Bab 41: Benturan Dua Dimensi dan Hancurnya Mahkota Raja Dewa
Kehadiran seorang Raja Dewa (Divine King) bukanlah sekadar kedatangan entitas fisik; itu adalah turunnya sebuah alam semesta mini yang memaksakan kehendaknya pada realitas di sekitarnya.
Langit di atas Kota Awan Mengambang tidak lagi berwujud awan atau ruang hampa, melainkan lautan badai kosmik murni. Feng Wuchen, Penguasa Domain Angin Suci, berdiri tegak di atas Kereta Perang Sembilan Naga Angin-nya. Kesembilan naga raksasa yang menarik kereta itu bukanlah monster spiritual fana, melainkan perwujudan langsung dari Hukum Angin Ilahi. Sisik-sisik mereka terbentuk dari pusaran topan yang mampu mencabik-cabik ahli Alam Dewa Sejati hanya dengan satu kibasan ekor.
Mata Feng Wuchen yang tak memiliki pupil memancarkan cahaya badai yang luar biasa menyilaukan. Ia menatap dua sosok mungil di bawahnya—Lin Tian dan Bai Xue—seolah sedang menatap dua ekor serangga tanah yang secara tidak sengaja mengotori karpet emasnya.
“Kalian tidak memohon ampun, tidak juga bersujud menanti kematian,” suara Feng Wuchen menggema tanpa ia perlu membuka mulut, merobek gendang telinga jutaan penduduk fana yang masih bersembunyi di bawah tanah. “Ternyata kebodohan dunia bawah benar-benar tidak mengenal batas.”
Feng Wuchen perlahan mengangkat tangan kanannya. Di genggamannya, energi badai memadat hingga membentuk Bilah Penghakiman Pemisah Benua, sebuah pedang raksasa bercahaya cyan yang panjangnya melampaui sepuluh mil. Pedang itu memancarkan aura yang membuat ruang di sekitarnya melengkung ke dalam, tidak mampu menahan ketajamannya.
“Biarkan kota yang kotor ini menjadi nisan kalian!”
Tanpa membuang waktu dengan deklamasi panjang, Feng Wuchen mengayunkan pedang raksasa itu lurus ke bawah.
SRINGGGGG!
Sebuah garis pemisah absolut tercipta di angkasa. Suara ayunan pedang itu tidak meledak, melainkan mendesis dengan frekuensi yang memutuskan koneksi jiwa. Bilah cyan raksasa itu turun layaknya guillotine surgawi, berniat membelah Kota Awan Mengambang beserta batuan fondasinya dan kedua manusia pembangkang itu menjadi dua bagian yang simetris. Tekanan dari bilah itu sendiri telah menguapkan sebagian bangunan pencakar langit bahkan sebelum energinya menyentuh atap mereka.
Namun, sebelum Lin Tian sempat melesat maju, hawa dingin yang melampaui titik nol absolut meledak dari sisinya.
“Udara di surga ini terlalu bising. Biarkan aku membekukannya.”
Bai Xue melangkah maju. Sepasang sayap es peraknya membentang membelah ruang. Gaun sutra esnya memancarkan rune-rune dari Teratai Salju Sembilan Kematian Ilahi. Mata safirnya yang kini memancarkan cahaya ilahi menatap lurus ke arah pedang raksasa yang sedang turun tersebut.
Sang Ratu Es tidak menghindar. Ia mengangkat pedang esnya dan mengarahkannya tepat ke titik pusat jatuhnya Bilah Penghakiman.
“Hukum Es Ilahi: Cermin Kematian Nol Mutlak!”
Seketika, ruang hampa di atas Kota Awan Mengambang membeku. Bukan membekukan uap air atau awan, melainkan membekukan struktur ruang itu sendiri! Sebuah cermin es raksasa yang berbentuk seperti bunga teratai mekar bermanifestasi tepat di jalur tebasan pedang Feng Wuchen.
KRAAAAK… BZZZZZZT!
Bilah Penghakiman Pemisah Benua yang membawa kekuatan Alam Raja Dewa menghantam cermin teratai es milik Bai Xue. Benturan itu menciptakan percikan kembang api kosmik berwarna cyan dan perak.
