Bab 24: Langkah Pertama Menuju Primordial
Udara di dalam markas tersembunyi terasa kental dengan ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Lima orang berdiri di ruang pusat ruangan yang diterangi oleh cahaya kebiruan dari Harmonizer versi kedua Sage Ming Yue—perangkat yang kini telah dimodifikasi untuk menangkap frekuensi temporal dan bukan hanya gelombang jiwa.
Lin Feng memeriksa persiapan akhir mereka. Di punggungnya tergantung ransel berisi perangkat buatan Ming Yue: tiga Harmonizer portabel, satu set sensor frekuensi jiwa yang telah dimodifikasi untuk mendeteksi anomali temporal, dan cadangan energi jiwa kristal yang berjumlah cukup untuk dua bulan. Pemikiran programmernya berjalan kencang, menghitung variabel, kemungkinan, dan poin kegagalan.
“Laporan kondisi terakhir,” ucap Lin Feng, suaranya datar namun penuh otoritas.
Sage Ming Yue, yang kini mengenakan setelan ekspedisi praktis berwarna abu-abu, mengangkat tablet kristalnya. “Harmonizer utama beroperasi pada 94% kapasitas optimal. Modifikasi untuk mendeteksi parasit temporal telah selesai, meskipun akurasinya hanya 78% berdasarkan simulasi. Sensor lingkungan menunjukkan kondisi Pegunungan Terlupakan sedang mengalami badai frekuensi jiwa—level bahaya kategori tiga.”
Xue Ling, yang berdiri di samping Lin Feng dengan pedang barunya yang ditempa dari campuran logam dan kristal jiwa, mengangguk. “Valerius mengirimkan peta terbaru wilayah perbatasan. Ada tiga zona aman yang bisa kita jadikan pos peristirahatan. Tapi dia memperingatkan—bahkan Soul Severers tidak pernah menjelajah lebih dari 50 li ke dalam pegunungan itu setelah insiden 30 tahun lalu.”
“Insiden apa?” tanya Lin Feng.
“Regu penjelajah sembilan anggota,” jawab Xue Ling, matanya gelap. “Hanya satu yang kembali, dan dia… berubah. Mengaku telah berbicara dengan ‘suara dari batu’. Dalam seminggu, seluruh jiwanya terurai menjadi energi murni tanpa jejak kesadaran.”
Kairos, yang berdiri sedikit terpisah dari kelompok, tersenyum tipis. Atau lebih tepatnya, yang mengendalikan tubuh Kairos tersenyum. Tatapannya memiliki kualitas ganda—seperti dua lapis kesadaran melihat melalui mata yang sama.
“Bukan batu,” suara itu keluar dari mulut Kairos, tapi nadanya berbeda, lebih tua, penuh dengan gema dari zaman yang terlupakan. “Itulah penjaga pertama. Fragmentasi kesadaran dari penjaga perpustakaan. Mereka yang tidak siap… akan terurai oleh kompleksitas informasi.”
Lin Feng memutar tubuhnya menghadapi Kairos. “Kita perlu aturan yang jelas. Kontrol tubuh tetap pada Kairos kecuali situasi darurat. Dan setiap kali kamu berbicara, identifikasi diri.”
“Kairos” mengangguk, tapi ekspresinya berubah, menjadi lebih tegang, lebih manusiawi. “Dia… benar,” suara Kairos yang asli terdengar, berjuang untuk menguasai pita suaranya sendiri. “Saya masih di sini. Hanya… ada ruang lain dalam pikiran saya. Seperti program berjalan di latar belakang.”
“Analog yang bagus,” komentar Lin Feng. “Tapi program latar belakang itu tidak boleh mengambil alih sistem utama.”
Dia berjalan mendekati Kairos, meletakkan tangan di bahunya. Soul Duplication System di dalam Lin Feng aktif, memindai frekuensi energi jiwa Kairos. Layar berwarna biru muncul di bidang visi Lin Feng:
TEXT1[Target: Kairos (Host)]
2[Status: Dual Consciousness Detected]
3[Primary Consciousness Integrity: 87%]
4[Parasitic Consciousness: The Creators' Fragment - Designation: "Archivist 7"]
5[Quantum Entanglement Level: Moderate]
6[Risk Assessment: High (progressive integration detected)]
7
“Kamu masih stabil,” kata Lin Feng, “tapi integrasi meningkat 2% sejak kemarin.”
