Bab 19: Laporan dan Rencana Serangan
Perjalanan kembali dari Pegunungan Darah Berawan terasa lebih menegangkan daripada pergi. Setiap suara, setiap bayangan, seakan menyembunyikan ancaman. Tim pengintai bergerak dengan kecepatan maksimum, hanya berhenti sebentar untuk istirahat dan memastikan tidak ada pengejar. Lin Ming menggunakan Indera Getaran Bumi secara terus-menerus, memantau getaran kaki hingga radius lima puluh meter. Untungnya, sepertinya Kultus Iblis tidak mengirim pasukan besar untuk mengejar—mungkin karena fokus pada persiapan ritual.
“Hari ini adalah hari ketiga sejak kita meninggalkan Sekte Pedang Awan,” kata Liu Feng saat mereka beristirahat sebentar di sebuah sungai kecil. “Jika perkiraan kita benar, ritual akan dilakukan besok atau lusa. Kita harus kembali sebelum matahari terbenam.”
Mereka memacu kuda hingga batas kemampuan. Binatang spiritual itu, meski lelah, tetap patuh, seolah memahami urgensi situasi. Sore hari, puncak-puncak bangunan Sekte Pedang Awan akhirnya terlihat di kejauhan. Lin Ming melepaskan napas lega yang tidak disadari ditahannya.
Penjaga gerbang segera mengenali mereka dan membuka pintu besar. “Tim pengintai kembali! Laporkan ke aula utama segera!”
Mereka tidak sempat membersihkan diri atau berganti pakaian. Langsung menuju aula tempat rapat darurat sudah dimulai. Ternyata, para sesepuh dari lima sekte masih berkumpul, membahas perkembangan terbaru sambil menunggu kembalinya tim pengintai.
Ketika kedelapan anggota tim masuk, semua mata tertuju pada mereka. Sesepuh Lan berdiri, wajahnya menunjukkan kelegaan bercampur kecemasan. “Liu Feng, laporkan.”
Liu Feng maju ke depan, diikuti Lin Ming dan yang lain. “Sesepuh, kami telah mengamati markas Kultus Iblis di lembah Pegunungan Darah Berawan.” Dia kemudian menjelaskan secara rinci: jumlah musuh, struktur pertahanan, gerbang batu, tawanan, dan yang paling penting—informasi tentang ritual pembukaan gerbang besok atau lusa.
Lin Ming melengkapi dengan menunjukkan peta yang disalin dan dokumen yang diambil. “Mereka menggunakan pola pentagram dengan lima titik pengorbanan mengelilingi gerbang. Ritual membutuhkan pengorbanan simultan pada kelima titik tersebut, kemungkinan pada tengah hari atau tengah malam.”
Elder Mei dari Sekte Pedang Awan memeriksa peta itu dengan cermat. “Pola ini… ini adalah Ritual Pembukaan Gerbang Darah kuno. Catatan sejarah mengatakan ritual ini membutuhkan tidak hanya darah, tetapi juga energi spiritual murni dalam jumlah besar. Itu sebabnya mereka menyerang sekte-sekte dan desa—mengumpulkan sumber daya.”
“Berapa banyak waktu yang kita punya?” tanya Sesepuh Huo dari Sekte Gunung Berapi.
“Berdasarkan percakapan yang kami dengar, ritual akan dilakukan besok,” jawab Lin Ming. “Tapi tidak pasti pagi, siang, atau malam.”
Rapat darurat berlanjut dengan intensitas yang meningkat. Lima sesepuh dan para elder berdebat tentang strategi terbaik. Dua pandangan utama muncul: menyerang segera malam ini untuk kejutan, atau menunggu hingga besok dan menyergap saat ritual berlangsung ketika perhatian mereka terbagi.
“Menyerang malam ini berisiko,” kata Sesepuh Shui. “Pasukan kita belum sepenuhnya berkumpul. Beberapa kontingen dari sekte yang lebih jauh baru akan tiba besok pagi.”
“Tapi jika kita menunggu sampai ritual dimulai, mungkin sudah terlambat,” bantah Sesepuh Jin. “Begitu gerbang terbuka, entah apa yang akan keluar dari sana.”
Sesepuh Lan, yang telah mendengarkan dengan tenang, akhirnya berbicara. “Kita perlu strategi tiga lapis. Pertama, tim sabotase dikirim malam ini untuk mengganggu persiapan ritual dan jika memungkinkan, menyelamatkan tawanan. Kedua, pasukan utama bergerak subuh besok dan menyerang tepat sebelum perkiraan waktu ritual. Ketiga, cadangan tetap di sini untuk berjaga-jaga jika ini jebakan atau ada serangan balik di tempat lain.”