Mata Feng Wuchen melebar untuk pertama kalinya. Pedang pamungkasnya—yang dirancang untuk memotong benua—melambat. Esensi Yin mutlak dari Bai Xue merayap naik ke sepanjang bilah energi raksasa itu, secara paksa membekukan Hukum Angin yang menyusunnya.
“Hukum Es tingkat Ilahi?! Dan kau baru berada di Ambang Batas Dewa Sejati?!” Feng Wuchen menggeram, merasa tidak percaya bahwa serangannya bisa ditahan oleh seseorang yang alam kultivasinya berada satu tingkat besar di bawahnya. “Wanita jalang, kau mengandalkan pusaka alam untuk menahan kekuatan Raja Dewa?! HANCUR!”
Feng Wuchen menekan tangannya ke bawah. Kekuatan Raja Dewa Tingkat Awal meledak sepenuhnya.
PRANGGG! Cermin teratai es milik Bai Xue akhirnya retak dan pecah berkeping-keping. Serangan balik (backlash) dari hancurnya sihir ilahi itu membuat Bai Xue terdorong mundur sejauh seratus meter di udara, jejak darah perak menetes dari sudut bibirnya, namun matanya tetap sedingin kosmos. Ia telah berhasil menguras hampir separuh daya hancur pedang tersebut dan membuktikan bahwa hukum es barunya mampu mengintervensi serangan Raja Dewa.
“Kerja bagus, Ratu Es. Kau sudah mendinginkan makananku,” tawa Lin Tian menggema. “Sekarang giliranku untuk mengunyahnya!”
Bilah raksasa yang kini dilapisi sisa-sisa es itu terus meluncur turun menuju Lin Tian. Sang Tiran Naga tidak menggunakan sihir atau perisai. Ia hanya merendahkan kuda-kudanya, menyalurkan energi dari Singularity Kehancuran yang baru saja ia padatkan di dalam Dantiannya.
Tubuh Sisik Naga Perak-nya bersinar terang, memancarkan aura primordial yang membuat langit dan bumi bergetar ketakutan. Lin Tian menarik lengan kanannya ke belakang. Sarung Tangan Pembelah Bintang menyala dengan api merah darah yang kini bercampur dengan singularitas abu-abu keemasan yang luar biasa padat.
“Bilah pemisah benua? Di hadapanku, itu hanyalah tusuk gigi yang tumpul!”
Lin Tian meninju lurus ke atas, menghantamkan kepalan tangannya tepat di ujung mata pedang energi raksasa tersebut!
BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHH!
Tabrakan antara fisik Naga Surgawi yang disokong Singularity Kehancuran dengan sisa daya Bilah Penghakiman Raja Dewa menciptakan anomali kosmik. Ledakan sonik yang dihasilkan menghilangkan seluruh suara dalam radius seribu mil. Langit siang terbelah menjadi warna abu-abu keemasan dan cyan yang saling menelan.
Di titik benturan, Hukum Angin Feng Wuchen menjerit. Niat Kehancuran Naga milik Lin Tian, yang kini telah berevolusi menjadi singularitas, tidak sekadar mengurai serangan itu, melainkan menelannya layaknya lubang hitam yang rakus.
Hanya dalam waktu dua tarikan napas, pedang energi raksasa yang membentang sepuluh mil itu retak, hancur menjadi serpihan cahaya, dan diserap habis ke dalam pusaran tinju Lin Tian!
Di atas Kereta Perang Sembilan Naga, Feng Wuchen terhuyung mundur setengah langkah. Ekspresi keangkuhannya hancur lebur, digantikan oleh guncangan mental yang tak terlukiskan.
“H-Hukum Kehancuran Absolut?! Mustahil! Bagaimana kau bisa memadatkan singularitas tanpa memiliki Percikan Ilahi dari Benua Langit Tinggi?!” raung Feng Wuchen, panik melihat aturan kultivasi alam semesta ditantang mentah-mentah di depan matanya.
“Percikan Ilahi adalah kalung anjing untuk kalian para budak surga,” suara Lin Tian beresonansi, bukan dari bawah, melainkan dari jarak yang luar biasa dekat.
