Bab 13: Pertemuan di Tebing

Ukuran:
Tema:

Fajar menyingsing dengan cahaya kemerahan yang menyapu kegelapan jurang. Lin Ming membuka mata, tubuhnya telah pulih sepenuhnya berkat kombinasi air energi emas dan meditasi semalam. Energinya penuh pada 35/35 unit, dan lapisan Qi di Dantiannya stabil seolah-olah telah mengendap selama berminggu-minggu. Teknik “Langkah Angin” yang baru ia peroleh memberikan sensasi ringan pada langkahnya, seolah gravitasi memiliki pegangan yang lebih longgar padanya.

Dia memeriksa perbekalan terakhirnya. Air emas tinggal setengah botol, daun Pedang Perak Bulan masih segar, dan daging Elang Tebing Besi yang telah ia asap memberikan persediaan makanan untuk beberapa hari. Yang paling berharga adalah Monster Core angin yang berdenyut dengan energi halus di telapak tangannya.

“System, bisakah aku mulai memahami Hukum Angin dari core ini?” tanyanya dalam hati.

[Analisis Monster Core (Angin) Tingkat E…] [Core mengandung pola energi angin dasar. Host dapat mencoba menyerap sedikit untuk merasakan esensinya, atau menggunakan fitur Analisis Hukum Dasar untuk mempelajari polanya tanpa menyerap.] [Rekomendasi: Gunakan Analisis Hukum Dasar terlebih dahulu untuk menghindari konflik energi.]

“Gunakan Analisis Hukum Dasar.”

Sistem mengaktifkan mode analisis. Pandangan Lin Ming berubah—ia melihat core bukan sebagai benda fisik, tapi sebagai kumpulan pola energi yang berputar dalam formasi spiral. Setiap putaran mewakili prinsip angin: kebebasan, gerakan, perubahan, ketidakpastian. Ia menghabiskan satu jam hanya untuk mengamati pola-pola ini, mencoba memahami logika di baliknya.

[Pemahaman Hukum Angin: Dasar (Baru)] [Sintesis Poin +3.]

Tiga poin hanya dari pengamatan awal. Sistem baru benar-benar berbeda—ia memberi imbalan untuk pembelajaran, bukan pembunuhan.

Dengan 3 poin tambahan (total sekarang 13.5 Sintesis Poin setelah mencapai Lapis 2), Lin Ming mempertimbangkan untuk mensintesis sesuatu yang lain. Tapi untuk sekarang, ia perlu fokus pada pendakian.

Dia melanjutkan perjalanan naik. Jalur semakin curam dan berbahaya. Di beberapa titik, ia harus melompati celah selebar dua meter atau memanjat tebing vertikal dengan hanya tonjolan batu kecil sebagai pegangan. Teknik Langkah Angin membantunya—dengan mengalirkan 0.5 unit energi ke kaki, ia bisa meringankan tubuhnya dan melompat lebih jauh.

Setelah tiga jam mendaki, ia mencapai ketinggian di mana udara mulai tipis dan suhu turun drastis. Kabut menyelimuti tebing, membatasi pandangan. Di sinilah ia mendengar suara—bukan suara alam atau makhluk, tapi suara manusia.

“Fokus! Bentuk formasi segitiga!” “Jangan biarkan mereka mengelilingi kita!” “Panah! Panah ke mata yang kiri!”

Suara pertempuran. Beberapa orang bertarung melawan sesuatu. Lin Ming segera meredupkan cahaya dari tubuhnya dan merangkak mendekati tepi tebing. Dari balik batu besar, ia mengintip.

Di sebuah dataran sempit sekitar lima puluh meter di atasnya, sekelompok lima orang sedang bertarung melawan sepasang makhluk yang mirip dengan Scaled Crawler tapi lebih besar, dengan sisik berwarna tembaga dan mata merah menyala.

[Analisis: “Copperback Crawler” – evolusi Scaled Crawler.] [Tingkat Ancaman: E+ (mendekati D-).] [Kelompok manusia: 3 pria, 2 wanita. Tingkat kultivasi: 3 orang Lapis 2 Qi Gathering, 2 orang Lapis 3.]

Kelompok itu mengenakan seragam biru dengan emblem bulan sabit di dada—seragam sekte yang tidak ia kenal. Mereka terorganisir dengan baik, bergerak dalam formasi, saling melindungi. Satu pria dengan janggut (Lapis 3) menjadi pemimpin, memberi perintah.

