Bab 41: Menuju Ujung Dunia
Kabut pagi menyelimuti Sekte Awan ketika Lin Ming dan Xiao Lan tiba kembali dari Hutan Terlarang Timur. Namun, suasana yang mereka temui berbeda dari yang diharapkan. Alih-alih kedamaian pasca-kemenangan, sekte itu diselimuti ketegangan. Murid-murid berlarian dengan senjata terhunus, dan para elder berkumpul di pelataran utama dengan wajah-wajah suram.
“Lin Ming! Xiao Lan!” Suara Liu Feng terdengar dari kejauhan. Dia berlari mendekat, napas terengah-engah. “Kalian kembali tepat waktu. Situasi memburuk.”
“Kami dengar tentang serangan ke Sekte Bulan Sabit,” kata Lin Ming. “Apa detailnya?”
Liu Feng menggeleng, matanya penuh kecemasan. “Bukan hanya pencurian peta. Mereka membunuh sepuluh penjaga perpustakaan, melukai puluhan lainnya. Dan yang paling mengkhawatirkan—mereka mengambil ‘Kompas Es Abadi’, artefak kuno yang bisa menuntun ke pusat Lautan Es Utara.”
Xiao Lan mengerutkan kening. “Tapi kenapa menyerang Sekte Bulan Sabit? Bukankah artefak tentang Lautan Es Utara seharusnya ada di sekte utara?”
“Kompas itu disimpan oleh Sekte Bulan Sabit karena hanya energi bulan yang bisa menstabilkannya,” jelas Sesepuh Wang yang mendekat. “Tanpa itu, siapa pun yang memasuki Lautan Es Utara akan tersesat selamanya. Es dan kabut di sana bisa mengacaukan indera bahkan kultivator tingkat tinggi.”
Mereka dibawa ke ruang rapat. Di sana, Elder Chen dari Sekte Pedang Awan sudah menunggu, bersama dengan beberapa utusan dari sekte-sekte lain. Tampaknya ancaman Rasul Waktu telah menyatukan berbagai faksi yang biasanya bersaing.
“Kita punya informasi baru,” kata Elder Chen tanpa basa-basi. “Rasul Waktu bukan sendirian. Dia memimpin sekte sesat baru—‘Kultus Detik yang Terhenti’. Mereka percaya bahwa dengan mengendalikan waktu, mereka bisa mencapai keabadian sejati.”
Lin Ming duduk, sistemnya segera menganalisis informasi. “Apa hubungannya dengan segel di Lautan Es Utara?”
“Menurut catatan kuno yang berhasil diselamatkan dari perpustakaan Sekte Bulan Sabit,” lanjut Elder Chen, “segela di Lautan Es Utara bukan hanya mengurung entitas, tetapi juga ‘Momen yang Membeku’—sebuah titik dalam waktu yang terjebak dalam es. Jika dibebaskan, bisa mengacaukan aliran waktu di wilayah luas.”
Xiao Lan tiba-tiba memegangi dadanya. “Aku ingat… fragmen ingatan Dewa Darah. Ada sesuatu tentang ‘Waktu yang Terperangkap’. Dalam perang kuno, salah satu dari Tujuh Penjaga—Penjaga Waktu—mengorbankan dirinya dengan membekukan momen kekalahan, mengurung musuh dalam lingkaran waktu tak berujung.”
“Dan Rasul Waktu mungkin ingin membebaskan momen itu, atau memanfaatkannya,” simpul Lin Ming. “Tapi untuk apa?”
Mei Ling, yang baru saja masuk dengan gulungan catatan, menjawab, “Untuk kekuatan. Jika dia bisa mengendalikan ‘Momen yang Membeku’, dia bisa memanipulasi waktu di sekitarnya. Membuat dirinya bergerak lebih cepat, memperlambat musuh, bahkan mungkin… mengulang momen.”
Itu mengerikan. Lin Ming membayangkan musuh yang bisa mengulang pertempuran sampai menang, atau memperlambat waktu sampai gerakan mereka tak berarti.
“Kita harus berangkat segera,” putus Lin Ming. “Tapi kita butuh persiapan khusus. Lautan Es Utara bukan tempat biasa.”
Persiapan dilakukan dengan cepat namun teliti. Selama dua hari, Sekte Awan menjadi pusat aktivitas. Para pengrajin membuat pakaian dari bulu hewan es khusus yang disuplai oleh sekte utara. Ahli ramuan menyiapkan pil pemanas dan obat anti-dingin. Ahli senjata memodifikasi senjata agar tidak membeku di suhu ekstrem.
