Bab 2: Seni Kaisar Naga Surgawi dan Hukum Rimba

Ukuran:
Tema:

Cahaya fajar yang pucat menyusup melalui celah-celah dedaunan rimbun di Hutan Kematian, memantulkan siluet-siluet panjang dan menyeramkan di atas tanah yang lembap. Di dalam gua yang sunyi, Lin Tian duduk bersila di atas batu datar yang dingin. Matanya terpejam rapat, napasnya teratur dan dalam, seirama dengan detak jantungnya yang kini berdegup dengan kekuatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Pikirannya sepenuhnya tenggelam ke dalam ruang kesadarannya, tempat di mana aksara-aksara emas kuno melayang dan berputar membentuk sebuah kitab suci ilahi: Seni Kaisar Naga Surgawi.

Seiring kesadarannya menyentuh aksara-aksara tersebut, informasi yang sangat besar dan kuno mengalir ke dalam otaknya bagaikan air bah yang menjebol bendungan. Untungnya, jiwa Lin Tian telah ditempa oleh penderitaan yang luar biasa malam sebelumnya, membuatnya mampu menahan lonjakan informasi ini tanpa kehilangan kewarasan.

Seni Kaisar Naga Surgawi bukanlah teknik kultivasi biasa yang menyerap Qi dari alam secara perlahan dan menyimpannya di Dantian. Teknik ini adalah metode perampasan mutlak. Teknik ini memandang seluruh alam semesta—langit, bumi, bintang-bintang, bahkan energi kehidupan makhluk lain—sebagai sumber daya yang bisa ditelan dan dimurnikan oleh sang pengguna. Ini adalah jalan kultivasi yang sangat mendominasi, sombong, dan menentang kehendak langit itu sendiri.

Teknik ini terbagi menjadi sembilan lapisan besar, dan setiap lapisannya mewakili lompatan evolusi yang mengerikan. Lapisan pertama yang kini terbuka bagi Lin Tian bernama Tubuh Sisik Naga Tembaga.

“Untuk menguasai langit, seseorang harus memiliki tubuh yang mampu menopang beratnya langit itu sendiri,” gumam Lin Tian dalam hati, mengulangi kalimat pembuka dari lapisan pertama tersebut.

Di Benua Cakrawala, Alam Penempaan Tubuh adalah fondasi dasar dari semua praktisi bela diri. Manusia biasa menyerap Qi secara dangkal untuk memperkuat kulit, otot, dan tulang mereka melalui sembilan tingkatan. Namun, Tubuh Sisik Naga Tembaga menuntut penggunanya untuk menghancurkan batas fisik manusia. Qi Naga Surgawi yang berwarna emas tidak hanya memperkuat otot, tetapi meresap ke dalam sumsum tulang, mengubah struktur sel, dan menggantikan darah merah biasa dengan esensi darah yang mengandung jejak garis keturunan naga purba.

Lin Tian perlahan membuka matanya. Ia menunduk, mengamati telapak tangannya. Meski kulitnya tampak seputih batu giok dan sangat halus, ia bisa merasakan kepadatan yang mengerikan di baliknya. Ia mengepalkan tinjunya dengan santai, dan udara di sekitarnya berdesir seolah tertekan oleh kekuatan tak kasatmata.

Namun, ada satu hal yang membuatnya tersenyum getir. “Kultivasiku… jatuh kembali ke Alam Penempaan Tubuh Tingkat Pertama.”

Sebelum pengkhianatan Zhao Meng’er, Lin Tian berada di puncak Tingkat Sembilan. Dantiannya yang hancur dan pembentukan ulang oleh Mutiara Naga telah menghapus seluruh Qi bawaan lamanya. Akan tetapi, kekecewaan itu hanya berlangsung sesaat. Ia segera menyadari bahwa meskipun ia berada di Tingkat Pertama, ukuran meridian emasnya sepuluh kali lebih lebar dari sebelumnya, dan kemurnian Qi Naga Surgawi di dalam Dantian barunya tidak bisa dibandingkan dengan Qi keruh miliknya di masa lalu.

