Bab 12: Batu Uji Jiwa dan Kebenaran yang Terungkap
Ular ketiga terkapar mati. Alfayd, terengah-engah, berdiri di atas bangkainya, darah—miliknya dan monster—menetes dari luka-lukanya. Napasnya berat, dan racun dari gigitan ular membuat kepalanya sedikit pusing, tetapi sistem dan ketahanan barunya bekerja untuk menetralisirnya.
[+45 Poin Energi Langit.]
[Total Poin Energi Langit: 443.]
Dia tidak punya waktu untuk beristirahat. Ia melihat ke arah Murid Dalam Chen yang masih terbaring tak bergerak di depan Batu Uji Jiwa. Cahaya biru batu itu memancar dengan stabil, seolah mengawasi.
Pertama, ia harus melewati batu itu. Itu adalah ujian sebenarnya.
Dia membersihkan darah sebanyak mungkin dari tangannya dan wajahnya, lalu berjalan perlahan menuju altar. Saat ia memasuki radius lima meter dari Batu Uji Jiwa, ia merasakan sensasi aneh—seolah-olah ada mata tak terlihat yang mengamati setiap inci tubuh dan jiwanya.
[Batu Uji Jiwa mengaktifkan pemindaian. Memantau: Kemurnian Qi, stabilitas jiwa, keberadaan energi terlarang atau karma negatif.]
[Sistem mengaktifkan mode kamuflase energi. Menyelaraskan frekuensi energi host dengan pola alam. Menyaring sisa energi asing dari penyerapan monster.]
Alfayd berjalan selangkah demi selangkah. Batu itu bersinar, tetapi tidak berubah warna atau bereaksi negatif. Ia merasa gelombang energi halus menyapu dirinya, masuk ke dalam, menyelidiki. Ia berusaha tetap tenang, membiarkan Qi-nya yang murni (berkat Energi Bumi Murni dan penyaringan sistem) bersinar.
Saat ia tepat berada di depan batu, hampir menyentuhnya, cahaya biru itu tiba-tiba berubah. Alfayd membeku, jantung berdebar kencang. Tapi cahaya itu tidak berubah menjadi merah atau hitam—warna untuk energi terlarang. Sebaliknya, ia berubah menjadi cahaya putih keemasan yang hangat dan murni, bahkan lebih terang dari sebelumnya.
Batu itu seolah-olah bernyanyi dengan getaran halus yang menyenangkan. Sebuah perasaan damai dan persetujuan memenuhi ruangan.
[Pemindaian selesai. Batu Uji Jiwa memberikan penilaian: Jiwa murni, Qi sangat murni, tidak terdeteksi praktik terlarang. Penilaian: Luar Biasa.]
Alfayd menghela napas lega. Sistem berhasil. Atau mungkin, Qi-nya memang benar-benar murni sekarang.
Dia segera berlutut di samping Chen. Murid dalam itu adalah pria muda berusia mungkin dua puluhan, wajahnya pucat dan bibirnya kebiruan karena racun. Ada luka gigitan di bahunya yang sudah menghitam. Napasnya lemah dan tidak teratur.
Alfayd memeriksa tasnya. Ia memiliki beberapa pil pemulihan dasar dan pil penawar racun umum dari reward sekte. Ia memasukkan satu pil penawar racun ke mulut Chen, memaksa dia menelan dengan sedikit air. Lalu, ia membalut luka gigitan dengan kain bersih setelah mengeluarkan darah racun sebanyak mungkin.
Chen bergerak sedikit, mengeluarkan erangan. Matanya terbuka setengah, penuh kebingungan dan rasa sakit. “Sia… siapa kau?”
“Alfayd, murid luar. Elder Lin mengirim saya untuk menyelamatkanmu,” jawab Alfayd cepat. “Bisakah kau berdiri?”
