Bab 11: Paviliun Elder dan Ujian Rahasia
Pagi di Puncak Teratai Tenang sangat berbeda dari bagian sekte lainnya. Udara di sini lebih jernih, lebih dingin, dan dipenuhi dengan energi alam yang begitu pekat hingga terlihat seperti kabut keperakan yang samar. Pepohonan pinus kuno tumbuh dengan anggun, dan di antara mereka, terdapat paviliun-paviliun kayu sederhana namun elegan.
Alfayd, dipandu oleh Mei Xiu, berjalan menyusuri jalan setapak batu yang licin karena embun. Ia telah mengenakan jubah murid luarnya yang terbaik dan berusaha menenangkan diri. Pertemuan dengan Elder Lin Feng bisa menjadi titik balik—atau jebakan.
Paviliun Elder Lin terletak di tepi tebing, menghadap ke lembah luas di bawah. Dari sini, seseorang bisa melihat awan-awan melayang di bawah. Di depan paviliun, Elder Lin sedang duduk di atas bantal, menghadap ke pemandangan, secangkir teh di tangannya. Ia tampak seperti bagian dari alam sekitarnya, tenang dan dalam.
“Elder Lin, saya telah membawa Alfayd,” kata Mei Xiu dengan hormat.
Elder Lin tidak menoleh, hanya mengangguk pelan. “Terima kasih, Mei Xiu. Kau boleh pergi.”
Mei Xiu memberi isyarat pada Alfayd untuk maju, lalu pergi dengan langkah ringan.
Alfayd berdiri beberapa langkah di belakang Elder Lin, menunggu. Suasana hening, hanya terdengar desir angin dan kicauan burung langka.
“Alfayd,” suara Elder Lin akhirnya pecah, lembut namun jelas. “Kau telah membuat banyak kehebohan dalam waktu singkat. Juara ujian murid luar, kemurnian Qi luar biasa, terobosan diam-diam ke Qi Murni… semua itu dalam hitungan minggu.”
Jantung Alfayd berdebar. Ia tahu! Tapi bagaimana? Ia telah menekan aura realmnya dengan hati-hati.
“Jangan terkejut,” kata Elder Lin seolah membaca pikirannya, akhirnya berbalik. Matanya yang tajam memandang Alfayd. “Aku adalah Elder di puncak Qi Murni, selangkah menuju Inti Langit. Aura yang kau sembunyikan mungkin bisa menipu murid dalam, tapi tidak padaku.”
Alfayd menunduk. “Maaf, Elder. Saya tidak bermaksud menyembunyikan—”
“Tidak perlu meminta maaf,” potong Elder Lin. “Kewaspadaan adalah kebajikan di dunia kita. Terlebih lagi dengan bakat sepertimu. Duduklah.”
Alfayd duduk di atas bantal yang disediakan di seberang Elder Lin. Sebuah cangkir teh sudah menunggu, memancarkan aroma yang menenangkan dan energi halus.
“Teh Daun Teratai Berduri. Baik untuk menenangkan pikiran dan membersihkan Qi,” ujar Elder Lin. “Minumlah.”
Alfayd meminumnya. Rasanya pahit di awal, lalu manis di akhir, dan segera ia merasakan kehangatan yang menyebar ke seluruh tubuhnya, membersihkan sedikit ketidakmurnian yang bahkan tidak ia sadari.
“Terima kasih, Elder.”
“Alfayd, aku akan berbicara terus terang,” lanjut Elder Lin, menatapnya. “Bakatmu sangat langka. Kemurnian Qi 92%, afinitas seimbang dengan lima unsur, fondasi tubuh yang kokoh luar biasa, dan naluri bertarung yang tajam. Dalam sejarah sekte ini, hanya segelintir yang memiliki potensi sepertimu.”
Alfayd diam, menunggu.
“Tapi potensi saja tidak cukup,” Elder Lin melanjutkan, suaranya menjadi lebih serius. “Dunia ini penuh dengan genius yang mati muda karena kesombongan, ketidaksabaran, atau… karena menjadi ancaman bagi orang lain. Kau sudah menarik perhatian. Beberapa murid dalam, bahkan mungkin beberapa Elder junior, mulai mempertanyakanmu. Mereka bertanya-tanya: darimana seorang murid luar dari klan kecil bisa mendapatkan semua ini? Apakah kau mempelajari teknik terlarang? Atau memiliki warisan rahasia?”
Ini adalah ancaman yang nyata. Alfayd menjaga ekspresinya tetap netral. “Saya hanya beruntung dan berlatih keras, Elder.”