“Kekuatan fisik murniku saat ini, bahkan di Tingkat Pertama, setara dengan kultivator Alam Penempaan Tubuh Tingkat Lima atau Enam. Fondasiku kini sedalam lautan,” mata Lin Tian berkilat tajam. “Zhao Meng’er… kau mengira telah mengambil semuanya dariku, tetapi kau justru membukakan pintu menuju keabadian bagiku.”

Perut Lin Tian tiba-tiba bergemuruh keras, memecah keheningan gua. Rasa lapar yang luar biasa menyergapnya. Proses rekonstruksi tubuh oleh Mutiara Naga membutuhkan energi kehidupan yang masif, dan karena ia belum bisa menyerap energi murni dari alam secara efisien, tubuhnya membakar habis nutrisi fisiknya. Ia butuh makan, dan ia butuh energi spiritual yang besar untuk mulai mempraktikkan Tubuh Sisik Naga Tembaga.

Ia bangkit berdiri, meregangkan tubuhnya hingga tulang-tulangnya berbunyi gemeretak seperti kacang yang disangrai. Pakaian sutra Tuan Muda Klan Lin yang ia kenakan kini telah robek dan berlumuran darah kering, tampak seperti kain lap yang menjijikkan. Ia merobek bagian bawah jubahnya yang mengganggu pergerakan, mengikat rambut panjangnya yang berantakan dengan secarik kain, dan melangkah keluar dari gua.

Udara pagi di Hutan Kematian terasa basah dan membawa aroma khas dedaunan membusuk bercampur dengan bau anyir darah yang samar. Hutan ini adalah wilayah terlarang bagi penduduk biasa Kota Daun Musim Gugur. Pohon-pohon raksasa dengan akar sebesar tubuh manusia saling melilit, menutupi sinar matahari dan menciptakan wilayah bayangan yang abadi di bawahnya. Binatang buas mematikan dan tanaman beracun bersembunyi di setiap sudut. Bahkan kelompok pemburu berpengalaman dari kota hanya berani menjelajahi area pinggiran hutan ini.

Lin Tian kini berada di area pertengahan, tempat di mana para penjaga klan membuangnya semalam, mengira ia pasti akan mati.

Dengan indra yang kini diperkuat oleh Qi Naga Surgawi, Lin Tian menajamkan pendengaran dan penciumannya. Ia bisa mendengar suara gemercik air mengalir sekitar satu mil ke arah timur. Ia segera bergerak. Langkahnya sangat ringan, hampir tidak menimbulkan suara saat sepatu botnya yang koyak menginjak tumpukan daun kering. Kelincahannya meningkat drastis; tubuhnya terasa ringan bagaikan bulu, namun bertenaga bagaikan badak bercula baja.

Sepuluh menit kemudian, ia tiba di sebuah sungai kecil dengan air yang jernih. Ia segera berlutut, menciduk air dengan kedua tangannya, dan meminumnya dengan rakus. Air dingin itu mengalir melewati tenggorokannya, memberikan kesegaran yang sangat ia butuhkan. Setelah dahaganya hilang, ia membasuh wajahnya yang dipenuhi noda darah dan lumpur.

Permukaan air sungai yang tenang memantulkan bayangan wajahnya. Wajah itu masih milik Lin Tian yang berusia tujuh belas tahun, dengan alis pedang dan rahang yang tegas. Namun, aura yang dipancarkannya telah berubah total. Tidak ada lagi kelembutan dan kepolosan seorang tuan muda yang dibesarkan di balik tembok klan yang aman. Matanya yang gelap kini memiliki kedalaman yang mengerikan, sedingin es, dengan kilatan emas yang kadang-kadang muncul di kedalaman pupilnya saat ia memfokuskan pandangannya. Itu adalah tatapan seorang predator.

Kres.

Sebuah suara ranting patah yang sangat pelan, nyaris tak terdengar, tertangkap oleh telinga Lin Tian. Suara itu berasal dari semak-semak lebat sekitar dua puluh langkah di seberang sungai.

