Bab 29: Membelah Langit dan Kejatuhan Pilar Naga Hitam
Tubuh Lin Tian melesat ke atas bagaikan komet emas yang menentang hukum gravitasi bumi. Udara menjerit saat terbelah oleh kecepatannya yang kini telah melampaui batas suara berkali-kali lipat. Di Alam Bumi tingkat awal, dengan fondasi Inti Naga Surgawi yang baru saja ia bentuk, pemuda itu tidak lagi membutuhkan pijakan fisik atau modifikasi teknik pergerakan untuk terbang. Ia adalah penguasa mutlak atas ruang di sekitarnya. Niat Kehancuran Naga yang menguar dari tubuhnya menciptakan distorsi ruang, membuat setiap partikel debu dan awan yang menghalanginya lenyap ke dalam ketiadaan.
Di atas haluan kapal perang utama Kekaisaran Naga Hitam, kepanikan yang luar biasa telah meruntuhkan sisa-sisa kewibawaan para tetua sekte ortodoks. Mereka, yang sebelumnya mengira bahwa perlindungan dari armada kekaisaran adalah jaminan mutlak atas keselamatan dan balas dendam mereka, kini menatap ke bawah dengan mata terbelalak dan lutut yang bergetar hebat.
Dalam satu tarikan napas, seratus prajurit elit Pasukan Pengawal Naga Hitam—yang masing-masing memiliki kekuatan untuk mendirikan sekte kecil di wilayah perbatasan—telah dihapus dari eksistensi. Bukan dibunuh, melainkan ditiadakan.
“D-Dia datang ke sini! Tahan dia! Aktifkan Meriam Kristal Pemusnah Jiwa!” jerit Tetua Pertama Sekte Pedang Awan dengan suara melengking yang kehilangan seluruh martabat usianya. Rambut putihnya berantakan, dan wajahnya sepucat mayat. Ia berlari mundur, mencoba bersembunyi di balik barisan prajurit kekaisaran yang tersisa di atas geladak.
Para awak kapal yang panik segera mengarahkan puluhan meriam raksasa yang terbuat dari kristal merah darah ke arah bawah. Meriam-meriam ini ditenagai oleh inti monster tingkat empat dan dirancang untuk menghancurkan formasi pelindung sebuah kota dalam satu tembakan.
BZZZZZT… BLAAAARRR!
Puluhan pilar cahaya merah yang membawa suhu setara dengan inti gunung berapi ditembakkan secara serentak ke arah Lin Tian yang sedang melesat naik. Langit seketika terbakar merah, menciptakan jaring kematian yang seolah tak memiliki celah untuk dihindari.
Namun, Lin Tian bahkan tidak mengedipkan matanya. Seringai kejam terukir di sudut bibirnya. Ia tidak repot-repot menghindar.
Ia mengangkat tangan kirinya ke atas. Pusaran energi emas kemerahan meledak dari telapak tangannya, diwarnai oleh aura abu-abu dari Niat Kehancuran. Saat puluhan pilar meriam kristal itu menghantam telapak tangannya, tidak ada ledakan atau gelombang kejut yang terjadi. Cahaya merah yang destruktif itu seketika memudar, terurai, dan menghilang ke dalam kehampaan, seolah-olah ditelan oleh mulut lubang hitam kosmik.
“Tembakan yang bahkan tidak cukup panas untuk menghangatkan air mandiku,” cibir Lin Tian suaranya menggema melalui sisa-sisa angin.
Sebelum para awak kapal bisa memuat ulang meriam mereka, Lin Tian telah mencapai ketinggian kapal perang tersebut. Ia tidak mendarat dengan anggun. Ia menghentakkan kedua kakinya tepat di atas geladak kayu besi hitam di haluan kapal utama.
BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRGGGGGGGGHHHHHHHH!
Dampak pendaratan Lin Tian setara dengan meteorit yang jatuh dari langit. Kayu besi hitam yang diklaim mampu menahan pukulan ahli Alam Langit hancur berkeping-keping menjadi serpihan tajam. Formasi pelindung kapal yang berlapis-lapis pecah seperti kaca tipis yang dipukul palu godam. Seluruh kapal perang raksasa itu miring ke depan, buritannya terangkat ke udara, membuat ratusan prajurit dan awak kapal menjerit histeris saat mereka tergelincir dan berjatuhan dari atas langit.
Gelombang kejut dari pendaratan itu menyapu bersih barisan depan pertahanan Jenderal Ye Tu. Puluhan prajurit elit meledak menjadi kabut darah hanya karena terkena imbas tekanan udara murni dari hentakan kaki sang Tiran Naga.
Lin Tian berdiri tegak di tengah kehancuran haluan kapal. Jubah hitamnya berkibar liar tertiup angin kencang di ketinggian ribuan kaki. Matanya yang keemasan menyapu geladak yang kacau balau, dan tatapannya berhenti tepat pada kelompok tetua dari Sekte Pedang Awan dan Sekte Gunung Emas yang kini terpojok di dekat tiang utama kapal.
“Kalian berlari cukup jauh dari Makam Nirvana, anjing-anjing tua,” ucap Lin Tian, suaranya sangat tenang namun memancarkan niat membunuh yang membuat darah para tetua itu membeku di dalam pembuluh nadi mereka. “Aku sudah berpesan untuk menyiapkan peti mati kalian sendiri. Tapi tampaknya kalian lebih memilih untuk dikubur di udara terbuka.”
“B-Bunuh iblis ini bersama-sama! Jika kita tidak membunuhnya sekarang, sekte kita tidak akan pernah memiliki hari esok!” teriak salah seorang Tetua Sekte Gunung Emas yang kehilangan akal sehatnya. Ia membakar seluruh esensi darahnya, memadatkan Qi elemen tanah menjadi sebuah palu batu raksasa yang melayang di udara, dan menerjang ke arah Lin Tian.
Tetua Pertama Sekte Pedang Awan dan sisa lima tetua lainnya menyadari kebenaran dari keputusasaan itu. Mereka tidak memiliki jalan keluar. Menjerit gila, mereka semua membakar esensi kehidupan mereka secara serentak, melepaskan teknik pamungkas yang menyatukan elemen pedang dan tanah, menciptakan badai kehancuran yang mengarah langsung ke jantung Lin Tian.
Lin Tian mendengus penuh penghinaan.
“Kalian tidak pantas mendapatkan kematian dari sebuah pertarungan.”
Lin Tian bahkan tidak mengepalkan tinjunya atau memanggil kekuatan Sarung Tangan Pembelah Bintang. Ia hanya menyipitkan matanya dan melepaskan Niat Kehancuran Naga secara area penuh (Area of Effect).
Gelombang riak spasial berwarna abu-abu keemasan menyapu ke depan bagaikan hembusan angin musim gugur yang meniup dedaunan kering. Saat gelombang niat itu bersentuhan dengan palu batu raksasa, badai pedang, dan tubuh keenam tetua sekte tersebut… waktu seolah terhenti.
Mata Tetua Pertama Sekte Pedang Awan membelalak lebar, menatap tangan kanannya yang memegang pedang. Ujung pedang pusakanya mulai berubah menjadi debu abu-abu. Debu itu merambat dengan sangat cepat ke gagang pedang, ke lengannya, bahunya, hingga ke seluruh tubuhnya. Tidak ada rasa sakit, tidak ada jeritan. Hanya sebuah peniadaan eksistensi yang mutlak.
“T-Tidak… sekte kita…” Itu adalah gumaman terakhir dari Tetua Pertama sebelum kepalanya ikut memudar menjadi debu.
Dalam waktu kurang dari dua tarikan napas, enam ahli puncak Alam Bumi dari dua sekte ortodoks raksasa lenyap tak berbekas, dihapus dari dunia ini oleh dominasi Niat Kehancuran tanpa sempat menyentuh sehelai pun rambut Lin Tian.