“Ling! Serang dari kiri dengan teknik Esmu! Jian, tahan yang kanan dengan Perisai Bumi!”

Mereka jelas berpengalaman. Tapi Copperback Crawler kuat—satu dari mereka sudah melukai salah satu wanita, yang kini berdarah dari lengan.

Lin Ming menghitung pilihan. Membantu mereka bisa memberinya informasi dan mungkin jalur keluar. Tapi juga bisa membahayakan jika mereka bermusuhan. Atau, ia bisa menunggu sampai pertempuran selesai dan mendekati dengan hati-hati.

Tapi sebelum ia memutuskan, sesuatu terjadi. Salah satu Copperback Crawler mengeluarkan suara melengking, dan dari celah tebing di samping, tiga Scaled Crawler biasa muncul, menyerang dari samping.

Kelompok itu kewalahan. Formasi mereka pecah. Wanita yang terluka hampir diterjang, tapi pria Lapis 3 menyelamatkannya dengan mengorbankan dirinya—cakar Copperback melukai pahanya.

“Senior Liu!” teriak salah satu dari mereka.

Lin Ming tidak bisa lagi hanya menonton. Apapun niat kelompok ini, membiarkan manusia dimangsa makhluk jurang bukan pilihannya. Dengan cepat, ia merencanakan intervensi.

Dia mengambil batu besar dan melemparkannya ke arah Scaled Crawler yang mendekati wanita terluka. Batu itu menghantam punggung makhluk itu, mengalihkan perhatiannya. Saat semua mata tertuju ke arah batu datang, Lin Ming melompat turun dari tebing dengan Langkah Angin, mendarat ringan di dataran.

“Siapa kau?!” teriak pria Lapis 3, Senior Liu, sambil tetap bertahan melawan Copperback.

“Bantu dulu, tanya nanti!” sahut Lin Ming. Ia langsung bergerak. Dengan Penguatan Diri Qi untuk kecepatan, ia menghampiri Scaled Crawler yang paling dekat dengan wanita terluka. Senjata cakarnya diayunkan, menargetkan titik lemah di bawah leher yang telah ia pelajari dari simulasi.

Satu tebasan tepat. Scaled Crawler itu roboh.

Yang lain dari kelompok itu terkejut tapi segera mengambil kesempatan. “Serang bersama orang asing ini!” perintah Senior Liu.

Lin Ming bergerak seperti angin, menggunakan kombinasi Langkah Angin dan Penguatan Diri Qi. Ia tidak menyerang langsung ke Copperback—itu terlalu berisiko—tapi membersihkan Scaled Crawler kecil terlebih dahulu. Dalam dua menit, ketiga Scaled Crawler sudah mati.

Kini tinggal dua Copperback Crawler. Kelompok asli sudah melukai satu, tapi mereka juga dalam kondisi buruk: dua orang terluka, energi hampir habis.

“Orang asing, bantu kami jepit yang kiri!” panggil seorang wanita Lapis 2 dengan rambut pendek.

Lin Ming mengangguk. Dengan Copperback yang terluka, ia menggunakan strategi sederhana: menarik perhatian. Dengan kelincahannya, ia mengelilingi makhluk itu, membuatnya bingung. Saat Copperback menyerangnya, Senior Liu dan wanita rambut pendek menyerang dari belakang.

Teknik mereka terkordinasi. Senior Liu menggunakan teknik tanah—batu-batu kecil terbang dan membentuk palu besar yang menghantam kepala Copperback. Wanita itu menggunakan teknik air—cambukan air tajam memotong kaki belakang makhluk itu. Lin Ming, melihat kesempatan, melepaskan Telapak Guntur ke mata yang terbuka.

Tiga serangan bersamaan. Copperback itu menjerit lalu ambruk.

Satu tersisa. Tapi makhluk ini lebih pintar—melihat temannya mati, ia mundur, mendesis marah, lalu membalik dan melarikan diri ke celah tebing.

Pertempuran selesai. Napas berat memenuhi udara. Kelompok itu segera merawat yang terluka, sementara Lin Ming berdiri agak jauh, waspada.

Senior Liu, meski pahanya terluka, mendekatinya dengan langkah tertatih. “Kami berhutang budi padamu. Aku Liu Feng dari Sekte Bulan Sabit. Dan kau adalah?”