Kairos mengangguk, keringat dingin membasahi pelipisnya. “Saya bisa merasakannya. Pengetahuan… mengalir. Seperti sedang mengunduh database besar. Tapi bukan hanya fakta. Ini pengalaman, emosi, kenangan dari peradaban yang sudah lama musnah.”
Sage Ming Yue mendekat, Harmonizer portabel di tangannya berbunyi bip dengan ritme teratur. “Fenomena yang menarik. Dua kesadaran berbagi satu wadah jiwah tanpa konflik langsung. Biasanya, pertarungan dominasi akan terjadi dalam hitungan jam.”
“Kami bukan musuh,” suara Archivist 7 terdengar lagi, kali ini dengan nada yang lebih lembut. “Kami mencari… kelanjutan. Warisan kami telah terdistorsi oleh waktu. Observers melihat kami sebagai kegagalan. Tapi setiap kegagalan mengandung pelajaran untuk kesuksesan berikutnya.”
Lin Feng menghela napas. “Pembicaraan filosofis bisa kita lakukan nanti di jalan. Sekarang, kita punya tujuan praktis: mencapai Soul Source Primordial dalam waktu 45 hari untuk menyisakan 15 hari memproses informasi apa pun yang kita temukan sebelum deadline Observers.”
Dia melihat ke sekeliling ruangan. “Rute kita akan melewati Lembah Angin Bisik terlebih dahulu—itu zona aman terdekat. Dari sana, kita akan mengikuti petunjuk Archivist 7 menuju ‘Gerbang Batu Bernyanyi’. Ada pertanyaan?”
Xue Ling mengangkat tangan. “Persediaan pertahanan. Badan frekuensi jiwa di pegunungan bisa merusak pertahanan mental. Kita butuh amulet perlindungan tambahan.”
“Ia telah disiapkan,” sahut Sage Ming Yue, membuka kotak logam. Empat liontin perak dengan kristal inti berdenyup dengan cahaya lembut terbaring di dalamnya. “Amulet Harmonizer personal. Mereka akan menciptakan bidang resonansi yang menstabilkan frekuensi jiwa individu dalam radius tiga meter.”
Mereka mengambil masing-masing liontin. Saat Lin Feng menggantungkannya di leher, dia merasakan getaran halus yang sinkron dengan detak jantungnya. System memberikan konfirmasi:
TEXT1[Equipment Acquired: Personal Harmony Amulet]
2[Effect: +30% Mental Defense against frequency-based attacks]
3[Durability: 85/100]
4[Warning: Extended use in high-frequency zones will accelerate degradation]
5
“Baik,” kata Lin Feng. “Mari berangkat.”
Perjalanan keluar dari markas tersembunyi dilakukan melalui terowongan rahasia yang telah diperluas oleh Ming Yue menggunakan teknologi penguraian materi sementara. Dinding terowongan bersinar dengan cahaya kehijauan dari lumut bercahaya yang ditanam sebagai sumber cahaya dan indikator kadar oksigen.
“Lumut ini menarik,” komentar Lin Feng sambil berjalan. “Mereka bereaksi terhadap konsentrasi energi jiwa.”
“Hasil rekayasa biologi-jiva,” jawab Ming Yue bangga. “Saya menciptakannya dengan memodifikasi lumun gua biasa dengan sekuens energi dari kristal jiwa kelas rendah. Mereka tidak hanya menghasilkan cahaya, tapi juga menyaring racun dari udara.”
Setelah berjalan sekitar satu jam, mereka mencapai ujung terowongan. Sebuah pintu batu besar dengan pola geometris kompleks menghalangi jalan.
“Pintu ini dilindungi oleh array penyamaran,” kata Xue Ling. “Valerius memberikan kunci frekuensinya.”
Dia mengulurkan tangan, telapaknya menghadap pintu. Energi jiwa mengalir dari tangannya, membentuk pola cahaya yang sesuai dengan ukiran di batu. Pintu itu bergetar, kemudian terbuka pelan tanpa suara.
Dunia di luar membuat mereka semua terdiam.
Pegunungan Terlupakan terbentang di hadapan mereka seperti tulang punggung naga raksasa yang tertidur. Puncaknya menusuk langit yang berwarna ungu kemerahan—efek dari badai frekuensi jiwa yang sedang berlangsung. Udara bergetar dengan energi yang hampir terlihat, seperti panas yang memantul dari padang pasir, tapi ini adalah distorsi realitas itu sendiri.