“Kaki… kaki patah,” erang Chen. “Dan racun… masih…”
Alfayd melihat ke sekeliling. Ia harus membawa Chen keluar dari gua ini, melewati jalur berliku dan mungkin masih ada monster lain. Dan jimat Penangkal Racunnya tinggal sekitar empat jam.
Dia memutuskan untuk membuat tandu darurat. Dengan pisau dan Qi-nya, ia memotong beberapa batang dari tanaman merambat yang tidak beracun di dinding gua (setelah sistem memastikan aman) dan menggunakan jubah Chen yang robek serta tali miliknya untuk membuat tandu sederhana.
Dengan susah payah, ia mengangkat Chen ke atas tandu. Murid dalam itu tidak terlalu berat baginya yang kini memiliki kekuatan Qi Murni, tetapi tetap merepotkan.
“Tahan, Senior Brother. Kita akan keluar.”
Perjalanan kembali jauh lebih lambat. Alfayd harus menarik tandu sambil tetap waspada. Ia bertemu dua ular kecil lagi (Lapis 2) yang dengan mudah diatasi. Setiap kali ia melewati bangkai ular yang ia bunuh sebelumnya, sistem menawarkan penyerapan diam-diam, dan ia menerima, menambah sekitar 30 poin lagi.
Saat mereka mendekati mulut gua, jimat Penangkal Racun di leher Alfayd mulai retak—waktunya hampir habis. Tapi mereka sudah dekat. Sinar matahari terlihat di kejauhan.
Akhirnya, mereka keluar. Alfayd menarik napas dalam-dalam udara segar (meski masih berbau sedikit busuk). Ia menurunkan tandu dengan hati-hati di bawah sinar matahari. Chen, yang terkena sinar matahari, tampak sedikit lebih baik, warna bibirnya mulai memudar.
Alfayd mengambil peluit perak pemberian Elder Lin. Ia mempertimbangkan. Menggunakan sinyal berarti “kegagalan sebagian”? Tapi ia telah berhasil melewati Batu Uji Jiwa dan menyelamatkan Chen. Ia memutuskan untuk tidak meniupnya. Sebaliknya, ia akan membawa Chen kembali sendiri. Itu akan membuktikan kemampuannya.
Dengan sisa kekuatan, ia mengangkat tandu lagi dan mulai berjalan menuju sekte. Perjalanan pulang terasa lebih panjang karena kelelahan, tetapi tekadnya menggerakkannya.
Beberapa jam kemudian, saat matahari mulai condong, ia tiba di gerbang sekte. Penjaga gerbang, melihat seorang murid luar yang compang-camping dan berlumuran darah menarik tandu berisi murid dalam yang terluka, segera beraksi. Mereka mengambil alih Chen dan memanggil tabib sekte.
Kabar segera menyebar. Murid luar Alfayd telah menyelesaikan misi penyelamatan sendirian dari Gua Bayangan Beracun!
Alfayd dibawa ke balai pengobatan untuk dirawat lukanya yang sebenarnya sudah mulai sembuh dengan cepat berkat regenerasinya. Seorang tabib senior memeriksanya, terkesan dengan ketahanan tubuhnya.
Tak lama setelah itu, seorang utusan datang. “Elder Lin Feng memintamu di pavilionnya. Sekarang.”
Dengan tubuh yang masih sakit namun jiwa yang puas, Alfayd mengikuti utusan itu. Kali ini, ia dibawa langsung ke ruang dalam pavilion Elder Lin, sebuah ruangan sederhana dengan rak buku gulungan dan aroma dupa.
Elder Lin sedang berdiri di depan jendela, memandang ke luar. Di sampingnya, berdiri Elder Zhu dan seorang pria tua lain yang tidak ia kenal, dengan aura yang sangat dalam—mungkin Elder lain atau bahkan Grand Elder.
“Alfayd,” sapa Elder Lin, berbalik. Wajahnya tidak terbaca. “Kau kembali. Dan membawa Chen hidup. Beritahu kami apa yang terjadi.”