“Lin,” jawab Lin Ming singkat, tidak menyebutkan nama lengkap. “Aku tersesat di jurang ini.”

Liu Feng memandangnya dari ujung kepala sampai kaki, memperhatikan armor sisik buatan sendiri, senjata primitif, tapi juga aura energi yang stabil. “Tersesat? Tapi kau kuat. Lapis 2 tapi bisa bergerak seperti Lapis 3.”

“Beruntung saja,” kata Lin Ming. “Kalian dari sekte? Apa yang kalian lakukan di sini?”

“Misii berburu,” jawab wanita rambut pendek yang mendekat. “Aku Mei Ling. Kami mencari bahan untuk alkimia—beberapa tanaman langka hanya tumbuh di tebing jurang ini.” Dia melihat luka di lengan Lin Ming dari pertempuran sebelumnya. “Kau terluka. Mau diobati? Kami punya salep.”

Lin Ming melihat salep di tangan Mei Ling. “Terima kasih.” Ia menerimanya, mengoleskan sedikit di luka yang sebenarnya sudah mulai sembuh berkat Regenerasi Kulit Cepat.

Kelompok Sekte Bulan Sabit ini terdiri dari: Liu Feng (Lapis 3, pemimpin), Mei Ling (Lapis 2, ahli alkimia), Jian (Lapis 2, bertubuh besar, ahli pertahanan), Tao (Lapis 3, pria kurus dengan panah), dan Yan (Lapis 2, wanita terluka parah di lengan).

Mereka duduk beristirahat, mengobati luka, sambil mengawasi sekeliling. Lin Ming diberi tempat duduk dan sebagian ransum mereka—kue kering dan daging asap yang lebih enak daripada makanannya selama ini.

“Jadi, Lin, bagaimana kau bisa tersesat di sini?” tanya Tao yang kurus, matanya tajam penuh kecurigaan.

“Terjatuh,” jawab Lin Ming jujur. “Dari atas. Sudah lama.”

“Sendirian? Bertahan di dasar jurang?” Liu Feng terkesan. “Itu luar biasa. Bahkan murid inti sekte kami akan kesulitan.”

“Ada banyak makhluk berbahaya di bawah,” kata Lin Ming. “Aku hanya beruntung.”

Mei Ling memeriksa sisik di armor Lin Ming. “Ini dari Scaled Crawler, ya? Kau membuatnya sendiri? Kerajinan bagus untuk kondisi terbatas.”

“Terpaksa belajar,” ujar Lin Ming.

Mereka berbincang lebih lanjut. Lin Ming belajar bahwa Sekte Bulan Sabit adalah sekte menengah di wilayah ini, tidak sebesar Sekte Pedang Awan tapi cukup dihormati. Mereka khusus dalam alkimia dan formasi. Mereka berada di jurang ini selama seminggu, berkemah di puncak, dan turun setiap hari untuk mengumpulkan bahan.

“Dunia di atas… bagaimana keadaannya?” tanya Lin Ming mencoba tidak terdapat terlalu bersemangat.

Liu Feng menghela napas. “Tegang. Konflik antara sekte-sekte meningkat. Beberapa sekte kecil sudah diserang oleh yang tidak dikenal—mungkin Kultus Iblis bangkit lagi.”

Kultus Iblis. Lin Ming ingat dokumen konteks—nanti akan ada invasi Kultus Iblis Darah. Tampaknya tanda-tanda sudah muncul.

“Dan Sekte Pedang Awan?” tanyanya, mencoba santai.

“Masih berdiri, tapi ada masalah internal. Kudengar ada skandal—beberapa murid luar tewas atau hilang, dan ada yang dituduh mencuri pil.” Liu Feng melihat Lin Ming. “Kau kenal sekte itu?”

“Pernah mendengar,” jawab Lin Ming singkat. Jadi, Zhang Hu dan kawan-kawan mungkin menggunakan kematiannya (atau hilang) sebagai alasan untuk menutupi pencurian mereka. Biasa saja.

Setelah istirahat, kelompok itu mengemas. “Kami akan kembali ke perkemahan di atas,” kata Liu Feng. “Kau mau ikut? Lebih aman, dan kita bisa membantumu keluar dari jurang.”

