Bab 1: Sampah yang Mendapatkan Sistem

Ukuran:
Tema:

Hawa dingin pagi menyelinap masuk melalui celah-celah jendela kayu yang reyot, membangunkan Alfayd dari tidurnya yang gelisah. Ia membuka mata, melihat langit-langit gubuk yang penuh sarang laba-laba. Bau apek dan tanah lembap memenuhi udara. Ini adalah kamarnya—atau lebih tepatnya, gudang penyimpanan alat pertanian yang disulap menjadi tempat tinggal bagi anak ketiga dari garis keturunan sampingan Klan Al-Farid.

Dengan mengerang pelan, Alfayd berusaha duduk. Seluruh tubuhnya terasa sakit, memar berwarna biru keunguan menghiasi lengan dan pinggangnya. Kenangan memalukan dari kemarin kembali menghantam: ia terjatuh dari arena ujian, dikalahkan hanya dengan satu tendangan oleh sepupunya yang sebaya, Faris, di depan seluruh anggota klan penting. Gelak tawa, cibiran, dan pandangan kasihan dari bibinya sendiri, Nyonya Liena, masih terngiang di telinganya.

“Alfayd, anak ketiga yang tak berguna! Lima belas tahun hidup, meridianmu belum juga terbuka! Kau adalah noda bagi nama Al-Farid!” Teriakan Ketua Klan, pamannya sendiri, masih membakar jiwanya.

Ia mengepalkan tangannya. Kuku menancap di telapak tangan hingga nyaris berdarah. “Kenapa?” bisiknya lirih pada udara dingin. “Aku sudah berlatih lebih keras dari siapa pun. Aku sudah mencoba setiap metode dasar membuka meridian. Tapi mengapa Qi tidak mau mengalir?”

Di dunia Sembilan Benua ini, kekuatan adalah segalanya. Dan dasar dari semua kekuatan adalah Qi, energi kehidupan yang mengalir di dalam meridian tubuh. Membuka meridian pertama di usia 10 tahun adalah standar. Di usia 15, jika belum membuka setidaknya 3 meridian, seseorang akan dianggap tidak memiliki bakat—sampah.

Alfayd masih berada di Meridian ke-0. Tubuh Baja Lapis 1, tingkat paling dasar dari Realm Tubuh Baja, itulah satu-satunya “pencapaian”-nya. Bahkan anak-anak pelayan klan yang berusia 12 tahun sudah mencapai Lapis 2 atau 3.

Dengan susah payah, ia berdiri dan berjalan ke sebuah baskom berkarat berisi air. Bayangan wajahnya yang pucat, dengan mata berkantung dan rambut kusut, terpantul di permukaan air yang keruh. Wajahnya biasa saja, tidak jelek tetapi juga tidak tampan mencolok. Hanya ada sebuah bekas luka kecil di alis kanannya, peninggalan dari jatuh dari pohon saat kecil.

“Alfayd! Bangun kau, pemalas!” teriak seorang pelayan tua dari luar. “Ada tugas untukmu! Bawa karung-karung pupuk ini ke ladang herbasi di lereng bukit sebelum matahari tepat di atas kepala! Jika terlambat, jangan harap dapat makan siang!”

Alfayd menghela napas. Ini adalah hidupnya: dihina, diberi tugas kasar, dan dianggap sebagai beban. Ia mengenakan pakaian kain kasar yang sudah lusuh dan keluar. Di halaman klan, ia melihat para sepupunya yang seumuran sedang berlatih jurus dasar “Tendangan Angin Berputar” di bawah bimbingan pelatih. Gerakan mereka lincah, Qi mereka—meski masih lemah—terasa memenuhi udara. Faris, si pemenang ujian kemarin, menangkap pandangannya dan menyeringai sinis.

“Lihatlah, si sampah sudah bangun. Mungkin hari ini meridiannya akan terbuka saat mengangkat pupuk!” ledek Faris, diikuti tawa riang teman-temannya.

Alfayd menunduk, menahan amarah yang mendidih. Ia berjalan cepat ke gudang, mengangkat karung pupuk seberat 50 kilogram ke pundaknya yang kurus. Beban itu membuatnya terhuyung, tetapi ia mengatupkan gigi dan mulai berjalan menuju lereng bukit di belakang kompleks klan.

Perjalanan ke ladang herbasi memakan waktu hampir satu jam. Jalannya menanjak, berbatu, dan dipenuhi akar-akar pohon. Keringat membasahi bajunya sebelum ia sampai di tengah perjalanan. Napasnya tersengal-sengal, otot-ototnya berteriak kesakitan. Inilah konsekuensi dari tubuh yang lemah.