Tubuh Lin Tian seketika menegang. Aliran darahnya melaju cepat, bukan karena panik, melainkan karena insting bertarung yang terbangun. Ia tidak segera berbalik atau menunjukkan tanda-tanda kepanikan. Ia perlahan bangkit dari posisi berlututnya, berpura-pura mengusap air dari dagunya, sementara seluruh otot di tubuhnya telah mengencang bagaikan tali busur yang ditarik maksimal.

Di balik semak-semak itu, sepasang mata merah menyala menatapnya dengan penuh rasa lapar. Seekor Macan Tutul Bayangan Darah sedang mengintai. Itu adalah binatang buas demonic tingkat rendah yang kekuatannya setara dengan kultivator Alam Penempaan Tubuh Tingkat Empat. Macan tutul ini terkenal dengan kecepatannya yang bagaikan hantu dan cakar beracunnya yang bisa melelehkan daging.

Binatang itu menyeringai, memperlihatkan taring-taringnya yang kuning dan meneteskan air liur. Di matanya, manusia muda berpakaian compang-camping di depannya hanyalah mangsa empuk yang bahkan tidak memancarkan fluktuasi Qi yang kuat.

WUSSS!

Macan Tutul Bayangan Darah itu melesat keluar dari persembunyiannya. Gerakannya sangat cepat hingga hanya menyisakan bayangan merah kabur di udara. Ia melompati sungai selebar lima meter itu dalam satu lompatan mulus, mengarahkan cakarnya yang setajam silet langsung ke tenggorokan Lin Tian. Angin tajam menyertai serangannya, membawa bau busuk kematian.

Namun, di mata Lin Tian yang kini diberkati oleh persepsi dari Mutiara Naga Surgawi, gerakan mematikan yang sangat cepat itu terasa sedikit melambat. Ia bisa melihat dengan jelas alur otot macan tutul tersebut dan arah serangannya.

“Terlalu lambat,” bisik Lin Tian dingin.

Tepat saat cakar mematikan itu berjarak beberapa inci dari tenggorokannya, tubuh Lin Tian meliuk dengan sudut yang hampir mustahil dilakukan oleh manusia biasa. Ia memiringkan kepalanya, membiarkan cakar itu menyambar udara kosong, hanya memotong beberapa helai rambutnya yang tertiup angin.

Macan tutul itu terkejut, matanya yang merah membelalak. Ia berada di udara, kehilangan momentum, dan bagian bawah perutnya terbuka lebar tanpa pertahanan.

Lin Tian tidak menyia-nyiakan kesempatan sepersekon ini. Ia memusatkan Qi Naga Surgawi dari Dantiannya, mengalirkannya melalui meridian emasnya, dan memusatkannya ke kepalan tangan kanannya. Kepalan tangannya samar-samar memancarkan pendaran cahaya tembaga yang redup—tanda awal dari kebangkitan Tubuh Sisik Naga Tembaga.

“Tinju Pemecah Batu!”

Itu adalah teknik bela diri tingkat dasar milik Klan Lin, teknik yang sangat umum. Namun, saat digerakkan oleh Qi Naga Surgawi, kekuatan teknik itu berlipat ganda hingga mencapai tingkat yang mengerikan.

BUMMM!

Tangan kanan Lin Tian menghantam tepat di perut macan tutul itu dengan suara ledakan yang memekakkan telinga, mirip dengan suara palu godam raksasa yang menghantam lempengan baja.

KRAK! Suara tulang rusuk yang patah berderak di udara. Tubuh Macan Tutul Bayangan Darah yang beratnya mencapai seratus kilogram itu terlempar ke belakang bagaikan layang-layang putus. Binatang buas itu menghantam sebuah pohon besar berdiameter dua pelukan manusia di seberang sungai dengan kekuatan yang sangat brutal, hingga batang pohon itu retak dan daun-daunnya berguguran seperti hujan.

Macan tutul itu merosot ke tanah. Darah segar bercampur serpihan organ dalam menyembur dari mulutnya. Tubuhnya kejang-kejang beberapa kali sebelum akhirnya terdiam kaku, tak bernyawa. Satu pukulan. Hanya butuh satu pukulan telak dari Lin Tian, yang baru saja melangkah kembali ke Tingkat Pertama, untuk membunuh secara instan binatang buas yang setara dengan Tingkat Empat.