Tim ekspedisi akhirnya terbentuk: Lin Ming, Xiao Lan, Liu Feng, Mei Ling, An kecil, tiga murid pilihan Sekte Awan, dua ahli es dari Sekte Pegunungan Salju (yang datang membantu), dan Tumbuh dari Suku Penjaga Hutan yang bersikeras ikut karena hutang budi.
“Kau tidak perlu membayar hutang,” kata Lin Ming pada Tumbuh.
“Bukan hutang, tapi pilihan,” jawab Tumbuh sederhana. “Hutan telah sembuh berkat kalian. Sekarang waktunya membantu yang lain.”
Mereka juga mendapatkan kendaraan khusus: tiga “Kereta Luncur Angin” yang ditenagai oleh kristal es dan ditarik oleh serigala es jinak. Hewan-hewan itu besar, berbulu putih tebal, dengan mata biru yang cerdas. Mereka bisa berlari di atas es dengan kecepatan luar biasa dan tahan dingin ekstrem.
“Serigala es ini adalah hadiah dari Sekte Pegunungan Salju,” kata salah satu ahli es, pria bernama Borin dengan janggut putih dan mata biru pucat. “Mereka akan membawa kita melintasi es dengan cepat. Tapi peringatan: mereka sensitif terhadap energi waktu. Jika ada gangguan waktu, mereka akan gelisah.”
Hari keberangkatan tiba. Fajar musim dingin menyingsing dengan cahaya lemah, udara begitu dingin hingga napas membeku menjadi kristal kecil. Di gerbang Sekte Awan, para pemberangkat berkumpul dengan pakaian tebal dan perlengkapan lengkap.
Sesepuh Wang memberikan Lin Ming sebuah jimat terakhir. “Ini ‘Pemanas Jiwa’. Akan membuatmu tetap hangat meski di jantung es. Tapi hanya bertahan dua minggu.”
“Terima kasih, Sesepuh.”
Elder Chen menepuk bahu Lin Ming. “Hati-hati. Lautan Es Utara tidak mengenal ampun. Dan musuh kali ini… lebih tak terduga dari sebelumnya.”
Dengan perpisahan singkat, mereka berangkat. Tiga kereta luncur meluncur keluar gerbang, serigala-serigala es berlari dengan lancar di atas tanah yang mulai membeku. An kecil, yang duduk di kereta luncur pertama bersama Lin Ming dan Xiao Lan, terlihat bersemangat meski sedikit gugup.
“Kakak Lin, apakah benar di Lautan Es Utara ada kota es yang hilang?” tanyanya.
“Legenda mengatakan begitu,” jawab Lin Ming sambil memeriksa peta. “Tapi yang kita cari adalah segel, bukan kota.”
Perjalanan hari pertama relatif lancar. Mereka melewati wilayah pertanian yang sudah menguning, lalu memasuki hutan yang daun-daunnya telah rontok. Suhu turun drastis setiap jam. Pada malam hari, mereka sudah perlu memakai pakaian tebal dan menyalakan api unggun dengan kayu khusus yang bisa terbakar di suhu rendah.
Malam itu, saat yang lain tidur, Lin Ming duduk berjaga. Sistemnya aktif, menganalisis lingkungan.
[Sistem: Suhu: -15°C dan turun. Tingkat energi es: Meningkat. Deteksi energi waktu abnormal: 0,03% (dalam toleransi).] [Status host: Lapis 4 Qi Gathering (stabil). Pemulihan berlanjut, estimasi ke Lapis 5: 20 hari.]
Xiao Lan mendekat, membawakan semangkuk sup hangat. “Kau harus istirahat juga.”
“Aku akan. Cuma…” Lin Ming melihat ke utara, di mana bintang-bintang terlihat lebih dekat dan tajam. “Aku merasa ini akan lebih sulit dari sebelumnya. Bukan hanya karena lingkungan atau musuh, tapi karena waktu sendiri bisa menjadi lawan.”
Xiao Lan duduk di sampingnya. “Di Hutan Terlarang, kita belajar bahwa tidak semua yang asing adalah musuh. Mungkin di sini, kita harus belajar bahwa waktu bukanlah musuh, tapi… sungai yang harus kita arungi dengan benar.”
“Kau menjadi bijak, Xiao Lan.”
“Itu ingatan fragmentasi Dewa Darah. Dia hidup sangat lama, melihat banyak hal.” Xiao Lan menatap api. “Dia pernah berkata: ‘Waktu adalah guru terkejam, karena dia membunuh semua muridnya. Tapi juga teman terbaik, karena dia memberi kesempatan untuk memperbaiki.’”
