Bab 39: Suara Hutan Purba

Ukuran:
Tema:

Keheningan di Hutan Terlarang Timur berbeda dengan keheningan biasa. Bukan tidak adanya suara, tetapi lapisan suara yang terdengar seperti dari dunia lain—desau angin yang membisikkan kata-kata tak terbaca, gemerisik daun seperti langkah kaki tak kasat mata, dan kadang-kadang, genderang samar yang terdengar dari berbagai arah sekaligus. Lin Ming memimpin tim dengan hati-hati, sistemnya terus memindai lingkungan meski dengan kapasitas terbatas karena pemulihan yang belum selesai.

[Sistem: Analisis lingkungan…] [Tingkat energi alam: 500% lebih tinggi dari wilayah normal.] [Flora dan fauna: Mengandung sifat unik, beberapa menunjukkan kesadaran energi dasar.] [Peringatan: Terdeteksi formasi alam kuno yang aktif. Efek: Membatasi kemampuan terbang dan teleportasi.]

“Kita tidak bisa bergerak terlalu cepat,” bisik Lin Ming. “Formasi di sini membatasi gerakan. Dan ada sesuatu yang… mengamati kita.”

Xiao Lan mengangguk, matanya menyapu pepohonan raksasa di sekeliling. “Aku bisa merasakan mata-mata. Bukan manusia, tapi… hutan itu sendiri seolah hidup.”

An kecil bergidik. “Maksudmu pohon-pohon ini punya kesadaran?”

“Mungkin bukan pohon individual, tapi semacam kesadaran kolektif hutan,” jelasan Mei Ling sambil memeriksa tanaman merambat aneh di dekatnya. “Beberapa catatan menyebutkan tempat seperti ini—hutan purba yang menyimpan memori zaman kuno.”

Mereka terus berjalan mengikuti peta yang diberikan Sesepuh Wang, yang sekarang mulai kurang akurat. Simbol-simbol di peta tidak selalu cocok dengan landmark yang mereka temui, seolah-olah hutan ini bisa berubah atau mereka sudah tersesat dalam ilusi.

Setelah berjalan sekitar dua jam, mereka menemukan struktur pertama—batu-batu berdiri membentuk lingkaran sempurna, mirip dengan Stonehenge namun dalam skala lebih kecil dan dengan ukiran yang jauh lebih rumit. Di tengah lingkaran, ada batu altar datar dengan cekungan berbentuk tetesan.

“Tempat ritual,” gumam Lin Ming. Dia mendekati salah satu batu berdiri, menyentuh ukirannya. “Simbolnya mirip dengan yang di Sekte Awan, tapi dengan variasi.”

Xiao Lan tiba-tiba memegangi dadanya. “Darah Abadi… bereaksi. Ada sesuatu di sini.”

Dia berjalan ke altar tengah, menempatkan tangan di atas cekungan. Darah keemasan dari ujung jarinya menetes, memenuhi cekungan. Saat tetesan terakhir jatuh, altar bersinar, dan dari batu-batu berdiri, proyeksi cahaya muncul—gambar hantu dari masa lalu.

Mereka melihat sekelompok orang dengan pakaian sederhana dari kulit dan daun, berkumpul di lingkaran ini. Seorang perempuan tua dengan tongkat kayu berdiri di altar, memimpin upacara. Mereka menyanyikan mantra dalam bahasa yang tak dikenal, dan energi alam berkumpul, mengalir ke dalam tanah di tengah lingkaran.

“Upacara pemeliharaan segel,” bisik Xiao Lan, matanya tak berkedip menatap proyeksi. “Mereka adalah penjaga pertama—suku asli yang tinggal di hutan ini.”

Proyeksi berubah: sekarang menunjukkan sosok dengan jubah merah—bukan Rasul Darah, tetapi seseorang dengan aura yang lebih tua dan lebih kuat—mendekati lingkaran. Suku penjaga mencoba menghalangi, tapi sosok merah itu dengan mudah mengalahkan mereka. Dia menempatkan sesuatu di altar, dan cahaya hitam menyebar.