Lin Tian menurunkan kepalan tangannya, melihat ke arah buku-buku jarinya yang tidak terluka sedikit pun. Matanya memancarkan rasa takjub yang tak disembunyikan.

“Inikah kekuatan dari Qi Naga Surgawi? Mengerikan sekali,” gumamnya. “Tinju Pemecah Batu ini dulunya hanya bisa menghancurkan sebongkah batu seukuran kepala manusia saat aku berada di Tingkat Sembilan. Tapi sekarang, dengan kultivasi Tingkat Pertama, daya hancurnya berkali-kali lipat lebih brutal. Jika aku menggunakan teknik bela diri tingkat tinggi… dampaknya tak terbayangkan.”

Ia berjalan menyeberangi sungai kecil yang dangkal, menghampiri bangkai Macan Tutul Bayangan Darah tersebut. Tanpa ragu, ia mencabut sebilah belati berburu yang terselip di sepatu botnya—satu-satunya senjata yang tertinggal padanya—lalu membelah dada binatang buas itu. Bau darah yang menyengat menyeruak, namun Lin Tian bahkan tidak mengernyitkan dahinya. Ia telah melihat wujud terdalam dari kebusukan manusia tadi malam; darah binatang buas sama sekali tidak membuatnya gentar.

Ia merogoh masuk ke dalam dada yang berdarah itu dan menarik keluar sebuah kristal seukuran kelereng yang memancarkan cahaya merah redup. Itu adalah Inti Monster, sumber energi tempat binatang buas demonic mengumpulkan Qi alam selama bertahun-tahun. Inti monster tingkat rendah ini sangat berharga di Kota Daun Musim Gugur, biasanya digunakan untuk meracik pil kultivasi tingkat rendah atau dijual dengan harga koin emas yang tinggi.

Bagi kultivator biasa, menyerap energi langsung dari Inti Monster adalah tindakan bunuh diri. Energi di dalam inti monster sangat liar, beringas, dan mengandung niat membunuh dari binatang buas tersebut. Jika diserap secara langsung, energi liar itu akan merobek meridian dan menghancurkan Dantian seorang kultivator. Mereka harus meminta seorang Alkemis untuk memurnikan inti tersebut menjadi pil agar aman dikonsumsi.

Namun, Lin Tian memiliki Seni Kaisar Naga Surgawi. Teknik yang menelan segala hal di bawah langit.

“Mari kita lihat seberapa menentang langit teknik kultivasi ini,” gumam Lin Tian.

Ia duduk bersila tepat di samping bangkai macan tutul itu, mengabaikan genangan darah yang membasahi celananya. Ia meletakkan Inti Monster merah itu di telapak tangannya, menutup matanya, dan mulai menggerakkan Seni Kaisar Naga Surgawi.

Seketika, Mutiara Naga di dalam Dantiannya berputar kencang, menciptakan daya hisap yang mengerikan bagaikan lubang hitam. Sebuah pusaran pusaran energi emas terbentuk di telapak tangannya.

Inti Monster Macan Tutul Bayangan Darah itu seketika bergetar hebat. Energi merah darah yang liar dan beringas di dalamnya tersedot keluar secara paksa, mengalir masuk ke dalam meridian Lin Tian. Sesaat, Lin Tian merasakan sensasi terbakar yang luar biasa di lengannya, seolah ia sedang menyuntikkan lava panas ke dalam pembuluh darahnya. Energi liar dari macan tutul itu mencoba memberontak, meronta, dan mengoyak bagian dalam tubuhnya.

Namun, tepat sebelum energi liar itu bisa menyebabkan kerusakan, Qi Naga Surgawi yang berwarna keemasan menyergap energi tersebut. Layaknya seekor naga sejati yang menindas seekor kucing jalanan, energi emas itu menghancurkan perlawanan energi merah darah tersebut dalam hitungan detik. Niat membunuh dan kebuasan yang terkandung di dalam energi itu dimurnikan sepenuhnya, menyisakan Qi alam yang paling murni dan padat.