“Level frekuensi dasar: 450 hertz jiwa,” lapor Ming Yue, membaca dari sensornya. “Itu tiga kali level normal. Tanpa amulet, kesadaran kita akan mengalami disorientasi dalam sepuluh menit.”
Lin Feng mengaktifkan pemindaian sistemnya. Visual overlay muncul, menampilkan dunia dalam spektrum energi jiwa. Segala sesuatu memancarkan aura—batu, tanaman, bahkan udara itu sendiri. Aliran energi seperti sungai tak terlihat mengalir melalui lembah, berkumpul di ceruk-ceruk tertentu di pegunungan.
“Ada pola di sini,” gumam Lin Feng. “Ini bukan chaos murni. Ini… sistem. Sangat kompleks, tapi tetap sistem.”
Archivist 7 berbicara melalui Kairos: “Pegunungan adalah perangkat penyimpanan. Setiap batu, setiap aliran air, setiap hembusan angin—mereka mengandung fragmen data. Peradaban kami tidak menulis di kertas atau menyimpan di kristal. Kami menyandikan pengetahuan ke dalam sangat realitas itu sendiri.”
“Quantum encoding pada skala makro,” kata Lin Feng, matanya bersinar dengan pemahaman. “Kalian menggunakan sifat-sifat fundamental alam semesta sebagai media penyimpanan.”
“Benar. Tapi waktu… waktu telah mengkorupsi data. Apa yang dulunya simfoni pengetahuan kini menjadi badai statis.”
Mereka mulai menuruni lereng menuju Lembah Angin Bisik. Jalannya berbatu dan licin, dengan vegetasi aneh yang tampak berdenyup dengan ritme sendiri. Tanaman dengan daun transparan bergoyang meski tidak ada angin, mengeluarkan cahaya berwarna-warni.
Setelah berjalan selama dua jam, Xue Ling tiba-tiba mengangkat tangan. “Tunggu.”
Dia berjongkok, menyentuh tanah. “Ada yang lewat di sini baru-baru ini. Bukan hewan.”
Lin Feng bergabung dengannya. Jejak di tanah jelas—jejak kaki manusia, tapi dengan pola yang aneh. Jejaknya dalam, menunjukkan berat yang tidak biasa, dan ada pola spiral aneh di pusat setiap tapak kaki.
“Soul Severers?” tanya Ming Yue.
“Bukan,” balas Xue Ling. “Pola spiral itu… saya pernah melihatnya di arsip kuno. Itu simbol Cultivator Jiwa dari Sekte Angin Berdenging. Tapi sekte itu seharusnya telah punah seratus tahun yang lalu.”
Kairos/Archivist 7 mendekat. “Yang Terlupakan tidak hanya melupakan pengetahuan. Ia juga melupakan orang-orang. Para pencari pengetahuan yang tersesat dan tidak pernah keluar. Mereka telah… beradaptasi.”
Tiba-tiba, suara gemerisik terdengar dari semak-semak di depan. Semuanya masuk dalam posi siaga. Xue Ling menarik pedangnya, bilahnya bergetar dengan energi jiwa yang tertahan.
Dari balik dedaunan, muncul sosok.
Manusia, tapi hampir tidak bisa dikenali lagi. Kulitnya pucat seperti marmer, dengan pola cahaya biru berdenyup di bawah permukaannya. Matanya seluruhnya putih, tanpa pupil. Dia mengenakan jubah yang telah compang-camping, tapi masih mempertahankan simbol spiral Sekte Angin Berdenging.
Sosok itu mengangkat kepala, mencium udara. “Frekuensi… baru,” suaranya parau, seperti batu yang saling bergesekan. “Bukan Penjaga. Bukan Pencari. Apa?”
“Kami adalah penjelajah,” kata Lin Feng, perlahan maju selangkah. “Kami mencari Soul Source Primordial.”
Sosok itu tertawa—suara kering yang mengerikan. “Primordial. Semua mencari Primordial. Tapi jalan tertutup. Penjaga tidak mengizinkan.”
“Kami memiliki pemandu,” kata Lin Feng, menunjuk Kairos.
Sosok itu memutar kepalanya dengan gerakan tidak wajar, memandang Kairos. Pola cahaya di kulitnya berkedip cepat. “Jejak… masa lalu. Bau tua. Sangat tua.”