Melihat pemandangan horor yang melampaui logika tersebut, sisa-sisa prajurit Kekaisaran Naga Hitam di atas kapal langsung menjatuhkan senjata mereka. Mereka menjatuhkan diri ke geladak dan bersujud gemetar, merengek memohon ampunan. Moral tempur mesin perang terkuat di benua itu telah hancur lebur di hadapan satu orang pemuda.
Namun, ada satu sosok yang tidak bersujud.
Dari ujung anjungan kapal yang berada di posisi lebih tinggi, sebuah tepuk tangan perlahan dan lambat terdengar.
Prok… prok… prok…
Jenderal Ye Tu, salah satu dari Empat Pilar Kekaisaran Naga Hitam, berjalan menuruni tangga anjungan dengan langkah yang sangat berat. Setiap kali sepatu bot besinya menginjak anak tangga kayu, udara di sekitarnya beriak dan terdistorsi. Zirah naga hitam yang menutupi seluruh tubuhnya memancarkan aura kegelapan yang luar biasa pekat, seolah ia adalah lubang hitam berjalan yang menyerap seluruh cahaya di sekitarnya.
“Niat Kehancuran,” Jenderal Ye Tu berbicara, suaranya dalam dan beresonansi dengan Qi Setengah Langkah Nirvana, menggetarkan sisa-sisa tiang kapal. “Sebuah hukum alam tertinggi yang hanya bisa disentuh oleh para dewa di era kuno. Melihat seorang pemuda di Alam Bumi tingkat awal menguasainya… itu adalah sebuah anomali yang membuat surga sekalipun akan merasa cemburu.”
Ye Tu berhenti di tengah geladak, berjarak dua puluh meter dari Lin Tian. Matanya yang dingin menatap pemuda itu dengan perpaduan antara kekaguman yang kelam dan niat membunuh yang tak terbatas.
“Tetapi,” Ye Tu melanjutkan, mencabut sebilah tombak raksasa berwarna hitam legam dari punggungnya. Tombak itu diukir dengan pola naga yang sedang melilit, dan memancarkan tekanan spiritual yang sangat mencekik. “Kekuatan sebesar itu di tangan yang terlalu muda dan fondasi yang terlalu dangkal adalah sebuah pisau bermata dua. Kau menghapus mereka dengan mudah karena mereka hanyalah Alam Bumi fana. Namun di hadapanku, seseorang yang telah menapakkan satu kakinya di gerbang Nirvana, Niat Kehancuranmu tidak akan mampu menghapus keberadaanku sebelum aku menghancurkan lehermu!”
BUMMM!
Aura Setengah Langkah Nirvana dari Jenderal Ye Tu meledak sepenuhnya. Langit siang di atas armada itu seketika berubah menjadi gelap gulita, tertutup oleh awan badai berwarna hitam pekat. Qi kegelapan yang sangat beringas menyembur dari tubuh Ye Tu, membentuk sebuah proyeksi Naga Hitam raksasa yang panjangnya mencapai ratusan meter di udara, melilit kapal perang utama tersebut.
Ini bukan sekadar ilusi Qi. Ini adalah manifestasi dari Hukum Kegelapan dan Kematian yang telah dipahami oleh Ye Tu selama ratusan tahun. Raungan naga hitam itu membuat udara membeku dan memaksa sisa prajurit di geladak memuntahkan darah, pingsan akibat tekanan aura tuan mereka sendiri.
“Kekaisaran Naga Hitam menaklukkan dunia ini dengan kekuatan absolut naga,” raung Ye Tu, suaranya tumpang tindih dengan suara naga hitam raksasa di belakangnya. “Hari ini, aku akan menunjukkan padamu perbedaan antara seekor anak serigala yang baru menemukan taringnya, dengan sang penguasa langit yang sesungguhnya! Seni Kekaisaran: Pemusnahan Naga Hitam!”
Naga hitam raksasa yang terbuat dari Qi murni dan hukum kematian itu melesat turun dari langit, membuka rahangnya yang seukuran gunung kecil, berniat menelan seluruh haluan kapal beserta Lin Tian di dalamnya. Tekanan dari rahang yang terbuka itu meretakkan lambung kapal, mengancam akan menghancurkan seluruh armada hanya dari imbas serangannya.