Saat ia beristirahat sebentar di sebuah tikungan, terdengar suara geraman rendah dari semak-semak di samping jalan. Alfayd membeku. Dari balik dedaunan, seekor makhlut muncul—Serigala Batu, monster kelas rendah yang biasa berkeliaran di perbukitan. Panjangnya sekitar satu setengah meter, bulu abu-abunya kasar seperti batu, dan matanya berwarna kuning menyala penuh kelaparan. Monster ini setara dengan manusia di Realm Tubuh Baja Lapis 3 atau 4.

“Tidak…” gumam Alfayd ketakutan. Ia melemparkan karung pupuk dan mundur perlahan. Serigala Batu itu mengendus-endus, lalu melompat ke arah karung, mengoyaknya dengan cakar tajam. Isi pupuk berserakan. Tapi perhatiannya segera beralih ke Alfayd, mangsa yang lebih hidup.

Serigala itu menerjang. Alfayd berusaha menghindar, tetapi kakinya tersandung batu. Ia jatuh telentang. Bau amis napas binatang itu memenuhi hidungnya saat rahang penuh gigi tajam mengatup ke arah lehernya. Dengan insting bertahan hidup, Alfayd menyilangkan kedua lengannya di depan wajah.

Krak!

Dengan suara mengerikan, gigi serigala itu menancap di lengan kirinya. Rasa sakit yang luar biasa menyebar. Alfayd berteriak. Darah mengucur deras. Ia bisa merasakan tulang lengannya retak. Dunia di sekelilingnya seakan berputar. Ini akhir, pikirnya dengan putus asa. Mati sia-sia di gunung, dimakan monster, dan tidak ada seorang pun yang akan benar-benar merindukannya.

Dalam detik-detik antara hidup dan mati itu, ketika nyawanya hampir melayang, sesuatu yang aneh terjadi.

Sebuah suara mekanis, dingin, dan sama sekali asing bergema langsung di dalam kepalanya.

[Kondisi host kritis… Memindai potensi… Memenuhi syarat…]
[Menginisiasi Sistem Penyerap Langit…]
[Binding dengan jiwa host… 10%… 50%… 100%… Binding berhasil.]
[Selamat datang, Host Alfayd. Sistem Penyerap Langit siap melayani.]

Alfayd tidak mengerti apa yang terjadi. Di depan matanya, tumpang tindih dengan pandangan akan rahang serigala yang hendak menerkam lagi, sebuah layar semi-transparan berwarna biru muda tiba-tiba muncul.

[Host: Alfayd]
[Usia: 15 Tahun]
[Realm: Tubuh Baja Lapis 1]
[Meridian Terbuka: 0]
[Teknik: Tidak Ada]
[Poin Energi Langit: 0]
[Level Sistem: 1]

Sementara itu, di atas kepala Serigala Batu itu, muncul tulisan merah:

[Target: Serigala Batu Muda]
[Realm: Tubuh Baja Lapis 4]
[Status: Terluka Ringan (Luka di kaki belakang kanan)]
[Teknik Andalan: Gigitan Pemecah Batu, Cakar Tajam]
[Rekomendasi Sistem: Target dapat diserap. Aktifkan fungsi Penyerapan? (Y/N)]

Alfayd tidak punya waktu untuk berpikir. Ini mimpi? Halusinasi sekarat? Apapun itu, ia tidak punya pilihan lain. Dalam pikirannya, ia berteriak, “YA!”

[Memerintahkan Penyerapan…] suara sistem kembali berbunyi.

Seketika, dari tubuh Alfayd yang terluka, sebuah energi yang tidak terlihat tapi sangat nyata memancar. Energi itu seperti akar-akar cahaya tak kasat mata yang menancap ke tubuh Serigala Batu. Binatang itu tiba-tiba mengeluarkan lolongan kesakitan yang teredam, tubuhnya kejang-kejang. Cahaya redup berwarna abu-abu kecoklatan mengalir dari tubuh serigala, melalui “akar” energi itu, dan masuk ke dalam dada Alfayd.

Alfayd merasakan sesuatu yang hangat, kasar, dan penuh kekuatan liar memasuki tubuhnya. Rasa sakit di lengannya tiba-tiba mereda, digantikan oleh sensasi gatal yang luar biasa saat luka itu mulai menutup dengan kecepatan yang tidak wajar. Energi itu berputar di dalam tubuhnya, menghantam dinding-dinding meridian yang selama ini tertutup.

Dorr!