Alfayd menceritakan semuanya, dengan jujur tetapi hati-hati: pertempuran dengan ular-ular, melewati Batu Uji Jiwa (ia menyebutkan cahaya putih keemasan), dan perjalanan kembali. Ia tidak menyebutkan penyerapan energi, tentu saja.
Setelah ia selesai, para Elder saling memandang. Pria tua yang tidak dikenal itu mengangguk pelan. “Batu Uji Jiwa bereaksi dengan cahaya putih keemasan. Itu adalah tanda kemurnian jiwa yang sangat tinggi, hampir suci. Jarang terjadi, bahkan di antara murid inti.”
Elder Zhu mengerutkan kening. “Dan kau, di Qi Murni Lapis 1, mengalahkan beberapa Ular Berkepala Tiga Lapis 3 dan 4 sendirian. Itu… luar biasa.”
“Kekuatan bukan hanya soal realm, tapi juga teknik, tekad, dan penggunaan yang tepat,” kata Elder Lin, seolah membela Alfayd. “Dan Batu Uji Jiwa tidak berbohong. Qi dan jiwanya murni. Itu membuktikan bahwa kekuatannya datang dari bakat dan kerja keras, bukan jalan sesat.”
Tampaknya, ujiannya berhasil. Alfayd bisa melihat perubahan sikap para Elder. Keraguan berubah menjadi penerimaan, bahkan kekaguman.
“Alfayd,” kata Elder Lin, suaranya lebih hangat. “Kau telah melewati ujian dengan gemilang. Mulai hari ini, kau adalah murid tidak resmi di bawah bimbinganku. Kau akan pindah ke Asrama Bambu Timur, yang lebih dekat dengan area murid dalam. Kau akan menerima jatah sumber daya setara murid dalam junior: 5 Pil Qi Murni per bulan, akses ke Ruang Meditasi Tingkat 2, dan hak meminjam teknik tingkat 3. Dan yang terpenting, perlindunganku.”
Itu adalah lompatan besar. Alfayd menunduk dalam-dalam. “Terima kasih, Elder Lin. Saya tidak akan mengecewakan kepercayaan Elder.”
“Ada satu hal lagi,” Elder Lin melanjutkan, matanya berbinar. “Dalam tiga bulan, akan diadakan Turnamen Murid Muda Antar-Sekte di Kota Naga Terbang. Setiap sekte mengirimkan wakil terbaik di bawah usia 18. Aku ingin kau berlatih keras. Jika kau bisa masuk tiga besar dalam ujian internal sekte kita, aku akan merekomendasikanmu sebagai salah satu peserta.”
Turnamen antar-sekte! Itu adalah panggung yang jauh lebih besar, di mana ia akan bertemu genius-genius dari sekte lain, dengan hadiah yang luar biasa dan… banyak kesempatan untuk mengamati (dan mungkin menyerap) berbagai teknik dan kekuatan.
“Saya akan berusaha sekuat tenaga, Elder,” janji Alfayd.
“Bagus. Sekarang, pergilah dan istirahat. Besok, kita akan mulai latihan pertama.”
Alfayd meninggalkan pavilion dengan langkah ringan, meski tubuhnya lelah. Ia telah melewati krisis, mendapatkan mentor yang kuat, dan membuka jalan menuju puncak yang lebih tinggi.
Namun, saat ia berjalan menuju asrama barunya, ia merasakan tatapan dari kejauhan. Di balik pepohonan, beberapa sosok mengamatinya. Salah satunya adalah Senior Liang, yang wajahnya dingin dan penuh perhitungan. Yang lain adalah Duan Feng, yang kini tampak penuh kebencian dan… ketakutan.
Musuh-musuhnya tidak hilang. Mereka hanya mundur selangkah, menunggu kesempatan.
Di Asrama Bambu Timur, kamarnya lebih baik: sendiri, dengan tempat tidur yang nyaman, meja belajar, dan bahkan sebuah bantal meditasi berkualitas. Ia segera duduk, memeriksa statistiknya.