“Mungkin,” Elder Lin mengangguk, tidak memperdebatkannya. “Tapi kebenaran tidak selalu penting. Persepsi yang penting. Dan untuk melindungi potensimu—dan juga untuk melindungi sekte dari konflik internal—aku punya proposal.”
“Proposal, Elder?”
“Aku akan mengambilmu sebagai murid tidak resmi. Kau tetap murid luar secara status, tetapi akan menerima bimbinganku secara pribadi. Aku akan memberimu akses ke sumber daya yang lebih baik, teknik yang lebih tinggi, dan perlindungan dari mereka yang ingin menjatuhkanmu. Sebagai gantinya…” Elder Lin menjeda, matanya menembus. “…kau harus melewati sebuah ujian. Ujian untuk membuktikan kesetiaanmu pada sekte, dan untuk menunjukkan bahwa kekuatanmu berasal dari bakat murni, bukan dari jalan sesat.”
Ujian. Alfayd merasa ini adalah momen kritis. “Ujian seperti apa, Elder?”
Elder Lin mengeluarkan sebuah peta kulit sederhana. “Di perbatasan wilayah sekte, ada sebuah Gua Bayangan Beracun. Tempat itu dipenuhi dengan gas beracun tingkat rendah dan dihuni oleh Ular Berkepala Tiga, monster setara Qi Murni Lapis 3-4. Beberapa minggu lalu, sekelompok murid dalam junior melakukan misi pembersihan di sana, tetapi salah satu dari mereka, Murid Dalam Chen, hilang. Kami menduga ia terjebak atau terluka di dalam.”
Alfayd mendengarkan dengan seksama.
“Tugasmu adalah masuk ke Gua Bayangan Beracun, temukan Murid Dalam Chen, dan bawa dia keluar—hidup atau mati. Tetapi ada satu hal: di dalam gua itu, ada sebuah Batu Uji Jiwa kuno. Batu itu akan bereaksi terhadap energi yang tidak murni atau teknik terlarang. Jika kau melewatinya tanpa reaksi negatif, itu akan membuktikan bahwa Qi-mu murni dan jalanmu benar.”
Ini jelas lebih dari sekadar misi penyelamatan. Ini adalah ujian untuk mengungkap rahasianya. Batu Uji Jiwa… apakah itu bisa mendeteksi Sistem Penyerap Langit? Alfayd merasa sedikit tegang, tetapi sistem segera berbunyi.
[Menganalisis informasi: Batu Uji Jiwa (umum). Prinsip: Mendeteksi ketidakselarasan energi, sisa karma negatif dari teknik iblis, atau jiwa yang terkontaminasi. Sistem Penyerap Langit beroperasi pada level yang lebih tinggi dan tidak akan terdeteksi sebagai energi ‘terlarang’ selama host tidak menunjukkan ketidakstabilan jiwa atau menggunakan energi yang jelas bertentangan dengan hukum alam (seperti menyerap jiwa hidup secara langsung).]
Lega. Tapi tetap ada risiko.
“Kau akan pergi sendirian,” lanjut Elder Lin. “Ini adalah ujian kepercayaan. Jika kau berhasil membawa kembali Chen dan melewati Batu Uji Jiwa dengan bersih, aku akan secara resmi membimbingmu. Jika kau gagal… atau jika Batu Uji Jiwa bereaksi… konsekuensinya akan berat.”
Tekanan jelas terasa. Tapi Alfayd melihat peluang di balik risiko. Misi sendirian berarti ia bisa menggunakan kemampuannya dengan lebih bebas. Monster di gua itu adalah sumber poin energi. Dan kesuksesan akan memberinya pelindung kuat di sekte.
“Saya menerima ujian ini, Elder,” kata Alfayd dengan tegas.
Elder Lin menganggak, tampak puas. “Bagus. Berangkatlah sekarang. Bawa peta ini dan jimat ini.” Ia memberikan sebuah jimat batu hijau kecil. “Ini adalah Jimat Penangkal Racun Dasar. Akan melindungimu dari gas beracun tingkat rendah selama enam jam. Gunakan dengan bijak. Dan ini…” Ia memberikan sebuah peluit perak kecil. “…adalah sinyal. Tiup jika kau menemui Chen atau dalam keadaan darurat ekstrem. Tapi ingat, menggunakan sinyal berarti mengakui kegagalan sebagian.”
Alfayd menerima semuanya. “Saya tidak akan mengecewakan, Elder.”