Menghadapi penindasan dari entitas yang kekuatannya hampir menyentuh batas fana tertinggi, Lin Tian tidak mundur selangkah pun. Ia hanya menengadahkan kepalanya menatap naga hitam tersebut, dan sebuah tawa yang luar biasa sinis, penuh dengan ejekan yang menembus jiwa, meluncur dari mulutnya.
“Kalian menyebut cacing tanah berbalut kegelapan ini sebagai naga?!” Suara Lin Tian meledak, mematahkan gemuruh petir di langit gelap.
Di dalam Dantiannya, Inti Naga Surgawi yang terbuat dari emas gelap berputar satu kali. Ini adalah pertama kalinya Lin Tian memanggil kekuatan inti aslinya setelah menembus Alam Bumi.
Mata Lin Tian berubah menjadi sepenuhnya emas bercahaya, menghilangkan pupil hitamnya. Di dahi pemuda itu, sebuah lambang naga purba kecil yang bercahaya muncul sejenak.
“Kau ingin menggunakan naga melawanku, Ye Tu? Kau menantang lautan dengan setetes air ludah! TUNDUKLAH PADA RAJAMU!”
Lin Tian merentangkan kedua tangannya. Pendaran emas yang sangat menyilaukan meledak dari tubuhnya, menembus kegelapan awan badai Ye Tu bagaikan matahari fajar yang merobek tirai malam. Dari dalam cahaya emas itu, sebuah proyeksi Kaisar Naga Surgawi purba bermanifestasi.
Ukurannya tidak lebih besar dari naga hitam Ye Tu, namun aura penindasan hierarki, kemurnian garis keturunan, dan arogansi yang dipancarkannya berada di dimensi yang sepenuhnya berbeda. Di hadapan Kaisar Naga Emas ini, naga hitam Ye Tu terlihat seperti ular kadut yang bertemu dengan elang raksasa.
ROAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRR!
Raungan naga emas itu bukan sekadar gelombang suara; ia adalah hukum absolut dari rantai makanan semesta.
Saat gelombang suara itu menghantam naga hitam raksasa milik Ye Tu, fenomena yang sangat memalukan bagi Kekaisaran Naga Hitam terjadi. Naga hitam yang memancarkan aura Setengah Langkah Nirvana itu tiba-tiba gemetar hebat di udara. Ia menghentikan serangannya secara paksa, tubuhnya meliuk-liuk mundur, dan ilusi matanya memancarkan teror instingtual yang meruntuhkan konstruksi Qi-nya sendiri!
Penindasan Garis Keturunan Absolut!
Hukum Kegelapan Ye Tu dihancurkan bukan oleh benturan kekuatan, melainkan oleh kepatuhan mutlak. Seekor naga palsu tidak akan pernah berani menggigit kaisarnya.
“A-Apa?! Tidak mungkin! Seni Kekaisaranku menolak perintahku?!” Jenderal Ye Tu menjerit panik, matanya membelalak melihat naga kebanggaannya hancur menjadi kabut hitam dan buyar ditiup angin hanya karena satu raungan dari proyeksi di belakang pemuda tersebut.
“Seni bela dirimu hanyalah tiruan murahan dari eksistensiku yang sesungguhnya,” suara Lin Tian menggema di udara saat ia berjalan perlahan mendekati Ye Tu, setiap langkahnya menggetarkan geladak kapal. Sarung Tangan Pembelah Bintang di kedua tangannya memancarkan api berwarna merah darah yang kini menyatu dengan pendaran emas gelap dari auranya.
Kepanikan Ye Tu hanya berlangsung sesaat. Sebagai seorang veteran perang yang telah selamat dari ribuan pertempuran, ia tahu bahwa jika teknik jarak jauhnya dihancurkan, ia harus mengandalkan pertarungan fisik jarak dekat.
“Aku mungkin tidak bisa menggunakan aura naga melawanku, tapi kultivasiku masih Setengah Langkah Nirvana! Esensi suciku akan menghancurkan tubuhmu!” raung Ye Tu. Ia memutar tombak hitamnya, memadatkan seluruh sisa Qi di Dantiannya ke ujung tombak, menciptakan sebuah titik singularitas hitam yang memiliki daya tembus absolut.