[Host: Alfayd]
[Usia: 15 Tahun]
[Realm: Qi Murni Lapis 1 (Lautan Qi 12% terisi)]
[Meridian Terbuka: 8]
[Teknik: Tendangan Angin Berputar (Mahir), Pukulan Besi Dasar (Mahir), Langkah Bayangan (Mahir), Tendangan Teratai Berduri (Pemula), Teknik Pernapasan Sekte Teratai (Mahir)]
[Poin Energi Langit: 473]
[Level Sistem: 1]
[Status: Murid tidak resmi Elder Lin Feng, Sekte Bunga Teratai Berduri.]
473 poin. Cukup untuk meningkatkan realm atau teknik dengan signifikan. Tapi ia memutuskan untuk menunggu. Elder Lin akan melatihnya, dan ia perlu mempelajari cara yang benar untuk berkembang tanpa menimbulkan kecurigaan.
Malam itu, saat ia sedang mempelajari peta baru sekte dan peraturan untuk murid dengan status lebih tinggi, seseorang mengetuk pintunya.
Di luar berdiri Mei Xiu, dengan senyuman lega. “Aku dengar kau berhasil. Dan sekarang kau murid tidak resmi Elder Lin. Selamat.”
“Terima kasih, Senior Sister. Bantuan dan peringatanmu sangat berharga.”
Mei Xiu masuk, menutup pintu. Ekspresinya menjadi serius. “Alfayd, kau harus tetap waspada. Beberapa orang tidak senang dengan kemajuanmu. Senior Liang… dia adalah murid dari Elder Hong, yang bersaing dengan Elder Lin untuk pengaruh. Dan Duan Feng adalah keponakan jauh Elder Hong. Mereka mungkin mencoba sesuatu.”
Persaingan internal antar faksi Elder. Itu rumit.
“Aku mengerti,” kata Alfayd. “Aku akan berhati-hati.”
“Ada satu hal lagi,” bisik Mei Xiu. “Tentang Gua Bayangan Beracun. Chen, yang kau selamatkan, saat sadar sepenuhnya, dia berceloteh sesuatu yang aneh. Dia bilang… di dalam gua, di balik Batu Uji Jiwa, ada sebuah pintu tersembunyi. Pintu itu memancarkan aura yang sangat tua dan… rakus. Seperti sesuatu yang haus.”
Pintu tersembunyi? Haus? Alfayd teringat perasaan aneh yang ia rasakan di gua, dan peringatan Mei Xiu sebelumnya tentang sesuatu yang “tua dan mengganggu”.
“Apakah Elder Lin tahu?” tanyanya.
“Belum. Chen masih bingung. Tapi aku pikir kau harus tahu. Mungkin… mungkin itu terkait dengan mengapa Elder Lin benar-benar mengirimmu ke sana. Bukan hanya untuk ujian.”
Alfayd mengangguk, pikirannya berputar. Mungkin ada lebih banyak hal di balik ujian itu daripada yang terlihat. Mungkin Elder Lin tidak hanya menguji kemurniannya, tetapi juga… memancing sesuatu? Atau mencari sesuatu?
“Terima kasih, Senior Sister. Aku akan mengingatnya.”
Setelah Mei Xiu pergi, Alfayd memandang keluar jendela ke arah gunung yang gelap. Sekte Bunga Teratai Berduri yang indah ini menyimpan banyak rahasia. Dan sekarang, ia telah terjun lebih dalam ke dalamnya.
Tapi ia tidak takut. Setiap rahasia, setiap bahaya, adalah kesempatan. Kesempatan untuk menjadi lebih kuat.
Dengan senyuman penuh tekad, ia kembali ke tempat tidurnya. Besok, latihan dengan Elder Lin akan dimulai. Dan jalan menuju puncak, menuju kemampuan untuk benar-benar menyerap langit dan bumi, terus terbentang di depannya.