BAB 22: PORT HAVEN

Ukuran:
Tema:

Kata: 1,860
Tanggal: 13 Maret 2026
Status: Draft 1

Port Haven adalah kota yang hiruk-pikuk, bau, dan penuh kehidupan. Sebagai pelabuhan perdagangan utama kerajaan, di sini bertemu pedagang dari seluruh dunia, pelaut, petualang, dan—tentu saja—penjahat.

Kaelan, Elara, dan Thorne tiba dengan kereta pagi-pagi. Mereka menyamar sebagai pedagang—pakaian sederhana, tas berisi “barang dagangan” (sebenarnya equipment), dan identitas palsu.

“Signature-nya di mana?” bisik Elara, sambil berjalan di pasar yang ramai.

Kaelan berkonsentrasi. Signature Vex masih ada, tapi… tersebar. Seperti dia bergerak cepat, atau ada beberapa sumber.

“Beberapa tempat,” jawabnya. “Tapi yang terkuat… di sana.” Dia menunjuk ke arah dermaga tua, di mana kapal-kapal rusak berlabuh.

“Dermaga tua,” kata Thorne. “Tempat sempurna untuk bersembunyi. Banyak bangunan kosong, sedikit pengawasan.”

Mereka menuju ke sana. Semakin dekat ke dermaga tua, semakin kuat signature-nya. Dan Kaelan merasakan sesuatu yang lain—energi Sistem yang dimodifikasi. Banyak.

“Ada korban di sini,” katanya. “Banyak.”

Mereka menemukan bangunan pertama: gudang tua dengan pintu terkunci. Tapi dari dalam, suara—rintihan, tangisan.

Thorne memeriksa kunci. “[SHADOW STEP] membantuku dengan kunci sederhana.” Dia menyentuh kunci, dan dengan klik halus, terbuka.

Di dalam… pemandangan mengerikan.

Dusin orang, di atas kasur darurat. Semua memiliki modifikasi Sistem yang salah. Satu wanita dengan kulit seperti batu, tapi retak, berdarah. Seorang pria dengan mata bersinar hijau, tapi buta. Seorang anak dengan tangan berubah menjadi cakar, tapi tidak bisa mengontrolnya.

Dan di tengah mereka, seorang remaja dengan rambut merah—Vex.

Dia sedang merawat seorang pria tua, memberinya ramuan. “Tenang, Pak. Ini akan membantu.”

Pria itu tenang, tidur. Vex berdiri, dan melihat mereka. Matanya—hijau, cerdas—melebar. “Kalian… siapa?”

“Kami dari Primordial Archives,” kata Kaelan, perlahan mendekat. “Kami di sini untuk membantu.”

Vex tertawa pendek, pahit. “Archives? Yang baru dibentuk itu? Terlambat. Lihat apa yang sudah terjadi.”

“Kami tahu,” kata Elara, lembut. “Dan kami ingin menghentikan penderitaan ini.”

“Caranya? Dengan mengunciku seperti Malakar?”

“Tidak,” kata Kaelan. “Dengan bekerja sama. Kau bisa membantu kami memperbaiki mereka.”

Vex melihat sekeliling, pada orang-orang yang dia “rawat”. “Aku mencoba memperbaiki. Tapi… tidak sempurna. Pengetahuan Malakar tidak lengkap.”

“Karena dia menggunakan void energy,” kata Kaelan. “Tapi aku punya pengetahuan lebih. Dari First Seed.”

Vex terkesiap. “Kau… kau yang menyerap First Seed?”

“Ya. Dan aku bisa mengajarkanmu cara yang benar. Tapi pertama, hentikan ‘upgrade’ ilegalmu.”

“Bukan ilegal!” Vex membela diri. “Mereka datang padaku. Meminta bantuan. Sistem mereka cacat, membuat mereka menderita. Aku hanya mencoba membantu!”

“Tapi dengan cara berbahaya,” kata Thorne. “Kau tidak punya izin, tidak punya pengawasan.”

“Dan Institute tidak akan memberi izin! Mereka bilang ‘itu takdir’. Sama seperti yang mereka katakan pada Malakar tentang putrinya!”

Kaelan mengerti. Vex melihat dirinya sebagai pahlawan, seperti Malakar. Dan dalam beberapa hal, dia benar—Sistem memang tidak adil. Tapi caranya salah.

“Kau benar,” kata Kaelan, mengejutkan yang lain. “Sistem tidak adil. Tapi itulah mengapa Archives dibuat. Untuk memperbaiki ketidakadilan. Dengan cara yang aman. Dengan penelitian, pengujian, persetujuan.”