Ye Tu melesat maju, mengabaikan jarak dua puluh meter dalam satu kedipan mata, dan menusukkan tombak itu lurus ke jantung Lin Tian.
“Seni Pemusnah Bintang: Tusukan Kematian Absolut!”
Kecepatan dan tekanan dari tusukan itu benar-benar sempurna. Ia mengunci ruang di sekitar Lin Tian, membuat mustahil bagi pemuda itu untuk menghindar. Ujung tombak hitam yang membawa kekuatan destruktif setara dengan jatuhnya meteorit kecil itu meluncur tepat ke arah dada Lin Tian.
Lin Tian menyeringai lebar. Ia tidak menggunakan Seni Langkah Bayangan Awan untuk menghindar. Ia justru mengambil setengah langkah ke depan, menyongsong ujung tombak itu.
Tangan kanannya, yang dilapisi oleh Sarung Tangan Pembelah Bintang tingkat Surga dan diselimuti oleh Niat Kehancuran Naga, melesat ke depan untuk menyambut tusukan maut dari ahli Setengah Langkah Nirvana tersebut.
Lin Tian tidak menangkis. Ia meninju lurus tepat ke ujung mata tombak pusaka Ye Tu!
BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHH!
Benturan kali ini tidak menghasilkan suara ledakan yang nyaring, melainkan sebuah dengungan berfrekuensi sangat rendah yang merobek gendang telinga dan memecahkan pembuluh darah siapa pun dalam radius sepuluh mil. Sebuah cincin gelombang kejut berwarna hitam dan emas meledak secara horizontal, langsung memotong tiang utama kapal perang itu menjadi dua bagian yang rapi.
Di titik pusat benturan, apa yang terjadi di luar nalar manusia fana.
Tinju Lin Tian yang memancarkan Niat Kehancuran beradu dengan singularitas kematian di ujung tombak Ye Tu. Selama satu detik yang terasa seperti keabadian, kedua kekuatan itu saling menekan. Namun, hukum kehancuran Lin Tian ditenagai oleh Inti Naga Surgawi, sebuah generator energi abadi yang melampaui batasan kualitas dunia fana.
KRAAAAK!
Suara retakan pertama berasal dari tombak hitam milik Ye Tu. Senjata pusaka yang telah menemani Jenderal itu membantai ribuan musuh mulai retak dari ujungnya. Niat Kehancuran abu-abu keemasan merayap masuk, mengubah logam ilahi itu menjadi debu pasir yang berhamburan.
“M-Mustahil! Niat Kehancuranmu… bagaimana bisa sekuat ini?!” Mata Ye Tu nyaris melompat keluar dari rongganya saat ia merasakan gaya tolak yang tak tertahankan merambat naik dari gagang tombaknya. Lengannya yang berbalut zirah naga hitam berderak patah di beberapa bagian.
“Karena Niatku tidak memiliki batas. Hancurlah.”
Lin Tian mendorong tinjunya ke depan satu inci lagi.
PRANGGG!
Tombak pusaka itu hancur berkeping-keping sepenuhnya. Sisa tenaga dari tinju Lin Tian yang berlapis Sarung Tangan Pembelah Bintang menerjang tanpa hambatan, menghantam lurus ke dada Jenderal Ye Tu.
Zirah naga hitam yang diklaim tak tertembus itu melekuk ke dalam membentuk cetakan tinju yang sempurna, sebelum akhirnya meledak dari dalam ke luar. Pukulan Lin Tian menembus dada sang Jenderal hingga punggungnya berlubang besar.
Ye Tu terhempas ke udara, memuntahkan darah segar yang bercampur dengan serpihan jantung dan organ dalamnya. Tubuh raksasanya terbang mundur melintasi geladak kapal, menabrak sisa-sisa reruntuhan anjungan, dan akhirnya tertancap di dinding buritan kapal dalam posisi tersalib oleh sisa-sisa kayu besi.
