teknik dasar Klan Al-Farid—masuk ke dalam kesadarannya. Ia juga merasakan memori sekilas: Faris berlatih tendangan itu berulang-ulang, rasa frustrasinya saat tidak bisa menyempurnakannya.

Prosesnya lebih cepat daripada menyerap monster. Dalam beberapa detik, Faris terlihat pucat, lemah, dan napasnya tersengal-sengal. Ia tidak mati, tetapi kekuatannya seolah terkuras habis.

Layar sistem berkedip.

[Penyerapan selesai.]
[+15 Poin Energi Langit.]
[Berhasil menyerap: Qi Murni Dasar (Manusia), Fragmen Memori Latihan “Tendangan Angin Berputar”.]
[Menganalisis teknik… Asimilasi otomatis…]
[Host telah mempelajari: Tendangan Angin Berputar (Tingkat Pemula).]
[Energi Qi dimurnikan… Memperkuat meridian…]
[Meridian Terbuka: 1 → 2! (Meridian Tangan Yangming Usus Besar)]
[Realm: Tubuh Baja Lapis 3 → Tubuh Baja Lapis 4!]

Gelombang kekuatan baru membanjiri Alfayd. Dua meridian sekarang terbuka! Qi mengalir lebih lancar, membentuk siklus kecil di antara kedua meridian tangannya. Ia merasakan pemahaman mendadak tentang cara mengalirkan Qi ke kaki untuk melancarkan tendangan—pengetahuan yang sebelumnya asing. Tubuhnya terasa lebih ringan, lebih kuat.

Ia melihat Faris yang tergeletak lemah, mata penuh ketakutan dan kebingungan. “Apa… apa yang kau lakukan padaku?” bisik Faris, suaranya parau.

“Aku hanya mengambil kembali sedikit dari apa yang seharusnya menjadi milikku—rasa hormat,” kata Alfayd, suaranya tenang namun penuh wibawa yang baru. “Jika kau atau siapa pun bertanya, katakan kau jatuh saat berlatih dan terserang Serigala Batu. Aku menyelamatkanmu. Paham?”

Faris, dalam keadaannya yang lemah dan trauma, hanya bisa mengangguk pelan.

“Bagus.” Alfayd memungut karung pupuk yang tersisa. “Ingat, Faris. Dunia berubah. Jangan ganggu aku lagi.”

Dengan langkah mantap yang tidak pernah ia miliki sebelumnya, Alfayd berjalan menuju ladang herbasi untuk menyelesaikan tugasnya. Di pikirannya, ia berkomunikasi dengan sistem.

“Sistem, tampilkan statistikku saat ini.”

[Host: Alfayd]
[Usia: 15 Tahun]
[Realm: Tubuh Baja Lapis 4]
[Meridian Terbuka: 2]
[Teknik: Tendangan Angin Berputar (Tingkat Pemula)]
[Poin Energi Langit: 23]
[Level Sistem: 1]

Dua puluh tiga poin. Dan ia bisa merasakan tubuhnya masih seperti spons yang haus, sanggup menyerap lebih banyak.

“Sistem, bisakah poin ini digunakan untuk meningkatkan realm atau teknik langsung?”

[Ya, Host. Gunakan perintah: ‘Tingkatkan Realm’ atau ‘Tingkatkan Teknik’. Sistem akan menunjukkan biaya poin.]

“Tunjukkan biaya untuk meningkatkan realm ke Lapis 5.”

[Biaya untuk meningkatkan dari Tubuh Baja Lapis 4 ke Lapis 5: 30 Poin Energi Langit. Host kekurangan 7 Poin.]

Hampir saja. Alfayd memutuskan untuk menahan diri. Ia perlu lebih banyak poin, dan ia juga perlu berhati-hati. Peningkatan yang terlalu cepat akan menimbulkan kecurigaan. Faris mungkin akan diam karena malu dan takut, tetapi jika kekuatannya melonjak drastis dalam sehari, seluruh klan akan mengetahuinya.

Ia tiba di ladang herbasi, sebuah terasering kecil yang ditanami tanaman obat dasar klan. Ia menyelesaikan tugasnya dengan cepat, kekuatan barunya membuat pekerjaan kasar terasa ringan. Pikirannya bekerja keras.