Vex ragu. “Dan kau akan biarkan aku membantu?”

“Jika kau setuju bekerja di bawah pengawasan. Dan berhenti melakukan upgrade ilegal.”

“Tapi… pasienku. Mereka butuh bantuan sekarang.”

“Kami akan bantu mereka,” kata Elara. “Bersama.”

Vex melihat sekeliling lagi. Lalu mengangguk. “Baik. Tapi ada masalah.”

“Apa?”

“Ada orang lain. Menggunakan teknikku. Tapi… untuk kejahatan.”

Kaelan merasa dingin. “Siapa?”

“Tidak tahu namanya. Tapi dia kuat. Punya… sumber daya. Dia mencuri resepku, memproduksi massal, menjual ke pasar gelap.”

Jadi Vex bukan satu-satunya. Ada jaringan.

“Kau punya informasi?” tanya Thorne.

“Sedikit. Dia beroperasi dari kapal. ‘The Crimson Tide’. Kapal dagang yang sebenarnya lab penelitian.”

The Crimson Tide. Kaelan pernah dengar nama itu—kapal mewah milik saudagar kaya.

“Kita harus menghentikannya,” kata Elara.

“Tapi pertama,” kata Kaelan, melihat korban, “kita bantu mereka.”

Mereka menghabiskan sisa hari merawat korban. Kaelan menggunakan kemampuan barunya untuk menganalisis setiap kasus, memahami apa yang salah, dan mulai memperbaiki.

Beberapa mudah—hanya perlu adjustment kecil. Yang lain… kompleks. Tapi dengan pengetahuan First Seed, dia bisa melihat solusi.

Vex membantu, dan Kaelan terkesan—remaja ini memang jenius. Dia memahami alchemy pada tingkat intuitif. Tapi kurang kebijaksanaan.

“Kau belajar dari Malakar berapa lama?” tanya Kaelan saat mereka bekerja pada seorang wanita dengan modifikasi kulit batu.

“Enam bulan,” jawab Vex. “Sebelum Icepeak. Dia… seperti ayah bagiku. Tapi kemudian dia gila.”

“Tidak gila. Putus asa.”

“Same difference.” Vex melihat Kaelan. “Kau berbeda. Kau punya kekuatan lebih besar, tapi… terkontrol. Bagaimana?”

“Echo. Aku belajar dari echo orang lain. Kesalahan mereka. Pelajaran mereka.”

“Bisa kau ajarkan aku?”

“Mungkin. Tapi pertama, kau harus belajar mendengarkan. Bukan hanya melakukan.”

Malam tiba. Kebanyakan korban sudah stabil. Mereka akan dibawa ke Archives besok untuk perawatan lebih lanjut.

“Tentang The Crimson Tide,” kata Vex saat mereka bersiap tidar di gudang. “Kapal itu berangkat besok pagi. Menuju ke negeri seberang laut. Jika kita ingin menghentikannya, harus malam ini.”

“Kita tidak punya persiapan,” kata Thorne.

“Kita punya aku,” kata Vex. “Aku tahu layout kapal. Dan… aku punya akses.”

“Dari mana?” tanya Elara.

“Dari mantan klien. Seorang pelaut. Dia memberi aku peta.”

Vex menunjukkan peta—detail, termasuk ruang kargo rahasia di mana laboratorium diduga berada.

“Risiko besar,” kata Thorne. “Tapi jika kapal berangkat, obat ilegal itu akan menyebar ke negeri lain.”

Kaelan memandang Elara. “Kau pikir?”

“Kita harus,” jawab Elara. “Tapi hati-hati.”

Mereka merencanakan: infiltrasi malam ini. Thorne akan masuk pertama, nonaktifkan penjaga. Kaelan dan Elara masuk, cari laboratorium. Vex tetap di darat—terlalu berisiko.

“Tapi aku ingin membantu,” protes Vex.

“Kau sudah membantu,” kata Kaelan. “Dengan informasi. Sekarang, tetap aman.”

Vex tidak senang, tapi setuju.

Malam gelap, berawan. Perfect untuk infiltrasi.

The Crimson Tide bersandar di dermaga utama, besar, megah. Dengan lampu-lampu yang bersinar dari jendela.

Petualangan baru dimulai. Dan kali ini, musuhnya bukan monster atau mage gila—tapi keserakahan manusia biasa.

Yang kadang lebih berbahaya.


[END OF CHAPTER 22]
[WORD COUNT: 1,860]
[NEXT: BAB 23 – THE CRIMSON TIDE]