Archivist 7 mengambil kendali. “Kami adalah Archivist. Penjaga memori.”
“Arsiparis,” sosok itu mengulang, seperti mencoba mengingat kata itu. “Ya. Saya ingat. Dari sebelum… sebelum perubahan.”
Dia mengambil langkah goyah mendekat. “Nama saya… dulu… Lian. Lian dari Angin Berdenging. Saya datang… mencari… apa yang hilang.”
“Berapa lama kamu di sini?” tanya Xue Ling, suaranya lembut.
Lian mengangkat tangan, memandangi tangannya sendiri yang berpendar. “Waktu… mengalir berbeda. Matahari terbit… 120 kali? 300? Saya menghitung… tapi angka-angka itu lari.”
Lin Feng merasa sesak di dada. Ini adalah nasib yang mungkin menunggu mereka jika mereka gagal. Tersesat di pegunungan ini, kehilangan akal dan identitas, terdistorsi oleh frekuensi jiwa yang tak henti-hentinya.
“Kami bisa membawamu keluar,” tawar Lin Feng.
Lian menggelengkan kepala. “Terlalu terlambat. Saya sudah… terikat. Meninggalkan berarti… tidak ada. Tapi saya bisa… menunjukkan jalan. Menghindari… yang lapar.”
“Yang lapar?” tanya Ming Yue.
“Yang memakan frekuensi. Yang tumbuh di tempat pengetahuan paling padat. Mereka menjaga… tapi juga mengkonsumsi.”
Archivist 7 menjelaskan: “Penjaga perpustakaan yang telah terdistorsi. Tanpa tujuan asli mereka, mereka menjadi parasit pada data itu sendiri.”
Lian mengangguk pelan. “Saya bawa… ke tempat lebih aman.”
Dia berbalik dan mulai berjalan, gerakannya aneh dan tersendat-sendat seperti boneka dengan tali yang rusak. Mereka mengikutinya dengan hati-hati, tetap waspada.
Perjalanan berlanjut selama satu jam lagi, melewati jalur rumit di antara tebing batu yang ditutupi kristal aneh yang berdenyup dalam berbagai warna. Udara semakin kental dengan energi, dan amulet di leher mereka mulai terasa hangat—tanda mereka bekerja keras untuk menstabilkan frekuensi lingkungan.
Akhirnya, mereka tiba di gua kecil tersembunyi di balik air terjun energi murni—cairan berkilauan yang mengalir menuruni tebing bukan air, tapi manifestasi energi jiwa terkondensasi.
“Air terjun frekuensi,” gumam Ming Yue, kagum. “Teori menyebutkan ini mungkin, tapi tidak pernah terbukti.”
Di dalam gua, mereka menemukan sesuatu yang mengejutkan.
Ini bukan hanya tempat berlindung alamiah. Ini adalah tempat tinggal. Ada perabotan primahan dari batu dan kayu, rak berisi gulungan yang tampaknya terbuat dari kulit yang berpendar, dan di tengah ruangan, sebuah meja batu dengan peta di atasnya.
Peta itu hidup.
Terbuat dari cahaya yang diproyeksikan dari kristal di langit-langit, peta menunjukkan pegunungan dalam tiga dimensi. Area-area tertentu berdenyup dengan warna berbeda, dan beberapa jalur bergerak, berubah seiring waktu.
“Ini…” Lin Feng mendekati peta, matanya lebar. “Ini adalah antarmuka pemetaan real-time.”
Lian duduk di bangku batu, gerakannya tampak lebih lancar sekarang, seolah berada di gua ini memberinya stabilitas. “Saya… pelajari. Selama… banyak matahari terbit. Sistem ini… masih berfungsi. Tapi terfragmentasi.”
Lin Feng mengamati peta. Sistemnya menganalisis:
TEXT1[Ancient Mapping System Detected]
2[Technology: Quantum Resonance Cartography]
3[Data Integrity: 41%]
4[Notable Features: Frequency Storms (marked in red), Temporal Anomalies (purple), Knowledge Nodes (blue), Guardian Territories (black)]
5[Warning: 68% of data shows signs of corruption]
6
“Kamu mempertahankan ini sendirian?” tanya Lin Feng, terkesan.