“Rusak,” gumam Lin Ming. “Seseorang merusak segel di sini, mungkin ratusan tahun yang lalu.”

Proyeksi memudar. Xiao Lan menarik tangannya dari altar, wajah pucat. “Aku merasakan… penderitaan. Tanah di sini terluka. Segelnya rusak parah, hanya tersisa sisa-sisa.”

“Artinya Rasul Darah mungkin tidak perlu merusaknya lagi—dia hanya perlu mencegah perbaikan, atau menggunakan sisa energinya untuk sesuatu.” Lin Ming melihat sekeliling. “Tapi kenapa dia datang ke sini kalau segel sudah rusak?”

“Mungkin untuk mengambil sesuatu,” usul An kecil. “Dari proyeksi tadi, sosok merah itu menaruh sesuatu di altar.”

Mei Ling memeriksa altar lebih dekat. “Di sini, ada bagian yang bisa dibuka.” Dengan hati-hati, dia menekan pola tertentu di sisi altar, dan sebuah kompartemen kecil terbuka. Di dalamnya, kosong.

“Sudah diambil,” kata Lin Ming. “Mungkin oleh Rasul Darah, atau seseorang sebelumnya.”

Tiba-tiba, suara genderang terdengar lebih jelas—kini berasal dari satu arah: timur laut. Bersamaan dengan itu, suara seruling bernada sedih bergabung.

“Penghuni hutan,” bisik Xiao Lan. “Mereka memanggil kita.”

“Atau memperingatkan kita,” tambah Lin Ming. “Tapi kita harus mengikuti. Itu mungkin petunjuk.”

Mereka bergerak ke arah suara, kini dengan lebih waspada. Hutan semakin lebat, dengan akar-akar besar membentuk lengkungan alami seperti gerbang. Cahaya matahari hampir tidak menembus kanopi, membuat suasana seperti senja abadi.

Setelah sekitar tiga puluh menit, mereka tiba di tepi sebuah sungai jernih yang airnya memancarkan cahaya biru lembut. Di seberang sungai, perkemahan terlihat—bukan tenda, tetapi rumah-rumah pohon yang dibangun dengan harmonis di antara cabang-cabang raksasa. Dan di tepi sungai di seberang, sekelompok orang berdiri menunggu.

Mereka bukan seperti orang biasa. Tingginya rata-rata di bawah normal, kulitnya kecoklatan dengan pola seperti kulit pohon, dan mata mereka berwarna hijau terang. Pakaian mereka dari daun dan kulit yang dirajut dengan indah, dan beberapa memegang tongkat dengan batu hijau di ujungnya.

“Suku Penjaga Hutan,” bisik Mei Ling. “Aku pernah membaca tentang mereka. Diyakini sudah punah.”

Salah satu dari mereka, seorang perempuan dengan rambut abu-abu panjang dan mahkota daun, melangkah maju. Dia berbicara dalam bahasa yang terdengar seperti gemerisik daun dan aliran air, tapi anehnya, mereka semua mengerti maksudnya.

“Pembawa Darah Murni dan Pemegang Warisan Penjaga. Kalian akhirnya datang.”

Lin Ming sedikit terkejut. “Kau tahu kami akan datang?”

“Hutan memberitahu kami. Pohon-pohon tua menyimpan ingatan, dan angin membawa kabar.” Perempuan itu menatap Xiao Lan khususnya. “Darahmu… berbeda dari yang lain. Murni, tidak ternoda oleh keserakahan.”

Xiao Lan membungkuk hormat. “Kami mencari segel kuno yang rusak. Dan orang yang mungkin mencoba menyalahgunakannya.”

“Orang Berjubah Merah. Ya, dia sudah lewat tiga hari lalu. Dia mengambil ‘Hati Hutan’ dari altar batu.” Perempuan itu wajahnya sedih. “Tanpa Hati Hutan, segel akan sepenuhnya runtuh dalam satu bulan. Dan yang terkutuk di bawah akan bangun.”