Sang pilar Kekaisaran Naga Hitam, seorang eksistensi Setengah Langkah Nirvana yang ditakuti di seluruh benua, dikalahkan murni oleh adu kekuatan fisik dan hukum absolut hanya dalam satu pertukaran serangan.
Lin Tian menarik kembali tinjunya, asap tipis berwarna emas mengepul dari permukaan sarung tangannya. Napasnya sedikit memburu, tanda bahwa serangan tadi menguras cukup banyak energi dari Inti Bumi barunya, namun kepuasan di matanya tak ternilai harganya.
Ia berjalan perlahan menuju tubuh Ye Tu yang sedang meregang nyawa di dinding buritan. Pria paruh baya itu masih memiliki sisa-sisa kesadaran berkat vitalitas kultivasinya yang tinggi. Matanya yang redup menatap Lin Tian dengan ketakutan yang kini telah berubah menjadi keputusasaan absolut.
“K-Kau… bukan manusia…” Ye Tu terbatuk, darah hitam mengalir dari mulutnya. “Kau adalah bencana… Kekaisaran Naga Hitam… Yang Mulia Kaisar… tidak akan mengampunimu. Jutaan pasukan… akan meratakanmu…”
Lin Tian berhenti di depan sang Jenderal. Seringai iblisnya mengembang.
“Bagus. Beritahu Kaisarmu yang bersembunyi di balik tembok istananya itu,” Lin Tian mengangkat tangan kanannya, matanya memancarkan kilatan predator yang siap menelan alam semesta. “Bahwa jika ia tidak datang mencariku, akulah yang akan mendatangi ibukotanya, meruntuhkan tahtanya, dan menjadikan mahkotanya sebagai pijakan kakiku.”
Lin Tian menempelkan telapak tangannya ke wajah Ye Tu. Pusaran Inti Naga Surgawi berputar dengan brutal. Daya hisap yang luar biasa masif meledak.
Esensi dari Setengah Langkah Nirvana adalah nutrisi kualitatif tingkat tertinggi yang belum pernah dirasakan Lin Tian sebelumnya. Saat energi kehidupan dan Qi suci Ye Tu ditarik keluar, Lin Tian bisa merasakan Inti Bumi emasnya di dalam Dantian semakin memadat, semakin berat, dan memancarkan cahaya yang semakin menyilaukan. Tingkat Awal Alam Bumi-nya langsung dikonsolidasikan dan ditekan hingga batas paling padat, menghilangkan semua ketidakstabilan akibat terobosan yang terlalu cepat.
Tubuh Jenderal Ye Tu mengering dalam hitungan detik, mengubahnya menjadi mumi rapuh yang kemudian hancur menjadi debu saat Lin Tian melepaskan tangannya.
Hanya sebuah cincin spasial berlambang naga hitam yang jatuh ke lantai, yang langsung dipungut oleh pemuda itu.
Pertarungan di geladak kapal utama telah usai. Namun, di langit sekitarnya, sebuah pemandangan yang sama epik dan mengerikannya sedang berlangsung.
Sementara Lin Tian menghadapi Jenderal Ye Tu, dua kapal perang Kekaisaran Naga Hitam lainnya yang melayang di udara mencoba bermanuver untuk memberikan bantuan tembakan meriam. Ratusan awak kapal sibuk menyiapkan formasi penyerang.
Namun, sebelum meriam-meriam itu sempat menyala, suhu udara di sekitar kedua kapal perang raksasa tersebut merosot hingga mencapai batas nol mutlak.
Dari bawah lembah, Bai Xue melayang naik dengan sayap esnya yang membentang indah. Gaun putihnya berkibar, matanya memancarkan kedinginan sang Ratu Es yang tak terbantahkan. Dengan kultivasi Puncak Alam Langit dan meridian yang telah menyatu dengan kutukan Rantai Es Absolut, Bai Xue kini adalah eksistensi yang menguasai hukum musim dingin itu sendiri.
Ia mengangkat pedang esnya tinggi-tinggi.
“Domain Es Absolut: Pemakaman Ratusan Tahun,” bisik Bai Xue, suaranya merdu namun sedingin kutub.
