BAB 13: INTEL TENTANG ICEPEAK CITADEL

Ukuran:
Tema:

Pagi hari keberangkatan, tim berkumpul di ruang perang Institute. Peta besar Icepeak Citadel terbentang di meja, penuh dengan tanda dan catatan.

Thorne, yang telah menghilang selama seminggu untuk misi intel, sekarang berdiri di depan peta, wajahnya lebih serius dari biasanya.

“Citadel dibangun di puncak gunung tertinggi di Frozen North,” mulainya, menunjuk. “Satu-satunya akses: jalur pendakian berbahaya di sisi timur, atau… terowongan bawah tanah.”

“Terowongan?” tanya Garrick.

“Tambang kuno. Ditinggalkan ratusan tahun lalu. Tapi menurut sumberku, Malakar menggunakan mereka untuk transportasi supplies dan… subjek eksperimen.”

Subjek eksperimen. Kata itu membuat semua orang merinding.

“Pertahanan?” tanya Elara.

“Lapisan.” Thorne menunjuk area berbeda di peta. “Lapisan pertama: cuaca. Badai salju abadi, suhu di bawah nol, angin yang bisa melemparkan manusia.”

“Kita punya equipment untuk itu,” kata Garrick. “Mantel termal, potion anti-dingin.”

“Lapisan kedua: monster. Creature es yang berevolusi di area itu. Beberapa sebesar rumah, beberapa kecil tapi beracun.”

“Kita bisa tangani,” kata Lyra Junior, tapi suaranya tidak yakin.

“Lapisan ketiga: Voidlings. Banyak. Ratusan, mungkin ribuan. Dan tidak seperti yang di gua—ini lebih kuat, lebih terorganisir.”

Kaelan mengingat Overseer. Jika yang di citadel lebih kuat dari itu…

“Lapisan keempat: trap dan puzzle. Citadel dulunya benteng mage kuno. Penuh dengan trap magic, puzzle yang butuh pengetahuan kuno untuk lewati.”

“Dan kita punya pengetahuan itu?” tanya Kaelan.

“Sebagian.” Thorne melihat Archmage Lyra. “Archmage telah beri aku naskah tentang citadel. Tapi tidak lengkap.”

Lyra mengangguk. “Citadel dibangun oleh Ancient Ones, sebelum Sistem seperti sekarang. Arsitekturnya… aneh. Tidak mengikuti logika biasa.”

“Lapisan kelima,” lanjut Thorne, “adalah Malakar sendiri. Dan mungkin… pasukan pribadinya.”

“Pasukan?” tanya Elara.

“Menurut intel, dia tidak sendirian. Dia punya pengikut. Manusia yang percaya padanya. Yang rela menjadi… eksperimen.”

Itu buruk. Melawan monster satu hal. Melawan manusia yang percaya mereka benar… itu lain.

“Ritualnya dimana?” tanya Kaelan.

Thorne menunjuk pusat citadel. “Di ruang utama. Di bawah kubah kaca besar. Tapi untuk mencapainya, kita harus lewati semua lapisan.”

“Ada jalan pintas?” tanya Garrick.

“Mungkin.” Thorne menunjuk terowongan tambang. “Jika kita masuk lewat sini, kita bisa hindari beberapa lapisan. Tapi terowongan itu… tidak stabil. Dan penuh dengan… sesuatu.”

“Something?” tanya Lyra Junior.

“Intel tidak jelas. Tapi ada laporan tentang… suara. Jeritan. Dari dalam terowongan.”

Semua diam. Itu semakin menyeramkan.

“Kapan bulan purnama?” tanya Elara.

“Tiga hari dari sekarang,” jawab Lyra. “Tapi kita butuh waktu untuk mencapai citadel—dua hari perjalanan normal. Jadi kita harus berangkat sekarang.”

“Equipment?” tanya Garrick.

“Sudah siap.” Lyra menunjuk ke sudut ruangan, di mana tas besar dan senjata disusun rapi. “Mantel termal, potion, makanan khusus untuk cuaca dingin, senjata dengan enchantment anti-void.”

“Dan untukku?” tanya Kaelan.

Lyra melihatnya. “Untukmu… aku punya sesuatu spesial.” Dia mengambil kotak kayu kecil, membukanya. Di dalamnya, gelang perak dengan batu biru.

“[ECHO STABILIZER],” kata Lyra. “Artifact kuno. Membantu mengontrol echo, mengurangi risiko overload.”

Kaelan mengambilnya, merasakan energi tenang darinya. “Terima kasih.”

“Jangan berterima kasih dulu. Itu punya side effect: memperlambat absorption rate. Kau tidak bisa menyerap cepat saat memakainya.”