“Bisakah kita menghentikannya?” tanya Lin Ming.

“Bisa, tapi butuh pengorbanan.” Perempuan itu menyeberangi sungai tanpa jembatan—kakinya menyentuh air, dan air membeku membentuk jalan es sesaat. Dia berdiri di depan mereka. “Aku adalah Ratu Daun, pemimpin suku Penjaga. Ikutlah, kita akan berbicara di tempat yang lebih aman.”

Mereka dibawa menyeberang dengan cara yang sama—air membeku di bawah kaki mereka saat melangkah. Di seberang, mereka disambut oleh suku lainnya dengan ekspresi campuran: rasa ingin tahu, harapan, dan sedikit ketakutan.

Di rumah pohon terbesar, sebuah ruang pertemuan dengan lantai dari anyaman akar, mereka duduk melingkar. Ratu Daun memberikan mereka minuman dari cangkir kayu—cairan manis yang segera memulihkan energi mereka.

“Ceritakan dari awal,” kata Ratu Daun. “Kenapa kalian mencari segel?”

Lin Ming menceritakan singkat: dari Sekte Awan, tentang kultus yang ternyata adalah penjaga yang terkorupsi, tentang segel di sana, dan tentang Rasul Darah yang lolos. Xiao Lan menambahkan tentang Darah Abadi dan ingatan kuno yang dia miliki.

Ratu Daun mendengarkan dengan serius, lalu menganggak. “Kisah yang akrab. Tujuh Segel, Tujuh Penjaga. Kami adalah penjaga segel hutan, turun-temurun dari suku pertama yang membuat perjanjian dengan Hutan Purba.”

“Perjanjian?” tanya An kecil.

“Ya. Saat Yang Terkutuk mencoba memasuki dunia kita, tujuh kekuatan besar bersatu: Langit, Bumi, Api, Air, Angin, Darah, dan Kehidupan.” Ratu Daun melihat Xiao Lan. “Dewa Darah adalah salah satu dari mereka. Tapi dalam pertempuran terakhir, dia terkontaminasi oleh energi Terkutuk, dan terpaksa dikurung bersama musuh.”

Xiao Lan terkesiap. “Jadi Dewa Darah bukan jahat asli?”

“Tidak. Dia pahlawan yang jatuh. Dan fragmentasi jiwanya yang tersisa…” Ratu Daun menatap dada Xiao Lan. “…mencari penebusan. Itu sebabnya memilihmu, Pembawa Darah Murni.”

Lin Ming mengerti sekarang. “Jadi Rasul Darah—”

“Adalah pengikut Dewa Darah yang terkorupsi, yang percaya bahwa membebaskan tuannya adalah tujuan tertinggi, tanpa peduli konsekuensinya.” Ratu Daun berdiri, berjalan ke jendela yang terbuat dari daun transparan. “Dia mengambil Hati Hutan untuk melemahkan segel lebih lanjut, tapi mungkin juga untuk sesuatu yang lain.”

“Sesuatu yang lain?”

“Hati Hutan adalah sumber energi kehidupan murni. Dengan Darah Abadi yang dia miliki—atau setidaknya, versi korupnya—dan Hati Hutan, dia bisa mencoba membangkitkan Dewa Darah sepenuhnya, tapi dalam wujud terkorupsi.”

Xiao Lan berdiri. “Kita harus menghentikannya. Tapi di mana dia sekarang?”

“Di Hati Hutan—pusat hutan terdalam, tempat pohon tertua tumbuh. Di sana, ada sisa-sisa kuil tempat segel utama berada.” Ratu Daun menoleh pada mereka. “Tapi perjalanan ke sana berbahaya. Bahkan kami, Penjaga, jarang pergi ke sana. Tempat itu… telah tercemar sejak segel rusak.”

“Kami harus mencoba,” kata Lin Ming tegas.