Rencana itu diterima setelah diskusi lebih lanjut. Malam ini, tim sabotase beranggotakan dua puluh orang—terdiri dari ahli penyusupan, ahli formasi, dan petarung terampil—akan berangkat. Lin Ming, meski baru kembali dari misi pengintaian, mengajukan diri untuk bergabung.
“Kau yakin?” tanya Sesepuh Lan. “Kau sudah sangat lelah.”
“Saya mengenal medan dan punya kemampuan yang bisa membantu,” jawab Lin Ming. “Dan saya memiliki urusan yang belum selesai dengan beberapa anggota kultus.”
Maksudnya adalah Zhang Hu dan kawan-kawan. Sesepuh Lan mengerti, dan setelah pertimbangan, menyetujui.
Tim sabotase dipimpin oleh Elder Chen dari Sekte Pedang Awan—pria tua berparut yang ternyata ahli taktik gerilya. Lin Ming termasuk di dalamnya, bersama Liu Feng, Mei Ling, dan beberapa wajah baru dari berbagai sekte. Mereka diberikan waktu dua jam untuk beristirahat dan mempersiapkan.
Lin Ming kembali ke kamarnya. Meski lelah secara fisik, mentalnya waspada. Dia duduk bersila, melakukan sirkulasi Qi untuk memulihkan energi. Sistem menunjukkan statusnya:
[Energi: 32/50 (sedang dalam pemulihan)] [Kesehatan: 89/100 (kelelahan ringan)] [Sintesis Poin: 13.5]
Dia butuh lebih banyak kekuatan untuk misi nanti. Dengan 13.5 Sintesis Poin, dia bisa mensintesis sesuatu yang berguna. Dia memutuskan untuk meningkatkan pertahanan—misi sabotase akan penuh dengan risiko terkena serangan mendadak.
“System, sintesiskan Pertahanan Adaptif dengan pemahaman Hukum Energi untuk meningkatkan efisiensi.”
[Analisis…] [Pertahanan Adaptif (E) + Hukum Energi (Dasar) = “Perisai Adaptif Energi” (E+)] [Efek: Pertahanan tidak hanya menyesuaikan dengan jenis serangan, tetapi juga menyerap sebagian energi serangan untuk memperkuat pertahanan atau mengembalikan energi host. Konsumsi energi pasif: 0.1 unit/jam.] [Biaya: 10 Sintesis Poin.]
“Lakukan sintesis.”
[Memulai sintesis…] [10 Sintesis Poin dikonsumsi.] [Sintesis Poin tersisa: 3.5.]
Proses sintesis kali ini lebih halus. Lin Ming merasakan perubahan pada pertahanan energinya—seolah-olah kulitnya sekarang memiliki lapisan energi yang responsif, siap bereaksi terhadap ancaman apapun. Ini akan sangat berguna dalam pertempuran melawan kultus yang menggunakan berbagai teknik darah.
Dia juga memeriksa teknik barunya, Gelombang Guntur. Dengan pemahaman Hukum Getaran yang meningkat, dia bisa memodifikasinya menjadi lebih efisien. Dia berlatih singkat di kamar, menguji dengan konsumsi energi minimal.
Setelah satu jam, dia bergabung dengan tim sabotase di halaman latihan. Elder Chen sedang memberikan pengarahan.
“Tujuan kita: masuk diam-diam, letakkan formasi pengganggu di lima titik pentagram, selamatkan tawanan jika memungkinkan, dan sabotase persiapan ritual. Bukan untuk bertempur terbuka. Jika ketahuan, mundur segera. Kita akan menggunakan formasi teleportasi sekali pakai untuk kembali.”
Formasi teleportasi sekali pakai adalah harta berharga—hanya bisa digunakan sekali untuk membawa sekelompok orang kembali ke titik yang telah ditentukan. Sekte Bulan Sabit menyumbangkan tiga buah untuk misi ini.
“Bagi lima tim kecil. Setiap tim menuju satu titik pentagram. Tim keenam akan menyusup ke area tawanan. Tim ketujuh sebagai cadangan dan pengalih perhatian jika diperlukan.”
Lin Ming ditempatkan di tim kedua bersama Liu Feng dan dua anggota lain—seorang ahli formasi dari Sekte Sungai Terang bernama Lien, dan petarung dari Sect of Iron Will bernama Gang. Tugas mereka: menempatkan formasi pengganggu di titik timur pentagram.
Sebelum berangkat, Mei Ling memberi setiap anggota beberapa jimat. “Ini Pelindung Jiwa tingkat rendah. Akan melindungi dari upaya pengurasan energi atau darah selama beberapa menit. Juga, ini bom asap dan perangkat pembuat kebisingan untuk pengalihan.”