Seketika, gelombang badai salju biru yang sangat pekat meledak dari pedangnya, menyapu kedua kapal perang raksasa tersebut. Tidak ada ledakan, tidak ada api. Yang terjadi adalah sebuah pembekuan instan pada tingkat molekuler.
Lambung kapal dari kayu besi, layar-layar besar, meriam kristal, dan ratusan prajurit elit Kekaisaran Naga Hitam yang berada di atasnya, semuanya membeku dalam waktu kurang dari dua detik. Mereka berubah menjadi patung es abadi, dengan ekspresi ketakutan yang membeku secara permanen di wajah mereka.
Di langit, dua bongkahan es raksasa berbentuk kapal perang itu kehilangan daya apung dari formasi mereka, dan dengan suara gemuruh yang berat, keduanya jatuh bebas ke arah pegunungan di bawah.
BLAAAAAARRRR! PRANGGG!
Kedua kapal perang itu menghantam bumi dan hancur berkeping-keping menjadi jutaan serpihan es dan logam, memusnahkan seluruh sisa awak kapal dalam satu serangan indah nan mematikan.
Bai Xue melayang dengan anggun dan mendarat di atas sisa geladak kapal utama tempat Lin Tian berdiri. Kapal utama itu sendiri sudah mulai kehilangan ketinggian akibat tiang dan formasi yang dihancurkan oleh gelombang kejut pertempuran.
Bai Xue memandang lautan mayat debu di geladak, lalu beralih menatap Lin Tian yang berdiri tegak menatap cakrawala, membelakangi matahari terbenam yang memancarkan warna jingga kemerahan.
“Puncak Alam Langit sangat cocok untukmu,” komentar Lin Tian tanpa menoleh, merasakan aura es murni yang dipancarkan Bai Xue. “Esmu jauh lebih rapi dan lebih cepat daripada saat kita pertama kali bertemu di Hutan Kematian.”
“Dan kaulah yang memberiku sayap ini kembali, Lin Tian,” Bai Xue melangkah mendekat, berdiri di sampingnya. Ia memandang ke arah wilayah tengah benua yang membentang luas di depan mereka. “Tiga kapal perang utama dan seorang Pilar Kekaisaran telah jatuh. Ini bukan lagi sekadar pelarian, Lin Tian. Kekaisaran Naga Hitam memiliki jutaan tentara, ratusan tetua Alam Langit, dan Kaisar mereka… dia dikatakan telah mencapai Alam Nirvana sesungguhnya. Kita baru saja menyatakan perang terbuka dengan faksi penguasa absolut dunia fana.”
“Perang? Tidak, Bai Xue,” Lin Tian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tenang, kejam, dan penuh dengan kepastian absolut. Ia mengulurkan tangannya yang dilapisi Sarung Tangan Pembelah Bintang, menunjuk lurus ke arah jantung Benua Cakrawala, di mana ibukota kekaisaran bersemayam. “Ini adalah pembersihan. Mereka mengira mereka bisa memburuku? Biarkan mereka bersiap. Karena setelah aku selesai mengonsolidasikan kultivasiku, kita akan langsung menuju ke Ibukota Naga Hitam. Aku akan merobek langit mereka, menghancurkan gerbang mereka, dan duduk di atas singgasana yang mereka banggakan.”
Lin Tian menoleh menatap Bai Xue, mata emasnya memancarkan gairah petualangan dan darah. “Bersiaplah, Ratu Es. Dunia Jianghu terlalu kecil untuk menampung kita berdua, jadi kita akan memperluasnya dengan menghancurkan batas-batasnya.”
Bersamaan dengan runtuhnya sisa kapal perang utama itu ke arah bumi, Lin Tian dan Bai Xue melesat ke udara, terbang menjauh ke arah matahari terbenam. Panggung perbatasan telah mereka bersihkan, dan kini, legenda sang Tiran Naga yang tak terkalahkan bersiap untuk menelan pusat Benua Cakrawala ke dalam badai darah yang akan dikenang sepanjang masa.