Lian mengangguk. “Tugas… terakhir. Sebelum lupa… siapa saya. Sekte… mempercayakan. ‘Jaga pengetahuan.'”
Xue Ling mendekat, matanya berkaca-kaca. “Kamu masih menjalankan tugasmu setelah semua ini.”
“Tugas… adalah saya. Tanpa tugas… apa yang tersisa?”
Archivist 7 bersuara melalui Kairos: “Ini adalah keindahan dan tragedi dari peradaban kami. Kami menciptakan sistem yang begitu sempurna sehingga mereka terus berfungsi bahkan setelah penciptanya lenyap. Tapi tanpa tujuan… fungsi menjadi ritual kosong.”
Lin Feng mempelajari peta. “Kita di sini,” dia menunjuk titik berdenyup hijau. “Dan Soul Source Primordial…”
Lian mengangkat tangan, dan peta bergeser, memperbesar area di jantung pegunungan. Sebuah struktur kompleks muncul—bukan bangunan dalam arti tradisional, tapi formasi kristal raksasa yang tumbuh seperti pohon batu, dengan cabang-cabang yang menjangkau ke segala arah.
“Primordial,” kata Lian. “Tapi jalur… berbahaya. Melewati Wilayah Penjaga Hitam. Melewati Badai Frekuensi Berpikir.”
“Badai Frekuensi Berpikir?” tanya Ming Yue.
“Tempat di mana pikiran… menjadi nyata. Pikiran tak terjaga… menjadi monster.”
Archivist 7 menambahkan: “Zona di mana penghalang antara kesadaran dan realitas telah menipis. Pikiran Anda akan memanifestasikan secara fisik di sana. Ketakutan, keraguan, keinginan—semuanya akan menjadi entitas yang bisa menyerang.”
Lin Feng menghela napas. “Jadi kita harus melewati labirin yang bisa membaca pikiran dan mengubahnya menjadi monster. Bagus.”
Dia mempelajari peta lebih cermat. “Ada jalur alternatif? Melalui sistem gua bawah tanah ini?”
Lian menggelengkan kepala. “Gua… dipenuhi Yang Kelaparan. Mereka menunggu… getaran jiwa.”
Selama dua jam berikutnya, mereka berdiskusi, menganalisis, dan merencanakan. Lin Feng menggunakan pendekatan programmer—memecah masalah menjadi komponen, mengidentifikasi variabel, mencari pola dalam bahaya.
Akhirnya, dia merancang strategi.
“Kita akan mengambil rute langsung melalui Wilayah Penjaga Hitam,” katanya. “Tapi kita tidak akan berkonfrontasi. Kita akan menyelinap.”
“Bagaimana?” tanya Xue Ling.
Lin Feng menunjuk area di peta. “Di sini, ada zona frekuensi netral. Energi jiwa hampir nol. Jika kita bisa mencapai sana, kita bisa ‘menyamarkan’ frekuensi kita, menjadi tidak terlihat oleh Penjaga.”
Ming Yue mengerutkan kening. “Tapi untuk mencapai zona netral, kita harus melewati wilayah dengan aktivitas Penjaga tinggi.”
“Benar. Jadi kita perlu umpan.” Lin Feng menoleh ke Harmonizer portabel. “Kita akan menciptakan gangguan frekuensi di sini, menarik perhatian Penjaga, sementara kita bergerak cepat ke zona netral.”
“Risikonya tinggi,” komentar Xue Ling. “Jika gangguan tidak cukup, mereka akan mendeteksi kita. Jika terlalu besar, kita bisa menarik perhatian segala sesuatu di pegunungan.”
“Kita punya keuntungan,” kata Lin Feng, menunjuk Archivist 7. “Kita memiliki pengetahuan dalam tentang pola patroli Penjaga dan titik buta mereka.”
Kairos/Archivist 7 mengangguk. “Saya bisa memberikan data. Tapi ingat—ini berdasarkan memori berusia ribuan tahun. Pola mungkin telah berubah.”
“Lebih baik daripada tidak ada,” balas Lin Feng.
Mereka menghabiskan sisa hari itu mempersiapkan. Ming Yue memodifikasi salah satu Harmonizer untuk menciptakan gangguan frekuensi besar-besaran. Xue Ling memeriksa persenjataan dan mempertajam pedangnya. Lin Feng dan Archivist 7 mempelajari peta, mengidentifikasi setiap kemungkinan bahaya.