Mata Feng Wuchen membelalak ngeri.
Lin Tian tidak diam di bawah. Menggunakan daya tolak dari hancurnya pedang energi tersebut, pemuda itu memacu Seni Langkah Bayangan Awan yang kini ditenagai oleh Singularity. Kecepatannya benar-benar menghapus ruang fisik. Dalam seperseribu detik, Lin Tian telah melesat membelah langit dan muncul tepat di depan Kereta Perang Sembilan Naga Angin.
Kesembilan naga badai raksasa yang menarik kereta itu mengaum ganas. Mereka secara instingtual melindungi majikan mereka, menyemburkan pusaran topan yang dirancang untuk merobek jiwa dewa mana pun ke arah Lin Tian.
“Kadal-kadal angin yang berisik!”
Lin Tian tidak melambat. Ia menerjang lurus menembus semburan topan tersebut. Sisik perak di kulitnya berderak, namun tidak ada satu pun yang tergores. Tangan kirinya melesat ke depan, mencengkeram rahang naga badai yang berada paling depan.
Dengan satu tarikan kasar yang brutal, Lin Tian membelah kepala naga ilahi itu menjadi dua bagian menggunakan tangan kosong!
CRAAAAAAK! ROAAAAAR!
Naga yang terbuat dari Hukum Angin Murni itu meledak menjadi badai liar saat inti kehidupannya dihancurkan oleh kekuatan murni Lin Tian. Tanpa henti, Lin Tian menggunakan tubuh naga yang hancur itu sebagai pijakan, melompat dan mendaratkan tendangan memutar yang menghancurkan tengkorak dua naga lainnya secara serentak.
BAM! BAM!
Darah ilahi dan energi badai menyembur ke segala arah. Sang Tiran Naga mengamuk di atas langit, secara harfiah mencabik-cabik tunggangan surgawi sang Raja Dewa seolah mereka hanyalah cacing tanah.
“MATI KAU, IBLIS KOSMIK!”
Feng Wuchen tidak bisa tinggal diam melihat kereta perangnya dihancurkan. Sang Penguasa Domain melesat ke depan, memadatkan tombak badai bersisi ganda di tangannya. Ia mengayunkan tombak itu lurus ke jantung Lin Tian dengan kecepatan cahaya, memfokuskan seluruh Hukum Badai-nya ke dalam satu titik penetrasi absolut.
TRANGGG!
Lin Tian menangkis tusukan fatal itu dengan menyilangkan lengan kanannya yang berlapis Sarung Tangan Pembelah Bintang. Percikan api dewa meledak, membakar ruang di sekitar mereka.
Benturan fisik pertama antara Raja Dewa dan Tiran fana terjadi. Keduanya terkunci dalam adu kekuatan jarak dekat di atas sisa-sisa kereta perang yang mulai berjatuhan ke bumi.
“Kau pikir fisikmu yang aneh itu bisa menandingi Raja Dewa dalam pertarungan jarak dekat?!” Feng Wuchen menggeram dari balik giginya yang terkatup rapat, menekan tombaknya ke bawah. “Aku telah memurnikan tubuhku dalam badai kosmik selama puluhan ribu tahun! Fisik fana-mu akan remuk!”
“Puluhan ribu tahun?” Lin Tian menyeringai lebar, mata emasnya berkilat ganas dalam jarak kurang dari satu meter dari wajah sang Raja Dewa. “Berarti kau telah membuang waktu puluhan ribu tahun hanya untuk menjadi pecundang yang lemah!”
BUMMM!
Lin Tian menghentakkan kepalanya lurus ke depan!
Tandukan Naga Surgawi! Dahi Lin Tian yang berlapis sisik perak menghantam pangkal hidung Feng Wuchen dengan telak. Suara retakan tulang rawan dewa terdengar begitu jelas.
“GAAAHHH!”
Feng Wuchen melepaskan tombaknya, terhuyung mundur ke belakang dengan hidung yang hancur dan darah ilahi berwarna biru keemasan mengalir deras mewarnai bibirnya. Rasa sakit fisik ini adalah sesuatu yang tidak pernah ia rasakan selama puluhan abad. Pikirannya berdengung, tidak mampu memproses bahwa ia baru saja dilukai oleh benturan fisik yang sangat purba dan barbar.