Dia memiliki sistem yang luar biasa. Tapi itu juga adalah pedang bermata dua. Jika orang lain mengetahui kemampuannya menyerap kekuatan, ia akan dianggap sebagai iblis, dikutuk oleh seluruh dunia orthodox, dan diburu untuk dijadikan bahan penelitian atau dibunuh.

Ia harus tumbuh dalam bayangan. Berlatih diam-diam. Menyerap dari sumber yang tidak mencolok: monster di hutan, bandit, atau mungkin… musuh-musuh yang memang pantas dihukum.

Saat matahari mulai condong ke barat, Alfayd berjalan pulang. Saat ia melewati pintu gerbang klan, beberapa pelayan dan murid muda meliriknya. Biasanya, pandangan mereka penuh cibiran. Hari ini, ada yang berbeda. Mungkin karena langkahnya yang lebih tegas, atau mungkin karena kabar dari Rian dan Gito sudah tersebar.

Ia mendekati gubuknya, tetapi di depan pintu, seseorang sudah menunggu. Seorang gadis muda berusia sekitar 14 tahun, dengan wajah imut dan mata besar yang penuh kecemasan. Itu adalah Lira, adik sepupunya dari garis keturunan yang sama lemahnya. Hanya dialah yang masih memperlakukan Alfayd dengan kebaikan.

“Kak Alfayd!” Lira berlari mendekat, matanya berkaca-kaca. “Aku dengar kau diserang Serigala Batu! Dan… dan Faris dan yang lain mencari kau. Apakah kau baik-baik saja?”

Melihat kepolosan dan keikhlasan Lira, kekakuan di hati Alfayd sedikit mencair. Ia tersenyum, sebuah ekspresi tulus yang jarang terlihat. “Aku baik-baik saja, Lira. Lihat.” Ia memperlihatkan lengan yang sudah sembuh. “Hanya lecet. Faris… jatuh saat berlatih. Aku membantunya.”

Lira melihat bekas luka yang sudah menutup dengan cepat, lalu menatap mata Alfayd. Ada sesuatu yang berbeda di sana. Sebuah cahaya, sebuah keyakinan yang tidak ada sebelumnya. “Kakak… kakak terlihat berbeda.”

“Barangkali karena aku akhirnya menyadari sesuatu,” kata Alfayd, menatap langit senja yang mulai berwarna jingga. “Bahwa nasib bukanlah sesuatu yang ditetapkan.”

Malam itu, di dalam gubuknya yang gelap, Alfayd duduk bersila di lantai. Ia mencoba untuk pertama kalinya secara sadar mengedarkan Qi melalui kedua meridiannya yang terbuka. Sensasinya luar biasa. Dunia di sekitarnya terasa lebih hidup, lebih detail.

Ia juga mempraktikkan “Tendangan Angin Berputar” dalam pikirannya, memutar memori yang diserap dari Faris. Ia yakin, besok jika ia berlatih, ia akan bisa mengeksekusinya dengan tingkat kemahiran yang sama, bahkan mungkin lebih baik karena pemahaman sistem.

“Sistem,” tanyanya dalam hati sebelum tidur. “Apa tujuanmu? Mengapa memilihku?”

[Tujuan Sistem: Membantu Host mencapai puncak kekuatan dan memahami hukum penyerapan tertinggi. Pemilihan Host bersifat acak berdasarkan resonansi jiwa pada saat kritis. Host Alfayd memiliki keinginan kuat untuk berubah dan jiwa yang tahan banting, memenuhi kriteria minimum.]

Puncak kekuatan. Hukum penyerapan tertinggi. Kata-kata itu bergema di benak Alfayd.

Dia memejamkan mata, namun bukan untuk tidur yang lelap, melainkan untuk merencanakan. Besok, ia akan pergi ke hutan lagi. Ada lebih banyak Serigala Batu, mungkin ada monster lain. Ada poin energi yang menunggu. Ada kekuatan yang harus diraih.

Perjalanan Sang Penyerap Langit, baru saja mengambil langkah pertamanya yang mantap. Dan Klan Al-Farid yang kecil, tanpa disadari, telah menjadi tempat kelahiran seorang legenda yang akan mengguncang Sembilan Benua.