“Pergilah. Dan berhati-hatilah. Gua itu… memiliki suasana yang aneh.”
Alfayd meninggalkan paviliun dengan pikiran bergejolak. Saat ia turun dari puncak, Mei Xiu menunggunya di persimpangan jalan.
“Bagaimana?” tanyanya.
“Elder Lin memberiku ujian,” jawab Alfayd singkat.
Mei Xiu tampak khawatir. “Gua Bayangan Beracun? Itu berbahaya, bahkan untuk murid dalam. Dan sendirian… Alfayd, kau harus sangat berhati-hati. Ada rumor bahwa gua itu bukan hanya tempat monster. Ada sesuatu yang… tua dan mengganggu di sana.”
“Terima kasih untuk peringatannya, Senior Sister. Saya akan berhati-hati.”
Alfayd segera kembali ke kompleksnya untuk mengambil perlengkapan dasarnya: pisau berburu (yang sekarang terasa terlalu ringan), beberapa pil pemulihan dasar dari reward, air, dan tali. Ia juga mengenakan jimat Penangkal Racun di lehernya.
Tanpa memberi tahu siapa pun—Rayhan masih tidak ada—ia berangkat menuju perbatasan wilayah sekte sesuai peta.
Perjalanan memakan waktu beberapa jam. Wilayah menjadi semakin sepi dan liar. Akhirnya, ia tiba di mulut gua. Sebuah celah gelap di tebing batu, dikelilingi oleh tumbuhan merambat beracun yang berwarna ungu kehitaman. Udara di sekitarnya berbau busuk dan logam—bau gas beracun.
[Mendeteksi konsentrasi racun tingkat rendah di udara. Jimat Penangkal Racun aktif. Perlindungan: 100%. Durasi: 5 jam 58 menit.]
Alfayd menarik napas dalam-dalam, menyalakan obor yang ia bawa (diberikan oleh penjaga gerbang sekte), dan masuk ke dalam gua.
Dingin dan lembap segera menyergap. Suara tetesan air dan desis jauh terdengar. Obor menerangi dinding gua yang basah dan licin, ditutupi lumut aneh yang bersinar hijau pucat, memberikan pencahayaan tambahan yang menyeramkan.
[Pemindaian area: Radius 30 meter. Mendeteksi beberapa bentuk kehidupan merayap—Ular Berkepala Tiga, jumlah: 3, jarak: 50 meter ke depan, bergerak.]
Alfayd melanjutkan dengan hati-hati. Ia segera menemukan jejak pertempuran: goresan di dinding, pecahan batu, dan… noda darah kering.
Ia mengikuti jejak darah. Gua bercabang-cabang, tetapi peta Elder Lin menunjukkan jalur utama menuju ruang dalam di mana Batu Uji Jiwa seharusnya berada.
Tiba-tiba, dari langit-langit, sesuatu jatuh. Sebuah Ular Berkepala Tiga, sepanjang dua meter, dengan tiga kepala yang masing-masing memiliki taring meneteskan bisa. Matanya merah menyala.
[Target: Ular Berkepali Tiga Muda]
[Realm: Setara Qi Murni Lapis 3]
[Kemampuan: Racun saraf, kecepatan serangan tinggi dari tiga kepala, kulit keras.]
Ular itu menyerang sebelum Alfayd bisa bereaksi penuh. Tiga kepala itu menyambar dari arah berbeda. Alfayd, dengan kecepatan Qi Murni Lapis 1 dan refleks yang ditingkatkan, menghindar dengan melompat ke belakang. Dua kepala meleset, satu kepala menggigit lengan bajunya, merobeknya.
Alfayd tidak panik. Ini adalah pertarungan pertamanya sebagai Qi Murni sejati. Ia mengalirkan Qi cair ke tangannya, merasakan kekuatan yang meledak-ledak. Saat ular itu menarik kepala-kepalanya untuk menyerang lagi, ia meluncur ke depan, menghindari sambaran, dan tangannya yang terkepal—dibungkus selubung energi putih keperakan—menghantam tubuh ular di belakang kepala tengah.
Kraak!
Tulang ular itu remuk. Monster itu mengeluarkan suara mendesis kesakitan dan menjerit, tubuhnya menggelepar. Alfayd tidak berhenti. Dengan gerakan cepat, ia menghancurkan dua kepala lainnya. Ular itu mati.
[Mengalahkan target. Penyerapan dimungkinkan. Serap?]
“Serap.”
[+25 Poin Energi Langit.]