“Kami akan memandu kalian,” kata suara dari pintu. Seorang lelaki muda suku berdiri di sana, dengan tubuh berotot dan mata tajam. “Aku adalah Tumbuh, pemburu terbaik suku kami. Aku tahu jalan.”

Ratu Daun menganggak. “Baik. Tumbuh akan membawa kalian. Tapi peringatan: di Hati Hutan, kenyataan dan ilusi bercampur. Pohon tertua masih hidup, dan dia marah karena lukanya. Dia mungkin tidak membedakan antara teman dan musuh.”

Persiapan dilakukan dengan cepat. Tumbuh membekali mereka dengan jimat daun yang bisa melindungi dari ilusi hutan, dan makanan khusus yang memberi energi. Suku juga memberikan mereka senjata dari kayu keras yang diasah dengan batu hijau—lebih efektif melawan makhluk tercemar daripada logam biasa.

“Kita akan berjalan semalam,” kata Tumbuh. “Malam adalah saat hutan paling aktif, tapi juga saat jalan menuju Hati Hutan terbuka.”

Mereka berangkat saat senja. Tumbuh memimpin dengan kecepatan yang mengejutkan—dia bergerak di antara pohon seperti bagian dari hutan itu sendiri. Yang lain berusaha mengikuti, dengan Lin Ming dan Xiao Lan di tengah, Mei Ling dan An kecil di belakang, diikuti lima murid Sekte Awan.

Malam di hutan lebih menakutkan daripada siang. Cahaya jamur fosfor dan serangga bercahaya memberikan penerangan samar, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak. Suara-suara aneh terdengar: erangan, bisikan, tangisan.

Di suatu titik, mereka melewati area di mana pohon-pohon memiliki wajah di batangnya—wajah yang meringis kesakitan. “Pohon yang tercemar,” bisik Tumbuh. “Mereka menyerap energi Terkutuk.”

Xiao Lan merasakan sakit di dadanya. “Mereka menderita. Bisakah kita membantu mereka?”

“Nanti. Setelah segel diperbaiki, hutan akan mulai menyembuhkan dirinya sendiri.” Tumbuh berhenti tiba-tiba, mengangkat tangan. “Dengar.”

Dari depan, suara langkah kaki banyak—bukan manusia, tapi sesuatu yang berat dan tidak teratur. Dan bau busuk menyengat menusuk hidung.

“Makhluk tercemar,” bisik Tumbuh. “Mereka menjaga jalan. Kita harus menghindar atau melawan.”

“Berapa banyak?” tanya Lin Ming.

“Sepuluh, mungkin lebih. Tapi kita tidak punya waktu untuk memutar.” Tumbuh melihat ke sekeliling. “Ada jalan kecil di kanan, melalui gua akar. Tapi gelap dan sempit.”

“Kita ambil jalan itu,” putus Lin Ming.

Mereka berbelok, memasuki lorong yang dibentuk oleh akar-akar pohon raksasa yang saling menjalin. Di dalam, hampir gelap total, hanya cahaya jamur kecil memberikan penerangan minimal. Mereka harus merangkak di beberapa bagian.

Tiba-tiba, dari depan, sura desis terdengar. Tumbuh berhenti, mengeluarkan pisau kayunya. “Ular tercemar. Besar.”

Dari kegelapan, dua mata merah bersinar. Kemudian lebih banyak—lima, enam pasang mata. Ular-ular besar dengan kulit bersisik hitam dan pola merah menyala mendekat, mulutnya menganga memperlihatkan taring panjang.

“System, analisis,” perintah Lin Ming.

[Analisis: “Darkwood Viper” – ular tercemar energi gelap. Tingkat ancaman: E+ hingga D-. Racun: Paralytic dan korosif. Kelemahan: Energi kehidupan murni.]

“Xiao Lan, bisa kau gunakan Darah Abadi?” tanya Lin Ming.