Lin Ming mempertimbangkan. Bergabung dengan mereka memberinya perlindungan dan informasi, tapi juga risiko—jika mereka mengetahui identitas aslinya atau menginginkan barang-barangnya. Tapi tampaknya mereka orang baik.

“Baik, aku akan ikut.”

Pendakian bersama lebih mudah. Kelompok ini tahu jalur yang lebih aman, dan dengan kekuatan gabungan, makhluk kecil tidak berani mendekat. Dalam perjalanan, Lin Ming bertanya lebih banyak tentang dunia di atas. Ia mengetahui bahwa tiga bulan telah berlalu sejak ia jatuh—lebih lama dari yang ia kira. Banyak yang berubah.

Mereka tiba di perkemahan di sebuah dataran di tepi jurang, sekitar seratus meter di bawah puncak. Beberapa tenda didirikan, dengan formasi pelindung sederhana di sekelilingnya. Ada tiga anggota lain yang menjaga.

“Kembali!” sambut salah satu penjaga. “Dan bawa tamu?”

“Lin, penyintas jurang,” perkenalkan Liu Feng. “Dia menyelamatkan kami dari Copperback.”

Lin Ming diperkenalkan pada yang lain. Ia diberikan tenda kecil dan diundang makan malam bersama. Makanan panas pertama sejak lama—sup dengan daging dan sayuran. Lin Ming hampir menangis merasakannya.

Malam hari, di sekitar api unggun, Liu Feng bercerita tentang misi mereka. “Kami mencari ‘Bunga Bulan Jurang’—berbunga hanya saat bulan purnama di ketinggian ini. Besok adalah waktu terakhir untuk tahun ini. Setelah dapat, kami akan kembali.”

“Dan setelah itu?” tanya Lin Ming.

“Kembali ke sekte. Kau bisa ikut jika mau. Sekte kami menerima pengembara berbakat sebagai murang luar.”

Tawaran menarik. Tapi Lin Ming punya tujuan lain—kembali ke Sekte Pedang Awan untuk menyelesaikan urusannya. Tapi mungkin Sekte Bulan Sabit bisa menjadi tempat sementara untuk meningkatkan kekuatan lebih lanjut.

“Biarkan aku berpikir,” katanya.

Malam itu, di tendanya, Lin Ming memeriksa sistem. Dari interaksi hari ini dan pertempuran, ia mendapatkan beberapa Sintesis Poin.

[Pertempuran kelompok: +2 SP] [Pembelajaran dari teknik kelompok: +1 SP (mengamati teknik tanah dan air)] [Total Sintesis Poin: 16.5]

Dia juga mempelajari sesuatu dari mengamati teknik kelompok itu. Sistem menganalisis pola energi mereka, memberikan wawasan tentang Hukum Tanah dan Air.

[Pemahaman Hukum Tanah meningkat: Dasar → Menengah.] [Pemahaman Hukum Air: Dasar (Baru).]

Kemajuan bagus. Lin Ming kemudian mencoba mensintesis dua hukum yang ia pahami: Tanah dan Guntur.

“System, bisakah aku menyintesis pemahaman Tanah dan Guntur?”

[Analisis kompatibilitas…] [Tanah: stabil, mendukung, kokoh.] [Guntur: dinamis, menghancurkan, berubah.] [Sintesis mungkin menghasilkan pemahaman tentang “Gempa” atau “Ledakan”. Biaya: 10 SP.]

Lin Ming memiliki 16.5 SP. Ia memutuskan mencoba. “Lakukan sintesis.”

[Memulai sintesis Hukum Tanah dan Guntur…] [10 SP dikonsumsi.] [Mencari titik temu…] [Menciptakan pemahaman baru: “Hukum Getaran” (Tingkat Dasar).]

Getaran. Itu masuk akal—guntur menghasilkan getaran suara, tanah menghantarkan getaran. Lin Ming tiba-tiba memahami sesuatu tentang cara energi bergerak melalui materi, tentang resonansi, tentang bagaimana Indera Getaran Bumi-nya bekerja di tingkat lebih dalam.

[Pemahaman Hukum Getaran: Dasar.] [Efek: Meningkatkan efektivitas teknik berbasis getaran sebesar 15%. Memungkinkan pengembangan teknik baru.]

Ini berharga. Lin Ming bisa merasakan ia sekarang lebih sensitif terhadap getaran di sekitarnya bahkan tanpa mengaktifkan bakat.