Trade-off. Kontrol vs kecepatan. Tapi mungkin diperlukan.

“Ada lagi,” kata Thorne. “Tentang artefak yang Malakar temukan.”

Semua memperhatikan.

“Menurut naskah kuno, di bawah citadel ada… ruang tersembunyi. Berisi sesuatu dari sebelum Sistem. Ancient Ones menyebutnya ‘The First Seed’.”

“First Seed?” tanya Elara.

“Benih pertama dari… apapun yang datang sebelum Sistem. Malakar percaya dengan itu, dia bisa ‘menanam ulang’ dunia. Menghapus Sistem yang ada, membuat yang baru.”

“Yang dia kendalikan,” tambah Kaelan.

“Mungkin. Atau yang dia pikir ‘sempurna’. Tanpa ketidaksetaraan.”

Tapi tidak ada yang sempurna. Dan mencoba membuat kesempurnaan selalu berakhir bencana.

“Jadi misi kita,” kata Elara, merangkum, “adalah masuk ke Icepeak Citadel, lewati lima lapisan pertahanan, hentikan ritual Malakar sebelum bulan purnama, dan mungkin hancurkan First Seed.”

“Dan jangan mati,” tambah Garrick.

“Ya. Itu juga.”

Semua tertawa kecil, tapi tegang.

“Kita berangkat dalam satu jam,” kata Elara. “Siapkan diri. Secara mental, fisik, spiritual.”

Mereka bubar. Kaelan pergi ke kamarnya untuk mengemas. Gelang Echo Stabilizer dia pakai, dan langsung dia rasakan perbedaan—echo yang biasanya latar belakang konstan sekarang hampir tidak terasa. Seperti suara yang disenyapkan.

Tapi juga, Energy Sense-nya berkurang. Dia tidak bisa merasakan energi orang lain sejelas dulu.

Trade-off.

Ada ketukan di pintu. Sera, Borin, dan Aria.

“Kami datang untuk mengucapkan selamat jalan,” kata Sera. “Dan memberi… hadiah.”

Borin memberikan batu kecil. “[EARTH ANCHOR]. Membantu tetap stabil di badai.”

Aria memberikan sarung tangan. “[LIGHTNING CONDUIT]. Meningkatkan kontrol elemental.”

Sera memberikan kalung. “[SPEED MARKER]. Memberi burst kecepatan sekali sehari.”

Kaelan terharu. “Terima kasih. Untuk semuanya.”

“Kau murid terbaik kami,” kata Aria. “Jangan buat kami malu.”

“Dan jangan jadi seperti Malakar,” tambah Sera, serius. “Ingat: kekuatan untuk membantu, bukan mengontrol.”

Kaelan mengangguk. “Aku janji.”

Mereka pergi, dan Kaelan menyelesaikan packing. Dia melihat dirinya di cermin: bukan lagi anak desa yang ketakutan. Bukan juga pahlawan percaya diri. Sesuatu di antaranya. Seseorang yang tahu bahaya, tapi maju tetap.

Dia bergabung dengan yang lain di gerbang Institute. Kereta kuda besar menunggu, dengan kuda kuat yang bisa tangani salju.

Tim lengkap: Elara, Garrick, Lyra Junior, Thorne, dan dia. Plus dua pengemudi kereta dan tiga pengawal tambahan.

“Semua siap?” tanya Elara.

Semua mengangguk.

“Kalau begitu… berangkat.”

Kereta mulai bergerak, meninggalkan ibu kota. Menuju Frozen North. Menuju Icepeak Citadel.

Menuju pertempuran yang akan menentukan nasib dunia Sistem.

Di perjalanan, Kaelan melihat keluar jendela. Kota berubah menjadi pedesaan, lalu menjadi hutan, lalu menjadi pegunungan. Dan di kejauhan, puncak putih—Frozen North.

Dia merasakan sesuatu. Bukan ketakutan. Bukan keberanian.

Tujuan.

Dia adalah Destiny Absorber. Dan takdirnya adalah menghentikan Malakar.

Apapun konsekuensinya.

[QUEST UPDATED: JOURNEY TO ICEPEAK CITADEL]
[OBJECTIVE: REACH CITADEL BEFORE FULL MOON]
[TIME REMAINING: 3 DAYS]
[WARNING: MULTIPLE THREAT LAYERS AHEAD]

Perjalanan dimulai. Dan waktu terus berjalan.


[END OF CHAPTER 13]
[WORD COUNT: 1,860]
[NEXT: BAB 14 – PERSIAPAN EKSPEDISI]