Sebelum Feng Wuchen bisa mendapatkan kembali keseimbangannya, Lin Tian sudah berada di atasnya.
Tangan kiri Lin Tian mencengkeram kerah jubah kebesaran sang Penguasa Domain, sementara tangan kanannya yang dibungkus Singularity Kehancuran menghujani wajah dan dada Feng Wuchen dengan rentetan pukulan brutal berkecepatan meteor.
BAM! BAM! BAM! BAM!
Setiap kali tinju Lin Tian mendarat, Niat Kehancuran Naga secara instan mengikis Qi pelindung Hukum Angin yang mencoba melindungi tubuh Feng Wuchen. Zirah ilahinya retak, dan tulang-tulang dewanya mulai patah. Pemandangan ini sangat absurd; seorang Penguasa Domain, entitas tertinggi di benua itu, sedang digebuki layaknya preman jalanan oleh seorang pemuda fana.
“L-LEPASKAN AKU, BINATANG JALANG!”
Merasa terdesak ke ambang kematian yang memalukan, Feng Wuchen membakar sebagian esensi jiwanya.
“Seni Pamungkas Raja Dewa: Mata Badai Kehampaan!”
Sebuah ledakan energi tolakan yang luar biasa masif meletus dari dalam tubuh Feng Wuchen. Ledakan ini tidak memiliki elemen, melainkan murni pengusiran spasial tingkat absolut. Bahkan Niat Kehancuran Lin Tian tidak sempat melahapnya sebelum daya tolak itu melempar Lin Tian mundur sejauh beberapa ratus meter di udara.
Feng Wuchen melayang dengan napas terengah-engah. Wajah agungnya kini hancur, bengkak, dan berlumuran darah. Rambut putihnya berantakan, dan jubah dewanya robek-robek. Matanya memancarkan kombinasi antara kemurkaan absolut dan ketakutan instingtual yang tidak bisa ia sembunyikan.
“Kau… kau benar-benar sebuah anomali yang harus dihapus dari ruang dan waktu,” Feng Wuchen merentangkan kedua tangannya. Langit di sekitarnya menjadi gelap gulita. Angin berhenti berhembus. Dunia seolah menahan napas. “Aku akan menggunakan inti dari Domain Angin Suci. Bahkan jika kota ini dan seluruh daratan di bawahnya harus hancur menjadi ketiadaan, kau akan mati bersamanya!”
Sang Raja Dewa sedang mempersiapkan manifestasi tertinggi dari kultivasinya: Domain Raja Dewa Absolut. Ia berniat menarik energi dari urat nadi seluruh wilayah untuk melepaskan serangan bunuh diri secara area yang akan mereset kehidupan di radius puluhan ribu mil.
Namun, di seberang sana, Lin Tian yang baru saja menstabilkan tubuhnya di udara sama sekali tidak terlihat panik. Ia mengusap sedikit debu dari jubah kosmiknya, menggerakkan lehernya, dan menatap sang Raja Dewa yang sedang merapal sihir pamungkasnya dengan tatapan penuh iba.
“Kau terlalu lama bersembunyi di balik hukum alam yang usang, Feng Wuchen,” ucap Lin Tian pelan, namun suaranya menembus resonansi badai.
Lin Tian mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Di dalam Dantiannya, Singularity Kehancuran berputar hingga batas puncaknya. Alam semesta di sekitarnya mulai menjerit, memprotes keberadaan energi paradoks tersebut.
“Kau ingin menggunakan hukum surga untuk melawanku?” Lin Tian mengepalkan tinjunya, dan saat ia melakukannya, proyeksi Kaisar Naga Surgawi yang kali ini sepenuhnya padat dan memancarkan cahaya galaksi bermanifestasi di belakangnya. “Maka saksikanlah… bagaimana Tiran ini memenggal surgamu!”
Apakah Anda ingin saya melanjutkan ke Bab 42 untuk menyaksikan klimaks pamungkas antara Tiran Naga dan sang Raja Dewa, serta konsekuensi dari hancurnya batas-batas langit ini?