[Energi diserap: Darah beracun (telah disaring), energi kehidupan ular, fragmen ketahanan racun.]
[Efek: Ketahanan terhadap racun tingkat rendah meningkat sedikit.]
Bagus. Ia melanjutkan, sekarang lebih waspada. Ia bertemu dan mengalahkan dua ular lagi, masing-masing memberinya sekitar 20-30 poin. Pengalamannya bertarung sebagai Qi Murni semakin matang.
Jejak darah semakin jelas. Ia tiba di sebuah persimpangan besar. Di tengah ruangan, di atas sebuah altar batu alami, terdapat sebuah batu kristal setinggi pinggang yang memancarkan cahaya biru lembut—Batu Uji Jiwa. Di depannya, tubuh seorang pria dengan jubah murid dalam yang robek-robek terbaring tak bergerak—Chen. Di sekelilingnya, tiga Ular Berkepala Tiga yang lebih besar (setara Lapis 4) sedang melingkar, sepertinya menjaga atau menunggu.
[Situasi: 3 Ular Berkepala Tiga Dewasa (Qi Murni Lapis 4). Murid Dalam Chen: Masih hidup, tapi lemah, terluka parah, dan keracunan.]
[Batu Uji Jiwa: Aktif. Akan memindai setiap energi yang melewati radius 5 meter.]
Alfayd harus melewati ular-ular itu dan Batu Uji Jiwa untuk mencapai Chen. Dan ia harus melakukannya tanpa memicu reaksi negatif dari batu itu.
Ia merencanakan dengan cepat. Pertama, urus ular-ular itu. Bertarung langsung melawan tiga Lapis 4 sekaligus berisiko. Tapi ia punya keuntungan: ruangan itu relatif sempit, dan ular-ular itu besar.
Dia mengambil beberapa batu kecil dari tanah. Dengan kekuatan Qi Murni, ia melemparkan satu batu ke dinding jauh di seberang ruangan.
Klik!
Suara itu menarik perhatian dua ular. Mereka mengangkat kepala, mendesis. Satu ular tetap di dekat Chen.
Alfayd melemparkan batu kedua, lebih keras, ke arah ular yang sendirian. Batu itu menghantam matanya. Ular itu mendesis marah dan mulai merayap ke arah sumber serangan—langsung ke arah Alfayd yang bersembunyi di balik batu besar di pintu masuk.
Ini yang ia inginkan—memisahkan mereka satu per satu.
Saat ular pertama mendekat, Alfayd melompat keluar. Kali ini, ia tidak bermain-main. Ia langsung mengeluarkan teknik barunya, “Tendangan Teratai Berduri”. Qi di kakinya terkonsentrasi menjadi titik tajam berwarna perak. Saat ular itu menyambar, ia menendang, bukan ke tubuh, tapi ke bawah rahang salah satu kepala.
Tebok!
Tendangan itu menembus kulit keras dan masuk ke dalam. Ular itu menggelepar liar. Alfayd menghindar, lalu menyelesaikannya dengan pukulan Qi ke titik vital di kepala lainnya.
[+35 Poin Energi Langit.]
Dua ular lainnya, mendengar keributan, sekarang datang bersama-sama. Alfayd mundur ke lorong sempit, memaksa mereka untuk datang satu per satu karena ukuran tubuh mereka. Di lorong sempit, keunggulan jumlah mereka berkurang.
Pertarungan sengit terjadi. Alfayd menggunakan semua yang ia miliki: Langkah Bayangan untuk menghindar, Tendangan Teratai Berduri untuk serangan mematikan, dan Pukulan Besi yang diperkuat Qi untuk serangan samping. Ia terluka—sebuah gigitan di paha yang membuatnya pusing karena racun (segera disaring oleh tubuhnya yang tahan racun dan sistem), dan cakar di lengan. Tapi ia berhasil membunuh ular kedua.
[+40 Poin Energi Langit.]
Ular ketiga, yang paling besar dan cerdik, kini waspada. Ia tidak menyerang gegabah. Alfayd, yang sudah lelah dan terluka, tahu ia harus mengakhirinya cepat. Ia berpura-pura limbung, membiarkan pertahanannya terbuka. Ular itu mengambil umpan, menyambar dengan cepat. Tapi Alfayd sudah siap. Dengan sisa kekuatan, ia melompat, mendarat di punggung ular, dan menancapkan pisau berburunya yang telah dibalut Qi cair ke titik lemah di belakang kepala tengahnya, menusuk sampai ke otak.