Keesokan harinya, mereka mencapai wilayah yang benar-benar berbeda: dataran bersalju tak berujung. Di sini, tidak ada pepohonan, hanya tundra putih dengan sesekali batu besar yang tertutup es. Angin bertiup kencang, membawa kristal es yang mencakar kulit.
Borin, ahli es dari Sekte Pegunungan Salju, mulai memimpin. “Dari sini, kita masuk wilayah berbahaya. Ada retakan es tersembunyi, badai salju tiba-tiba, dan makhluk es.”
“Makhluk es?” tanya An kecil.
“Hidup yang beradaptasi dengan dingin ekstrem. Beberapa tidak berbahaya, beberapa… sangat berbahaya.”
Mereka terus maju, kereta luncur meluncur di atas salju. Serigala es tampak senang, kadang melompat-lompat gembira. Tumbuh, yang memiliki hubungan alami dengan makhluk hidup, bisa berkomunikasi dengan mereka dalam batas tertentu.
“Serigala mengatakan ada sesuatu di depan,” lapor Tumbuh tiba-tiba. “Bukan bahaya langsung, tapi… aneh.”
Mereka berhenti. Lin Ming menggunakan penglihatan energinya. Di kejauhan, ada distorsi—seperti kaca yang retak di udara. Saat mendekat, mereka menemukan sesuatu yang luar biasa: sebuah area di mana salju tidak jatuh, tetapi melayang di udara. Dan di tengahnya, sebuah pohon es yang indah, dengan daun-daun kristal berkilauan.
“Pohon Waktu,” bisik Borin tak percaya. “Ini seharusnya hanya legenda.”
“System, analisis,” perintah Lin Ming.
[Sistem: Analisis… Pohon Es Temporal. Terbuat dari es yang terpengaruh energi waktu. Daunnya merekam momen-momen dari masa lalu.] [Peringatan: Mendekat bisa menyebabkan gangguan persepsi waktu.]
Xiao Lan turun dari kereta luncur, mendekati pohon. “Aku bisa merasakan… kenangan. Banyak kenangan.”
Dia menyentuh batang pohon. Dan tiba-tiba, gambar muncul di sekeliling mereka—proyeksi dari masa lalu. Mereka melihat sekelompok orang dengan pakaian kulit hewan, membangun sesuatu di tengah es. Lalu gambar berubah: pertempuran sengit antara manusia dan makhluk aneh yang terbuat dari es dan waktu. Terakhir, seorang perempuan dengan jubah biru muda mengorbankan dirinya, membekukan segala sesuatu dalam momen itu.
“Penjaga Waktu,” gumam Xiao Lan. “Dia mengorbankan dirinya untuk menghentikan musuh.”
Proyeksi menghilang. Tapi dari pohon, sebuah daun kristal jatuh, mendarat di tangan Xiao Lan. Saat menyentuhnya, informasi mengalir: peta mental ke lokasi segel.
“Pohon ini adalah penanda,” kata Xiao Lan. “Dia memberi kita petunjuk.”
Tapi sebelum mereka bisa bergerak, sesuatu terjadi. Daun-daun pohon mulai bergetar, dan distorsi waktu menyebar. Lin Ming merasakan sesuatu yang aneh—gerakannya melambat, lalu tiba-tiba cepat. Waktu menjadi tidak stabil.
“Keluar dari area ini!” teriak Borin.
Mereka berlari kembali ke kereta luncur. Tapi saat Lin Ming melangkah, tiba-tiba dia melihat dirinya dari sudut pandang orang ketiga, seperti terpisah dari tubuhnya sendiri. Lalu semuanya kembali normal.
“Efek samping,” kata Mei Ling yang memeriksa mereka. “Kalian terkena gelombang waktu. Tidak berbahaya dalam jangka pendek, tapi kita harus cepat.”
Dengan petunjuk dari daun kristal, mereka sekarang tahu arah yang tepat. Tapi perjalanan menjadi semakin sulit. Es mulai retak, mereka harus berhati-hati melewati bidang es yang tipis. Di suatu tempat, mereka melihat bangkai kapal terjebak dalam es—kapal kayu besar dari zaman yang tak diketahui.
“Ini adalah ‘Lautan Es’ yang sebenarnya,” kata Borin. “Di bawah es ini, ada air laut yang sangat dingin. Jangan sampai jatuh.”
Hari ketiga di dataran es, mereka menghadapi bahaya pertama: sekawanan “Serigala Waktu”. Makhluk ini mirip serigala es biasa, tetapi bulunya berkilauan seperti minyak di air, dan gerakannya terputus-putus, seolah melompat-lompat dalam waktu.
“Makhluk yang terpengaruh energi waktu,” bisik Borin. “Mereka berbahaya. Gigitannya bisa mempercepat atau memperlambat penuaan.”