Lian mengamati mereka, tatapan putihnya yang kosong terkadang terlihat hampir… hidup. Saat matahari terbenam (atau setidaknya, perubahan cahaya di langit pegunungan yang menandakan siklus siang-malam), dia mendekati Lin Feng.
“Kamu… berbeda,” kata Lian. “Cara berpikir… tidak seperti Cultivator. Tidak seperti Penjaga.”
“Saya dari tempat yang jauh,” jawab Lin Feng.
“Tempat… di mana angka-angka tidak lari?”
Lin Feng tersenyum tipis. “Di tempat saya berasal, angka-angka adalah satu-satunya hal yang tidak pernah lari. Mereka tetap di tempatnya, dapat diandalkan.”
Lian tampak merenung. “Stabil. Seperti batu. Tapi batu… bisa aus.”
“Tapi pola erosi… itu juga dapat diprediksi.”
Malam tiba. Mereka memutuskan untuk beristirahat di gua sebelum memulai perjalanan berbahaya keesokan harinya. Ming Yue memasang perimeter sensor, sementara Xue Ling mengambil giliran jaga pertama.
Lin Feng duduk di dekat pintu gua, memandangi air terjun energi di luar. Cahayanya menari-nari, menciptakan pola cahaya yang kompleks di dinding gua.
Soul Duplication System memberikan laporan status:
TEXT1[Expedition Status: Day 1]
2[Distance to Target: Approximately 82 km]
3[Estimated Travel Time: 7-10 days (with obstacles)]
4[Team Status: All members stable]
5[Parasitic Consciousness Integration: +1% (now 88%)]
6[Observer Deadline: 58 days remaining]
7[Environmental Threat Level: High]
8
“Khawatir?”
Lin Feng menoleh. Xue Ling duduk di sebelahnya, pedangnya tergeletak di pangkuannya.
“Selalu,” jawab Lin Feng. “Tapi kekhawatiran adalah data. Ini memberitahu saya apa yang harus dipersiapkan.”
Xue Ling memandanginya lama. “Kadang saya lupa kamu bukan dari dunia ini. Cara kamu melihat segala sesuatu… seperti puzzle untuk dipecahkan, bukan misteri untuk dirasakan.”
“Setiap misteri adalah puzzle dengan aturan yang belum kita pahami,” balas Lin Feng.
“Tapi beberapa puzzle… mungkin tidak dimaksudkan untuk dipecahkan. Beberapa pintu… mungkin tidak dimaksudkan untuk dibuka.”
Lin Feng memandang ke arah jantung pegunungan, di mana Soul Source Primordial berada. “Ketika kamu seorang programmer, dan kamu menemukan bug dalam sistem yang bisa menghancurkan semuanya… kamu tidak punya pilihan. Kamu harus memperbaikinya. Bahkan jika itu berarti membongkar kode yang ditulis oleh orang yang jauh lebih bijak darimu.”
“Maksudmu Observers?”
“Maksudku semua ini.” Lin Feng membuat gerakan melingkar dengan tangannya. “Sistem cultivation jiwa, Soul Severers, bahkan The Creators… semuanya adalah sistem dengan bug. Konflik, ketidakseimbangan, penderitaan. Seseorang harus memperbaikinya.”
“Dan kamu orang itu?”
“Bukan karena aku yang terbaik. Tapi karena aku ada di sini. Dan aku memiliki alat untuk mencoba.”
Xue Ling diam sejenak. “Aku percaya padamu, Lin Feng. Tapi tolong… jangan menjadi seperti Lian. Jangan sampai terikat pada tugas sampai lupa siapa dirimu.”
Lin Feng menatapnya, melihat kekhawatiran di mata Xue Ling. “Aku berjanji.”
Mereka duduk dalam keheningan yang nyaman, mendengarkan suara air terjun energi dan getaran rendah pegunungan. Di dalam gua, Lian duduk di depan peta yang bersinar, matanya yang putih tanpa pupil mengikuti pergerakan titik-titik cahaya, masih menjalankan tugasnya setelah sekian lama.
Dan di suatu tempat di kedalaman pegunungan, sesuatu yang besar bergerak. Sesuatu yang telah menunggu selama ribuan tahun untuk pengunjung yang membawa kunci warisan kuno.
Jalur telah ditetapkan. Permainan sudah dimulai.
Dan waktu terus berdetak, tak kenal ampun.