Suara letusan kecil terdengar dari dalam tubuhnya. Sebuah saluran energi yang sebelumnya tersumbat seumur hidupnya, tiba-tiba terbuka lebar. Qi pertama kalinya mengalir bebas di dalam tubuh Alfayd! Itu hanya satu meridian, tetapi rasanya seperti seluruh dunianya telah berubah.

Serigala Batu itu terkulai lemas, tubuhnya mengerut seakan kehilangan esensi hidupnya. Matanya yang kuning kini pudar dan kosong. Ia mati.

Layar sistem berkedip.

[Penyerapan selesai.]
[+8 Poin Energi Langit.]
[Berhasil menyerap: Darah Esensi Serigala Batu (Rendah).]
[Efek: Memperkuat fisik, mempercepat regenerasi.]
[Mendeteksi pembukaan Meridian Pertama (Meridian Tangan Taiyin Paru). Konversi otomatis sebagian energi…]
[Host realm meningkat!]
[Realm: Tubuh Baja Lapis 1 → Tubuh Baja Lapis 3!]
[Meridian Terbuka: 0 → 1]

Gelombang kekuatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya membanjiri setiap sel tubuh Alfayd. Rasa lelah dan sakitnya hilang seketika. Ia merasakan otot-ototnya mengencang, tulang-tulangnya terasa lebih padat. Darah di lengannya sudah berhenti mengalir, dan luka gigitan itu kini hanya meninggalkan bekas merah yang sudah menutup. Ia berdiri, dengan mudah—sesuatu yang mustahil beberapa menit lalu.

Ia menatap tangan kirinya, lalu mengepalkannya. Kreek. Suara kepalan itu lebih penuh, lebih berisi. Ia mengangkat batu sebesar kepalanya yang ada di dekatnya—dengan mudah! Sebelumnya, ia pasti harus mengerahkan seluruh tenaga.

“Ini… ini nyata,” gumamnya, suaranya bergetar antara takjub dan ketakutan. “Sistem Penyerap Langit?”

[Benar, Host.] suara sistem menjawab langsung di pikirannya. [Saya adalah sistem yang terikat dengan jiwa Anda. Fungsi utama: menyerap energi dari berbagai sumber dan mengonversinya menjadi kekuatan Anda.]

“Menyerap… seperti tadi? Dari makhluk hidup?” tanya Alfayd, jantungnya berdebar kencang.

[Ya. Dari makhluk hidup, tumbuhan langka, mineral berenergi, bahkan dari praktisi lain yang dikalahkan. Penyerapan dari makhluk hidup yang memiliki kesadaran tinggi memiliki risiko Gangguan Jiwa. Disarankan untuk menyaring dan berlatih mengendalikan energi asing.]

Alfayd melihat tubuh Serigala Batu yang kering kerontang. Ia merasa sedikit mual, tetapi juga euforia. Ini adalah jalan keluar! Ini adalah kesempatannya untuk membalikkan segala sesuatu! Ia tidak perlu lagi menjadi sampah!

Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki dan obrolan dari arah jalur pendakian.

“Kau yakin melihatnya ke arah sini?” suara seorang pemuda.
“Pasti. Jejak kakinya menuju ladang herbasi. Si sampah itu pasti sedang bersembunyi malas di sini.”

Alfayd mengenali suara itu: Faris dan dua anak buahnya. Mereka pasti dikirim untuk “memeriksa” atau lebih mungkin, untuk menghajarnya lagi untuk hiburan.

Dulu, Alfayd akan ketakutan, mencari tempat bersembunyi. Tapi sekarang, dengan kekuatan baru yang mengalir di pembuluh darahnya, dengan satu meridian yang terbuka dan tubuh yang setara Lapis 3, sebuah rencana berani mulai terbentuk di benaknya.

Dia melihat bangkai Serigala Batu, lalu ke arah suara yang mendekat. Sebuah senyum tipis, penuh tekad dan sedikit kekejaman, muncul di sudut bibirnya.

“Mari kita uji sistem ini,” bisiknya pada diri sendiri. “Dan mari kita beri ‘hadiah’ untuk sepupuku yang terhormat.”

Dia dengan cepat menyembunyikan bangkai serigala di balik semak, lalu duduk di atas batu, berpura-pura masih lemah dan memegangi lengan yang “terluka”. Matanya, yang sebelumnya selalu tunduk, kini berbinar dengan cahaya baru—cahaya harapan, ambisi, dan sebuah rahasia yang akan mengubah takdirnya selamanya.

Langit di atas lereng bukit masih sama birunya. Tapi bagi Alfayd, dunia baru saja dimulai.