“Bisa, tapi dalam ruang sempit ini…” Xiao Lan mengulurkan tangan, dan darah keemasan membentuk kabut tipis. Kabut itu menyebar, menyentuh ular-ular itu. Ular-ular itu mendesis kesakitan, mundur. Tapi tidak semua—yang terbesar, sebesar tubuh manusia, terus mendekat.

Lin Ming menarik pedang Awan Penjaga. Pedang itu bersinar keperakan di kegelapan. Saat ular besar menyerang, dia menangkis dengan pedang, dan saat bilah pedang menyentuh kulit ular, sesuatu terjadi—ukiran di pedang bersinar, dan ular itu menjerit (suara seperti desisan dan erangan) sebelum mengkerut dan mati.

“Pedang Penjaga efektif melawan yang tercemar,” gumam Lin Ming.

Setelah ular-ular lainnya mundur, mereka melanjutkan. Lorong akar akhirnya terbuka ke ruang besar—sebuah gua alami dengan langit-langit tinggi yang dipenuhi kristal bercahaya. Di tengah gua, sebuah kolam air jernih, dan di tengah kolam, sebuah pulau kecil dengan pohon aneh—pohon itu setinggi manusia, dengan daun perak dan buah emas.

“Pohon Kehidupan kecil,” bisik Tumbuh dengan hormat. “Ini adalah tempat suci yang tersembunyi. Minum air kolam ini akan memulihkan energi dan menyembuhkan luka ringan.”

Merekab istirahat sejenak, minum air yang memang terasa menyegarkan dan memberi kekuatan. Lin Ming merasakan node-node Jaringan Bintangnya berdenyut lebih kuat, pemulihan dipercepat.

Saat mereka bersiap untuk melanjutkan, Xiao Lan tiba-tiba berkata, “Ada seseorang di sini.”

Semua waspada. Dari balik pohon Kehidupan, seorang perempuan tua muncul—bukan dari suku Penjaga, tapi manusia biasa dengan pakaian lusuh dan wajah penuh keriput. Matanya, bagaimanapun, berbinar dengan kecerdasan tajam.

“Ah, pengunjung baru,” kata perempuan tua itu dengan suara serak. “Sudah lama tidak ada yang datang.”

“Kau siapa?” tanya Lin Ming, pedang masih di tangan.

“Aku? Aku adalah Penjaga yang Terlupakan. Terjebak di sini sejak… oh, sudah tak terhitung.” Perempuan itu mendekat, tapi tidak bermusuhan. “Kau mencari Hati Hutan dan orang berjubah merah, bukan?”

“Kau tahu?”

“Tentu. Dia lewat dua hari lalu. Ambil Hati Hutan, dan pergi ke kuil tua.” Perempuan tua itu duduk di tepi kolam. “Tapi dia tidak sendirian. Ada yang lain menunggu di sana—seseorang yang lebih berbahaya.”

“Siapa?” tanya Xiao Lan.

“Yang memanggil dirinya ‘Rasul Kegelapan’. Dan dia bukan pengikut Dewa Darah. Dia adalah… sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih tua.” Perempuan tua itu menatap mereka satu per satu. “Kalian tidak siap menghadapinya. Tapi kalian punya sesuatu yang dia tidak punya.”

“Apa itu?”

“Keseimbangan.” Perempuan tua itu menunjuk Lin Ming dan Xiao Lan bergantian. “Penjaga Bumi dan Darah Murni. Bersama, kalian mewakili keseimbangan yang dibutuhkan untuk memperbaiki segel. Tapi kalian harus bekerja sama sepenuhnya, tanpa keraguan.”

Lin Ming dan Xiao Lan saling memandang. Mereka sudah melalui banyak bersama, tapi apakah mereka benar-benar seimbang? Lin Ming dengan warisan dan sistemnya, Xiao Lan dengan Darah Abadi dan ingatan kuno.

“Kami akan mencoba,” kata Lin Ming.

“Baik.” Perempuan tua itu berdiri. “Aku akan menunjukkan jalan cepat ke kuil. Tapi peringatan: setelah kalian masuk, tidak ada jalan kembali sampai segel diperbaiki atau… kalian gagal.”