Malam semakin dalam ketika mereka berangkat. Kali ini tidak dengan kuda, tetapi dengan teknik perjalanan cepat dari Elder Chen yang mengurangi konsumsi energi perjalanan. Mereka bergerak seperti bayangan, melintasi hutan dan lembah dengan kecepatan yang mengejutkan.
Dalam perjalanan, Lin Ming merasakan sesuatu yang aneh. “Elder Chen, ada yang berbeda. Keadaan terlalu sepi.”
Elder Chen mengangguk. “Aku juga merasakannya. Sepertinya mereka memperketat keamanan atau… sedang mempersiapkan sesuatu yang besar.”
Ketika mereka mendekati Pegunungan Darah Berawan, bukti menjadi jelas: patroli lebih banyak, dan ada formasi pendeteksi energi yang dipasang di pinggiran wilayah. Kultus Iblis sedang siaga.
“Perubahan rencana,” bisik Elder Chen. “Kita tidak bisa masuk dengan lima tim terpisah. Terlalu berisiko ketahuan. Kita akan masuk sebagai satu kelompok, lalu berpisah setelah melewati garis pertahanan luar.”
Mereka menemukan celah: sebuah jalur sempit di tebing yang tidak dijaga, mungkin dianggap terlalu berbahaya untuk dilewati. Dengan keahlian memanjat Lin Ming dan yang lain, mereka berhasil melewatinya dan masuk ke lembah dari sisi yang tidak terduga.
Dari atas tebing, mereka melihat markas Kultus Iblis yang lebih sibuk dari sebelumnya. Obor-obor menyala di mana-mana, dan kultis berkeliaran seperti semut yang gelisah. Di area gerbang, persiapan tampak hampir selesai—lima altar batu telah didirikan di titik-titik pentagram, masing-masing dengan tiang pengikat.
“Ritual besok pagi,” gumam Elder Chen. “Mereka menyelesaikan persiapan malam ini. Kita harus bertindak sekarang.”
Tim berpisah sesuai rencana awal. Lin Ming dan timnya merayap menuju titik timur. Mereka harus melewati area latihan yang sekarang sepi, lalu melewati beberapa bangunan penyimpanan.
Tiba-tiba, suara langkah kaki mendekat. Mereka bersembunyi di balik tumpukan kayu. Dua kultis lewat, sedang berbicara.
“…Raja Iblis Muda marah karena penyusup tadi. Dia memerintahkan pengawalan ekstra pada tawanan utama.”
“Tawanan utama? Yang dari Sekte Pedang Awan itu?”
“Iya, gadis itu. Katanya darahnya spesial, cocok untuk jadi inti ritual.”
Lin Ming mendengarkan dengan tajam. Gadis dari Sekte Pedang Awan? Mungkin seseorang yang dia kenal? Dia ingat adik angkatnya, Xiao Lan, yang masih di sekte. Tapi tidak mungkin… kecuali jika dia ditangkap dalam serangan yang tidak mereka ketahui.
Setelah kultis lewat, mereka melanjutkan. Titik timur ternyata dijaga oleh empat kultis, bukan dua seperti yang diperkirakan. Mereka harus mencari cara lain.
“Ada saluran pembuangan di bawah,” bisik Lien sang ahli formasi. “Saya merasakan aliran air.”
Mereka menemukan saluran batu yang mengalirkan air dari mata air di pegunungan. Masuk ke dalam, mereka merayap melalui air setinggi lutut yang dingin. Saluran itu ternyata mengarah tepat ke bawah altar timur.
“Sempurna,” kata Liu Feng. “Kita bisa menempatkan formasi dari bawah.”
Lien mengeluarkan batu formasi khusus—segitiga kristal yang akan mengganggu aliran energi saat ritual. Dia menanamkannya di dasar altar melalui celah batu. “Selesai. Formasi ini akan aktif ketika ada aliran energi besar di atasnya, menyebabkan ketidakstabilan.”
Mereka keluar dari saluran dengan hati-hati. Tugas pertama selesai. Sekarang mereka harus menuju titik temu untuk bergabung dengan tim lain.
Tapi saat mereka akan bergerak, suara alarm tiba-tiba berbunyi—tidak dari area mereka, tapi dari arah barat laut. Salah satu tim lain ketahuan!
“Kode darurat! Berkumpul dan mundur!” suara Elder Chen terdengar di batu komunikasi mereka.
Namun, sebelum mereka bisa bergerak, lampu sorot menyapu area mereka. Suara teriakan: “Ada penyusup di sini juga!”
Mereka terkepung. Dari segala arah, kultis muncul, bersenjata. Lin Ming menghitung cepat: lima belas kultis, kebanyakan tingkat F+, dengan dua pemimpin tingkat E.
“Bertahan! Jangan terpisah!” perintah Liu Feng.
Pertempuran tidak bisa dihindari lagi.