Serigala es mereka gelisah, tetapi tidak lari. Tumbuh mencoba menenangkan mereka sementara Lin Ming dan yang lain bersiap bertarung.
Pertempuran singkat namun aneh. Serigala Waktu bergerak dengan pola tak terduga, kadang menghilang dan muncul di tempat lain. Tapi Lin Ming dengan sistemnya bisa memprediksi kemunculan mereka berdasarkan fluktuasi energi waktu. Xiao Lan menggunakan Darah Abadi untuk membuat perisai yang melindungi dari efek waktu.
Setelah mengusir kawanan itu, mereka menemukan sesuatu yang mengkhawatirkan: jejak kaki manusia di es. Bukan jejak mereka.
“Seseorang sudah lewat di sini,” kata Liu Feng memeriksa. “Baru saja, mungkin beberapa jam lalu.”
“Rasul Waktu atau pengikutnya,” simpul Lin Ming. “Mereka mungkin sudah dekat dengan segel.”
Mereka mempercepat perjalanan. Es sekarang membentuk formasi aneh—pilar-pilar es alami yang membentuk labirin. Daun kristal memandu mereka melalui labirin itu, dan akhirnya, mereka keluar di tepi sebuah cekungan raksasa.
Pemandangan yang terbentang membuat mereka terpana. Di tengah cekungan, sebuah struktur es raksasa berdiri—sebuah piramida dari es murni, dengan sisi-sisi yang begitu halus hingga memantulkan cahaya seperti cermin. Di sekelilingnya, es membentuk pola spiral sempurna, seolah-olah dibekukan saat berputar.
Dan di depan piramida, ada perkemahan. Beberapa tenda biru, dan orang-orang bergerak. Seseorang berdiri menghadap piramida, mengenakan jubah biru tua dengan pola jam pasir.
“Rasul Waktu,” bisik Xiao Lan.
Tapi yang lebih mengejutkan: di samping Rasul Waktu, ada sosok lain yang mereka kenal—Rasul Darah, yang seharusnya sudah dinetralisir dan ditahan di Sekte Awan.
“Bagaimana dia bisa di sini?” desis Liu Feng.
Rasul Darah tampak berbeda—matanya masih coklat normal, tapi ada kosong di dalamnya, seperti dikendalikan. Dan di tangannya, dia memegang Kompas Es Abadi yang dicuri.
“Kompas itu mengendalikannya,” kata Borin. “Atau mungkin Rasul Waktu yang mengendalikannya melalui kompas.”
Mereka harus merencanakan dengan hati-hati. Piramida es jelas adalah tempat segel. Mereka harus menghentikan Rasul Waktu sebelum dia membukanya, sambil menyelamatkan Rasul Darah jika mungkin.
Lin Ming melihat sekeliling. “Kita butuh strategi. Langsung menyerang terlalu berisiko. Kita harus memisahkan mereka, atau mengganggu ritual jika mereka sudah mulai.”
Xiao Lan menunjuk ke pola spiral di es. “Itu bukan hanya es. Itu formasi waktu. Lihat—pola itu bergerak, sangat lambat.”
Memang, dengan penglihatan energi, mereka bisa melihat pola spiral itu benar-benar berputar, meski sangat lambat sehingga tak kasat mata.
“System, analisis piramida,” perintah Lin Ming.
[Sistem: Analisis piramida es…] [Struktur: Es temporal dengan usia lebih dari 10.000 tahun. Inti: Terdeteksi energi waktu tingkat tinggi—‘Momen yang Membeku’.] [Status segel: 78% stabil, tapi melemah cepat. Penyebab: Interferensi dari luar (Kompas Es Abadi).] [Perkiraan waktu sampai keruntuhan: 2-3 hari tanpa gangguan, kurang dari 1 hari dengan gangguan aktif.]
“Mereka sedang melemahkan segel,” lapor Lin Ming. “Kita tidak punya banyak waktu.”
Mereka memutuskan untuk melakukan serangan malam, saat suhu turun ekstrem dan penglihatan terbatas. Tapi sebelum mereka bisa melaksanakan rencana, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Dari dalam piramida, cahaya biru terang menyembul. Dan suara bergema, bukan melalui udara, tapi langsung di pikiran mereka semua: “PENJAGA BARU TELAH DATANG. UJIAN WAKTU DIMULAI.”
Rasul Waktu menoleh ke arah mereka, dan untuk pertama kalinya, mereka melihat wajahnya—pria paruh baya dengan rambut putih dan mata tanpa usia. Dia tersenyum.
“Selamat datang. Aku sudah menunggu. Tanpa kalian, ujian tidak bisa dimulai.”