Dia berjalan ke dinding gua, menekan beberapa kristal dalam urutan tertentu. Dinding itu terbuka, memperlihatkan lorong batu yang menurun.

“Jalan ini akan membawa kalian langsung ke bawah kuil. Tapi di dalam, ujian menunggu. Ujian iman, ujian pengorbanan, ujian keseimbangan.” Perempuan tua itu melihat mereka untuk terakhir kalinya. “Semoga kekuatan Tujuh Penjaga bersamamu.”

Mereka memasuki lorong, dan dinding menutup di belakang. Sekarang hanya ada jalan maju.

Lorong itu menurun tajam, dindingnya dipenuhi ukiran yang bercerita tentang perang kuno: gambar tujuh sosok melawan bayangan gelap, pengorbanan besar, dan pembuatan segel. Seiring mereka turun, tekanan energi semakin kuat.

Setelah sekitar satu jam berjalan, mereka mencapai pintu batu besar dengan tujuh lubang berbentuk berbeda. Di atas pintu, tulisan: “Hanya yang seimbang yang boleh lewat.”

“Tujuh lubang untuk tujuh elemen,” kata Mei Ling memeriksa. “Tapi kita tidak punya semua elemen.”

Xiao Lan mendekati pintu, menyentuhnya. “Mungkin… kita tidak perlu semua elemen secara terpisah. Mungkin keseimbangan yang dimaksud adalah…”

Dia menempatkan tangan di lubang berbentuk tetesan darah, dan darah keemasan memenuhinya. Lin Ming mengerti, menempatkan tangan di lubang berbentuk bumi/matahari (simbol Dewa Bela Diri). Dua lubang bersinar, tapi pintu tidak terbuka.

“Kurang satu,” kata An kecil.

Tumbuh melangkah maju. “Aku mewakili Hutan—Kehidupan.” Dia menempatkan tangan di lubang berbentuk pohon. Lubang itu bersinar hijau.

Tiga lubang bersinar, dan pintu perlahan terbuka. Ternyata, mereka tidak perlu semua tujuh—hanya tiga yang seimbang: Darah, Bumi, dan Kehidupan.

Di balik pintu, ruangan besar terbuka—kuil kuno dengan pilar-pilar raksasa. Di tengah, altar dengan cekungan kosong (tempat Hati Hutan seharusnya), dan di depannya, dua sosok berdiri.

Satu adalah Rasul Darah, memegang Hati Hutan—kristal hijau berdenyup seukuran kepalan tangan. Yang satunya…

Sosok itu tinggi, bertubuh seperti manusia tetapi dengan kulit abu-abu gelap dan mata tanpa pupil. Dia mengenakan jubah hitam sederhana, dan tangannya… memiliki jari yang terlalu panjang dan bengkok.

“Rasul Kegelapan,” bisik Lin Ming.

Sosok itu menoleh, dan senyuman tanpa emosi muncul di wajahnya. “Akhirnya. Keseimbangan yang kami tunggu.” Suaranya seperti gesekan batu, membuat bulu kuduk berdiri.

Rasul Darah tertawa. “Lihat? Aku bilang mereka akan datang. Sempurna untuk upacara terakhir.”

Xiao Lang melangkah maju. “Kami tidak akan membiarkan kalian menghancurkan segel.”

“Menghancurkan?” Rasul Kegelapan menggeleng pelan. “Kami tidak ingin menghancurkan. Kami ingin… membebaskan. Dan kalian akan membantu.”

Dia mengangkat tangan, dan dari lantai kuil, energi gelap menyembul, menjebak mereka semua dalam sangkar kegelapan. Pertempuran terakhir untuk Hati Hutan—dan untuk nasib segel—akan segera dimulai. Dan kali ini, lawan mereka bukan hanya Rasul Darah, tetapi entitas dari luar yang memiliki rencana sendiri, lebih tua dan mungkin lebih mengerikan dari yang mereka bayangkan.