Energi murni itu kemudian mengalir deras ke dalam Dantian Lin Tian, diserap oleh Mutiara Naga, dan kemudian dipompa kembali ke seluruh tubuhnya untuk memperkuat otot, tulang, dan kulitnya sesuai dengan panduan Tubuh Sisik Naga Tembaga.

Lin Tian bisa merasakan kekuatannya meningkat secara nyata setiap detiknya. Kulitnya mulai memancarkan kilau tembaga yang sangat samar. Tulang-tulangnya berderak pelan, menjadi semakin padat dan kokoh.

Hanya dalam waktu kurang dari setengah jam, kristal Inti Monster di telapak tangannya telah kehilangan seluruh cahayanya, berubah menjadi abu putih yang tertiup angin. Di saat yang bersamaan, suara letupan tumpul terdengar dari dalam tubuh Lin Tian.

Bloop!

Ia telah menembus penghalang! Alam Penempaan Tubuh Tingkat Kedua!

Lin Tian membuka matanya, hembusan napasnya menciptakan riak udara di depannya. Matanya bersinar terang. “Kecepatan penyerapan yang gila! Kultivator biasa butuh waktu sebulan untuk memurnikan pil yang terbuat dari satu inti monster tingkat ini, tapi aku menelan energinya secara utuh hanya dalam setengah jam tanpa efek samping mematikan sedikit pun!”

Dengan Mutiara Naga Surgawi dan teknik kultivasinya, Hutan Kematian yang ditakuti oleh orang lain ini bukanlah tempat pembuangan baginya. Ini adalah surga! Ini adalah ladang perburuan pribadi yang penuh dengan sumber daya tanpa batas!

Ia melirik bangkai macan tutul di sebelahnya. Perutnya masih menuntut makanan fisik. Ia segera memotong daging paha macan tutul yang kaya akan energi darah, membersihkannya di sungai, dan membuat api unggun kecil dengan menggesekkan batu dan menggunakan Qi-nya sebagai pemicu.

Saat bau daging panggang memenuhi udara, Lin Tian menatap nyala api yang menari-nari dengan tatapan kosong yang perlahan berubah menjadi keteguhan yang tajam. Ia mengunyah daging macan tutul itu, menelan setiap serat kasarnya seolah ia sedang menelan kebenciannya sendiri.

“Klan Lin… kalian akan mengadakan Turnamen Bela Diri Antar Klan di Kota Daun Musim Gugur satu bulan lagi,” Lin Tian berbicara sendiri, suaranya sangat dingin, memecah kesunyian hutan.

Turnamen itu adalah acara terbesar di kota, di mana para jenius dari berbagai klan akan bertarung untuk memperebutkan kuota memasuki sekte-sekte besar, termasuk Sekte Pedang Awan tempat Zhao Meng’er akan bergabung. Lin Feng, sepupunya yang telah menginjak kepalanya semalam, pasti akan mewakili Klan Lin menggantikan posisinya dan berharap untuk bersinar di depan para tetua sekte.

“Satu bulan,” Lin Tian mengepalkan tinjunya erat-erat, matanya merefleksikan nyala api. “Aku akan bertahan hidup di Hutan Kematian ini selama satu bulan. Aku akan membantai setiap binatang buas, memakan inti monster mereka, dan menembus batasanku hingga mencapai puncaknya. Pada hari turnamen itu, aku akan kembali bukan sebagai Tuan Muda yang jatuh, melainkan sebagai algojo yang akan menagih setiap tetes darah yang kalian tumpahkan.”

Lin Tian berdiri. Ia menghentakkan kakinya ke tanah, memadamkan sisa api unggun. Dengan tatapan yang setajam bilah pedang yang baru diasah, ia berbalik dan berjalan melangkah lebih dalam ke arah jantung Hutan Kematian, menyongsong bahaya mematikan dan kegelapan yang mengintai di baliknya. Tidak ada keraguan dalam langkahnya, hanya ada hasrat membara untuk menjadi lebih kuat. Jalan darah menuju takhta dewa bela diri telah dimulai dari hutan terpencil ini.