Keesokan harinya, kelompok berangkat mencari Bunga Bulan Jurang. Lin Ming ikut, sebagai pembayaran untuk bantuan mereka. Bunga itu tumbuh di tebing vertikal yang sulit dijangkau, dijaga oleh makhluk seperti kelelawar besar.

“Kita butuh seseorang yang lincah untuk memanen bunga sementara kami mengalihkan perhatian penjaga,” kata Liu Feng. Semua mata tertuju pada Lin Ming.

“Kau yang paling lincah di antara kami, Lin,” kata Mei Ling. “Mau mencoba?”

Lin Ming mengangguk. Ini kesempatan untuk membalas budi. Dengan Langkah Angin dan kemampuan memanjatnya dari bertahan di jurang, ia adalah yang terbaik untuk tugas ini.

Rencananya: kelompok akan menarik perhatian koloni kelelawar dengan umpan dan suara, sementara Lin Ming memanjat tebing ke lokasi bunga.

Eksekusi berjalan hampir sempurna. Saat kelelawar-kelawar menyerang kelompok, Lin Ming dengan cepat memanjat tebing. Bunga Bulan Jurang ternyata indah—kelopak putih keperakan yang memancarkan cahaya lembut. Ada tiga bunga. Dengan hati-hati, ia memanen dua, menyisakan satu untuk regenerasi.

Tapi saat ia turun, seekor kelelawar raksasa—ratu koloni—menyadari tipuannya. Ia menukik ke arah Lin Ming dengan kecepatan tinggi.

Lin Ming tidak punya pilihan selain melompat. Dari ketinggian sepuluh meter, ia mengaktifkan Langkah Angin maksimal, mengurangi berat tubuhnya, lalu menggunakan Hukum Getaran yang baru ia pahami untuk “membaca” angin dan mengarahkan jatuhnya.

Dia mendarat dengan berguling, aman. Tapi ratu kelelawar masih mengejar. Dengan cepat, ia mengambil salah satu bunga dan melemparkannya ke arah Mei Ling. “Ambil! Aku akan mengalihkannya!”

Dia berlari, menarik perhatian ratu kelelawar menjauh dari kelompok. Saat kelelawar itu hampir menyambarnya, Lin Ming tiba-tiba berhenti, berbalik, dan melepaskan Telapak Guntur yang dimodifikasi dengan pemahaman Getaran—bukan hanya kilatan listrik, tapi gelombang kejut suara yang memekakkan telinga.

Ratu kelelawar, yang bergantung pada ekolokasi, kebingungan total. Ia menabrak tebing dan jatuh pusing.

Lin Ming segera bergabung kembali dengan kelompok yang sudah menyelesaikan kelelawar lain. “Satu bunga hilang,” katanya menyesal.

“Tidak apa,” kata Liu Feng. “Dua cukup. Dan kau luar biasa—lompatan tadi, dan teknik suara itu… bukan teknik biasa.”

Mereka kembali ke perkemahan dengan dua bunga. Misi selesai. Saat berkemas untuk kembali, Liu Feng mendekati Lin Ming.

“Kau pasti bukan pengembara biasa. Tapi setiap orang punya rahasia. Yang penting kau membantu kami. Masih mau ikut ke Sekte Bulan Sabit?”

Lin Ming berpikir. Ia perlu informasi lebih tentang dunia, tentang Sekte Pedang Awan, dan butuh tempat untuk konsolidasi. Sekte Bulan Sabit mungkin jawaban sementara.

“Aku akan ikut,” katanya. “Tapi hanya sebagai tamu sementara. Aku punya… urusan yang harus diselesaikan nanti.”

Liu Feng mengangguk. “Kami menghormati itu. Mari, dunia di atas menunggu.”

Kelompok itu mulai mendaki jalur terakhir menuju puncak jurang. Lin Ming melangkah, melihat ke atas di mana cahaya matahari sepenuhnya menerangi jalan. Setelah berbulan-bulan di kegelapan jurang, akhirnya ia akan kembali.

Tapi ia tahu, kembalinya bukan sebagai korban yang hina, melainkan sebagai praktisi dengan warisan kuno dan sistem unik. Dunia persilatan tidak akan sama lagi baginya.

Dan urusannya dengan Sekte Pedang Awan… itu hanya permulaan.